Copyright © 2015 by Happyeolyoo

All rights reserved

.

.

Skit Soulmate's Squel

Genre : Drama, Romance

Rate : M

Pairing : HunHan as Maincast. With other Exo Members as well.

Length : Oneshoot

Warning : Genderswitch. Miss typo(s).

Disclaimers : Saya hanya meminjam nama dari mereka untuk menemukan inspirasi dan membaginya dalam bentuk karya sastra. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang sedikit melebihi ambang batas wajar. Hargai kerja keras author dengan mengklik tombol review dan tulis beberapa tanggapan. Muak dengan cast atau plot cerita? Just click a close button on your web browser, guys. Wanna chitchat? Click on PM button. Don't bash any cast or other, please.

Summary : Awalnya, Sehun punya hubungan erat di antara dua cewek cantik; Zitao sebagai pacarnya, dan Luhan sebagai sahabatnya yang kekanakan. Hubungan Sehun dengan dua wanita itu masih baik-baik saja selama Sehun masih bisa mengendalikan perasaannya. Namun ketika perasaan lain memaksa untuk kembali dan mengendalikan semuanya, perlahan, hal yang dipertahankan akan hancur.

"Hai."

Sehun tertegun ketika mendapati sosok mantan kekasihnya yang cantik berdiri tepat di depan pintu kelasnya dan melempar salam hangat diiringi senyuman menarik. Desir aneh merambat di dada hingga dia kesulitan untuk menghirup udaranya sendiri. Kerinduan yang sudah lama ditimbun oleh kebahagiaan bersama cewek lain perlahan-lahan berontak dan menyatakan ingin eksis kembali. Dirinya tergoda hanya karena sebuah senyuman dan sapaan hangat. Dia masih seperti dulu.

Mereka masih seperti dulu.

"Hai," Sehun menanggapinya dengan nada yang distabilkan sebaik mungkin. Secara naluriah kakinya melangkah mendekat hingga keduanya berhadap-hadapan. "Mencari siapa?"

Gadis itu memutar mata begitu mendengar pertanyaan Oh Sehun. Senyuman masih berkedut pada belah bibirnya yang menarik, lantas dia mengulum bibir sebelum berucap. "Mencarimu, tentu saja," ujarnya sembari membenarkan letak tali tas yang menggantung di pundak.

Sehun terkejut. "Oh, ya?"

"Kutraktir kimbab dan kita bicara di kantin. Call?"

"Oke."

Sehun mengiyakan tanpa bisa melontarkan setitik kebimbangan yang sudah dilenyapkan oleh kerinduan. Gadis tinggi yang lencir itu terkikik senang lantas keduanya berjalan menyusuri lorong kampus. Sepertinya dia lega sekali setelah mendapat persetujuan itu dari Sehun.

Mereka sudah lama tidak saling tegur-sapa; semenjak kejadian di mana Huang Zitao memergoki Oh Sehun sedang mencoba menerkam sahabat kecilnya di atas ranjang di apartemennya. Mungkin waktu itu Sehun marah pada Zitao karena sebelumnya telah memergoki Zitao tidur dengan Kris. Sebelum-sebelumnya, Zitao mencoba meminta maaf dan melakukan apa pun demi mendapatkan kata maaf dari Oh Sehun.

Sebenarnya, Huang Zitao tidak punya niat untuk kembali bersama Sehun sebab Kris sudah datang ke sisinya. Tetapi setelah empat bulan menjalani hubungan jarak jauh dengan Kris, Zitao tidak bisa memungkiri jika sedikit-banyak dia merindukan sosok Sehun. Kris memang tidak bisa ditinggalkan, tetapi lama kelamaan Zitao merasa kesepian. Kris selalu sibuk dengan pekerjaan; dan Zitao lebih sering ditinggal sendiri. Bahkan selama sebulan belakangan, Kris belum mengunjungi Zitao di Korea.

Tidak disangka jika Huang Zitao akan kepikiran untuk menemui Oh Sehun, bahkan makan bersama di kantin kampus seperti sekarang ini.

"Kau masih suka kimbab, 'kan?" Huang Zitao bertanya ketika mereka sudah dihadapkan dengan tiga porsi kimbab yang tampak enak. Sehun mengangguk dan senyuman di bibir Zitao semakin lebar. "Seperti dulu. Dugaanku tidak meleset."

Senyuman Zitao bahkan seperti dulu; nyaris tidak ada yang berubah pada mantan gadisnya. Sehun berpikir jika kerenggangan hubungan mereka yang diakibatkan oleh kedatangan mantan kekasih Zitao akan segera terlupakan jika Zitao terus merecokinya dengan senyuman. Kerasionalannya sedang dikacaukan oleh tatapan hangat dan menyenangkan dari mata panda Zitao. Sehun kesulitan untuk berpikir jernih.

"Oh, ya," Zitao kembali bersuara ketika sumpit yang dipegangnya baru akan menjepit sebuah potongan kimbab. Dia urung untuk menyosorkan kimbab pada mulutnya dan malah menekuk salah satu siku. "Kuperhatikan .., hubunganmu dengan Luhan sangat dekat."

Luhan?

Sehun memang terkejut ketika nama Luhannya meluncur dari bibir tipis Zitao. Tetapi dia lebih dikejutkan dengan kata kuperhatikan yang mengawali kalimat pernyataannya. Itu berarti, Huang Zitao sering memerhatikan dirinya bahkan saat mereka sudah putus, bukan?

Sehun meraih gelasnya dan meneguk isinya. "Ya," jawabnya.

"Teman-temanku bilang kalau kalian pacaran."

Sehun baru akan mengatakan ya, tetapi suatu sisi dalam dirinya menjerit untuk memikirkan apa yang akan dikatakan oleh lidahnya. Huang Zitao adalah lawan bicaranya. Jika Oh Sehun tidak ingin mengacaukan semuanya, maka dia harus berhati-hati dalam berucap kata.

