"Kau tahu alasan kenapa Tuhan menciptakan omega dengan kemampuan terbatas?"
Pria tampan berlesung pipi sedalam samudra itu tersenyum penuh arti, lalu memeluk lebih erat punggung kecil dihadapan nya. Ia menyandarkan dagu itu di bahu si omega, sembari mengangguk pelan.
"Tentu saja..." ucap nya lirih.
"Benarkah? Apakah karena penciuman kami yang lemah? Kau tahu omega hanya bisa mendeteksi bau Alpha"
Pria yang lebih tinggi itu menggeleng santai.
"Lalu kenapa?"
Entitas manis dalam pelukan si Alpha memiringkan kepala nya. Ia menatap lekat manik hazelnut itu, terlihat tertarik dengan jawaban yang akan dilontarkan belahan jiwa nya.
Pria tampan itu pura-pura berpikir sejenak, lalu dengan lihai mencuri kecupan di bibir tebal semerah plum milik kekasih nya.
"Tentu saja karena omega adalah makhluk paling istimewa yang Tuhan pernah ciptakan"
Ia mengelus pipi tembam itu seraya menghapus bekas saliva yang membasahi bibir erotis si omega.
"Cih"
Pria pendek bersurai gray ash itu menggerutu kesal sembari melipat kedua tangan di dada. Ia mengutuk.
"Bodoh sekali, karena sesaat tadi aku percaya bahwa kau akan menjawab ku dengan serius"
"Terima kasih atas omong kosong mu, Tuan Rapper Jenius"
Jimin menekan setiap kata dalam kalimat nya. Si Alpha hanya bisa tertawa renyah melihat sarkasme menggemaskan mate nya. Wajah tampan itu ia sembunyikan di lekukan leher omega sembari berbisik rendah dengan suara baritone paling sensual yang ia miliki.
"Keterbatasan hanyalah stigma yang diciptakan masyarakat karena mereka tidak mau mengakui betapa istimewa nya seorang omega"
"Seperti Jiminie, omega paling luar biasa yang pernah kutemui karena telah melampaui segala keterbatasan nya dan menjadi tempat pulang bagi entitas rendahan seperti ku"
"Aku percaya semua omega mempunyai jalan masing-masing untuk menghancurkan keterbatasan itu dan dapat menjadi tempat kembali untuk mereka yang sangat membutuhkan nya"
Senyuman kecil mengembang dengan indah di bibir tebal si Alpha. Kilauan mentari senja yang secara dramatis menimpa wajah tampan itu menyebabkan lesung pipi RM terlihat berkali lipat lebih bersinar di mata omega nya.
Park Jimin terkesima. Jantung nya bedegup kencang tanpa komando.
Melihat reaksi si omega yang tidak terduga, senyum itu seketika berubah menjadi seringai nakal.
"Oho, Apakah Jimin-ku jatuh cinta lagi dengan belahan jiwa nya yang gagah nan tampan ini?"
RM menutup muka nya yang memerah setelah mengucapkan kata-kata tersebut. Jimin menarik kedua pergelangan tangan RM lalu menggigit pipi si Alpha dengan gemas.
"Kau juga makhluk paling luar biasa yang pernah ku temui"
Mereka dengan dalam, bola mata satu sama lain. Omega itu tersenyum sangat manis hingga kelopak nya berbentuk bulan sabit sempurna.
"RM-ku yang gagah, rendah hati dan berwibawa. Kau harus lebih percaya dengan diri mu sendiri"
"Diatas dunia ini, siapa lagi yang bisa menjadi Alpha dari omega luar biasa seperti Park Jimin selain diri mu!"
Jimin memukul dada mochi nya dengan ekspresi bangga. Ia mengecup sekilas hidung si Alpha, penuh kasih sayang.
"Aku mencintai mu, Park Jimin"
"Aku juga mencintai diri ku, Rap Monster"
RM terkekeh ringan, mendengar perkataan lucu si omega. Ia melumat bibir merah muda itu penuh cinta. Menenggelamkan belahan jiwa nya dalam rhapsody nafsu yang tidak berujung.
