Tittle: My Black Coffee Sajangnim

Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun

Other cast: Kim Jongdae, dan ?

Rated: T

.

.

.

.

.

Taman di atas bangunan Black Café menjadi tempat yang nyaman untuk bersantai. Bebarapa meja bundar berpayung tampak sudah diisi oleh beberapa tamu kafe. Biasanya mereka yang ingin merokok lebih memilih untuk duduk di taman atap daripada di dalam kafe.

Baekhyun berdiri di beranda taman atap itu dengan kedua tangan bertumpu pada pagar kaca tebal yang membatasi balkon itu dengan ruang bebas di depannya. Dari sana ia dapat melihat beberapa kendaraan lalu- lalang di bawah.

Banyak hal yang ia pikirkan, terutama setelah acara makan malam dadakannya bersama Chanyeol. Sejak acara makan malam waktu itu, Baekhyun tidak lagi menemukan sosok Park Chanyeol yang angkuh. Bahkan Chanyeol berubah menjadi seorang pria yang terlampau hangat. Akhirnya, setelah dua tahun tidak merasakan kehangatan seperti yang diberikan Chanyeol kepadanya, Baekhyun jadi mulai berpikir dua kali untuk kembali menerima seorang pria guna mengisi ruang kosong dihatinya.

Selama ini, hanya seorang Kim Jongdae yang ia percaya. Walapun pria itu sangat cerewet, tetapi dialah yang paling paham dengan perasaan baekhyun yang terlalu sensitive. Jongdae juga seringkali melihat sifat temperamental Baekhyun yang disebabkan oleh pria paling memuakkan di dunia ini yang pernah menyakitinya.

"HEI! KAU BISA BEKERJA ATAU TIDAK?" teriak seseorang dengan keras.

Baekhyun memutar tubuhnya dan melihat salah seorang karyawan perempuan Black Café sedang berusaha menelan bulat-bulat amarah seorang tamu yang berdiri memunggunginya sambil berkacak pinggang.

"Joesonghamnida, Sonnim. Saya aka berhati-hati lain kali," sesal pelayan wanita itu sambil membungkukkan tubuhnya berkali-kali di hadapan tamu pemarah itu.

"kau tahu berapa harga jasku? Bahkan gaji satu bulanmu saja tidak sanggup membayarnya!" bentak pria itu galak dan membuat kepala pelayan perempuan itu tertunduk karena takut.

Baekhyun mendengus kesal melihat tingkah tamu kafe itu. Bagaimana bisa pria itu menginjak-nginjak harga diri seseorang hanya karena orang tersebut tidak sengaja menumpahkan minuman [ada jas mahalnya. Cih!

Dengan langkah lebar, Baekhyun menghampiri tamu itu. Ia menjilat bibirnya yang kering sebelum meminta maaf pada orang yang menyebalkan seperti tamu pemarah itu.

"Joesonghamnida, Sonnim. Maafkan karyawan kami yang tidak sengaja menumpahkan minuman di atas jas Anda. Biaya mencuci jas Anda biar saya yang tanggung," ucap baekhyun sambil membungkukkan tubuhnya di belakang tamu itu.

Pria itu memutar tubuh sambil berkacak pinggang dan melihat seorang wanita sedang membungkuk di depannya. "kau bosnya?"

Baekhyun menegakkan tubuhnya, hendak menjawab pertanyaan tamu kurang ajar itu. Tapi, mulutnya tiba-tiba terasa kaku. Lidahnya kelu dan suaranya tercekat di tenggorokan. Matanya menatap wajah pria itu nanar. Tangannya terasa ingin terangkat ke udara dan melayangkan sebuah tamparan di wajah pria itu. Tapi, itu semua tidak mungkin Baekhyun lakukan, mengingat ia masih berada di lingkungan tempatnya bekerja. Baekhyun berusaha untuk tetap tenang dengan mengatur nafasnya berkali-kali.

"Byun Baekhyun?" pekik pria itu dengan sebelah alisnya yang terangkat.

"Saya kwajangnim di sini," tidak ada lagi nada ramah yang keluar dari mulut Baekhyun. Rasa benci yang ia buang jauh-jauh tiba-tiba meluap kembali ke permukaan.

"Byun Baekhyun, kau sudah lupa padaku?" Tanya pria itu sambil berusaha merengkuh pundak Baekhyun. Namun dengan cepat, Baekhyun menepis kedua tangan pria itu yang hendak hinggap di atas bahunya.

