Haloooowww... ketemu lagi dengan author yang lebay bin gaje ini. Hahaha (abaikan)

Sinta Malfoy : entah kenapa ya, apa yang mbak Sinta Malfoy tulis selalu sama dengan dokumen yang sudah siap saya submit. Punya kemampuan Legillimency kah? Atau Occlumency saya yang kurang uwow? *abaikan* kalau Draco, saya bikin pairing sama original character. Kalo Sherina? Saya masih dalam tahap berpikir untuk pairing Sherina dengan Riddle.

.

.

.

Disclaimer : sepertinya bukan punya saya deh.

Summary : Sherina diajak Dumbledore untuk bergabung di-Orde dan akan mempunyai misi menyelamatkan teman-temannya yang menjadi tawanan para Death Eaters

A/N : pemimpin para DE bukan aa' Riddle *abaikan kata aa' barusan* | anggep aja Draco anggota Orde. Rating M for killing scene.

.

.

.

1 Minggu kemudian.

Sore yang tenang. Setenang perasaan gadis berambut hitam ikal, bermata hitam berkulit seperti orang british pada umumnya –Sherina duduk diatas balkon di lantai dua Leaky Couldron. Sebuah alunan musik dari 'Air Supply – Good bye' yang berasal gadgetnya ditambah dengan segelas teh hangat semakin membuat pikirannya santai. Ia mengalami hari yang berat minggu lalu. Pemandangan kota London di sore hari tidak terlalu buruk, pikirnya.

You would never ask me why

My heart is so disguise

I just can live a lie anymore

I would rather hurt my self

Than to ever make you cry

There's nothing left to try
Though it's gonna hurt us both
There's no other way than to say goodbye

(Air Supply – Good Bye)

.

.

.

"Lagu yang indah, Miss." Ucap seseorang berkacamata bulan separo.

Sherina kaget dengan kedatangan Albus Dumbledore secara tiba-tiba."Oh, anda mengagetkan saya Sir. Ya, ini lagu favorit saya."

"maaf membuat Anda kaget miss. Jika tidak keberatan, bisakah anda ikut aku kebawah? Ada hal penting yang harus kami bicarakan dengan Anda." Ucap Dumbledore.

"Em, baik, Sir." Ucap Sherina setuju sambil mengangguk cepat.

Sherina membuntuti Albus dari belakang. Ratusan bahkan ribuan pertanyaan berterbangan dipikirannya. "sepertinya ini penting. Tapi, apa hubungannya denganku?" dan masih banyak lagi.

Sampai di bawah, Sherina melihat Leaky Couldron 'tutup.' Tidak biasanya Leaky Couldron tutup, apalagi saat sore-sore begini. Ternyata disana sudah ada banyak sekali orang. Ada Minerva, Alastor, Sirius, Harry Potter dan banyak lagi. Sherina berpikir kembali, ia bertanya-tanya kemana Draco. Kok dia tidak ada. Biasanya ada Harry pasti ada Draco, kecuali pada beberapa saat tertentu.

"Akhirnya kau datang juga, Miss." Ucap Minerva.

"Ada apa, Mrs McGonnagal? Kenapa kedai ditutup?" tanya Sherina penasaran. Rasa ingin tau yang kuat. Sifat dari ayah dan ibu kandungnya mengalir pada darahnya. Keras kepala seperti ayahnya, dan ramah seperti ibunya, itu yang paling menonjol dari dalam diri Sherina.

"Lebih baik kalian perkenalkan dulu siapa kalian. Aku Hagrid. Rubeus Hagrid, panggil saja Hagrid." Ucap manusia berewok besar raksasa itu.

"Aku Fred, dan ini George. Kami saudara kembar." Ucap mereka bergantian.

"Aku..Emm, Neville. Neville Longbottom" ucap Neville

" Aku Bill Weasley dan ini istriku Fleur." Ucap Bill.

"Aku Tom Riddle Jr." Ucap pria tampan berambut raven itu.

Mereka memperkenalkan diri mereka semua bergantian, ada Kingsley, ada Remus, ada Arthur Weasley.

"Aku Sherina. Senang bisa mengenal kalian." Sherina memperkenalkan diri.

"Cukup perkenalannya. Ada hal yang harus kami sampaikan padamu, Mrs." Ucap Albus.

"Sini, mendekatlah." Ucap Alastor.

"Jadi begini, kau pastinya mengenal Draco Malfoy kan?" tanya Albus.

"Ya, Sir. Ada apa dengan Draco?" tanya Sherina khawatir.

"Harry bercerita kepadaku –kami semua bahwa kau sudah berteman dengan Draco sejak pertama kali datang ke London. Lucius, ayah Draco, mencurigai bahwa kau dan Harry akan memiliki takdir untuk menghancurkan ratu kegelapan Bellatrix. Seperti yang akan kami ceritakan ke anda, Mrs. Lucius menculik anaknya sendiri dan menjadikannya sandra untuk memancing kau dan Harry datang." Ucap Albus.

