A LIE

DISCLAIMER MITSURO KUBO & STUDIO MAPPA

VICTUURI

RATED K+ to T (buat jaga-jaga. Soalnya author tidak tahu bagaimana kedepannya)

ROMANCE, HUMOR (yaah, intinya genrenya campur aduk kayak gado-gado)

WARNING! SUPER OOC, TYPO EVERYWHRE, EYD NGASAL, OC

GAK SUKA? JANGAN BACA


Hasetsu, Kyushu.

Seorang anak laki-laki sedang terduduk di taman yang sepi sambil menangis. Rambut hitamnya acak-acakan, bajunya kotor disana sini, dan ada beberapa bercak darah di tubuhnya. Bisa dilihat dari keadaannya bahwa anak kecil itu baru saja diganggu. Anak kecil itu terus saja menangis di taman yang sepi itu.

Tap tap

Anak kecil itu tidak menyadari suara langkah kaki yang mendekatinya. Hingga langkah kaki itu berhenti tepat di depannya barulah dia menyadari kalau ada orang yang mendekatinya. Dia pun mengangkat kepalanya perlahan, takut jika orang yang mendekatinya adalah orang yang membully-nya tadi.

Orang yang berdiri di depannya kini berjongkok, menyamakan posisinya dengan anak kecil itu. Anak kecil itu mengerjap matanya yang masih merah dengan bingung. orang yang berjongkok di hadapannya rupanya masih seorang anak kecil juga. Manik cokelat keunguannya menatap kagum dengan manik anak kecil dihadapannya. Dia tidak pernah melihat orang dengan fisik sempurna ini sebelumnya. Rambut silver panjang yang dkuncir kuda dan manik yang berwarna biru... atau hijau? Apapun warnanya itu, anak kecil berambut hitam itu sangat menyukai warna mata yang menurutnya unik itu.

"What are you doing here?" anak kecil berambut silver itu berbicara dengan bahasa Inggris tetapi dengan aksen Rusia yang sangat kental. Sayangnya anak kecil berambut hitam itu tidak mengerti apa yang dikatakannya. Dipendengarannya, bahasa ituterdengar seperti bahasa alien. Anak kecil berambut hitam itu hanya memiringkan kepalanya bingung. Tangisannya sudah berhenti sejak anak kecil berambut silver itu berbicara.

"Anata no dare?" tanya anak kecil berambut hitam itu. Sekarang giliran anak kecil berambut silver itu yang mengerjap bingung. Dia tahu kalau itu adalah bahasa Jepang tapi dia tidak tahu apa arti dari kalimat itu.

Hening.

Keduanya masih saling menatap.

"Are you lost?" tanya anak kecil berambut silver itu sekali lagi. Dia mencoba memperbaiki aksen bahasanya. Siapa tahu anak kecil berambut hitam ini tidak mengerti apa yang dikatakannya karena aksen bahasanya yang kurang bagus.

Tapi sayangnya yang diajak bicaranya kali in adalah seorang anak kecil yang berumur 6 tahun. Anak kecil yang belum tahu apa-apa tentang bahasa asing.

"Nani ga hanasu?" anak kecil berambut hitam itu kembali bertanya.

Kembali hening.

Keduanya masih saling menatap dalam kebingungan. Yang satu kebingungan tapi juga penasaran dengan sosok sempurna di depannya. Yang satu kebingungan dan keringat dingin memikirkan bagaimana caranya bertanya ke anak kecil yang berada di depannya.

Anak kecil berambut silver itu memejamkan matanya. Tangannya memegang dagunya, memasang pose berpikir. Otaknya berusaha mengorek-ngorek kosakata bahasa Jepang yang didengarnya dari orang tuanya. Anak kecil berambut hitam itu masih setia memperhatikan setiap ekspresi yang keluar dari anak kecil berambut silver itu. Baginya, ekspresi yang dikeluarkan anak kecil berambut silver itu sangat lucu. Dan hal itu menghibur dirinya.

Anak kecil berambut silver itu menjentikkan jarinya seolah mendapat pencerahan. Dia kembali menatap anak kecil berambut berambut hitam di depannya. "A-na-ta... no... na-ma-e... wa?" tanyanya dengan terbata-bata. Dia berharap aksen Rusianya tidak mengganggu bahasa Jepang yang digunakannya.

Anak kecil berambut hitam itu tetap diam dan masih menatapnya. Membuat anak kecil berambut silver ini semakin kebingungan. Apakah karena aksen Rusianya, anak kecil dihapannya ini tidak mengerti bahasa Jepang yang digunakannya? Baru saja anak kecil berambut silver itu ingin mengulangi pertanyaannya, anak kecil berambut hitam itu mengangkat suaranya.

"Yuuri. Watashi no name wa Katsuki Yuuri." jawab anak kecil berambut hitam itu.

Anak kecil berambut silver itu mengerjapkan matanya. Sedetik kemudian dia tersenyum sumringah. Senang karena berhasil mengajak anak kecil berambut hitam itu berbicara. Dengan cepat dia mengulurkan tangannya kepada anak kecil berambut hitam itu.

"Watashi no namae wa Vi...han desu."

Anak kecil berambut hitam itu menerima uluran tangannya dan tersenyum manis. Pipi chubbynya sedikit merona.

"Yoroshiku, Vi...han..."

.

.

.

"Guk guk guk!"

Manik cokelat keunguan yang semulanya tertutup terbuka perlahan-lahan. Dia mengangkat kepalanya yang bersender di atas meja. Matanya menatap kekanan kiri dan melihat anjing pudel besar yang berada di samping kirinya. Dielusnya anjing pudel yang membangunkannya itu.

"Nngghh... aku ketiduran lagi." Pemuda berkacamata itu merenggangkan tubuhnya. Dia merapikan buku-buku yang dibacanya tadi dan mengambil ponselnya yang berada diatas meja.

"Pukul 10.30, sebaiknya aku pergi ke kampus sekarang." Batinnya lalu beranjak dari kursinya. Dia mengambil jaket yang digantung di lemari pakaiannya dan tas yang diletakkan tidak jauh dari lemarinya. Pemuda berkacamata itu merapikan penampilannya di depan cermin. Merasa tidak ada lagi yang perlu diperbaiki, pemuda berkacamata itu keluar dari kamar tidurnya diikuti anjing pudel di belakangnya.

"Lagi-lagi aku memimpikan anak kecil itu. Siapa sebenarnya dia?" Yuuri memijit pelipisnya. Berusaha mencari tahu 'anak kecil' yang selalu hadir di dalam mimpinya. Namun hasilnya nihil. Dia tidak pernah berhasil mengingat 'anak kecil' itu. Berapa kalipun dia berusaha mengingat, 'anak kecil' itu tidak pernah berada dalam memori ingatan masa lalunya. Berkali-kali Yuuri berpikir kalau 'anak kecil' itu hanya sekedar tamu mimpinya, tapi Yuuri juga merasa familiar dengan 'anak kecil' itu. Rasanya mimpinya itu terlalu nyata untuk dibilang mimpi. Seperti memperlihatkan masa lalunya yang terlupakan olehnya. Sayangnya kepala Yuuri semakin sakit jika memikirkan hal itu terus hingga ujung-ujungnya dia tidak mempedulikan hal itu meski dia tetap penasaran.

Sering Yuuri kecil bertanya ke orang tuanya, ke kakaknya, ke gurunya, dan ke teman-temannya mengenai 'anak kecil' yang selalu muncul id mimpinya. Tapi keluarganya hanya menjawab seadanya, tidak membuat Yuuri puas dengan jawaban itu. Usaha Yuuri kecil tidak sampai disitu. Dia mencoba membongkar semua album foto keluarganya, siapa tahu sosok 'anak kecil' itu ada dalam foto keluarganya. Tapi dia selalu dimarahi oleh kakak perempuannya dengan alasan 'membuat rumah berantakan'. Yuuri tahu kalau itu hanya alasan agar dia tidak mencari-cari album fotonya. Plis, meskipun Yuuri tidak pintar, dia bisa membedakan mana yang bohong dan mana yang tidak.

