Remake Novel E.L James
"Fifty Shades of Grey"
Cast :
Park Chanyeol
Byun Baekhyun (GS)
Huang Zitao (GS)
Kim Jongin
.
.
CHAP 4
-Baekhyun POV-
Tenang, tak ada cahaya. Ranjang ini sangat nyaman dan hangat. Hmm ... Mataku mencoba terbuka dan untuk sesaat, hanya keheningan yang kurasakan di tempat asing ini. Setengah sadar, otakku mencoba mengingat dimana aku berada, mataku menatap sekitar yang terasa familiar. Mengerjap beberapa kali sampai akhirnya aku sadar tempat apa ini. Ya ampun. Aku di hotel Novotel Ambassador ... dalam kamar suite. Bagaimana aku sampai di sini?
Kenangan samar dari malam sebelumnya datang perlahan-lahan kembali menghantuiku. Minum-minum, oh tidak, panggilan telepon, muntah-muntah. Jongin kemudian Chanyeol. Oh tidak. Tiba-tiba panik melandaku, bahkan aku tak ingat datang ke sini. Aku memeriksa tubuhku, oh tidak ini bukan yang aku kenakan semalam, pakaian ini sudah di ganti.
Sibuk dengan pikiranku, tiba-tiba ada ketukan di pintu. Jantungku seperti melompat ke dalam mulut, dan aku tidak bisa menemukan suaraku. Chanyeol tetap membuka pintu dan berjalan masuk.
Sepertinya Chanyeol baru saja selesai berolah raga. ia memakai celana training yang longgar dan singlet.
"Selamat pagi, Baekhyun. Bagaimana perasaanmu? "
Aku mengerjapkan mata.
"Lebih baik dari yang pantas kurasakan," gumamku.
Aku mengintip ke arahnya. Chanyeol menempatkan tas belanja besar di kursi dan menggenggam setiap ujung handuk yang ia taruh di lehernya. Chanyeol menatapku, mata gelap, dan seperti biasa, aku tidak tahu apa yang Chanyeol pikirkan. Pria itu menyembunyikan pikiran dan perasaannya dengan baik.
"Bagaimana aku sampai di sini?" Suaraku keluar dengan sangat kecil.
Chanyeol mendekat dan duduk di tepi ranjang.
"Setelah pingsan, aku tidak ingin mengambil risiko mengantarkanmu ke apartementmu yang lumayan jauh sedangkan tempatku mengipa lebih dekat dari klub itu. Jadi aku membawa kau di sini, "katanya.
"Dan aku tidur di ranjang ini?"
"Ya." Wajahnya tanpa ekspresi.
"Apakah aku muntah lagi?" Suaraku lebih tenang.
"Tidak"
"Apakah kau yang mengganti pakaianku?" Bisikku.
"Ya." Chanyeol mengangakat alis saat aku memerah.
"Kau tidak...," aku berbisik, mulutku pengeringan ngeri dan malu karena aku tidak dapat menyelesaikan pertanyaan. Aku menatap tanganku.
"Baekhyun, kau benar-benar tak sadarkan diri tadi malam,dan aku tak suka kau begitu "katanya datar.
"Maaf, tapi kau juga tidak perlu melacakku dengan apapun alat James Bond mu yang sedang kau kembangkan untuk di jual dengan harga tinggi," kataku keras. Chanyeol menatapku, terkejut, dan jika aku tidak salah, sedikit terluka.
"Pertama, teknologi untuk melacak ponsel tersedia melalui Internet. Kedua, perusahaanku tidak berinvestasi atau memproduksi segala jenis perangkat pengintai, dan ketiga, jika aku tidak menjemputmu, kau mungkin akan terbangun di ranjang dengan fotografer itu, dan dari apa yang aku ingat, kau tidaklah terlalu antusias pada pendekatannya, "katanya ketus.
Pendekatannya! Aku melirik Chanyeol, Chanyeol menatapku, mata nya berkobar, tersinggung. Aku mencoba untuk menggigit bibirku, tapi aku gagal untuk menekan tawaku.
"Haha dari abad berapa kau lahir?" aku tertawa. "Kau terlihat seperti seorang ksatria istana."
