This Chapter Dedicated to: Pirad, cinta q. Thanks for ribut-ribut at review box, I love you so so much! btw, you owe me an update too.

.

.

.

"Kenapa belum siap?" Taehyung mengernyit heran ketika pagi itu Jungkook keluar dari kamarnya hanya memakai celana kolor tanpa atasan.

"Hari ini kan aku bolos."

"Mana boleh!" Taehyung menyentil dahi Jungkook kesal. "Sana mandi!"

Jungkook mengaduh, beringsut menjauh dari Taehyung sambil mengusap dahinya yang kini kemerahan. "Aku kan mau ambil hasil laboratorium dengan appa!"

O iya.

Taehyung yang malu akhirnya memilih mengalihkan pandangan ke arah ayahnya. "Appa juga bolos?"

"Tentu saja." Pria paruh baya itu menimpali dengan semangat. "Jagoan Korea Selatan ini kan hanya membutuhkan selembar kertas lagi untuk sampai di sana."

Taehyung duduk di samping Jungkook, mengikat tali sepatunya kuat-kuat. "Setelah ini persyaratannya lengkap kalau begitu?"

Ayahnya tersenyum bangga. "Tinggal berangkat saja."

"Woah." Taehyung terkekeh tanpa alasan, mengusak rambut adiknya gemas. "Mimpimu tinggal selangkah lagi, adik kecil."

"Burungmu yang kecil." Jungkook mengerang, menggerutu tentang rambutnya yang mencuat kesana-sini akibat ulah Taehyung.

Sebuah pukulan pelan dari koran yang digulung membuat Taehyung mengaduh pelan, menatap sang ayah tak terima. "Jangan ganggu adikmu, dia sedang gugup."

"Jangan bilang kau mencemaskan hasil tesmu?" Taehyung menebak sebelum tawanya meledak. "Astaga, hanya karena sering flu, bukan berarti kau tidak akan lolos tes dasar konyol."

"Diam, hyung." Jungkook mengeluh lagi, "Minggat sana."

"Appa, Jungkook mengumpat!" Taehyung menunjuk adiknya, mengadu dengan dramatis.

"Kau yang buat gara-gara duluan, Taehyung-ah." Ayahnya menghela nafas, menarik kerah baju anaknya agar menjauh dari Jungkook.

"Apa?! Curang!" Taehyung masih protes, berusaha meronta ketika dimasukkan paksa ke dalam mobil oleh sang ayah. "Jungkook mengumpat, appa!"

Pintu mobil Taehyung ditutup dengan cepat, protesnya sama sekali tidak digubris. "Dah, Taehyung. Belajar yang benar."

.

.

Sejak berada di sekolah, Taehyung hanya menatap lurus ke luar jendelanya, menghela nafas, ganti memandang ponselnya, dan begitu berulang-ulang. Jimin, temannya sejak ia masih belajar menggunakan toilet, menatap Taehyung jengah. "Kenapa sih? Jemuranmu lupa dimasukkan?"

Di luar memang mendung, dan Taehyung lupa apakah jemuran berisi seperangkat pakaian dalam di balkon rumahnya sudah dimasukkan. Tapi bukan itu yang mengganggu pikirannya sejak tadi.

"Jungkook belum menjawab pesanku."

Jimin menghela nafas, lelah dengan sifat posesif temannya. "Memangnya ia sekurang kerjaan apa sampai harus menggenggam ponsel selama 24 jam penuh?"

"Bukan begitu." Taehyung mengerang. "Hari ini hasil tes medical check-up keluar. Ia janji akan segera mengabari hasilnya."

Jimin mengangguk maklum, sok memahami. "Tenang saja, si imut itu kan sekuat kuda, ia pasti baik-baik saja."

"Ia memang baik-baik saja." Taehyung memutar bola mata, menggeliat untuk menjauhkan tangan Jimin yang menepuk pundaknya simpatik. "Tapi hasil tes ini digunakan sebagai syarat wajib untuk ikut seleksi Kejuaraan Atletik Asia semester depan. Kau tahu sendiri betapa berarti lomba itu untuknya."

"Well, dia belum pernah cedera serius kan?" Jimin masih berusaha menghibur. "Dia akan baik-baik saja, Tae."