Memory itu lagi, memory bahagia namun berakhir menyedihkan antara Jimin dan belahan jiwa nya, RM. 15 tahun telah berlalu, namun ia masih berusaha menghapus ingatan itu, melenyapkan nya bersama dengan kematian RM yang begitu tiba-tiba.
-FMW-
Park Jimin menatap dengan pandangan kosong deretan lampu jalan yang menerangi kompleks sekolah swasta itu. Aktivitas internal relatif sudah meredup, menandakan malam telah larut.
Hanya tinggal beberapa staff dan siswa organisasi yang masih berada di area sekolah dan mereka sendiri sudah berjalan menuju rumah masing-masing.
Jimin mengusap kedua mata nya yang kelelahan karena seharian menginspeksi dokumen-dokumen penting. Kim Minjae, sang diktator yang juga merangkap sebagai sekretaris nya mempekerjakan pimpinan sekolah itu dengan sangat keras.
Sekolah yang awalnya adalah sanctuary bagi Jimin dalam sekejap mata menjadi Inferno, karena tekanan yang tercipta dari dalam diri dan eksternal nya.
Jimin frustasi dan berkali-kali ingin melarikan diri, namun Minjae, si iblis berbalut omega cantik itu seratus persen akan menjadikan nya pekerja rodi plus romusha jika Jimin tetap nekat untuk melakukan hal tersebut.
Walaupun begitu, Bukan berarti Jimin membenci Minjae ataupun pekerjaan nya. Mereka adalah beberapa hal yang menjadi alasan nya untuk tetap bertahan hidup (Setelah kematian RM, selama beberapa tahun omega tersebut mengalami depresi berat)
Akan tetapi, heat nya yang datang terlambat bulan itu, menjadikan tubuh nya lebih mudah lelah daripada biasa nya.
Jimin membenci diri nya. Dia benci tubuh nya. Dia benci kesendirian. Dia juga benci sifat nya yang melankolis. Namun semua itu tidak ada apa-apa nya dibanding kebencian nya menjadi seorang omega.
Struggle menjadi seorang omega sangat lah nyata. Tidak hanya tekanan dari masyarakat, tapi kondisi biologis tubuh mereka yang juga merepotkan.
Heat yang datang setiap bulan nya menyebabkan omega tidak bisa bekerja normal seperti individu lain.
Secara fisiologis, tubuh Jimin adalah seorang pria, walaupun omega pria jauh lebih cantik dibanding wanita kebanyakan, namun dia memiliki hardware layak nya pria dewasa.
Sayangnya, dalam tubuh itu terdapat perangkat tambahan lain bernama Uterus. Perangkat luar biasa yang mampu menjadikan Jimin dan omega pria umum nya seorang ibu.
Menjadi seorang ibu terdengar, tidak terlalu buruk bagi diri nya. Mungkin karena insting ke-Omega-an nya yang mengontrol pikiran tersebut.
Namun untuk menjadi seorang ibu, dibutuhkan seorang ayah. Yang artinya Jimin harus dibuahi oleh seorang Alpha, hingga mengandung dan diklaim untuk mengikat status mereka sebagai belahan jiwa.
Di atas dunia ini tidak ada makhluk yang lebih di benci nya selain Alpha, terlebih lagi Alpha Superior. 99.99% Alpha Superior yang pernah ia temui adalah pria brengsek yang menganggap diri mereka hebat.
Bagi Jimin yang merupakan bagian dari kaum peripheral dengan pemikiran revolusioner, Alpha adalah makhluk primitif yang mengimplementasikan hukum rimba hanya karena mereka kuat dalam banyak hal.
Tidak ada simpati maupun penghargaan bagi sub gender yang jauh lebih rendah. Mereka melihat omega sebagai lubang dan wadah untuk bereproduksi.
Sedangkan para Alpha menganggap beta sebagai angkatan kerja yang akan selalu patuh dengan sistem yang mereka ciptakan. Hal ini tentu pola pikir yang tidak kompeten untuk makhluk yang sangat diagungkan oleh masyarakat.
