~Balasan Review~
Karasu-chan : Thx udah nungguuu~ :3
xxkshineiiiga21737 : Khu khu khu... Sasuke gak setabah itu kok.. liat di chap ini ya...
Ada penjelasan akan masa lalu Sasuke juga..
Aya-chan : Okkkaaayyy~~! .d
Cecilia Khael Haruno : itu apa, apa itu? nya ha ha... xD
Apa yaaa... :3 teng nong... cari tahu ja di chap ini.
Not-Your-Kids : Wow.. pastinya... udh sekilat chidori-nya Sasuke nih.. xD
Sami-chan : duh,,.. Sami-chan.. Shera gak janji bisa ngebulin itu... T.T
Tapi Pair-nya tetep SasuSaku kok... yang lain cuma implisit doang...
Gomen... :(
Tetep baca yah... ntar Shera kasih chap khusus buat SasuSaku Lemon only.
Hima Hisakusa : Dataaaangggg~~ Update! :D
~enjoy reading~
Chapter 6 : Just Mine!
Sakura berjalan perlahan. Pikirannya kosong. Ia tak mengindahkan seruan-seruan dari para murid-murid lelaki yang menggodanya. Pikirannya masih dihantui oleh ucapan Shion beberapa waktu lalu.
'untuk melakukan ritual penguncian kekuatan, Sakura-hime harus melakukan sex. Lagipula untuk menaikkan level para siluman lainnya, Sakura-hime juga harus melakukan sex dengan Naruto, Kiba, Gaara, dan…
.Bruk.
Sakura merasakan tubuhnya menabrak sesuatu yang besar. Dan dapat dirasakannya sebuah rengkuhan lengan kekar melingkar di tubuhnya. Ia melirik.
"Kalau jalan jangan sambil melamun, itu berbahaya."
…Sasuke"
.Blush.
Muka Sakura kini kembali memerah. Ia benar-benar tak habis pikir. Bagaimana ia bisa melakukan hal yang—eerrrrr—begitu dewasa dengan Sasuke. Bagaimana bisa tangan kekarnya itu nanti menyentuh tubuhnya. Bagaimana bibirnya itu menciumi seluruh tubuhnya. Bagaimana bila matanya itu melihat seluruh tubuhnya. Bagaimana kalau…
"Kau baik-baik saja?"
.Dheg.
Sakura kembali tersadar dari pikiran nistanya ketika Sasuke kini menatapnya kebingungan. Ia segera menggelengkan kepalanya cepat. Sejak kapan ia jadi mesum begini? Tapi ia tak pernah bisa membayangkannya dengan Naruto, Kiba, maupun Gaara, hanya saja… dengan Sasuke…
"Hey?" ucapan Sasuke kembali menginterupsi khayalan Sakura.
"Ah..ah..tidak… aku.."
"Kau sakit? Mukamu merah, tanganmu berkeringat…" Sasuke menempelkan dahinya ke dahi lebar Sakura. Membuat muka mereka terasa begitu dekat.
"KYAAAA~" tiba-tiba saja sebuah teriakan datang. Itu berasal dari murid-murid sekolah Konoha High School ini. Mereka histeris melihat Sasuke dan Sakura.
"Ah!" Sakura baru sadar. Ia kini sedang berada dalam lingkup sekolah. Dan Sasuke ada di sini tanpa menggunakan seragam. Apalagi sekarang sudah banyak yang melihat mereka, bisa gawat kalau Sasuke sampai kepergok guru.
Sakura segera menarik paksa tangan Sasuke. Ia membawanya ke ruang musik kesukaannya itu. Sakura terengah. Nafasnya tersenggal. Ia segera membuka jendela ruang itu, membiarkan udara di dalamnya berganti dengan udara segar yang baru.
"Haaaahhh~ segar~" Sakura menikmati helaian angin yang menerpa tubuhnya. Sudah lama sejak terkhir kali ia menghirup udara dari ruang itu. Sasuke menatap dalam diam ke arah sosok Sakura itu. Sejak dulu ia memang sangat mengagumi kecantikan Sakura.
"Sasuke, kemarilah!" sahut Sakura sambil menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. Sasuke segera menuruti perkataan master-nya yang sudah seperti perintah itu.
Sakura terdiam. Ia sesekali melirik ke arah Sasuke malu-malu.
"Sasuke, kau… mempunyai orang yang kau sayang?"
Ucapan Sakura membuat Sasuke segera membulatkan matanya. Ia tersentak. Hatinya mendadak merasakan sesuatu yang menyesakkan. Sakura yang merasa tak ada tanggapan dari Sasuke hanya bisa melirik ke arah Sasuke.
