SELAMAT MEMBACA

Acara makan - makan ala Squad berakhir setelah mereka menghabiskan semua stok daging milik Kyungso di dalam kulkas. Baekhyun dengan wajah yang kekenyangan mengusap bibirnya menggunakan tisu. Jongdae dan Minseok mulai terlihat mengantuk di posisi duduk mereka dengan mata yang mulai menyipit. Sedangkan Kyungsoo sibuk memperhatikan sahabat - sahabatnya itu. Dari dulu mereka tidak pernah berubah, kalau sudah selesai makan pasti mereka akan berpura - pura sehingga tidak akan disuruh cuci piring.

"aku yang akan membersihkan semuanya!" Baekhyun berteriak dengan semangat setelah berdiri dari posisi duduknya. Kyungsoo merasa geli melihat Baekhyun yang masih belepotan saus di wajahnya.

"ya, ya, ya. Kau bisa membersihkan semuanya, tapi bersihkan dulu wajahmu" Kyungso berucap sambil tertawa dengan tertahan. Baekhyun yang digoda dengan cepat mengambil tisu kembali dan mengusap wajahnya.

"padahal aku sudah membersihkannya" jawab pria mungil itu dengan nada kesal.

"bersihkannya sambil liat cermin sana, dasar jorok!" lalu Kyungsoo berdiri, memungut gelas menjadi satu dan membawa gelas - gelas tersebut ke tempat cucian piring.

"aku akan kembali!" dan menggelengkan kepala melihat Baekhyun yang terlihat seperti anak - anak saat berlari ke kamar mandi seperti itu.

Sesampainya di tempat cucian piring, Kyungsoo dengan cepat mencuci gelas - gelas yang dibawanya agar Baekhyun tidak terlalu banyak mencuci. Mengingat, Baekhyun itu tidak bisa terkena air terlalu lama. Dia bisa sakit atau kulitnya akan memerah, itu yang Kyungsoo tahu selama ini.

Dengan telaten, Kyungsoo mencuci semua gelas. Sesekali pria bermata bulat itu akan bersiul rendah untuk menghilangkan kesunyian dapur karena si tukang ribut sedang tidur.

"kenapa kau mencucinya? Kan aku sudah bilang biar aku saja" Baekhyun muncul dari balik punggung Kyungsoo dan membuat pria bermata bulat itu terkejut.

"astaga, kau membuatku kaget!" protes Kyungsoo setelah memukul kepala Baekhyun dengan sikunya. Baekhyun terkekeh imut, hampir - hampir membuat Kyungsoo gemas.

"aku aja kaget melihatmu mencuci gelas" jawab Baekhyun lalu berdiri di samping Kyungsoo. Pria mungil itu menyusun gelas - gelas yang sudah di cuci Kyungsoo ke lemari penyimpanan.

"kau bisa mencuci piring. Aku takut kulitmu memerah" ucap Kyungsoo tanpa melihat ke arah Baekhyun. Padahal Baekhyun saat ini sedang menatapnya dalam diam.

"awww..." Baekhyun yang mendengar ucapan Kyungsoo langsung memeluk pria yang tingginya sama dengan dia itu, " kenapa kau sangat manis, Kyungie~" dan mengusak - usak rambutnya ke leher Kyungsoo.

"yak!! itu geli Baekhyun!" Kyungsoo berteriak horor melihat tingkah Baekhyun. Tangannya yang masih penuh dengan busa sabun akhirnya dia usap ke wajah Baekhyun agar dia berhenti.

"apa yang kalian lakukan?" lalu tiba - tiba seorang pria muncul dari balik pintu dapur dan melihat apa yang sedang Baekhyun dan Kyungsoo lakukan.

"Daniel?" Baekhyun dengan perlahan melepaskan pelukannya pada Kyungsoo dan menatap Daniel dengan ekspresi heran.

Kyungsoo dengan cepat mencuci tangannya yang penuh busa , "oh, kau sudah datang?" dan bertanya kepada Daniel dengan wajah datarnya.

"Minseok yang membukakan pintu untukku" jawab Daniel dengan tangannya yang mengarah ke ruang tengah.

"ku pikir mereka tidur" ucap Kyungsoo yang kini sudah berdiri di samping lemari penyimpanan.

