Well, apa boleh buat, di saat terjepit, yang bisa Sasuke lakukan cuma berimprovisasi.
Hinata yang lemes akhirnya kembali mendapatkan energinya setelah Sasuke dengan panik menepuk-nepuk pipinya. Fangirls melihat tindakan bodoh Sasuke ini sebagai suatu perlakuan istimewa yang nggak akan pernah mereka dapat, satu per satu mulai berlari meninggalkan TKP dengan hati yang terluka.
Sasuke nggak sempat merhatiin cewek-ceweknya. "Woi, kau nggak apa-apa? Hyuuga?"
Hinata mengangguk pelan, berusaha mengeluarkan suara tapi usahanya gagal karena suaranya macet di tenggorokan. Alhasil yang terdengar hanyalah decit putus asa.
Sasuke menghela nafas, mungkin Tuhan khusus mengirimkan Hinata kepadanya sebagai anugerah, sekaligus musibah.
-#-
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC
.
.
Just My Luck
.: Your Favorite Enemy :.
.
.
.
Sasuke merasa, hari-harinya jadi lebih panjang dan menyiksa karena dia nggak berhenti memikirkan satu nama.
Rencana awalnya dengan Naruto memang supaya dia jatuh cinta sama cewek demi menyingkirkan label homo yang telah mengotori namanya sejak zaman dahulu kala, tapi Sasuke nggak pernah menyangka kalau jatuh cinta rasanya sesusah ini.
Susah, rumit, repot. Nggak bisa mikir apa-apa, khawatir, gengsi, canggung. Dia pikir orang bertindak bodoh saat jatuh cinta karena mereka pada dasarnya mereka memang bodoh, tapi bahkan Sasuke yang cool gagal mempertahankan sikap cool-nya. Sasuke merasa jatuh cinta malah lebih menjatuhkan nama baiknya, rasanya dia udah lupa gimana caranya jadi keren.
Tiap hari, dia akan mengawasi Hinata yang duduk di bangku paling depan, mengamati sosoknya yang dengan rajin mencatat apa yang ditulis sensei di papan tulis. Kemudian dia akan buru-buru kembali ke buku diktatnya sebelum Hinata menyadari bahwa seseorang sedang ngelihatin dia dengan muka pervert.
Jatuh cinta bikin dia kehilangan momen-momen berharga. Saat teman-temannya asyik diskusi tentang judul bokep favorit mereka, Sasuke malah kepikiran senyum Hinata yang lembut dan hangat kaya' beludru. Saat temen-temen yang lain sibuk ngegodain cewek cantik di kelas sebelah, dia malah ingat wajah Hinata yang merona saat malu.
"Teme, lo nggak apa-apa?"
Naruto khawatir. Seharian dia amati, Sasuke cuma mengeluarkan satu atau dua patah kata. Meskipun Sasuke termasuk orang yang kalem dan pendiam, pasti ada minimal satu hinaan yang ditujukan untuk Naruto keluar dari bibirnya. Hari ini, nihil.
"Hn, gue cuma lagi mikir."
Alis Naruto berkerut. "Mikirin apa?"
Sasuke mengatakan hal pertama yang terlintas di otaknya. "Bokep."
"Oh, kirain." Naruto lega karena Sasuke masih menjadi dirinya sendiri. "Aku takutnya kamu kena flu babi."
Mengabaikan kalimat Naruto yang menghina, Sasuke kembali memfokuskan perhatiannya ke Kurenai-sensei yang asyik menjelaskan tentang hukum termodinamika pertama. Sasuke bersumpah dia nggak ngerti satu katapun yang diucapkan sensei-nya.
Bel pulang sekolah terdengar dan Kurenai-sensei merapikan buku-bukunya sebelum meninggalkan ruangan kelas. Sasuke memasukkan buku-buku serta alat-alat tulisnya, ingin segera pulang dan menikmati angin segar dari kipas angin.