"Ah, kalau kau tak mau jawab juga tak apa. Ha ha ha" Seru Sakura canggung.
Sasuke terdiam. Ia kembali teringat akan kejadian dimana orang yang paling disayanginya di dunia ini… membuangnya.
Uchiha Sasuke. Itulah nama asli dari Sasuke. Dulu, Uchiha merupakan clan srigala terkuat di dunia siluman hewan Surga. Mereka memiliki kekuatan mata khusus yang mengagumkan. Hingga suatu hari, master klan itu menciptakan suatu ilmu sihir baru untuk memperkuat kekuatan turunan clan Uchiha. Dan Sasuke yang saat itu masih dikandung ibunya… menjadi bahan uji coba.
Sasuke lahir dengan kekuatan yang sangat mengagumkan. Seluruh siluman Surga menyayanginya. Mereka bahkan berharap Sasuke akan menjadi master clan Uchiha selanjutnya. Sayangnya, sang master saat itu, yang merupakan kakak kandung dari Sasuke, iri akan kekuatan yang diberikannya kepada Sasuke dan berniat untuk mengambilnya kembali.
Sang master membantai habis hampir seluruh clan-clan siluman besar di Surga. Akibatnya clan Uchiha diusir dari Surga. Clan Uchiha menjadi panik, mereka tak mengetahui siapa tersangka yang sebenarnya. Sang Master menyarankan untuk menyerang dunia Neraka yang saat itu sedang mengalami kekosongan kekuasaan.
Akhirnya, dengan Sasuke sebagai penyerang utama, dunia Neraka pun dapat ditakhlukkan. Sang master menjadi Dewa Neraka yang baru. Tapi itu semua tak selesai sampai di sini. Justru inilah awal mulanya. Sang master menyebutkan bahwa Sasuke lah yang menyerang siluman di Surga sehingga mereka diusir. Sasukepun dibuang dari Neraka dan clan Uchiha.
Sasuke kini sendiri, tak tentu arah. Ia tak diterima di Surga, Neraka pun membuangnya. Dan bahkan dunia manusiapun sulit menerima kehadiran srigala hitam sepertinya. Ia sungguh putus asa.
Saat itu, hanya seorang gadis kecil lah yang berani mengulurkan tangannya. Awalnya ia menggeram. Ia tak ingin mempercayai siapapun lagi. Ia tak ingin dibuang lagi. Ia tak ingin dikhianati lagi.
'Kemarilah, jangan takut~'
Sasuke bergeming sesaat mendengar suara lembutnya. Tapi kemudian kesadarannya segera pulih dan menyerang lengan kecil itu dengan taringnya. Tangan gadis kecil itu terluka. Ia meringis kesakitan. Air matanya jatuh perlahan. Sesaat Sasuke merasakan sesak dalam hatinya. Awalnya ia juga merupakan siluman Surga kan…?
'Aku…takkan… melukaimu. Ja…ngan takut…'
Gadis merah muda itu berbisik di sela tangisannya. Ia seakan memberi ketenangan untuk Sasuke. Saat Sasuke telah melepas gigitannya, gadis itu telah terkapar tak sadarkan diri. Ia menjilati darah yang mengalir deras dari lengan kecil itu. Ia menyesal, menyesal telah melukainya. Ia ingin bisa melindungi gadis ini. Ia memohon dalam hati… Dan dewi pun mengabulkan.
"Sasuke?"
Kini giliran Sasuke yang tersentak mendengar panggilan masternya itu. Ia melirik, dan mendapati Sakura yang menatapnya bingung.
"Ah, saat ini ada orang yang kusayang."
"Hem? Benarkah? Siapa?"
Sasuke menoleh. Ia menatap Sakura. Sakura yang merasa ditatap dalam-dalam oleh onyx Sasuke hanya bisa menunduk malu sambil sesekali memainkan rambut panjangnya.
"Orang itu tak berada jauh dariku." Sasuke pun tersenyum lembut.
Sakura terpesona. Ini pertama kalinya ia melihat Sasuke tersenyum. Pertama kalinya ia merasakan debaran jantung yang seakan ingin meloncat keluar dari tubuhnya.
"Sa…Sasuke, apa kau sudah tahu cara ritual penguncian kekuatanku itu?"
"Hn. Aku tahu." Mendengar ucapan Sakura, Sasuke segera mengalihkan perhatiannya kembali ke luar jendela.
"Apa… eum..itu… Apa kau… mau melakukannya bersamaku?" Sakura menunduk. Sungguh kalau ada lubang di bawahnya, ia ingin segera bersembunyi di sana. Ia sangat malu sekarang mengatakan hal itu kepada Sasuke.
"Aku tak bisa."
.Dheg.
