Storyline by Chocksi—Translated by fureliese.

.

.

.

5.004

Rasa bersalah yang besar perlahan mengkontaminasi dan membusukkan organnya menjadi terminal penyakit selagi orang-orang datang. Di suatu tempat yang jauh dalam di pikirannya, dia bisa mendengar ratapan dan teriakan, suara-suara orang yang begitu akrab padanya. Disana ada beberapa airmata jatuh yang membelah selagi mereka memaklumi tentang apa yang terjadi dan kuku jarinya mulai menggali dalam catutannya dengan tujuan untuk memadamkan sakit yang hanya menjadi lebih buruk.

Dia tahu bahwa mereka semua memerhatikannya; mereka semua mencoba untuk menunjukan perasaannya tentang ini tetapi ia tidak berani untuk bertemu mata mereka. Dia tidak ingin orang lain menghukumnya untuk ini tetapi, satu-satunya orang yang bisa tidak disini sekarang. Jadi dia melanjutkan jalan dari celaan dirinya sampai saat itu.

.

.

.

Ini tiga hari sejak Jongin tertahan dua jam dengan mendengar Luhan yang moody dan emosian menegur dirinya karena menjadi bajingan sempurna dan ia mendapatkan panggilan telepon yang benar-benar mengacak rambutnya frustasi.

"Dia pindah denganku?" Jongin berseru pada telepon, berpikir bahwa hal itu hanya menjadi buruk dan lebih buruk.

"Bukankah itu diberikan karena kalian berdua akan segera resmi menikah? Orangtuanya bilang bahwa dia tidak memiliki banyak barang jadi mereka datang minggu depan untuk membantu menempatkan di dalam," Ibunya memberitahu.

Jongin mengapit tangannya pada mata lelahnya agar menenangkan emosinya. Dia menyandarkan punggung pada kursi kulit mewah di kantornya di rumah sakit dan mendesah melalui hidung. Dia bisa mendengar ibunya mendesah ringan diakhir telepon juga. Sebelum menutup, dia menambahkan, "Jangan mengacaukan ini, Jongin. Kau hanya akan diizinkan mewarisi rumah sakit jika kau berusaha menjaga Kyungsoo bahagia."

Setelah mereka menutup telepon, Jongin menyimpan teleponnya pada saku mantel hati-hati dan menatap tumpukan file menjulang di atas mejanya. Terimakasih karena ini hari yang sibuk di rumah sakit dengan banyak daftar pasien. Jongin lebih cepat mengerjakan tugasnya dan bangga bahwa pada akhirnya dirinya secara mental sibuk dengan hal-hal lain tentang keadaan yang sulit.

Sambil melangkahi lorong bersih, dia memerhatikan pasangan sesama jenis dengan seorang mendorong yang lain pada kursi roda. Orang pada kursi roda pucat dengan kantung di bawah matanya dan Jongin tidak meragukannya untuk sesaat bahwa orang itu baru saja pergi untuk bagian rekonfigurasi susunan sel untuk operasi implan reproduksi.

Segera ia juga akan melalui hal seperti itu…

Dan Jongin tidak yakin bagaimana merasakannya karena ide dari pernikahan itu asing baginya, seperti berjalan dengan mata tertutup ke dalam dunia yang tidak dikenal dengan tubuh terpaksa. Dia merasa itu seperti sesuatu untuk ditakuti, bukan diinginkan. Dia sudah mengetahui bahwa perjodohannya telah diputuskan untuknya sejak umurnya lima tahun tetapi dia harap dengan pergi ke sekolah kesehatan orangtuanya akan menunda pernikahannya selama mungkin. Sekarang dia akan segera menikah pada seseorang yang ia temui baru beberapa yang hari lalu dan pikirannya membuat perutnya bercampur dengan benang dan rangkaian selagi kernyitan melipat wajahnya.

Ini bukan yang ia inginkan.

.

.

.

Partikel debu dan gumpalan sidik jari di atas barang-barang yang sangat dicintai berdebar pada kamar Kyungsoo bersamaan dengan melodi dari lagu yang menyenangkan. Kyungsoo tampak dalam mood yang lebih baik hari ini dibanding dia beberapa hari lalu setelah menidurkan airmatanya dan kegelisahan, memilih untuk mendengarkan saran bagus Chanyeol yang mengejutkan. Senandung senangnya membuat orangtuanya tersenyum sambil mereka melihat dirinya mengemas baju-baju dari ambang pintu masuk kamar.

"Kau yakin tidak perlu bantuan, sayang?" Ibu Kyungsoo bertanya, memandang pakaian-pakaian dan pernak-pernik yang berceceran dihadapan lantai yang biasanya rapi.

