Sekarang kami sedang berada di roller coaster. Seto dan Mary berada paling depan dan sepertinya yang paling senang. Dibelakangnya ada Shintaro dan Momo-chan, Shintaro melihat ke bawah ketakutan dan Momo-chan tersenyum senang. Dan di depanku ada Kido dan Kano, Kano melihat Kido yang gugup dan menggigil ketakutan.
"Mary-chan, rambutmu panjang jadi sebaiknya di ikat saja"
"Baik!"
"..."
"Kido, kamu baik-baik saja?"
"A-Aku baik-baik saja!"
"Aku tidak sabar.."
Yang paling ketakutan sepertinya Shintaro. Aku melihat Kano yang sedang bertanya kepada Shintaro.
"Shintaro-kun, kamu baik-baik saja?", tanya Kano.
"Onii-chan baik-baik saja~", jawab Momo.
"T-Tidak mungkin aku baik-baik s-saja..", jawab Shintaro ketakutan.
*CLANK CLANK
"Shintaro, bersiap-siaplah untuk menghadapi akhir hidupmu", kataku santai.
"Jangan berkata seperti itu!", teriak Shintaro.
"Onii-chan memang seorang penakut!"
"Ah.. Tidak—"
*WHOOSH!
"KYAAA!"
"Pftt—Ahaha! Shintaro, ada apa dengan teriakanmu?!", aku tidak bisa menahan tawaku saat mendengar Shintaro yang berteriak seperti seorang perempuan. Seto dan Mary terlihat sangat senang, sedangkan Kano menahan tawanya karna melihat Kido berteriak ketakutan.
"AAAAAAAAHHHH!", menurutku, ini adalah permainan terbaik saat ini. Aku menyesal tidak membawa kamera. Ah, tapi bisa saja kameraku jatuh ke bawah dan rusak..
"Ah! Itu sangat menyenangkan. Benar kan, onii-chan?", tanya Momo kepada Shintaro. Shintaro sepertinya berusaha menahan dirinya agar tidak muntah dengan menaruh satu tangan di mulutnya. Lalu kami semua turun dari roller coaster.
"K-Kecepatan seperti itu hanya untuk anak-anak", kata Kido dengan tubuh yang menggigil ketakutan.
"Ah, anak-anak ya. Aku mengerti..", jawab Kano dengan nada monoton.
"Shintaro-kun?", Seto yang melihat Shintaro yang masih duduk di roller coaster dengan khawatir.
"Shintaro, kalau kamu tidak turun, orang yang selanjutnya tidak bisa naik..", kata Mary.
"Apakah dia.. lemah terhadap kendaraan?", tanya Seto khawatir. Kami semua menjadi gugup, dan aku yang mengingat kalau Shintaro lemah terhadap kendaraan segera menjauh dari laki-laki yang disebutkan itu.
*BLEGHH!
"ONII-CHAN!", Momo berteriak malu kepada Shintaro.
Setelah itu, aku mencari vending machine untuk membeli minuman. Aku membelikan cola untuk NEET penyuka cola itu. Aku yakin, walaupun dia masih sakit karna roller coaster tadi, Shintaro tidak akan pernah menolak cola. Saat dalam perjalanan kembali ke bangku tempat Shintaro beristirahat, aku melihat Mary.
"Ah, Mary? Ada apa?", tanyaku bingung. Mary lalu menunjuk ke Istana Es.
"Kamu ingin pergi kesana?", tanyaku, dan Mary mengangguk.
"Maaf, Mary. Tapi aku tidak baik dengan tempat dingin. Bagaimana kalau kamu mengajak Shintaro nanti?"
"Baiklah", aku melanjutkan berjalan ke arah Shintaro. Tapi disana, aku melihat Kano dan Seto yang sedang berbicara dengannya.
"Shintaro, tangkap!", aku melempar cola ke arah Shintaro, dan dia menangkapnya dengan kaget.
"O-Oi! Apa yang kamu lakukan?!", teriaknya kaget.
"Tentu saja membelikanmu minum, Baka! Kamu harusnya berterima kasih!", kataku. Shintaro menundukkan kepalanya dan berkata,
"Terima kasih.."
"Yah, aku bercanda soal terima kasihnya. Tapi aku terima kata-katamu tadi"
"Kamu!", Shintaro berlari ke arahku, dan aku menghindar, membuat dia jatuh di tanah.
"Ahaha! Kamu memang benar-benar menarik, Shintaro-kun!", kata Kano sambil terus tertawa, dan Seto hanya tersenyum kecil.
"Jadi, apa yang kalian bicarakan tadi?", tanyaku penasaran. Shintaro menjadi kaku, Kano berhenti tertawa, dan Seto memalingkan kepalanya. Ada apa dengan mereka?
"Yah, kalau kalian tidak ingin membicarakannya, aku akan main ke rumah hantu. Dah~", aku berjalan pergi dari tempat itu.
"Megu-chan.. Apa kamu yakin kalau meninggalkan mereka adalah ide yang bagus?", tanya Ene dari dalam ponsel.
"Ya, lagipula mereka tidak ingin membicarakannya, dan aku juga tidak akan menanyakannya", jawabku dengan tenang. Aku merasa ada yang aneh dengan mataku..
"Baiklah kalau begitu.."
"Ene.. Apa kamu pernah berpikiran untuk menghentikan waktu?", tanyaku tiba-tiba.
"E-Eh? Kenapa kamu menanyakan tentang itu, Megu-chan?", tanya Ene gugup. Sepertinya dia tidak ingin menjawab pertanyaan ini.
