~From Far Away~

.

Author : Kiela Yue

Genre : Boys love. Romance, Fantasy

Cast : Luhan, Sehun, Kai, Chanyeol, Baekhyun, and EXO members.

Plus~ 2min, Daezel dan Henry Lau…

Rating : T

Length : Chapter 6/?

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan YME, kecuali OC. Cerita ini benar – benar murni dari otak saya yang selalu di penuhi oleh makhluk planet EXO. NO PLAGIAT! Thanks.

Yang plagiat semoga jadi amnesia.. Amiin. Kalo bisa jadiin ajah makanan hiu.

.

Fantasy

.

Summary

Setiap generasi, negeri Oberon selalu kedatangan manusia dari dunia Lain yang memiliki kekuatan. Manusia itu akan menikah dengan raja yang sedang berkuasa agar keturunannya tetap memiliki kekuatan magis. Tapi bagaimana jika manusia dari dunia lain itu ternyata namja dan rajanya juga namja? HunHan/Kailu/Baekyeol another pairs.

.

.

.

Chapter 6

.

.

Untuk pertama kalinya Luhan merasa lega setelah ia sampai disini. Rasanya hari ini sangat menyenangkan. Ia bisa memperoleh seorang yeoja cantik nan baik yang bisa ia panggil dengan sebutan eonnie dan mereka sudah bernyanyi bersama tadi sore hingga malam ditaman. Malamnya para pelayan yang lain mengantarkan lilin – lilin untuk memberi penerangan dan mereka bernyanyi ditengah lingkaran cahaya kerlap – kerlip. Langit – langit kamar Luhan seolah menjadi LCD imajiner yang menayangkan semua kejadian hari ini. Yang membuatnya paling senang adalah, Taeyeon membisikinya dan berkata kalau Sehun tengah melihat mereka dari tempat yang tidak jauh. Ia senang, karena menurut Taeyeon Sehun tidak suka siapa pun menyentuh piano itu. Tapi Luhan? Sehun tidak marah! Sepertinya ini memang awal yang baik.

Sudah berapa kali Luhan mencoba untuk tidur tapi ia tidak bisa. Mungkin ini efek karena terlalu senang. Ia pun bangkit kembali dari tempat tidurnya lalu membuka jendela kamarnya. Angin malam yang dingin berhembus lembut membelai kulit Luhan karena ia hanya memakai boxer dan kaos. (Taeyeon membuatkannya dari bahan yang berbeda dengan bentuk yang sama untuk Luhan pakai saat tidur dimalam hari.) Ia memejamkan mata dan menikmatinya. Perlahan Luhan pun membuka matanya kembali dan menikmati keindahan bintang yang bertebaran dan terlihat sangat indah karena tidak terhalang oleh awan. Namun saat melihat ke bawah, Luhan membulatkan matanya karena ia melihat sosok yang tidak asing lagi, Sehun.

Ia heran kenapa Sehun keluar malam – malam begini. Luhan ingin mengikutinya namun mustahil karena diluar kamarnya pasti dijaga oleh prajurit suruhan Taeyeon. Melompat dari jendela juga mustahil karena kamarnya berada dilantai dua. Kalau ia ingin cepat – cepat menuju dunia yang abadi sih, bisa saja. Dengan cepat Luhan pun membuka lemari pakaian yang disediakan untuknya, ia mengambil beberapa gaun dan mengikatnya hingga membentuk tali. Setelah dirasa cukup, ia pun mengikatnya ke salah satu kaki tempat tidurnya dan menjuntaikan tali buatannya kebawah.

Ugh, Luhan meringis pelan saat lututnya sedikit tergores karena ia mendarat dengan tidak hati – hati. Dengan langkah mengendap – endap seperti pencuri, ia pun mengikuti Sehun sambil sesekali bersembunyi dibelakang bunga atau dibalik batang pohon.

.

.

.