Oleh karena itu, sebagai 0.1% omega yang beruntung, Jimin berupaya melindungi semua omega yang membutuhkan pertolongan.
Dengan berbagai cara, persuasif ataupun koersif, ia mengadopsi -membeli- para omega yang tidak diinginkan oleh keluarga mereka.
Jimin menjadi sahabat, orang tua serta kakak bagi para subgender minoritas tersebut. Ia juga menciptakan sekolah yang setara serta anti diskriminasi bagi semua sub-gender, demi mengabulkan permintaan terakhir mate nya, RM yang terbunuh karena idealisme nya sendiri.
Waktu menunjukkan pukul 1 pagi, ketika Jimin telah menyelesaikan seluruh pekerjaan nya.
Pria itu segera menuju kantor Minjae yang berada disebelah ruangan dan memerintahkan omega tersebut meninggalkan semua berkas yang belum selesai hari itu.
"Minjae-ah, ayo pulang"
"Aku tau kau sangat mencintai pekerjaan mu. Tapi heat mu bulan ini akan sangat menyakitkan jika kau memaksa diri mu terlalu keras"
Minjae mengangkat wajah nya dari tumpukan dokumen yang mengubur sebagian besar tubuh kecil itu.
Kantung mata panda yang menggantung di bawah iris amber tersebut menjadi saksi bisu kerja keras nya hari itu. Ia tersenyum lelah sembari menutup laptop yang menyala dihadapan nya.
"Aku baik-baik saja"
"Sepertinya kau sudah menyelesaikan semua pekerjaan mu, Jiminnie"
"Tentu saja" sahut Jimin bangga. Ia menarik tangan Minjae menuju satu-satu nya sofa kulit di tempat tersebut dan duduk saling berhadapan disana.
"Kau tidak apa-apa, Jae-ah? Aku tidak pernah melihat mu bekerja sekeras ini sebelum nya. Adakah sesuatu yang mengganggu mu?" tanya Jimin dengan alis bertaut dan rona khawatir yang tidak dapat disembunyikan.
Ia menggenggam kedua tangan Minjae dan mengelus nya. Mengalirkan simpati dan afeksi dalam hubungan persahabatan mereka.
"Kim Taehyung dan Kim Namjoon"
"Tidakkah mereka terlihat seperti V dan RM di mata mu?" ucap Minjae tiba-tiba, sembari memandang kedua iris gelap Jimin yang langsung bergetar karena mendengar empat nama tersebut.
Ia dapat melihat kesedihan di manik itu, merongrong perasaan bersalah yang mulai berbenih di jiwa nya. Namun tidak ada yang bisa mengalahkan rasa penasaran nya.
"Mengapa kau harus mengungkit-ungkit orang-orang yang sudah mati?" ucap Jimin dingin.
"Aku tidak ingin membahas hal bodoh seperti itu. Mereka manusia yang berbeda, Minjae-ah. Kim Taehyung dan Namjoon mungkin baru lahir ketika RM dan V mati. Tidak mungki-"
Perkataan nya terhenti ketika Jimin melihat determinasi di mata sahabat nya. Omega itu melepaskan genggaman nya dari tangan Minjae seraya memalingkan wajah.
"Tapi aku bisa merasakan nya, Jimin-ah. Perasaan yang ikut mati bersama V 15 tahun yang lalu, sekarang hidup kembali karena Taehyung"
"Omega dalam tubuh ku mengenali Alpha dalam diri Kim Taehyung, seperti aku mengenali Alpha dalam diri V"
Minjae menarik dagu Jimin, memaksa pria itu kembali menatap nya. Omega itu lalu mendekap sahabat nya sembari menyenderkan dagu itu di pundak Jimin.
"Kau mengetahui nya. Apakah tubuh mu merespon keberadaan Kim Namjoon?" Jimin terlihat ragu untuk mengungkapkan fakta tersebut, namun akhirnya ia mengangguk lemah.