Suasana hatinya tampak berubah. Matanya melembutkan dan menghangatkan ekspresinya, dan aku melihat jejak senyum di bibir indahnya.
"Ksatria kegelapan mungkin." Senyumnya sinis, dan Chanyeol menggeleng. "Apakah kau sudah makan tadi malam?" Nada menuduh. Aku menggelengkan kepala. Pelanggaran besar apa yang telah aku lakukan sekarang? otot rahangnya mengencang, tapi wajahnya tetap tanpa ekspresi.
"Kau harus makan. Itu sebabnya sakitmu parah. Asal kau tau Baek, Makan adalah syarat pertama sebelum kau menenggak alkohol." Tangannya mengusap rambutnya, dan aku tahu itu karena Chanyeol putus asa.
"Apakah kau akan terus memarahiku?"
"Apa itu yang sedangku lakukan?"
"Sepertinya begitu."
"Kau beruntung aku hanya memarahimu."
"Apa maksudmu?"
"Yah, jika kau adalah milikku, kau tidak akan bisa duduk selama seminggu setelah aksi yang kau lakukan kemarin. kau tidak makan, kau mabuk, kau menempatkan diri pada situasi penuh risiko." Chanyeol menutup matanya, perasaan takut tergores di wajahnya yang tampan, dan ia sedikit gemetar. Ketika Ia membuka matanya, Chanyeol melotot ke arahku. "Aku benci memikirkan apa yang bisa terjadi padamu."
Aku cemberut ke arahnya. Apa masalahnya? Jika aku adalah miliknya ... tapi aku bukan siapa-siapanya. Meskipun mungkin, sebagian dari diriku ingin seperti itu. Pikiran itu menembus rasa risih yang kurasa pada perkataannya yang sewenang-wenang. Alam bawah sadarku tersipu.
"Aku akan baik-baik saja. Aku kan bersama Tao disana."
"Dan si fotografer?" Bentak Chanyeol padaku.
"Jongin hanya mabuk." Aku mengangkat bahu.
"Yah, pada saat dia mabuk, mungkin seseorang harus mengajarinya sopan santun."
"kau cukup disiplin," aku mendesis padanya.
"Oh, Baekhyun, kau tidak tahu." Matanya sempit, dan kemudian Chanyeol menyeringai jahat. Ini membingungkan. Satu waktu, aku bingung dan marah, detik berikutnya aku menatap senyum indahnya.
Wow ... aku terpesona, dan itu karena senyumannya yang sangat jarang di perlihatkan. Aku cukup lupa apa yang ia bicarakan.
"Aku akan mandi. Kecuali kau ingin mandi dulu?" Kepala Chanyeol miring ke satu sisi, masih menyeringai. Detak jantungku jadi meningkat, pasokan oksigenku tiba-tiba menipis. Senyumnya melebar, Chanyeol meraih dan mengelus pipiku dengan ibu jarinya merambat hingga bibir bawahku.
"Bernafas, Baekhyun," bisiknya dan bangkit.
"Sarapan akan tiba di sini dalam lima belas menit. Kau pasti kelaparan" Chanyeol menuju ke kamar mandi dan menutup pintu.
Aku bisa bernafas dengan normal kembali. Kenapa Chanyeol begitu menarik? Saat ini aku ingin ikut dan bergabung dengannya di kamar mandi. aku tidak pernah merasa seperti ini kepada siapapun. Hormonku mengalir kencang. Kulitku merinding saat ibu jarinya menelusuri wajah dan bibir bawahku.
Aku merasa seperti menggeliat dengan kebutuhan, pegal ... tidak nyaman. Aku tidak mengerti reaksi ini.
Hmm ... gairah. Ini adalah gairah. Jadi ini rasanya.
Aku berbaring pada bantal lembut berisi bulu. 'Jika kau adalah milikku'. Oh - apa yang harus ku lakukan untuk bisa menjadi miliknya? Chanyeol satu-satunya pria yang pernah membuat darah ditubuhku berpacu. Namun, Chanyeol begitu antagonis juga; Chanyeol orang yang sulit, rumit, dan membingungkan. Satu menit Chanyeol menampikku, berikutnya Chanyeol mengirimkan aku buku harga selangit, kemudian Chanyeol melacakku seperti penguntit.