Seingatnya, Huang Zitao mudah sekali ngambek jika dia salah ngomong.

Tetapi Sehun sama sekali tidak bisa menyakiti Luhan. Gadis itu sudah terlalu sering tersakiti karena sudah menyimpan perasaannya selama sekian tahun. Hubungan mereka baru dimulai, Luhan juga tampak bahagia jika sedang bersamanya.

Tetapi, kenapa sisi batin Sehun memberontak secara terang-terangan?

Sehun meletakkan sumpitnya dan menghela napas. "Begitulah."

Air muka Zitao tercoreng oleh keterkejutan. "A-aku sedang memikirkan sesuatu selama 4 bulan belakangan, Sehun."

Tatapan Sehun terarah tepat ke wajah panik Zitao. "Tentang apa?"

Zitao mengedikkan bahu, coba melempar gestur ringan demi menyembunyikan kegugupannya. "Kita."

"Apa itu?"

"Bukankah kita tidak seharusnya berpisah seperti ini?"

Oh, akal sehat Sehun tertawa meremehkan hingga taring-taringnya yang tajam terlihat. "Kau yang membuatku memutuskanmu."

"Ya, aku tahu. Maafkan aku," Zitao menggigit bibir, diam-diam berhasil membuat Sehun meronta karena permintaan maaf itu. "Tetapi, kukira, kita perlu mencoba sekali lagi untuk mencari yang terbaik."

"Maksudmu?"

"Kau bisa memilih Luhan atau aku, terserahmu. Tetapi, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Jika kau lebih merasa nyaman denganku, maka, putuskan Luhan dan kita bersama seperti dulu."

Sebelah alis Sehun naik hingga menimbulkan kerut-kerut di dahi. "Zitao," panggilnya tidak yakin. "Apa yang—"

"Kris memang cinta masa laluku dan kupikir aku masih mencintainya," Zitao menginterupsi kalimat yang akan terucap dari Sehun. Pandangannya mengedar karena ada bulir air mata yang nangkring di kelopak matanya. "Tetapi setelah 4 bulan berpisah denganmu, aku baru menyadari jika aku hanya butuh kau, Sehun."

Huang Zitao memang sialan benar. Setelah dia kepergok sedang bercinta dengan mantan kekasihnya, sekarang dia memohon pada Sehun untuk kembali memikirkan semuanya. Sehun kira jika dirinya memang benar-benar muak dengan Zitao. Tetapi setelah gendang telinganya menangkap permintaan tersebut, keteguhannya mulai goyah. Ditambah lagi dengan setitik liquid di pucuk mata Zitao, hal itu makin membuat Sehun merasa lemah.

"Ayo jalani saja selama satu atau dua bulan, Sehun. Denganku," Zitao kembali berucap. Kali ini kepalanya tertunduk dan air mata mulai menetes dari matanya. Suaranya terdengar bergetar samar dengan diikuti oleh bahunya. "Kris selalu meninggalkanku dan aku benci ditinggalkan."

Benar. Huang Zitao memang selalu haus perhatian. Ketika Zitao dan Sehun masih pacaran, gadis itu akan selalu minta diperhatikan. Dia tidak bisa menerima penolakan, tetapi dengan senang hati, Oh Sehun selalu menuruti permintaannya. Entah kenapa.

"Please, Sehun," Zitao menatap wajah Sehun lekat-lekat dengan matanya yang basah. "Kembalilah padaku."

OoO

Luhan terus dibayang-bayangi oleh perasaan takut kehilangan begitu dia pulang dari kampus. Perasaannya terombang-ambing hingga memunculkan stereotip di otaknya. Keyakinan mengelupas dari dinding kepercayaan, mungkin sebentar lagi akan habis jika Luhan tidak meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.

Semua bermula ketika ketika Luhan baru akan menjemput Sehun yang baru selesai kuliah di kelasnya. Dia punya rencana untuk mengajaknya makan kimbab di sebuah restoran keluarga yang baru dibuka di distrik Baeng-dong. Dia pikir, Sehun akan senang sekali ketika Luhan mengajaknya pergi untuk membeli kimbab.

Tetapi, Sehun malah bertemu cewek lain dan makan kimbab di kantin kampus. Sepenuhnya bukan salah Sehunnya, Luhan lebih dominan memaki cewek tidak tahu malu yang sudah mengajak Sehun untuk pergi seenaknya. Luhan sudah tersakiti ketika dirinya memergoki ekspresi seperti apa yang terlukis di wajah Sehun; semacam setengah salah tingkah atau apa pun itu. Luhan tidak bisa memastikannya karena dia benar-benar tidak mau.

Luhan tidak mencoba untuk pergi mengendap dan mencuri dengar apa yang sedang mereka bicarakan. Tubuhnya hanya berdiri di pintu masuk kantin sambil memegang tas tangannya erat-erat, memandangi dua sejoli itu sambil menahan gejolak untuk pergi menghampiri mereka. Sehun dan Zitao tampak berbincang serius; beberapa saat setelahnya Zitao malah tampak ingin menangis. Bibir tipis Zitao komat-kamit melempar kalimat pendek. Dan tindakan yang diambil Sehun berikutnya adalah menghapus air mata Zitao dengan jemari tangannya.

Hal yang jelas-jelas menyakiti Luhan. Seketika itu pula, Luhan langsung berbalik pulang ke apartemen Sehun dan menangis di dalam kamar mandi. Tiga jam mengurung di sana, lalu kesadarannya ditarik ke dalam raga ketika ketukan pintu kamar mandinya terdengar. Lalu disusul oleh suara Sehun.

"Lulu, kau di dalam?"

"Y-ya!" Luhan terkesiap dan membasuh wajahnya yang basah dengan air mandinya. Tubuhnya langsung bangkit meninggalkan bak mandi dan menghampiri mantelnya yang tergantung di gantungan logam, memakainya kilat lantas membasuh wajahnya dengan air dingin di wastafel.