Yuuri kecil juga bertanya-tanya ke tetangga-tetangganya tapi jawaban mereka semua sama seperti keluarganya. Masih belum menyerah, Yuuri kecil mendatangi tempat-tempat yang didatanginya saat di dunia mimpi. Siapa tahu dia bisa mengingatnya, tapi yang ada Yuuri kecil malah pusing dan akhirnya pingsan. Berkali-kali dia melakukan hal itu hingga akhirnya begitu Yuuri beranjak remaja, dia sudah mulai melupakan masalah itu meski 'anak kecil' itu masih tetap muncul di mimpinya. Entah itu mimpi buruk, ataupun mimpi biasa. Tidak jarang juga dia memimpikan 'anak kecil' itu meminta maaf kepadanya dengan berderai air mata.

Wajah 'anak kecil' itu tidak pernah jelas didalam mimpinya. Bukan hanya wajahnya saja, suaranya bahkan namanya sekalipun tidak pernah jelas didalam mimpinya. Yang bisa Yuuri ingat dari ciri-ciri 'anak kecil' itu hanya rambut silvernya yang panjang. Yuuri benar-benar tidak tahu siapa 'anak kecil' itu, tapi dia merasakan perasaan aneh terhadap 'anak kecil' itu. Perasaan rindu dan juga sedih. Pernah sekali Yuuri menangis saat terbangun dari tidurnya karena memimpikan 'anak kecil' itu. Yuuri tidak tahu kenapa dia menangis, tapi rasanya dia benar-benar merindukan sosok 'anak kecil' itu dan juga sedih melihat 'anak kecil' itu meminta maaf kepadanya. Yuuri merasa tidak tega melihat 'anak kecil' itu menangis. Ingin menghibur 'anak kecil' itu tapi terkadang suaranya tidak mau keluar.

Yuuri menghela napas panjang. Mau seberusaha apapun dia mengingat, ujung-ujungnya tidak membuahkan hasil apapun. Yuuri mengambil kalung yang dipakainya tadi pagi. Dia mengelus batu permata pada kalung itu. Yuuri tersenyum melihat kalungnya. Sudah lama dia tidak mengenakan kalung itu karena takut kalung itu rusak. Tapi entah kenapa tadi pagi dia ingin sekali memakainya. Jujur saja, Yuuri tidak tahu darimana asal usul kalungnya ini, dia bertanya ke keluarganya dan keluarganya hanya menjawa bahwa kalungnya ini diberikan oleh seseorang. Dan sekali lagi, keluarganya tidak memberitahu siapa seseorang itu.

Meski tidak tahu siapa yang memberikannya kalung itu, Yuuri sangat menyayangi kalung itu. Kalung itu merupakan benda paling berharganya. Kalung itu juga sebagai penenangnya jika dia sedang merasa sedih, pusing, takut, dan semacamnya. Yuuri merasa kalau kalung itu adalah jimat keberuntungannya. Kepada siapapun yang memberikan kalung ini kepadanya, Yuuri sangat berterima kasih dan berharap bisa bertemu dengan orang yang memberikan kalung ini kepadanya.

Cklek

"Eh?" Yuuri membuka pintu kamar apartemennya dan melihat Victor yang hendak mengetuk pintu tadi.

"Ah, baru saja aku ingin mengambil Maccachin kembali." Kata Victor. Entah hanya perasaan Yuuri atau bukan, keadaan Victor berbeda dari pagi tadi. Pemuda berambut silver ini terlihat sangat lelah. Manik biru sapphirenya terlihat merah dan sembab. Suaranya juga sedikit serak. Apa pemuda berambut silver ini habis menangis? Penampilannya kacau sekali.

"Victor, kau kenapa?" tanya Yuuri khawatir. Tidak biasanya Victor seperti ini. Atau mungkin tidak pernah sama sekali. Seorang Victor Nikiforov yang Yuuri tahu tidak pernah mengeluarkan air mata. Bahkan sahabat-sahabat Victor saja mengatakan kalau tidak pernah melihat Victor mengeluarkan ekspresi selain ekspresi bahagianya. Apalagi ekspresi menangis. Victor adalah orang yang sangat ceria dimata orang-orang.

Lantas, apa yang membuat Victor menangis?

"Hm? Apanya?" Victor memandang Yuuri.

"Kau habis menangis?"

"Tidak kok." Lihat! Bahkan nada bicaranya saja sangat tidak bersemangat! Pasti telah terjadi sesuatu saat Victor berada di kamarnya tadi.

"Jangan bohong. Aku tahu sekali kau pasti habis menangis. Kau tidak bisa menutup-nutupi matamu yang sembab itu." Yuuri menunjuk wajah Victor, lebih tepatnya ke manik biru sapphire itu. Victor mengalihkan wajahnya dan berusaha menutup wajahnya dengan poninya.

"Kata siapa aku habis menangis. Aku baru bangun tidur tahu." Yuuri mendengus. Mata merah dan kelewat sembab itu dibilang habis bangun tidur? Iya bangun tidur, tapi sebelumnya nangis sampai ketiduran. Victor memang pandai berbohong, tapi untuk menyembunyikan bukti yang terpampang jelas itu dia sangat payah.

"Haah... dasar..." Yuuri membuka tasnya dan mengambil tisu basah dan sapu tangannya. Dia meraih wajah Victor dan menghadapkannya ke arah wajahnya. Victor terkejut dengan perlakuan Yuuri. Apa pemuda berkacamata ini sadar dengan apa yang dilakukannya?

"Kalau ingin berbohong, setidaknya perbaiki dulu ekspresi wajahmu yang jelek ini. Kau ini ganteng, jangan dibuat jelek begini. Wajahmu terlihat berminyak karena air matamu yang membekas. Aakh, penampilanmu berantakan sekali Victor. Kau mau ke kampus dalam keadaan begini?" omel Yuuri sambil melap wajah Victor dengan tisu basah. Wajah Victor sedikit merona. Baru kali ini dia mendengar Yuuri memujinya ganteng. Serius deh, Yuuri sadar tidak sih sekarang? Mana wajah mereka sangat dekat pula. Victor bisa merasakan helaan napas Yuuri.

Yuuri masih tetap berkutat dengan pekerjaannya. Setelah melap wajah Victor dengan tisu basah, dia menggantikannya dengan sapu tangan, guna mengeringkan wajah Victor. Victor yang tidak tahu harus berbuat apa hanya dapat berdiri kaku. Manik biru sapphirenya memperhatikan wajah manis Yuuri. Manik cokelat keunguan yang berbinar-binar. Pipi chubby yang selalu terlihat memerah. Dan bibir ranum yang sangat menggoda itu, ingin sekali Victor mengecap rasa dari bibir itu.

EITS! SADAR DIRI VICTOR!

Victor langsung tersadar dari lamunan mesumnya begitu Yuuri menepuk pipinya.

"Nah, sekarang terlihat mendingan kan." Ujar Yuuri sambil tersenyum puas. Tangannya yang berada di pipi Victor kini berpindah ke rambut abu-abu Victor yang berantakan. Jemari lentiknya menyisir rambut Victor agar terlihat rapi. Victor yang sepertinya masih tidak percaya dengan perlakuan Yuuri terhadapnya masih terbujur kaku bak seonggok arca. Apakah dia sekarang sedang bermimpi? Atau hari ini adalah hari kebalikan yang ada di film Spon*ebob? Atau Yuuri di depannya ini bukanlah Yuuri yang asli? (sudahlah Victor. Terima aja perlakuan Yuuri. Situ sendiri sebenarnya menikmatinya kan).

"Rambut bagus kayak gini dibikin berantakan, nanti makin cepat rontok lho." Kata Yuuri sambil tertawa kecil. Masih khusyuk menyisir rambut Victor. Pemuda berambut silver itu tetap diam, tidak membalas satupun ucapan Yuuri. Well, sepertinya Victor tidak sadar kalau ucapan Yuuri itu mempunyai konotasi lain (do you know what i mean). Perlakuan Yuuri benar-benar menghipnotisnya.

Selesai merapikan rambut Victor, tidak lupa menepuk puncak kepalanya –yang untungnya Victor tidak sadar kalau titik taboo nya baru saja disentuh –Yuuri melipat tangannya di depan dada sambil tersenyum puas melihat hasil perbuatannya. Sekarang Victor terlihat lebih normal dibanding yang tadi. Sungguh, penampilan Victor tadi benar-benar mirip gelandangan kece (?). Yuuri menatap Victor dari atas sampai bawah. Rasanya ada yang kurang dari penampilan Victor. Yuuri semakin menatap Victor dengan tajam. Yang ditatap mengerjap bingung. Ada apa dengan penampilannya sekarang?