"Aku hanya ada beberapa barang lagi untuk dikemas dan aku akan selesai," dia merespon dengan ceria, tersenyum sekilas. Tetapi, ibunya masuk ke dalam kamar, mencari tempat untuk duduk di lantai di samping anaknya selagi ia melipat baju-bajunya dan menatanya rapi di dalam koper.

Ia memandang anaknya dengan lembut; hasil dari pernikahan suksesnya dengan pria yang ia tidak pernah berpikir bahwa dia akan dapat mencintainya tetapi sekarang ia tidak berniat untuk hidup tanpanya. "Kau tahu, ayahmu dan aku khawatir tentang bagaimana kau bisa bergaul dengan Jongin."

"Apa maksudmu?"

"Maksudku… saat IRIS memanggil dan bilang bahwa perjodohanmu sudah ditentukan, kita khawatir tentang kebahagian dan masa depanmu dengan pasangan sejenis. Tetapi saat ayahmu bertemu dengan orangtua Jongin, mereka dengan senang hati menawarkan untuk membayar operasi implan reproduksi selama kau punya genetik untuk itu. Kau mungkin tidak ingat tetapi kami sangat senang hari itu saat ayahmu mengambil hasil tes dari rumah sakit dan kami menemukan bahwa genetikmu sesuai."

Airmata mulai meluap di matanya pada kenangan-kenangan dan Kyungsoo berhenti melipat sesaat untuk menenangkannya. "Terimakasih karena selalu mengkhawatirkanku, Ibu. Aku akan bekerja keras untuk menjadi pendamping yang baik jadi kau tidak perlu terlalu khawatir lagi."

.

.

.

Ada gesekan dan sentuhan dari laci dan lemari pintu, berputar keluar-masuk dari pegangannya selagi Jongin menyapu seluruh ruangan sederhana dengan cepat. "Ini akan menjadi kamarmu. Kau bisa menyimpan barang-barang kedalam dua laci ini dan masuk ke lemari. Ada kamar mandi lewati pintu disana."

"Um, Jongin…"

Jongin menolehkan kepalanya untuk melihat ke pria yang lebih tua. "Apa?"

"Bukankah seharusnya kita… um… ini terlalu berani buatku tapi… tidur bersama?" Kyungsoo menengadah padanya dengan manis dengan sesuatu seperti ekspresi malu di wajahnya, berharap bahwa dia akan berkata ya tetapi tersipu karena anjurannya.

Jongin melepasnya sembari mengalihkan padangan dari puppy eyes yang hampir membuainya untuk menuruti perintah, pikirannya berlomba untuk berpikir beberapa jenis alasan untuk menghindari situasi ini. "Aku pulang larut dari rumah sakit jadi kita seharusnya tidak begitu."

Kyungsoo merasa hatinya tenggelam tetapi dia mencoba untuk melihat sisi positif dari hal itu dan berpikir kalau Jongin sangat peka untuk mengkhawatirkan tentang membangunkannya di tengah malam saat dia selesai pergantian kerjanya. Dia semacam berharap untuk dibangunkan. Dia ingin dapat tidur bersama seperti pasangan sebenarnya tetapi ia mendorong kebelakang keinginannya untuk saat ini. Dia percaya bahwa mungkin suatu hari mereka akan bisa mengambil langkah itu tapi ia tidak melihat Jongin siap untuk itu jadi dia mengalah. "Okay."

Jongin mengeluarkan desahan lega dan melihat pada jam tangannya. "Aku harus kembali bekerja sekarang."

"Aku tidak mau terus-terusan menghalagimu dari pekerjaan." Jawab Kyungsoo dengan lembut.

Jongin meninggalkan Kyungsoo disini di dalam ruangan barunya dan Kyungsoo melihat sekitar ruangan dalam keadaan sedih, alisnya menyatu dalam kegundahan karena tidak dapat dekat dengan Jongin. Dia mulai mengeluarkan kotak-kotaknya sembari pikirannya tetap mengulangi keinginan untuk tunangannya harus bertahan lama.

Setelah beberapa menit yang cukup lambat, dia mengambil dompetnya dari saku belakang dan mengambil foto yang terbungkus dalam plastik di dalam. Wajahnya muncul dalam senyuman selagi matanya mengamati foto yang dikenalnya dan dia membawa ke hatinya yang menyenangkan, menekannya pada kain di dadanya.

"… kau akan dapat menikahi orang ini suatu hari."

.

.

.

