A/N:

Aku gak mau banyak komen. Maafkan update yang super telat ini. Setahun lebih baru dibuat. Tak perlu panjang-panjang lagi. Silahkan menikmati. ^^


Title: This is What I call Happiness

Warning :Gender Bender, bit OOC

Disclaimer: I do not own Naruto ^^

Present By

pppeppermint


Chapter 6 : The Love

"Dimana aku?" Naruto mengerjapkan matanya. Bertanya pada siapa saja di dalam kegelapan. Dia tak dapat melihat apapun. Tangannya dijulurkan untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikannya sebagai pegangan. Tidak lama—dia menemukan sebuah dinding, dia yakin itu dinding—dingin dan lembab. Tungkai kakinya lalu mulai melangkah, sementara tangannya terus berpegangan pada dinding yang dingin dan lembab itu untuk mencari jalan. Dia tak dapat melihat apapun, setidaknya dinding itu satu-satunya cara untuk menemukan jalan keluar dari tempat ini.

Iris birunya masih terus mencari hingga akhirnya menemukan sebuah cahaya kecil yang terlihat hangat dari kejauhan. Meski tak tahu apa yang akan ditemuinya nanti, dia tak punya pilihan lain selain berjalan terus mengikuti arah cahaya itu.

Pelan-pelan, dia berjalan menuju cahaya itu. Ada yang aneh sebenarnya. Karena meski dia berada di kegelapan seperti ini—sendirian. Dia sama sekali tak merasa takut. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah keluar dari kegelapan ini. Langkahnya terus membawanya menuju cahaya, hingga akhirnya dia sendiri tak sadar dia telah keluar dari kegelapan. Di hadapannya terbentang sebuah taman, tanpa sadar kakinya melangkah ke tengah-tengah taman, iris birunya memperhatikan sekitar, takjub dengan keindahannya. Bunga berwarna merah darah terlihat di sekitarnya.

Ia masih takjub dan menikmati pemandangan yang ada di depannya sampai ia menemukan sesuatu yang dikenalnya melintas di hadapannya.

[Apa itu? …seekor kupu-kupu?]

Seekor kupu-kupu biru melintas di depannya. Terbang perlahan dan berhenti di udara, seakan menantinya untuk datang mendekat. Namun, ketika kakinya dilangkahkan untuk mendekatinya, kupu-kupu itu terbang menjauh, lalu perlahan dan akhirnya berhenti lagi pada jarak yang sama dengan saat pertama dia berhenti tadi. Dan ketika dia mulai melangkah lagi, semua itu terulang lagi, kupu-kupu itu terbang menjauh dan kembali perlahan dan berhenti.

[Ini memalukan…]pikirnya, dia bahkan tak mengerti kenapa ia melakukan hal bodoh ini.

Satu-satunya hal yang dipikirkannya adalah… ada sesuatu pada kupu-kupu itu yang dikenalnya. Sesuatu yang familiar di matanya. Dan tanpa pikir panjang dia tetap mengejarnya—dan terus mengejar kupu-kupu itu.

Hingga akhirnya dia berada di depan sebuah pohon besar. Kupu-kupu itu sendiri sudah menghilang saat dia mencapai pohon tersebut.

Hal yang tertinggal saat ini hanyalah dirinya dan pohon besar tersebut.

Tiba-tiba saja kegelapan datang kembali dan mulai mengitarinya. Bunga-bunga menjadi kering dan angin bertiup sangat kencang, merusak segalanya. Matanya menutup melindungi bola matanya dari angin tersebut. Sekarang dia punya firasat yang buruk—sangat buruk.

Sebuah sosok berdiri membelakanginya di sisi lain pohon besar tersebut. Dia tak tahu apakah sosok itu perempuan atau laki-laki karena bayangan pohon itu menutupi wajahnya, hingga sosok itu menoleh padanya. Memperlihatkan mata dengan warna merah darahnya dan tiga simbol kotodama di tiap bolanya. Bola mata, warna dan symbol yang dikenalnya—sangat dikenalnya.