"Ah! Kancing bajumu salah tuh. Yang benar saja, kenapa kau ceroboh sekali sih Victor?" Tanpa ba bi bu Yuuri memperbaiki kancing baju kemeja Victor. Untung Victor hanya salah mengancing dari bagian dada ke atas, kalau semuanya yang salah Yuuri pasti akan membuka semua kancing bajunya. Tapi tetap saja hal ini membuat Victor kaget setengah mati! Oke, Victor curiga kalau Yuuri habis dihipnotis atau dicekoki ramuan aneh sehingga dia seperti ini. Yuuri yang biasanya malas jika disuruh ini itu sama Victor sekarang mau berbela sungkawa memperbaiki penampilan Victor? Tolong ini sebenarnya ada apa?!

Tapi dalam hati sebenarnya Victor senang banget tuh. Kapan lagi bisa melihat Yuuri bersikap layaknya seorang istri? Selama ini kan Yuuri lebih mirip seorang pelayan daripada seorang istri. Akhirnya hati iblis Victor memerintahkan agar Victor tetap diam dan tidak mengatakan apapun. Biarkan Yuuri bersikap seperti ini. Nikmati saja kesempatan dalam kesempitan ini.

Baru saja Victor ingin menikmati perlakuan Yuuri –yang baginya seperti service special dari Yuuri –interaksi diantara keduanya sudah diganggu oleh suara deheman.

"EHEM! Kalau mau main drama suami-istri, tolong jangan lakukan di koridor. Malu dilihat sama semua orang."

Victor dan Yuuri menoleh ke 'si pengganggu' –bagi Victor –dan mereka melihat ada Yurio dan Otabek yang berdiri di depan pintu kamar apartemen Victor. Tambahan, bukan hanya Yurio dan Otabek yang ada di koridor itu, beberapa tetangga-tetangga di sebelah kamar Victor dan Yuuri juga melihat mereka sedari tadi. Yuuri yang baru konek dengan apa yang dilakukannnya langsung menjauh dari Victor. Jangan lupakan wajah manisnya yang sudah sangat merona bak kepiting rebus. Orang-orang yang menjadi saksi 'drama suami-istri' itu berkyun-kyun ria melihat Yuuri yang malu-malu kucing. Ada yang memegang ponsel, entah itu merekam atau memotret 'drama suami-istri' tadi.

Oh, mengetahui bahwa Yuuri baru saja melakukan hal yang sangat memalukan di depan umum (meski tidak umum banget tempatnya), membuat paras pemuda berkacamata itu semakin memerah. Oh god, dia benar-benar tidak sadar dengan apa yang dilakukannya tadi. Yang berada dalam pikirannya tadi hanya memperbaiki penampilan Victor. Melihat Victor berpenampilan tidak sebagaimana seharusnya membuat tangan Yuuri gatal ingin merapikan penampilan Victor. Alhasil dia kebablasan.

Bahkan Yuuri baru saja sadar kalau wajahnya sangat dekat dengan Victor tadi. Aah, merah di wajahnya sudah tidak dapat didefinisikan lagi sebagai merah apa. Yuuri benar-benar sangat malu, ingin rasanya dia mengubur dirinya di dalam tanah dan tidak pernah keluar dari dalam sana seumur hidup. Atau lebih baik dia mengurung dirinya di kamar saja sekarang? Mumpung dia masih di depan kamarnya sendiri.

Yuuri menutup wajahnya. Aku pengen kabur kamisama! Jerit Yuuri dalam hari. Fix, hari ini adalah ahri paling memalukan baginya.

"Aah... sebaiknya kalian semua segera pergi darisini. Bisa-bisa dia meleleh karena malu." Perintah Yurio kepada orang-orang yang berada di koridor. Weks, situ siapa sampai bisa menyuruh orang-orang disitu? Anehnya orang-orang yang berada di koridor nurut-nurut saja sama Yurio. Ada yang masuk kembali ke kamar mereka, ada yang pergi dari situ menuju lift. Yaah, sekali-sekali diperintah sama orang yang tidak dikenal tidak apa-apalah. Toh, baru saja dapat asupan unyu unyu membuat mereka jadi tidak peduli akan hal itu.

Kembali ke empat orang yang tersisa, Yuuri masih setia menutup wajahnya. Victor menggerutu dan menatap sebal Yurio. Kau-mengganggu-momen-langkaku-saja-Yurio. Ucap Victor lewat telepati mata. Yuri mendengus. Bukan-urusanku. Balas Yurio lewat telepati mata juga. Apakah keluarga Victor ahli dalam telepati?

"Daripada kalian berdua berdebat lewat telepati, bagaimana kalau sekarang kita pergi ke sekolah masing-masing sebelum terlambat? Victor, bukannya kau ada kelas siang? Sebentar lagi jam 11, kelas siang sudah mau dimulai. Dan Yuri, ingat, kalau kita hanya izin sekolah hanya sampai jam 11. Aku tidak akan membiarkanmu membolos lebih lama lagi." Wow, itu perkataan Otabek yang paling panjang. Yuuri dan Victor melongo kaget mendengar Otabek berbicara sepanjang itu. Sedangkan Yurio hanya menggerutu karena ceramah Otabek. Sudah sering mendengar Otabek menceramahinya, jadi dia tidak kaget lagi kalau Otabek bicara panjang lebar. Kan BESTFRIEND-nya gitu loh (yang sebentar lagi akan berganti profesi menjadi BOYFRIEND).

"Hei, aku tidak bolos tahu. Aku kan sudah izin tadi." Protes Yurio, tidak terima jika dirinya dibilang bolos. Hey, dia memang izin kok tadi. Jangan menatap curiga seperti itu! #nunjukreaders

"Iya iya, kau izin secara sepihak tanpa memberitahu teman dan gurumu terlebih dahulu. Itu yang kau sebut izin?" batin Otabek tapi dia malas menyuarakannya karena akan menimbulkan debat yang panjang diantara mereka berdua. Jadi Otabek hanya mengangguk-ngangguk saja dan segera menyeret Yurio agar pergi.

"Hei Katsudon! Nanti malam aku akan kesini! Jangan lupa buatkan aku Katsudon yang banyak!" teriak Yurio sebelum sosoknya dan Otabek menghilang ke lift. Yuuri kembali cengo, baru kali ini Yurio mau makan di tempatnya. Entah ada angin apa yang membawa remaja berambut pirang itu mau makan di tempatnya. Biasanya Yurio ogah diajak kemana-mana sama Yuuri. Hell, baru ketemu saja sudah dikasih deathglare mematikan dari Yurio, apalagi diajak kemana-mana.

Yuuri merasa senang karena Yurio mau makan bareng dengannya. Selama ini Yuuri selalu menganggap Yurio sebagai adiknya sendiri –meski yang dianggap tidak menganggap balik Yuuri sebagai kakak –itu sebabnya Yuuri sangat senang mendengar Yurio ingan makan bareng dengannya nanti malam. Yuuri membuat catatan dalam hati kalau dia harus pulag cepat ke apartemennya dan memasakkan Katsudon yang banyak untuk Yurio. Ah dan juga Otabek, remaja berambut undercut itu pasti akan ikut makan bareng di apartemennya. Mengingat Yurio dan Otabek yang tidak pernah terpisah layaknya magnet. Lagipula Otabek juga menyukai Katsudon. Aah, Yuuri merasa bangga makanan kesukaannya banyak disukai oleh orang-orang asing.

"Yuuri."

DEG

Oh god... Yuuri lupa kalau sekarang dia hanya berdua saja dengan Victor. Gara-gara memikirkan Yurio tadi, Yuuri melupakan eksistensi pemuda berambut silver di sampingnya. Seketika Yuuri mengingat insiden 'drama suami-istri' tadi, wajahnya kembali memerah dan tidak berani menatap Victor. Bayangkan saja! Kau kebablasan melakukan adegan romantis di depan semua orang. Siapa coba yang tidak malu!

Tidak sanggup menahan detak jantung yang seperti ingin keluar dari tubuhnya, Yuuri bersiap-siap mengambil langkah seribu untuk kabur.

Sayangnya Yuuri lupa kalau Victor itu lebih gesit darinya.

GREP

"Mau kemana kau Yuuri?"

GLEK

Mampus!

Yuuri tidak berani menoleh ke tangan kanannya yang dipegang sama Victor. Kalau dia menoleh ke tangan kanannya yang masih tertinggal di belakang, otomatis dia melihat wajah Victor. POKOKNYA YUURI TIDAK INGIN MELIHAT WAJAH VICTOR! TITIK!

