Seventeen belong to God, Pledis and their parents
Fall For You © Bianca Jewelry
Kim Mingyu X Jeon Wonwoo (GS)
Hong Jisoo X Yoon Jeonghan (GS)
Choi Seungcheol X Jang Doyoon (GS)
Kwon Soonyoung X Lee Jihoon (GS) and a bit SeokSoon lol
Yao Mingming X Wen Junhui
Rating: M for safe
Warning: GS. Boys Love. AU. OOC.
.
Note: Valentine's Day Special! Anggap saja ketika cerita ini dimulai bertepatan dengan semester baru, menurut kalender sih awal Maret. Jadi intinya, ini flashback, which means Mingyu belum ketemu Wonwoo. Jadi cuma ada Soonhoon, Mingry, Docheol, Jeongcheol ama Gyuhan aja. Sorry T~T But hope you enjoy it!
.
"Ji…"
"Hm?" gumam Jihoon yang berada dalam dekapan Soonyoung. Lalu gadis itu mengambil keripik kentang yang berada di dekatnya.
Hari Minggu, Soonyoung berkunjung ke apartemen Jihoon dan mereka sedang menonton film di ruang tamu.
"Lusa hari apa?"
"Selasa 'kan?" kata Jihoon lalu mengunyah keripik kentangnya lagi.
"Ya aku tahu. Tanggal berapa?"
Jihoon berdecak. "Kau tidak punya kalender? Atau mendadak amnesia?"
Soonyoung mengerang. "Tinggal jawab saja apa susahnya."
Gadis mungil itu menghela napas. "Empat belas."
"Terus?"
"Terus?" tiru Jihoon.
"Tidak ingat ada peristiwa apa begitu?" Soonyoung mencoba bersabar.
"Memangnya ada peristiwa apa?" jawab Jihoon cuek dan kembali mengunyah keripiknya.
"Coba ingat-ingat. Masa tidak tahu sih?"
Jihoon terdiam sejenak. Sebenarnya dia tahu dua hari lagi itu hari apa. Gadis itu hanya pura-pura lupa dan mengerjai Soonyoung. "Aku tidak merasa ada apa-apa Soon."
Soonyoung mencubit kedua pipi Jihoon dengan gemas. "Coba ingat-ingat," ulang Soonyoung.
Jihoon menarik tangan Soonyoung dengan tangannya yang bersih kemudian berseru, "Oh!"
Soonyoung tersenyum senang. "Ya?"
"Anniversarynya Carat?"
Pemuda dengan mata 10:10 itu mendengus.
"Apa sih?" tanya Jihoon pura-pura tidak paham.
"Ya sudah kalau lupa," kata Soonyoung dengan nada sedih yang dibuat-buat sambil memiting leher Jihoon.
"Lepas Soon!" Jihoon mencoba melepas tangan Soonyoung dengan senyum puas. Kemudian ia menjejalkan keripik kentang pada mulut Soonyoung sambil tertawa, sementara Soonyoung memakan keripik dari tangan Jihoon dengan wajah merengut.
.
Di hari yang sama di tempat yang berbeda, Doyoon berguling-guling di kasurnya sambil mengscroll layar ponselnya—mencari artikel tentang hadiah dan resep untuk hari Valentine. Ia galau, antara ingin memberikan hadiah kepada Seungcheol dan tidak. Tapi mereka tidak sedekat itu. Bertemu saja baru sekali. Doyoon dilema, ia ingin sekali memberikan cokelat kepada Seungcheol, tapi jika ia tidak memberikan cokelat pada pemuda Choi itu, ia merasa akan menyesal.
Lalu ketukan pada pintu kamar Doyoon terdengar sebanyak tiga kali. "Nak…"
"Ya eomma? Masuk saja, tidak dikunci."
Nyonya Jang memasuki kamar Doyoon. "Sedang apa?" tanya Nyonya Jang setelah duduk di tepi ranjang Doyoon.