Tidak lama setelah sosok itu muncul dan berdiri di depannya, angin mulai berhembus tenang di sekitarnya. Meski kabut tebal kegelapan itu tetap menyelimuti mereka. Naruto tak bisa berhenti menatap sepasang mata itu. Mata yang menatapnya balik dengan dingin dan kejam. Tanpa sadar dia tersentak kaget.

"S-sasuke?" dia bertanya ragu-ragu. Namun, sosok hitam itu hanya menatapnya dingin, dia tak mampu memalingkan wajahnya dari sepasang mata itu yang seakan-akan mampu menelannya utuh. Sosok itu berjalan pelan ke arahnya dan mengangkat tangan kanannya. Saat itu, Naruto tak mampu bergerak, seperti terhipnotis oleh mata itu. Mata yang selalu dirindukannya.

Jadi dia memilih untuk menutup matanya, bersiap dengan segala sakit yang akan dirasakannya. Namun, bukan rasa sakit yang menghampirinya, melainkan kehangatan—kehangatan yang datang dari tangan itu. Tangan itu membelainya lembut, memberikan kehangatan yang dikenalnya; kehangatan yang sama dirasakannya dulu, kehangatan yang selalu dirindukannya. Meski sebenarnya dia ingin membuka mata, dia memilih untuk bertahan dulu. Dia takut—jika saja dia membuka matanya sekarang, maka dia tak akan bisa menahan dirinya untuk menyentuh dan memeluknya saat itu juga. Dan jika hal itu terjadi, dia yakin sosok Sasuke di hadapannya itu akan menghilang.

maka dia biarkan dirinya menikmati kehangatan yang sementara ini. Mencoba mengingat sebanyak yang dia bisa sebelum semuanya menghilang.

"Sasuke… aku merindukanmu…"bisiknya.

Dan saat itulah.

Dia kehilangan kehangatan itu. Pelan-pelan iris biru itu mengintip dari celah kelopaknya dan akhirnya menemukan ruang hampa di depannya.

Sosok itu menghilang dari hadapannya. Seakan-akan sosok itu memang tak pernah ada di sana. Namun dia mengenal kehangatan itu, dia masih mengingatnya. Dia yakin bahwa sesaat tadi dia memang bersamanya.

Bulir bening itu lalu mulai menggenangi matanya, lalu mengalir turun ke pipinya.

"Apakah benar-benar tidak mungkin untuk membawamu kembali?" tanyanya. Namun, tak akan pernah ada jawaban dari seluruh tanyanya.


OoO


Naruto membuka matanya hanya untuk mendapati dirinya terbaring di sebuah ranjang, di rumah sakit yang dikenalnya.

[Apa aku masih berada di Konoha?]

Terdiam sejenak, Naruto berusaha menggapai mimpi yang baru saja dialaminya. Dia masih bisa merasakan kehangatan itu di pipi kirinya dan semuanya terasa nyata. Dia menutup matanya sembari berusaha mengurangi rasa sakit di dadanya itu.

[Kenapa aku merasa begitu menyedihkan karenamu?]

Lalu sekali lagi, airmatanya mengalir tanpa pernah bisa dibendung.

"Naruto," suara berat itu mengejutkannya. Dengan cepat dia mengusap wajahnya yang basah untuk menyembunyikan tangisannya. Lalu dia menoleh ke asal suara, seekor rubah kecil menatapnya tak berkedip.

"Kyuubi-nii…" panggilnya. Rubah itu tersenyum lemah, dia setidaknya bersyukur gadis itu telah terbangun dari tidur panjangnya.

"Naruto, bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah lebih baik?"

"Er… sudah lebih baik—" senyumannya tidak lebar, hanya memberikan kepastian pada rubah yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri itu, "—berapa… maksudku, berapa lama aku tertidur?" tanyanya.

"Sekitar tiga hari,"

"…L-lalu, Sasuke… b-bagaimana dengan Sasuke?"