"Tentu saja ke kampus. Memangnya mau kemana lagi?" jawab Yuuri setenang mungkin

"Dengan jalan kaki? Kau yakin? Dari sini ke kampus memakan waktu 10 menit lho. Belum lagi kau harus ke gedung jurusan Ekonomi yang teletak di bagian paling dalam kampus. Itu bisa memakan waktu 10 menit juga. Sedangkan waktu yang tersisa tinggal 15 menit." Jelas Victor.

"Lalu kenapa? Hanya telat 5 menit juga tidak apa-apa kok. Daripada itu lebih baik kau melepaskan tanganku agar aku bisa semakin cepat sampai di kampus." Balas Yuuri sambil menarik tangannya dari Victor, tapi pemuda berambut silver itu tidak mau melepaskan tangan Yuuri. Yuuri menatap bingung Victor, ini orang maunya apa sih?

"Telat 5 menit itu akibatnya fatal Yuuri. Lebih baik kau ikut denganku ke kampus."

Yuuri diam.

Ikut Victor ke kampus? Maksudnya...

"Naik mobilmu?"

"Tidak. Naik mobil akan lebih ribet. Naik motorku saja."

Yuuri kembali diam.

Otaknya merangkai kembali perkataan Victor.

20%

40%

60%

80%

100%

...

...

BLUSH

Wajah seorang Katsuki Yuuri kembali memerah.

Demi apa Victor mengajaknya pergi ke kampus bareng?! Bukannya pemuda berambut silver ini biasanya tidak pernah mempedulikan Yuuri telat ke kampus atau tidak?! Ah tidak, daripada itu Yuuri lebih memikirkan ajakan Victor yang mengajaknya ke kampus naik motor?! Ya okelah kalau naik mobil, tapi ini naik motor?! Apa pemuda berambut silver ini tidak malu kalau orang-orang di kampus melihat mereka naik motor berduaan?! Belum lagi mereka berdua dikenal sebagai 'pasangan berantem' kan?! Bisa-bisa malah muncul skandal besar di kampus nanti! Belum lagi kalau naik motor pasti badannya berdempetan kan? Yuuri belum siap hati berdekatan dengan Victor karena insiden 'drama suami-istri' itu. Tidakkah Victor memikirkan insiden tadi?!

Beribu-ribu pertanyaan muncul di kepala Yuuri. Kepalanya pusing sendiri memikirkan itu semua. Saking pusingnya, Yuuri tidak merespon panggilan Victor. Jelas pemuda berambut silver ini merasa bete karena dicuekin Yuuri. Akhirnya tanpa menunggu persetujuan dari Yuuri, Victor langsung menarik Yuuri menuju lift.

"Eh?! Cho-chotto matte Victor! Kau mau membawaku kemana?!"

"Ke kampuslah. Memangnya kau mau aku ajak kemana Yuuri? Kau ingin aku mengajakmu kencan ke tempat romantis?"

Sekali lagi, wajah Katsuki Yuuri kembali memerah.

Ini sudah keberapa kalinya wajah Yuuri memerah karena Victor.

Victor tersenyum melihat Yuuri yang malu-malu sambil menundukkan kepalanya. Aah~ lihatlah wajah yang memerah itu. Kawaii tingkat dewa! Apalagi pipi chubbynya yang memerah itu seperti minta dicubit. Victor gemas ingin mencubit pipi chubby Yuuri. Tapi sayangnya niat ingin mencubitnya harus batal karena lift mereka telah sampai di lantai dasar.

Victor kembali menarik Yuuri yang sepertinya sudah pasrah diseret kemana-mana. Pemuda berkacamata itu sudah terlalu lelah untuk memprotes. Sesampainya di tempat parkiran motornya, Victor menyerahkan helm ke Yuuri dan memerintah Yuuri untuk cepat duduk di kursi belakang. Sebenarnya Yuuri tidak mau naik, masih malu soalnya, tapi Victor memelototinya seolah mengatakan duduk-cepat-atau-kupaksa-dengan-cara-kasar . Akhirnya mau tidak mau Yuuri buru-buru duduk di atas motor.

"Tahan rasa malumu Katsuki Yuuri! Demi jam kuliahmu! Terlambat sedikit kau tidak akan bisa lulus!" Yuuri memantra-mantrai dirinya sendiri. Yuuri agak sedikit memberi jarak antara tempat dia duduk dengan Victor agar dadanya tidak berdempetan dengan punggung tegap Victor. Kedua tangannya menggenggam erat samping motor (bisa bayangin gak?), alih-alih memegang (atau mungkin memeluk) pinggang Victor.

"Yuuri, pegang yang erat. Aku mau ngebut lho. Nanti kau jatuh kebelakang." Kata Victor yang baru saja memakai jaket kulitnya yang biasanya dia taruh di bagasi motornya. (bisa bayangkan gak Victor berpenampilan ala Otabek? #authornosebleed). Dengan cepat Victor memakai sarung tangannya dan segera menyalakan motornya.

"Eh... ba-baiklah..." Yuuri memegang ujung jaket Victor. Masih tidak mau memeluk pinggang Victor.

"Yuuri, bukan jaketku yang dipegang, peluk aku cepat." Victor mulai tidak sabaran. Pasalnya tinggal 10 menit lagi mereka akan masuk. Victor harus ngebut ekstra ke kampusnya kalau tidak mau terlambat. Dan kalau Yuuri tidak memeluknya, bisa-bisa pemuda berkacamata itu sudah tidak berada di belakang Victor begitu sampai di kampus. Bukannya Victor modus untuk saat ini ya, SUER ,BUKAN UNTUK MODUS! Tapi Yuuri benar-benar harus memeluknya kalau tidak mau melayang jauh dari motornya. Tolonglah! Sebentar lagi kelasnya akan masuk dan dosennya kali ini dosen terkiller dijurusannya! Victor tidak mau reputasinya sebagai murid teladan hancur!

Yuuri masih ragu-ragu. Victor lama-lama dongkol juga dengan Yuuri yang leletnya luar biasanya. Akhirnya tanpa mempedulikan Yuuri memeluknya atau tidak, Victor langsung menjalankan motornya dengan kecepatan penuh.

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" sontak Yuuri teriak kencang dan langsung memeluk Victor. Lupa kalau tadi dia masih malu-malu. Masa bodoh dengan malu-malu, keselamatannya nomor satu sekarang!

"JANGAN BERTERIAK DITELINGAKU YUURI!" teriak Victor yang masih memacu motornya dengan kecepatan yang tidak wajar. Etdah, itu para pejalan kaki dan pengemudi tidak merasa terganggu gitu? Polisi? Mana polisi?

"MAKANYA JANGAN KENCANG-KEN- AWAS! ADA ANAK KUCING!" Yuuri berteriak kolosal tepat ditelinga Victor lagi. Sungguh Victor merasa tuli seketika. Untungnya dia dengan sigap menghindari anak kucing yang nyaris dia tabrak tadi. Beruntunglah anak kucing itu selamat. Yuuri mengehela napas lega.

Tapi sepertinya dewi fortuna tidak mengizinkannya untuk bernapas lega lagi.

Victor mendadak membelokkan motornya karena ada truk yang nyaris menabrak motornya. Yuuri tidak bisa berteriak lagi saking shocknya. Wajahnya pucat pasi, matanya berubah jadi putih semua, mulutnya hanya terbuka lebar dan sepertinya ada roh yang keluar dari mulutnya.

SELAMATKAN AKU KAMISAMAAAAAAAAAAAA!

Dengan mempertaruhkan nyawa selama perjalanan, akhirnya mereka berdua sampai di kampus dengan selamat sentosa tanpa kena tegur polisi dan semacamnya. Victor dan Yuuri –yang melupakan rasa malu dan rasa mualnya karena motor Victor yang secepat jet coaster –segera berlari barengan ke kelas masing-masing karena takut terlambat. Well, tentu saja banyak yang melihat mereka, bahkan memotret mereka sejak mereka masuk kampus tadi. Para fujodan heboh melihat 'pasangan berantem' itu pergi ke kampus bareng-bareng, naik motor berduaan pula! Mereka semua sibuk memposting foto 'Victuuri' di Instagram masing-masing dengan tagar '#VICTUURIISREAL', '#PASANGANBERANTEMYANGPERGIKEKAMPUSBARENG', '#VICTORDANYUURIRUJUKAN' (apa semua ini?!)

