.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : T rate/Death Chara/AU/Twisted plot (as usual)
Pair : SasukeXSakura
Genres : Psychology/Mystery/Romance/Tragedy
By Devilish Grin
.
KURUSHII KURUSHII
Chapter 6
.
Siangnya, kediaman Hyuuga
.
Siangnya Sasuke kembali mengunjungi rumah kediaman Hinata. Tapi kali ini dia tidak menemui sang pasien, melainkan Hanabi, adik dari Hinata. Saat ini dia sedang berada di dalam kamar gadis remaja berusia 16 tahun itu. Risih? Sudah pasti, karena ini pertama kalinya ia masuk ke dalam kamar seorang gadis selain Sakura. Tapi apa boleh buat? Gadis itu yang memaksa untuk bicara di dalam kamarnya.
"Kau tahu tidak? Dia sangat tampan! Apalagi kalau dilihat dari dekat!"
Saat ini Hanabi sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Entah sampai kapan gadis itu berencana untuk terus mengobrol dan membuat Sasuke yang sedang duduk menunggunya menjadi jenuh.
"Hanabi, sampai kapan aku harus menunggu?" tanya Sasuke dengan rasa kejengahan yang luar biasa.
Menunggu berlama-lama di dalam kamar seorang gadis dan mendengar percakapan mereka di telepon bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Kalau bukan karena dia ada perlu dengan Hanabi, dia tak akan mungkin mau menunggui gadis itu di dalam kamarnya seperti sekarang ini. Rasa-rasanya ia ingin pergi keluar sekarang juga, namun ditahannya semua keinginan itu.
"Hanabi di dalam kamarmu ada siapa? Aku mendengar suara laki-laki di sana."
Secara samar Sasuke dapat mendengar suara seorang gadis dari seberang.
"Itu dia laki-laki yang kumaksud." Hanabi berbisik pelan agar Sasuke tidak mendengar omongannya.
"Kyaaaa, benarkah?! Bagaimana dia bisa ada di kamarmu?" kali ini jelas terdengar suara teriakan dari seberang.
"Sssst! Jangan kencang-kencang, nanti dia dengar!" Hanabi memarahi temannya yang berteriak cukup keras. Dia khawatir Sasuke akan mendengarnya.
Sasuke jelas saja mendengarnya. Siapa sih yang tak bisa mendengar suara sekeras dan secempreng itu? Jelas sekali kedua gadis itu sedang membicarakan dirinya diam-diam.
"Hanabi, kalau kau masih lama, lebih baik aku menunggu di luar saja," ucap Sasuke sambil berdiri, bersiap untuk meninggalkan kamar adik Hinata itu.
"Eh, tunggu dulu!" gadis remaja itu menjauhkan teleponnya sesaat dan berteriak memanggil Sasuke yang hendak pergi.
Sasuke berhenti tepat di ambang pintu sambil melirik ke arah kamar dan menatap Hanabi dengan pandangan bosan. Apa lagi yang diinginkan oleh gadis itu, pikir si raven dengan malas. Tidak cukupkah ia menunggu 30 menit di dalam sana?
"Moegi sudah dulu ya, aku harus segera pergi berkencan sekarang!"
Buru-buru gadis itu mematikan ponselnya. Sasuke hanya bisa mengernyit mendengar pernyataan 'kencan' yang tadi terlontar dari mulut gadis itu. Kencan? Siapa yang mengajaknya kencan? Oh, jangan katakan kalau gadis itu sedang merencanakan kencan sepihak terhadap dirinya sekarang. Entah mengapa perasaan Sasuke langsung jadi tidak enak setelah mendengar kata 'kencan' tadi.
"Sasuke, jangan pergi dulu. Aku masih butuh bantuanmu," ucap Hanabi yang sepertinya sudah tidak canggung lagi pada Sasuke meskipun umur mereka terpaut 3 tahun.
"Cepat katakan," balas Sasuke yang batas kesabarannya hampir habis menghadapi Hanabi.
"Bantu aku memilih baju yang tepat untukku pergi jalan-jalan," balas gadis itu dengan wajah sumringah.
"Apa? Kau mau pergi? Bukankah kau sudah berjanji untuk membantuku?"