"Tidak sedang apa-apa. Kenapa eomma?"
"Mau menemani eomma belanja?"
"Boleh."
"Eomma tunggu di bawah ya," kata Nyonya Jang dan meninggalkan kamar Doyoon.
"Oke eomma."
Doyoon beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah lemari, kemudian berganti pakaian dan siap menemani ibunya untuk berbelanja.
.
Hampir tiga jam berkeliling di salah satu mall besar di Seoul, Doyoon dan Nyonya Jang sudah menenteng beberapa tas di tangan masing-masing. Dan sekarang mereka sedang berada di salah satu toko jam tangan.
"Eomma ini bagus tidak?" tanya Doyoon sambil menunjukkan salah satu jam tangan pria pada Nyonya Jang.
"Bagus."
"Kalau yang ini?" tanya Doyoon lagi.
"Bagus juga."
"Lebih bagus mana?"
"Untuk siapa?" tanya Nyonya Jang heran.
"Um… Seungcheol," jawab Doyoon malu-malu.
Nyonya Jang tersenyum. "Yang itu saja, lebih kelihatan stylish dan cocok untuk Seungcheol."
Doyoon mengangguk, kemudian ia mendekati salah satu pramuniaga untuk melakukan transaksi. Setelah selesai, Doyoon dan ibunya keluar dari toko jam tangan dan memasuki beberapa toko pakaian.
"Mau kemana lagi?" tanya Nyonya Jang.
"Pulang saja eomma, sepertinya kita sudah memasuki hampir semua toko di sini."
Nyonya Jang tertawa. "Kau benar. Kaki eomma juga sudah pegal."
Doyoon ikut tertawa kemudian menggamit lengan ibunya dan mereka berdua pulang ke rumah.
.
Jihoon yang sedang menunggu Soonyoung di ruang tamu melangkahkan kakinya ke pintu ketika mendengar bel apartemennya berbunyi. Kemudian ia mendapati pemuda yang sedang ditunggunya berada di depan pintu dengan dua tangan di belakang badannya.
"Serius tidak ingat ini hari apa?" tanya Soonyoung.
Dengan gerakan tiba-tiba, Jihoon menarik tengkuk Soonyoung lalu menempelkan bibirnya pada bibir pemuda itu. Jihoon menjilat bibir Soonyoung, meminta pemuda itu untuk membuka mulutnya. Lalu Jihoon mendorong cokelat yang sempat dimakannya sebelum menyambut Soonyoung dengan lidahnya ketika mulut Soonyoung terbuka sedikit. Soonyoung menerima cokelat itu dengan lidahnya dan memejamkan mata lalu menghisap bibir bawah Jihoon. Jihoon memejamkan matanya dan balas menghisap bibir atas Soonyoung. Gadis mungil itu mendorong Soonyoung pelan dan tersenyum kemudian menjilat bibir Soonyoung karena noda cokelat tersisa di sana. Jihoon menarik Soonyoung yang sejak tadi mengerjapkan matanya dan tidak tahu harus berkata apa untuk masuk ke apartemennya dan mendorong pemuda itu ke sofa. Soonyoung terlalu kaget akan tingkah laku gadisnya yang mendadak agresif.
Soonyoung meletakkan benda yang sejak tadi disembunyikannya di belakang badannya ke meja sofa—buket bunga mawar merah—sebelum didorong Jihoon agar pemuda itu tiduran di atas sofa. Jihoon mengambil potongan cokelat dari wadah kecil di atas meja dan mengemutnya sebentar agar sedikit bercampur dengan air liur. Ia merayap di atas tubuh Soonyoung dan kembali mencium bibir Soonyoung lalu mendorong cokelat dari mulutnya dengan lidah. Setelah cokelat berpindah, Jihoon menjauhkan kepalanya dan menjilat bibirnya.