"Apa? Mr Malfoy? Aku bertemu dengannya minggu lalu, kurasa dia orang yang baik. Tidak mungkin menjadikan anaknya sendiri sebagai sandra." Ucap Sherina tak percaya.

"Kurasa kau harus membaca koran ini, Mrs." Kingsley menyerahkan sebuah koran Daily Prophet edisi kemarin.

Terungkap sudah! Draco Malfoy terbukti bukan anak biologis Lucius Malfoy.

Membaca judulnya saja Sherina sudah shock. Ternyata itu alasan kenapa Draco menjadi merenung beberapa hari ini. Tetapi, kenapa ia tidak bercerita kepada Harry ataupun Sherina? Ah, mungkin ia tidak ingin membuat teman-temannya ikut sedih.

Lucius Malfoy, siapa yang tidak mengenal laki-laki berusia 45 tahun ini. Seorang bangsawan dari keluarga Malfoy yang terkenal akan kekayaannya setelah keluarga Black. Dibalik kejayaannya kini, ternyata Lucius terbukti tidak bisa memiliki keturunan. Narcissa, istri Lucius hamil karena perbuatannya dengan sepupu Lucius yang bernama, Antonio Malfoy,saat belum menikah dengan Lucius dulu. Draco, begitu terpukul atas fakta mengejutkan itu. saat kami mintai keterangan, Draco malah memilih untuk menghindar. Narcissa juga mengatakan bahwa Antonio sudah meninggal beberapa hari setelah pernikahan Narcissa dengan Lucius karena terserang penyakit muggle.

Sherina terhenti. Ia ikut sedih dengan apa yang dialami temannya ini. Melipat dan meletakan kembali koran yang hanya berisi berita tentang Malfoy itu dimeja.

"Jadi, ini ini juga termasuk alasan untuk mencelakai Draco, selain memancingku dan Harry?" Tanya Sherina pada Albus.

"Sherina, aku kenal betul siapa Lucius itu. dia tipe orang yang begitu melindungi keluarganya. Sebelum hal ini terjadi, Lucius pernah mengorbankan nyawanya demi anak-satu-satunya." Ucap Harry.

"lalu, kenapa ia menyandra Draco?" tanya Sherina masih penasaran.

"ada dua alasan. Pertama, mungkin ia merasa terpukul dengan fakta itu. melihat selama 17 terakhir ini Lucius menyayangi Draco seperti anaknya sendiri. kedua mungkin karena ia terkena mantra imperius oleh Bellatrix alias Dark Queen." Ucap Kingsley.

"Lalu, apa yang akan kita lakukan untuk menyelamatkan Draco?" tanya Sherina.

"Aku melihatmu memiliki potensi besar dalam dirimu. Terutama dalam ilmu mata batin." Ucap Minerva.

"Hah? Bagaimana kalian tau?" Sherina tercengang

"Lalu aku menyarankan ke Albus agar merekrut mu dalam misi ini." Ucap Minerva lagi.

"Aku setuju dengan pernyataan Minerva yang itu. jadi aku akan bertanya kepadamu, Mau kah kau bergabung dengan kami untuk menyelamatkan Draco dan tawanan yang lain?" Tawar Albus.

"Dengan senang hati. Demi persahabatan, apapun akan aku lakukan." Sherina semangat '45 menjawab.

"baik, kita akan berkumpul disini besok sore pukul tujuh. Ku harap kalian menyiapkan apa yang harus dibawa dan apa yang tidak." Ucap Albus.

Mereka mengangguk bersamaan.

"Baik, pertemuan selesai. Semoga malam-mu menyenangkan, Miss. Kami pergi dulu." Ucap Albus.

"Tentu. Anda juga, Sir." Ucap Sherina.

Sherina memandang Riddle. Ia berfikir, 'baru pertama kali bertemu pria setampan itu.'

-Di kamar-

Dikamarnya, Sherina mempelajari buku yang diberikan oleh Draco dan Harry mengenai 'mantra dan sihir di Inggris' minggu lalu.

Melatih lagi ilmu kebatinan yang sudah beberapa bulan tidak ia gunakan. Ternyata begitu sulit. Ia berusaha membuka mata batinnya, jadi ia bisa melihat apa yang ada dibalik dinding dan membaca pikiran orang lain tanpa diketahui. Jika Legillimens masih bisa dilawan Occlumens, tetapi mata batin tidak. Bahkan korban tidak akan curiga dengan hal itu.

Ia melatih sihir patronus ala jawa nya juga, siapa tau bisa membantu. Ia juga berencana akan mencari beberapa tanaman untuk luka ringan seperti binahong. Siapa tau berfungsi.

yen urip, dadi o nyoto.

Yen mati, mbalik o

(jika hidup, jadilah nyata. Jika mati kembalilah.)