Sasuke pura-pura lupa berpamitan dengan Naruto dan melangkah menuju pintu keluar. Koridor penuh sesak seperti biasa, tapi dia bersyukur karena dengan begini, bahkan mata-mata awas para fangirls-nya akan luput.
Sasuke baru sampai di halaman depan ketika seseorang meneriakkan namanya.
"Sasuke-kun!" Terlihat sosok cewek mendekat, rambut hitamnya berkibar saat dia berlari.
Sasuke mengenalinya sebagai salah satu perempuan yang mewek ketika menemukan dia dan Hinata di bawah pohon plum. Tapi dia datang sendiri, tidak dengan Karin atau perempuan-perempuan buas yang lain, Sasuke tidak mencium adanya bahaya dengan kedatangan gadis ini.
Kin berhenti di depan Sasuke, terengah-engah. Sasuke hanya mengawasinya ketika dia mengambil waktu untuk bernafas. Di sela-sela nafasnya yang memburu, dia berusaha untuk mengeluarkan kalimat.
"Sasuke-kun... tolong... di lapangan belakang... Karin, dia lepas kendali. Hinata..."
Sasuke hampir tak memahami setengah dari isi kalimat yang diucapkan Kin, tapi jantungnya serasa diperas saat mendengar kata terakhir. Yang terpikirkan olehnya hanyalah untuk berada di sana sesegera mungkin.
Sasuke berbalik, menerjang kerumunan anak-anak yang lewat. Dia menerjang koridor sekali lagi, menabrak satu-dua orang tanpa sempat meminta maaf, secepat mungkin berlari menuju ke halaman belakang. Kin menyusul di belakangnya.
Sasuke menghentikan langkahnya ketika sampai di halaman belakang. Di sana, di pusat lapangan, matanya menangkap sosok Karin, dikerumuni gadis-gadis lain yang familiar. Tentu saja, mereka baru saja bertatap muka kemarin, meskipun dia nggak mengenal sebagian besar dari mereka, ingatannya tentang wajah mereka masih kuat.
"Karin, hentikan!" Sasuke terengah, berusaha mendekat. Figur Karin menghalanginya untuk melihat Hinata dari sudut darimana dia datang. "Menyingkir!"
Dia menggeser Karin dengan paksa, berusaha mencapai Hinata yang jadi pusat kerumunan. Tapi sesampainya di sana, dia tak melihat seorang pun.
"Akhirnya." Karin melengkungkan senyum liciknya.
Sasuke memandang sekeliling, sadar kalau kini dialah yang jadi pusat dari kerumunan. "Apa-apaan ini? Mana Hinata?"
"Kenapa kau tanya kita, Sasuke-kun?" Karin maju selangkah, Sasuke ingin mundur tapi gadis-gadis di belakangnya tidak mengizinkan. "Bukankah dia cewekmu?"
Kin yang baru datang mulai mengisi bagian lingkaran yang kosong. Sasuke melempar tatapan tajam ke arahnya, yang dibalas Kin dengan senyum tipis.
"Sasuke-kun, apa yang kurang dariku?" Sasuke merasakan adanya bahaya ketika Karin makin mendekat, membuka kancing teratas dari seragamnya. "Apa sih istimewanya cewek itu?"
Sasuke nggak menemukan jalan keluar. Dia berusaha mencari celah di antara kerumunan, tapi bahkan sebelum dia sempat bergerak, Tayuya dan Kin menggenggam kedua lengannya, kuat. Kuku-kuku mereka yang tajam dan rajin dimanicure menekan lengan seragam Sasuke. Sasuke meringis, nggak rela kalau kulit mulusnya yang berharga lecet.
"Sasuke-kun..."
Terjepit, sendirian, nista. Sasuke udah kaya' mau nangis rasanya. Dia berontak tapi fangirls-nya ternyata cewek-cewek perkasa. Karin makin mendekat, kancing kedua seragamnya terbuka. Sasuke memalingkan wajah, menutup kedua kelopak matanya erat. Meraung-raung dalam hati dan bertanya kenapa hal ini terjadi padanya.