"Boleh aku masuk?"

"Aku segera keluar," Luhan mematikan kran wastafel, menepuk-nepuk pipi dan dahinya sebentar demi memastikan jika penampilannya tidak buruk, dan melesat keluar dari kamar mandi. Dia sempat terkesiap kaget ketika mendapati Sehun yang berdiri tepat di depan pintu kamar mandi, bertolakan pinggang.

"Jangan terlalu lama berendam, kau bisa masuk angin," Peringatan yang sudah sering didengar oleh Luhan, kembali terlontar dari Oh Sehun.

Luhan hanya mengangguk sambil menggigit bibir. Entah kenapa matanya terasa panas ketika menatap wajah teduh Sehun di hadapannya. Dia memutuskan untuk pergi menghampiri lemari demi mengambil piyamanya. "Dari mana saja?"

"Hm?" Sehun berbalik dan memandangi punggung Luhan dengan mata memicing. "Kuliah."

"Kukira jadwalnya sudah selesai sekitar tiga jam lalu," Luhan menarik sebuah piyama berwarna merah muda dan mencengkeramnya erat-erat. Sesuatu yang tak kasat mata tiba-tiba datang menusuk kedua matanya, membuatnya kian terasa panas sehingga air mata mulai muncul di sana.

"Ya, tapi ada urusan yang harus kuselesaikan."

"Urusan apa?" Luhan kembali menghampiri kamar mandi.

"Begitulah."

"Oh," Luhan hanya melontarkan tanggapan sesingkat itu lalu menutup pintu kamar mandi. Sebelah tangannya terangkat dan jemarinya meremas dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. Air mata itu kembali membanjiri pipi, menetes tanpa bisa dikendalikan. Degukannya bisa disamarkan karena Luhan menarik kran wastafel dan suara berisik dari airnya yang memancur memenuhi ruangan sempit tersebut.

Tangan-tangannya kemudian bergerak demi memakai piyama itu pada tubuhnya, berasumsi jika Oh Sehun bisa saja menerobos masuk karena Luhan terlalu lama kalau hanya untuk berganti baju. Sekali lagi dia membasuh wajahnya lantas keluar.

"Kau aneh," Sehun berucap. Bokongnya sudah duduk di kursi pantri dapur, tangannya menggenggam pegangan cangkir yang berisi teh hangat yang dicampur susu vanilla.

"Aku hanya terlalu lelah," Luhan melangkah dan merebahkan diri di atas ranjang.

"Ada apa?"

"Mengantuk," Luhan memejamkan mata ketika Sehun meninggalkan gelas tehnya dan memilih untuk menghampiri ranjang. Bulu halus di sekujur tubuhnya langsung berdiri ketika merasakan sentuhan lembut dari telapak tangan Sehun yang jatuh pada pipinya.

"Ada apa, huh?" Sehun memperpendek jarak di antara wajah mereka sehingga desah napasnya bisa menerpa keseluruhan wajah Luhan. "Ayo katakan, Sayang. Aku tahu kau sedang menyimpan sesuatu."

"Tetapi tidak ada," Luhan mencoba memiringkan tubuhnya, membelakangi Sehun demi menyembunyikan binar kegelisahannya. "Bisakah kau hanya diam dan tidur di sampingku?"

Sehun segera membaringkan tubuhnya di ranjang begitu selesai mengganti pakaian secara kilat. Hanya butuh sekitar tiga menit dan kini dia sudah memeluk Luhan dengan dua lengannya. Wajahnya terselip di perpotongan leher Luhan hingga paru-parunya dipenuhi oksigen bercampur harum tubuh gadisnya.

"Entah apa yang kau sembunyikan, aku benar-benar tidak tahu," Sehun mengeratkan pelukannya. "Tetapi aku benar-benar berharap aku bisa membantumu menyingkirkan kecemasan itu."

Luhan terdiam selama beberapa saat, berkutat dengan segala pemikirannya, lalu memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Sehun. Dua lengannya yang sekurus ranting terselip di sekitar pinggang Sehun, melingkar dengan begitu erat dan penuh antisipasi. Wajahnya tertanam di dada Sehun, tersembunyi dengan amat baik di sana.

"Tidak bisakah kau selalu ada di sampingku? Hanya untukku?" Luhan mengutarakan pertanyaan yang cukup mampu membuat Sehun mengerutkan alis.

"Bicara apa kau?" Sehun mencoba menarik kepala Luhan agar bisa menatap dua manik rusa milik gadisnya. "Kau meragukanku?"

Luhan menggeleng dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak melepas pelukannya kendati Sehun memaksa begitu keras. "Tetaplah di sisiku, Sehun. Kau harus berjanji untuk itu."

"Apa sih yang sudah terjadi padamu?" Sehun terheran-heran.

"Kau hanya perlu berjanji tetapi kenapa kau malah bertele-tele begitu?!" Luhan menarik diri dan menatap Sehun dengan kelopaknya yang basah karena air mata. Dengan gerakan teramat lemah, dia mencoba memukul dada Sehun dengan kepalan tangannya.

Kedua mata Sehun membola ketika mendapati Luhan sedang menangis. Dan buruknya, Sehun tidak tahu apa yang mampu membuat Luhannya menangis. Berulang kali dia sudah bertanya tetapi Luhan hanya melontarkan kalimat-kalimat aneh padanya.

"Kalau kau tidak bisa berjanji, aku akan segera pulang ke rumah," Luhan sesenggukan sementara dua telapak tangan Sehun merayapi pipinya. "Aku tidak mau tinggal bersama lagi denganmu."

"Kau kira aku mau kalau kau pergi begitu saja dari apartemenku?" Nada suara Sehun masih terdengar stabil. "Coba ceritakan apa yang membuatmu jadi begini. Jangan membuatku bingung, Lu."