"ya, mereka memang terlihat seperti baru bangun tidur" balas Daniel lagi. Sedangkan Baekhyun terus memperhatikan kedua orang di depannya ini masih dengan ekspresi herannya.

"kau kenapa?" lalu Kyungsoo yang menyadari bertanya pada Baekhyun dengan kepala yang dimiringkan.

"aku tidak tau Daniel akan kesini" jawab Baekhyun spontan. Daniel yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa menggaruk kepalanya sambil terkekeh.

"apa aku tidak boleh ke sini?"

e)(o

Setelah mencuci piring, Baekhyun bergabung bersama ke - empat sahabatnya di ruang tamu. Daniel dengan lahap menghabiskan makanan buatan Kyungsoo sambil menonton film bersama yang lain.

"Baekhyun, jam berapa kau akan dijemput Chanyeol?" Jongdae berucap setelah memasukkan stick kentang BBQ ke dalam mulutnya.

Daniel tiba - tiba saja tersedak dan membuat Minseok yang duduk di sampingnya dengan panik memberikan air minum kepada pria bermata sipit itu. Sedangkan Kyungsoo hanya menyunggingkan senyumnya, seolah - olah paham apa yang terjadi pada Daniel.

"mungkin nanti malam, dia sangat sibuk di kantor" jawab Baekhyun dengan santai sambil memakan keripik kentangnya.

"ku pikir kau akan menginap di sini" ucap Kyungsoo sambil melirik Daniel melalui ekor matanya.

"tidak, tidak. Chanyeol bilang dia ingin makan malam di rumah" jawab Baekhyun lagi tanpa tahu bahwa Daniel menatapnya dari jauh dengan ekspresi patah hati.

"Daniel" lalu Kyungsoo sengaja memanggil Daniel dan itu membuat Baekhyun menatap ke arah Daniel, "apa kau mau tambah lagi?"

Daniel menghentikan acara makannya, pria itu meletakkan piringnya di atas meja lalu menggelengkan kepalanya, "aku sudah kenyang. Boleh aku minta bir?"

Jongdae dan Minseok tertawa lebar mendengar permintaan Daniel kepada Kyungsoo, "kau ingin minum di siang hari?" tanya Minseok.

"dan mabuk? Kau sangat klasik, Daniel" sambung Jongdae setelah high five bersama Minseok.

"ku pikir aku punya" lalu Kyungsoo bangun dari duduknya dan berjalan ke arah kulkas. Pria bermata bulat itu mengeluarkan beberapa kaleng dan satu botol fanta untuk Baekhyun lalu kembali ke ruang tengah.

"kau selalu saja melarangku meminum bir" protes Baekhyun dengan bibir yang mengerucut lucu.

"aku tidak mau kau mabuk dan menyusahkan aku" jawab Kyungsoo setelah memberikan botol fanta kepada Baekhyun.

"aku bisa berbagi denganmu" jawab Daniel yang membuat Baekhyun senang. Jongdae dan Minseok tahu itu hanya modus, sedangkan Kyungsoo menganggap itu sangat menggelikan.

"terima kasih~"

Tak berapa lama, Chanyeol muncul dari balik pintu depan rumah Kyungsoo dengan paper bag besar yang ditentengnya. Dengan langkah besar pria itu masuk dan melihat tidak ada satu pun orang di ruang tamu.

Chanyeol bukannya bermaksud tidak sopan, tapi memang pintu rumah Kyungsoo yang terbuka dan dia juga ingat pria bermata bulat itu tidak akan pernah mengizinkan dirinya masuk jika ada Baekhyun di sana.

Jadi, di sinilah Chanyeol sekarang. Melihat semua sahabat Baekhyun sedang terbaring di lantai dengan mata terpejam dan bau alkohol menyebar di seluruh ruangan.

Chanyeol mengernyitkan keningnya, menaruh perasaan panik dan mengira bahwa Baekhyun akan mabuk juga. Namun, saat mata Chanyeol tertuju pada dua orang yang sedang duduk di atas sofa dengan suara tawa yang nyaring, Chanyeol tahu Baekhyun tidak ikut minum.

Kaki panjang Chanyeol melangkah cepat menghampiri Baekhyun dan mendapati pria mungil itu sedang bersulang dan tertawa senang bersama Kang Daniel, orang yang mengaku bahwa Baekhyun adalah cinta pertamanya.

