Warning : Teikou Arc+AU—OOC—AllMainChara x Reader—Nyerempet reverse!harem—possibly typo(s)—Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi.

.

.

.

.

.

The Occult

Target Kedua, Aomine Daiki (3)

.

.

.

.

.

Umumnya, seorang gadis akan terus memikirkan orang yang disukainya. Terlebih ketika beberapa waktu yang lalu telah terjadi sebuah ciuman yang membuat jantung terasa sedang berlompatan. Rasanya pun akan melekat di bibirmu bahkan ketika esoknya, esoknya, dan esoknya lagi, meskipun tak bertemu dengan dia yang disuka. Begitulah memang i'tikad seorang gadis remaja yang sedang jatuh cinta, semuanya terasa sesak karena bahagia sekaligus berdebar menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kurang lebih, begitulah yang kurasakan saat ini. Sejak ciumanku dengan Aomine semalam, tidak mungkin aku bisa mengelak dari rasa sukaku terhadap pesona si hitam itu. Namun aku tidak sekonyol gadis-gadis manga shoujo yang hanya akan menatap lebar sang pujaan hati sembari berkode ria untuk meresmikan hubungan atau malah ciuman kedua. Tidak, tidak, aku tidak minta ciuman kedua tentu saja. Aku hanya ingin memperjelas hubunganku dengan Aomine sekarang, yang seharusnya akan jauh lebih maju dari pada sekedar teman beradu mulut, kan? Lagipula Nijimura si iblis—yang untuk kali ini berubah jadi cupid karena misi darinya membuatku menyukai Aomine—sudah membebaskanku dari misi merepotkan itu.

Pagi ini aku melangkah ke sekolah dengan perasaan ringan. Tidak begitu menggebu-gebu ingin bertemu dengan Aomine juga—yah kurasa perasaan suka pada diriku takkan terlalu mendebarkan seperti di manga shoujo—tapi kuharap aku tak bertemu dengan Kuroko sebelum memperjelas semuanya dengan Aomine. Well, tanpa sengaja aku sudah melanggar peringatannya untuk berhati-hati—mengundang Aomine ke rumah itu jelas-jelas bukan tindakan waspada. Tapi karena tidak bisa terus memberikannya harapan, aku tetap harus memberitahukannya tentang perasaanku kepada Aomine, sesegera mungkin setelah aku memperjelas hubunganku dengan Aomine.

Oh ya, soal misi penaklukan dari Nijimura, tadi kukatakan memang dia sudah membebaskanku, tapi ada satu hal yang sedikit kukhawatirkan. Aku sudah bertanya padanya malam itu, apakah ia sudah menangkap rohnya. Namun ia tidak menjawabnya dengan jelas dan hanya bilang akan membebaskanku dari misi ini karena aku tidak bisa melanjutkannya. Jelas saja, aku tidak mau merayu sisa generasi keajaiban dengan berselingkuh dari Aomine. Lalu, bagaimana dengan roh di dalam tubuh Aomine?

Yang kutakutkan, jangan-jangan sebenarnya roh di dalam tubuh Aomine belum keluar? Dan otomatis itu berarti antara masalahnya atau orang disukainya belum terpenuhi. Kupikir sejauh ini masalahnya mengenai hasrat bermain basketnya sudah terpecahkan berkat Kagami, jadi kalau roh itu belum keluar dari tubuh Aomine berarti masalahnya ada pada orang yang disukainya. Aku—mungkin.

Mungkin, dia tidak menyukaiku.

Memikirkan adanya kemungkinan itu membuat dadaku terasa sedikit sesak. Yah, aku belum terlalu mengenalnya, jadi bukan tidak mungkin kalau ia adalah cowok badass sesuai tampangnya yang memang hanya ingin menggodaku semalam, kan?

Kalau benar ... konyolnya aku yang sudah jatuh kepadanya.

Setelah dipikir-pikir, iblis pelangi itu juga tidak jahat-jahat amat kok. Buktinya dia mau melepaskanku kan? Tidak salah dong membantunya sekalian mencapai tujuanku sendiri. Lagipula iblis itu yang membuatku bisa merasakan perasaan ini. Perasaan menyukai seseorang.

"Pagi, (your name)~!" Sambut Satsuki dengan wajah riang begitu aku sampai di kelas.

Aku tersenyum jahil melihat keriangannya yang tidak biasa pagi ini. "Pagi, Satsuki. Kemarin pulangnya baik-baik saja, kan?" Godaku, menyiratkan kejadian kemarin dimana Satsuki dan Kuroko pergi berdua ke Maji Burger.

Satsuki tertawa riang. "Iya dong, kan diantar Tetsu-kun~." Pamernya. "(Your name) bagaimana dengan Aomine-kun? Kata Tetsu-kun kamu kemarin tidak berhasil membawanya ngobrol ke Maji Burger, ya?" Tanyanya.

Senyumku mendadak lenyap. Tentu saja aku sangat ingin mencurahkan isi hatiku dengan sahabatku sendiri. Tapi, kemarin Aomine melarangku memberitahu Kuroko dan Satsuki kalau aku berhasil membujuknya ke Maji Burger. Mungkin dia memang gengsi terhadap orang-orang terdekatnya kalau ia mulai bisa membuka hatinya kepada basket yang diumbar-umbarkannya sangat membosankan, tapi kasihan juga kalau Satsuki yang sudah sangat lama bersamanya terus-terusan khawatir begini.

Lagipula, aku bisa jauh lebih mengenal Aomine dari Satsuki kalau aku menceritakannya, kan?

"Mmm ... Satsuki ... Aomine-kun itu orang yang seperti apa sih, sebenarnya? Tolong ceritakan segala hal tentangnya yang kamu ketahui, dong~ Hehehe ..." Tanyaku balik, tidak menjawab pertanyaannya.