Luhan menggeleng dan bibirnya mengerucut imut. "Tidak mau," ujarnya keras kepala sambil berusaha melepaskan diri dari kungkungan Sehun. "Cari saja sendiri."

"Lu," Sehun setengah mengeram. "Aku sudah lelah bertanya dan seharusnya kau menjawab pertanyaanku."

"Kenapa kau tidak bertanya pada mantan pacarmu saja?!" Luhan mengatakannya dengan nada sedikit membentak. Sedangkan yang dibentak, kini mengerjapkan mata dan mulai terserang disorientasi hebat yang berkepanjangan. Kelopak mata Luhan terpejam sementara mulutnya terkuak menyuarakan tangisan kekanakan yang memekakkan telinga. Tangannya kembali bergerak memukul-mukul dada Sehun. "Kau punya niat kembali pacaran dengan cewek itu, ya? Kenapa pakai mengelus pipinya?"

Oh, astaga. Pelipis Oh Sehun tiba-tiba berdenyut hebat sesaat setelah kalimat itu tertelan oleh udara. Dia nyaris memuntahkan isi perutnya begitu selesai mendengar hal itu dari Luhannya. Suatu kecemburuan yang sudah ditahan oleh Luhan, dan beberapa jam setelahnya dia malah melontarkannya dengan nada tidak santai.

Katakanlah jika Sehun nyaris menertawakan hal tersebut. Tetapi menilik kedaan Luhan yang menangis hebat seperti ini, tawa itu lenyap tak berbekas dan tergantikan dengan raut prihatin yang penuh pengertian.

"Cemburu, ya?" Sehun meraih pergelangan tangan Luhan dan menggenggamnya erat-erat hingga gadis itu tidak mampu menyarangkan pukulan pada dadanya.

"Siapa yang cemburu pada orang plin-plan sepertimu?" Luhan mengatakannya sambil merengek keras. "Apa aku cewek bodoh yang mampu cemburu padamu?"

"Kau tidak bodoh," Sehun tidak bisa menyembunyikan rasa geli yang merambati perutnya saat mendengar hal itu. Sudut bibirnya tertarik ke atas hingga menciptakan seringai jahil. "Tapi kau lebih mirip infantil."

Luhan mendelik. "Sialan kau!"

Sehun menangkup rahang Luhan dan mengecup bibir gadisnya selama lima detik penuh; suatu tindakan yang berhasil menghentikan tangisan itu. "Kau tidak ingin dengar cerita selengkapnya mengenai apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Tao?"

"Tidak mau!" Luhan nyaris menampar pipi tirus pacarnya tetapi Sehun sedetik lebih cepat menahan pergerakannya.

"Benar tidak mau?" Sehun yang sudah gemas dengan tingkah berontak kekasihnya ini, menarik dua lengan Luhan ke atas kepala dan tubuhnya sendiri malah mengungkung Luhan dalam pelukan. Posisinya sudah berada di atas Luhan, dan samar-samar dia mulai menemukan titik kemerahan di wajah gadisnya.

"Lebih baik kau segera menyingkir dari—"

"Aku sudah menolak Zitao demimu, lho,"

Luhan mengerjap dan pemberontakannya terhenti. "Apa?"

Sehun tersenyum puas menanggapi respon Luhan. "Tadi Zitao memintaku untuk memikirkan hubungan kami, dan memang awalnya aku sedikit tergiur," ujarnya dibarengi kekehan menyebalkan, Luhan langsung mengerutkan bibir. "Dia memohon padaku. Tapi aku berhasil untuk tidak tergiur lebih jauh. Kau tahu kenapa?"

Kepala Luhan menggeleng pelan dan terkesan malu-malu.

"Karena tiba-tiba kau muncul di otakku dan mengancamku dengan amat tidak berperikemanusiaan semisal aku memutuskan untuk setuju," Sehun nyengir lebar dan bangga. "Aku hanya memikirkanmu, Lu. Sudah berapa kali aku mengatakan cinta padamu? Kau prioritasku, jadi jangan berpikir kalau aku sanggup berpaling ke cewek lain, apalagi Zitao yang jelas-jelas masih mencintai mantan kekasihnya."

"Kau tidak pernah mengatakan itu," Luhan menentang.

"Tetapi aku baru saja mengatakannya."

"Dan bagaimana bisa aku tidak cemburu jika mendapati pacarku sedang mengusap pipi mantan kekasihnya?!" Irama suara Luhan kembali terdengar sinis. "Kau kira, aku hanya akan diam saja dan menganggap semuanya tidak pernah terjadi?"

"Kupikir kau harus begitu," Sehun bersiul genit lalu sebuah pukulan jatuh menghantam kepalanya. Dia mengaduh penuh protes. "Hei!"

"Hukuman untuk membuatku cemburu," Luhan menarik tangannya demi menghapus jejak lengket menyebalkan yang ditinggalkan air matanya. "Kalau kau tidak mau dipukul, jangan membuatku cemburu."

"Oke. Peringatan diterima," Sehun mengangguk tenang-tenang saja. "Sekarang, mau membicarakan liburan kita?"

OoO

"Aku benci ski!"

Luhan langsung berteriak penuh protes ketika kakinya baru menapak rumah singgah yang sudah disewa atas nama kekasihnya untuk malam ini—dan untuk dua hari kedepan. Erangannya terdengar buruk dan sukses membuat kekasihnya yang baru menutup pintu, tersentak kaget. Luhan melempar sepatu boot hangatnya secara serampangan dan meluncur menuju ranjang, menghempaskan tubuhnya yang masih terbalut baju tebal.

Sehun yang baru meletakkan peralatan skinya di sebelah rak sepatu, kini ikut menghampiri Luhan. "Bersenang-senang?" tanyanya penuh goda diikuti oleh kekehan renyah.

"Bercanda," Luhan menarik sebuah bantal dan menjadikannya sebagai sandaran kepala. "Dingin. Aku bisa saja membeku. Dan lagi, kau memaksaku untuk terus belajar ski padahal aku tidak suka. Pantatku sakit sekali," kalimat panjang itu diakhiri rengekan menggemaskan.