Kyuubi terdiam sejenak. Dia tahu Naruto akan menanyakan soal ini cepat atau lambat. Dan dia harus memberitahunya.

"Kabur. Dia dan tim Hebi mengalahkan penjaga dan kabur di tengah malam," terangnya.

Naruto menghela nafas—berat. Dia sudah menduga hal ini. Iris birunya lalu menatap langit-langit rumah sakit Konoha, membiarkan angannya berkelana.

"Nee, Kyuu-nii," panggilnya.

"Hm?"

"Maafkan aku."

"…untuk apa?"

"Untuk… entah, mungkin karena belum bisa menyerah soalnya?" tawanya pelan, menyakitkan.

Kyuubi menghela nafas. Dia sudah tahu hal ini. "Yeah, aku tahu. Hanya saja, kau harus selalu ingat, aku akan berada di sini, bersamamu. Mengikuti dan mendukungmu apapun pilihan yang kau ambil,"

Senyum di gadis bersurai pirang itu melebar, "terima kasih, Kyuu-nii," ucapnya. Tidak lama setelah itu, Naruto kembali memejamkan matanya, membiarkan mimpi membawanya kembali pada masa lalu.

Kyuubi memperhatikan wajah tertidur gadis itu. Dia tahu gadis itu telah melewati banyak hal—terlalu banyak hingga kadangkala dia ingin bertanya dari mana kekuatan yang ada padanya sehingga dia mampu melewati semuanya dengan tegar? Dan dia ingin memastikan bahwa dirinya akan selalu ada untuk Naruto, apapun yang terjadi.


OoO


"Aku senang kau sudah siuman," ucap Shizune yang berdiri tepat di pintu masuk, tersenyum ke arahnya. Kemudian berjalan pelan dan duduk di samping tempat tidur Naruto. "Bagaimana kabarmu, Naru-chan?" tanyanya.

Naruto tersenyum lemah, "Aku baik-baik saja, hanya masih sedikit pusing."

"Baguslah—" wanita berambut hitam itu tersenyum, "pusing sedikit itu biasa, efek dari tidurmu yang terlalu lama, mungkin?" candanya.

Naruto terkekeh pelan, sedikit terhibur, "Kurasa begitu,"

Merasa Naruto sudah lebih baik, Shizune lalu bangkit dari duduknya, mempertemukan kedua telapak tangannya sehingga terdengar bunyi, "Yosh, kalau begitu saatnya kau bertemu dengan Godaime!" ucapnya bersemangat.

Kening Naruto berkerut. Dia sudah memikirkan ini juga. Sayangnya dia masih menduga sejauh mana dia bisa berani berhadapan dengan Tsunade. Seperti melihat kekhawatirannya, Shizune lalu meraih tangan Naruto—menggenggamnya erat. Lalu dia tersenyum ramah.

"Tak apa. Tak akan terjadi apa-apa, semuanya akan baik-baik saja. Kau bahkan harus lihat bagaimana khawatirnya beliau semenjak kau pergi menghilang,"

"A...A-aku… minta maaf…" betapa egoisnya dia. Seharusnya dia tahu Tsunade akan begitu khawatir.

"Bukan—bukan padaku, Naru-chan," senyumnya, ia masih berusaha membuat gadis pirang itu merasa nyaman dan lebih baik. "Katakan itu pada Tsunade-sama saat kau bertemu beliau, oke?"

Naruto hanya bisa mengangguk. Tak tahu apakah keberaniannya akan cukup kali ini. "Okey. Cepatlah. Kau harus bersiap-siap," dengan itu, Shizune meninggalkan ruangan disertai alasan bahwa dia harus melakukan sesuatu.

Tidak tahu.

Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.

Dia bahkan tidak yakin dengan dirinya sendiri. Sanggupkah dia? Seberapa berani dirinya?

