School Story

Chapter 6: Minatour's Attack

Suasana di kamar anak-anak cowok baik-baik saja sebelum handphone Percy berbunyi.

Percy, Nico, Natsu, dan Gray sedang asyik dengan kegiatan mereka masing-masing. Percy sedang berusaha untuk mengerjakan PR matematikanya, Nico sedang asyik bermain game di handphone-nya dengan earphone terpasang di telinganya, sedangkan Natsu dan Gray sedang sibuk meratapi (?) nasib mereka.

Ketika mereka tengah asyik-asyiknya melakukan kegiatan-kegiatan di atas, hanphone Percy berdering. Dengan malas, Percy meraih handphone-nya yang di letakkan di sampingnya. Dia menatap layarnya sekilas dan mendapati kalau Annabeth yang menelpon. "Ngapain Annabeth nelpon?" gumamnya bingung. Percy menekan tombol answer.

"Halo, Annie!" jawab Percy. Dia menunggu semprotan kemarahan Annabeth. Annabeth palin benci kalau dipanggil Annie.

Alih-alih marah, suara Annabeth malah terdengar panik, "Percy! Cepat ke kamar 224! SEKARANG JUGA! Bawa yang lain!" desaknya panik. Dia langsung memutuskan hubungan sebelum Percy sempat bertanya apa yang terjadi. Percy menatap hp-nya dengan bingung, "Kenapa tuh cewek?" katanya bingung.

"Ada apa?" tanya Gray. Dia telah selesai meratapi nasibnya. Nico berhenti bermain game dan melepaskan earphone-nya dari telinganya. Natsu masih berada dalam kondisi yang sama.

"Annabeth nyuruh kita ke kamar 224 sekarang. Gak tau kenapa." jawab Percy. Dia masih menatap hp-nya dengan bingung.

"Mungkin ada monster?" usul Nico.

"Mungkin juga, ya?" jawab Percy yang otaknya sedang rada lemot. Beberapa detik kemudian, dia baru ngonnect, "Eh? Monster? Suwer lu?" tanya Percy panik.

"Baru ngonnect dia!" keluh Nico. "Nat, menurut kamu ada monster gak disini/" tanyanya kepada Natsu yang masih depresi.

"Iya, dari satu jam yang lalu!" kata Natsu dengan suara lemes. Dia sedang depresi karena gak bisa ketemu Happy akhir minggu ini. Jadinya, otak Natsu yang udah lemot jadi tambah lemot. Sementara Gray cuma depresi sebentar. Satu segi positif detensi itu bagi Gray, dia bebas dari godaan Juvia minggu ini.

"Baka Natsu! Kenapa gak bilang dari tadi, sih?" kata Gray, Percy, dan Nico dengan penuh emosi. Natsu cuma cengar-cengir tidak bersalah.

Setelah memastikan kalau Percy dan Nico membawa pedang mereka, Gray memakai pakaian lengkap, dan Natsu sudah menelan pil penenang, mereka berempat segera berlari ke kamar 224.

*Room 224*

"Sial! Dia kuat sekali!" keluh Thalia. Dia melemparkan tombaknya ke arah monster yang berada di hadapan mereka. Bidikanya meleset.

"Heh? Pedangku tidak bisa melukainya?" seru Erza tidak percaya. Dia memakai baju zirah Titania dan sudah mencoba menusuk minotaur itu dengan lima pedang berbeda.

"Erza! Coba kau pakai pedang yang kau pakai untuk menusuk empousa kemarin!" seru Annabeth selagi dia berusaha menghindar dari serangan kapak minotaur itu."Monster hanya bisa dikalahkan dengan perunggu langit!" tambahnya.

"Yang ini?" tanya Erza setelah dia men -summon pedangnya. Annabeth mengangguk. Erza kembali mencoba menusuk monster itu, pedangnya kini berhasil melukai kulit monster itu. Monster itu melenguh kesakitan. Dia mengayunkan kapaknya dan membelah pedang itu menjadi dua.

Erza menatap monster itu dengan tatapan membunuh, "Kau akan membayar untuk itu! Itu pedang kesayanganku!" teriaknya. Erza kembali menyerang monster itu dengan pedang yang berbahan sama.

"Open the gate, Taurus!" Lucy memanggil Taurus. Taurus segera menyerang minotaur yang sejenis dengannya itu. Sementara Lucy berdiri menjaga Aire yang tak sadarkan diri dengan cambuk siap ditangan.