Sasuke benar-benar tidak mengerti apa maunya Hanabi. Padahal gadis itu sudah berjanji padanya untuk menceritakan hubungan Hinata dengan kekasihnya selama ini, tapi sekarang gadis itu malah mau pergi? Sasuke benar-benar merasa telah dipermainkan.
"Tentu saja aku ingat! Lagipula baju yang akan kupakai untuk kencan kita hari ini!" jawab Hanabi seenaknya. Ternyata gadis itu memang benar-benar merencanakan acara kencan untuk mereka berdua secara sepihak tanpa berkompromi lebih dulu pada Sasuke. Keterlaluan.
"Pilih saja mana yang kau suka, aku akan menunggu di luar!" Sasuke menggeram marah. Kesabarannya benar-benar sudah putus menghadapi tingkah Hanabi.
Tanpa menunggu waktu lama pemuda itu bergegas keluar dengan langkah cepat meninggalkan Hanabi sendirian di kamarnya. Tak peduli dengan teriakan yang beberapa kali menggaung di dalam telinganya memanggil-manggil dirinya untuk kembali ke sana. Persetan dengan semua itu.
Beberapa waktu kemudian
.
Hanabi kini sudah bersiap dan sedang berdiri di depan Sasuke yang sedang menunggunya di depan rumah sambil bersandar di samping pintu mobilnya.
"Maaf kalau tadi aku membuatmu marah," ujar sang gadis dengan gaya yang dibuat-buat.
Sasuke mengamati Hanabi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kepalanya langsung terasa sakit melihat cara berpakaian gadis itu. Hanabi mengenakan kaos ketat bertali tipis berwarna kuning mencolok dan bagian perutnya sedikit terbuka. Dia juga mengenakan celana denim beberapa centi di bawah lutut berwarna putih yang dikenakan di pinggulnya. Tak lupa sepasang high heels berwarna senada dengan bajunya. Hanabi tak mengenakan banyak aksesoris. Dia hanya memakai sebuah gelang dan membiarkan rambut coklat mudanya tergerai.
Sasuke meringis sendiri melihat dandanan Hanabi yang terlalu berani untuk anak gadis seusianya. Gadis itu benar-benar butuh dididik tentang sopan-santun cara berpakaian yang baik dan benar. Hanabi benar-benar butuh bimbingan! Timbul satu pertanyaan yang menggelitik dalam benaknya. Apakah semua gadis remaja sekarang ini berdandan seperti Hanabi?
Sasuke menggeleng pelan mengenai pertanyaan yang sempat terlintas dalam hatinya. Sudahlah, untuk apa dia memikirkan hal itu? Dia itu seorang terapist bukan seorang konsultan anak.
"Masuklah." Sasuke menghela napas sabar dan menyuruh gadis itu untuk masuk ke dalam mobil.
Sasuke duduk di bangku kemudinya menunggu Hanabi untuk masuk ke dalam. Ternyata gadis itu tidak langsung masuk. Dia berjalan berputar di depan Sasuke. Sudah dapat ditebak gadis itu mengincar bangku depan agar bisa duduk bersebelahan dengan Sasuke.
Benar saja dugaan Sasuke, gadis itu membuka pintu depan dan langsung masuk ke dalam.
"Terima kasih," ucapnya sambil memandang Sasuke dan mengulum senyum ke arahnya.
"Hn." Sasuke tidak bisa berbuat apa-apa selain sabar dan membentengi dirinya dengan baja-baja kesabaran yang tebal.
"Jadi mau kemana kita?" tanya Sasuke saat porsche hitam miliknya sudah meninggalkan kompleks perumahan.
"Aku mau ke game center yang ada di Konoha City Land!" Hanabi berseru antusias.
Tanpa banyak bertanya atau berkomentar, pemuda itu mengarahkan mobilnya ke tempat tujuan.
...
Sepanjang perjalanan keduanya hanya saling diam dan tampaknya Hanabi mulai bosan dengan keheningan yang tercipta. Sasuke melirik gadis itu yang kini berwajah murung. Ia menghela napas sesaat sebelum akhirnya memutuskan untuk berbicara.
"Bagaimana hubunganmu dengan Hinata?"
Sasuke mencoba mengorek informasi mengenai hubungan Hinata dengan Hanabi terlebih dahulu, apakah keduanya memiliki hubungan saudara yang harmonis, atau sebaliknya.