"Naru-chan…" suara berat itu kembali mengagetkannya. Naruto berbalik, menatap langsung Kyuubi yang juga menatapnya—lembut namun tegas. "Aku tahu ini berat. Aku tahu kau bahkan berpikir kau belum siap untuk ini. Tapi kau harus tahu kau tak mungkin lari lagi—seperti yang kau lakukan beberapa minggu yang lalu. Kau bisa saja tidak mengatakan apapun, atau menyimpan alasanmu untuk dirimu sendiri, tapi semua itu tak akan pernah adil untuk mereka. Untuk semua orang yang menunggumu, menyayangimu,"

Naruto terdiam, berusaha mencerna semua yang dikatakan Kyuubi.

Kyuubi benar. Semua yang dikatakannya benar. Ini waktunya menyelesaikan semuanya kan? Dia seharusnya tidak boleh membiarkan semuanya seperti ini terus, bukan lari. Dia bukan pengecut, kan? Dia seharusnya percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tsunade akan menerima alasannya, dan semuanya akan baik-baik saja.

"Tolonglah… lakukan dan katakan semua yang kau inginkan. Yang menurutmu adalah yang terbaik untuk dikatakan. Kau bisa melakukannya, kau lebih kuat dari yang kau bayangkan, kau seharusnya tahu itu…"

Ah, benar. Seharusnya dia ingat hal itu. Dia Naruto Uzumaki kan? Hokage masa depan. Dengan itu, Naruto tersenyum sangat lebar.

Dia bisa melakukannya. Dia lebih kuat dari yang dipikirkannya,

…setidaknya, itu yang dipikirkan Kyuubi, iya kan?

.

.

-At Hokage's Office-

Sudah lebih dari lima belas menit dia berada di sini. Namun tak ada satupun di antara mereka yang membuka suara. Naruto memeluk erat Kyuubi di tangannya. Dia tak ingin bersuara sebelum Tsunade sendiri membuka percakapan dengannya.

Sebut saja, dia masih belum cukup siap. Tapi dia sendiri tahu, kali ini, tidak ada kata untuk mundur dan kabur seperti yang dilakukannya dua tahun yang lalu.

"… Naruto," panggil Godaime padanya.

Naruto menatap Hokage kelima itu dengan lekat. Meski ragu, dia menatap, iris biru itu menampakkan rasa bersalah. Sebenarnya, mereka tak perlu banyak kata. Bagi Naruto, Tsunade adalah seorang ibu, seorang nenek, seorang saudara perempuan, dan segalanya. Sementara untuk Tsunade sendiri, Naruto adalah orang yang sangat penting, gadis yang selalu didoakan kebahagiaannya.

Sang Godaime beranjak dari kursinya, melangkahkan kakinya menuju gadis kesayangannya. Tangan itu memeluk—rapat. Rindu sekali. "Kau tahu… aku bersyukur kau telah kembali," ucapnya tanpa melepas pelukan itu.

Naruto terdiam, dengan ragu memeluk kembali sosok itu. Sosok yang dirindukannya pula. "M-maafkan aku… Tsunade-baachan," ucapnya—menahan segukan yang pada akhirnya tetap saja keluar. Terdengar lembut dari bibir gadis itu. Bulir bening menghiasi wajahnya kini. Satu persatu, membiarkan apa yang tertahan selama ini jatuh dan tumpah.

Naruto merindukan pelukan ini. Pelukan hangat keluarga yang didapatnya dari sang Hokage. Semua yang terjadi selama dua tahun telah menghancurkan pertahanannya. Dia mungkin terlihat kuat, namun sebenarnya, gadis ini rapuh, mudah terluka.

Sama seperti saat beberapa kali Sasuke melukai hatinya.


OoO


Ketika sang Godaime bertanya tentang kepergiannya dari desa itu, Naruto hanya bisa mendesah lemah. Tak tahu menjawab apa. Kadang, kau sendiri pun tak tahu harus menjawab apa meski hal itu menyangkut tentang dirimu sendiri. Bagaimanapun juga dia memang suatu saat nanti harus menjawabnya. Meski mungkin, tidak di tempat seperti ini. Makanya, Tsunade menyerah. Suatu saat nanti, gadis kesayangannya itu akan bercerita. Dia hanya akan duduk menunggu. Karena Naruto tak akan kemana-mana lagi, kan?