Setelah melihat pertunjukan menyanyi Luhan featuring Taeyeon dan Tiffany, Sehun menyadari kalau ia memang terpesona pada Luhan. Entah Luhan yang laki – laki atau yeoja, ia tidak tahu karena rasanya ia mengagumi dua sosok itu sekaligus. Sehun tidak peduli pada pelayan yang memanggilnya untuk makan malam karena ia memang kehilangan selera makannya. Ia tengah berpikir keras bagaimana ia menghadapi masalah yang ia buat sendiri. Tadi siang Sehun menerima surat undangan kalau si Raja, Kai akan mencari calon pengantinnya diacara ulang tahunnya yang akan diadakan tidak lama lagi. Ia mengadakan pesta besar – besaran untuk pertama kalinya dan ia melakukan itu semua karena manusia asing tidak ditemukan. Jadi ia berharap agar ia menemukan calon pengantinnya dari rakyat Oberon saja. Bukankah dinegeri ini banyak gadis cantik?

Berpikir sendirian diruangan yang tertutup membuat Sehun merasa jenuh. Ia pun keluar dari kamarnya untuk mencari angin segar. Saat melewati kamar Luhan, ia berhenti sebentar dan melihat kalau kamar Luhan telah gelap yang berarti namja itu sudah tertidur. Namun satelah agak lama, ia merasa kalau ia tengah diikuti oleh seseorang yang tidak membahayakan nyawanya karena berkali – kali penguntitnya memijak dedaunan dan membuat suara berisik. Saat tahu siapa yang tengah mengikutinya, bibirnya bergerak dengan sendirinya dan senyuman menghiasi wajah tampannya.

"Sedang apa kau Luhan?"

"Huwoo!" Luhan yang bersembunyi tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya karena Sehun tahu ia sedang membuntuti tanpa melihat kebelakang sama sekali. Sehun menunggu agak lama namun Luhan sama sekali belum keluar.

"Cepatlah keluar dari persembunyianmu kalau tidak ingin ulat jatuh dari dahan pohon mengenaimu."

Luhan langsung berlari dan memegangi tangan Sehun karena jujur saja ia sangat jijik melihat makhluk lembek yang berbulu seperti ulat dan sejenis serangga. Apalagi mengingat ulat – ulat raksasa yang ia temui saat pertama kali masuk ke dunia ini. (Chapter 1). Beberapa kali Luhan memutar – mutar kepalanya karena ia merinding. Sehun tidak melakukan dan membiarkan Luhan menarik – narik lengan bajunya.

"Oh..ma'af" Luhan langsung melepas pegangannya dan menunduk. Sehun membulatkan matanya saat ia melihat penampilan Luhan dengan jelas. "Ada apa dengan pakaianmu?"

"Oh..oh.." Luhan meraba – raba kepalanya dan memperhatikan tubuhnya sendiri. Gawat, aku keluar memakai pakaian namja. Bagaimana kalau dimarahi? Luhan menggigit bibirnya dan tidak berani untuk melihat wajah Sehun. Ia semakin gemetar saat Sehun menggapai pipinya dan mengangkat dagunya agar ia melihat langsung kewajah Sehun.

"Jadi begini wajahmu saat memakai baju namja?"

Luhan mengangguk pelan. Sehun merasa sakit saat Luhan ketakutan berhadapan dengannya seperti ini meski Luhan jadi begini karena kesalahannya. Tapi ia akan lebih senang jika Luhan bersikap seperti pada Chanyeol.

"Apa yang kau lakukan malam – malam begini diluar? Dan lagi kamu memakai baju namja. Kamu tidak sedang bermimpi sambil berjalan 'kan Luhan?"

Mati aku. Lagi – lagi Luhan bicara dalam hatinya. Ia tidak menemukan alasan lain. Rasanya bodoh jika ia berkata ia keluar karena mengikuti Sehun.

"Kamu mengikutiku?" Tanya Sehun lagi. Dan kali ini Luhan merasa kalau ia harus jujur.

"N-ne. Ta-tadi aku melihat anda sedang berjalan sendirian, aku penasaran jadi aku keluar dan mengikuti anda."

Sehun benar – benar gemas melihat sikap Luhan. "Aku tidak akan memarahimu. Bagaimana kalau kita duduk saja di kursi sana?" ajak Sehun sambil menunjuk sebuah kursi panjang. Luhan mengangguk dan mengikuti Sehun dari belakang lalu mereka duduk berdampingan. Posisi mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah berantem karena mereka duduk berjauhan. Tidak sekalipun Luhan menoleh kearah Sehun karena ia ketakutan. Ia tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk melakukan apapun karena ia tidak mau ketahuan. Akhirnya Luhan cuma menunduk sambil memelintir ujung bawah bajunya. Ia juga gugup karena rasanya tatapan Sehun padanya seperti sedang menelanjanginya.