Soonyoung menarik kepala Jihoon dan meraup bibir gadis itu. Jihoon membalas ciuman pemuda itu. Mereka saling menghisap bibir dan bermain lidah—membuat Jihoon melenguh pelan di atas Soonyoung. Jihoon mendorong Soonyoung dengan wajah merah padam dan napas terengah-engah. Kemudian gadis itu beranjak dari atas Soonyoung dan duduk pada sofa yang kosong dan menutup mulutnya dengan punggung tangan.
"Ji…" panggil Soonyoung yang sudah mendudukkan dirinya dan mendekati Jihoon.
"Hm?"
"Hari ini hari apa?" Soonyoung mengulang percakapan dua hari yang lalu.
"Selasa 'kan?" jawab Jihoon masih dengan kepura-puraannya.
Soonyoung berdecak sebal dan menarik pipi Jihoon gemas—membuat gadis itu tertawa puas.
Jihoon mengambil wadah kecil yang berisi beberapa coklat dan menyerahkannya pada Soonyoung, "Untukmu."
Soonyoung mengerjapkan kedua matanya. "Bikin sendiri?"
Jihoon mengangguk.
Soonyoung mengambil cokelat itu dan menggigitnya. "Lagi," katanya sambil memajukan kepalanya mendekati Jihoon.
"Makan sendiri! Aku bosan makan cokelat," ujar Jihoon cuek. Ia berdiri dan mengambil buket bunga di atas meja dan beranjak ke dapur—memindahkannya ke vas berisi air agar lebih tahan lama.
Soonyoung memakan cokelatnya dengan wajah merengut. "Siapa bilang bunga itu untukmu?"
"Loh bukan untukku? Ya sudah, kubuang ya," kata Jihoon dengan santai.
"Ji!" seru Soonyoung kesal.
Jihoon tertawa dan kembali ke ruang tamu. Ia mendekati Soonyoung dan mencium bibir pemuda itu dengan lembut. "Happy Valentine's Day!"
.
"Oh, Doyoon-ah," sapa Nyonya Choi ketika membuka pintu dan menemukan Doyoon di depan pintu rumahnya. Ia memeluk Doyoon.
"Selamat sore ahjumma," sapa Doyoon dan balas memeluk Nyonya Choi.
"Ayo masuk," ajak Nyonya Choi dan Doyoon mengikutinya masuk ke ruang tamu.
"Seungcheol ada ahjumma?" tanya Doyoon setelah Nyonya Choi kembali dari dapur dan membawakan Doyoon minuman.
"Seungcheol ada di apartemen. Mau ahjumma suruh ke sini?"
Doyoon menolak dan menggeleng cepat, "Tidak usah repot-repot ahjumma. Aku titip ini saja," katanya sambil menyodorkan tas kertas putih kepada Nyonya Choi yang berisi cokelat dan cupcake buatan tangan dan arloji yang dibelinya kemarin. "Oh ya, ada kue di dalamnya. Untuk ahjumma dan ahjussi. Cokelatnya masukkan kulkas saja, biar tidak cair."
"Terima kasih sayang." Nyonya Jang tersenyum dan mengelus kepala Doyoon. "Baiklah, nanti ahjumma berikan pada Seungcheol."
"Terima kasih ahjumma," kata Doyoon sambil tersenyum. Ia berbincang-bincang sebentar dengan Nyonya Choi kemudian pulang ke rumahnya.
.
Jun dengan gugup melangkahkan kakinya untuk membuka pintu apartemennya ketika mendengar bel berbunyi. Ia membuka pintunya sedikit dan menyembulkan kepalanya dengan wajah memerah.
"Tidak menyuruhku masuk?" tanya Mingming sambil terkekeh.
"Pulang saja sana," usir Jun.