Pastinya sesudah ini Victor dan Yuuri akan diborongi sama anak-anak kampus.

.

.

.

Di sekolah menengah penuh (alias SMA) , dua remaja andalan kita, Yuri Plisetsky dan Otabek Altin, tengah berbincang-bincang di koridor kelas. Karena kebetulan kelas mereka berdua sedang tidak ada gurunya sehingga mereka berdua lebih memilih untuk mengobrol di koridor.

(Catatan dari Author, sistem pendidikan sekolah Rusia itu nyaris sama dengan Indonesia. Hanya saja masa tahunnya berbeda. Dengan sekolah menengah alias SD selama 3 tahun yaitu kelas 1, 2, dan 3. Sekolah menengah utama alias SMP selama 6 tahun yaitu kelas 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Dan sekolah menengah penuh alias SMA selama 2 tahun yaitu kelas 10 dan 11).

"Yuri, aku ingin bertanya. Siapa sebenarnya Vincent itu? Selain fakta bahwa dia adalah sepupumu, aku penasaran dengan dia pada 'saat itu'." Kata Otabek.

"Iya juga, kau kan belum pernah bertemu dengannya Otabek." Jawab Yurio.

"Sepertinya dia punya dendam sama Victor karena kejadian 'itu'. Memangnya ada masalah apa 'saat itu'?"

"Bagaimana menjelaskannya ya? Aku juga masih terlalu kecil 'saat itu'. Yang jelas, Victor dan Vincent pada 'saat itu' sama." Jelas Yurio.

"Sama?" Otabek mengangkat sebelah alisnya. Bingung dengan jawaban Yurio.

"Yaah, 'sama' dalam arti yang sesungguhnya."

.

.

.

"Katsuki, apa benar kau pergi ke kampus bareng Victor?"

Pemuda berkacamata yang ditanya hanya diam, tidak mempedulikan pertanyaan tadi.

"Kalian berdua naik motor bareng?"

Masih tetap diam. Pemuda berkacamata itu lebih memilih untuk berkutat dengan tulisannya.

"Bukannya kalian itu tidak pernah akur?"

Pemuda berkacamata itu membaca halaman buku yang terletak disampingnya sebentar lalu kembali menulis di kertasnya.

"Jadi benar gosip kalau kalian 'pasangan berantem' itu hanya sekedar topeng belaka?"

Akh! Tulisannya jadi salah kan!

"Kalau begitu kalian berdua beneran pacaran dong!"

CUKUP!

Yuuri sudah tidak tahan dengan pertanyaan orang-orang yang mengerumuninya dari tadi sejak dia masuk ke kelas! Kalau kayak begini terus dia tidak akan bisa fokus menulis karena orang-orang disekelilingnya ini bertanya-tanya terus. Mana pertanyaannya menyebalkan semua pula! Tentang Victor dan dialah, tentang mereka pacaran atau tidak lah, tentang ini dan itu, dan sebagainya! Ini sebabnya Yuuri menolak ajakan Victor tadi karena pasti dia kan kena imbasnya! Tapi pemuda berambut silver tadi tetap ngotot mengajaknya, kan Yuuri jadi repot sekarang!

Yuuri pengen membentak mereka semua tapi Yuuri orangnya kan lemah lembut dan baik hati, dia tidak mungkin tega membentak orang-orang tak berdosa seperti mereka. Baik itu yang lebih tua ataupun yang lebih muda dari dia (emang Yurio yang ngebentak siapapun #ditendangYurio). Aduh, nginjak semut saja Yuuri tidak tega. Akhirnya dengan penuh kesopanan, Yuuri membalas ucapan mereka.

"Etto, sepertinya kalian semua salah paham. Aku dan Victor Nikiforov tidak punya hubungan apa-apa. Kami hanya berpapasan saja tadi." Jawab Yuuri.

"Eeh? Masa?!" teriak yang lain tidak percaya. Yuuri mengelus-ngelus dada. Mentang-mentang dosennya tadi hanya datang ngasih tugas lalu pergi –yang otomatis kelasnya jadi kosong –mereka semua jadi seenak udel mengabaikan tugas dan mengganggu Yuuri yang sedang berkutat dengan tugasnya gitu?! Kalau punya waktu buat kepo, mendingan kerjain tugas sana! Batin Yuuri keki. Katsuki Yuuri ini dari luar dia orangnya tidak tegaan, tapi dalam hati iblisnya (?) dia suka mengumpat kalau kesalnya memuncak.

"Iya kok. Lagipula kejadian sebenarnya tidak seperti yang kalian kira. Aku tadi nyaris telat pergi ke kampus, lalu Victor Nikiforov menyerempetku dengan motornya hingga kakiku sedikit lecet. Sebagai gantinya dia terpaksa membawaku sekalian ke kampus." Jelas Yuuri yang berbohong. Tapi bohongnya lancar-lancar saja tuh. Ekspresi wajahnya juga meyakinkan banget. Orang-orang disekelilingnya jadi tertipu dengan akting Yuuri. Terkadang Yuuri itu pandai berbohong, tapi terkadang juga tidak. Hanya Phichit seorang yang berhasil membuat Yuuri kesulitan untuk berbohong. (tepuk tangan untuk nahkoda kapal kami!)

"Yaah, begitu rupanya. Tidak seru dong." Kata salah seorang dari mereka, yang lain mengangguk setuju. Tapi ada juga yang senang mendengar penjelasan Yuuri bahwa Victor dan Yuuri tidak mempunyai hubungan apa-apa. Entah itu fansnya Victor atau fansnya Yuuri.

"Kalau begitu, ayo kita kencan Katsuki." Tiba-tiba salah satu fans Yuuri mengajak Yuuri kencan. Tentu yang diajak kaget karena ajakan tiba-tiba itu. Beberapa fans Yuuri tidak terima dan segera menyerobot masuk dalam pembicaraan.

"Kencan sama aku saja Katuski!"

"Jangan! Sama aku saja! Akan kubawa kau ke tempat yang romantis!"

"Jangan pergi sama mereka! Mereka semua tidak ada uang untuk mengajakmu jalan-jalan. Lebih baik sama aku saja!"

"Uangku lebih banyak dari mereka semua Katsuki!"

Dalam sekejab Yuuri kembali diborongi dalam konteks yang berbeda.

Sepertinya Yuuri tidak akan bisa menyelesaikan tugasnya sekarang.

.

.

.

Di ruangan kelas yang lain, pemuda berambut silver itu sedang termenung sambil menatap ke layar LCD di depannya. Ya, kelasnya sekarang sedang melakukan presentasi dari makalah yang dibikin. Beruntung Victor sudah menyelesaikan makalahnya dan mempresentasikannya minggu lalu. Padahal teman-temannya belum bisa menyelesaikan makalah mereka dalam waktu seminggu, tapi pemuda berambut silver ini bisa menyelesaikan makalahnya hanya dalam waktu kurang dari seminggu, sendirian pula. Memang sasuga seorang Victor Nikiforov ini. Titel 'Living Legend' alias murid teladan yang diberikan bukan isapan jempol semata. Dalam sejarah Universitas , hanya Victor yang mampu menyelesaikan semua tugas sulit dalam waktu singkat. Bahkan pernah ngalahin dosennya lho. (kok author kesal ya :"v)

Kembali ke topik awal, Victor masih setia termenung di pojokan, pikirannya melayang ke insiden 'drama suami-istri' tadi. Melihat Yuuri yang sangat ahli dalam bidang seorang 'istri' membuat Victor ingin cepat-cepat melamarnya, lalu menikah dengannya, malam pertama, bulan madu, lalu–

STOOOOOOPPPP! MELENCENG DARI NARASI!

(Yang diatas hanya nafsu Victor semata, mohon diabaikan)

Pikiran Victor melayang ke insiden 'drama suami-istri' tadi. Yuuri sangat memperhatikannya tadi, meski sepertinya pemuda berkacamata itu tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Victor tidak tahu apa maksud dari perbuatan Yuuri tadi (cowok gak peka). Apa Yuuri melakukan itu hanya tindakan tidak sadar semata atau pemuda berkacamata itu mempunyai perasaan khusus terhadapnya?

