Harasawa berdiri memandang kota Tokyo dari balik jendela besar ruang kerjanya yang berada di lantai 11. Raut wajahnya tampak sedang memikirkan sesuatu.
Sementara itu, butler pribadinya—Kiyoshi Teppei—masuk ke dalam ruangan dan meletakan secangkir teh di meja kerjanya.
"Oyabun, saya punya laporan penting untuk anda," ucap Kiyoshi sembari menuangkan teh dari teko ke dalam cangkir.
Harasawa menoleh padanya, lalu mengisyaratkan sang butler untuk melanjutkan.
"Pihak polisi kini mulai mengusut kasus kematian Kise Ryouta. Dari laporan yang kuterima, pihak kepolisian berspekulasi bahwa Kise masih hidup."
"Hmmm..." Harasawa duduk kembali di mejanya dan menyesap teh yang dihidangkan.
"Apa yang akan anda rencanakan berikutnya?"
Harasawa tersenyum tipis, "Untuk saat ini aku akan biarkan mereka. Lagipula, semua bukti sudah kulenyapkan."
Kiyoshi tersenyum tipis, namun hanya sesaat.
"Masih ada satu laporan lagi. Akashi Seijuuro masih hidup dan kini sedang menjalani perawatan di rumah sakit."
Dan dari sini, kening Harasawa mulai mengkerut.
.
.
.
.
.
MYDARLING
Chapter6 : The Last Letter
KurokonoBasket©FujimakiTadatoshi
Story©MurrueMioria
Rating:M
Genre:Romance,Drama,Mystery,Suspense
WARNING!Klise,TeikouAU!,OOC,Boyxboy,Shounen-ai,yaoi,Typo,kaku,gakjelas,terlalubanyakpercakapan
Don'tlike,don'tread!
Pairing:Aokise, harakise
.
.
.
.
.
Kagami mengusap bekas lukanya semalam yang telah diperban. Identitas pelaku penyerangan sedang dalam proses penyelidikan.
Seharusnya Ia istirahat, namun Kagami tidak bisa diam. Jika sudah seperti ini, kasus Kise Ryouta pasti sangat serius! Apa anak itu benar-benar masih hidup?
Imayoshi memintanya untuk bertemu di sebuah kedai kopi dekat kantor.
Dan di situlah Kagami berada. Kopi yang dipesannya kini sudah hampir dingin.
"Kagami, maaf sudah menunggu..." Imayoshi duduk di hadapannya.
"Bagaimana dengan penyelidikan di rumah sakit?"
Imayoshi diam. Dahinya mengkerut.
"Berkasnya hilang. Berkas Kise Ryouta. Seseorang sudah melenyapkannya."
Kagami terbelalak, "Bagaimana mungkin?!"
"Entahlah, sepertinya kita terlambat... Si pelaku sudah mempunyai rencana beberapa langkah di depan kita. Aku sudah berusaha mencari sekecil apapun petunjuk, tapi hingga pagi ini aku tidak menemukannya...!" Imayoshi menggertak giginya kesal.
Ini pertama kalinya seorang Imayoshi terlihat sangat kesal. Kondisinya berantakan dengan kantung mata yang cukup tebal.
"Imayoshi, sepertinya kau harus istirahat."
Imayoshi tersenyum tipis, "Sepertinya aku juga harus mengatakan hal yang sama padamu, Kagami."
Kagami tertawa kecil, lalu wajahnya kembali serius.
"Semalam tim ku sudah menggeledah apartment Dr. Takaguchi, tapi mereka tak menemukan hal berarti," ucapnya.
"Ahh... aku merasa sangat buntu!" Imayoshi memijat pelipisnya. "Apa kita mulai penyelidikan dari sisi Kise Ryouta?"
"Tenang saja, aku yang akan menyelidiki itu. Seorang saksi teman korban bernama Akashi Seijurou juga sudah membantuku."
"Ah, bocah yang ditikam itu?"
Kagami mengangguk, "Dia memperlihatkanku sebuah foto yang dipergunakan pelaku untuk meneror korban."
"Itu bisa dijadikan barang bukti kita..."
"Kau benar, tapi dia belum memberikannya padaku. Dia ingin membuat duplikat terlebih dahulu untuk jaga-jaga."
"Jaga-jaga jika ada orang yang ingin memusnahkannya..."
Kagami mengangguk, "Dia akan menyerahkannya padaku siang ini. Kau bisa ikut."
"Ah, ngomong-ngomong dengan dugaan Kise Ryouta yang masih hidup... Aku ingin meminta izin pada keluarganya untuk membokar makamnya. Kita butuh memeriksa DNA abu yang ada di makam, apakah sesuai atau tidak."