"Sial! Tak kusangka dia akan terbentuk lagi secepat ini!" kata Annabeth kesal. Dia sudah mendapatkan luka di tangan kanannya. Gadis itu meringis menahan sakit, "Itu cowok-cowok pada kemana, sih? Lama amat!" keluhnya.

Seakan menjawab keluhan Annabeth, semburan api muncul dari arah pintu. Api itu menyambar monster itu, membuatnya melenguh kesakitan. Disusul dengan jarum-jarum es yang super tajam. Tapi itu tidak cukup untuk membuat monster itu terbuyarkan.

"Woi! Kok kalian lama banget, sih?" kata Thalia kesal. Dia sedang berusaha untuk meraih kembali tombaknya yang berada di belakang monster itu. Tapi sang minotaur dan Taurus yang terus berkelahi menyebabkan Thalia kesulitan untuk meraih senjatanya.

"Sorry!" jawab Percy mewakili teman-temannya. Percy menatap minotaur di hadapan mereka dan bersiul pelan, "Gila! Masa aku harus berantem sama dia lagi?"

"Memangnya dia monster apa, sih? Lucy, panggil kembali Taurus! Kau tak mau dia terluka, kan?" teriak Natsu. Lucy mengangguk, dia tidak mau roh bintangnya terluka. Akhirnya, dia mengembalikan Taurus ke dunia asalnya.

"Itu minotaur! Percy membuyarkannya musim panas lalu. Seharusnya dia tidak terbentuk kembali secepat itu!" jawab Nico.

"Jadi, dia bisa hidup kembali gitu?" tanya Gray ngeri.

"Yah, something like that, lah."

"Nico! Aire! Perkemahan blasteran! Perjalanan bayangan! Sekarang!" perintah Annabeth. Nico mengangguk. Dia segera berlari ke arah Lucy dan Aire. Lucy menyerahkan Aire kepada Nico dan gadis itu ikut bergabung dalam pertarungan.

Nico mencoba menyadarkan Aire, untung saja Aire mudah untuk dibangunkan. "Eh, aku di mana?" tanya Aire bingung ketika dia bangun.

Nico tidak mau repot-repot menjawab. Dia segera meraih tangan Aire dan menariknya. "Ayo, kita pergi dari sini!" ajak Nico. Tanpa menunggu jawaban Aire, dia segera menarik Aire dengan paksa. Setelah berjalan beberapa langkah, Nico baru menyadari sesuatu.

"Annabeth! Disini gak ada bayangan!" teriak Nico ketika dia menyadari kalau di kamar Aire tidak ada bayangan sama sekali.

"Cari keluar atuh! Susah-susah amat!" jawab Annabeth sewot. Nico menghela nafas dan berlari keluar, diikuti oleh Aire, yang tangannya masih digenggam oleh Aire.

Seementara itu yang lain masih berjuang mengalahkan minotaur. Percy, Annabeth, Thalia, dan Erza menusuk monster itu dengan senjata mereka, Lucy melecutkan cambuknya, Natsu melempar bola-bola api, dan Gray mengelauarkan jarum-jarum esnya.

Akhirnya, setelah selangan bertubi-tubi dari 7 remaja kelebihan tenaga (?) itu, minotaur itu terbuyarkan diiringi suara lenguhannnya. Ketujuh remaja itu langsung terduduk kelelahan.

"Annabeth, kau tidak apa-apa?" tanya Lucy cemas ketika dia melihat luka Annabeth. Annabeth meringis. "Gak papa kok, aku udah biasa sama luka kayak ginian!"

"Walaupun udah biasa, tetep aja bakal infeksi kalau dibiarin!" ujar Thalia. Dia bangkit dan bergegas memapah Annabeth. "Ayo! Kita ke klinik!" Thalia menuntun Annabeth keluar dari kamar Aire.

"Thal? Bisa manipulasi kabut dulu sebelum keluar? Sepertinya banyak orang yang sedang menuju kemari." saran Percy. Thalia mengangguk kemudian menjentikkan jarinya. "Beres! Sebaiknya kalian kembali ke kamar kalau gak mau cari masalah!"

Aire's POV

Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku hari ini!

Hari pertamaku awalnya berjalan dengan baik. Ini sekolahku yang ke… berapa? Ketujuh? Kedelapan? Satu hal yang aku yakini, aku bakalan dikeluarkan dari Goode pada saat tahun ajaran ini berakhir.