"Berapa harga jas Anda? Biar saya yang mengganti. Dan saya juga memperingatkan Anda, jangan sekali-kali menginjak-nginjak harga diri karyawan kami," tegas Baekhyun dingin.

Pria itu menatap Baekhyun tidak percaya. Bagaimana bisa gadis itu berubah 180 derajat menjadi lebih galak? Padahal Baekhyun yang dulu ia kenal adalah seorang gadis penakut dan seringkali salah tingkah.

"Baekhyun, ini aku. Kau lupa padaku?" Tanya pria itu sekali lagi.

"Mana mungkin saya lupa pada Anda," baekhyun mendengus. "Orang yang selalu menyakiti. Aku tidak mungkin lupa," ucapan baekhyun langsung berubah dari formal menjadi banmal.

"Mianhe," sesal pria itu.

Baekhyun mengabaikan permintaan maaf pria itu. Ia mengeluarkan selembar kupon diskon binatu langganan Baekhyun dan lembar uang lima puluh ribo won dari dalam dompetnya lalu memberikannya secara kasar pada pria di hdapannya itu. "Aku harap kau segera pergi dari sini dan mencuci jas mahalmu sebelum noda kopinya lengket dan merusak jasmu," kata Baekhyun sinis.

Ia melangkahkan kakinya menjauhi pria yang masih berdiri di tempatnya. Baekhyun menarik tangan pelayan wanita yang tadi dimarahi habis-habisan oleh pria kurang ajar itu. Telinganya mendengar namanya dipanggil-panggil oleh orang yang paling tidak ingin ia temui lagi dalam hidupnya. Tapi, Baekhyun tidak peduli. Ia juga mengabaikan tatapan-tatapan aneh dari tamu-tanu kafe yang duduk di taman atap itu.

Langkah Baekhyun terhenti saat tangannya tiba-tiba ditarik dari belakang dan membuat tubuhnya menjadi kehilangan kendali. Tarikan kencang itu membuat tubuh mungil Baekhyun langsung masuk ke dalam dekapan erat pria itu. Nafas Baekhyun memburu seiring ia terus memberontak dan berusaha melepaskan pelukan itu.

"Lepaskan aku! Lepaskan sebelum aku berteriak!" erang Baekhyun.

"Kembalilah padaku. Jadilah kekasihku lagi, Baek" ucap pria itu sambil mempertahankan dekapannya.

Baekhyun mendesis tajam sambil terus memberontak liar. Jeritannya juga lumayan memekakkan telinga. Gadis itu terus mengerang dan terus menonjoki dada bidang pria itu. Masa bodoh jika ia menjadi tontonan gratis tamu Black café.

"Lepaskan aku!" akhirnya baekhyun berhasil meloloskan diri. Tanpa berpikir panjang, ia langsung melayangkan sebuah tamparan ke wajah pria kurang ajar itu. iaterengah-engah sambil menyaksikan pria itu terhuyung ke belakang sambil memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan pedas tangan Baekhyun.

Pria itu dapat merasakan bau amis darah yang mengucur dari sudut bibirnya. Dia memicingkan matanya tajam dan mendorong tubuh baekhyun sampai gadis itu terjatuh di atas bebatuan. Ia menarik kerah kemeja merah Baekhyun sehingga gadis itu terbangun dan tubuhnya agak tertahan di udara. Tangan pria itu terangkat hendak menampar balik wajah Baekhyun. Tapi, terasa ditahan oleh udara ketika ia mendengar seruan tegas dari seorang pria lainnya.

"Lepaskan baekhyun," ucap Chanyeol pelan namun tersirat ketegasan di dalamnya.

Pria itu tetap mempertahankan cengkeramannya pada kerah kemeja Baekhyun sambil menatap penuh tantangan kea rah Chanyeol. "Kau siapa?"

"Sa-jang-nim," tegas Chanyeol dengan mengeja setiap suku katanya.

Pria itu mendengus kesal melihat tampang Chanyeol yang sok berkuasa di depannya. "Aku tidak peduli kau direktur di sini atau bukan. Yang jelas, Baekhyun punya urusan denganku," balasnya.

"Memangnya, kau ada urusan apa dengan Baekhyun?" kata Chanyeol dengan nada sinis. Sorot matanya yang tajam menyiratkan kobaran emosi dalam dadanya.