Chanyeol masih ingat itu, tepat ketika acara musim panas di Universitas mereka berakhir dan Daniel muncul di sana untuk berpamitan kepada Baekhyun karena dia harus melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Pria tinggi itu juga masih ingat bagaimana selama tiga tahun Baekhyun Sekolah Menengah Atas, Daniel terus mengikutinya ke mana pun dan kapan pun.

Dan sekarang setelah empat tahun pergi, pria bermata sipit itu kembali lagi dan mendekati Baekhyun.

Chanyeol meremas genggamannya pada tali paper bag yang dia pegang, membuat urat - urat di tangannya muncul. Pria tinggi itu tahu, dia merasa cemburu.

Cemburu karena Baekhyun akan mengabaikan dirinya setiap kali pria mungil itu bersama Daniel.

Cemburu karena... Baekhyun tidak pernah tertawa sebahagia itu sejak pernikahan mereka berdua.

"ekhem, apa aku terlalu cepat menjemputmu?" Chanyeol berdehem lalu terlihat melonggarkan dasi kantornya dengan wajah yang dibuat sebiasa mungkin.

Baekhyun yang sedang asik mengobrol dengan Daniel langsung menoleh dan berlari menghampiri Chanyeol, "kau sudah pulang?" dan bertanya kepada Chanyeol yang berada di hadapannya.

Chanyeol mengangguk dan tersenyum, mengelus kepala Baekhyun dengan lembut, "ya, aku sudah berjanji akan makan malam bersamamu"

Daniel diam pada posisi duduknya. Kedua matanya berkedut dan mulai berkaca - kaca. Tangannya juga terkepal kuat seiring tangan Chanyeol yang semakin lama mengusap kepala Baekhyun.

"oh, hai Chanyeol" lalu dia berusaha menyapa Chanyeol seramah mungkin.

"hai Daniel" jawab Chanyeol lalu matanya mengarah pada kaleng bir dan botol fanta yang ada di atas meja. Secara spontan, pria tinggi itu tersenyum simpul karena tahu Baekhyun hanya meminum minuman bersoda, "apa kalian sangat menikmati acara kalian?"

Baekhyun mengangguk cepat seperti anak kecil, bibirnya juga tersenyum dengan manis, "tapi aku rasa Kyungie, Jongdae dan Minseok kelelahan" lalu mengarahkan pandangannya pada ketiga sahabatnya yang sedang tertidur di lantai.

"sepertinya iya" balas Chanyeol mengikuti pandangan Baekhyun.

"mau pulang sekarang?" tanya Baekhyun kemudia pria mungil itu berbalik dan bergegas memungut semua gelas untuk di bawa ke tempat cucian piring.

Chanyeol melangkah maju untuk mengambil posisi duduk di sofa tepat di samping Daniel, "boleh, jika memang kau ingin pulang"

"baiklah, aku akan mencuci ini sebentar" dan Baekhyun menghilang ke balik pintu dapur, meninggalkan Chanyeol dan Daniel di sana dengan segala emosi yang ada di dada mereka.

"ku pikir, jika aku diam kau akan sadar dengan sendirinya" Chanyeol membuka obrolan dengan nada serius ketika Daniel menyuapkan kripik kentang miliknya ke mulut, "tapi ternyata kau tidak tahu diri" sambung Chanyeol menatap ke arah Daniel.

"dengar Chanyeol, aku belum mengatakan padamu bahwa aku menyerah atas perasaanku. Jadi, meski Baekhyun sudah menjadi suamimu, aku tetap akan terus memperjuangkan perasaanku" balas Daniel tidak kalah serius.

"itu yang aku bilang, bahwa kau tidak tahu diri" Daniel berdecih, pria bermata sipit itu mengusap tengkuk belakang kepalanya dengan santai.

"bukannya yang tidak tahu diri di sini adalah kau?" lalu bertanya dengan nada sarkasme, "kau tidak tahu diri karena masih mengharapkan cinta pertamamu"

Chanyeol membulatkan bola matanya, sedikit banyak dia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Darimana Daniel tahu bahwa dia masih mengharapkan Sunbin?

"itu bukan urusanmu" tegas Chanyeol.

"kalau begitu, lepaskan Baekhyun untukku. Kau tidak mencintainya kan?" tanya Daniel kembali menatap Chanyeol.

