Chapter 6

Fate POV

Suasana hening.. yang ada hanyalah suara serangga malam dan gemerisik daun dan ranting-ranting yang tertiup angin.. dengan diterangi oleh cahaya bulan aku berjalan sambil menggendong Nanoha.

Nanoha terdiam.

'Jadi ingat.. kalau tidak salah beberapa waktu yang lalu aku menggendong Hayate seperti ini.. Hayate bagaimana kabarnya sekarang.. apa dia cemas..?'

"…"

'Maafkan aku Hayate.. tapi demi Nanoha aku..'

"Fate-chan, kamu capek?"

"Tidak.."

Bohong.. tentu saja aku capek..

Suasana menjadi hening lagi.

"Ne Fate-chan.."

"Hmm?"

"Apa kita akan benar-benar bisa keluar dari hutan ini hidup-hidup..?"

"Pasti.."

"Kita akan sampai kan..?

"Ya.."

Lagi-lagi aku hanya memberi Nanoha jawaban yang samar-samar. Aku bahkan tidak tahu sudah berapa lama kita berada di dalam hutan ini.

"Fate-chan.." Nanoha menyebut namaku dengan suara yang agak lemah.

"Ya?"

"Aku lapar.."

"Aku juga.."

"Ngantuk.."

"Tidurlah.."

"Tapi rasanya tidak adil jika aku tidur sendiri sementara Fate-chan terus berjuang sambil menggendongku.."

"Diadil-adilkan.."

Benar-benar jawaban yang konyol..

"Haha…"

"Tidak apa-apa, karena kamu sedang terluka.."

"Fate-chan juga terluka.."

"Kamu lebih parah.."

"…"

Kami terdiam, mungkin karena perdebatan kita tidak akan selesai-selesai jika diteruskan..

"Sejujurnya lukanya masih terasa sakit Fate-chan.."

"Nanoha.."

"Ah.. auw.." rintih Nanoha.

"Kamu tidak apa-apa..?"

"Aku tidak apa-apa karena.. aku harus jadi wanita yang tangguh.. apalagi ini masih dalam masa perang.."

"…"

"…"

"Nanoha?"

"Zzzzz…"

'Tidur?'

"…"

Aku berusaha menguatkan diriku.

'Kami pasti akan selamat dan bertemu dengan Yuuno, pasti!'

________________________________________________________

Nanoha POV

Ketika mataku terbuka, aku berada di tempat yang sama sekali tidak kukenal.

'Aku selamat..?'

"Fate-chan?"

Tidak ada.

Kemudian aku melihat sekelilingku. Ada banyak barang-barang di pojok dan ada beberapa obat disebelahku. Aku pikir sepertinya aku berada di dalam tenda.

Aku mengecek kakiku, kakiku terbalut perban dengan rapi. Kucoba menggerakkan kakiku dan untunglah kakiku masih dapat digerakkan walaupun samar-samar aku merasa sakit.

Kemudian karena penasaran aku mengintip ke luar tenda. Kulihat banyak orang yang sepertinya tentara penyihir berlalu lalang dan ada juga perawat-perawat.

'Ini bukan kota.. ini tempat perkemahan para tentara..'

Kemudian setelah memakai sepatu aku keluar untuk mencari Fate yang kupikir pasti tidak jauh dari sini. Ketika aku berjalan di luar orang-orang melihat ke arahku, tapi aku berusaha tidak memedulikannya.

'Mungkinkah karena aku bukan pasukan..?'

Aku berjalan dengan sedikit pincang.

Tapi tiba-tiba.. aku melihat Yuuno, Yuuno sedang mengobrol-ngobrol dengan seorang tentara. Aku terus memandangnya seakan tidak percaya. Kemudian Yuuno sepertinya sudah selesai mengobrol dan berpisah dari tentara itu dan ketika dia mau pergi dia melihatku.

Aku hanya tetap diam berdiri, aku tidak tahu kenapa padahal aku sendiri yang duluan ingin bertemu dengannya. Yuuno juga terlihat sangat kaget melihatku.

Kami berdua berdiri terdiam sambil memandang dari jarak jauh.

Fate yang sedang berjalan-jalan di sekitar sana, sedang membawa sebotol air dan melihat Nanoha dengan Yuuno yang hanya berpandang-pandangan saja.

"Nanoha, apa yang kamu lakukan?!" teriaknya.

"!" Aku kaget.

"Kenapa kamu hanya diam saja?! Bukankah ada sesuatu yang ingin kamu katakan padanya?!"

Beberapa orang mulai melihat ke arah kami.

"Kamu sudah bersusah payah untuk bisa sampai disini demi bertemu dengan Yuuno, kamu bahkan harus mengalami pelecehan, demam, melewati perjalanan yang tidak nyaman, kepergok tentara musuh, dan digigit ular, jadi jangan sia-siakan kesempatan ini!"

'Fate-chan..'

Yuuno mendekat pada Nanoha.

"Nanoha, apa itu benar?" tanyanya dengan khawatir.

Mataku mulai berair.