Pria itu mendengus lagidan akhirnya melepaskan baekhyun dengan kasar sehingga gadis itu terdorong ke belakang dan terjatuh di atas bebatuan lagi.

Dengan lembut dan hati-hati, Chanyeol membantu Baekhyun berdiri dan meminta pelayan perempuan tadi untuk mengantarkan baekhyun kembali ke ruangannya. Dengan sedikit tertatih, baekhyun berusaha untuk menyeret kakinya. Ia rasa pergelangan kakinya patah karena dua kali terjatuh dari atas stiletto peraknya.

"kau ada urusan apa dengan Baekhyun?" Tanya Chanyeol sinis.

"Kau ada hubungan apa dengan gadis itu?" pria itu membalas bertanya dengan nada yang sangat meremehkan.

"Aku calon suaminya," sahut Chanyeol cepat. "memangnya kenapa? Wajar saja kalau aku membela calon istriku. Dan lagi kau macam-macam pada Baekhyun, kau akan merasakan ganjaran yang setimpal dariku," ancamnya dengan tatapan galak.

Pria yang tersulut dengan emosi yang melampaui batas langsung menarik kerah kemeja Chanyeol dengan kedua tangannya. "Kau berani?"

"kenapa tidak?" tantang Chanyeol sambil mengangkat dagunya dan memperlihatkan keangkuhannya.

Tanpa pikir panjang, pria itu langsung melayangkan tonjokan yang mengarah kea rah wajah Chanyeol. Tapi, Chanyeol lebih sigap menangkis tangan pria itu lebih dulu. Chanyeol langsung mencekram tangan pria itu , memutarnya lalu membanting tubuhnya ke atas bebatuan.

"Taekwondo sabuk hitam. Sudah kukatakan padamu, jangan macam-macam. Salahmu sendiri kalau kau tidak mau mendengar ucapanku," kata Chayeol angkuh. Ia merapikan kemejanya yang di tarik oleh pria kurang ajar itu lalu berlalu meninggalkan pria yang sedang merintih kesakitan itu.

.

.

.

.

.

Setelah mendapatkan izin dari Jongdae, Chanyeol segera mengantarkan Baekhyun pulang. Tapi mereka tidak pulangke apartemen gadis itu. Chanyeol langsung mengantarkan Baekhyun ke Gangnam Sky City, tempat di mana ia tinggal.

"Kenapa ke sini?" Tanya baekhyun bingung. Sebenarnya ia tidak ingin banyak bicara karena seluruh badannya terasa sangat sakit dan nyeri.

"kau istirahatlah dulu di apartemenku," ucap Chanyeol sambil memarkirkan mobil Baekhyun . namun melihat wajah cemas Baekhyun , Chanyeol cepat-cepat menambahkan, "Aku tidak akan berbuat macam-macam terhadapmu. Ingat Baekhyun, aku hanya ingin membuatmu aman dan nyaman."

Baekhyun menundukkan kepalanya, tidak tahu harus berbuat apa. Ia ingin menolak, tapi ia juga tidak enak pada Chanyeol yang tadi menolongnya dari genggaman serigala berbulu domba.

Chanyeol membantu gadis itu berjalan menuju apartemennya yang berada di lantai 15 yang hanya memiliki dua unit apartemen dengan kelas Executive Suite. Setelah menekan beberapa kode kombinasi, pintu apartemen Chanyeol langsung terbuka otomatis.

Pemandangan kelas atas pun langsung menyapa mata Baekhyun. Lukisan duplikat Starry Night oleh Vincent van Gogh terpanjang indah di dinding serambi yang tertata sangat rapi dengan sebuah lemari sepatu dari kayu mahoni di sisi kanan.

Tidak hanya itu, interior minimalis yang sangat berkelas ikut menyapa Baekhyun di ruang tengah. Perabotan serba hitam-putih yang mengkilap seolah menggambarkan pemiliknya yang maskulin. Sebuah alat treadmill diletakkan di samping kursi malas, menghadap televisi pandai keluaran terbaru. Pasti Chanyeol selalu berolahraga menggunakan kacamata khusus sambil menonton televisi tiga dimensinya.

"Duduklah dulu," kata Chanyeol membuyarkan lamunan Baekhyun. Setelah memapah gadis itu, chanyeol mendudukan Baekhyun di atas kursi malasnya. Ia mengangkat kaki Baekhyun dan meluruskannya di atas kursi malas yang sangat nyaman.