Mingming mendorong pintu yang ditahan Jun agar terbuka lebar dan masuk ke apartemen Jun kemudian menutup pintu. Ia bersandar pada pintu dan memperhatikan Jun yang menunduk dan menarik-narik rok super mininya dari atas sampai bawah. Kemarin Jun mendapat bingkisan dari Mingming yang berisi seragam model pelaut dengan kemeja dan rok super pendek. Dan Mingming meminta Jun untuk memakainya di hari Valentine. "Tidak buruk."
Jun berdecak sebal. Mingming mendorong Jun dengan kasar ke tembok dan menciumnya dengan kasar pula dan terkesan terburu-buru, membuat pemuda Wen meringis. Lalu Mingming menggendong Jun tanpa melepaskan ciumannya dan membawanya ke kamar. Jun memekik dan mengalungkan tangannya pada leher Mingming.
Sesampainya di kamar, Mingming menghempaskan tubuh Jun pada kasur lalu merayap di atasnya. Ia menatap Jun dengan kedua tangan yang bertumpu pada kanan dan kiri kepala Jun.
"A-Apa yang akan kau lakukan?" tanya Jun takut-takut.
Mingming terkekeh kemudian mengecup dahi pemuda yang berada di bawahnya. "Ayolah, kita pernah melakukan ini sebelumnya," katanya lalu mengikat tangan Jun dengan tali yang entah di dapat dari mana.
Wajah Jun memerah dan ia pasrah dengan perlakuan Mingming. "Jangan kasar-kas—aw!" rintih Jun ketika Mingming menciumnya lagi dan menggigit bibirnya dengan ganas. Tangan Mingming mulai merayap masuk ke dalam seragam Jun. Jun memekik ketika tangan Mingming menarik putingnya dengan kasar. Pemuda Wen itu kesal dan menendang perut Mingming dengan lututnya, membuat Mingming mengaduh dan menjauhkan kepalanya. "Sudah kubilang jangan kasar-kasar!" bentak Jun.
Mingming meringis. "Ya sayang," katanya lalu memagut bibir Jun lagi, kali ini dengan lembut.
Jun mendesah nikmat ketika tangan Mingming menggerayangi tubuhnya lagi. Lalu ia memukul dada Mingming pelan ketika merasa kekurangan oksigen. Jun menatap pemuda yang berada di atasnya itu sambil mengatur napas. "Um…"
Mingming balas menatapnya dan menunggu Jun untuk melanjutkan.
"Bisa tolong lepaskan ini?" tanya Jun ragu sambil menyodorkan tangannya yang terikat.
Mingming dengan patuh melepaskan tali yang mengikat tangan Jun lalu membuangnya sembarangan. Jun mengerjap heran, karena biasanya Mingming tidak akan semudah itu melepas tali yang mengikat tangan Jun setiap kali mereka melakukannya.
"Karena kau sudah patuh memakai pakaian yang kuberikan, ge," kata Mingming menjawab sorot heran di mata Jun.
Jun mengangguk paham kemudian ia memekik karena tangan Mingming masuk ke dalam roknya. Sementara Mingming mencium leher Jun dan meninggalkan beberapa kissmark di sana. Tangan satunya meraba-raba tubuh Jun, membuat pemuda Wen mendesah keenakan.
"Nghh~"
Tapi desahan itu tidak berlangsung lama.
"Aw!"
Karena Mingming kembali bermain kasar.
.
Mingming mencium bibir Jun sebagai sentuhan akhir lalu tersenyum melihat kissmark yang memenuhi tubuh pacarnya. Jun menjauhi Mingming dengan susah payah setelah pemuda itu melepas ciumannya.
"Lagi?" tanya Mingming.
Jun menggeleng. Ia memunggungi Mingming.
"Kau marah," kata Mingming yang terdengar seperti sebuah pertanyaan. Ia mendekati Jun dan memeluknya dari belakang.
"Siapa suruh main kasar." Jun merajuk.