Wajah Yuuri yang memerah kalau bersamanya itu sering membuat Victor berharap. Pemuda berambut silver itu selau berharap kalau Yuuri menyukainya, seperti dia menyukai Yuuri. Tapi terkadang Victor juga ragu kalau sebenarnya Yuuri tidak menyukainya. Victor merasa kalau Yuuri hanya sekedar kagum kepadanya. Victor bukannya kepedean ya, tapi tatapan Yuuri itu memang menunjukkan seperti itu. Hanya saja Victor ragu, entah itu tatapan kagum atau tatapan suka. Kalau Yuuri memang menyukainya, Victor akan sangat senang. Kalau perlu langsung menjadikan Yuuri sebagai kekasihnya agar dia bisa semakin menjaga Yuuri.

Tapi Victor takut, dia takut jika Yuuri sebenarnya tidak menyukainya. Apalagi jika Victor memberi tahu semuanya, bisa jadi Yuuri akan membencinya. Sampai sekarang Victor selalu merasa kalau kejadian 'itu' adalah salahnya. Karena salahnya itu, Yuuri jadi mengalami hal mengerikan seperti itu. Victor tidak mau jika Yuuri mengingat kejadian 'itu' dan membencinya. Lebih baik Victor menahan Yuuri sebagai pelayannya daripada harus kehilangan Yuuri lagi. Victor lebih memilih harus bersikap menyebalkan ke Yuuri asalkan Yuuri tidak benar-benar membencinya. Victor rela jika status hubungan mereka bukan sepasang kekasih asalkan Yuuri selalu bersamanya. Victor tidak peduli jika dia harus berbohong seumur hidup ke Yuuri.

Victor akan melakukan apapun, hanya demi Yuuri.

Meski itu harus mengotori tangannya, meski itu harus membahayakan nyawanya.

Asalkan demi Yuuri, Victor siap melakukan semua itu.

"Victor Nikiforov!"

Plak

Kepala Victor dipukul dengan buku.

Victor melihat ke arah dosennya yang memukul kepalanya.

"Jangan mentang-mentang kau sudah menyelesaikan semua tugasmu, lantas kau tidak memperhatikan presentasi yang lain." Tegur dosennya.

"I-iya. Maaf." Jawab Victor lalu dosennya kembali ke depan kelas. Victor meringis pelan karena kepalanya dipukul dengan buku yang lumayan tebal. Sambil mengusap-usap kepalanya, dia melihat Chris, sahabatnya, tengah menertawakannya –meski sebenarnya Chris menahan tawanya-. Pertama kalinya bagi seorang Victor Nikiforov ditegur oleh dosennya. Sang 'Living Legend' akhirnya membuat kesalahan juga. Memang benar, manusia itu tidak ada yang sempurna.

"Baiklah, terima kasih atas presentasi kalian semua. Jangan lupa kumpulkan rangkuman kalian tentang presentasi teman-teman kalian tadi. Ingat! Tidak ada yang boleh menyontek! Bagi yang tidak memperhatikan tadi, aku tidak akan menerima toleransi jika kalian tidak mengumpulkannya!" kata dosennya tegas. Victor melotot horror, jelas sekali dosennya itu sedang menyinggungnya. Hoho, mentang-mentang berhasil membuat Victor melakukan kesalahan, jangan kira hal itu mempengaruhi Victor. Meskipun Victor tidak memperhatikan tadi, tapi Victor mempunyai segudang cara untuk menyelesaikan tugasnya. Tentu tanpa menyontek.

Hey, dia ini adalah Victor Nikiforov! Sang 'Living Legend' di Universitas ! Tidak ada yang tidak bisa dilakukannya!

"Akan kukalahkan dosen itu karena berani meremehkanku!" batin Victor berapi-api. Benar-benar orang yang tidak suka dikalahkan.

"Hey Victor!"

Victor menoleh ke Chris yang menepuk bahunya. Cih, Victor jadi sebal karena Chris tadi menertawakannya.

"Kenapa?"

"Ada apa denganmu tadi? Kok melamun ditengah-tengah pelajaran?" tanya Chris sambil menahan tawanya. Mengingat kepala Victor yang dipukul dengan buku benar-benar merupakan hal langka. Jangan lupa dengan wajah bloon Victor saat ditegur tadi. Hal itu benar-benar menghibur Chris. Dan Chris yakin, bukan hanya dia saja yang tertawa tadi, tapi semuanya juga.

"Ukh, bukan urusanmu Chris." Jawab Victor sambil mengalihkan pandangannya. Chris tertawa terbahak-bahak. Tidak kuat menahan tawanya.

"Jangan bilang kau melamunkan Yuuri karena foto kalian yang diambil tadi siang." Ah! Victor baru ingat kalau tadi banyak yang memotretnya saat dia dan Yuuri masuk ke kampus. Rupanya foto itu sudah di update di instagram dan tersebar kemana-mana. Pantas saja teman-temannya menatapnya terus sejak Victor masuk kedalam kelas. Victor belum mengecek instagram nya, jadi dia tidak tahu kalau foto itu sudah tersebar. Pantas saja Yuuri menolak ajakannya tadi, Victor lupa konsekuensi kalau mereka pergi bareng ke kampus. Victor yakin, pasti sekarang Yuuri sedang ditanya-tanya oleh teman-temannya. Jadi kasihan dengan pemuda berkacamata itu.

"Memangnya foto apaan sih? Dan kenapa juga aku mesti memikirkan Katsuki Yuuri?" Victor berpura-pura tidak tahu.

"Kau belum lihat fotonya? Itu loh foto kalian berdua yang pergi ke kampus naik motor barengan. Pasti karena itu kan kau memikirkan Yuuri." jawab Chris.

"Lalu kenapa dengan hal itu?"

"Ckckck, Victor. Kau itu tidak peka atau bagaimana sih? Jelas-jelas foto itu menunjukkan kalau kalian itu sebenarnya pacaran kan? Ayolah mengaku saja." Goda Chris. Victor hanya memutar matanya malas. Sungguh, akting yang sangat bagus.

"Chris, aku memboncengnya bukan karena mau. Aku tidak sengaja menyerempetnya dengan motorku. Gara-gara dia marah-marah karena kakinya lecet, aku terpaksa membawanya sekalian ke kampus." Jelas Victor dengan alasan yang sama dengan Yuuri. Entah kebetulan atau memang takdir. Padahal mereka tidak ada merencanakan akan mengatakan alasan seperti itu ke orang-orang. (emang jodoh tuh #lirikvictuuri)

"Heee, jadi beneran tuh? Padahal seru sekali kalau kalian memang pacaran." Kata Chris yang percaya-percaya saja sama perkataan Victor. Entah pemuda berambut pirang ini hanya pura-pura percaya atau tidak.

"Eh Victor, kau punya saudara kembar ya?" Victor mengangkat alisnya. Kenapa Chris kepo dengan urusan keluarganya?

"Tidak. Kenapa?"

"Soalnya di Instagram sedang heboh-hebohnya membahas mahasiswa pindahan di jurusan biologi, dengar-dengar sih dia mahasiswa pertukaran pelajar gitu. Orangnya sangat mirip denganmu. Rambut, mata, dan semuanya sangat mirip denganmu. Banyak yang mengira kalau dia itu saudara kembarmu."penjelasan Chris membuat Victor tercengang. Victor tahu siapa persis orang yang mirip dengannya. Victor tahu kalau orang itu pindah kuliah ke Rusia, tapi bukannya seharusnya orang itu tidak kuliah di kampusnya? Bukannya orang itu kuliah di kampus lain? Lalu siapa yang dimaksud Chris seseorang yang mirip dengannya?

Jangan-jangan... masa sih...

"Siapa... nama orang itu?"

"Namanya... Vincent Voznesenky."

Deg

Victor tahu kalau setelah ini pasti akan ada hal buruk yang terjadi.

.

.

.

"Yuuri~, kau beneran tidak bohong kaaaann?"

"Iya Phichit! Aku sama sekali tidak bohong!"

Lagi-lagi Phichit menggoda Yuuri. Sejak mereka berdua ketemu di taman kampus, Phichit selalu menggodanya dengan menanyakan fotonya dengan Victor yang Yuuri baru tahu kalau foto itu tersebar luas di instagram. Terkutuklah bagi kalian semua yang menyebarluaskan foto itu!