Sherina merapalkan mantra jawa itu secara non-verbal. Ia berusaha sekuat mungkin agar patronus ala jawanya bisa muncul dengan sempurna. Memusatkan seluruh pikirannya dan hanya memikirkan orang-orang yang paling disayangi. Sherina memikirkan Pak Bagus, Bu Retno dan orang tua kandung yang belum ia temukan.

Jiuussssssssssssssss...

Sebuah sinar putih menggumpal diujung keris Sherina lalu meluncur membentuk seekor singa putih. Kali ini singa itu tidak tembus pandang, melainkan sudah berupa singa asli.

"Ono opo nduk, cah ayu? (ada apa anakku yang cantik?)" singa itu berbicara dalam bahasa jawa.

"Mboten wonten nopo-napa mbah. Kulo badhe nguji ilmu niki, mbah. Pangapunten pun ngganggu panjenengan(tidak ada apa-apa, mbah. Saya hanya menguji ilmu ini. Maaf sudah mengganggu anda.)." Ucap Sherina.

"Yo nduk cah ayu, pisan-maneh. Ojo nggawe ilmu iki sembarangan yo, nduk. Oleh nggawe yen keadaan merepet(ya nak, sekali lagi, jangan pakai ilmu ini sembarangan. Boleh pakai jika keadaan darurat saja.)." Ucap Singa itu ramah.

"Nggih, mbah. Pangapunten e sing kathah(ya mbah, saya minta maaf sebesar-besarnya.)." Balas Sherina.

"Yo, saiki balikno aku ing njero(ya, sekarang kembalikan aku kedalam)." Ucap Singa itu.

"Nggih mbah." Sherina merapal mantra tersebut secara terbalik. Secara bersamaan, singa itu masuk kembali dalam keris itu (ya mbah).

Yen mati, mbalik o.

yen urip, dadi o nyoto.

Sherina menutup kembali kerisnya. Dan menaruhnya di meja sebelah kasurnya.

"itu tadi sungguh mengagumkan dan melelahkan." Batinnya. "kurasa tak perlu mengabari ibu/bapak tentang misiku besok, aku tak mau mereka khawatir. Akan kuberi tahu jika semua sudah selesai saja" pikirnya.

Sherina membaringkan dirinya di ranjang. Apa yang ia lakukan tadi benar-benar menguras tenaganya. Memasukan charger hapenya ke stopkontak, lalu ia tidur.

Ia bermimpi lagi seperti mimpinya yang sudah-sudah, ia bermimpi Pak Bagus menyebut nama Willem, Harcrom lagi.

Sherina terbangun, kali ini ia harus benar-benar menanyakan kepada Harry siapa Willem, Harcrom itu sebenarnya.

-Pagi Hari-

Matahari terbit dari timur, menembus tirai yang menutup jendela kamar Sherina. Ia terbangun tepat pukul tujuh. Menuju kamar mandi untuk membasuh diri yang lengket karena keringat.

"aku harus bertanya kepada Harry, atau anggota Orde tentang semua wangsit dari bapak." Pikirnya.

Sherina meminjam burung hantu milik Ken untuk mengirim surat kepada Harry dulu.

To Harry.

Hai Harry, apa kabar?

Bisa kau temui aku siang ini. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu. Ku tunggu di Diagon Alley jam 12 siang.

NB : kau juga bisa membawa barang-barang mu untuk misi nanti malam.

Sherina T. Purnama.

Ia menerbangkan burung bernama Holly tersebut keluar.

-beberapa jam kemudian-

Sherina sudah menunggu Harry di kedai teh yang berada di dekat toko Olivander. Ia melihat beberapa orang memandangnya aneh dengan headphone dikepalanya itu.

"Hei, Sherina." Ucap Harry

Sherina masih tak menoleh karena memasang Head phone dengan volume keras.

"Sherinaaa.." teriak Harry lagi.

Masih tak ada jawaban.

Harry merasa jengkel karena dikacangin, jadi ia langsung melepas headphone nya dari belakang.

"Hei! App yang..—ia terhenti. "Hai Harry, maaf aku tak mendengarmu." Ucap Sherina tanpa dosa.

"Kau membuatku berteriak seperti orang gila. Ngomong-ngomong, ada apa?" tanya harry.

"maaf, langsung saja ya. Kau kenal Willem Harcrom?" tanya Sherina.

"Willem, Ahhhh, tentu saja aku kenal. Dia kan salah satu dewan Mentri sihir saat ini." Ucap Harry.

"Dewan kementrian?" ucap Sherina tak yakin.

"Iya, aku mengenalnya dengan baik. Memang ada apa?" tanya Harry.

"Kau belum tau kan tujuanku kemari itu apa?" Tanya Sherina.

"Tidak, memang apa kalau aku boleh tau?" Tanya Harry.