"Ngomong-ngomong, Naruto. Sakura setiap hari membersihkan apartemenmu. Kurasa tempat itu masih layak tinggal. Kau bisa kembali ke apartemenmu setelah mengepak barang-barangmu yang ada di rumah sakit. Fukusaku-san juga sudah membawakan beberapa barangmu dari Myobokusan. Katanya kau bisa berkunjung kapan saja jika kau mau di sana," jelasnya.

Naruto menganggukkan kepalanya, mengerti setiap kata yang diucapkan Tsunade.

"Ah, satu lagi Naruto," ucapnya saat gadis itu sudah mulai berbalik dan menuju pintu depan—berbalik ke rumah sakit dan mengepak barangnya. Naruto sempat menoleh, menatap horror apa yang terjadi, sebuah jitakan keras dari sang Hokage membuatnya menjerit kesakitan.

"AWWW! Baa-chan! Sakit!"

Yang dipanggil hanya memberikan cengiran khasnya. "Aku sudah ingin melakukannya sejak awal kau masuk ke dalam ruangan," cengiran tergantikan senyuman sayang, "itu balasan karena kau telah meninggalkanku selama dua tahun tanpa kabar," ucapnya lagi. Tidak sarkas, hanya terdengar pedih.

Elusan untuk kepalanya dihentikan, iris biru memperhatikan sosok sang Hokage, "… maafkan aku, Baa-chan, aku tak bermak—"

"Ssstt—sudahlah, aku mengerti, yang paling penting adalah kau telah kembali, sebenarnya sedikit banyak aku harus berterima kasih pada Hebi, karena mereka aku mendapatkanmu kembali," ucapnya—melupakan hal penting tentang ketua Hebi. "—ah, maafkan aku Naruto. Aku tak bermaksud mengingatkanmu pada Sasuke…" wajahnya menunjukkan rasa bersalah, tangannya berusaha meyakinkan.

"Tak apa, Tsunade-baachan, aku baik-baik saja," ucapnya, sembari memberikan cengiran khasnya. "Kurasa sebaiknya aku segera kembali ke apartemenku. Banyak yang harus dikerjakan, boleh?"

"Tentu,"

Lalu gadis itu berjalan, meraih Kyuubi yang duduk tenang di atas lantai. "Ayo, Kyuu-ni," panggilnya.

"Ah, Naruto!" gadis itu terhenti, berbalik ke arah asal suara. Sang Godaime.

"Ya?"

"Aku … ingin berbicara dengan Kyuubi, bolehkah?" pintanya.

Gadis itu menatap Tsunade, lalu Kyuubi—meminta persetujuan. "Bagaimana, Kyuu-ni?"

"Ya, boleh. Kau duluanlah, nanti aku akan menyusul," ucap rubah kecil itu. Naruto memperhatikan keduanya, lalu memutuskan untuk beranjak. Gadis itu mengucap salam dan meninggalkan keduanya dalam keheningan yang sebentar.

Tsunade memperhatikan sang rubah. "…Kau melindunginya sekarang," ucapnya, tidak sedikitpun terlihat bertanya, "apa motif di balik itu semua?" setelah sekian lama membuatnya dibenci oleh para penduduk desa, rubah itu sekarang melindunginya. Terdengar aneh dan lucu, bukan?

Kyuubi menatap, tak terlihat takut. "Aku di sini untuk melindunginya, tak ada motif lain. Aku tak berminat menghancurkan Konoha kecuali orang-orang desa berusaha menyakiti Naruto, jika hal itu terjadi, maka desa ini hanya akan berakhir sebagai sejarah,"ucapnya.

Tsunade memandang, tak percaya. Namun dia tahu setidaknya Kyuubi tak bercanda atau sedang menipunya. Kyuubi bisa saja menghancurkan desa dengan mudah, namun tak dilakukannya. Maka, semua yang dikatakannya tentu saja benar.