Ini hampir jam tiga di pagi hari saat Jongin akhirnya pulang dari pekerjaan, mengambil waktu tambahan untuk menebus waktu yang hilang sembari mengabaikan kepindahan Kyungsoo dan untuk menghindarinya sebanyak mungkin. Saat ia membuka sepatunya di jalan masuk, ia mendengar langkah kaki yang ringan datang kearahnya dan ia melihat dengan kejutan tergambar di wajahnya.

"Selamat datang di rumah," sapa Kyungsoo, tersenyum. Jongin mengernyit.

"Kenapa kau belum tidur?"

"Oh," rona malu muncul dari kulit yang lebih tua pada pertanyaan itu. "Aku… sedang menunggumu."

Dengan satu kalimat itu, ada pelatuk yang ditarik pada Jongin disuatu tempat dan ada bisikan malu dari sesuatu yang tidak dikenal di dalam hatinya. Dia mengabaikannya, mengingat mereka tidak punya rasa cinta. Tetapi, Jongin masih merasa emosi menghancurkan seluruh tubuhnya, membuat suhu tubuhnya naik dan darahnya berdesir kegirangan. Jadi, ia meraih sakunya dan meraba kotak beludru yang didapatkannya hari ini, berdebat dengan dirinya tentang apakah dia akan memberikan itu pada tunangannya sekarang atau menunggu sampai minggu depan saat mereka resmi mendaftarkan pernikahan mereka.

Melihat mata merah Kyungsoo menghalanginya untuk memberikannya sekarang dan memilih mengambil pergelangan tangan yang lelaki lebih tua, mendorongnya ke tangga dengan lembut. Dia dalam mood yang agak baik sekarang jadi suara halusnya sambil menegur ringan, "Terimakasih untuk menungguku tapi kau harus ingat untuk tidur, oke?"

Kedua pipi Kyungsoo merona merah padam dan dia senang karena Jongin tidak bisa melihat wajahnya sekarang selagi ia fokus pada tangan hangat yang menggenggam sekitar pergelangannya. Dia mengingat sensasinya karena ini pertama kali si tersayang menyentuhnya dengan senang hati dan dia mengangguk-ngangguk. "Kau tidak perlu khawatir tentangku karena aku ingin melakukan ini untukmu."

Jongin tiba-tiba berhenti di lorong di hadapan pintu kamar Kyungsoo dan suasana disengat oleh sesuatu yang berbahaya dan menakutkan untuknya sambil ia mendengar debaran jantungnya di gendang telinga dari pernyataan itu. Bertahun-tahun menjadi pelajaran untuk hanya bergantung pada dirinya sendiri dan belajar untuk tidak memercayai siapapun telah membuatnya dingin dan tidak aman jadi dia melepaskan pergelangan tangan Kyungsoo dan membiarkan punggungnya menatapnya selagi ia bergumam 'selamat malam' sebelum berjalan menjauh.

Kyungsoo hanya menatap setelahnya, mengigit bibir bawahnya untuk meredakan rasa gatal pada kulit panas dirinya. Walaupun Jongin tidak mendengarnya, dia tetap berbisik, "Selamat malam."

Dan Kyungsoo belum tahu tetapi hubungan mereka akan ditandai oleh malam tanpa tidur.


Huahaha, ini malam minggu yaaa? (cie, ketauan banget nih eliese jomblo) /gak. Untuk yang nunggu updatenya IRIS, sorry banget baru bisa update huhu. Aku males banget minggu kemarin, ulangan mendadak dari senin sampe jumat, gilak kan?! /malah curhat #terserah. Selain itu juga reviewsnya agak menurun huhu, kirain udah pada gak berminat lagi bacanya (loh?). Iya… rasanya sedih aja… /bershower/

Buat semua reviewers, makasih ya udah ngerti jalan ceritanya. Jadi, kemarin aku bingung banget mau menjelaskan IRIS itu apa tapi dibantu sama Lalala Kkamjong-nim deh, makasih ya! IRIS itu semacam sistem pemerintahan gitulah, yang mengatur seluruh hidup bangsa. #ecie

Buat SMKA-nim, thanks banget udah suka cara aku mentranslate walaupun ada yang menurut aku sendiri asing banget hahaha. Reviewnya panjang banget (ya… dari semua review yang ada haha).

Thanks buat yang baca, yang memfollow, memfavorite, membookmarks, apalah terserah itu namanya HEHEHE. Dan do'a restu dari eliese buat semua yang review untuk bersama biasnya masing-masing. Amin.

Kalau mau baca cerita aslinya disini :

www-asianfanfics-com/story/view/341586/iris-mpreg-exo-hunhan-taoris-baekyeol-kaisoo-sudo