Pelajaran pertama dan kedua berhasil kulalui dengan baik. Bahkan pada saat jam makan siang, aku berteman dengan beberapa anak SMA dan satu adik kelas: Annabet, Lucy, Erza, Thalia, Percy, Natsu, Gray, dan Nico.

Aku segera merasa nyaman dengan mereka semua. Lagipula, aku belum mendapatkan teman di kelas. Entah kenapa, aku merasa kakak-kakak SMA itu dan Nico memiliki aura yang sama denganku.

Tapi Natsu memandangiku dengan pandangan aneh selama makan siang. Pandangannya membuatku tidak nyaman. Apa dia menyadari kalau aku berbeda?

Semuanya berjalan lancer sampai waktu malan malam. Kuakui saja, aku telat pergi ke ruang makan. Seharusnya waktu makan malam itu jam 8, tapi aku baru datang ke sana jam setengah 9. Tentu saja semua makan sudah habis. Aku pun memutuskan untuk kembali ke kamar dan menghabiskan camilan yang kubawa dari rumah.

Aku pun kembali memasuki kamarnya. Aku menghempaskan diri ke atas kasur dan mulai meghabiskan cemilanku.

Selama beberapa saat waktu berjalan dengan damai. Tiba-tiba, aku mendengar seseorang membuka pintu kamar, atau mendobrak lebih tepatnya. Aku tidak mendengar dengan benar karena kedua telingaku disumpal dengan earphone dengan volume maksimal. Aku tidak menoleh untuk mengecek siapa yang masuk, karena aku yakin orang yang masuk adalah teman-teman sekamarku.

Dugaanku terbukti salah ketika aku mendengar orang yang kuyakini adalah temanku melenguh. Aku membeku. Seaneh-anehnya teman-teman sekamarku, mereka tidak melenguh!

Dengan takut-takut, aku menoleh. Dan aku tidak bisa tidak menjerit.

Di sana, di dalam kamarku, sesosok kerbau raksasa, ralat: minotaur raksasa berdiri menjulang. Aku kembali menjerit, dan segalanya berubah menjadi hitam.

Aku merasa seperti dibangunkan oleh seseorang. Aku membuka kedua iris biruku, dan rasanya aku mau pingsan lagi.

Minotaur itu masih berdiri menjulang di tengah ruangan. Lucy, Erza, Percy, Gray, Natsu, Thalia, dan Annabeth sedang bertarung melawan monster itu. Pedang-pedang menusuk, tombak melayang, dan bola api dan es berterbaran. Aku menatap semuanya dengan pandangan kosong, hingga aku menyadari kalau hal-hal itu aneh.

"Eh, aku dimana?" hanya kata-kata itu yang berhasil kukeluarkan dari mulutku. Nico, yang tadi membangunkanku, tidak menjawab. Dia hanya menarikku bangkit dan berkata, "Ayo, kita pergi dari sini!" kemudian dia membicarakan sesuatu dengan Annabeth. Aku tidak terlalu memperhatikan, aku terlalu terkesima melihat pertarungan yang terjadi di depan mataku.

Nico mengisyaratkan agar aku mengikutinya. Adik kelasku itu berlari keluar, aku mengikutinya. Aku menyempatkan diri untuk menoleh kembali. Aku merasa bersalah karena meninggalkan mereka.

Nico rupanya menyadari keraguanku. "Tinggalkan saja mereka! Mereka sudah ahli dalam menangani masalah seperti ini!" katanya tanpa memelankan larinya. Lalu, kami tiba di halaman sekolah.

"Kau mau membawaku kemana?" aku bertanya. Nico menolehkan kepalanya ke kanan kiri, sepertinya dia mencari sesuatu.

"Aku akan membawamu ke perkemahan blasteran! Nah, itu dia yang aku cari!" Nico berkata puas. Dia menarik tanganku dan berlari ke salah satu sudut halaman yang ditutupi oleh bayangan.

"Perkemahan blasteran?"tanyaku bingung. Nico tidak menjawab, kami berdua masih terus berlari. Aku menatap ke depan, kedua iris biruku terbelalak kaget. Di hadapan kami, dan semakin mendekat setiap detiknya, terdapat dinding sekolah.

"Nicooo!" aku berteriak panik. "Itu dinding! Kyaaa!" Nico tidak juga melambat, aku memejamkan kedua mataku, menunggu tabrakan yang tak terelakkan

Tapi kami tidak kunjung menabrak dinding. Aku kembali membuka kedua mataku. Tapi aku tidak bisa melihat apa-apa!