Jari telunjuk Satsuki yang lentik menekan bibirnya, gestur ketika sedang berpikir. "Hmm~ Kamu mau cari petunjuk untuk membujuknya kembali bermain basket, ya? Mmm ... Gimana ya, yang terbayang di kepalaku sekarang cuma keburukannya sih, hahaha. Dan ada beberapa hal yang sebaiknya tidak diketahui orang lain juga." Ucapnya.

"Hee~ Apa itu? Apa itu? Aku jadi penasaran~" Tanyaku dengan antusias. Mungkin Aomine punya sisi manis atau pengalaman memalukan yang bisa kujadikan senjata untuk mengisenginya, kan? Hehehe.

Satsuki tersenyum tak enak. "Eeeh ... Justru karena itu semua rahasia kami berdua makanya tidak bisa kuceritakan pada (your name) dong, hehehe ..." Tolaknya untuk menjaga rahasia. "Lagipula semua itu tidak bisa kau gunakan untuk membujuknya kembali pada basket, tahu. Aku sudah pernah mencobanya dan malah dimarahi balik olehnya, huuh." Keluhnya.

"Mmm ... Sebenarnya aku tidak akan menggunakannya untuk membujuknya kembali kepada basket, sih." Ujarku. "Kurasa sekarang ia sudah mulai kembali ke basket, hanya saja aku belum memastikannya lagi, sih."

Alih-alih terlihat senang, Satsuki lebih terlihat seperti tidak percaya mendengar ujaranku. "Be ... Benarkah? Dia benar-benar berkata akan kembali ke tim basket, (your name)?" Tanyanya.

Aku mengangguk. "Tidak tepat begitu juga sebenarnya. Kemarin aku berhasil mengajaknya ke Maji Burger—dengan syarat tidak memberitahukannya kepadamu dan Kuroko-kun. Mungkin ia cuma gengsi terhadap kalian, makanya aku bilang begitu kepada Kuroko-kun kemarin. Lalu, setelah kami mengobrol biasa, aku mengajaknya untuk bermain basket bersama teman satu komplekku yang kerja paruh waktu di Maji Burger. Dia datang dari Amerika dan sangat jago bermain basket, lalu one on one bersama Aomine. Sepertinya ia sudah menemukan lawan kuat yang selama ini dicarinya dalam basket, karena itu ia menantangnya di winter cup nanti. Secara tidak langsung ia berarti mengatakan kalau ia akan kembali ke tim basket Teikou, kan?" Jelasku panjang lebar.

"Ternyata ... Yang dibutuhkannya memang lawan yang kuat ... Untunglah! Untunglah dengan ini dia bisa semangat lagi!" Seru Satsuki dengan riang. "Tapi bahaya juga sih kalau lawan kuat yang diakui Aomine begitu sampai ada di winter cup nanti, hahaha."

"Tenang saja, Kagami-kun tidak akan ikut, kok. Sekarang dia ada di Jepang karena sekolahnya di Amerika sedang libur. Ia akan kembali dan sekolah di sini saat SMA nanti." Jelasku lagi. "Biarpun lawannya untuk sekarang akan berada jauh darinya, tapi kupikir ia akan bisa terus semangat, kok. Toh Kagami-kun akan kembali satu tahun lagi."

Raut wajah Satsuki kembali terlihat lega. "Syukurlah ... Kalau begitu saat istirahat nanti aku akan membuatnya menandatangani surat masuk klub basket! Yosh!"

"Eh? Memangnya untuk kembali dia harus mengisi formulir lagi yang otomatis membuatnya jadi anggota baru lagi ya?" Tanyaku.

"Tentu saja tidak! Kalau benar begitu, dia pasti lebih malas lagi untuk kembali. Isinya cuma bermacam-macam perjanjian supaya ia tidak kabur lagi, kok!" Jawab Satsuki dengan semangat 45.

Aku tertawa keras. Kalau tidak didasari dengan alasan yang kuat, si hitam itu sudah pasti akan kabur lagi!

Setelah obrolan ringanku bersama Satsuki pagi ini, bel masuk berbunyi. Guru matematika kami yang disiplin pun masuk tepat waktu dan tanpa basa-basi lagi langsung membahas materi pelajaran. Karena ini masih pelajaran pertama, matematika yang rumit pun bagiku masih terasa segar. Dengan fokus memecahkan soal seperti yang dicontohkan guruku, otakku bak sedang berolahraga. Masalah-masalah lain yang menumpuk saat ini seketika bisa disingkirkan seketika—

sampai Nijimura datang melayang-layang dan menghalangi jarak pandangku ke papan tulis.

"Oi, minggir dong, Iblis." Tegurku sebal. "Lagi serius, nih."

Bukannya minggir, ia malah menatapku dengan tatapan merendahkan. ""Ha. Kupikir kau bakal terus kepikiran soal kemarin seperti cewek bodoh."

"Nah, sekarang kau tahu kan kalau aku bukan cewek bodoh. Sekarang, minggir. Kalau mau mencabut kutukan, saat istirahat atau pulang saja. Atau malah saat di rumah saja. Aku tidak mau dipergoki sedang mencium udara kosong di tengah pelajaran, tahu." Omelku lagi.

Nijimura terbang mendekat lagi ke arah mejaku dan membuatku benar-benar bertatapan dengan iblis itu kali ini. Tatapannya kini sangat serius dan memaksaku berkonsentrasi padanya. "Aku salah. Kau tidak boleh keluar dari misi ini." Putusnya sepihak.

Mataku terbelalak kaget mendengarnya. "Apa? Tidak bisa?" Pekikku tiba-tiba.