"Iya Yuuno-kun.. aku ingin sekali bertemu denganmu.. aku benar-benar kangen.." aku tak kuasa menahan tangis.

"Nanoha.."

"Padahal kamu sudah janji akan pulang setelah satu bulan, tapi kenapa kamu.."

"Maaf Nanoha.." Yuuno segera memelukku.

Orang-orang di sekitar bertepuk tangan untuk kami.

Kulihat sekilas Fate-chan, mata kami bertemu.

Aku tersenyum dan berterima kasih pada Fate-chan dalam hati.

Fate sepertinya mengerti apa yang kupikirkan.

Dia membalasku dengan tersenyum, meskipun matanya terlihat sedih..

~***~

Fate POV

Malam harinya

"Nanoha kakimu tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa, sedikit sakit sih.." Nanoha tersenyum.

Yuuno merasa tidak enak.

"Nanoha, maaf.."

"Tidak apa-apa, kan sudah kubilang tidak apa-apa, karena Fate-chan menolongku. Yuuno-kun jangan minta maaf terus, nanti aku marah nih" Nanoha mencibir dengan manis.

"Haha baik baik.."

Nanoha dan Yuuno terdiam sejenak.

"Yuuno-kun.."

"Ya?"

"Kenapa kamu belum pulang?"

"Oh itu maaf, karena ternyata jadwalnya tidak sesuai yang kuperkirakan, karena tadinya sempat terjebak dalam perang juga"

Nanoha langsung menjadi khawatir. "Kamu tidak terluka kan Yuuno-kun?"

"Haha, sama sekali tidak kok, tenang saja."

"Syukurlah.."

".. maaf ya, aku berhenti membalas suratmu.."

Nanoha menggeleng. "Tidak apa-apa, yang penting Yuuno-kun selamat. Kalau begitu kapan kamu pulang?"

"Besok, jadi kita sekalian bareng saja ya?"

"Em" Nanoha mengangguk.

Sementara aku yang sedang berada dalam tenda tidak jauh dari situ (karena mereka mengobrol dekat tendaku, dan sepertinya tidak sadar). Aku berusaha untuk tidur, meskipun aku sudah menutup mataku tapi mataku sama sekali tetap tidak mengantuk, padahal aku kurang tidur. Dan telingaku sama sekali tidak bisa berhenti menguping pembicaraan mereka. Sebenarnya walau tidak ingin tapi aku merasa ingin mengintip mereka padahal aku tahu itu hanya akan menyakitkan, tapi aku tidak bisa mengalahkan rasa ingin tahu ini. Maka aku pun membuka sedikit untuk mengintip mereka.

"Aku benar-benar tidak menyangka kamu akan datang sampai kesini Nanoha.. kamu gadis yang kuat.."

Nanoha dan Yuuno saling berpandangan dengan lembut.

'Ya ya mereka terlihat seperti pasangan yang cute dan romantis..'

"Nanoha ini mungkin tiba-tiba tapi.."

"?"

"Maukah kamu menikah denganku?" Yuuno memasang wajah serius.

"Eh?!" Nanoha kaget termasuk aku.

"A aku tahu sekarang terlalu cepat tapi aku.. sebenarnya aku.. dari dulu sangat menyukaimu.. ja jadi, maukah kamu bertunangan denganku dulu..?" wajah Yuuno memerah.

Wajah Nanoha juga memerah.

"Setelah perang selesai kita akan menikah..bersediakah Nanoha?" Yuuno agak takut ditolak.

"Iya Yuuno-kun aku bersedia"

Wajah Nanoha terlihat amat bahagia di mataku.

'Syukurlah Nanoha' entah kenapa aku tersenyum, tapi senyuman ini terasa beda.. seolah kamu tersenyum jika merasa kalah pada sesuatu.

Kemudian mereka berciuman.

Aku merasa sedikit menyesal sudah mengintip mereka. Aku meremas lukaku sendiri hingga lukanya terbuka lagi dan mengeluarkan darah.

Meski sudah mati-matian untuk melindunginya.. memang menyebalkan tapi aku harus menerima kekalahan..

Dan entah kenapa aku merasa sangat capek dan mataku terasa berat padahal beberapa menit yang lalu aku sama sekali tidak merasa seperti itu, akhirnya aku langsung mulai tidur tanpa peduli lagi.

~***~

"Fate-chan!"

Suara berisiknya membangunkanku dari tidurku.

"Apa sih.." kataku dengan nada jengkel karena terganggu.

"Kenapa lenganmu berdarah lagi?!"

Tapi aku tidak memedulikannya dan tetap tertirdur.

Nanoha mengambil kotak P3K dan mulai merawat lukaku.

"Tidak perlu.. urusi saja Yuuno.."

"…"

Aku agak heran karena Nanoha tidak berkata apa-apa setelah aku berkata seperti itu, dia tetap diam sambil merawat lukaku.

"Maafkan aku Fate-chan.."

"Tidak perlu minta maaf.. karena aku sudah menyerah soal kamu.." kataku dengan acuh sambil tetap menutup mata, tidak mau melihat Nanoha.