Jawaban Sasuke seolah menjadi sambaran petir bagi Sakura. Hatinya berdenyut perih. Ekspresi malu itu kini telah berubah pucat.
"Ah… begitu ya… em… ba..baiklah."
Sementara itu tanpa diketahui Sakura, Sasuke mengepalkan tangannya erat. Ia menahan segala rasa yang ada.
-ooOoo-
Sasuke terdiam duduk di atas pohon di teras rumah master-nya itu. Tempat favorite-nya untuk menghabiskan waktu. Sasuke bisa merasakan aura itu lagi. Aura yang selalu menginterupsi keinginannya untuk sendiri.
"Gaara, bisakah kau sesekali membiarkanku sendiri?" seru Sasuke malas.
"Bukankah sudah berkali-kali kubilang kau tak sendiri. Apakah itu cara hidup srigala?"
"Hn"
"Lagipula penguin selalu hidup berdampingan."
"Kau datang bukan untuk membicarakan hal ini bukan?"
Gaara terdiam. Ia bisa membaca suasana. Dan saat ini dapat dipastikan suasana Sasuke sedang buruk. Sesuatu parti telah terjadi.
"Ritual penguncian harus segera dilakukan. Kuil Kaitsuku telah hancur, kita tak memiliki tempat untuk memulihkan kekuatan kita. Akatsuki juga pasti sedang memulihkan tenaga."
"Kalau begitu lakukan saja."
"Hey, Sasuke."
"Hn."
"Apa perasaanmu telah berubah?"
Sasuke terdiam. Perasaan yang mana? Perasaan untuk melindungi Sakura tak pernah berubah, meski pada akhirnya ia harus melawan clan-nya sendiri atau bahkan melawan kakak yang disayanginya itu. Ia sudah siap menanggungnya. Lantas apa ada perasaan lainnya?
"Kau menyadarinya kan? Sakura-hime menaruh hati padamu. Ia ingin melakukan ritual itu denganmu."
"Aku tak bisa, Gaara."
"Perasaanmu pada Sakura-hime… telah berubah, kan?"
Ucapan Gaara begitu menusuk ke relung hati Sasuke. Rasa sesak menjalari tubuhnya seketika. Ia tak mengelak. Perasaan ingin melindungi itu berubah menjadi sesuatu yang menginginkan Sakura lebih. Menginginkan sosok Sakura hanya menjadi miliknya. Itu merupakan keinginan egois yang tak bisa dilakukannya.
"Aku tak menyalahkanmu. Kami semua tak menyalahkanmu. Kita memiliki rasa yang hampir sama. Kita hanya bisa mengikuti segala perintah dari Sakura-hime. Segala ucapannya adalah perintah yang harus dituruti."
"Tapi kaupun tahu resikonya kan, Gaara."
"Ternyata sejak awal kau memang telah mengakui perasaanmu, ya…" Gaara memejamkan matanya. Menikmati helaian angin yang melaluinya.
"Maksudmu?"
"Kau menolak melakukan ritual itu dengan Sakura-hime karena kau takut tak bisa berada lagi di sampingnya kan?"
Sasuke kembali terdiam. Gaara benar-benar bisa membaca jalan pikirannya yang bahkan ia sendiripun sulit untuk mengetahuinya.
"Hoy!" tiba-tiba sebuah suara datang tak jauh dari sana. Sasuke dan Gaara menoleh, ia mendapati Naruto yang datang mendekat dengan cengiran rubah khasnya.
"Darimana kau, Rubah?" ucapan Gaara segera mendapat perhatian lebih dari Naruto. Atau tepatnya perhatian tak suka dari Naruto.
"Hey! Kenapa kau jadi meniru Kiba si Puppy itu!" pekik Naruto yang disusul dengan tawa ringan gaara dan dengusan Sasuke.
"Oh ya, kemana Kiba? Biasanya kalian mesra bersama."
"Gaara, kau sudah bosan hidup ya…" geram Naruto. "Dia kini sedang bersama Sakura-hime."
"Sakura?" Sasuke menoleh. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk. Begitu pula dengan Gaara. Naruto yang tak merasa ditatap hanya memajukan mulutnya seakan merajuk.
"Iya, mereka akan segera melakukan ritual penguncian."
.Dheg.
"Apa?!"
Sasuke langsung meloncat turun dari pohon itu dan bergegas masuk ke rumah. Ia menuju ke kamar Sakura, di sana ia menemukan Shion tengah berjaga di depan pintu kamar.
"Minggir!" pekik Sasuke. Shion segera memasang segelnya untuk menahan Sasuke.
"Jangan ganggu mereka, Sasuke!" seru Shion tak kalah kencangnya.