"Tapi kau suka 'kan? Sampai memohon begitu minta—"
Wajah Jun merona sampai ke telinga. Ia membalikkan badannya dan meninju perut Mingming. "Tunggu sampai aku berada di atasmu!"
Mingming meringis. "Coba saja kalau bisa."
Jun berdecak sebal dan mengerucutkan bibirnya. Mingming memberikan kecupan pada bibir Jun.
"Happy Valentine's Day!" kata Jun sambil tersenyum.
Mingming mengangguk. "Wo ai ni," katanya lalu mengecup dahi Jun.
"Wo geng ai ni," balas Jun lalu menangkup wajah Mingming dan mengecup dahinya.
.
"Kau cantik," puji Seungcheol ketika Jeonghan sudah berada mobilnya.
Jeonghan tertawa. "Itu pujian atau gombalan Cheol?"
Seungcheol ikut tertawa. "Pujian. Aku serius, kau cantik."
"Kau juga tampan," kata Jeonghan dengan senyum menggoda.
Pemuda yang memakai kemeja merah itu tersenyum. "Oh ya," ujar Seungcheol sambil memutar badan dan mengambil buket bunga mawar merah muda dari jok belakang. Ia memberikannya pada Jeonghan. "Untukmu."
Jeonghan menerimanya dan tersenyum. "Gomawo."
Seungcheol tersenyum puas dan melajukan mobilnya ke salah satu restoran romantis di Seoul. Sesampainya di tempat parkir, Seungcheol turun dari mobil kemudian membukakan pintu untuk Jeonghan. Lalu mereka berdua memasuki restoran dan memesan makanan.
"Hadiahmu… White Day saja ya?" kata Jeonghan saat mereka menunggu makanan datang.
Seungcheol tersenyum. "Kau jadi hadiahku juga boleh kok."
Jeonghan tertawa. "Kau kira aku barang?"
Setelahnya, mereka makan dengan Seungcheol yang melancarkan jurus gombalnya. Jeonghan dengan tenang membalas gombalan Seungcheol dan menggoda balik pemuda Choi itu.
"Aku serius ngomong-ngomong," kata Seungcheol sambil mengelap sudut bibirnya dengan serbet.
"Tentang?" tanya Jeonghan sambil mengaduk minumannya.
"Kau jadi hadiahku."
Jeonghan mendengus. "Kita baru kenal sekitar dua minggu, benar? Pelan-pelan sajalah."
"Begitu… Kutunggu kau jadi milikku Nona Yoon," kata Seungcheol disertai tawa.
Jeonghan terkekeh. "Tunggu aku," katanya lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Ah itu," kata Seungcheol sambil menunjuk sudut bibirnya.
Jeonghan mengelap bibirnya. "Sudah?"
Seungcheol menggeleng, lalu ia mengulurkan tangan untuk menghapus noda makanan di sudut bibir Jeonghan. "Sudah."
"Thanks," kata Jeonghan sambil tersenyum.
Seungcheol membalas senyuman Jeonghan kemudian memanggil pelayan untuk meminta bill. Setelah transaksi selesai ia bertanya. "Pulang?"
Jeonghan mengangguk dan tersenyum kemudian mengikuti Seungcheol ke parkiran.
.
Jeonghan membuka pintu apartemennya masih dengan balutan mini dress merah muda yang dipakainya tadi ketika makan malam dengan Seungcheol dan kapas pembersih make up di tangan. "Masuk," ajaknya sambil tersenyum.
"Habis kencan?" tanya pemuda bermarga Kim ketika sampai di ruang tamu dan melihat buket bunga mawar di meja.
Jeonghan membuang kapas bekasnya dan mengangguk. "Bukannya aku tadi sudah bilang ya?"
"Kau hanya bilang sedang ada di luar."
"Oh." Jeonghan duduk di sofa dan memperhatikan Mingyu yang masih berdiri di dekatnya.
"Noona tidak mau memberi apapun padaku?"