Lalu seisi kelas melihatku dengan heran. Ah sial. Aku lupa saat ini sedang dalam pelajaran.

"Ada apa, (Your name)?" Tanya guruku yang langsung menghentikan coretan kapurnya di papan tulis.

Aku tertawa canggung lalu beralasan. "Err ... Maaf, Sensei. Saya tadi mencoba mengerjakan salah satu soal dengan metode yang baru diajarkan, tapi ternyata tidak ketemu jawabannya. Pasti saya salah hitung, ehehe ... Dan tentu saja itu semua bukan salah metode dari Sensei! Saya yang salah, maaf Sensei!" Ucapku lalu refleks membungkuk dan kepalaku langsung terbentur meja, lupa kalau sedang dalam posisi duduk. Seisi kelas kecuali aku pun tertawa karenanya.

Untunglah, Sensei yang lumayan galak itu tidak mempermasalahkannya selama aku mengaku salah dan minta maaf. Ia kembali pada tulisannya di papan tulis yang sudah berisi beberapa butir soal.

Tampak Nijimura masih duduk melayang di depanku sambil menyengir sebagai ganti tawa dan menunjuk buku tulisku sebagai isyarat agar aku menjawab omongannya di buku tulisku saja. Dengan sebal aku membuka halaman tengah dan siap menuliskan responku terhadap kata-katanya.

"Kenapaaa?" Tulisku dengan berbagai emoji kesal di sampingnya. Plus, memandangnya sesinis emoji-emoji itu tentunya.

"Karena setelah kupikir-pikir lagi ... Kamu tidak boleh pacaran dengan beruang hitam itu!" Larangnya seperti seseorang yang posesif.

Aku berusaha tidak memasang raut wtf di wajahku agar teman-teman di dekatku tidak curiga—dan sebagai gantinya menghujaninya dengan emoji-emoji berwajah sebal di kertas. "Apa-apaan sih? Kemarin siapa yang dengan melankolisnya mengizinkanku lepas dari tugas ini? Pandanganku terhadapmu padahal sudah berubah, tahu! Sekarang kenapa kau kembali jadi iblis lagi?" Protesku.

Dia terdiam. "Aku sudah mengambil roh buruanku yang ada di dalamnya." Ucapnya kemudian. "Tidak perlu lagi mengejar-ngejar dia. Langsung fokus saja kepada target selanjutnya, yaitu ..."

Kupotong omongannya dengan menulis secepat mungkin di bukuku. "Jangan memperbudak diriku lagi! Kamu tidak mengerti, ya? Kan sudah kukatakan kemarin kalau aku menyukai Aomine!"

"Lagipula," tulisku lagi. "Kalau memang roh itu sudah keluar dari dirinya, berarti seharusnya dia menyukaiku sekarang, kan? Aku tidak mau melanjutkan misi dengan mengkhianati perasaannya, Nijimura!"

Nijimura menggigit bibirnya dengan kesal. "Yang kemarin itu, aku benar-benar salah. Kupikir aku sudah mengetahui semuanya dan membiarkanmu bebas dengan pasrahnya. Tapi, setelah kuselidiki lagi, aku tidak bisa. Kau harus lanjut, (Your name). Lupakan dulu soal Aomine, kumohon."

Aku tertegun. Iblis itu benar-benar terlihat sepasrah kemarin. Tapi, kenapa tiba-tiba ia mengubah keputusannya begitu?

Lupakan soal Aomine, katanya? Jangan-jangan ... ia tidak ingin aku menyukai Aomine? Kenapa? Demi misinya? Karena dia tidak bisa menemukan cara lain untuk mengambil roh-roh buruannya?

"Kau cepat sekali menyerah. Kalau tidak bisa menemukan cara lain untuk menangkap roh buruanmu, setidaknya carilah orang lain. Kalau giat kau pasti bisa, kok. Masih banyak gadis cantik di Teikou." Saranku.

"Tidak, bukan begitu, tapi ... Tidak ada artinya kalau itu bukan kau!—akh." Racaunya bingung. Sepertinya ia keceplosan barusan. "Kau sudah sangat cocok untuk membantuku dengan cara itu, susah mencari orang yang sama—maksudku begitu!" Alibinya terdengar sedikit tak meyakinkan.

"Nijimura," aku menghentikan goresan pensilku sejenak. "Kau tidak ingin aku jatuh cinta dengan Aomine—di luar alasan karena kau membutuhkanku untuk mengeluarkan roh buruanmu ya?"

Pemuda iblis itu menatapku waspada. "Maksudmu?"

Aku mendesah berat. "Tolong jangan buat aku menuliskannya, dong. Kamu pasti bisa menduga, apa yang kupikirkan tentangmu."

Wajah yang tampak sedikit transparan itu pun sedikit merona merah dan ia membuang wajahnya dengan angkuh. "Aku tidak—" tatapannya pun terlihat ragu "—menyukaimu."

"Jangan buat kejadian ini jadi cinta terlarang, dong! Kau ini aneh-aneh saja, sih! Pokoknya aku tidak bisa membiarkanmu menyukainya!" Larangnya lagi.

"Jadi, kalau aku melanjutkan misi ini lagi, aku tidak boleh menyukai siapapun sisanya?" Tanyaku dalam tulisanku.

Dia tampak menimbang-nimbang segala sesuatunya, lalu menjawab dengan mantap. "Setidaknya tunggulah sampai semuanya kau taklukan lalu pilih salah satu yang kau sukai."

"Kalau begitu, aku boleh menyukai Aomine asal tidak mengungkapkan ini padanya, kan? Aku hanya tinggal menaklukan sisanya lalu kembali pada Aomine. Selesai." Dalihku.