"Ceritanya panjang, seperti yang kau ketahui. Aku berasal dari Jogja, Indonesia. Aku diasuh oleh Mr Bagus dan Mrs Retno. Saat ulang tahunku minggu lalu, kedua orang tua asuhku mengatakan jika aku adalah anak angkat mereka. Aku menangis sejadi-jadinya. Begitu tega mereka mengatakan hal itu di hari bahagia ku." Sherina menghela nafas.

"lalu?" ucap Harry penasaran kelanjutan ceritanya.

"Mereka mengatakan jika aku adalah anak dari pasangan penyihir yang berasal dari Inggris. Orang tua kandungku memberiku kalung ini. Ya, kunci Gringgot. Seorang penyihir bernama Anne memberitahuku tentang lambang ini." Sherina menitihkan air matanya.

"Jangan menangis." Ucap Harry. Ia tidak tau harus berkata apa lagi.

"Lalu aku meninggalkan Indonesia seminggu kemudian, pergi mencari orang tua kandungku di Inggris tanpa tau harus mencari dari mana." Ucap Harry.

Ekspresi Sherina saat sedang sedih sangat mirip dengan Profesor Blade. Benar-benar mirip. Dan matanya, mirip dengan Snape! Merlin, apa yang sudah kupikirkan. Batin Harry.

"pada suatu malam, aku bermimpi jika ayah angkatku menyebut nama Willem Harcrom berkali-kali. Aku tak tau siapa Willem itu, tapi sepertinya Willem tau asal-usulku sebenarnya." Ucap Sherina

"Tenanglah, setelah kita menyelamatkan Draco dan misi kita selesai, aku akan membantumu menemui Harcrom." Harry menenangkan Sherina yang sedang sedih.

"Thanks, mate." Ucap Sherina.

"anytime." Ucap Harry.

"kurasa waktu kita tinggal beberapa jam lagi. Dan akan lebih baik jika kita istirahat agar kita tidak lelah nanti." Ucap Harry lagi.

"Kau benar, ayo ke penginapan saja." Ucap Sherina.

"Ayo." Ucap Harry.

Di penginapan, Harry duduk di sofa sebelah kamar Sherina. Sementara Sherina menyiapkan apa yang dibawa dan apa yang tidak. Ia membawa Kerisnya, Tongkat sihir dan binahong untuk jaga-jaga.

-Jam 7 di Leaky Couldron-

Sirius dan Alastor datang menjemput Harry dan Sherina. Anggota Orde yang lain sudah berkumpul di markas utama.

"Ayo, ikut aku. Aku akan membawa kalian ke Grimmauld Place." Ucap Sirius.

"Harry, kau denganku. Dan Miss Sherina, kau dengan Alastor." Ucap Sirius lagi.

"Baik." Mereka mengangguk barengan.

Mereka ke Grimmauld Place dengan menaiki sapu terbang. Sherina awalnya ragu untuk apa mereka membawa sapu. Untuk bersih-bersih kah? Atau untuk menyamar sebagai tukang sapu diantara DE.

Lupakan.

Melesat bagai kilat. Ini pertama kalinya Sherina menaiki sapu terbang. Ia merasa takut sekaligus senang. Jika didunia muggle, mungkin seperti sepeda motor milik Valentino Rossi yang sedang melesat di sirkuit balapan.

-di Grimmauld Place-

"Ah, akhirnya kalian datang. Kurasa tak perlu membuang waktu lagi. Ayo kita berangkat." Ucap Albus.

"Mrs Sherina, akan lebih baik kau dengan Tom saja. Ia ahli dalam PTIH." Jelas Albus lagi.

"Eh, tentu. Siapa aja bolee." Ucapnya Indonesian banget.

Disana hanya ada 10 orang diantaranya, Remus, Minerva, Tom, Neville, Fred, George, Kingsley, Molly Weasley, Arthur W, Bill Weasley dan Fleur.

"2 orang akan kami kirim ke pos terdekat untuk menangani hal-hal yang tidak di inginkan. Neville dan Fleur, aku percayakan hal ini kepada kalian. Sisanya akan menyerang." Jelas Kingsley.

"dan aku, aku akan mengalihkan perhatian Dark Queen dengan mengajukan beberapa petisi damai." Jelas Albus.

"Sirius, Remus, aku dan Kingsley kalian menyerang dari depan. Arthur dan Molly dan Bill dari sisi kanan. Fred dan George dan juga Minerva dari samping kiri. Untuk Tom, Sherina, dan Harry kalian dari belakang untuk membebaskan sandra. Gunakan batu hitam buatan Si Kembar Weasley untuk melarikan diri." Ucap Alastor sebagai komandan sambil menyerahkan sekantung batu hitam.

"Siap?" ucap Alastor.

Tak ada jawaban, berarti siap.

"Go!" seru Alastor memimpin.

-Sementara itu Dark Queen dengan Albus Dumbledore-

"Aku datang dengan damai." Ucap Albus basa basi.

"Aku tau apa maksudmu, orang tua." Ucap Bella.