Taehyung baru saja akan menggumamkan hal yang sama ketika ponselnya mendadak berdenting, menampilkan satu pesan panjang yang membuatnya mengernyit selama 30 detik sebelum kemudian berlari dengan langkah berdebam keluar kelas. Sepenuhnya mengabaikan teriakan Jimin dan tasnya yang masih tergeletak di bangku.

Ia berlari lurus-lurus ke parkiran, memacu mobilnya dengan kecepatan gila. Terdengar suara gesekan ban dengan roda ketika ia menghentikan mobil mendadak di depan gerbang bercat putih yang sudah amat familiar.

Taehyung tergesa turun dari mobil, membuka gerbang dengan sekali tarik, namun gerakannya terhenti seketika.

Jungkook ada disana, 10 meter dari tempat Taehyung berdiri, duduk memeluk lututnya tanpa mempedulikan sekitarnya. Ia terlihat begitu kecil, begitu hancur.

Taehyung menarik nafas panjang, menenangkan nafasnya yang memburu, sebelum berjalan kearah Jungkook dan berlutut di depannya.

"Hey, Cookies."

Adiknya mendongak, menampilkan wajah sembab dan hidungnya yang kemerahan. Menghancurkan Taehyung hingga ke setiap inci sel terkecilnya. Jungkook tak pernah memperlihatkan kesulitannya sebelumnya. "Hyung kenapa disini?"

Taehyung tersenyum, memilih mengabaikan pertanyaan barusan. Tangannya terulur untuk mengelus surai Jungkook. "Ayo masuk."

Jungkook tidak menjawab. Suara ribut rintik hujan yang bertubrukan dengan tanah sudah mulai berkurang, berganti dengan suara gaduh dari dalam rumah. Isakan, jeritan, teriakan tentang betapa tidak adilnya hidup.

Taehyung meletakkan kedua telapak tangannya di sisi kepala Jungkook, menutupi telinganya rapat-rapat dari suara mengganggu itu. Mata Jungkook berkaca-kaca, menatap lurus-lurus kearah Taehyung seolah memohon pertolongan. Hyung-nya memotong jarak diantara mereka, menempelkan dahinya dengan dahi Jungkook.

"Ssh, semua akan baik-baik saja, Jungkookie. Semuanya."

Mata Jungkook mulai basah lagi. "Hyung tidak akan meninggalkanku?"

"Tidak akan pernah."

"Bahkan jika ada Miranda Kerr yang telanjang di sini?"

Taehyung menjauhkan wajahnya untuk melihat ekspresi Jungkook. Si imut itu mengusap-usap matanya yang indah, tersenyum tengil seolah tidak terjadi apa-apa.

"Well, selama itu bukan Maria Ozawa sepertinya aku masih bisa tahan." Taehyung terkekeh mengimbangi ekspresi Jungkook, mengusak surai adiknya yang tebal. "Nah, sekarang, what about some nap?"

Jungkook menatap gerimis yang masih berjatuhan. Udara dingin memang membuatnya mengangguk, jadi ia menurut saja ketika digiring ke dalam rumah, melewati ayahnya yang masih terisak-isak.

Mereka berbaring berdampingan, dengan jemari bertautan. Taehyung melarikan sebelah tangannya lagi ke surai Jungkook, menguarkan harum mint ke udara. "Terakhir kali kau meminta hyung menemanimu tidur itu saat kau masih takut dengan petir."

Jungkook tidak menjawab, elusan jemari Taehyung di kepala telah membuainya ke alam mimpi. Taehyung membeku di posisi yang sama selama beberapa saat, menikmati menatap wajah adiknya yang luar biasa menawan, mengelap bekas air mata di pipinya.

Ia lupa, kapan Jungkook terlihat begitu membutuhkannya begini.

.

Tidak butuh waktu lama hingga terdengar suara desau nafas teratur Jungkook, membuat Taehyung melepas genggamannya dengan hati-hati, melangkah keluar sambil berjingkat agar adiknya tidak terbangun.

"Jungkook sudah tidur?"

Taehyung mengangguk ke arah ayahnya, ikut bergabung di meja makan. Pria paruh baya itu menghela nafas panjang, mengusap rambutnya yang keperakan karena usia dengan gerakan lelah. Keriput-keriput di sekitar mata dan dahinya terlihat semakin jelas. "Maaf sudah menyuruhmu membolos. Appa tidak bisa melihat adikmu menangis."