Nijimura menggeleng kuat-kuat. "Tapi kalau si hitam itu tidak boleh. Hanya satu itu saja yang kularang, apa susahnya sih?"

Aku mengerutkan alisku dan membuat wajah kesal tanpa emoji-emoji lagi. "Kenapa kau jadi terlalu ikut campur masalah cintaku, sih? Yang penting kan masalahmu selesai, urusan nantinya itu urusanku." Tulisku dengan kesal. "Dan tentu saja susah, karena dengan misi ini, kau sendiri yang sudah membantuku untuk menyukainya, tahu!"

Ia diam sebentar, lalu mulai bicara lagi dengan serius. "Kamu bisa, (your name). Kamu bisa menghentikannya, rasa suka itu." Nijimura berusaha meyakinkanku. "Matamu belum terlihat sebegitu jatuh cintanya, aku yakin itu."

"Kamu hanya terpesona dengan kharismanya yang tidak kau duga, itu saja." Lanjutnya. "Mungkin karena kamu merasa terlalu lama jomblo jadi salah mengartikannya menjadi rasa suka. Jatuhnya sih kayak pelampiasan. Kalau Kuroko kan memang dari awal sudah menyukaimu, jadi kesannya tidak ada kharisma tersembunyi yang bisa membuatmu kagum."

Sekarang aku memasang ekspresi wtf. Semua kata-kata kerennya mendadak hancur karena ejekan soal jomblo itu. Sialan memang iblis yang satu ini. Lupakan soal cupid sebelumnya, makhluk di hadapanku ini tidak lebih dari sekadar iblis.

"Apa ini salah satu dari rayuan maut iblis yang menggiurkan? Iblis tahu apa coba soal jatuh cinta?" Tulisku untuk membalas ejekannya.

"Lho, kau sendiri juga tahu apa soal jatuh cinta?" Serangnya balik.

Oh, crap! Dia benar-benar tahu bagaimana cara memojokkanku. "Setidaknya aku manusia, suatu saat pasti akan mengalami yang namanya jatuh cinta." Balasku.

Ia memasang wajah bangga. "Aku tahu banyak. Sebagai iblis, aku pernah merayu seorang gadis manusia yang sedang jatuh cinta. Pandangannya sangat jauh berbeda denganmu saat ini."

"Kau ini memang benar-benar iblis." Ejekku dengan senyum. "Yah akan kupikirkan lagi. Mungkin ada benarnya juga ejekanmu—"

Belum selesai aku menulis, tiba-tiba guru matematika di depan kelas berteriak ke arahku. "Oh, lihat senyum itu! Sepertinya (Your name) sudah menemukan cara yang tepat untuk menyelesaikan soalnya, ya!" Serunya.

Waks. Gawat ini, gawat.

"Kamu dari tadi banyak menulis, ya. Sudah berapa soal yang berhasil kamu selesaikan tanpa salah hitung, (Your name)?" Tanyanya lagi, kentara sekali sedang menyindirku.

Tak kusangka percakapan tulisku dengan Nijimura cukup terlihat aneh baginya. Mungkin aku terlihat terlalu sibuk menulis saat ia menjelaskan sesuatu dan bukannya saat memberi soal. "Errr ... Itu ..."

Dan ... di saat seperti ini ... Nijimura kabur. Dia melayang lagi lalu melambaikan tangan padaku dan menghilang. Sekarang, aku tidak punya pilihan lain selain maju ke depan dan menyelesaikan dua atau tiga soal lalu merencanakan bagaimana aku harus menyiksa Nijimura dengan perkataan ketika kami bertemu lagi nanti.

.

.

.

.

.

Pada istirahat siang ini, aku berniat memancing beruang hitam itu dengan sekotak bekal penuh gizi dariku. Tadi pagi aku sudah mengirimkan e-mail kepadanya dan mengatakan aku akan mengajaknya makan bersama dengan bekal buatanku tapi pemuda itu tidak membalas. Ada kemungkinan ia tidak mengeceknya, dan ada pula kemungkinan lain yang terdengar buruk jadi aku memilih untuk tidak menggubrisnya dan menghampiri kelasnya dengan riang gembira.

"Permisi~ Apa Aomine-kun ada?" Tanyaku begitu membuka pintu kelas Aomine. Beberapa orang yang peduli menoleh ke arahku dan salah satunya menggeleng dengan cepat. Kamu pun permisi masuk dan menghampiri gadis yang tadi menggeleng itu. "Anoo ... Apa kamu tahu ia pergi kemana?"

"Hmm ... Tadi sih ia keluar sendirian, tapi tadi aku sempat lihat, di tangga ke lantai atas ia akhirnya pergi bersama Momoi-san." Jawabnya apa adanya.

Pergi bersama ... Satsuki? Tunggu, sepertinya kamu keluar kelasmu lebih dulu dari pada siapapun. Asumsikan saja Satsuki pergi tepat setelahku. Tapi, kenapa dia bisa bertemu Aomine sebelum diriku? Yah, gadis itu pasti hanya ingin memberikan kontrak soal basket sih. Coba saja kususul ke lantai atas.

Aku pun mencoba mencari mereka ke atap dan benar rupanya, ada dua suara orang—jelas laki-laki dan wanita—sedang beradu argumen. Wah berarti tidak salah lagi nih. Suara berat Aomine juga lumayan kau kenali jadi suara itu pasti milik Aomine dan Satsuki. Aku ingin membubarkan perdebatan mereka, tapi sebelum itu sepertinya ada baiknya juga kalau aku mendengarkannya dulu di balik pintu atap, hehehe.

"Apa yang sedang kamu lakukan sih, Aomine-kun? Bukankah ini cukup?" Bentak Satsuki.