Dan dari semua itu, aku telah menghabiskan malam di kamar hotelnya, dan aku merasa aman. Dilindungi. Ia cukup peduli untuk datang dan menyelamatkanku dari masalah. Chanyeol bukan seorang ksatria gelap sama sekali, tetapi seorang ksatria putih berbaju besi yang mengkilat dan mempesona, pahlawan romantis klasik.
Chanyeol muncul dari kamar mandi, basah dan berkilau efek shower, hanya dengan handuk di pinggang dan memarkan dada bidangnya. Di sini aku mengerjapkan mata melihat pemandangan tersebut, kemudian aku gelagapan harus segera kaluar dari situasi canggung ini.
"Um ... Aku harus mandi juga," aku bergumam. "Terima kasih." Apa lagi yang bisa aku katakan? Ku ambil tas dan melesat ke kamar mandi menjauh dari Chanyeol yang nyaris telanjang.
Dalam kamar mandi itu airnya hangat dan menenangkan. Aku meraih body wash dan ini berbau Chanyeol. Aromanya maskulin. Aku gosok cairan itu ke seluruh tubuhku.
"Sarapan sudah tiba." Chanyeol mengetuk pintu, mengejutkan aku.
"Oke," aku tergagap dengan segera membilasnya dengan shower.
Aku keluar dari shower dan mengaambil handuk buru-buru mengeringkan rambut dan badanku.
Aku berpakaian dengan cepat, memakai appaun yang tersedia disana. Pakaian itu cukup cocok ku pakai. Rambutku di ikat ekor kuda, itu adalah hal tercepat mengurus tambutku. Setelah selesai, dan penampilanku cukup rapih aku menghela napas dalam. Waktunya untuk menghadapi Tuan Membingungkan.
Aku lega saat menemukan kamar tidur kosong. Aku cepat mencari tasku, tapi tidak ada di sini. Mengambil napas dalam-dalam, aku memasuki ruang tamu suite. Ruangan itu besar. Ada area tempat duduk mewah, semua sofa empuk dan bantal yang lembut, sebuah meja kopi yang rumit dengan tumpukan besar buku mengkilap, area studi dengan komputer mutahir, layar TV plasma yang sangat besar di dinding, dan Chanyeol duduk di meja makan di sisi lain dari ruang sedang membaca koran.
Chanyeol tiba-tiba menoleh, menatapku angkuh. Pria itu mengenakan kemeja linen putih kerah dan lengan yang tergulung.
"Duduk," Chanyeol memerintah, sambil menunjuk ke suatu tempat di meja. Aku berjalan menyeberangi ruangan dan duduk di seberangnya seperti yang Chanyeol perintahkan. Mejanya penuh dengan makanan.
"Aku tak tahu apa yang kau suka, jadi aku memesan beberapa pilihan menu sarapan." Chanyeol memberiku senyum meminta maaf.
"Astaga Chanyeol, kau sungguh boros," gumamku, bingung pada pilihan, meskipun aku lapar. "Ya, kau benar." Chanyeol terdengar bersalah.
Aku memilih pancake, sirup maple, telur dadar. Chanyeol mencoba untuk menyembunyikan senyum ketika ia kembali ke omelet putih telurnya. Makanan ini lezat.
"Teh?" Tanya Chanyeol.
"Ya, terima kasih."
Chanyeol mengangsurkan teko kecil berisi air panas dan pada tatakan ada teh hijau disana. Astaga, ia ingat bagaimana aku suka tehku.
"Rambutmu masih basah," tegur Chanyeol.
"Aku tidak bisa menemukan pengering rambut," gumamku, malu.
Mulut Chanyeol menekan menjadi garis keras, tapi Chanyeol tidak mengatakan apa-apa.
"Terima kasih telah menyediakan pakaian."
"Ini menyenangkan, Baek. Aku tak menyangka itu cocok untukmu."
aku tersipu dan menatap ke bawah.
"Kau tahu, kau harus sering belajar agar dapat menerima banyak pujian." Nadanya menghukum.
"Aku akan mengganti uangmu untuk pakaian ini."