"Aku datang untuk mengajukan gencatan senjata, aku tak mau melibatkan orang lain karena sebuah dendammu karena masalah pribadimu dulu." Ucap Albus.

-Flashback-

Bella adalah salah satu siswi Hogwarts di tahun 40 an. Ia menjadi jahat setelah mengetahui ayahnya telah membunuh ibu kandungnya karena alasan sepele. Sejak saat itu, Bella menjadi jahat dan membunuh siapa saja laki-laki atau perempuan yang saling mencintai.

Pada masa jayanya dulu, Bella pernah dikalahkan oleh Albus. Ia dipenjara di azkaban dengan penjagaan terketat yang pernah dilakukan dunia sihir Inggris.

Namun ia berhasil lolos karena keteledoran petugas. Ia menjatuhkan tongkat sihirnya tak jauh dari sel Bella. Bella mengambilnya menggunakan sihir non verbal untuk menyeret tongkat itu kedalam. Walaupun tangannya dirantai, jemarinya masih bisa mengenggam sesuatu termasuk tongkat itu. saat tongkat itu melayang kejemari Bella, ia menggunakan manta Bombarda maxima level 4 untuk menghancurkan sel itu. dan akhirnya ia lolos dari Azkaban.

-End of Flashback-

"Kau! Kau tak tau betapa sulitnya hidupku setelah ibuku tiada? Aku hidup dijalanan didunia muggle saat berusia 8 tahun. Aku mengemis. Hingga saat petugas panti asuhan membawaku ke panti asuhan. Aku sudah menguasai sihir saat itu, jadi aku menyiksa anak-anak yang berani menggangguku mengunakan kutukan Cruciatus non verbal. Kau tau orang tua, itu menyenangkan. Melihat orang lain menderita." Jelas Bella kejam.

"Tuhan! Betapa kejam kau Bella!"

(A/N : Warning rating M for killing scene dan adegan kekerasan lainnya.)

"akan kuceritakan bagian favoritku. Saat itu, aku sedang duduk ditaman seorang diri, membalik lembaran-lembaran buku yang baru kudapatkan. Sekawanan preman datang untuk mengangguku dan berbuat yang tidak-tidak kepadaku, mereka tidak tau jika aku penyihir, mereka muggle kan? Lalu, aku merapalkan crucio kepada mereka dulu, baru menyiksanya seperti memotong ayam. Menyeret mereka ke bangunan kosong tak terpakai. disana, Aku menusuk jantung mereka, menguliti, dan mematahkan tulang-tulang itu. yang paling sempurna, aku membedah dada mereka, lalu mengeluarkan jantungnya dan memotongnya kecil-kecil. Aku berikan saja potongan jantung itu kepada anjingku. Hahaha." Bella menyeringai seram.

"Kau begitu kejam. Bahkan untuk memberikan ampun saja tidak. Semangat membunuh yang liar." Sindir Albus.

"Pergilah dari sini orang tua, aku sedang baik hati sekarang."

Dumbledore benar-benar ingin muntah mendengar cerita barusan.

-Di Halaman-

Mereka semua sampai di pos mereka masing-masing. Kingsley memancing mereka keluar dengan meng-stupeffy salah satu D.E bertopeng yang diketahui bernama Yaxley itu. tak lama, Alastor dan Sirius langsung bertarung dengan para Death Eaters.

"Crucio." Ucap seorang Death eater.

"Protego." Alastor menangkis dengan mudahnya, lalu mantra itu terpental ke pemiliknya.

Sirius berlari, dikejar 2 orang death eater bukan lah hal yang mudah.

"Stupefy!" ucap Pius

"Expelliarmus!" teriak Sirius tanpa melihat, tetapi berhasil melucuti tongkat ditangan pius. Sekarang, tongkat Pius melambung 2 meter keatas.

"Stupefy." Teriak sirius lagi.

Kali ini Pius benar-benar tak sadarkan diri. Sirius kembali dihadang oleh Death Eaters lagi.

"Expelliarmus." Ucap D.E. itu. tongkat Sirius melambung dan hilang entah kemana.

Sirius berjalan selangkah-selangkah mundur. Ia tak punya senjata untuk melawan d.e itu. eh, Tunggu, dia masih punya batu hitam.

Bluuss

Sebuah kabut hitam mengelilingi mereka, membuat sirius merebut wand death eater itu dan meng-stupefy nya sampai pingsan. Sirius berlari lagi untuk menyisir daerah itu.

"Kingsley, Alastor. Ayo sudah aman." Ucap Sirius.

"Kita harus membantu mereka disisi kanan dan kiri." Ujar Alastor.

"Baik, Remus, Sirius, kalian ke kanan. Aku dan Kingsley akan ke kiri." Tak lama kemudian, mereka sudah ada di sisi yang dituju. Disana sudah ada Fred dan George menaikisapu terbang sambil membawa tali sihir untuk mengikat death eater dibawah mereka. McGonagal terpaksa ikut setuju dengan ide sikembar Weasley agar lebih mudah menerobos pertahanan Bella.