Uwaah ... Kalau Satsuki marah sampai membentak seperti ini, pasti masalahnya gawat. Jangan-jangan si hitam itu masih tidak mau juga bergabung dengan klub basket Teikou? Tapi, bukankah kemarin ia ...

"Panggil aku seperti dulu, Satsuki." Tegasnya dengan nada yang dingin. "Aku sudah kembali pada basket, aku—"

"Kamu memang sudah kembali pada basket, aku senang, Aomine-kun." Satsuki tak juga mengubah panggilannya seperti yang diminta Aomine. "Tapi kamu masih bukan Dai-chan, kau tahu?"

Terdengar samar Aomine menggeram marah. "Berhenti kekanak-kanakan dan melihat ke masa lalu, Satsuki. Orang-orang akan berubah."

"Bukan itu yang kumaksud." Bantah Satsuki dengan sedikit terisak. "Sebagai teman dekatnya dan seorang gadis aku tahu, Aomine-kun, aku bisa dengar dari nada suaranya yang sedikit berubah antusias jika menyangkut dirimu—(your name) menyukaimu, kan?"

Ketika namaku disebut dalam konteks seperti itu, mendadak ada sensasi aneh menjalar dalam tubuhku. Aku sedikit gemetar karenanya. Satsuki tahu. Bagaimana dengan saat penaklukan Kuroko, ya? Apa dia tahu juga?

"Apa yang kau lakukan padanya, Aomine-kun? Aku tidak pernah melihatnya memiliki perasaan lagi setelah orang itu." Tanyanya sedikit lemah.

Orang itu? Tunggu, memangnya dulu aku pernah suka dengan orang lain ya? Kenapa aku tidak ingat ... Oh, apa mungkin cinta monyet sekadar kagum pada beberapa pemuda yang tampan dia hitung juga ya?

"Kamu tahu juga kalau Tetsu menyukainya sejak dulu, kan? Benar-benar sejak dulu." Ujar Aomine. "Kalau aku tidak membuatnya jatuh cinta padaku, dia akan menyukai Tetsu, Satsuki. Setelah—"

"Cukup." Dapat kurasakan sebuah gelombang kejut kecil menggetarkan telingaku dan membuatku menjauh dari tempatku berdiri tadi. Kaget, aku sampai tersandung sedikit dan jatuh sampai lima anak tangga. Untung tanganku dengan sigap menahan bobot tubuhku di pegangan tangga dan seorang iblis muncul di hadapanku dengan raut wajah kesal. "Sudah kukatakan untuk tidak lagi mengejar-ngejar pemuda itu, kan? Rohnya sudah keluar, selesai."

Perlahan, waspada agar kedua insan di atap itu tidak mendengar suara langkahku, aku turun satu lantai ke bawah. Di tangga menuju atap ini tidak ada banyak orang juga, jadi aku masih bisa bebas berbicara dengan Nijimura yang kasat mata bagi orang lain. "Sudah kukatakan juga aku menyukainya, jadi ..."

"Dan pernyataanmu barusan terdengar sangat meragukan sekarang." Ucap Nijimura dengan raut wajah bangga yang menyebalkan. "Kenapa kamu menyukainya, coba? Karena ia mau menciummu, hah?"

Seketika aku teringat momen di malam itu. Benar, aku memang mulai merasakan keanehan pada perasaanku ini sejak saat itu. Sebelumnya, aku tidak pernah sampai mengalami hal seperti itu—mungkin juga karena benteng terhadap percintaan yang kubangun begitu kuat—dan aku goyah karenanya.

Tapi jika mendengar perdebatan Aomine dan Satsuki barusan ... Aomine jelas-jelas dalam posisi yang sama sepertiku, sedang memanipulasi perasaan orang demi kepentingan diri sendiri. Objeknya adalah aku—dan objekku adalah dia. Tapi ia yang menang, meskipun dalam ciuman itu akulah yang menciumnya terlebih dahulu.

Lalu, jika aku memanipulasi perasaan orang lain agar menyukaiku demi taruhan nyawaku, dia melakukannya padaku atas alasan apa? Tidak mungkin ia juga didatangi iblis lain semacam Nijimura lalu diberi misi yang sama denganku, kan? Lagipula, kalau memang kejadiannya mirip dan aku tengah dirasuki roh, Nijimura pasti sudah memberitahuku duluan.

"Hei, Nijimura ... Aku tidak sedang dirasuki roh apapun kan?" Tanyaku lirih.

"Dirasuki—ah, kau pikir ia mungkin mendapat misi yang sama denganmu, ya? Tidak, tidak, itu mustahil. Ia melakukannya karena alasan lain." Jawab Niijimura. "Dan alasannya itulah yang membuatku mati-matian melarangmu suka padanya."

Aku terdiam sejenak untuk menganalisis kira-kira kenapa Aomine ingin memanipulasi perasaanku. Sebenarnya ada sebuah dugaan ...tetapi kurasa akan lebih baik jika kutanya langsung kepada orangnya saja. Aku kembali naik ke atas lalu membuka pintu atap. Satsuki dan Aomine yang masih berdebat kaget serentak melihat kedatanganku yang tiba-tiba. Aku tersenyum—berusaha tenang—dan langsung menggamit tangan Aomine.

"Aku pinjam Aomine-kun sebentar ya, Satsuki. Tidak lama, kok." Izinku cepat dan berlalu ke bawah sebelum Satsuki memberikan respon apapun. Aku menariknya turun satu lantai ke bawah dan kebetulan di koridor itu hanya ada satu dua orang yang sedang lewat saja.

Tangan besarnya kulepaskan begitu menemukan tempat yang sekiranya pas untuk membicarakan masalah ini. "Hai, Aomine-kun. Maaf tadi aku sempat mengupingmu." Ucapku membuka pembicaraan dengan Aomine.