"Oi, oi, hentikan!"
Inikah akhirnya? Di dalam ketidakberdayaan, di bawah teror gadis-gadis yang selama ini haus akan cintanya? Sasuke menyesal selama ini tidak pernah memperlakukan mereka sebagai manusia, tapi dia tak pernah menyangka inilah karma yang akan dia dapatkan.
Karin mendekat, mengelus bagian belakang kepala Sasuke pelan, menghancurkan tatanan rambut pantat ayamnya yang sempurna. Sasuke mendecit nista, ingin teriak minta tolong tapi kepentok gengsi. Wajah Karin hanya tinggal beberapa inci dari wajah Sasuke, dia hampir dapat merasakan desah nafas Karin di pipinya.
Selamat tinggal, keperjakaanku...
"Hentikan!"
Sasuke membuka matanya. Pegangan tangan Tayuya dan Kin pada kedua lengannya, merenggang ketika mereka menyadari kehadiran lain di lapangan belakang. Karin menjerit keras, berbalik dan mengancingkan seragamnya. Kerumunan fangirls memecah, saat itulah Sasuke bisa melihat dengan jelas sosok berambut panjang dengan mata lavender pucat.
"Neji?!"
Hyuuga yang selalu berusaha dihindari Sasuke itu, mendekat. Dia datang tiba-tiba, entah dari mana, nggak diundang, nggak dijemput. Cara berjalannya bikin Sasuke muak. Tapi di saat begini, Sasuke nggak bisa bilang dia nggak lega melihat si Ketua OSIS.
"Girls, kalau kalian mau dapat cowok, lakukan dengan cara yang halal." Senyum licik menghiasi wajah songongnya.
Cewek-cewek mundur selangkah, kekhawatiran mulai menghiasi wajah mereka. Kedatangan Neji si Ketua OSIS adalah bencana, sama seperti kedatangan aparat polisi bagi para waria. Mencium adanya bahaya, cewek-cewek melempar pandangan ke Karin, menunggu titah dari sang leader.
Karin sama takutnya dengan yang lain. "Mau apa lo kemari?" Suaranya bergetar tapi dia mencoba untuk berani.
Neji mendekat, mengamati satu per satu dari mereka dengan seksama. Tatapannya berhenti di Sasuke, dan Sasuke menemukan ekspresi kemenangan di muka Hyuuga yang angkuh itu.
"Well, gue Ketos, udah tugas gue buat menertibkan sekolah kan?" katanya santai, seolah mereka sedang terlibat dalam obrolan Minggu pagi di kafe, dengan dua kopi di meja.
Karin menggertakkan gigi-giginya. "Gue nggak takut sama lo!"
Neji terkekeh, tawanya terdengar berbahaya bahkan buat Sasuke yang nggak seharusnya merasa terancam. "Ngapain juga lo takut sama gue? Lo harusnya takut sama diri lo sendiri." Dia menyelipkan kedua tangannya pada saku celana. "Kalian memang pintar, memilih lapangan belakang sebagai tempat menjalankan rencana kalian. Kalian cari tempat yang nggak diawasi guru kan?"
Karin menelan ludah. Dia mengerling ke kroni-kroninya, tapi mereka udah menciut, sembunyi di balik punggungnya.
"Di sini memang nggak ada kamera yang terhubung dengan ruang guru." Neji mengerling ke pohon plum yang berjarak beberapa meter dari tong sampah, mengingatkan Sasuke pada Hinata dan bekal makan siangnya. "Tapi di sana, ada kamera khusus yang kupasang, terhubung langsung ke ruang OSIS."
Karin menatap Neji, matanya melebar.
"Kita bisa jadikan kejadian hari ini sebagai rahasia kecil kita, asalkan kau tinggalkan bocah malang itu. Jangan dekat-dekat dia lagi, hidupnya sudah cukup sengsara tanpa kehadiran kalian."