"Aku tidak mengerti, mengapa mereka terlihat begitu sama. Mengapa tubuh ku bereaksi karena nya"
"Seperti RM dan V terlahir kembali untuk mengejek ku, karena tidak bisa membalaskan dendam mereka. Aku takut, Jae-ah" sahut omega manis itu sembari menekuk kedua kaki nya ke tubuh. Menenggelamkan wajah nya di lutut, dimana aura kesedihan mulai meradiasi diri itu.
Minjae menghela napas. Ia tidak akan membiarkan diri nya menjadi penyebab Jimin depresi kembali. Dia bertekad akan melakukan segala cara demi mengetahui kebenaran nya. Kebenaran akan segala kekacauan ini.
Pria itu memegang kedua bahu Jimin, memaksa omega tersebut untuk menegakkan tubuh nya. Ia berusaha meyakinkan sahabat serta penyelamat hidup nya tersebut.
"Hey, Semua akan baik-baik saja. Aku bersama mu, kita akan menghadapi nya bersama"
"Selain itu, aku akan mencari tahu lebih lanjut apa yang sebenarnya terjadi"
"Hmm"
Tidak ada jawaban. Minjae memeluk Jimin dengan erat, membenamkan ingatan masa lalu itu pada tarian macabre antara empat entitas senyawa yang dipermainkan oleh takdir.
What a mess!
-FMW-
Tidak banyak yang Seokjin inginkan di dunia ini. Dia hanya ingin, Tuhan mengabulkan dua permintaan nya. Dua hal sederhana yang mungkin tidak akan pernah diterima nya setelah menjadi Omega, jika saja Seokjin bersikeras tetap hidup ditengah-tengah keluarga Kim.
Oleh karena nya, pertemuan takdir Kim Seokjin dengan Park Jimin dan Kim Minjae di SMA Hwagae malam itu, tepat setelah aksidental mating nya dengan Jungkook merupakan bentuk harapan baru dan jawaban atas doa omega tersebut.
Jimin dan Minjae tidak hanya penyelamat hidup Seokjin. Namun mereka juga Fairy Godmothers nya. Kedua pria itu telah membuktikan, bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengabulkan dua impian Jin.
Impian kecil yang selayaknya menjadi hak dasar setiap manusia. Karena Seokjin hanya ingin hidup aman bersama orang-orang yang dia sayangi dan diakui sebagai seorang individu di dunia ini, tidak peduli apapun sub gender nya. Sederhana dan Klasik.
Seokjin sadar, ia sangat egois karena memutuskan untuk melarikan diri dari sekutu loyal nya, Namjoon dan Taehyung.
Derajat mereka berbeda. Kapabilitas kedua saudara nya Superior. Mereka tidak dapat membangun impian bersama. Mereka memiliki masa depan yang berbeda.
Seokjin tidak ingin mengambil resiko yang membahayakan kedua saudara nya tersebut. Ia tidak akan membiarkan Namjoon dan Taehyung merelakan kebahagian, kekuasaan serta tanggung jawab mereka demi Seokjin.
Bagaimanapun juga, Namjoon dan Taehyung adalah pewaris utama serta penerus legacy keluarga Kim.
Seminggu yang lalu, tepat setelah heat nya selesai. Seokjin menyetujui tawaran Jimin untuk mengadopsi nya. Ia tidak perlu bertemu dengan kakek Kim untuk mendapat izin, karena orang tua baru nya itu akan mengurusi segala berkas formal maupun persetujuan informal dari keluarga Kim.
Jimin tidak pernah memberi tahu proses detail, bagaimana ia melakukan hal tersebut. Namun, pria itu mengakui bahwa ia menggunakan manuver koersif dan sedikit cara kotor untuk mencapai keinginan nya.
Sesuai persetujuan, Seokjin akan hidup bersama omega lain di rumah kedua penyelamat nya tersebut.