Chanyeol melototiku terlihat tersinggung, mungkin. Aku bergegas malanjutkan.
"Kau sudah memberiku buku, yang tentu saja, aku tidak bisa terima. Tapi pakaian ini, biarkan aku membayarmu kembali" aku tersenyum ragu-ragu padanya.
"Baekhyun, percayalah, aku mampu membelinya."
"Bukan itu intinya. Mengapa kau harus membelikan ini untukku? "
"Karena aku bisa," Mata Chanyeol berkilat.
"Hanya karena kau bisa tidak berarti bahwa kau harus," jawabku pelan saat Chanyeol melengkungkan alis ke arahku, matanya berkelap-kelip, dan tiba-tiba aku merasa bahwa kita seperti sedang membicarakan tentang sesuatu yang lain, tapi aku tak tahu apa itu. Yang mengingatkanku ...
"Kenapa kau mengirimkan buku itu, Chanyeol?" Suaraku lunak. Chanyeol meletakkan sendok garpu dan memandangku dengan penuh perhatian, mata nya terbakar emosi tak terduga.
Ya tuhan, mulutku mengering.
"Ketika kau hampir ditabrak pengendara sepeda , dan aku memelukmu. Kau menatapku, menunjukkan isyarat agar aku menciumu," jeda Chanyeol dan mengangkat bahu sedikit, "Aku merasa aku berhutang maaf dan peringatan padamu". Chanyeol menggerakkan tangannya ke rambutnya. "Baekhyun, aku bukan pria sentimentil, aku tidak melakukan sesi jatuh cinta dan pacaran. Seleraku sangat tunggal. Kau seharusnya menghindar dariku " Chanyeol menutup matanya seolah-olah menyerah. "Ada sesuatu tentangmu, dan aku menyadari bahwa tidak mungkin untuk menjauh. Tapi aku rasa kau sudah mengetahuinya."
Nafsu makanku hilang. Chanyeol tidak bisa menjauh!
"Maka dari itu jangan menjauh dariku," bisikku.
Chanyeol terengah, matanya lebar.
"kau tak tahu apa yang sedang kau katakan, Baek."
"Kalau begitu beri aku petunjuk."
Kita duduk saling memandang, kita berdua tidak menyentuh makanan.
"Jadi maksudmu, kau tidak akan menikah?" aku bernapas.
"Ya Baekhyun, aku tidak akan menikah." Chanyeol berhenti menunggu informasi ini meresap, dan aku mengangguk
"Apa rencanamu beberapa hari kedepan?". Chanyeol bertanya, suaranya rendah, mengubah topik pembicaraan.
"Aku bekerja hari ini, siang nanti. Jam berapa sekarang? " Aku jadi panik tiba-tiba.
"Baru jam sepuluh lewat, kau masih punya banyak waktu. Bagaimana dengan besok"
"Tao dan aku akan mulai mengepak. Kami akan pindah ke Seoul akhir minggu depan, dan aku masih bekerja di toko keluarga Jung sampai minggu ini."
"kau sudah punya tempat di Seoul?"
"Ya."
"Dimana?"
"aku tak ingat alamatnya. Ada di sekitar gangnam."
"Tidak jauh dariku," bibirnya berkedut setengah tersenyum. "Jadi kau akan bekerja apa di Seoul?"
Kemana sebenarnya semua pertanyaannya ini? Pertanyaan menyelidik Park Chanyeol hampir sama menjengkelkan seperti Huang Zitao.
"Aku sudah mengajukan beberapa lamaran magang. Tinggal menunggu panggilan."
"Apakah kau sudah mengajukan lamaran magang perusahaanku seperti yang aku sarankan?"
Aku memerah ... tentu saja tidak.
"Um ... tidak."
"Dan apa yang salah dengan perusahaanku?"
"Perusahaanmu atau Perusahaanmu?" Aku menyeringai.
Chanyeol tersenyum sedikit.
"Apakah kau menyeringai padaku, nona Byun?" Chanyeol memiringkan kepalanya ke satu sisi, dan aku pikir Chanyeol terlihat geli, tapi sulit untuk diceritakan. Aku memerah dan melirik pada sarapanku yang belum habis. Aku tak bisa menatap matanya ketika ia menggunakan nada suara seperti itu.