"… Kenapa? Kenapa pada akhirnya kau peduli padanya?"

Kyuubi mendesah—sedih. "Semua itu salahku, salahku sehingga dia menjalani hidupnya dalam penderitaan dulu," dulu Kyuubi memang tak peduli, sehingga membiarkan Naruto seperti itu, "Aku membenci manusia, sehingga aku terpengaruh Madara, aku membenci gadis itu hingga akhirnya aku sadar,"

"Gadis itu menakjubkan. Dia memperlihatkan bermacam-macam ekspresi, mengajarkan banyak hal. Meski semua membencinya, dia tetap saja menolong, tersenyum, tanpa pamrih, sama seperti ibunya, dia seperti malaikat,"

"Ketika ayahnya memberi tahu bahwa dirinya adalah perempuan, dia hampir saja menyerah," Kyuubi merasakan semuanya—semua yang dirasakan gadis itu hingga dia tahu pasti hal yang membuatnya hampir menyerah. "tapi kemudian dia kembali menyemangati dirinya sendiri, tersenyum seperti biasa. Saat itu aku berjanji, aku akan selalu bersamanya—melindunginya, apapun yang terjadi. Dia berhak merasakan kebahagiaan, dan aku akan memastikan kebahagiaan itu datang padanya,"

Tsunade menangis—tanpa sadar. "..terima kasih," ucapnya, membiarkan tetes-tetes bening itu terjatuh. "Terima kasih telah mengerti… terima kasih," Naruto terlalu berharga untuknya. Beberapa tahun yang lalu, ketika tak ada satupun yang mengerti tentang gadis itu, Tsunade merasakan sakit. Hanya karena gadis itu adalah wadah dari Kyuubi, dia harus diperlakukan seperti itu.


OoO


Naruto berjalan menuju apartemennya. Tanpa Kyuubi di sampingnya, rasanya sangat aneh. Dia tahu bahwa ini kedua kalinya dia berjalan di desa ini dengan sosok seperti ini, namun tetap saja ada yang aneh. Bahkan saat ini, rasanya semua pasang mata menatap dirinya. Mungkin memang seharusnya dia berjalan lebih cepat agar dia bisa segera sampai di apartemennya.

Sayangnya, belum sampai di dekat apartemennya, beberapa sosok yang dikenalinya mendekat. Orang-orang yang dikenalnya—teman-temannya.

"Naruto…" ucap Sakura, mendekatinya dengan ekspresi kesal terpancar di sana.

PLAK!

Iris biru itu membulat, Naruto memperhatikan bagaimana wajah Sakura terlihat kesal dan teriakan teman-temannya yang lain yang tidak setuju dengan perbuatannya.

Namun, meski kaget, Naruto tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dia hanya diam—menatap gadis berambut merah jambu itu. Membuat gadis itu semakin marah dan menatapnya kesal.

"Kenapa?" tanyanya. "KENAPA KAU PERGI?" genangan air mata terlihat di mata hijau itu.

Naruto menunduk, menatap tanah di bawahnya. Dia tahu mereka khawatir—dia tahu Sakura khawatir. Namun tak ada yang bisa dikatakannya. Dia tahu jika dia mengatakan bahwa dia pergi karena takut mereka akan membencinya, maka saat itu juga dia seperti mengatakan bahwa dia tak mempercayai mereka. Dia tak mempercayai teman-temannya. Dia tidak percaya mereka akan menerimanya apa adanya.

"Baiklah, aku mengerti," ucapnya. Membuat Naruto kembali menengadahkan wajahnya, melihat kekecewaan di wajah itu. Meskipun dia ingin menjelaskan, Naruto tak tahu harus berkata apa. Alhasih, dia hanya bisa diam—memperhatikan.

"Kau tak percaya padaku—kau tak percaya pada kami," ucapnya.

'Bukan begitu!' teriaknya dalam hati. Sayang, semua itu tak berarti apapun. Dia tak tahu harus berkata apa. Ketika dia berkata 'tidak' maka itu bohong. Karena iya, dia bisa percaya bahwa mereka akan menerimanya—apa adanya.