Kim Junmyeon atau Suho dan Byun Baekhyun memiliki latar belakang yang sama, namun dengan cerita yang berbeda dari Seokjin. Mereka diadopsi oleh Jimin dan Minjae sejak berusia 5 tahun. Dan menjadi teman baik Seokjin saat dia baru saja masuk ke keluarga tersebut.
Seokjin merasa diterima dan menemukan tempat nya untuk belajar serta mengekspresikan diri. Semua omega di rumah tersebut tidak lemah. Mereka memiliki suara untuk menegakkan idealisme masing-masing. Hal yang tidak Jin miliki, bahkan saat dia masih berstatus Alpha.
Dalam didikan nya, Jimin dan Minjae memastikan setiap dari mereka mempunyai kepercayaan diri untuk berjalan sejajar dengan sub-gender lain.
Hanya karena memiliki Uterus dan mengalami Heat, omega bukanlah makhluk submissive. Sex adalah hak bukan kewajiban. Omega berhak menolak mate nya yang ingin bercinta, tanpa persetujuan nya.
Sejak secara resmi pindah ke rumah Jimin dan Minjae, tepat nya selama dua minggu ini, Seokjin tidak pernah datang ke sekolah ataupun menemui kedua saudara nya. Dia hanya menghubungi mereka secara virtual, melalui pesan suara ataupun pesan singkat.
Dia tidak siap untuk bertemu dengan mate nya Jungkook. Dia tidak siap melihat respon Namjoon dan Taehyung akan keputusan final nya.
Namun, Jimin dan Minjae terus meyakinkan Seokjin bahwa semua akan baik-baik saja. Keluarga Kim tidak akan bisa menyakiti nya karena kedua orang tua baru nya itu akan selalu melindungi Seokjin.
Seokjin menggenggam kebebasan yang ia rindukan. Ia mendapatkan segala kebahagiaan duniawi yang diimpikan. Secara pertalian darah, dia masih saudara kandung Namjoon dan Taehyung. Sedangkan secara takdir, Seokjin adalah mate Jungkook.
Saat ini, tidak ada yang perlu dia khawatirkan. Seharusnya, tidak ada yang ia takutkan. Namun semua nya terlalu mudah. Takdir terlalu berbaik hati pada nya. Seokjin mulai takut akan badai yang akan datang setelah dia hidup dalam keamanan dan kenyamanan. Seokjin takut akan terpaan kuat yang membuat nya kehilangan arah dan tersesat dalam ketidaktahuan nya sendiri. Tidak pernah kembali. Lalu lenyap.
-FMW-
"Jinnie-hyung, pilih yukgaejang atau seolleongtang ?
"Yukgaejang"
"Jelly bean atau Ice Cream?"
"Jelly Bean"
"Rumah atau Apartemen?"
"Rumah"
"Bottom atau Top?"
"Bottom"
"Jeon Jungkook atau Oh Sehun?"
"Jeon Jungkook. Ah! Sial"
Seokjin secara tidak sadar membekap mulut nya dengan rona wajah yang memerah.
Menggunakan gulungan buku di genggaman itu, ia refleks memukul cukup keras lengan atas Baekhyun yang langsung terbahak-bahak melihat reaksitersebut.
Baekhyun segera berlari ke belakang Suho, berlindung di balik omega yang hampir seukuran dengan dirinya.
Ia tentu saja tidak siap dihajar oleh Seokjin, si worldwide shoulder dan mantan Alpha yang memiliki mentalitas Superior.
Walaupun secara pribadi Baekhyun sangat yakin, Seokjin tidak akan pernah melakukan kekerasan, mengingat betapa lembut sifat omega itu.
Namun Baekhyun tetap berlari kearah Suho, karena ingin memancing reaksi tambahan hyung nya itu.
Manusia itu sangat menarik. Baekhyun secara khusus menyukai reaksi kedua omega cantik namun tampan itu. Kenapa?. Karena Seokjin dan Suho tidak pernah merusak ekspektasi nya.
Terbukti, saat ini Suho mendelik tajam ke arah Omega termuda di ruangan tersebut sembari menggulung buku yang sedang dibaca nya.