"Biarkan aku masuk!" Sasuke masih berusaha untuk menembus masuk segel yang dibuat Shion.
"Ini hanyalah ritual penguncian! Takkan lama!"
"Aku takkan membiarkannya!"
Seketika mata onyx Sasuke berubah menjadi merah pekat. Inilah dia. Kekuatan legendaris dari keturunan Uchiha. Sharingan. Mata merah darah yang membuat lawannya tak berkutik. Tak ada yang mampu menandinginya. Kecuali… oleh sesama pemilik Sharingan itu, alias keturunan Uchiha juga.
Sasuke segera menerobos masuk. Ia mendapati Kiba yang kini sudah berada di atas Sakura dengan keadaan mereka yang sudah tanpa pakaian. Sasuke bisa merasakannya. Aura Sakura kini sudah menguat, gelombang sihirnya telah stabil. Mereka telah melakukan ritual itu.
"Sa..hah..hah…suke?" suara Sakura yang masih berusaha mengatur nafasnya membuat Sasuke geram. Taringnya keluar seketika, tubuhnya masih separuh manusia dan separuh srigala. Mata Sharingan-nya berubah pola. Itu Mangekyou Sharingan. Kekuatan yang diberikan oleh kakak yang disayanginya. Kekuatan yang telah membuatnya diusir dan dibuang.
"Sasuke! Gawat! Kekuatannya bangkit!" Gaara yang baru datang dan melihat keadaan disana segera meneguk ludah melihat sosok Sasuke saat ini.
Naruto dan Shion yang mengikuti dari belakangpun ikut terkejut. Mereka bisa merasakan betapa kuatnya kekuatan yang dimiliki Sasuke saat ini. Dengan kekuatan mereka yang belum stabil, mereka takkan mampu untuk melawan Sasuke.
"Tidak…akan kubiarkan!"
Sasuke meloncat dan menyeret tubuh Kiba turun dari atas ranjang Sakura. Ia segera melancarkan pukulan kerasnya bertubi-tubi ke wajah Kiba. Gaara akan segera mendekat, kalau saja Shion tak mencegah tangannya.
Bhag Bhug Bhug
Pukulan itu benar-benar membuat Kiba tak sadarkan diri. Sakura yang melihat itu tak segera tinggal diam.
"Sasuke!" pekiknya. Sasuke pun menghentikan pukulannya. Ia menoleh ke arah Sakura yang masih terduduk sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Tatapan Sasuke melemah ketika ia memandang emerald di mata Sakura. Seakan energinya tersegel jauh di dalam dirinya. Tubuhnya seketika melemas dan terjatuh di sebelah Kiba.
"Kiba!" Naruto segera berlari menghampiri sosok Kiba. Ia melihat banyaknya luka dan darah pada tubuh Kiba. Auranya melemah seketika. Naruto meraih tubuhnya dan mendekapnya. "Bertahanlah… kumohon…"
Sakura segera turun dari ranjangnya setelah ia memakai pakaiannya. Sakura menghampiri sosok Kiba. Naruto melirik ke arah master-nya itu. Aura Sakura telah menguat. Kekuatan itu akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.
"Sa..kura-hime…" terbaca dengan jelas ekspresi Naruto yang menginginkan Sakura untuk menyembuhkan Kiba. Dan tentu saja itu memang yang akan dilakukannya.
"Kiba…" Sakura mengarahkan telapak tangannya ke kening Kiba yang sedang tak sadarkan diri itu. "Bangunlah."
Sakura mengaliri tubuh Kiba dengan sihir hijaunya yang menenangkan. Menutup segala luka yang ada dan memulihkan kesadarannya.
"Enn~" Kiba mengerjapkan matanya ia melihat senyuman lega terukir di wajah Sakura, begitu pula dengan Shion dan Gaara yang berada tak jauh dari sana.
"Kiba!" Naruto memeluk tubuh Kiba erat. Membuat sang empunya meringis karena sesak.
"Hey, Hey, Ini pertama kalinya kudengar kau memanggil namaku." Sahut Kiba setengah bercanda.
Senyuman telah hilang dari wajah Naruto dan yang lainnya. Mereka menyadari satu hal. Bahwa aura sihir Kiba telah hilang. Mereka sudah menduganya. Karena inilah efek dari penguncian kekuatan Sakura. Yaitu dengan kehilangan kekuatan sihirnya. Itu artinya… Kiba sudah tak memiliki kemampuan sihir lagi.
-TBC-
Seneng deh makin banyak yang ngeriview... :')
Awalnya Shera gak percaya diri..
Tapi kata-kata dari Review kalian semua jadi pembangkit semangat bagi Shera..
Arigatou..
Mind to review?
Keep trying my best!
~Shera~