"Anda menikmatinya Profesor." Tanya George jahil.

"Ah tentu saja Weasley. Aku menikmati ini. Sudah lama aku ingin bersenang-senang diatas sapu." Jawab McGonagal sumringah.

"Kita lanjut? Aku masih punya petasan pengikat tali sepatu." tanya Fred.

"Tentu saja Fred. Kau lanjut, aku juga." Ucap George.

"Ayo Profesor." Ajak Weasley kembar.

Mereka melesat lagi untuk menghajar sekaligus mengerjai para Death eater dibawahnya. Mereka tidak gentar walaupun puluhan death eater didepan mereka siap untuk melahap nyawa mereka.

"Lemparkan Profesor." Ucap Fred sambil menyerahkan sebuah petasan menyala kepada Minerva.

Tanpa banyak tanya lagi, Minerva melemparkan petasan itu dan mengenai seorang death eater.

Beberapa menit kemudian, tali sepatu death eater itu memanjang dan mengikat dirinya sendiri, sehingga death eater itu terjatuh dengan penuh lilitan tali sepatu. Sukses membuat McGonagal tertawa puas.

Mereka mendarat, tiba-tiba..

"Sectumsempra.." ucap salah seorang death eater yang sukses mengenai leher George

George tergeletak pingsan, Fred panik sekali. Ia takut saudara kembarnya itu kenapa-kenapa. Tanpa pikir panjang ia menggendong George dipunggungnya dan berlari menuju Neville dan Fleur untuk diberikan obat ataupun ramuan.

"Neville, Fleur, tolong selamatkan dia." Ucap Fred sambil meletakkan George yang sedang tidak sadar di balik semak.

"Baik, apa kau mau disini, atau kembali?" tanya Fleur.

"Aku akan kembali, aku tak mau meninggalkan Profesor Mcgonagal bertarung sendiri." jawab Fred yang mungkin maksudnya 'tak mau meninggalkan orang tua bertarung sendiri.'

"Arthur, awas!" teriak Molly.

Dengan sigap, Arthur menghindar dan meng-crucio death eater yang berusaha menyerangnya tadi.

"Tadi hampir saja." Ucap Bill Weasley.

"berhati-hatilah Billie, aku tak mau hal seperti tadi terjadi." Bentak Molly.

Sementara itu, Dumbledore dan Bella sedang berduel panco *ups maaf salah ketik, maksudnya berduel sihir* untuk memperulur waktu. Bella takut dengan Dumbledore, karena Dumbledore adalah penyihir terhebat. Bella sekali kalah telak dengannya. Ia tak mau kalah dari Dumbledore lagi.

"Mr Riddle, kau yakin ini jalan yang benar." Tanya Sherina tak yakin.

"Anda meragukanku, Mrs?" tanya Riddle sambil menyeringai.

"Tidak hanya saja, kenapa kita tidak masuk. Kurasa situasi sudah mulai terkendali." Ucap Sherina.

"Kurasa aku yang memutuskan, Miss." Ucapnya.

"Errgghh." Sherina mulai jengkel dengan Riddle sok pintar ini.

Tom selalu menyukai orang-orang yang jengkel karena ke-cool-annya itu. dilain sisi, Harry merasa aneh dengan mereka berdua.

"Ayo, kita menyelinap. Jika ada masalah yang tak bisa kalian atasi, lemparkan batu hitam ini. Oke! Let's move on." Perintah Riddle.

"Baik." Ucap Harry.

Mereka berjalan menyelinap melalui semak belukar. Berusaha berjalan dalam diam agar tidak ada yang mengetahuinya. Tetapi itu sia-sia, Harry sudah dicegat seorang death eater, begitu juga Tom. Hanya Sherina yang bebas. Tom menyarankan Sherina agar melempar batu hitam untuk mencapai ruang tahanan.

Blusss

Sherina berlari melewati kabut hitam itu, sementara Tom dan Harry menghadapi death eater yang semakin lama semakin banyak. Sherina terus berlari lalu ia tanpa sadar terjatuh karena kakinya tersayat oleh mantra sectumsempra.

Sherina merangkak menjauhi death eater itu, semakin ia menjauh. Death eater itu semakin cepat langkahnya. Sherina berhasil berdiri dan mencoba berlari dari kejaran death eater bertopeng emas itu. death eater itu mendorongnya dan terjatuh lagi.

Sherina terbaring ditanah. Ia tak sanggup berdiri lagi. Ia mengeluarkan tongkat sihirnya dan melambaikannya tanpa menyebut mantra apapun. Walhasil, hasil kutukan tanpa mantra itu mengenai topeng emas yang membalut wajah death eater itu dan topeng itu tebakar. Death eater itu melemparkan topengnya karena merasa panas. Sherina terkejut ketika melihat Death eaters itu.