"Itu akan sulit. Ketika kondisi jasad sudah menjadi abu, akan sulit untuk memeriksa DNA nya."
"Kau benar..." Imayoshi tampak menyerah.
RRRRRR
Ponsel Imayoshi berdering.
"Siapa?" Tanya Kagami.
"Takao."
Imayoshi mengangkat telepon tersebut, "Ada apa Takao?"
'Imayoshi-san! Aku punya kabar penting! Dr. Takaguchi sudah berhasil ditemukan!'
"Di mana lokasinya?"
"Di tepi sungai Sumida. Dia sudah ditemukan dalam kondisi tak bernyawa."
"Baiklah, aku akan kesana!" Imayoshi kemudian mematikan sambungan telepon.
"Ini kabar buruk... Dr. Takaguchi sudah ditemukanmeninggal di pinggir sungai Sumida!"
"Apa?!" Kagami terbelalak. "Ayo kita ke sana!"
.
.
.
Akashi duduk di atas ranjang ruang perawatan. Matanya mengarah ke pemandangan di balik jendela.
Tok tok tok
"Seijurou-sama, apa saya boleh masuk?"
"Masuklah, Reo"
Sang butler masuk, lalu membungkuk hormat. "Seijurou-sama, saya sudah membuat duplikat yang anda pinta."
"Terima kasih. Bagaimana dengan hasil investigasimu?"
"Saya sudah menyelidiki latar belakang dari keluarga Kise-sama," Mibuchi memberikan sebuah map berisi hasil investigasinya. "Sekitar 10 tahun yang lalu, Kise-sama mengalami kasus percobaan penculikan."
Ryouta pernah mengalami penculikan? Apakah ini ada hubungannya dengan kasus yang sekarang?
Akashi membaca membaca hasil laporan Mibuchi dan ia menemukan hal-hal mengejutkan lainnya. Matanya sampai terbelalak.
Akashi menutup map tersebut. "Terima kasih, Reo. Ini sangat bagus. Kau boleh pergi sekarang."
Mibuchi pamit lalu pergi.
Akashi mengusap dagunya, "Aku tidak menyangka..."
.
.
.
Pinggiran sungai Sumida, Tokyo.
"Takao!" Imayoshi dan Kagami melambaikan tangan sambil menghampiri kerumunan petugas penyidik dan polisi di pinggir sungai.
"Imayoshi-san! Kagami-san!"
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Kagami.
"Ia ditemukan dipinggir sungai." Takao mengantar kedua pria itu ke lokasi. Di sana jasad dr Takaguchi masih tergeletak tak tersentuh. Selembar kain putih menutupi jasadnya. Bercak darah tampak meresap pada kain tersebut.
"Kepalanya mengalami luka tembak. Tembus dari sisi kanan ke sisi kiri," jelas takao.
"Perkiraan kematian?"
"Prediksiku sekitar 10 jam."
Imayoshi memakai sarung tangan dan memeriksa jasad tersebut. "Apa ada barang bukti yang ditemukan di sekitar korban?"
Takao mengantar mereka ke sebuah mobil polisi. Ia mengambil sesuatu dari sebuah kotak di dalam mobil tersebut.
Sebuah pistol bersimbah darah yang berada di dalam kantung plastik.
"Kami menemukan pistol ini di tangan korban, lalu..." Takao mengambil barang lainnya. "Sebuah surat wasiat."
Kagami memeriksa surat tersebut.
Maaf... Maafkan aku...
Aku yang membunuh Kise Ryouta!
Aku menyesal!
Aku sangat mencintainya!
Aku tidak mau siapapun memilikinya!
Dia hanya untukku!
My shunshine!
Aku sadar yang kulakukan ini salah dan aku ingin menebusnya dengan nyawaku ini
Aku berharap dapat bertemu dengannya di alam sana
...
Tulisan itu cukup panjang, menceritakan bagaimana dokter Takaguchi menguntit Kise, menculiknya, hingga tak sengaja membunuh sang model dan membuangnya ke danau. Ketika pihak kepolisian mulai melakukan penyelidikan, dokter Takaguchi merasa takut dan memusnahkan berkas data Kise di rumah sakit dengan cara membakar dan membuangnya ke sungai Sumida.
"Apakah ini tulisan tangannya?" Gumam Kagami.
"Tim forensik akan segera memeriksanya," sahut Takao.
"Ini surat pengakuan bahwa dia adalah pelakunya... Jadi apa menurutmu dia benar-benar pelakunya?" Tanya Imayoshi.
Kagami tak menjawab. Ini masih sangat ganjil.