Ia menatapku dengan tegang. "Kau ... mendengarnya ... dari kapan?" Tanyanya sedikit terbata.

"Yah, hanya sebagian kecil, tapi cukup untuk membuatku mengerti bahwa aku sudah salah paham—dan terbawa suasana." Jawabku dengan nada dingin. "Maaf juga karena aku melakukan itu kemarin, dan juga meninggalkanmu sendirian di ruang keluarga."

Ekspresinya kini tampak merasa sangat bersalah. "Tidak ... Aku yang seharusnya minta maaf ..."

Aku menggeleng pelan. "Tidak, tidak. Sungguh, aku sangat tidak bisa marah padamu karena kau dengan sengaja membuatku menyukaimu." Sangkalku. Tentu saja aku tak bisa sepenuhnya marah padanya. Jika bukan dia yang membuatku menyukainya, maka aku yang akan membuat dia menyukaiku dan itu berarti akulah orang jahatnya.

"Kau menyukai Satsuki, kan?" Tanyaku untuk memastikan, sekaligus memancing si beruang hitam ini untuk mengatakan alasannya.

Butuh waktu cukup lama baginya untuk mengangguk. "Dan kau juga tahu ia menyukai Tetsu."

"Dan aku juga tahu kalau Kuroko-kun menyukaiku." Lanjutku. "Dan ini akan menjadi cinta segi empat sempurna jika aku benar-benar menyukaimu. Tujuanmu sekonyol itu?" Tanyaku sinis.

Ia menunduk dalam-dalam. "Aku berusaha menyukaimu." Jawabnya. "Untuk melarikan diri dari Satsuki."

Kupijat pelipisku untuk meredakan pening karena masalah ini. "Tampang sangarmu itu benar-benar menipu isi di dalamnya, ya. Bisa mencuci, lemah karena masalah cinta, ya ampun."

Sepertinya ia akan mengamuk karena sindiranku yang barusan benar-benar menghinanya. "Kau sendiri juga sebenarnya sedang melarikan diri, kan? Memanipulasi dirimu sejauh itu, kami semua sadar, tahu! Memangnya kau pikir hanya Satsuki saja yang selama ini memerhatikanmu sebagai sahabat atau Tetsu yang memerhatikanmu karena menyukaimu?" Semburnya galak.

Melarikan diri? Memanipulasi diriku? Maksudnya apa? Yang ada aku sedang menerima takdir menyebalkan ini dan memanipulasi perasaan orang demi takdir ini, tahu! Dia salah paham soal apa, sih?

"Aku tidak mengerti apa maksudmu, tapi kau pasti sedang salah paham." Ujarku tenang. "Kupikir kau hanya maniak basket biasa yang acuh dengan kehidupan cinta, ternyata malah menjalani kehidupan cinta itu seperti drama kacangan, hah."

"Ap—"

"Dan aku yang terbawa suasana waktu itu jadi kelihatan sangat konyol karenanya." Potongku dengan nada sebal. "Biasa saja dong, Aomine-kun. Satsuki mungkin memang menyukai Kuroko-kun, tapi kita kan masih SMA, waktu juga masih panjang, kan?"

Pemuda bertampang sangar dengan rambut biru gelap itu tertegun. "Hah? Maksudmu?"

"Sekarang Satsuki memang belum menyukaimu, tapi kau masih punya waktu untuk membelokkan hatinya padamu sampai ia menikah nanti, kan? Lagipula ia memilih untuk selalu ada bersamamu itu sudah nilai tambah buatmu, tahu. Tidak usah sok mau melarikan diri hanya karena merasa bahwa ia tidak menyukaimu, padahal ia selalu ada di sampingmu." Jelasku panjang lebar. "Saat aku menjabarkan kenyataannya seperti tadi, kau terdengar sangat cengeng, kan?"

Sontak puncak kepalaku menjadi sasaran getukan tangannya. Tidak begitu sakit, untungnya. Aku sudah takut saja ia akan melakukan hal berbahaya yang menyakitiku karena aku mencelanya habis-habisan.

"Kau yang sekarang memang tidak mengerti, tapi perasaan merepotkan seperti ini bisa membuatmu gila—dan keluar karakter, tahu." Ucapnya untuk membela diri. "Yah, kau benar. Kali ini aku terlalu mendramatisasi semuanya. Memang hanya saat bermain basket aku menjadi orang yang paling benar, haha."

Mendengarnya tertawa begitu, dadaku diliputi perasaan lega. Dia sudah kembali menjadi Aomine yang sangar dan egois seperti biasa, haha. Setidaknya menurutku itu lebih baik dari pada sisi mesum dan 'cengeng'nya. Siapa sangka dia begitu protektif dan lemah jika menyangkut Satsuki si sahabat sejak kecilnya?

"Well, kau kuat seperti biasa." Komentar Aomine tiba-tiba. "Pantas saja ia memilihmu, ya."

Aku memiringkan kepalaku bingung. "Hm? Maksudmu Kuroko-kun?"

Ia mengangkat kedua bahunya dengan acuh. "Yaah, begitulah." Lalu ia berlalu ke atas untuk menghampiri Satsuki kembali.

Sementara itu, waktu istirahat makan siang sudah hampir habis. Tak punya pilihan, aku terpaksa duduk di kursi lorong terdekat di koridor itu lalu membuka bekal yang sedari tadi kubawa-bawa. Saat aku bersiap menyantap bekalku, Nijimura muncul tiba-tiba di hadapanku dan melayang-layang santai seperti biasa.

"Sinetronnya udah selesai?" Tanyanya sarkatis dengan seringai mengejek.

Aku memberinya cemberut kesal sebagai tanggapannya. "Bawel. Sudah, tidak usah diungkit-ungkit lagi."