Mata Karin menyipit, dia memberi isyarat pada teman-teman seperjuangannya. "Ayo." Dia melangkah menuju gerbang masuk, diikuti oleh pasukannya yang kalah perang, meninggalkan Sasuke yang kucel dengan Neji.
Sasuke memalingkan muka, menolak untuk menghadapi Neji yang kaya'nya udah siap-siap nebar confetti saking puasnya.
"You're welcome." Neji mempermudah hidup Sasuke dengan membebaskannya dari kewajiban untuk bilang "terima kasih". "Kau berhutang padaku, Uchiha."
Sasuke mendengus. Dia menatap pohon plum yang menyebar sejuta kenangannya dengan Hinata, kemudian Neji. "Kau bohong soal kamera itu kan?"
Neji menaikkan sebelah alisnya, diam sebentar, kemudian tersenyum. "Kau ingin aku memberitahu mereka soal itu?"
Mata Neji berkilat berbahaya. "Aku punya penawaran buatmu, Uchiha. Kau bisa terbebas dari hutang moral karena telah diselamatkan oleh aku yang berhati mulia ini," Neji membusungkan dadanya, Sasuke merasakan gejala muntaber, "Dengan satu syarat."
Sasuke tersenyum simpul. Dari awal memang dia tidak mengharapkan Neji akan berbuat baik padanya secara cuma-cuma.
"Jauhi Hinata."
Sasuke terkekeh. Hyuuga yang satu ini memang paling mudah ditebak. "Urusi urusanmu sendiri, Hyuuga."
Alis Neji berkerut, terlihat tersinggung. "Kau pikir ini tentangku?" Dia maju selangkah, memperkecil jarak di antara mereka, menciutkan rasa aman yang dimiliki Sasuke. "Kau pikir aku punya sister complex atau semacamnya?"
Sasuke tidak menjawab, sama sekali tak bergerak meskipun dia tidak nyaman dengan kondisinya sekarang yang begitu dekat dengan Neji.
"Ini lebih serius dari yang kau bayangkan, Tolol." Neji mencondongkan tubuhnya ke depan, memandang Sasuke dengan tatapannya yang dingin, tajam. "Kau tahu kenapa Hinata tidak diizinkan punya pacar?"
Neji menatapnya tanpa berkedip. Sasuke bergeming.
Sasuke tak pernah tahu kalau ada peraturan yang melarang Hinata untuk punya pacar, sekarang asumsinya kalau Hyuuga itu kolot terkonfirmasi sudah.
"Kau benar-benar tidak tahu ya?" Neji menyipitkan matanya. "Hinata sudah bertunangan."
Jantungnya mencelos. Untuk sesaat, Sasuke nggak bisa berpikir. Dia merasakan sensasi menyesakkan dalam dadanya ketika pemahaman mulai terbentuk di kepalanya.
Sasuke merasakan tenggorokannya kering. "Jangan bercanda."
"Apa aku terlihat seperti bercanda?"
Sasuke menelan ludah, otaknya berpikir keras, tapi tak satu pun kata keluar dari mulutnya. Seolah semua yang ingin dia utarakan tersangkut di tenggorokan. Tatapan Neji yang mengintimidasi membuatnya gugup.
"Siapa?" Setelah beberapa detik yang menyiksa, Sasuke akhirnya berhasil menyuarakan satu kata.
Neji tersenyum, hampir seperti seringaian. "Apa ada bedanya kalau kau tahu?"
-tbc-
Well... here it is. Jadi ceritanya saya ini anak kelas 12 dan seperti yang saudara-saudara tahu, UN baru saja berakhir tanggal 16 kemarin, jadi saya bisa mengurusi fanfic saya yang terbengkalai, akhirnya.
Are you happy with this chapter? Love it, hate it, leave a comment anyway. :))