"Memang kau punya apa untukku?"
"Ta-da!" seru Mingyu sambil menyodorkan buket bunga mawar putih kepada Jeonghan.
Jeonghan tersenyum dan mengambil buket bunga dari tangan Mingyu. "Gomawo."
"Cheonma," balas Mingyu dan tersenyum. "Jadi, tidak ada apapun untukku?"
Jeonghan tertawa. "Sini," katanya sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Mingyu menurut dan duduk di sebelah Jeonghan.
Jeonghan mengambil satu batang Pepero cokelat dari kotak di atas meja. "Jangan kena bibir ya," katanya lalu menggigit Pepero itu.
Mingyu merengut. Ia menggigit ujung Pepero yang lain dan memakannya. Jeonghan mematahkan Peperonya ketika bibir Mingyu semakin mendekati bibirnya lalu mengunyahnya.
"Cium~" rengek Mingyu.
Jeonghan menyodorkan pipi dan menunjuknya dengan jari telunjuk.
"Maunya di sini," kata Mingyu sambil mengelus bibir Jeonghan.
Jeonghan tertawa. "Memang kau pacarku? Minta cium bibir?"
"Kalau begitu jadi pacarku?"
Jeonghan menggeleng. "Kau tahu 'kan aku sudah menganggapmu seperti adik sendiri."
"Kakak macam apa yang melakukan adegan ambigu dengan adiknya," gerutu Mingyu.
Jeonghan tertawa dan mengacak surai Mingyu lalu pergi ke dapur.
"Aku menginap di sini ya?"
"Terserah kau," jawab Jeonghan dari arah dapur.
Mingyu menyamankan diri pada sofa dan memakan Pepero yang tersisa.
"Mingyu-ya."
"Ya?"
"Happy Valentine's Day. Semoga kau cepat dapat pacar."
.
"Aku pulang," kata Seungcheol setelah sampai di rumahnya.
"Cheol-ie," panggil Nyonya Choi yang sedang duduk di ruang tamu.
"Ya?"
"Kau dapat bingkisan, ada di kamar. Dan ada cokelat di kulkas."
"Dari?"
"Doyoon."
Seungcheol melangkahkan kakinya ke dapur dan mengambil cokelat di kulkas sebelum pergi ke kamarnya. Setelah sampai di kamar, Seungcheol mencari bingkisan yang dimaksud ibunya dan mengeluarkan isinya—kotak jam tangan dan kartu ucapan. Seungcheol mengeluarkan kartu ucapan dari amplop dan membacanya.
"Happy Valentine's Day! Semoga kau suka."
Kemudian Seungcheol membuka kotak jam tangan dan mencobanya lalu menyimpannya lagi dalam kotak. Ia tersenyum puas karena arloji yang dipilih Doyoon sesuai dengan seleranya. Setelah itu, Seungcheol memakan cokelat buatan Doyoon sambil tersenyum seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
.
TBC
.
Wo geng ai ni = I love you more
Mingrynya kok nista ya lol *cry* dicut pula, sengaja lol
Cie, gantian pada sebel sama Seungcheol hihi aku seneng kalo kalian sebel soalnya aku juga sebel ama dia di sini *ditimpuk wortel* dan aku kok jadi kasian ama bunda di sini, maso amat masih belain ayah /yang buat cerita kan elu
Maaf ya ga ada Meanie, aku usahain besok-besok dibanyakin partnya, doakan ga ngestuck ya :'
I'm not sorry ngebuat cerita dengan multipairing, apalagi dengan cerita cinta yang ribet. SEMOGA KALIAN MASIH BETAH BACA FANFIC YANG MASIH JAUH DARI KATA SEMPURNA INI DAN GAK BINGUNG BACANYA :'
HAPPY ANNIVERSARY CARAT!
Terima kasih sudah meninggalkan jejak, berminat untuk meninggalkan jejak lagi? :)