"Hyung-nim, jangan melihat ku seperti itu. Aku hanya bercanda. Sungguh. Hm" ucap Baekhyun dengan raut memelas. Ia mengambil calon instrument pemukul itu dari jemari Suho dan meletakkan nya dengan aman di meja.
Baekhyun sangat mengenal diri Suho, luar dan dalam. Tidak seperti Jin yang baru dikenal nya beberapa minggu ini, Baekhyun sudah hidup bersama Suho sejak kecil.
Pada dasar nya Suho adalah omega yang manis dan penyabar. Ia relatif tegas dengan diri nya sendiri, namun penuh pertimbangan terhadap orang lain.
Sehingga akan sangat mengejutkan jika omega seperti itu selalu bereaksi keras setiap Baekhyun melibatkan nama Sehun dalam setiap permainan bodoh nya.
Bahkan seperti radio rusak, Suho berkali-kali telah memproklamirkan kepada semua orang di rumah tersebut bahwa diri nya tidak sudi mengakui Oh Sehun sebagai Alpha nya, terlebih lagi diklaim oleh pria tersebut.
Baekhyun menarik-narik lengan kemeja Suho dengan puppy eyes nya. Lalu mengecup pipi lembut omega itu sebagai tanda permintaan maaf.
"Aku minta maaf, hyung. Aku janji tidak akan menyebut nama Alpha mu lagi. Mulutku terkunci" ujar Baekhyun sok manis sembari merapatkan bibir nya. Ia mengacungkan V sign sebagai tanda penepatan janji nya. Baekhyun lagi-lagi berjanji akan hal yang tidak bisa ia tepati.
Suho geleng-geleng kepala, sedangkan Jin hanya terkekeh geli melihat tingkah kekanak-kanakan omega manis tersebut.
Mereka bisa memaklumi sifat Baekhyun yang heboh dan antik. Karena bocah itu seperti nya memang diciptakan, tidak untuk berdiam diri dan menutup mulut nya.
Semua karakteristik itu mengingatkan Jin pada adik kecil nya, Taehyung yang juga sangat childish dan hyperactive.
"Ah hyung! Aku ada ide!" sahut Baekhyun tiba-tiba. Ia duduk diatas pangkuan Suho seraya mengelus dada mungil omega tersebut dengan nakal.
"Apalagi? Aku akan benar-benar memukul mu, jika kau bicara yang aneh-aneh" Suho memijat kepala nya dengan kesal, sembari merenggangkan jemari nya. Ia pura-pura bersiap menghajar bocah dihadapan nya kapan saja.
Walaupun terlihat tidak tertarik, Suho dan Jin sebenarnya penasaran juga dengan ide Baekhyun.
"Tidak aneh, sungguh! Aku hanya ingin berbuat baik untuk kalian berdua"
"Hm!"
"Bagaimana kalau aku meminjamkan Park Chanyeol dan Lee Jaehwan saat Suho-hyung dan Jin-hyung heat bulan depan? Ide bagus kan?" seru bocah itu tanpa rasa bersalah. Jin hanya bisa ternganga, sedangkan Suho sangat berang mendengar ucapan Baekhyun.
Ia baru saja mau memukul kepala Baekhyun dengan kepalan ketika sebuah tangan menahan nya. Minjae menahan tangan Suho yang siap melayang dengan indah di tulang tengkorak bocah nakal tersebut.
"Hey Cabe, sejak kapan Alpha bisamenjadi properti mu? Aku tidak pernah mendidik mu menjadi pria seperti ini" sahut Jimin ringan sambil menyentil dahi Baekhyun dengan 60% kekuatan nya.
"SAKIT! JIMINNIE Sialan.."
Si korban langsung mengerang dangdut karena sentilan kecil tersebut, lalu berlari menuju kamar dan mengunci nya dari dalam.
Tidak ada seorangpun yang berusaha menyusul Baekhyun. Sebab, mereka pikir dia pantas mendapatkan teguran tersebut.
Suho tersenyum manis ke arah Jimin dan Minjae, seraya mengambil tas kerja dan jas mereka.