"Hubunganku dengan dia tidak terlalu baik. Malah aku sangat membencinya," jawab Hanabi dengan nada ketus. Dapat tergambar dari raut wajah Hanabi yang berubah, kalau dia sangat tidak menyukai sang kakak.
"Kenapa kau membencinya? Bukankah kalian hanya dua bersaudara?"
"Karena keberadaan dia membuat keberadaanku tidak dianggap..." Nada suara gadis itu kini berubah menjadi lirih. Gadis itu seperti menyimpan suatu pilu yang teramat dalam dan sudah lama terpendam.
"Aku tidak keberatan kalau kau mau bercerita. Anggap saja aku ini adalah Kakakmu," balas Sasuke mencoba untuk memahami Hanabi yang terlihat kesepian sebenarnya.
Awalnya gadis itu hanya diam sambil termenung sambil menunduk dengan tatapan kosong. Namun, selang beberapa menit akhirnya gadis itu memutuskan untuk bercerita.
Hanabi mengeluarkan keluh-kesahnya tentang perlakuan dari sang ayah yang selama ini ia dapat begitu berbeda dari Hinata sang kakak. Hanabi merasa kalau sang ayah lebih menyayangi Hinata dibandingkan dirinya. Hiashi selalu membangga-banggakan Hinata di depan semua orang. Apa pun yang Hinata inginkan selalu dikabulkan, sementara Hanabi hanya bisa melihat kemesraan keduanya dari jauh. Ia merasa terasingkan dan terlupakan.
"Selain itu semua orang selalu membanding-bandingkan aku dengan Hinata! Mereka selalu mengatakan Hinata jauh lebih baik." Gadis itu mendengus sambil melipat kedua tangannya di dada.
Bukan hanya di dalam keluarga, di lingkungan masyarakat pun ia selalu dibanding-bandingkan oleh Hinata yang jauh lebih cantik, lebih pintar, lebih lembut, lebih anggun dan lebih-lebih lainnya. Intinya mereka mengagungkan Hinata seperti seorang dewi sementara dirinya dianggap seperti gadis liar yang tak beretika.
"Karena itu kau berusaha keras untuk menjadi 'berbeda' dari Hinata dengan caramu sendiri?"
"Bukan urusanmu".
Hanabi diam sejenak untuk mengatur napasnya yang sesak karena menahan amarah.
"Apa kau tahu kalau saat ini Kakakmu sedang 'sakit' dan sekarang dia sedang membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya?" Sasuke melirik ke arah Hanabi yang sedang membuang mukanya ke arah samping, melihat jalanan di luar kaca mobil.
"Aku justru semakin membencinya," jawab gadis itu dengan datar, "Keadaannya yang sekarang malah membuat diriku semakin terlupakan. Semua perhatian semua orang hanya tertuju padanya, dan aku rasa Ayah telah lupa kalau dia memiliki dua orang anak!" nada suaranya bergetar hebat dan gadis itu sedang menahan tangisnya mati-matian agar tidak tumpah dan terlihat oleh Sasuke.
"Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Saat ini Ayahmu sedang fokus pada Hinata bukan berarti dia melupakanmu," ucap Sasuke kemudian setelah dilihatnya Hanabi sudah bisa menguasai amarahnya.
"Bukankah kau sendiri yang ingin menjadi berbeda dari Hinata?" Sasuke melirik ke arah Hanabi yang masih diam, gadis itu hanya mendengus.
"Kau adalah Kau, dan Hinata adalah Hinata. Kalian berbeda, tentunya Ayah kalian tidak akan memperlakukan kalian sama, karena masing-masing dari kalian istimewa, Hanabi." Sasuke nyaris tidak percaya kalau barusan saja dirinyalah yang bicara. Sungguh dia tak dapat menyangka kalau kata-kata itu akan terlontar dari bibirnya.
Melihat Hanabi sekarang, Sasuke seperti melihat dirinya saat ia kecil. Dulu dia juga sering mengeluhkan mengenai rasa kecemburuannya pada Itachi dan menganggap kalau kedua orang tuanya hanya sayang pada sang kakak. Hingga pada suatu hari Sasuke tersadar atas ucapan ibunya. Dia dan Itachi berbeda, dan tentunya perlakuan yang mereka dapat berbeda juga. Tapi yang namanya orang tua pasti akan tetap sayang pada setiap anak-anaknya.