Sehun kembali tertawa, pandangannya menelusur ke bawah dan jatuh ke pantat Luhan yang tertutup jaket tebal dan jeans. Sorotnya berubah menjadi penuh minat. "Mau kupijat? Pantatmu?"

Luhan terkesiap, tubuhnya berbalik dengan gerakan ringkas, lalu kakinya yang pendek bergerak menendang-nendang Sehun yang sedang menertawakan rona merah di pipinya. "Sialan! Sialan! Aku benci kau!"

"Hei, aduh! Lu, berhenti!"

"Rasakan! Rasakan! Hei!"

Sehun berhasil menangkap dua pergelangan kaki Luhan, mencengkeramnya seerat mungkin dan melebarkan kedua kaki kurus itu ke arah yang berlawanan. Luhan berontak tetapi Sehun masih tetap mempertahankan posisi tidak senonoh itu; Luhan yang terlalu terbuka untuknya—walau gadis itu masih mengenakan pakaian lengkap.

"Kalau begitu, kuhangatkan saja, ya?" Tanya Sehun, bibirnya yang tipis nyengir selebar-lebarnya. "Kau hanya perlu meronta seperti dulu."

Luhan dibakar oleh kenangan masa lalu ketika dia mendapatkan seks pertamanya dari Sehun. Tepat setelah sebulan mereka pacaran, ketika Luhan dilanda kegalauan sebab merasa tidak yakin dengan perasaan Sehun, mereka melakukan kegiatan intim itu semalaman penuh di apartemen Sehun. Luhan memang meronta-ronta karena sensasi aneh yang menyenangkan itu serasa terus menghujam tubuhnya—meronta untuk minta lebih. Dan tentu saja Sehun memenuhinya tanpa keberatan. Seks pertama yang luar biasa; Luhan akan selalu merona ketika mengingat hal tersebut.

Luhan terkesiap ketika dia merasakan pergerakan nakal dari ujung jemari Sehun di pengait jeans yang dikenakannya. Ditinggal melamun sebentar, tahu-tahu Sehun sudah mulai mengendus di sana sambil berusaha melucuti jeansnya.

"S-Sehun! Berhenti!" Luhan berusaha menendang-nendang tetapi kakinya digenggam erat-erat oleh Sehun. "Sehun!"

Sehun baru saja akan mengucapkan sesuatu, tetapi ponsel Luhan berdering-dering menyuarakan suara berisik. Sebuah panggilan masuk. Sehun sempat dilanda kemarahan akibat interupsi tidak terduga itu. Lalu Luhan memanfaatkan kesempatan tersebut dengan melakukan gerakan menendang sehingga kakinya bisa terbebas dari cengkeraman Sehun.

"Sialan," Sehun mengumpat, merutuk karena ponsel Luhan yang berkoar memang ada di saku jaketnya. Dengan amat terpaksa, dia melepaskan mangsanya sementara salah satu tangannya bergerak merogoh saku jaketnya. Nama kontak penelepon mengedip-ngedip di layar, ibu jari Sehun langsung bergerak menggeser tombol terima. "Halo? Bibi Xi?"

Luhan mengerjap heran saat mendengar panggilan itu. "Handsfree, Sehun."

"Sehun-ah, kalian sedang di penginapan, 'kan?"

"Ne, Bibi," Sehun menjawab setelah melirik Luhannya. "Kami baru saja selesai bermain ski," ujarnya, menuai kerutan di bibir Luhan.

"Aku baru saja melihat siaran berita di televisi. Mereka bilang, daerah pegunungan Incheon akan dilandai badai besar," kata Bibi Xi dengan logat aneh yang bercampur aksen chinanya.

Mendengar hal itu, Luhan langsung melesat menghampiri jendela besar yang ada di sisi ruangan; pemandangan di luar ruangan langsung tumpah lewat jendela itu saat lengan-lengan mungil Luhan menyibak tirainya. Pandangannya langsung disambut oleh lambaian ranting-ranting pohon yang dipermainkan angin bercampur bongkahan es tipis.

"Jangan keluar dan tetap berada di dalam kamar saja, ya? Badainya akan berlangsung sampai pagi. Jadi, pastikan kalau penghangatnya terus menyala. Luhan tidak bisa tidur kalau tidak hangat," Bibi Xi mengatakannya dengan telaten.

Seringai langsung tercetak di bibir Sehun tatkala selesai mendengar hal tersebut. "Oke, Bibi. Akan kupastikan jika penghangatnya akan terus menyala."

Suara kikikan Bibi Xi di seberang terdengar penuh gemerisik. "Apakah Luhanku menyusahkanmu?"

"Mama!" Luhan langsung menjerit di tempatnya berdiri, menatap tidak suka ke arah teleponnya.

Sehun ikut tertawa. "Mama dengar sendiri teriakannya,"

"Dia pasti sudah menyusahkanmu hohohoho," lalu suara hohoho itu terus berlanjut hingga beberapa detik lamanya. "Kututup teleponnya, ya. Sepertinya, Luhan sudah ngambek kepadaku."

Sehun menanggapinya dengan amat ringan lalu sambungan telepon itu sudah terputus. Sambil terus terkekeh, dia melepas jaket tebalnya dan berjalan menghampiri Luhan yang berdiri menghadap jendela.

Dengan gerakan amat mesra, Sehun melingkarkan dua lengannya mengitari pinggul ramping Luhan dan menyandarkan dagu di pundak gadisnya. "Ngambek sama Mama, ya?"

Luhan mengerutkan bibir mendengarnya. "Aku tidak pernah ngambek sama Mama," sangkalnya, menuai kekehan penuh remeh dari Sehun. "Tapi kalau denganmu, kasusmu beda lagi."

"Kenapa bisa begitu?"