"Jimin-hyung! Minjae-hyung! Selamat datang. Kalian mau makan atau mandi dulu?" tanya nya cepat. Jin bergeser dari tempat nya, memberikan Jimin space untuk duduk. Sedangkan, Minjae duduk di sofa sebelah mereka.
"Thanks, Junmyeon-ah. Tapi aku dan Jimin ada pembicaraan penting dengan Seokjin. Bisakah kamu pergi ke kamar sekarang?" Suho tersenyum maklum.
"Tentu saja, hyung. Aku akan membawa jas dan tas kalian ke kamar. Ok" Minjae menggangguk sembari tersenyum berterima kasih.
"Selamat malam Jinnie" kata Suho lirih. Ia berjalan menuju tangga dan menghilang di balik pintu cokelat pertama di lantai dua tersebut.
Jimin mulai celingak-celinguk melihat sekitar nya. Setelah memastikan tidak ada seorangpun yang akan mendengar percakapan tersebut kecuali mereka bertiga. Ia menghela napas panjang seperti kehilangan banyak energi.
Minjae juga tidak membantu, ia hanya mengelus punggung Jimin, seolah-olah usahanya dapat menenangkan Omega tersebut.
Seokjin yang melihat tingkah aneh kedua orang tua angkat nya, dibuat kebingungan karena tidak biasa nya mereka bertingkah demikian. Ia akhirnya angkat bicara.
"Jiminnie, Minjae-hyung! Jangan membuatku takut! Kenapa? Apakah terjadi sesuatu yang buruk?" ujar Seokjin dengan raut wajah khawatir. Suara nya ia paksakan setenang mungkin.
Sedari tadi, ia menerka-nerka akan kearah mana pembicaraan ini berjalan. Namun, hanya nama Jungkook, Namjoon dan Taehyung yang mencuat. Ia menyerah. Tidak ada guna nya khawatir. All is well. All is well.
"Eum. Begini Seokjin-ah..." Minjae menggantung kata-kata nya. Sedangkan Jimin terlihat semakin frustasi dari waktu ke waktu.
"Sebenarnya tidak bisa dibilang hal buruk.. Juga tidak bisa dibilang hal tidak buruk.. Hanya saja.."
"Hanya saja?" ulang Jin dengan kaku dan kebingungan.
"Emm..."
"HYUNG!" Minjae menatap lekat mata Seokjin, lalu menutup nya dengan dramatis.
"Hanya saja Jimin melakukan kesalahan" kata Minjae cepat.
"Kesalahan? Kesalahan apa?" Jin menyahut tidak kalah cepat. Ia hampir gila karena penasaran. Jantung nya berdetak sangat kencang karena Minjae terus menggantung kalimat nya.
Jimin menggenggam tangan Minjae, memohon kepada omega tersebut, agar menghentikan omongan nya. Ia sangat malu dan takut dibenci oleh anak angkat nya karena kesalahan tersebut. Jimin berjanji akan membawa kesalahan itu hingga kematian nya.
Minjae yang baru menyadari aura drama yang sedang bermain diantara mereka, langsung menampar pipi nya sendiri dan mendelik kesal pada Jimin.
"Sial! Kenapa juga aku harus ikut-ikutan terbawa suasana. Toh, ini kesalahan mu? Lagipula Seokjin bukan Baekhyun, si ratu drama, Jimin-ah. Dia akan mengerti"
Lengan Jimin langsung ditepis Minjae yang mulai tenang dan waras. Ia berdehem pelan sembari memasang posisi professional nya yang terlihat formal dan elegan.
"Begini, Seokjin-ah. Masalah ini sebenarnya tidak terlalu besar, hanya saja sedikit merepotkan"
"Minggu lalu, Jimin melakukan kesalahan dalam pengisian form adopsi. Seharusnya ia mengisi nama mu di kolom pengadopsian anak seperti Suho dan Baekhyun. Tetapi karena si bodoh ini lagi tidak fokus, dia mengisi nya di kolom istri. Jadi, yap. Secara hukum, kalian resmi menikah"
Minjae menjelaskan dengan panjang lebar.