Yuuri tentu saja sudah antisipasi jika Phichit akan menanyakan macam-macam, tapi sepertinya pemuda berkulit sawo matang ini tidak mau menyerah semudah itu. Biasanya Phichit akan mengakhiri pertanyaannya, tapi kali ini tidak akan. Bukti sudah ada sejelas itu di depan matanya, Phichit tidak akan menyerah sampai Yuuri menjawab 'iya'. Dia rela tidak pulang ke apartemennya –yang sebenarnya Phichit sudah pulang daritadi karena dia hanya punya kelas pagi –demi menggoda Yuuri. Sungguh sahabat yang sangat setia. :"v

"Tolonglah Phichit! Jangan bertanya tentang itu terus! Kau tahu kan aku sangat membencinya!" kata Yuuri. Phichit hanya tertawa melihat reaksi Yuuri yang sangat sesuai dugaannya. Menggoda Yuuri benar-benar menyenangkan.

"Benci apa benci? Sepertinya 'benci'mu itu 'benar-benar cinta'." Yuuri sudah lelah kamisama! Kenapa Phichit ngotot sekali sih?! Yuuri pengen mengistirahatkan pikirannya dari Victor.

"Kumohon Phichit. Aku capek membahas itu terus." Yuuri memasang tampang nelangsa. Phichit semakin tertawa. Tangannya dengan cekatan mengambil ponselnya lalu memotret Yuuri. Ekspresi nelangsa yang sangat bagus untuk diabadikan!

"Oke oke, aku akan berhenti. Aku sudah cukup puas melihatmu seperti itu." Terkadang Yuuri ingin melempari Phichit sesuatu saking geramnya dengan sahabatnya ini. Phichit benar-benar menyiksa batinnya.

"Ngomong-ngomong Yuuri, kau tahu kalau Victor punya saudara kembar?" Yuuri mengerutkan dahinya. Saudara kembar? Victor kan anak tunggal. Apa mungkin yang dimaksud Phichit itu adalah Vincent? Tapi darimana Phichit mengetahui Vincent?

"Entahlah, kenapa?"

"Soalnya tadi di gedung jurusan Biologi, aku melihat orang yang mirip banget sama Victor. Yaah, meski model rambutnya berbeda sih. Gara-gara itu orang-orang pada memotretnya dan mengupdatenya di instagram. Jadi viral deh barengan dengan fotomu dan Victor." UHUK, sempat-sempatnya Phichit menggodanya diakhir kalimat. Kenapa pemuda berkulit sawo matang ini terlalu nafsu untuk menggodanya? Seseru itukah menggoda Yuuri?

"Hmm... begitu ya." Yuuri yang terlalu malas untuk meladeni godaan Phichit memutuskan untuk mengabaikannya. Yuuri lebih memikirkan soal Vincent. Pasti yang dimaksud Phichit itu adalah Vincent. Tapi kenapa Vincent ada di kampusnya ya? Mau datang untuk melihat Victor kah? Tapi kenapa mesti ke gedung biologi? Apa Vincent salah masuk gedung?

"Dia sepupuku yang kuliah di Amerika. Namanya Vincent Voznesenky. Dia yang kubilang kalau aku akan menjemputnya karena dia akan pindah di Rusia untuk kuliah."

AH! Yuuri baru ingat kalau Vincent akan pindah ke Rusia untuk kuliah. Jadi kuliahnya di kampus ini toh. Yuuri mengangguk-ngangguk mafhum.

"Tapi tenang saja Yuuri! Aku lebih mendukungmu dengan Victor!"

UHUK

Yuuri keselek saliva sendiri.

Kenapa sih akhir dari topik pembicaraan mereka selalu membahas Victor terus?! Lagian apa hubungannya Yuuri dan Victor dengan Vincent coba? Emangnya lagi battle couple? Yuuri benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya ini.

"Ah Yuuri! Aku harus pulang dulu! Ada kerja kelompok dengan Seung gil! Sampai jumpa besoookk~" Phichit melenggang pergi sambil melambaikan tangan. Tidak lupa melakukan kissbye. Yuuri sweatdrop melihat Phichit sambil membalas lambaian tangan Phichit. Sahabatnya ini benar-benar deh.

"BAIK-BAIK DENGAN VICTOR YAAAA!" teriak Phichit sebelum menghilang dari pandangan Yuuri.

"PHICHIT!" Ya ampun! Kenapa selalu Victor, Victor, dan Victor sih? Tidak ada orang lain apa yang bisa dibahas? Sungguh, Yuuri bertanya-tanya, kenapa Phichit begitu gencar me-makcomblang-kan Yuuri dengan Victor? Dari segimananya Yuuri dan Victor bisa di couple-kan? (aah, Yuuri, kau tidak tahu saja takdirmu dengan Victor).

Yuuri menghela napas. Titel 'pasangan berantem' itu benar-benar menimbulkan skandal yang sangat besar. Bukannya Yuuri dan Victor dianggap sebagai rival beneran, melainkan orang-orang menganggap mereka sebagai sepasang kekasih yang sering cek cok. Yuuri kira dengan bersikap dingin ke Victor, orang-orang akan membencinya. Buka berarti Yuuri mau dibenci oleh orang-orang terutama fans Victor alias Viclovers. Tapi aneh saja gitu rasanya. Bayangkan saja, seorang idola kampus yang disukai oleh semua orang TANPA terkecuali, tiba-tiba saja muncul seorang mahasiswa baru yang membenci idola kampus tanpa alasan yang logis. Apalagi si mahasiswa baru suka berkata kasar dan bersikap dingin ke idola kampus. Bukannya wajar ya kalau Yuuri dibenci oleh orang-orang karena memperilakukan idola kampus seperti itu?

Yuuri tidak mengerti motif Victor menyuruhnya bersikap dingin saat di kampus. Apa pemuda berambu silver itu menyuruh Yuuri seperti itu karena hanya Yuuri yang mengetahui sifat aslinya? Tapi sikap Yuuri ke Victor jika hanya mereka berdua tidak sampai seperti itu. Padahal kan bisa saja Victor hanya menyuruhnya untuk tutup mulut, kenapa mesti pakai akting-aktingan segala? Apa Victor hanya ingin mencari sensasi baru saja?

Yaah, bukannya Yuuri tidak senang sih. Jujur, dia senang banyak orang yang sering menyebut mereka sepasang kekasih. Yuuri merasa orang-orang merestui hubungannya dengan Victor. Walau sebenarnya dia dan Victor tidak mempunyai hubungan apa-apa sih. Itu yang membuat Yuuri tidak betah jika digoda-goda Phichit seperti itu. Digoda seperti itu terus membuat Yuuri merasa sedikit sedih karena pada kenyataannya Victor tidak menyukainya. Yuuri penasaran seperti apa reaksi Victor saat orang-orang juga menggoda-goda pemuda berambut silver itu dengan Yuuri? Apa Victor akan memasang reaksi malu-malu seperti Yuuri atau jijik? Ukh, memikirkan Victor merasa jijik karena dipasangin dengan Yuuri membuat Yuuri semakin sedih.

Tapi Yuuri sedikit berharap kalau Victor menyukainya. Ciuman Victor saat di UKS itu membuat Yuuri penasaran. Apa maksud dari ciuman itu? Apakah Victor memang menyukainya atau...

Disaat Yuuri sedang sibuk berpikir, tiba-tiba sepasang tangan menutup matanya dari belakang.

"SI-SIAPA?!"

Yuuri menolehkan kepalanya ke belakang, tapi si pemilik tangan masih setia menutup matanya. Aduh! Yang ditutup bukan matanya tapi kacamatanya! Hidungnya jadi sakit nih karena si pemilik tangan terlalu menekan kacamatanya.

"Siapa ini?"

Masih tidak ada jawaban.

Yuuri berusaha tenang. Memikirkan siapa si pemilik tangan.

Phichit? Bukan, dia kan baru saja pulang tadi. Masa Phichit rela kembali lagi hanya demi mengerjai Yuuri seperti ini.

Yuuri meraih tangan yang menutupi (kaca)matanya. Tangan yang besar dan jari-jari yang panjang. Mirip tangan Victor. Yuuri menajamkan penciumannya. Aroma mint yang maskulin. Mirip aroma tubuh Victor.

Jangan-jangan...

"Vi...Vincent?"

"Eh?! Kok tahu!"

Si pemilik tangan yaitu Vincent mengangkat tangannya.

Yuuri melepas kacamatanya dan membersihkan kacanya dengan kain. "Hanya menebak." Yuuri sendiri tidak tahu kenapa dia mengetahui kalau itu Vincent, padahal tangan dan aroma tubuhnya sangat mirip dengan Victor. Yang Yuuri tahu, meski tangan dan aroma tubuh Vincent sangat mirip dengan Victor, Yuuri merasa kalau orang yang menutup matanya tadi bukan Victor. Entah kenapa Yuuri merasa seyakin itu.