Si iblis berambut hitam itu tertawa terbahak-bahak di tempat. Sialan. Ia membuatku yang sudah bertingkah konyol karena terbawa suasana kemarin jadi merasa lebih konyol lagi. Yah, apapun itu, setidaknya aku bisa mengambil hikmah. Aku jadi punya pengalaman menyebalkan ini untuk mengingatkanku agar tak melakukan hal yang sama atau mirip di masa depan nanti, ketika mungkin aku akan benar-benar menyukai seseorang.

Benar, toh jalannya masih panjang—jika aku berhasil menyelesaikan misi hidup dan mati ini, sih.

"Ngomong-ngomong ... Roh yang ada di tubuh Aomine kan sudah kau ambil ... Tapi ia sebenarnya tidak menyukaiku kan?" Tanyaku setelah selesai mengunyah.

"Ah, itu. Hmm ... Itu ... Karena kekosongan hatinya sudah diisi oleh gadis berambut merah jambu itu, kegelisahannya soal basket juga sudah kau bereskan ... Maka ia sudah kembali normal." Jelas Nijimura.

Aku berpikir sejenak. Yah, kelemahannya dalam menghadapi cinta bertepuk sebelah tangannya kepada Satsuki mungkin efek dari roh yang merasuki dirinya ya. Aku jadi merasa sedikit bersalah karena mengatainya begitu padahal itu semua hanya pengaruh roh yang merasukinya. Tapi ... sepertinya ada yang janggal dari jawaban Nijimura barusan.

"Hei ... tunggu. Kalau kekosongan hatinya bisa diisi oleh orang lain untuk mengusir roh yang ada di dalam dirinya ... Kenapa aku harus membuatnya menyukaiku? Harusnya bisa siapa saja dong, yang mengisi hatinya?" Tanyaku tegas.

Nijimura melirik ke kanan untuk menghindari tatapan tajamku yang menuntut jawaban.

"Berarti tidak harus aku yang disukai target, kan? Aku bisa menjalankan misi ini dengan menjodohkannya dengan orang lain, kan?" Tanyaku lagi lebih menuntut.

Bibir fabulous Nijimura mengerucut sebal. "Y—yah ... Soal itu ... Kan lebih mudah kalau kau sendiri yang bergerak ... Hehe."

Aku menatapnya sinis. 'Hehe' apanya.

"Lagipula, kalau kau ingin menjodohkan target dengan orang lain saja, memangnya bisa? Kenalanmu mungkin banyak, tapi tidak sedekat itu sampai kau bisa membuat target jadi menyukainya, kan? Targetnya para idola sekolahmu, lho—generasi keajaiban, ingat. Rata-rata yang bisa kau jodohkan dengan mereka paling hanya fans-nya saja. Kalau kau memilih untuk menjodohkan dan hasilnya buruk, kau malah akan menyakiti dua orang." Argumennya dengan lugas.

Yah ... Benar juga sih kata Nijimura. Selain memakan waktu yang lama, pelaksanaannya akan sulit karena keduanya tidak kukenal baik.

"Aku sengaja memilih gadis yang tidak gampang baper sepertimu agar kuat menjalani peran jahat ini. "Alibinya. "Tadinya kupikir begitu, tapi baru target kedua saja malah sudah sempat jatuh ya, ahahaha."

Kakiku langsung menendang-nendang ke arah tubuh transparannya dengan kesal. Sia-sia memang, karena tidak bisa menyentuhnya. Tapi setidaknya itu hal terbaik yang bisa kau lakukan untuk meredam kekesalanmu terhadap ocehan si iblis pelangi ini.

Tak berapa lama kemudian, bel tanda masuk kelas pun berbunyi. Aku cepat-cepat membereskan bekal yang sayangnya tak sempat habis lalu menenggak minum seadanya. Satsuki dan Aomine pasti masih di atap dan aku tidak ingin ketahuan sedang makan sendirian setelah semua hal ini terjadi, jadi sebelum mereka turun sebaiknya aku segera pergi.

Nijimura masih melayang-layang santai mengikutiku ke kelas.

"Jangan ganggu pelajaranku lagi, ya." Larangku tegas.

"Iyaaaa ..." Jawabnya tak serius dengan seringai jahil.

"Serius, nih. Kalau memang masih ada yang mau kamu katakan, sekarang saja sambil jalan ke kelas." Tegasku. "Aah, pasti soal target berikutnya ..." Lanjutku lirih.

Sebenarnya setelah semua perasaan konyol kepada Aomine ini aku jadi malas melanjutkan misi menjadi heroine jahat ini. Tapi, si iblis kejam yang tak tahu situasi ini pasti akan mengejek dan menertawaiku lagi kalau ia tahu aku masih merasa sedikit trauma dengan urusan perasaan ini. Apalagi ia gemar sekali memburu-buruku dengan tugas ini, barangkali ia ingin cepat pulang dan mandi lahar di nerakanya, huh.

Namun, berlawanan dengan sangkaanku. Nijimura mengangkat kedua bahunya dengan santai lalu berkata. "Nggak kok, cuma mau ikutin aja. Siapa tau nangis."

"Na—nangis? Apaan sih?" Tanyaku galak dengan wajah memerah. Yah, kalau bisa menangis untuk melampiaskan kekesalan tentu saja aku mau. Tapi aku berusaha untuk tidak melakukannya agar tidak berlarut-larut dalam perasaan sedih.

"Yang tadi itu pengalaman yang cukup mengejutkan buatmu, kan? Yaah, kupikir tidak ada salahnya sesekali menangis. Bukan berarti menangis sekali akan larut dalam perasaan sedih juga, kan?" Tanggapnya.