"Kenapa kau tidak mengatakan sesuatu, Naruto?" ucapnya lagi. Dia menunggu—mereka menunggu.

Namun gadis itu tak mampu berkata apapun, dia belum siap.

"… persahabatan kita. Yeah, tak ada artinya untukmu… kan?" Sakura menggertakkan giginya, kesal dengan sikap bisu Naruto.

"… Naruto…" panggil Hinata, "…kenapa… kau tak mengatakan… apapun?" tanyanya.

Dia ingin. Dia ingin menjelaskan semuanya. Hanya saja, belum saatnya. Dia belum siap. Dia tak tahu harus memulainya dari mana.

Tapi teman-temannya tidak mengerti. Mereka sudah menunggu terlalu lama. Dua tahun dan mereka tak ingin menunggu lagi. Mereka ingin penjelasan, sekarang juga.

"… m-maaf…" hanya itu. Hanya kata itu. Dan semuanya kecewa.

"… baiklah," ucapnya—kecewa. Posturnya mengintruksikan yang lain untuk mundur, meninggalkan sang gadis sendirian. "Temui kami begitu kau siap menceritakan semuanya," ucapnya. Mundur dan menjauhi tempat itu. Meninggalkan sosok gadis itu sendirian.

Sakit—sangat sakit. Naruto menyakiti mereka dengan tidak mengatakan yang sebenarnya, namun mereka juga tak mengerti. Mereka saling menyakiti. Namun, mungkin dari semua ini, bukti bahwa mereka saling peduli.


OoO


Kyuubi menemukan gadis itu di dalam apartemennya hari itu duduk di atas tempat tidur seperti layaknya patung—diam dan tak bergerak. Banyak yang mengganggu pikirannya. Cepat atau lambat dia harus menghadapi semua itu. Dia harus menjelaskan pada semua orang. Dia sudah tahu hal ini dua tahun lalu. Dia tahu namun belum siap.

"Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Kyuubi mengagetkannya.

Gadis itu tersenyum—menggeleng pelan pada sosok rubah itu. "Tidak, tidak ada apa-apa," ucapnya.

'Tidak, sesuatu mengganggu pikirannya' pikir Kyuubi. Dia tahu, selalu tahu. Meski dia tak lagi berada dalam tubuh Naruto, tapi dia selalu tahu jika ada yang mengganggu pikirannya.

Tapi dia tidak ingin memaksa. Gadis itu akan memberitahukannya jika dia siap. Maka, dia hanya menghela nafas pelan, "Dengar—Naruto, biarkan aku tahu jika kau butuh seseorang untuk bercerita, oke? Dan ah, Kakek kodok itu mengatakan soal kau bisa berkunjung kapan saja kau mau di Myobokusan," ucapnya.

Gadis itu tersenyum. "Tentu, Kyuubi-nii."

Rubah itu berjalan menuju pintu, berbalik sebentar dan berkata, "Istirahatlah, Naruto. Besok pasti akan menjadi hari yang berat untukmu," ucapnya. Lalu menghilang dari pintu.

Naruto menatap sebentar, lalu membaringkan tubuhnya. Yah, tentu saja. Besok akan menjadi hari yang sangat berat untuknya. Hari dimana dia harus menghadapi para tetua. Menjelaskan semuanya pada penduduk desa. Sakura mungkin ada di sana. Seharusnya mungkin dia menceritakan semuanya pada gadis itu.

Namun… apa semuanya benar-benar sudah terlambat?


A/N :

Maaf… seribu maaf untuk yang menanti cerita ini. RW menggila. Setelah lulus kuliah dan bekerja, aku tak bisa seleluasa dulu menulis. Maka, maafkan. Kuusahakan menulis setiap hari. Namun, tidak setiap hari aku mendapat inspirasi. Mohon pengertiannya.

Terima kasih untuk semua yang masih mau membaca ini.

Mind to review?