Victor dan Vincent memang sama dalam segi fisik, tapi dimata Yuuri mereka sangat berbeda.

"Yuuri sedang apa disini? Tidak ada kelas lagi?" tanya Vincent yang kini duduk disamping Yuuri.

"Ada, tapi nanti sore. Vincent sendiri kenapa ada disini?" balas Yuuri.

"Aku pindah kesini! Kampusku di Amerika mengadakan pertukaran pelajar dengan kampus ini, kebetulan aku terpilih jadi sekalian saja aku datang kesini untuk melihat-lihat. Besok aku sudah masuk kuliah." Jawab Vincent. Yuuri hanya mengangguk-ngangguk.

Aneh, padahal sifat Vincent bisa dibilang mirip dengan Victor. Ceria dan banyak ngomong. Tapi Yuuri tidak bisa ngobrol dengan santai seperti dia ngobrol dengan Victor. Apa karena Yuuri baru saja berkenalan dengan Vincent kemarin? Tapi dia bisa ngobrol santai dengan Victor saat pertama kali kenalan. Suasana sekarang benar-benar canggung. Yuuri tidak tahu mau membahas topik apa dengan Vincent.

"Yuuri sepertinya kau canggung dekat denganku ya? Tidak tahu mau ngobrol apa ya?" Yuuri kaget, tidak menyangka Vincent bisa menebak apa yang dipikirkannya. Apa Vincent bisa membaca pikiran orang?

"Aku tidak bisa membaca pikiran orang Yuuri. Hanya saja aku yakin kau pasti canggung dekat denganku karena aku terlalu tampan." Yuuri memasang wajah stoic. Yuuri tahu apa lagi perbedaan antara Vincent dan Victor. Meski keduanya sama-sama narsis, Vincent jauh lebih narsis lagi.

"Jangan pasang wajah begitu dong. Aku juga canggung berada dekat dengan orang semanis kamu." Yuuri jadi bingung antara mau ngeblush atau muntah. Pengen ngeblush karena dipuji manis –walau sebenarnya Yuuri tidak suka dipuji manis karena dia itu laki-laki tulen, tapi yang namanya dipuji pasti malu-malu senang rasanya –pengen muntah karena tidak menyangka Vincent selain narsis, dia juga pandai menggombal. Yuuri tidak terlalu suka dengan orang yang menggombal. Terlalu lebay menurutnya.

Contohnya, ada orang yang pernah menggombal Yuuri dengan mengatakan "Akan kuseberangi lautan api demi dirimu." Apaan tuh? Kena panas matahari saja masih mengeluh lalu bilang mau menyeberangi lautan api? Bukan hanya itu saja, ada lagi yang mengatakan "Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu." Jadi selama ini sebelum orang itu bertemu Yuuri, dia hidup dengan apa? Dan ada lagi yang bikin Yuuri jengkel. Ada yang mengatakan "Wajahmu indah bagai bulan purnama." Bagi Yuuri itu bukan pujian. Itu ejekan. Karena bulan purnama itu banyak lubang-lubangnya. (Untuk kali ini author setuju dengan Yuuri! #thumb)

"Ahaha... spasibo." Yuuri tersenyum terpaksa. Kan tidak enak kalau menunjukkan ekspresi tidak suka padahal orang itu sudah susah payah menggombal. (ah Yuuri, kau memang terlalu baik)

"Jadi supaya kita tidak canggung lagi, bagaimana kalau kita memanggil dengan nama panggilan khusus?"

"Nama panggilan khusus?"

"Iya! bagaimana? Kau mau?" Yuuri memikirkan sebentar. Tidak ada salahnya juga sih memanggil dengan nama panggilan khusus. Kalau memang dalam rangka menghilangkan kecanggungan antara mereka berdua, cara seperti itu boleh juga.

"Baiklah. Mau nama panggilan yang seperti apa?"

"Karena kau orang Jepang, jadi aku akan memanggilmu Yuu-chan dan kau memanggilku VIN-CHAN!"

DEG

"Namaku Vi...chan!"

Sekelebat bayangan 'anak kecil' itu muncul dalam kepala Yuuri.

"Apa aku boleh memanggilmu Yuu-chan?"

Yuuri memegang kepalanya yang mendadak sakit.

"Boleh kok. Panggil saja aku Yuu-chan. Sekali lagi salam kenal Vi...chan!"

Bayangan masa lalunya semakin terlihat jelas.

Nama itu... nama dari 'anak kecil' itu...

"Yuuri! Kau kenapa?!"

DEG

Yuuri mendongak, melihat wajah Vincent langsung. Menatap tepat dimanik hijau tosca Vincent.

DEG

Manik hijau itu... nama itu... jangan-jangan...

"YUURI!"

Yuuri tersadar berkat teriakan Vincent. Manik cokelat keunguan Yuuri melebar menatap Vincent.

"Yuuri kau kenapa? Apa kau baik-baik saja? Wajahmu mendadak pucat lho." Kata Vincent sambil memegang pipi kanan Yuuri.

"Ti-tidak... tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing." Jawab Yuuri sambil menundukkan kepalanya. Otaknya masih memikirkan sekelebat bayangan masa lalu yang muncul di kepalanya.

Jangan-jangan... Vincent...

Yuuri merasa badannya sedikit terdorong ke depan dan ada sepasang lengan kekar yang merengkuhnya.

"Kau bikin aku khawatir saja Yuu-chan –eh, tidak apa-apa kan aku memanggilku begitu?" Yuuri tidak menjawab ucapan Vincent. Pemuda berkacamata itu hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Membiarkan Vincent memeluknya, tidak memikirkan bisa saja ada orang yang melihat mereka dan menyebarkan gosip terbaru. Yang Yuuri pikirkan hanya bayangan masa lalunya yang muncul tadi.

Nama itu...

Yuuri membenamkan wajahnya ke dada bidang Vincent, mencari kehangatan dari pemuda bermata hijau tosca itu. Perlahan, lengannya membalas pelukan Vincent.

Tanpa menyadari bahwa Vincent menyeringai di belakangnya begitu Yuuri membalas pelukannya.

"Akhirnya... aku mendapatkannya..."

.

.

.

TBC


SELESAAAAAAIIIII! AKU NGEBUT LHO NGETIKNYA! SEMOGA KALIAN MENIKMATI CHAPTER 6 INI! #tebar2bunga ('3'~~)

Jadi Vincent ini jahat atau baik? Ada yang sudah bisa menebak kenapa Victor menyuruh Yuuri untuk bersikap dingin kepadanya? Ada yang tahu sesuatu mengenai masa lalu Yuuri?

Kalau tidak ada masalah, chapter ini adalah chapter terakhir yang berisi basa-basi. Chapter kedepannya akan sering mengungkap masa lalu Yuuri. Yaah, kalau tidak ada masalah yang menghalangi sih. Oh ya, untuk chapter depan aku tidak yakin akan panjang lagi. Dan belum tentu update agak cepat, soalnya masih pusing memikirkan alur cerita untuk chapter depan.

Thanks untuk review kalian semua. Aku tidak balas reviewnya disini karena buru-buru. Aku balas reviewnya di PM saja.

Ah, info soal umur mereka. Setahuku, disana SD dimulai dari umur 7 tahun. Berarti umur mereka adalah

Yuuri : 18 tahun (kan baru masuk kuliah)

Victor : 19 tahun (Victor sudah memotong rambutnya saat umur 16)

Yurio : 16 tahun (waaah, umur aslinya nih)

Otabek : 17 tahun (beda setahun sama Yurio)

Vincent : 19 tahun

SEE YOU IN NEXT LEVEL (CHAPTER)!

Spoiler to next chapter

"Apa Vincent adalah anak kecil itu?"

.

"Victor dan Vincent pada saat itu... sama. Benar-benar 'sama' dalam arti yang sesungguhnya."

.

"Kenapa... dia memanggilmu Vin-chan?"

.

"KAU MEMBERITAHUNYA?!"

.

"Dunia ini memang tidak pernah adil bukan? Jangan lupa bahwa kita semua menapaki dunia yang tidak adil ini. Kita berdua sama-sama menyukainya dan mempunyai cara masing-masing untuk mempertahankannya. Dan kesalahanmu sendiri karena lebih memilih berbohong daripada jujur."