"Se Se..Sevv..Severus.." ucapnya terbata-bata sambil mencoba berdiri lagi. Tetapi pria yang diajaknya bicara malah diam menatapnya tajam.

"kenapa kau..kenapa kau tega?" tanya Sherina. Sherina tak tau kenapa, rasanya ia begitu terpukul.

Pria itu masih diam, lalu mengacungkan tongkatnya kearah Sherina. Sherina menutup matanya, ia pasrah dengan apa yang akan dilakukan Severus terhadapnya. Ia juga pasrah jika ia takkan pernah bertemu dengan orang tua kandungnya jika ia mati disini.

"Petrificus Totalus" sebuah mantra kutukan keluar dari mulut seorang Severus.

Sherina membuka mata. Barusaja ia merasa ada sesuatu yang melintas disamping kupingnya dan itu berasal dari Severus.

"Severus.. kau?" Sherina tak percaya.

"cepat selamatkan teman-temanmu. Lewat jalur kiri." Ucapnya dingin sambil memakai topengnya lagi.

"Baik. Terima kasih." Ucap Sherina.

Severus hanya mengangguk dan lalu meninggalkan Sherina. Ia mengambil beberapa bilahong dari sakunya. Menumbuknya lalu menempelkannya pada luka dikakinya.

Ia kembali berlari menuju sisi kiri, seperti apa yang dikatakan oleh Severus. Lalu ia menemukan sebuah pintu besi besar. Sherina tak bisa membukanya dengan tongkat sihir itu. ia mencoba untuk menggunakan tenaga dalam dan mengetuk beberapa sisi lemah pintu itu. dan mencoba membukanya.

Berhasil!

Disana, ia melihat Draco, seorang pria berambut merah dan wanita berambut coklat agak keriting.

"Dracoo.." panggil Sherina.

"Sherina! Pergi dari sin...Arrrhggghhh" belum selesai ia memperingatkan Sherina, ia sudah meraung kesakitan.

Tiba-tiba suara tepuk tangan berasal dari belakang jeruji Draco.

Prok prok prok

"Bagus sekali, bagus sekali. Akhirnya kau masuk perangkapku" Ucap dua orang pria berambut pirang seperti Draco dan yang satu lidahnya menjulur seperti ular.

"Mr Malfoy! Tega sekali kau!" ucap Sherina marah.

"Diam kau sshhhh atau kubunuh kau shhh." Ucap pria benama Barty Crouch tersebut.

"Aku yang akan membunuhmu lidah ular." Ucap Sherina.

"Semangat yang bagus. Ayo kita atasi dia Barty." Ucap Lucius.

"Crucio"

"Stupefy"

Sherina berhasil menghindar. Kali ini ia mengeluarkan kerisnya, membacakan mantra. Beberapa lama kemudian tubuh Sherina menjadi kebal terhadap apapun, bahkan mantra yang dilontarkan Barty dan Lucius.

"Crucio! Stupefy!" Lucius berusaha menembus pertahanan Sherina tetapi gagal.

"Avada Ked—mantra itu kemudian terpotong kemudian Lucius dan Barty terdorong seperti ada angin. Seperti pada film the last air bender *bukan punya saya*

"Ilmu apa itu tadi?" tanya Lucius.

Kali ini Sherina marah sekali, ia mengacungkan tongkat sihirnya. Ia mencoba mantra yang diajarkan Draco minggu lalu.

"Kalian! Rasakan ini.. Stupefy! Stupefy!" beberapa saat kemudian Lucius dan Barty pingsan. Sekarang timbul masalah lagi, jeruji besi yang mengurung 3 orang yang sedang pingsan tersebut memiliki sebuah mantra kunci yang tidak diketahui oleh Sherina.

Sherina mencari besi ataupun batu untuk menghancurkannya, tetapi tidak berhasil juga.

"Coba Alohomora." Ucap wanita berambut kriting didalam sel itu.

Tanpa banyak tanya, Sherina merapalkan mantra Alohomora itu. dan kali ini berhasil.

"Kalian, cepat pergilah. Aku akan menyusul." Perintah Sherina.

Hermione, Ron dan Draco meninggalkan Sherina, ia ingin mencari tau sesuatu dari pikiran Lucius.

Sherina menutup matanya dan mulai masuk kedalam pikiran Lucius.

Tidak..

Tidak mungkin..

Bagaimana bisa...

Sherina mengucap kan kata itu berkali-kali. Ia tak sadar jika teman Lucius, Barty, sudah sadar dan bersiap menyerang Sherina.

"Crucio" Barty merapalkan mantra itu dan mengenai Sherina tepat diperutnya dan ia terlempar menabrak jeruji.

"Mau kemana kau sshh?" tanya Barty kejam.

"menyingkir dariku lidah ular!" Sherina mendorong Barty kebelakang.