"Dokumennya." Taehyung menyodorkan tangannya yang gemetar, "Berikan dokumennya, aku akan mencari dokter lain."

"Tae –"

"Dokumennya!" Taehyung mengumpat tertahan, tak bisa menaikkan volume suaranya karena khawatir Jungkook terbangun.

Persetan dengan pengendalian diri. Sudah cukup. Ia hanya ingin memastikan segalanya sebelum bergelung dan menangis sekuat tenaga. Ia harus melihatnya sendiri, mengusahakan segala yang bisa ia lakukan, sebelum turut hancur bersama ayah dan adiknya.

Ia harus melakukan sesuatu. Apapun itu. Apapun yang bisa membuatnya terbangun dari mimpi buruk yang sepertinya tiada akhir ini.

Menghela nafas, ayahnya menarik keluar selembar kertas dari amplop coklat yang sedari tadi tergeletak di meja.

Ada tabel-tabel dengan tulisan asing dan sederet angka yang tidak Taehyung pahami. Matanya menelusuri satu persatu baris, hingga sampai di tulisan:

.

Final result:

Positive for HIV antibody.

.

Tidak perlu menjadi super jenius untuk memahami kalimat itu.

Taehyung bisa merasakan dunianya berhenti berputar saat itu juga. Segalanya mendadak kabur, dan ia terombang-ambing, berulangkali mensugesti otaknya agar segera bangun, namun tentu saja gagal karena ini bukan mimpi.

Ini adalah kenyataan mengerikan yang tak akan bisa berubah, tak peduli seberapa jauh ia mencoba lari.

Jadi yang bisa Taehyung lakukan hanyalah memeriksa data diri adiknya yang tercantum di bagian awal surat laporan pemeriksaan laboratorium itu, membacanya puluhan kali walaupun jelas tak ada yang berubah.

Jeon Jungkook, 15 tahun.

Jeon Jungkook, 15 tahun.

Jeon Jungkook, 15 tahun.

"Appa yakin hasil ini tidak tertukar dengan milik siapapun?"

"Tae -"

"Maksudku, siapapun bisa melakukan kesalahan bukan? Apalagi sebuah laboratorium besar yang selalu sibuk. Mungkin saja sampel Jungkook tertukar dengan milik orang lain?"

"Tidak. Aku sudah memastikannya."

"Oh, dan appa juga bisa saja tak teliti." Taehyung tertawa canggung, berdiri dari kursinya. "Aku akan kesana lagi untuk memastikan."

Dan tepat pada saat itu, ponselnya berbunyi.

.

Jimin is calling…

.

Sesuatu segera terlintas di pikiran Taehyung. "Jimin-ah, ayahmu di rumah?"

Jimin bahkan belum sempat mengucap kata halo. "Eh? Di jam-jam seperti ini ia biasanya di rumah, makan siang dengan eomma, dan –"

Taehyung tidak menunggu kata selanjutnya, tak juga menghiraukan teriakan bingung sang ayah. Ia memacu mobilnya ke rumah Jimin, menghambur masuk tanpa permisi, mengejutkan sang pemilik yang sedang menikmati makan siangnya.

"Lho, Taehyung-ah? Ada apa?"

Taehyung membungkuk dalam, menaruh hasil pemeriksaan Jungkook di meja. "Bisa tolong periksa ini, abeonim?"

Ia dan Jimin sudah bersahabat sejak lama, saling mengenal keluarga masing-masing dengan amat baik. Tapi kali ini rasanya aneh meminta bantuan dari ayah Jimin. Tiba-tiba saja ia ingin membawa amplop itu kembali, berlari sejauh mungkin dari kenyataan. Tapi sudah terlambat karena ayah Jimin sudah membukanya dengan wajah heran, membaca sebentar isinya sebelum berpaling ke arah Taehyung, "Jadi, apa yang ingin kau ketahui?"

"Isinya." Taehyung menyahut cepat. "Apakah isinya benar?"

Menghela nafas panjang, dokter itu mengangguk, tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Taehyung. Ia tak perlu bertanya siapa pemilik kertas itu, marga Jeon yang tertera disana sudah menyatakan segalanya.

"Tolong periksa sekali lagi." Mohon Taehyung terbata, mengerjapkan matanya yang perih. "Tolong."

Ayah Jimin berdiri dari kursinya, menepuk bahu Taehyung pelan, "Taehyung-ah, kurasa kau –"

"Bisa saja terjadi kesalahan."