"lepaskan Baekhyun untukku. Dia terluka karena kau tidak peduli dengan perasaannya" Chanyeol terkejut, dengan spontan pria tinggi itu mengubah ekspresinya.

"dia terluka karena kau selalu saja melihat Sunbin, tanpa tahu jika dia selalu melihatmu dari belakang" sambung Daniel lagi, "ku mohon Chanyeol, lepaskan dia untukku" dan tanpa sadar Daniel meneteskan air matanya.

"Daniel_"

"Chanyeol, ayo pul_ ada dengan kalian?" Baekhyun muncul dari pintu dapur dan membuat Daniel buru - buru menghapus air matanya.

"oh, kalian bisa pulang. Aku akan bilang dengan mereka si tukang tidur itu ketika mereka bangun" dan berusaha terlihat biasa saja di depan Baekhyun.

Chanyeol mengangguk dan berpamitan dengan Daniel lalu pria tinggi itu menarik lengan Baekhyun untuk pulang meski wajah pria mungil itu masih terlihat bingung dengan apa yang terjadi di antara mereka berdua.

"aku pulang Daniel, sampai jumpa!" tapi Baekhyun masih sempat berteriak sambil melambaikan tangannya.

"sampai jumpa!" balasnya. 'Baekhyunku'

e)(o

Sesampainya di rumah, Baekhyun bergegas turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah. Pria mungil itu dengan semangat berteriak memanggil Mongryeong dan Toben yang seharian ini tidak dia lihat.

Chanyeol menyusul belakangan dengan paper bag miliknya dan melihat Baekhyun memeluk kedua ekor anjing mereka. Bertanya - tanya apakah Mongryeong dan Toben sudah makan juga mandi.

"tadi ada bibi Kim kesini, pasti mereka sudah makan dan mandi" balas Chanyeol dan mendapat anggukan lega dari Baekhyun.

"oiya, Chanyeol. Paper bag itu isinya apa?" tanya Baekhyun yang kini sedang memangku Toben di pahanya sedangkan Mongryeong berlarian ke sudut rumah.

"ini?" Chanyeol mengangkat paper bag yang ditanya oleh Baekhyun, "aku membelikanmu kue. Ini adalah hari ke tiga puluh pernikahan kita"

Baekhyun terdiam, tangannya yang semula mengelus bulu Toben menjadi berhenti mendadak, "kau mengingatnya?" tanya pria mungil itu dengan suara pelan.

"tentu saja. Kenapa aku tidak ingat?" tanya Chanyeol balik dengan wajah bingungnya.

Baekhyun tanpa sadar menangis hingga membuat Chanyeol menjadi panik, "kenapa kau menangis? Apa ada yang sakit?" lalu Chanyeol berlari menghampiri Baekhyun setelah meletakkan paper bag miliknya di sofa.

"tidak, Chanyeol. Tidak ada yang sakit" jawab Baekhyun lalu tertawa.

"lalu kenapa kau menangis?" tanya Chanyeol lagi masih dengan paniknya.

"aku menangis karena aku bahagia" jawab Baekhyun sambil meraih kedua tangan Chanyeol, "terima kasih ya, karena kau sudah mengingat hari ini" dan menggenggamnya.

"Baekhyun..." panggil Chanyeol dengan perasaan yang penuh rasa bersalah.

"ada ap_" lalu Chanyeol dengan cepat memeluk Baekhyun. Mendekap pria mungil itu dengan penuh kasih sayang.

"maafkan aku" lalu mengecup puncak kepala Baekhyun dengan lembut.

Baekhyun semakin menangis bahagia dengan sikap Chanyeol hari ini. Pria mungil itu membalas pelukan Chanyeol dan berjinjit untuk bisa merangkul Chanyeol lebih erat.

'Chanyeol... meski pun orang - orang akan menganggap aku bodoh, aku tidak peduli. Aku akan terus berharap dan bergantung padamu'

A/N: Aduh, mau UTS tapi malah buat cerita galau seperti ini :")

Btw, makasih loh kalian selalu support aku. Awalnya aku ragu mau buat cerita begini, soalnya aku lebih suka cerita yang fluffy.

Kalian boleh kasih aku saran, biar aku tahu selanjutnya mau buat seperti apa.

Makasih yaaaaaaaaa... hehehe *lope lope lope*