Sehun merasa kalau sebagai namja saja Luhan itu terlihat sangat cantik dengan wajah yang kecil, pipi yang lonjong, lehernya yang begitu mulus dan jenjang, tubuhnya yang sangat kurus dengan lengan yang mirip ranting kering, dan bibir mungil yang sedari tadi ia gigit. Kelakuan Luhan itu malah membuat Sehun ingin ikutan menggigitnya juga. Meski hanya sekedar mencicipi. -_-"

"K-kenapa anda memandangiku?" Tanya Luhan akhirnya karena ia sudah tidak tahan lagi.

"Tidak," Sehun cepat – cepat memalingkan wajahnya. Setelah itu mereka kembali terdiam dan tenggelam dengan pikirannya masing – masing. Sehun merasa ini saat yang tepat untuk mengatakan pada Luhan tentang keputusannya. Ia tidak ingin lebih tersiksa lagi jika melihat Luhan yang tidak bisa ia miliki. Setelah menghela nafas, Sehun memutuskan kalau ia tidak akan menyesali keputusannya ini.

"Dengar Luhan," Luhan menoleh dengan cepat karena rasanya baru sekarang Sehun memanggil namanya dengan begitu lembut. Apa ia boleh berharap, setidaknya Sehun tidak akan membencinya lagi walaupun hubungan mereka tidak bisa seperti hubungannya dengan Chanyeol?

"Ne, Yang Muliaa.."

"Tidak lama lagi, Yang Mulia Kai, raja yang memerintah kerajaan Oberon ini akan mengadakan pesta besar – besaran di hari ulang tahunnya. Ini bukan pesta biasa karena saat inilah ia akan mencari pendamping hidupnya karena ia tidak menemukan manusia asing itu. dan kamu akan aku kirimkan sebagai salah satu calon."

Luhan membulatkan matanya. "A..aku? Bukankah anda tahu kalau aku ini namja?"

"Aku tahu," jawab Sehun. "Tapi kamu akan kesana memakai gaun seperti biasa. Jangan takut, kamu tidak akan ketahuan karena disana akan ada puluhan atau bahkan ratusan yeoja dari seluruh negeri."

"K-kenapa anda bisa tidak memiliki prinsip seperti ini? Bukankah anda berencana untuk membiarkan aku disini sampai kelak aku mengetahui cara agar aku bisa kembali? Tapi kenapa anda malah mengirimkanku kesana kalau anda telah menyembunyikanku selama ini? Kalau memang akhirnya aku tetap harus menghadap raja itu, tidak ada gunanya aku anda bawa kemari. Akan lebih bagus kalau aku tidak mengenalmu!" Luhan berteriak dan tidak mempedulikan siapa yang ia teriaki. Ia merasa kalau Sehun tidak sudi lagi untuk 'memeliharanya' nya dan lebih memilih untuk mengirimkannya ketempat yang seharusnya. Sehun itu jahat. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan ini semua seenak hatinya saja? Apa ia tidak tahu kalau Luhan itu sudah mulai menyukainya? Ya, Luhan sadar kalau ia memang menyukai Sehun meski namja itu tidak selalu bersikap baik padanya. Ia terlalu kagum pada sosok Sehun yang terlihat memukau.

Seharusnya Sehun marah karena ada yang berani membentaknya, tapi kali ini tidak bisa begitu karena yang melakukannya adalah Luhan, terlebih lagi namja yang terlihat lemah itu sudah mengeluarkan air matanya.

"Ah, bukan maksudku seperti itu," Sehun merasa bersalah. "Ma'af atas perbuatanku yang membuatmu merasa aneh seperti selama ini. Tapi aku sudah memikirkan ini baik – baik."