Chanyeol berlalu menuju dapurnya. Ia sibuk membongkar kotak P3K untuk mencari obat luka memar. Beruntung, ia ternyata memiliki obat luka memar dan menyimpan benda kecil itu di dalam kotak P3K di apartemennya.

Baekhyun terkesiap ketika Chanyeol tiba-tiba mencengkeram pergelangan kakinya dengan lembut. Dengan cekatan, Chanyeol memencet tube salep itu lalu mengoleskan krim putih pada pergelangan kaki kanan Baekhyun . baekhyun memekik tertahan ketika Chanyeol menekan satu bagian pada pergelangan kaki a yang terasa sangat sakit.

"Kakiku patah. Kakiku patah," rengek Baekhyun hampir menangis.

Chanyeol menjadi gemas melihat wajah Baekhyun, tapi ia tetap mengendalikan wajahnya untuk tetap terlihat dingin. "Tenang saja. Kakimu belum patah. Hanya memar ringan saja. Asalkan kau tidak memakai stiletto selama seminggu, aku jamin kakimu akan sembuh dengan cepat," kata Chanyeol sembari terus memijat pergelangan kaki Baekhyun yang sudah bengkak dan membiru.

"Sok tahu," cecar Baekhyun sambil mengerucutkan bibir mungilnya. "Memangnya kau dokter?" oceh Baekhyun sambil meringis menahan sakit.

"Bukan. Tapi, aku pernah mempelajarinya dulu saat mendalami Taekwond.bagaimana cara menangani seseorang yang terluka sepertimu," ujar Chanyeol seraya mengurut pergelangan kaki Baekhyun dengan gerakan teratur.

Tiba-tiba saja ada perasaan hangat yang mendesak masuk ke benak Baekhyun. "Gomawo, Chanyeol," gumamnya sambil menatap Chanyeol dengan tatapan sayu.

Pria itu menghentikan aktivitasnya dan menatap Baekhyun intens. Seulas senyum hangat pun terukir di bibirnya. Tangannya terjulur kemudian hinggap di atas kepala Baekhyun. Mengikuti nalurinya, Chanyeol mengusap-usap lembut kepala gadis itu.

"kalau boleh aku tahu, sebenarnya siapa pria itu tadi?" Tanya Chanyeol degan hati-hati. Ia tidak ingin mengulang kejadian baekhyun yang ngambek hebat seperti sesaat sebelum ia bertolak ke Amsterdam waktu itu.

Baekhyun mengalihkan pandangannya kearah lain. Mulutnya bungkam dan hatinya masih menolak untuk menceritakan siapa sebenarnya pria itu pada Chanyeol.

"Kalau kau tidak mau cerita juga tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa," ucap Chanyeol kemudian.

Gadis itu bernafas lega saat Chanyeol ternyata tidak memaksa dirinya untuk menjawab seperti yang biasa ia lakukan.

"Kalau kau mau tidur, kau bisa tidur dikamar. Apartemen ini punya dua kamar tidur tamu dan satu kamar tidur utama yang aku tempati. Dua kamar mandi, satu dapur dan pantry serta satu ruang kerja," kata Chanyeol sambil menunjukkan arah tempat-tempat yang tadi ia sebutkan.

'Mulai lagi sifat angkuhnya' batin Baekhyun. Gadis itu tidak sadar kalau bibirnya menyunggingkan seulas senyum tipis.

.

.

.

Chanyeol menikmati semilir angin malam yang segar di balkon apartemennya, ditemani dengan segelas sampanye. Dalam pikirannya, ia masih penasaran siapa sebenarnya pria tadi. Hatinya gondok melihat pria itu bertindak kasar pada Baekhyun, apalagi sampai mendorong dan membuat gadis itu terjatuh.

Sebal, ia langsung menegak sampanye dalam gelasnya lalu menghembuskan nafas perlahan-lahan. Ia sendiri bingung kenapa rongga dadanya tiba-tiba terasa sesak. Bukan karena minuman beralkohol atau kopi. Sejak melihat Baekhyun terjatuh dan merintih kesakitan, rasanya kadar oksigen di sekitarnya langsung menipis hingga membuatnya dadanya sesak.

"Chanyeol," suara lembut seorang gadis memanggilnya dan membuat pria itu berpaling ke seorang gadis yang tiba-tiba mampu mengalihkan dunianya dalam waktu satu detik.