"Aku ingin menggigit bibir itu," bisiknya muram.
Oh. Aku sama sekali tak menyadari bahwa aku mengigit-gigit bibir bawahku. Mulutku terbuka lebar saat aku terkesiap dan menelan pada saat yang sama. Itu adalah hal paling seksi yang pernah orang katakan padaku. Detak jantungku memukul, dan kupikir aku terengah-engah. Astaga, aku gemetar, lembab basah, dan Chanyeol bahkan belum menyentuhku. Aku menggeliat di kursiku dan mataku bertemu dengan tatapan gelap yang tajam.
"Mengapa tidak?" aku menantang dengan tenang.
"Karena aku tidak akan menyentuhmu Baekhyun. Tidak sampai aku memiliki persetujuan tertulis darimu untuk melakukannya" Bibirnya mengisyaratkan senyuman.
"Apa artinya itu?"
"Jelas seperti apa yang aku katakan." Chanyeol mendesah dan menggeleng padaku, geli, tapi jengkel juga.
"aku perlu menunjukkan padamu, Baekhyun. Jam berapa kau selesai bekerja malam ini?"
"Sekitar jam delapan."
"Yah, kita bisa pergi ke Seoul malam ini atau Sabtu berikutnya untuk makan malam di tempatku, dan aku akan memperkenalkan kau dengan fakta-fakta itu. kau bebas memilih."
"Mengapa tidak kau katakan padaku sekarang?" Suaraku merajuk.
"Karena aku menikmati sarapanku dan kebersamaan denganmu. Setelah kau melihat semuanya, kau mungkin tak akan mau melihatku lagi."
Ya ampun. Apa artinya itu? Apakah Chanyeol memperbudak anak kecil pada suatu tempat dari planet ini? Apakah ia bagian dari suatu sindikat kejahatan bawah tanah? Ini akan menjelaskan mengapa Chanyeol begitu kaya. Apakah Chanyeol sangat religius? Apakah Chanyeol impoten? Tentu saja tidak, ia bisa membuktikan untukku sekarang. Oh. Aku tersipu merah memikirkan tentang kemungkinan itu. Ini tidak membawaku kemana-mana. Aku ingin memecahkan teka-teki tentang Park Chanyeol, makin cepat makin baik. Jika itu berarti bahwa apapun rahasia miliknya yang begitu kotor hingga aku tidak ingin mengenalnya lagi, terus terang saja, itu akan menjadi melegakan.
"Baiklah, malam ini."
Chanyeol mengangkat alis.
"Seperti Byun Baekhyun yang ku tau, begitu penasaran huh?," Chanyeol menyeringai.
"Apakah kau menyeringai padaku, Tuan Park?" aku meminta dengan manis. Sombong sekali.
Chanyeol menyempit matanya pada aku dan mengambil ponselnya. Chanyeol menekan satu nomor.
"Pelayan Kim. Aku perlu Charlie Tango."
Charlie Tango! Siapa itu?
"Dari Busan katakanlah duapuluh-tigapuluh ... Tidak, standby saja sepanjang malam."
Sepanjang malam!
"Ya. Mulai besok pagi. Aku akan jadi pilotnya dari Busan ke Seoul."
Pilot?
"Standby pilot dari duapuluh-dua-tigapuluh." Chanyeol menutup telepon. Tidak ada kata tolong atau terima kasih. "Apakah orang selalu melakukan apa yang kau katakan pada mereka?"
"Biasanya ya, itupun jika mereka ingin mempertahankan pekerjaannya," katanya, datar.
"Dan jika mereka tidak bekerja padamu?"
"Oh, aku bisa sangat persuasif, Baekhyun. kau harus menyelesaikan sarapanmu. Dan kemudian Aku akan mengantarmu pulang. Aku akan menjemputmu di tempat kerjamu jam delapan setelah kau selesai. Lalu kita akan terbang ke Seoul."
Aku berkedip padanya dengan cepat.
"Terbang?"
"Ya. Aku punya helikopter. "
Aku ternganga padanya.
"Kita akan pergi dengan helikopter ke Seoul?"
"Ya."
"Kenapa?"
Chanyeol menyeringai jahat.