Luhan memilih untuk diam saja. Rasanya seolah Sehun sengaja untuk mengacaukan perasaanya. Dengan perlahan, entah dapat dorongan darimana, Sehun meraih bahu Luhan dan memberi isyarat agar Luhan bersandar dibahunya. Luhan menurut dan ia memejamkan matanya menghirup aroma tubuh Sehun yang mungkin terakhir kalinya bisa ia rasakan. Luhan merasa kalau ini sama sekali bukan dirinya yang selalu bersikap ceria. Tapi perasaannya berkata lain, ia tengah jatuh cinta pada seseorang yang tidak boleh ia cintai jadi mana mungkin ia bisa tetap ceria? Luhan tidak tahu ia penyuka sesama jenis atau tidak karena ia belum pernah pacaran selama ini. Tapi kalau ia memang bisa menyukai Sehun seperti ini, berarti ia sudah tahu tentang orientasi sex-nya.

Sehun membiarkan Luhan tertidur dibahunya dan manjadi orang pertama yang melakukan itu padanya. Biasanya ia tidak ingin seseorang terlalu dekat dengannya. Tapi kalau dengan Luhan ia malah tidak ingin namja itu pergi dari sisinya. Kalau memang bisa, ia ingin agar waktu berhenti saat ini juga.

.

.

.

.

Taeyeon merasa terharu saat ia melihat pemandangan di depannya, Sehun yang tengah merangkul Luhan. Ia sama sekali tidak berniat untuk mengintip, hanya saja secara tidak sengaja ia menemukan jendela kamar Luhan yang terbuka dan tali dari gaun yang disambung menjuntai kebawah. Jadi ia berinisiatif untuk mencari Luhan sendirian tanpa harus merepotkan orang lain. Taeyeon tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini, antara senang, sedih, marah dan berbagai perasaan lainnya. Ia senang karena ternyata Luhan juga menyukai Sehun, ia yang mengenal Sehun sejak dari kecil langsung tahu kalau Sehun itu memang mencintai Luhan. Namun ia juga sedih karena sepertinya kedua manusia itu tidak akan bisa bersatu. Perasaan marahnya muncu karena ia tidak bisa melakukan apapun selain hanya jadi penonton seperti saat ini.

"Lebih baik sekarang kita masuk saja, eonnie," Taeyeon hampir berteriak kalau saja Tiffany tidak cepat – cepat menutup mulutnya.

"B-bagaimana kamu bisa ada disini?" Taeyeon kaget dengan kemunculan Tiffany yang tiba – tiba.

Tiffany memutar matanya bosan. "Aku tahu semuanya meski aku selalu bersikap seperti ini. Ayo, kita harus pergi sebelum mereka menyadari keberadaan kita."

Taeyeon mengangguk dan dengan langkah perlahan mereka pun kembali.

.

.

.

.

Sehun tidak tahan lagi saat melihat wajah Luhan yang tengah tertidur. Mengikuti naluri, ia pun mendekatkan wajahnya dan ia merasakan deru nafas Luhan menerpa wajahnya. Hangat, itulah yang ia rasakan saat bibirnya bersentuhan dengan bibir Luhan. Seperti dirasuki sesuatu, Sehun tidak berhenti sampai disitu. Ia mulai melumat bibir Luhan dan menyesapi bibir atas dan bawahnya bergantian. Sehun bahkan mengangkat tubuh mungil Luhan hingga sekarang Luhan berada di pangkuannya seperti gendongan bridal style tanpa melepas tautan bibirnya.

"Ngghh.." Luhan melenguh dalam tidurnya dan sontak Sehun menjauhkan kepalanya. Ia takut Luhan akan terbangun lalu memergoki kegiatannya. Sehun menundukkan kepalanya dan merutuki apa yang baru saja ia lakukan. Semuanya sudah jelas. Ia mencintai Luhan dan tidak ingin terpisah dari namja itu meski hanya sedetik. Tapi ini tidak boleh terjadi. Luhan adalah namja yang harus menikah dengan raja mereka. Untuk pertama kalinya selama Sembilan belas tahun ini Sehun menyesali perbuatannya.