"masih berani melawan rupanya dia, Malfoy." Ucap Barty kepada temannya.

"Kita habisi saja dia." Ucap Lucius kejam.

"Menjauh darinya!" tiba-tiba suara seorang pria mengagetkan Sherina.

"Siapakau memerintah kami?" bantah Barty.

"Kubilang pergi atau kubunuh kalian." Dengan sigap pria itu mengeluarkan tongkat sihir dari jubahnya.

"Dasar penghianat kau, Snape shhhh!" ucap Barty kejam.

"Avad.." terpotong oleh mantra Expelliarmus-nya Snape.

"Crucio"

"Protego, Levicorpus." Ucap Severus yang sukses membuat Lucius tergantung dengan kepala dibawah.

"Stupefy, Stupefy" ucap Snape lagi.

"kurasa kalian akan merusak aktingku jika mengadu kepada Dark Queen." Ucap Severus.

"Obliviate" ucapnya kepada Barty.

"Obliviate" kali ini kepada Lucius.

"Thanks, Severus." Ucap Sherina.

"Yo welcome." Ucapnya dingin.

Mereka berjalan keluar, melewati Death eater-orde yang masih bertarung. Saat sedang berjalan tiba-tiba sekelompok death eater mengepung Severus dan Sherina. Teman-teman Sherina yang sedang berduel juga ikut kualahan. Orde sudah hampir kalah, kini ditambah lagi tak ada yang menyelamatkan Sherina dan Severus dari kepungan death eater itu.

Pertama-tama, death eater itu melumpuhkan Severus dulu, baru bisa 'bersenang-senang' dengan Sherina. Sherina begitu panik, ia takut jika satu-satunya orang yang melindunginya akan ditumbangkan, lalu mereka akan 'bersenang-senang' dengan Sherina. Oh, yang benar saja.

Dari sekumpulan death eater itu, munculah seorang wanita berambut hitam acak-acakan dengan wajah ular yang mengerikan.

"Ada penghianat rupanya." Ucap Bella.

"kita bunuh saja dia, Your Majesty" saran Yaxley.

"tidak, aku lebih suka melihat mereka menderita dulu." Ucap Bella.

"Crucio." Bella mengucapkan mantra itu. sepertinya itu adalah Crucio level tinggi yang membuat seorang Severus tergeletak lemah.

"Severus! Bangun!" Sherina berusaha membangunkan Severus.

"lawan aku, wanita jalang!" ucap Sherina.

"Ku terima tantanganmu dengan senang hati." Ucap Bella.

Bella mengeluarkan tongkat sihirnya, dan mengacungkannya.

"Avada Kedavra"

"Expelliarmus" ucap mereka bersamaan

Sebuah sinar hijau keluar dari tongkat bella melawan sinar biru yang keluar dari tongkat Sherina. Mereka beradu keseimbangan dengan saling melempar kutukan itu.

"ayo Sherina, kau harus kuat. Demi teman-temanmu, demi orang tuamu." Sherina menyemangati dirinya sendiri.

"Hanya segitu kemampuanmu?" ucap Bella santai. Kekuatan Sherina semakin lemah. Ia tak sanggup lagi melawan. Tangannya bergetar hebat dan pijakkan kakinya sudah tidak kuat menopang tubuhnya lagi.

Ia terlempar beberapa meter dari tubuh Snape.

Bella mendekati mereka, sudah siap membunuh. Namun, sherina mengeluarkan kerisnya dan membaca mantra yang dihafalkannya tadi sore.

yen urip, dadi o nyoto.

Yen mati, mbalik o

Sebuah sinar putih menggumpal diujung keris Sherina lalu meluncur membentuk seekor singa putih. Kali ini singa itu tidak tembus pandang, melainkan sudah berupa singa asli.

"Mbah, tulung. (mbah, tolong.)" Ucap Sherina singkat.

Singa itu mengerti apa maksud Sherina. Singa yang dipanggil mbah itu menyerang bella dan menjatuhkannya dengan mudah. Mengusir death eater yang mengelilingi mereka.

Untuk kali ini, Orde menang lagi. Berkat Sherina dan singa putihnya.

Singa itu mengangkat Severus dan menaikannya kepunggungnya. Ia membawanya ke Neville. Sementara Sherina berlari mendekati Tom yang sudah sadar dari pingsannya.

"Ayo, Mr Riddle." Ucap Sherina dan membopongnya.

Mereka berjalan mendekati pos Neville dan Fleur.

"Kau hebat tadi." Ucap Tom

"Apanya?" tanya Sherina polos.

"kau melawan bella tadi." Ucap Tom.

Sherina tersipu malu.

.

.

TBC

.

.

.

A/N : Halooo.. maaf update nya lama. Author lagi agak sakit nih *cucolabaikan. Btw, chapter ini gimana?

Review ya? *ngumpet.

Bagaimana kah nasib Snape selanjutnya? Apakah ia mati?