Beberapa jam kemudian penyelidikan usai. Kagami tinggal menunggu hasilnya. Jika dr Takaguchi adalah pelaku sesungguhnya, maka kasus berakhir dan Kise Ryouta resmi dinyatakan meninggal dunia.
Tapi entah kenapa Kagami masih merasa ganjil.
"Kagami, katamu kau ada janji dengan Akashi seijuuro?" Tanya Imayoshi.
"Ya, ayo kesana."
.
.
.
Akashi menyambutnya dengan tenang, "Halo inspektur Kagami dan..."
"Imayoshi Souichirou, rekan tim Kagami." Imayoshi memperkenalkan diri.
"Baiklah, tidak usah basa-basi. Aku akan memberikan kalian salah satu barang bukti kasus Ryouta." Akashi memberikan Kagami sebuah amplop.
"Terima kasih, Akashi-kun."
"Oh iya, aku juga meminta butler terpercayaku untuk menginvestigasi latar belakang keluarga Ryouta. Semoga informasi ini bisa membantu." Akashi memberikan sebuah map.
"Terima kasih. Kenapa kau sampai melakukan semua ini?"
"Karena Ryouta sahabatku dan aku ingin kasus ini segera tuntas."
Kagami terdenyum. Kise Ryouta sangat beruntung mempunyai sahabat seperti Akashi.
"Aku akan menyimpannya baik-baik. Ngomong-ngomong aku ingin mengabarkan sesuatu." Kagami melirik Imayoshi untuk meminta persetujuan. Pria berkacamata itu hanya mengangguk.
"Kau tau, dokter yang saat itu bertugas untuk memeriksa DNA Kise? Pria itu pagi ini ditemukan tewas dipinggir sungai Sumida," ucap Kagami.
Akashi tampak tak terkejut, wajahnya justru makin serius. "Boleh aku tau, penyebab tewasnya?"
"Kemungkinan bunuh diri dengan cara menembak kepalanya sendiri. Pistol kedap suara juga ditemukan dalam genggamannya," jelas Kagami.
"Ini tidak bagus..." Akashi tampak bergumam sendiri. "Dia adalah saksi kunci dari kasus ini..."
"Kau benar Akashi-kun," Imayoshi menyahut. "Namun, selain itu kami menemukan surat wasiat di lokasi."
"Isinya dokter Takaguchi mengakui perbuatanya. Dia adalah pembunuhnya dan menurut dugaanku, kemungkinan besar dia salah satu penggemar berat Kise," tambah Kagami.
"Sebaiknya kalian memeriksa pemilik toko yang menjual kameramini itu..." ucap Akashi. "Butlerku sudah kutugaskan untuk mencari tahu lokasinya."
"Terima kasih. Semua informasi yang kau berikan, akan kami jadikan referensi."
Dengan begitu Kagami pamit.
.
.
.
Tiga hari telah berlalu, dan hasil dari penyidikan menunjukan bahwa dokter Takaguchi merupakan pelaku dari kasus Kise Ryouta. Hal ini terbukti dari bentuk tulisan tangan di surat terakhirnya, sama dengan tulisan yang ada di foto stalker yang meneror korban, begitu juga surat permohonan yang ditemukan di saku jaket pelaku—Furihata Kouki—yang menikam teman korban.
Selain itu, bukti-bukti lainnya berasal dari keterangan pemilik toko yang menjual kamera mini yang digunakan sehari-hari oleh pelaku untuk mengintai korban.
Hal terpenting dari semua itu adalah dugaan Kise Ryouta yang masih hidup akhirnya terbantahkan.
Kagami membaca berkas hasil penyidikan berkali-kali, "Apakah ini artinya kasus telah selesai?"
"Entahlah..." Imayoshi menyahut sambil menyeruput kopinya. Keduanya saat ini tengah berada di ruang kerja Kagami."Laporkan itu ke atasan, dan kasus akan selesai."
"Apa dugaan Akashi salah...?"
"Ayolah, Kagami! Dia hanya bocah smp yang sok-sokan ingin jadi detektif! Jika hasil penyidikan seperti ini, ya seperti itulah hasilnya."
Kagami hanya mendesah pasrah.
.
.
.
Setelah memakan waktu beberapa bulan, akhirnya kasus pembunuhan Kise Ryouta resmi ditutup. Kise Ryouta resmi dinyatakan meninggal dunia dan dokter Takaguchi sebagai pelaku tunggal.
Kagami dan Imayoshi berusaha untuk mempertahankan kasus Kise Ryouta terus dilanjutkan. Namun karena barang bukti yang tidak cukup, mereka terpaksa menyerah.