Seokjin menghembuskan lega sembari mengangguk-angguk pelan. Ia harus lebih mengurangi intensitas khawatir nya. Sejak mengenal Baekhyun dan tinggal bersama nya, entah kenapa hidup Seokjin jadi penuh drama. Dia melakukan mental note untuk mengurangi itu juga.
Seokjin menepuk pundak Jimin seraya menyunggingkan kedua sudut bibir kecil nya keatas. Omega iu tersenyum sangat manis kepada ayah angkat nya, hingga sesaat tadi, Jimin sekilas melihat malaikat dengan dua sayap bersinar sempurna dihadapan nya.
"Calm down, Jimin-ah. Setiap manusia pasti pernah berbuat kesalahan. Satu atau seribu kesalahan tidak bisa menjadi indikasi inkompetensi seseorang. Kesalahan itu sangat manusiawi ok?"
"All is well.. All is well"
Park Jimin hanya mengangguk dengan terkesima. Ia mengelus pipi tembam Seokjin seraya menunjukkan eye smile kebanggannya.
"Kehidupan dan pengalaman mendidik mu dengan sangat baik, Seokjin-ah" kata Jimin lirih. Seokjin tertawa renyah.
"Ya dong, hyung. Nama ku bukan nya Kim Seokjin, jika aku ikut terpengaruh hal bodoh seperti itu"
Dengan menggenggam jemari kecil Jimin, Seokjin meletakkan kedua tangan itu dipangkuan nya lalu perhatian itu berbalik kepada Minjae.
"Minjae-hyung, tidak adakah yang bisa kita lakukan? Misalnya melaporkan ke kantor catatan sipil bahwa terjadi kesalahan dalam pengisian form. Lalu meng'cancel' surat tersebut dan melakukan proses legalitas dari awal?" Minjae berpikir sejenak lalu mengangguk ringan.
"Tentu saja, itu bisa dilakukan" ujar nya enteng.
"Namun, karena surat pernikahan nya sudah dicetak. Butuh waktu cukup lama untuk melakukan semua nya dari awal. Rabu depan mungkin akan mulai ku urus kembali. Masih banyak hal lain yang belum terhandle"
"Terima kasih, hyung!"
Minjae mengangguk. Ia melipat tangan nya di dada sembari mendecak kearah Jimin yang terlihat seperti bola kecil, karena menekuk paha ke tubuh nya.
"Kau lihat! Aku sudah bilang berkali-kali, tidak ada yang perlu kau khawatirkan" omel Minjae kepada sahabat nya. Ia beralih ke arah Seokjin yang menatap insiden langka antara kedua omega tersebut dengan pandangan kosong.
"Kamu tahu Seokjin? Belum sempat berpikir jernih, si pendek ini sudah membuat ku panik duluan. Dia memaksa ku untuk mengganti surat itu malam ini juga, hingga aku harus menghubungi semua pegawai disana. Gila saja! kamu bisa menyuruh birokrat untuk kerja lembur.. Blallala" Minjae mengeluh panjang lebar.
Ia masih menyimpan kesal pada sahabat nya itu. Jimin merangkul Minjae dan berkali-kali meminta maaf kepada pria tersebut. Sedangkan Seokjin tidak terlalu mendengarkan karena terlihat sedang berkonsentrasi penuh terhadap apapun yang dipikirkan nya.
"Jiminnie! Minjae-hyung! Bisakah kita melakukan pertemuan dengan para Alpha senin depan?"
"Huh?"
Minjae dan Jimin hanya terpaku melihat seringai nakal di bibir Seokjin.
"Aku ingin mencoba sesuatu" ucap nya kemudian.
-TBC-
Ok ini chapter terpanjang yang pernah saya tulis dan yang paling membosankan so far.
Filler chapter ini untuk meluruskan kebingungan sebelum nya dan menciptakan kebingungan baru.
Happy reading
Vote dan comment sangat ditunggu..