"Tahu sendiri seberapa menyebalkan kau itu," Luhan memutar tubuhnya, membuat keduanya saling berhadapan dengan tubuh yang dikungkung pelukan sepihak. "Memaksaku belajar ski padahal aku jelas tidak suka."

"Well, maaf," Sehun menghilangkan nada canda dalam kalimatnya. "Aku ingin sekali mengajakmu main ski bersama-sama suatu saat nanti. Karena itu, kupikir tidak akan sulit mengajarimu."

"Sudahlah, aku tidak mau membahasnya," Luhan melepaskan diri dari kungkungan lengan Sehun, meluncur ke arah koper mereka berdua lantas menarik pengaitnya. Tangan-tangannya yang kurus bergerak mencari setelan piyama yang akan dikenakannya.

"Tidak usah mandi, ya. Hawanya akan tetap dingin walau penghangatnya sudah dinyalakan sampai ke titik medium," Sehun memberi peringatan begitu dia memerhatikan mesin penghangat ruangan yang menunjukkan angka-angka berwarna merah.

Luhan menurut saja dengan nasehat yang dilayangkan kekasihnya. Kakinya menapaki lantai kayu dan membawanya hingga ke kamar mandi. Bak mandi atau pun kotak shower tidak tampak menggiurkan, Luhan memilih untuk mengganti baju kemudian menggosok gigi. Setelahnya, dia keluar dan dirinya mendapati seonggok tubuh yang setengah telanjang—Oh Sehun hanya mengenakan celana piyama dan bertelanjang dada—sudah berbaring di sisi ranjang. Luhan memutuskan untuk ikut berbaring di sisi lainnya dan menghiraukan suara dengkuran halus yang meluncur dari mulut kekasihnya.

OoO

Dingin. Entah kenapa rasanya dingin sekali. Berulang kali Luhan mengetatkan selimutnya, menggesek-gesekkan kulitnya, tetapi hawa dingin itu terlalu mendominasi hingga memaksa kelopaknya terbuka. Bola matanya bergulir ke suatu arah, berkedip lemah tatkala mendapati status on medium di mesin penghangat ruangannya.

Di luar mungkin saja masih ada badai salju namun entah mengapa hawanya mampu menerobos ruangan ini. Tubuhnya berguling tidak nyaman, pandangannya langsung disambut pemandangan luar biasa yang menggiurkan.

Punggung putih mulus milik Oh Sehun yang tidak tertupi apa pun. Tampak sangat bidang dan tegap, pasti cocok sekali untuk dijadikan sandaran saat tidur. Tanpa berpikir dua kali, Luhan merosot mendekati tubuh kekasihnya dan menempelkan dada serta pipinya di sana. Kehangatan nyata langsung menyambut tiap saraf tubuhnya hingga mampu merilekskannya. Dia melingkarkan lengan kurusnya dan telapaknya mengelus-ngelus dada kekasihnya.

Di luar, fajar mulai mengintip di suatu ufuk; bercak oranye mulai menyingkirkan kegelapan kendati awan-awannya masih dipermainkan hembusan angin bekas badai. Suhu di luar mungkin masih jauh di bawah nol—ranting-ranting pohon serta seluruh permukaan jalanan ditelangkup gumpalan putih bersih dan tiap lapisannya dibekukan dengan amat kejam.

Luhan merasa amat bersyukur karena dirinya berada di ruangan berpenghangat seperti ini. Ditambah lagi, tubuhnya dibungkus selimut dan lengannya memeluk Sehun. Tidak ada yang mampu menggantikan kenyamanan ini. Luhan amat menikmati kesunyian bercampur kehangatan yang damai pada detik-detik ini ..,

Sebelum Sehun menggeliat dan membalik badan. Kelopaknya yang terangkat, mulai mengedip-ngedip lucu dan tidak berdaya. Pandangannya yang masih didominasi sorot mengantuk terarah mengamati wajah Luhan.

"Sudah bangun?"

Luhan menggeleng, menyerukkan wajahnya pada dada bidang Sehun. "Aku mau peluk punggungmu lebih lama, Sehun."

"Kenapa?" Sehun ikut melingkarkan lengannya pada pundak Luhan.

"Hangat," katanya setelah mendongak. "Tapi dadamu juga lumayan. Tapi aku lebih ingin memeluk punggungmu."

"Ada-ada saja," Sehun beringsut, memutar tubuhnya kembali sehingga Luhan bisa memeluk punggungnya seperti sedia kala. "Senang?" Dan Sehun mendapat gerakan anggukan kepala dari Luhan yang menggelitik sekitar punggungnya.

Salah satu lengan Luhan bergerilya membelai kulit Sehun yang terbuka, terus berjalan hingga melingkar di sekitar perut Sehun. Telapaknya kembali menangkup tulang selangka Sehun, ujung jemarinya menelusuri alurnya yang tegas dan tanpa disadarinya meninggalkan jejak membakar. Kaki mungil Luhan bergerak gelisah, sekali-kali lututnya menendang bagian tubuh Sehun lalu bergerak lagi demi mencari posisi paling nyaman. Terus seperti itu hingga akhirnya Sehun mengeram tertahan.

"Kau menggodaku," kata Sehun dengan suaranya yang serak. Kelopaknya urung terpejam dan malah terbuka lemah akibat getaran menggoda yang dilayangkan Luhan pada tubuhnya.

"Tidak kok," Luhan membalas dengan amat lugu.

Sehun terdiam sebentar, menahan napas dan menghembuskannya penuh perhitungan, lalu kembali berucap. "Tertarik melakukan seks denganku di sini?"

"Aku sedang tidak bergairah, Sehun," Luhan mengetatkan pelukannya, diam-diam merona sampai bibirnya mengerucut maju.

"Hanya beberapa ronde," Sehun ternyata serius dengan ajakannya. "Dua atau tiga? Bagaimana?"

"Tidak mau," Luhan ikut serius dengan penolakannya. "Aku tidak mau seks. Tidak bawa kondom," kilahnya.