Pihak keluarga Kise sudah sangat pasrah, bahkan sejak penyelidikan dimulai. Sementara itu Akashi masih tidak percaya dan akan melakukan penyelidikannya sendiri bersama dengan butlernya. Kagamipun juga demikian.
Aomine sendiri tak tahu apa yang ia akan lakukan berikutnya tanpa kekasihnya. Ia selalu duduk berdiam diri di danau tempat keduanya terakhir bertemu. Rasanya ia ingin menyusul sang kekasih ke alam sana, namun Kise pasti akan membencinya.
"Kise..." air matanya selalu tak terbendung setiap mengingat sosok pemuda pirang tersebut.
"Aku tak menyangka kau itu cengeng, bocah."
Aomine cepat-cepat mengusap air matanya dan menoleh ke asal suara. "Kagami."
"Kagami-san! Aku lebih tua darimu, bocah!" Kagami mengacak-acak rambut Aomine gemas, lalu duduk di sebelahnya. "Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di sini?"
"Kau sendiri?"Tanya Aomine balik.
"Hanya ingin mencari udara segar."
"Kalau begitu aku juga..."
Dasar bocah ini...
"Pasti kau sedang memikirkan Kise kan?"
Aomine diam.
"Kau pasti sangat mencintainya."
"..."
"Kau tau, soal kasus itu—
"Kise masih hidup!" Aomine memotong ucapannya.
"Huh?"
"Aku yakin Kise masih hidup..."
"Menurutmu begitu?"
Aomine mengangguk yakin.
"Kau tau, walaupun kasus telah ditutup, aku akan melanjutkan penyelidikan secara pribadi. Aku masih merasa ada yang ganjil..."
Keduanya diam sejenak.
"Kagami... ada hal yang ingin kusampaikan..."
"Hmm?"
Aomine pun menceritakan kejadian saat ia melihat seseorang yang mirip dengan Kise.
"Mereka sangat mirip. Lalu saat Akashi bilang Kise masih hidup, aku mulai percaya orang yang kulihat waktu itu benar-benar Kise!"
Ucapan dari pemuda itu membuat Kagami semakin semangat untuk mengungkap kembali kasus tersebut.
"Ini akan memakan waktu lama, tapi aku harap kau bisa bersabar."
.
.
.
Hari sudah menjelang sore dan Aomine pergi mengunjungi makam kekasihnya. Itu adalah kegiatan rutin yang dilakukannya tiap sore.
Namun, hari ituberbeda dari hari biasanya.
Dari kejauhan, Aomine melihat seorang laki-laki bersurai pirang berdiri di depan makam Kise. Orang itu membelakanginya. Sebuket bunga matahari kesukaan Kise berada di genggaman.
Postur itu sangat mirip dengan Kise.
"K-kise..."
Laki-laki itu menoleh. Ya, sekilas mereka tampak mirip. Namun disaat bersamaan, mereka berbeda. Seorang pria seusia Kagami—atau mungkin lebih tua.
"K-kau siapa?"
.
.
.
'Aominecchi!'
'Apa kau mencintaiku?'
'Apa yang kau katakan, Kise!'
'Tentu saja aku mencintaimu!'
'I love you too, Aominecchi!'
.
.
.
Mata Ryouta terbuka lebar.
Mimpi itu lagi.
Kepalanya selalu pusing tiap terbangun dari mimpi itu.
Tiap terbangun, ia selalu lupa dengan apa yang ia ucapkan di dalam mimpi tersebut. Yang ia ingat hanyalah dirinya yang sedang berbicara dengan seorang laki-laki. Bukan Harasawa, Himuro, ataupun Hanamiya. Wajahnya tidak kelihantan.
Namun di dalam mimpi tersebut Ryouta merasa sangat mencintai dan dicintai. Rasanya sangat bahagia. Sangat rindu. Sulit dideskripsikan dengan kata-kata.
Sebuah rangkulan di pinggul membangunkannya dari lamunan.
"Ryouta, kau bermimpi lagi?"Harasawa mendekapnya dari belakang.
"Ayah—
Harasawa menutup mulut Ryouta dengan telunjuknya. "Bukankah aku sudah bilang berkali-kali, ketika kita sedang berdua, panggil aku dengan namaku."
Ryouta mengangguk patuh, "Baik-ssu! Eh!"
Ssu?
Ryouta tak ingat pernah mengucapkan suffix itu sebelumnya. Tapi rasanya sangat familiar.
Harasawa melepaskan pelukannya, "sebaiknya kau minum obat dulu." Pria itu mengambil botol pil di laci nightstand dan segelas air, lalu memberikannya pada si pirang.