"Ah, kita sudah sampai!" Hanabi berseru senang saat melihat mall besar sudah berdiri megah di hadapannya. Gadis yang tadinya murung itu langsung ceria kembali, seperti anak kecil yang baru saja melihat mainan baru.
Porsche hitam itu memasuki area mall dan meluncur ke bagian parkir khusus untuk mobil di belakang mall besar tersebut. Suasana mall Konoha City Land memang sudah terkenal sangat ramai, tak heran area parkir di bagian bawah sudah penuh dan membuat Sasuke terpaksa mencari area parkir di bagian atas.
Satu lantai, dua lantai dan tiga lantai terlewati karena semuanya penuh oleh mobil. Hanabi mulai berceloteh tak sabar ingin segera turun. Hingga akhirnya mereka mendapatkan parkiran di lantai lima.
"Ayo, cepat Sasuke!" Hanabi sudah tak dapat lagi membendung euforia yang sedang ia rasakan. Berjalan-jalan di sebuah mall megah bersama dengan seorang cowok keren. Pastinya nanti di dalam dia akan menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung mall.
Sasuke menutup rapat-rapat pintu mobil dan menguncinya. Setelah itu ia berjalan menghampiri Hanabi yang sudah berdiri tak sabar menunggunya.
"Cepatlah sedikit, Sasuke!" Hanabi menyambar lengan kekar pemuda itu menjauhi area parkir dan menuntunnya berjalan memasuki gedung mall.
Di dalam mall
.
Hanabi berjalan berdampingan dengan Sasuke. Gadis itu dengan erat merangkul lengan si pemuda dengan gaya centil khas ABG. Mata semua pengunjung tentunya kini telah beralih ke arah mereka berdua.
Drrt... Drrrt...!
Ponsel pemuda itu bergetar. Sasuke dengan cepat menyingkirkan rangkulan Hanabi dari lengannya dan mengambil ponsel miliknya.
"Hallo?" sapanya dengan tergesa dan berjalan menjauhi Hanabi.
"Sasuke, kau ada waktu sore ini?" ternyata yang meneleponnya adalah Sakura.
"Tentu, ada apa?"
"Aku sudah bicara pada Temari dan dia setuju untuk membawa Sasori kepadamu."
Oh, rupanya ini mengenai Sasori, salah satu kenalannya yang mengalami hemaphobia atau ketakutan berlebih terhadap darah.
Sementara itu Hanabi yang berdiri di belakangnya terlihat juga sedang menerima sebuah panggilan. Dilihat dari mimik wajahnya, gadis itu tampak sangat serius sekaligus cemas.
"Oh, baguslah. Kapan aku bisa bertemu dengannya?" Sasuke tentu saja tidak memperhatikan Hanabi yang sedang dilanda kekhawatiran.
"Sore nanti jam 5:00 di tempat cafe langganan kita. Jangan lupa, ya Sasuke," jawab Sakura menentukan tempat dan jam pertemuannya pada Sasuke.
"Baiklah, aku akan datang tempat waktu." Sasuke mengangguk seraya tersenyum tipis.
"Dah, Sasuke-kun. Selamat bekerja."
Begitu telepon diputus, Hanabi yang berdiri di belakang dan menunggu Sasuke selesai bicara segera menghampirinya.
"Sa-Sasuke, i-ini gawat...!" ucap gadis itu ketakutan.
Sasuke menatap wajah pucat Hanabi dan menangkap ada suatu kegelisahan dan ketakutan yang terpancar dari matanya.
"Hi-Hinata masuk rumah sakit!" gadis itu menggigit bibir bawahnya.
"Apa?!" Sasuke kaget bukan kepalang. Baru ditinggal sebentar, gadis itu sudah melakukan tindakan nekad lagi.
"Ki-kita harus ke rumah sakit untuk melihat keadaannya sekarang." Hanabi menarik lengan baju Sasuke dengan tangan yang gemetar.
TBC
A/N : Thanks to my friend, Suny yang mau bantu ngetik ini di MS word waktu saya sedang sakit.