"Aku membawa beberapa paket foil kondom di tasku," Sehun nyengir lebar, memutuskan untuk menghadap Luhan yang tengah memberengut hebat. "Kau hanya perlu berbaring, Sayang. Aku yang akan bekerja keras."

"Bekerja keras apanya," Luhan membuang pandangan, kepalanya menoleh ke kiri. "Kau hanya—aduh, geli," pekikannya terdengar begitu tertahan di pangkal tenggorokan manakala Sehun malah menghujani tengkuknya yang sensitif dengan beberapa kecupan ringan. Bahunya terangkat begitu juga tangannya, telapaknya meremas rambut Sehun sedangkan mulutnya terbuka mendesis-desis tanpa tempo teratur.

"Bergairah atau tidak," Sehun terus menciumi tengkuk Luhan dan menyerang titik penuh kepekaan Luhan di sana. tangannya bergerak menarik kancing-kancing kemeja kekasihnya. "Aku yang akan mengendalikan," ujarnya. Lantas lidahnya bergerak menjilati celah sempit di belakang daun telinga Luhan hingga gadisnya memekik keras tanpa bisa ditahan.

Secara naluriah, Luhan melengkungkan tubuhnya ke atas hingga dadanya bertabrakan dengan dada bidang Sehun yang telanjang. Lengannya yang sekurus ranting mengalung di leher Sehun, jemarinya mulai merambat meremas rambut Sehun yang dipotong setengkuk. Tubuhnya sudah bergelora oleh nafsu yang dipercik oleh Sehun, menggeliat penuh damba hingga kaki-kakinya bergerak menggoda ereksi cowoknya dengan amat sengaja.

Kelopak mata Luhan terpejam sempurna saat Sehun berhasil menyingkap piyamanya. Bibirnya terkulum ke dalam dan suara mendesis meluncur dari sana saat merasakan remasan brutal pada dadanya. Ciuman Sehun turun sebanyak beberapa jengkal dan mulutnya yang panas bertahan pada puncak dada Luhan, menggodanya dengan lidah dan akhirnya menyesapnya bagai bayi sementara tangannya menggoda puncak yang lain. Luhan tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah ketika Sehun menyingkirkan kemeja serta branya.

Luhan mendeguk gelisah saat Sehun mempermainkan dadanya sementara tangannya yang lainnya mulai menelusup begitu lihai menerobos celana piyamanya. Mulutnya mengerang amat keras saat merasakan pergerakan liar dari jemari Sehun pada lipatan feminimnya yang terasa amat panas. Keringat mengucur deras membasahi keseluruhan tubuhnya; membuatnya mengilat dan basah.

"H-Hun-ah," Luhan meronta kalut ketika ujung jemari Sehun di sana hanya sebatas bermain dengan cara amat menggelikan. Kepalanya merunduk menatap wajah kekasihnya yang kini terbenam di antara belah dadanya yang membusung, mendesah beberapa kali sambil menyemburkan napas panasnya. "Cepatlah sedikit," pintanya penuh permohonan.

Sehun menyeringai dibalik kegiatannya mengulum puncak dada Luhan. Dia segera menarik diri dan malah menatap Luhannya yang hanya terbaring tidak berdaya dengan memantulkan cahaya lampu pada beberapa titik di tubuhnya. Luhan mengeram marah atas tindakan Sehun.

"Apa-apaan?" Sehun tertawa, kedua lengannya bertolakan pinggang. "Katanya kau tidak bergairah."

Luhan merona hebat saat menatap tubuh kekasihnya yang tinggi menjulang sedang duduk di atasnya. Bibirnya mengerucut tanda melayangkan sebuah protes. "Kau itu apa-apaan?"

"Buka sendiri bajumu, Lu," Sehun menggeser tubuhnya, duduk di suatu sisi dan membiarkan Luhan bangkit dari posisinya.

Dengan amat tergesa, Luhan melempar celana piyama serta thong yang melingkupi tubuhnya. Tanpa memerdulikan harga diri atau apa pun, tubuhnya yang telah meninggalkan kesan beradab kini melayang menghantam tubuh Sehun. Seringai main-main yang amat menggemaskan bermain di belah bibir Luhan; posisinya ada di atas dan Luhan merasa puas akan hal itu. Sebab, Sehun yang ada di bawah tampak tidak begitu menakutkan.

"Cukup bercandanya," Luhan mengatakannya sembari mengerutkan bibir. Tangannya yang sehalus sutra bergerak menelusuri dada bidang Sehun sementara jemarinya meraba titik sensitif Sehun. Beberapa detik berpandangan dalam diam, Luhan mengikis jarak di antara wajah mereka dan meraup bibir kekasihnya tanpa ampun. Tampaknya dia benar-benar tertarik untuk menjadi dominan. Permainan lidahnya sungguh membuat Sehun terbengong-bengong—Luhan tidak pernah bertindak sebinal ini ketika mereka ada di ranjang.

Sehun berhasil terbakar lebih hebat setelah Luhan menunjukkan sisi lain dari dirinya yang amat liar dan menggoda. Mereka tenggelam dalam godaan hasrat yang membelit nafsu, terbuai oleh melodi penuh desahan erotis yang menyingkirkan hawa dingin. Luhan yang masih tertarik untuk menjadi seorang dominan, kini mulai menyingkirkan kain pelindung yang membalut kaki kekasihnya. Tangannya yang mungil menggenggam erat ereksi Sehun dan merasakan sensasinya.

Mereka berdua meletup dalam rangsangan nafsu yang mendominasi. Keduanya menggeliat ringan saat salah satunya menggerakkan tangan demi melayangkan godaan. Sehun nyaris berubah menjadi abu ketika Luhan memutuskan untuk turun dan menangkup ereksi Sehun dengan mulutnya.