Ryouta meminum obat itu, "Kepalaku pusing..."
Harasawa membaringkannya lalu mengecup kening si pirang, "Istirahatlah, nanti pusingmu akan hilang."
Bukannya istirahat, Ryouta justru mengalungkan tangannya di leher Harasawa dan menariknya tidur bersama.
"Hmm? Kau mau 'bermain' lagi?" Pria tersebut menciumi leher jenjang Ryouta yang terdapat bekas permainan mereka beberapa jam sebelumnya.
Ryouta mengangguk malu-malu. Tubuh menggeliat dibawahnya, mempersilahkan pria diatasnya melakaukan apapun terhadap tubuh telanjangnya.
Tentu saja dengan senang hati Harasawa akan melakukannya.
"Katsunori.. ah! Nghhh..." Rasa pusing dikepalanya kalah oleh rasa nikmat dari sentuhan dan kecupan lembut Harasawa. "Moreee... mmhhh.."
Harasawa melumat bibir ranumnya. Kedua tangan menelusuri seluruh lekuk tubuhnya menuju ke selatan. Ryouta membuka kakinya selebar mungkin, memberi akses lebih bagi Harasawa memainkan jemarinya di bagian bawah sana.
"A-aaahhh..." Ryouta dapat merasakan jemari Harasawa memaski tubuhnya. Bergerak keluar-masuk dengan cepat.
"Ryouta, Ryouta, Ryouta, Ryouta, my Ryouta... so beautiful..."Harasawa tak berhenti mengecup, menjilat, dan menggigit dada si pirang hingga turun ke perut.
Setelah penetrasinya dirasa cukup, Harasawa mulai memasukan miliknya. "Ahh... Ryouta kau sangat hangat dan ketat."
"Ah! Ah! Ah! Anghmm!" Jeritan Ryouta kembali dibungkam dengan cumbuan.
Desahan penuh kenikmatan dari si model membuatnya makin bersemangat memasukan miliknya. Tubuh bugil saling menempel dan bergesekan mengikuti gerakan. Ryouta selalu meminta lebih.
Menggemaskan. Harasawa sangat menyukainya ketika Ryouta dalam pengaruh obat.
Setelah beberapa tusukan, Ryouta mencapai klimaksnya lalu disusul oleh Harasawa.
"Hah... hah... nee, apa kau mencintaiku?" Tanya Ryouta dengan wajah merona dan basah oleh peluh dan air matanya sendiri.
"Tentu saja, Ryouta." Harasawa mengecup keningnya dan menyelimuti tubuh keduanya dengan selimut. Untuk urusan bersih-bersih, itu bisa dilakukan nanti.
.
.
.
"Kasusnya sudah ditutup," ucap Kiyoshi pada keesokan harinya di ruang kerja Harasawa.
"Kabar bagus..." Harasawa menyeruput tehnya. Bibir tersenyum tak bisa menahan tawanya.
"Tapi kita harus tetap waspada. Akashi Seijurou dan Kagami taiga masih melakukan penyelidikannya secara pribadi."
"Terus awasi mereka. Jika ada sesuatu, segera laporkan padaku."
"Baik, oyabun. Kalau begitu saya permisi." Kiyoshi pun pergi.
Seperginya sang butler, Harasawa menyeringai dan tawa pun akahirnya tak terbendung.
"Ahahahahha... hahahaha! Ryoutaaaa... my Ryouta~ Akan kujamin mereka tak bisa menemukanmu lagi."
Pria itu pun bangkit dan pergi menuju kamar pemuda yang disebut.
"It's time to wake up, my sunshine~"
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE
Terima kasih untuk para reader yang sudah menanti fic ini untuk update.
Sebenarnya saya gak ada niatan untuk buat genre crime, jadi jangan berharap lebih untuk genre crime nya wwww
Btw, ada yang tau siapa yang ada di makam kise dan apa hubungannya dengan kise?
Silahkan tunggu jawabannya di chapter berikutnya~
Shoujo Sedai: Kasian kalo dibuang kisenya.. ntar mati beneran :'(
ryu elchan: emang gila dia... /disledingHarasawa
Iya minum obat itu biar kise lupa terus... rus... rus...
Hanamiya sbenarnya ada niatan untuk bantu kise, tapi dia punya alasan sendiri kenapa dia gak melakukan itu.
shiroo: YESS WELCOME TO HARAKISE HELL HOLE /dibuang
dumpedshxt: memang terinspirasi dari sana (cara ketemu mayatnya sih.. www)
Sorakoun: /kabur
Ray E. Y: sudah update~
Baby'Alien Kim Taehyung: sudah update~ :D