"Karena aku bisa. Selesaikan sarapanmu."
Bagaimana aku bisa makan sekarang? Aku akan ke terbang ke Seoul menggunakan helikopter dengan Park Chanyeol. Aku menggeliat memikirkan itu.
"Makanlah," katanya lebih tajam. "Baekhyun, aku punya masalah dengan makanan yang terbuang ... makan."
"aku tak bisa makan semua ini." Aku ternganga pada apa yang tersisa di atas meja.
"Makan apa yang ada di piringmu. Jika kau sudah makan dengan benar kemarin, kau tidak akan berada di sini, dan aku tak akan menyatakan tawaranku begitu cepat" Mulutnya membentuk garis suram. Chanyeol tampak marah.
Aku mengerutkan kening dan kembali ke makananku yang sekarang sudah dingin. Aku terlalu gembira untuk makan, Chanyeol. Tidakkah kau mengerti? Alam bawah sadarku menjelaskan. Tapi aku terlalu pengecut untuk menyuarakan pikiran ini dengan suara keras, terutama ketika ia terlihat begitu murung. Hmm, seperti anak kecil. aku menganggap pikiran itu menyenangkan.
"Apa yang lucu?" Tanya Chanyeol. Aku menggeleng, tidak berani mengatakan kepadanya dan menjaga mataku pada makanan. Menelan potongan terakhir pancakeku, aku mengintip ke arahnya. Chanyeol menatapku curiga.
"Gadis baik," katanya. "Aku akan mengantarmu pulang ketika kau sudah mengeringkan rambutmu. Aku tak ingin kau sakit" Ada semacam janji tak terucap dalam kata-katanya. Apa maksudnya? aku meninggalkan meja, bertanya-tanya sejenak apakah aku harus meminta izin tetapi segera menolak gagasan itu. Aku kembali ke kamar tidurnya. Sebuah pikiran menghentikanku.
"Di mana kau tidur semalam?" Aku berbalik untuk menatap Chanyeol masih duduk di sana. Aku tak bisa melihat selimut atau kain di sini mungkin Chanyeol sudah merapikannya.
"Di ranjangku," katanya sederhana, tatapannya tanpa ekspresi lagi.
"Oh."
"Ya, itu cukup baru bagiku juga." Chanyeol tersenyum.
"Tidak melakukan ... seks." Nah ... aku mengatakan itu. Aku tersipu tentu saja.
"Tidak," ia menggelengkan kepala dan mengerutkan kening seolah mengingat sesuatu yang tak nyaman. "Hanya tidur." Chanyeol mengambil korannya dan terus membaca.
Demi Tuhan apa artinya itu? Chanyeol tidak pernah tidur dengan siapapun? Chanyeol perjaka? Entah bagaimana aku meragukannya. Aku berdiri menatapnya tak percaya. Ia adalah orang paling menakjubkan yang pernah aku temui. Dan baru sadar bahwa aku telah tidur dengan Park Chanyeol, dan aku marah pada diriku sendiri, apa yang harus ku lakukan untuk bisa terjaga dan melihatnya tidur. Melihat Chanyeol pada kondisi polos saat tidur.
Entah bagaimana, aku kesulitan dibayangkan. Nah, semoga semua akan terungkap malam ini.
Di kamar tidur, aku berburu di setiap laci dan menemukan pengering rambut. Menggunakan jari-jariku, aku mengeringkan rambutku sebaik yang aku bisa. Chanyeol menonton saat aku mengikat rambutku kembali menjadi ekor kuda, ekspresinya tidak terbaca. Aku merasa matanya mengikuti saat aku duduk dan menunggunya untuk selesai.
Chanyeol menggunakan ponselnya berbicara dengan seseorang.
"Mereka ingin dua? ... Berapa biayanya? ... Oke, dan apa langkah-langkah keamanan yang kita miliki? ... Oke, mari kita lakukan. Kabari aku setiap perkembangannya" Chanyeol menutup telepon.
"Siap untuk pergi?"
Aku mengangguk. Aku ingin tahu apa yang dibicarakannya. Chanyeol memakai jaket biru tua bergaris-garis, mengambil kunci mobil, dan menuju ke pintu.