"Oh, Byun. Kau sudah bangun?" Tanya Chanyeol sembari meletakkan gelas sampanyenya di atas meja kaca.

Baekhyun menganggukkan kepalanya pelan. "Aku mau pulang sekarang."

"Pulang? Kakimu sudah baikkan?" Tanya Chanyeol sambil memperhatikan balutan perban yang melilit di pergelangan kaki kanan Baekhyun.

"Lumayan. Setidaknya, aku sudah mulai bisa berjalan dengan normal sekarang. Dan aku yakin, aku juga bisa menginjak pedal gas dan rem mobilku," gurau Baekhyun sambil menggoyang-goyangkan kaki kanannya ke depan.

"Kau yakin? Lebih baik, aku menginap dulu semalam di sini," kata Chanyeol.

Baekhyun melambaikan tangannya. "Tidak. Aku harus pulang malam ini."

"KAu tidak takut pada pria tadi siang? tahu-tahu nanti dia muncul di depan pintu apartemenmu lalu menculikmu," ucap Chanyeol menakut-nakuti.

Baekhyun meringis sedih. Mau tidak mau, bayangan wajah pria kurang ajar itu kembali melintas di otaknya. Juga sederet kalimat yang di ucapkan Chanyeol.

"Chanyeol… ehm…" panggil baekhyun ragu. Ia terus-terusan bergumam, tidak tahu harus darimana ia memulai kata-katanya.

"Hmm?"

"Tadi siang… kau bilang…"

"Bilang apa?" Chanyeol mengernyitkan dahinya, tidak bisa menebak kemana arah pembicaraan Baekhyun.

Baekhyun meletakkan tangan kanannya di atas dada, berusaha menekan degup jantungnya. "kau bilang… kau calon suamiku?"

Chanyeol terkekeh pelan setelah ia mengerti apa maksud baekhyun. "kau keberatan kalau aku berkata seperti itu?"

Baekhyun menggeleng pelan. "Tidak. Hanya saja…"

"hanya saja?" Chanyeol membeo.

"Aku… bukan pacar atau tunanganmu."

lagi-lagi Chanyeol terkekeh. Ia menumpukan kedua siku tangannya pada pagar baja yang ada di balik punggung kekarnya. "kalau begitu, jadilah pacarku," sahut Chanyeol setengah bergurau.

Kepala baekhyun yang agak tertunduk langsung menegak kaku. "Pacar?"

"Kau masih tidak mau bercerita padaku?" Tanya Chanyeol. Sekarang, baekhyun dapat merasakan sedikit unsur pemaksaan dalam nada bicara pria itu.

"Cerita… apa?" Tanya Baekhyun pura-pura bodoh. Dalam hati, ia tahu kalau Chanyeol pasti penasaran dengan pria tadi siang yang membuat kakinya memar.

"Aku tahu kau mengerti maksud dari pertanyaanku, Baekhyun," jawab Chanyeol cepat.

Susah payah, Baekhyun menyeret kakinya mendekati Chanyeol lalu berdiri disamping pria itu sambil melihat kea rah jalanan ramai di bawahnya. Sesaat, keheningan pun meliputi mereka berdua kecuali suara angin yang berhembus pelan meniup-niup rambut panjang Baekhyun yang tergerai bebas.

Chanyeol terkekeh pelan sambil menghirup angin segar yang berhembus di sekelilingnya. "kenapa wanita selalu ingin menyimpan masalahnya sendirian? Tapi kalau memang masalah itu benar-benar privasi bagimu, aku tidak akan memaksamu untuk bercerita."

Baekhyun bungkam dan tetap bertahan dalam diamnya. Begitupun dengan Chanyeol. Keduanya enggan berbicara di bawah langit yang mulai beranjak gelap.

"Dia mantan pacarku," ucap Baekhyun memecah keheningan.

Chanyeol menoleh cepat kea rah Baekhyun dan menatapnya tidak percaya. 'Seorang Byun Baekhyun bisa berpacaran dengan pria sekasar itu?' Tanya Chanyeol dalam hati.