"Dengar –"

"Ada kemungkinan terjadi kesalahan kan?" Taehyung sudah tak memedulikan sopan santun lagi, yang ada di otaknya hanya bagaimana cara mengonfirmasi kebenaran ini secepatnya. "Jungkook tidak mungkin divonis sakit seperti ini. Ia baik-baik saja sebelumnya!"

Tepat sebelum Taehyung kehilangan kendalinya, pintu menjeblak terbuka. Ada Jimin dengan wajah merah dan nafas terengah, yang segera menarik Taehyung menjauh dari ayahnya.

"Aku menelpon ayahmu di perjalanan kemari, jadi aku sudah tahu semuanya." Jimin menatap Taehyung dengan mata merah, mengabaikan dorongan kuat dari Taehyung yang masih kesulitan menahan diri.

"Aku tak peduli. Minggir! Aku perlu bicara dengan ayahmu!"

"TAE!" Jimin tak dapat lagi menahan diri, "Jungkook adalah calon atlet yang akan berlaga di tingkat internasional, dan pikirmu hasil laboratoriumnya tidak dikerjakan dengan teliti?"

Taehyung terengah berusaha menahan emosinya, disudutkan tangan kekar Jimin di dinding. "Semua omong kosong ini di bawah campur tangan para petinggi organisasi renang itu! Digarap dengan pengawasan khusus, bahkan mereka mengetahuinya lebih dulu dari kita, dan pikirmu ini sebuah kesalahan?!"

"Ya, ini sebuah kesalahan!" Taehyung menghempas kuat tangan Jimin yang mencengkeram kerahnya. "Jungkook? Kau percaya Jungkook sakit?" matanya menyorot penuh luka, sepenuhnya menolak mempercayai kenyataan. "Kalau ia yang sesehat itu disebut pasien, maka aku pasti orang mati. Dia kuat! DIA TIDAK SAKIT!"

"Aku tidak peduli dengan apa yang appa dan tua bangka petinggi Jungkook itu katakan. Aku akan membawa Jungkook untuk medical check up lagi. Tiga kali, ah tidak, setidaknya lima kali. Aku tidak peduli jika tabunganku habis. Tidak penting. Yang jelas kami bisa memastikan ia baik-baik saja."

Hening sejenak. Mereka berpandangan dalam diam, terlihat begitu marah.

"Ya, lakukan itu. Sakiti adikmu sana." Jimin sudah berada pada batasnya, lelah menanggapi versi pikiran kekanakan Taehyung. Memikirkan Jungkook saja sudah membuat Jimin seolah merasakan rasa sakit mengerikan, apalagi jika berada di posisinya? "Kau pikir ia senang dengan vonis ini? Kau pikir ia tidak ketakutan?!"

"Seluruh kekalutannya sudah cukup besar, dan masih ingin kau tambah dengan deretan check up bodoh itu!" Jimin berteriak, suaranya kian melemah. "Coba bayangkan perasaannya jika mengetahui bahwa kakaknya sendiri menolak mempercayai penyakit yang ia derita?"

"Kau pikir di situasi seperti ini, tindakanmu itu penyelesaian terbaik?! Perbuatan jenius?!"

Taehyung terjatuh pada lututnya, menangkup wajah dengan kedua tangan, berharap itu akan membuatnya terbangun dari mimpi buruk ini. Ia tidak menangis, tentu saja. Taehyung tak pernah menangis. Tapi hatinya hancur lebih dari apapun.

Jimin berdiri di tempatnya, membiarkan Taehyung tenggelam dalam rasa penyesalan, suatu hal yang selalu ia rasakan setiap membiarkan emosi mengambil alih pengendalian dirinya.

Taehyung melampiaskan seluruh kemarahannya tanpa suara. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan, mengusap wajahnya kasar dengan helaan nafas kuat untuk berfikir jernih.

"Pulanglah. Ayahmu membutuhkanmu. Jungkook membutuhkanmu."

.


TBC


.

Jangan bunuh aku ya cintaku :'

No comment aja deh buat chapter ini, takut kalian ngamuk.

Btw, aku mau publish ff baru, dark themed gitu, dan mellow af. Ada 3 pairing lho disana, kalian mau baca nggak?

Dan seperti biasa, terimakasih sudah membaca!

.

.

XOXO, Kim Ara