"Setelah anda, nona Byun," bisiknya, membuka pintu untukku. Chanyeol terlihat begitu elegan.
Aku diam sebentar, kemudian mengangguk.
Kami berjalan dalam diam di koridor menuju lift. Ketika sedang menunggu, aku mengintip ke arahnya melalui bulu mataku, dan Chanyeol memandang dari sudut matanya ke arahku. Aku tersenyum, dan bibirnya berkedut.
Lift tiba, dan kami melangkah masuk. Kami hanya berdua di dalam lift. Tiba-tiba, karena alasan tak bisa dijelaskan, mungkin kedekatan kami sedemikian rupa di ruang tertutup, atmosfer diantara kami berubah, terisi dengan arus antisipasi yang meluap. Napasku berubah ketika jantungku berpacu. Kepalanya menengok sedikit ke arahku, matanya paling gelap. Aku menggigit bibirku gugup bukan main.
"Oh, persetan dengan dokumennya," ia menggeram. Chanyeol bergerak maju tiba-tiba, mendorongku ke dinding lift. Sebelum aku tahu itu, kedua tanganku dicengkram dengan satu tangannya diatas kepalaku, dan Chanyeol menjepitku ke dinding menggunakan pinggulnya. Ya ampun. Tangan satunya meraih kain yang mengikat rambut ekor kudaku dan menyentak turun, membawa wajahku keatas, dan bibirnya ada di bibirku. Hanya saja tidak menyakitkan. Aku mengerang ke dalam mulutnya, memberi lidahnya suatu celah. Chanyeol mengambil keuntungan secara penuh, lidahnya ahli menjelajahi mulutku. aku tidak pernah dicium seperti ini.
Lidahku mencoba membelai dan bergabung dalam gairah lambat yang semuanya adalah tentang sentuhan dan sensasi, beradu dan menggiling. Tangannya menangkap daguku dan memegangiku disana. Aku tak berdaya, tanganku terjepit, wajahku dipegang, dan pinggulnya menahanku. . aku merasa kupu-kupu terbang pada perutku. Oh ... Chanyeol menginginkanku. Park Chanyeol, menginginkanku, dan aku juga menginginkan Chanyeol, di sini ... sekarang, di lift.
"Kau. Sangat. Manis, "bisiknya, setiap kata bernada sexy.
Lift berhenti, pintu terbuka, dan Chanyeol menjauh dariku dalam sekejap mata, meninggalkanku menggantung. Tiga orang pria bersetelan bisnis melihat kami berdua dan menyeringai saat mereka melangkah masuk ke lift. Denyut jantungku meningkat pesat, aku merasa sepertinya aku ikut lomba lari maraton. Aku ingin membungkuk dan memegang lututku ... tapi itu pasti terlalu jelas.
Aku melirik Chanyeol. Chanyeol terlihat begitu dingin dan tenang, seperti Chanyeol sedang mengisi teka-teki silang. Begitu tidak adil. Apakah Chanyeol benar-benar tidak terpengaruh oleh kehadiranku? Chanyeol melirikku dari sudut matanya, dan Chanyeol dengan lembut menghembuskan napas dalam-dalam. Oh, Chanyeol ternyata mempengaruhi.
Dan dewi kecil dalam dirikubersorak gembira. Orang-orang bertampang pengusaha yang tadi masuk keluar di lantai dua. Kami punya satu lantai lagi, dan sekarang kami kembali berdua di dalam lift.
"kau menggosok gigimu," katanya, menatapku.
"Em ya, dan aku menggunakan sikat milik gigimu," aku bernapas.
Bibirnya tertekuk keatas, setengah tersenyum.
"Oh, Byun Baekhyun, apa yang kau lakukan padaku?"
Pintu-pintu terbuka di lantai pertama, dan ia mengambil tanganku dan menarikku keluar.
"Ada apa sebenarnya dengan lift?" Gumamnya, lebih pada dirinya sendiri daripada kepadaku saat ia melangkah di lobi. Aku berjuang untuk mengimbangi langkahnya karena akalku secara menyeluruh, berkeping-keping tersebar di seluruh lantai dan dinding lift tiga di Hotel Novotel Ambassador.
=cut=