Sialan, Sehun mengumpat dalam hati ketika rasa terbakar itu kian terasa jauh lebih baik saat mulut mungil Luhan menangkup dirinya yang amat mendamba. Getaran halus yang memabukkan merambat dari titik pusatnya saat lidah Luhan bergerak menggoda glansnya. Cairan panas menggelegak dalam tubuhnya; sebentar lagi Sehun akan meledak hebat dan memuntahkan spermanya.

Dengan gerakan cepat, Sehun menarik kepala Luhan dan memutar posisi mereka. Dia tidak mau menunggu atau pun meminta persetujuan dari Luhan. Dia ingin jika dirinya ada di dalam Luhan; sekarang.

"Oo-oh!" Luhan memekik tertahan ketika merasakan pergerakan yang amat mendesak dan terburu-buru di bawah sana. Jemarinya mengeriting di atas kulit punggung Sehun yang basah oleh keringat. Luhan mengangkat kepalanya, bibirnya terbuka demi melepaskan napas panas yang bercampur birahi. Dia mendesis lagi ketika merasakan jika dirinya semakin terbuka untuk menerima Sehun di sana.

Sebentar lagi.

"S-sialan," Sehun terus mengumpat dan terus mengumpat ketika dirinya merasa akan gila sebentar lagi. Luhan memanjakannya dengan pijatan lembut yang lagi-lagi terasa amat menggodanya. Tanpa perhitungan lagi, akhirnya Sehun memutuskan untuk mendorongnya lebih cepat.

Luhan tersentak akibat sensasinya. Birahi keduanya melecut naik dan mengundang desah yang kian erotis.

"B-berhenti," Luhan teringkat akan sesuatu di tengah kenikmatan yang akan dia raup. "K-kau belum .., pakai k-kondommu," ujarnya susah payah di antara disorientasinya.

"Persetan," Sehun menyahut tidak peduli dengan suara berat sarat keinginan melakukan koitus mereka. Pinggulnya bergerak amat lambat, kemudian temponya bertambah secara teratur. Lalu segalanya semakin cepat, tidak beraturan.

Semuanya sudah bergerak dalam ritme yang diciptakan Sehun. Luhan mendesah tidak tahu malu menahan godaan besar yang diterimanya. Akal sehatnya sudah melupakan kondom, kini yang ada hanya puncak pelepasan yang amat diinginkan. Desah napas mereka saling menyahut layaknya sedang bertarung demi mendapatkan oksigen sebanyak-banyaknya.

Luhan membuka kelopak matanya dan mendapati wajah Sehun yang diliputi kenikmatan dunia ada di hadapannya. Wajahnya sendiri terasa amat panas akibat semburan napas Sehun. Tanpa bisa dikendalikan, Luhan mendorong tubuh kekasihnya dan membalik posisi mereka. Semua terjadi di luar dugaan, Luhan amat terkejut dengan tindakannya sendiri sementara Sehun menatapnya dengan mata memicing.

Oke. Semuanya sudah terlanjur. Kali ini, Luhan kembali memimpin; tubuhnya bergerak amat liar sedangkan Sehun menikmatinya. Hal baru yang pasti akan mereguk orgasme terbaik nantinya. Luhan ada di atas; suatu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Sehun.

"H-Hun, b-bagaimana ini," Luhan meracau di tengah gerakannya yang kian tidak terkontrol. Cambuk kenikmatan baru saja melayang menghantam pusat tubuhnya, sebentar lagi pembebasannya akan tercapai.

"Biarkan saja," Sehun memegang sisi pinggang ramping Luhan dan membantunya bergerak. Lidahnya terjulur ke atas dan ditanggapi oleh Luhan yang menyambutnya dengan mulutnya sendiri. Ciuman panjang yang penuh decak seksi menambah keributan dalam kamar tersebut.

Mereka terus bergerak hingga diiringi oleh bunyi decit ranjang; sama-sama ribut dan memekakkan telinga. Luhan berusaha melepaskan semuanya dengan tubuh yang terpisah, tetapi Sehun tetap memaksanya untuk tidak berhenti barang satu detik pun. Luhan memejamkan mata ketika melihat oasis mengenai puncak sanggamanya, menahan napas dan akhirnya menjerit keras saat laharnya menyembur keluar menghantam ereksi Sehun.

Dia nyaris terjatuh, tetapi Sehun menangkapnya dan membalik posisi mereka. Sehun harus berjuang sedikit lagi untuk mendapatkan pelepasannya. Beberapa gerakan, beberapa desahan penuh protes dari Luhan, dan Sehun menyemburkan kelenjar prostatnya pada titik terdalam di tubuh Luhan.

Mereka berdua mengejang menikmati sensasinya yang luar biasa; sama-sama ambruk dan dalam balutan lecutan gairah.

"Sialan," Sehun mengucapkannya saat dirinya merosot turun dari tubuh Luhan kendati tidak melepaskan keintiman diantara mereka. Luhan menatapnya lekat-lekat dan Sehun memberinya kecupan lembut pada bibir. "Sejak kapan kau menjadi binal seperti tadi?"

"Aku belajar banyak hal agar jadi cewek dewasa yang kau inginkan," Luhan memejamkan mata sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Agar bisa melebihi Zitao."

Sehun terkesiap. "Kau bahkan sudah melebihi dia sebelum menjadi binal seperti ini," sahutnya.

"Ya, tapi aku iri setengah mati saat mengingat momen ranjangmu dengan Zitao,"

"Kau membayangkannya?"

Luhan mengangguk imut.

"Dasar nakal," Sehun menangkap bibir merah muda itu dan menghisapnya dalam-dalam. "Sudahlah, jangan membahas apa pun lagi karena urusan kita saat ini juga belum selesai," ujarnya parau sambil menggerakkan pinggulnya.

"O-oke," Luhan memejamkan mata saat merasakan rangsangan yang dilakukan Sehun pada tubuhnya yang paling sensitif. "Ayo lagi, Sehun."

END

/smirk/

Xoxo.