"Yah, aku hanya penasaran. Dan ngomong-ngomong tentang menghentikan waktu, aku pernah ingin melakukannya..", kataku sambil terus melihat ke depan sambil mencari rumah hantu.
"Kapan?", pertanyaan Ene membuat aku berhenti berjalan. Aku tersenyum kepada Ene, memikirkan apakah aku harus menjawab pertanyaan ini.
"...2 tahun yang lalu", jawabanku membuat Ene terdiam, dan aku melanjutkan mencari rumah hantu. Bagaimana bisa mencari rumah hantu bisa jadi sesulit ini?!
"Ene.. Sepertinya aku tidak akan menemukan rumah hantu itu..", kataku sambil mengelap keringat yang ada di dahiku. Aku tidak tau berapa lama aku berjalan mencari rumah hantu, dan panas ini membuatnya semakin sulit.
"Tenang saja, Megu-chan! Kamu pasti akan menemukannya!", kata Ene sambil memberi semangat. Itu tidak terlalu membantu, kamu tau..
Seperti yang sudah kubilang dulu, aku tidak suka dengan hal yang rumit, karna itu aku akan memakai kekuatan mataku. Entah kenapa, saat kembali bersama Kido, Kano, dan Seto, rasanya aku bisa memakai kekuatan mataku dengan tenang. Apa karna mereka punya kekuatan yang sama?
Mataku berubah dari ungu terang menjadi merah, dan aku melihat orang di sekitar. Langkah kaki, arah mata, gerakan tangan, dan apa yang mereka bicarakan. Aku mengamati semua ini, dan membuat sebuah prediksi tentang kejadian selanjutnya. Inilah kekuatanku.
"Megu-chan? Kamu terlihat pucat..", kata Ene khawatir.
"Hah.. Hah.. Sepertinya, aku berusaha t-terlalu keras dalam mencari sebuah rumah h-hantu..", aku tersenyum dengan nafas yang terengah-engah. Memang sepertinya tetap saja bukan ide yang bagus untuk menggunakan kekuatanku pada banyak orang. Sebaiknya aku mencari yang lainnya, karna aku tidak mau pingsan disini dan bangun bersama orang asing.
"Megu-chan, aku akan menelpon yang lain. Dimana kita sekarang?", tanya Ene sedikit panik. Aku melihat sekeliling, dan menemukan sebuah bangku di depan roller coaster.
"Di bangku d-depan permainan roller coaster..", aku mulai mengeluarkan keringat dingin dan kepalaku juga terasa pusing.
"Dan kamu sebaiknya duduk di bangku itu!", kata Ene mengingatkan. Aku tersenyum karna kepedulian Ene kepadaku.
"Baiklah", aku berjalan ke bangku itu, dan duduk menunggu yang lainnya. Ah, gawat.. Panas ini membuatku semakin pusing. Setelah beberapa saat, Kido, Momo-chan, dan Shintaro datang berlari dengan wajah khawatir dan panik.
"Ahaha.. A-Ada apa dengan wajah kalian semua?", aku tersenyum kecil melihat mereka bertiga. Shintaro memegang dahiku dengan tangannya, dan mukanya menjadi semakin khawatir.
"Bagaimana, onii-chan?", tanya Momo-chan.
"Tidak bagus.. Dia mengeluarkan keringat dingin, dan badannya panas", kata Shintaro. Lalu Seto, Mary, dan Kano datang berlari dengan cepat, tentunya dengan Mary dipunggung Seto.
"Megumi-san, apa kamu baik-baik saja?", tanya Seto khawatir. Aku menutup mataku sambil mendongak ke atas, lalu menggeleng.
"Tidak, aku tidak baik-baik saja. Kamu tau, betapa susahnya mencari rumah hantu?", tanyaku kepada mereka semua. Aku mendengar Kido menyuruh Mary untuk turun, dan sepertinya Seto menaruhku di belakangnya, karna yang kurasakan ini jelas bukan bangku.
"Maaf membuat k-kalian khawatir..", aku membuka mata ungu terangku, tapi nafasku masih terengah-engah, dan kepalaku terasa seperti ditimpa beban berat.
"Tidak papa, Megumi-san. Sebaiknya, kamu tidur, kita akan naik bis", kata Seto. Aku menutup mataku lagi, saat aku merasakan rambutku dielus seseorang.
"Pergi tidurlah, Megumi. Kalau kamu tidak ingin membuat kami khawatir, sebaiknya saat kita pulang kamu sudah sehat..", aku mendengar suara Shintaro, membuatku tersenyum lega.
"Tidak ada janji disini, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin..", jawabku bergumam, tapi semoga saja Shintaro mendengarnya. Setelah mendengar suara yang lainnya, aku merasa lega. Yah, paling tidak mereka punya pengalaman yang menyenangkan hari ini..
Ayame : Yah, saya mulai bosan dengan ini, jadi langsung saja. Seto!
Seto : Halo! Kagerou Project milik Jin (Shizen no Teki-P), Ayame-san hanya memiliki OC dan beberapa jalan cerita.
Ayame : Hah.. Lega itu berjalan lancar. Ngomong-ngomong, rusa bawean itu kemana?
Seto : Ah, aku lepaskan ke hutan *smile*
Ayame : ..Hutan?
Seto : Ya, hutan.
Ayame : ...
Seto : ...?
Mary : S-Sampai jumpa di c-chapter selanjutnya..