Aku berbalik dan melihatnya sinis. Si iblis ini mengatakan sesuatu yang baik ... jangan-jangan malah berkedok lagi seperti waktu ia bilang akan membebaskanku dari tugas 'mulia' ini, hah.

"Terakhir kali kamu bicara manis itu saat kau bilang mau membebaskanku dari tugas ini—dan tahu sendiri akhirnya. Maaf saja, aku takkan jatuh pada rayuan iblis." Ucapmu sinis.

Ia sedikit kaget melihat responmu yang sinis. "Kok? Ta—tapi waktu itu kan kubatalkan karena alasan yang baik, kan? Kau sudah kuperingatkan soal perasaan konyolmu kepada Aomine itu, lho."

Ugh, benar sih niatnya baik. Tapi caranya memilih kata dengan mengucapkan 'perasaan konyolmu kepada Aomine' itu sangat sangat menyebalkan.

"Po—pokoknya aku akan tetap hati-hati." Tegasmu. "Dan cepat katakan saja siapa yang harus kudekati setelah ini. Nanti aku akan merancang strateginya setelah kau membiarkanku belajar serius di pelajaran terakhir ini."

Ia tampak menimbang-nimbang. "Hmm, soal itu nanti sajalah. Masih ada tiga puluh tiga hari lagi. Targetnya pun sekarang sedang dalam keadaan sulit didekati dan kamu butuh waktu untuk menata hatimu kembali normal kan?" Ujarnya.

Aku terperangah menatapnya. Dia mengatakan itu dengan baik seolah sangat memahami hati seorang gadis—atau mungkin hatimu. Sepertinya ia memang bukan iblis biasa. Bisa juga ia mungkin iblis penggoda wanita, sih.

"Sayang kau hanya bisa memberiku waktu untuk menenangkan diri ya. Coba kau juga bisa memberikan bahumu untuk kutangisi sebentar. Sepertinya nyaman." Godaku. "Memangnya targetnya setelah ini siapa sih, malah jadi penasaran."

Wajahnya yang agak transparan sedikit memerah setelah mendengar ucapanku. Bibirnya kini jadi sedikit lebih maju dari pada biasanya. Aah, sepertinya ini memang ekspresi tetapnya ketika sedang malu-malu. "Kau mulai berani menggoda iblis lagi ya sekarang, padahal baru berhasil membuat satu orang jadi menyukaimu—sombongnya!"

Karena sambil mengejar waktu, aku berjalan mundur perlahan di koridor sepi itu sambil menertawai Nijimura yang sedang salah tingkah. Tiba-tiba, wajah malunya berubah kaget dan tangan transparannya refleks berusaha menahan tubuhku begitu melihat sesuatu. "Awas!" Pekiknya.

Rupanya peringatan Nijimura terlambat dan kurasakan punggungku menabrak seseorang dan membuat bunyi bedebum yang ditimbulkan jatuhnya kotak bekalku serta buku-buku yang dibawanya. Sadar telah menabrak seseorang karena sudah berjalan mundur seenaknya, aku segera mengambil kotak bekalku dan membantu mengambil buku-buku orang yang kutabrak itu sambil menunduk meminta maaf.

"Maaf, aku menabrakmu! Maaf!" Seruku berulang kali.

Tangannya yang dibalut perban menagih buku-bukunya yang sudah kuambil. Kaget karena kupikir tangannya sedang terluka atau semacamnya, aku menahan bukunya. "Ta—tanganmu sedang terluka, kan. Bi—biar aku yang bawa bukumu ke kelasmu." Tawarku.

Aku memerhatikan pemuda itu dengan saksama. Aneh, begitu kesan pertamaku saat melihatnya. Rambutnya hijau tua dan lebat. Kacamatanya bisa dibilang tebal, tapi badannya atletis. Terlebih, luka apa sih yang dideritanya sampai tangannya diperban dari ujung jari sampai setengah lengan bawah begitu?

"Tidak usah, nanodayo." Belum cukup hanya dengan penampilan aneh, ternyata cara bicaranya juga aneh. "Dan ini bukan karena ... luka ..."

Tatapan datarnya sedikit terlihat kaget beberapa detik saat melihatku. Namun, aku tak punya waktu untuk menyadari itu lebih jauh karena sekarang aku pasti sudah terlambat masuk kelas. "Begitu ya? Maaf aku menabrakmu dan tidak bisa membantumu, aku harus cepat-cepat masuk kelas sekarang." Serumu terburu-buru.

"Tidak apa-apa, nanodayo." Tanggapnya dengan logat aneh lagi. Tanpa membuang waktu lagi, aku membungkuk minta maaf sekali lagi, lalu berlari menuju kelas agar tidak terlambat. Yah, Satsuki juga belum lewat sini jadi mungkin aku takkan terlambat sendiri nanti, malah Satsuki yang akan masuk lebih lambat.

Begitu terburu-burunya aku, sampai aku tak menyadari pemuda itu masih berdiri di tempatnya—padahal sudah pasti ia sekarang harus sudah masuk kelas juga—dan bergumam lirih.

"(Your name)-san ... ya ..."

.

.

.

.

.

A/N : Haihai minna~ Wih, akhirnya chapter si ganguro ini selesai dengan OOC-nya. Cukup panjang ya, haha /panjang banget woi/ padahal ke depannya masih ada empat cowok kisedai lainnya. Kalau kisedai favoritmu belum muncul, mari ditunggu saja ya, hehe. Semoga Schnee juga bisa melanjutkannya dengan baik~

Btw, maaf banget Schnee baru bisa update April, ya. Rencananya mau update nanti-nanti aja, pas akhir Maret, eh tapi laptopnya malah rusak dan baru selesai kemarin. Karena itu, The Occult akan update lagi bulan ini~ Tunggu ya~