"Namanya, Wu Yi Fan, Kris. Aku bertemu dengannya di Universitas Kyunghee pada semester terakhir. Kami sama-sama belajar kolase perhotelan. Awalnya aku kira dia adalah pria yang baik. Tapi, nyatanya selama setahun terakhir hubungan kami, dia sering pergi ke pub, pulang malam dan mabuk. Tidak hanya itu, dia sering mengencani banyak gadis lain di depanku. Kalau aku bertanya atau protes, dia malah memukuliku. Dan aku sudah sering mengalami kekerasan karenanya. Makanya aku sekarang sangat temperamental. Mungkin aku hanya dendam padanya dan tidak tahu harus melampiaskan semuanya pada siapa," ujar baekhyun miris.

"orang tua mu tahu sikap Kris padamu?" Tanya Chanyeol.

Baekhyun menggeleng. "sejak kuliah, aku tinggal terpisah dari orangtuaku. Orangtuaku tinggal di Busan, sedangkan aku di Seoul. Kalaupun mereka melihat tubuhku yang sedikit lebam, aku hanya bisa berbohong pada mereka. Aku sering bilang kalau lebam ditubuhku itu karena selalu ceroboh, misalnya jatuh saat turun dari bus sebelum berhenti, terserempet motor saat jalan-jalan di Insadong dan masih banyak lagi."

Chanyeol meringis mendengar kisah Baekhyun. "dan mereka percaya?"

"Awalnya tidak. Tapi, aku terus meyakinkan mereka. Kalau tidak, mereka akan menyeretku pulang ke Busan dan aku tidak boleh tinggal di Seoul lagi," jawab Baekhyun sambil menerawang ke atas langit malam.

Tangan kiri Chanyeol terangkat ke atas hendak merangkul pundak Baekhyun. Tapi, buru-buru ia sembunyikan ketika Baekhyun tiba-tiba memutar tubuhnya kea rah Chanyeol.

"jujur, sulit bagiku mempercayai seorang pria lagi. Di dunia ini, hanya dua orang pria yang aku percaya Aboeji dan Kim Jongdae," ujar Baekhyun dengan senyum hambar yang terulas di bibir merah mudanya.

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. Hatinya diam-diam mencelos kecewa saat Baekhyun tidak menyebutkan namanya. Pria itu hanya menyunggingkan senyum kakunya saat Baekhyun yang tidak sadar dengan perubahan suasana hati Chanyeol yang begitu cepat.

"kau… tidak mau mencoba untuk mencari teman hidup yang baru?" Tanya Chanyeol tanpa memandang sedikitpun kearah Baekhyun.

Kedua mata Baekhyun mengerjap polos. "mungkin tidak untuk saat ini," jawabnya singkat. "sampai aku benar-benar menemukan seseorang yang sungguh tulus padaku."

Chanyeol memutr tubuhnya kearah baekhyun yang sibuk mengamati mobil-mobil yang lalu lalang di bawah sana. Kedua tangannya menggapai bahu gadis itu lalu memutar tubuh baekhyun agar mereka berdua saling berhadapan.

Tatapan mata Chanyeol yang begitu dalam membuat jantung Baekhyun melompat-lompat tidak karuan. Degup jantungnya begitu cepat sehingga pasokan oksigen yang masuk ke dalam paru-parunya juga berkurang. Ia menjilat bibirnya yang terasa kering seperti habis berjalan seharian penuh di Gurun Sahara.

"kalau aku katakan padamu, 'aku tulus padamu, Byun Baekhyun'. Apa kau akan mempercayaiku?" Chanyeol bertanya sembari tatapan sayu dari kedua bola mata kelabunya jatuh tepat di kedua manic mata Baekhyun.

Lagi-lagi, jelmaan Dewa Herme di depan Baekhyun saat ini membuat gadis itu membatu. Hatinya bersorak-sorai seperti ada pawai yang sangat meriah. Tapi, ia tidak sanggup menjawab pertanyaan Chanyeol, kecuali jika ia boleh membalasnya hanya dengan sebuah senyuman tulus yang mengembang di bibirnya. Namun, lagi-lagi wajahnya tidak melukiskan ekspresi apapun.

Kali ini Baekhyun benar-benar kalut.

T B C

Bagaimana cingu? Hehehe…

Maafin author yaa yang kasih karakter abang Kris gitu,,, yaahhh hanya karakter doing …

Nah … masih dilanjut ceritanya ….

Buat yang udah review makasih yaa … motivasi nih buat author sendiri… baca n review terus yaa cingu … maaf nggak bisa balas,,, soalnya dah malam banget ngeditnya … nggak kuat lagi,,,

Muuaahhhh buat reader semua…

Salam

Octrat, 8 Mei 2015