Desiran daun yang ditiup angin seolah ikut menangis bersama hati Sehun. Sehun mendongak dan melihat ke langit yang kelam dan hanya dihiasi bintang yang kecil untuk menahan agar air matanya tidak terjatuh. Seharusnya ia belajar pengalaman dari kakeknya, makhluk asing itu terlalu mempesona dan membuat siapapun bisa jatuh cinta padanya. Dengan gerakan perlahan, Sehun mambaringkan tubuh Luhan dikursi, lalu ia membuka mantelnya dan menggunakannya untuk membalut tubuh Luhan agar tidak ketahuan karena namja itu hanya memakai pakaian yang sama sekali tidak menunjukkan ia yeoja. Ini kedua kalinya ia menggendong tubuh Luhan.

Pengawal didepan kamar Luhan tidak menanyakan apapun meski mereka heran kenapa putri yang tadinya ada didalam kamar sekarang berada di dalam gendongan raja mereka. Lagipula lebih baik diam saja daripada kena marah karena tidak becus untuk menjaga seorang yeoja saja. Begitu Luhan terbaring, Sehun menyelimutinya sampai leher. Wajah tidur Luhan terlihat sangat tenang dan begitu berbeda dengan ia yang terbangun dan sangat cerewet. Cepat – cepat Sehun berbalik sebelum ia kehilangan akal sehatnya. Namun langkahnya terhenti saat Luhan mengucapkan sebuah kata yang tidak asing lagi, Luhan menyebutkan namanya dalam tidurnya, Sehun.

Seketika itu Sehun langsung memeluk tubuh Luhan yang terbaring. Ia menenggelamkan kepalanya di bahu Luhan yang sempit dan mencium aroma tubuhnya yang begitu wangi dan lembut. Pikirannya terasa kosong. Entah dirasuki setan darimana atau memang dasar Kiela author yang mesum, Sehun kembali melumat bibir Luhan sambil sesekali berhenti karena takut putri tidurnya akan terbangun. Ia juga mengecup kening Luhan dengan penuh sayang, kedua matanya, pipi Luhan bergantian, dan hidungnya. Ciumannya turun ke leher, namun lagi – lagi ia harus menghentikannya karena Luhan menggeliat tidak nyaman. Kali ini Sehun merasa agar ia benar – benar harus pergi. Pengawal di depan membungkuk padanya saat Sehun keluar. Namun mereka berdua saling berpandangan karena meski remang – remang mereka bisa melihat wajah Sehun yang memerah.

Begitu Sehun keluar dari kamarnya, Luhan membuka matanya dengan gerakan perlahan. Setetes air mata mengalir dari sudut matanya. Ia berharap ada seseorang yang mengatakan padanya kalau semua perlakuan Sehun padanya barusan hanyalah sebuah mimpi.

.

.

.

.

.

Dalam hati Henry merutuki Luhan yang berhasil membuatnya jadi tidak tidur semalaman hingga kantung mata yang berwarna hitam sukses terpampang diwajahnya. Entah sudah berapa lama ia bercermin dan itu membuat Zelo ingin muntah di pagi hari.

"Oh,,,Henry yang tampan. Kenapa wajahmu jadi kusut begini eoh? Padahal hari ini kamu ada janji untuk bertemu dengan Danice, cewek bule yang baru kenalan semalam. Apa nanti ia tidak akan kecewa karena ketampananku berkurang dalam semalam?" Henry bicara sendiri.

"Yakk hyung! Kamu masih sempat memikirkan cewek sedangkan Luhan hyung tidak kelihatan? Kamu teman macam apa sih? Padahal kalian kan sepupu, kok tidak sedikitpun kamu khawatir?" omel Zelo. Daehyun sudah berusaha untuk menenangkannya namun ia mengabaikannnya.

Dengan kening yang berkerut, muka kusut, alis yang bertaut, rambut yang acak –acakan dan pandangan tajam Henry menoleh kearah Zelo.

"Hiyaaa…. Jangan melihatku seperti itu hyung. Kamu seperti Zombie!"

"NEO!" Henry menunjuk tepat dikening Zelo. "Kamu tidak tahu kalau aku sangat khawatir pada Luhan, adikku itu. Tadi itu aku hanya ingin santai sedikit. Sedangkan kamu dan Taemin kami biarkan tidur nyenyak. Lihat saja wajah Daehyun dan Minho, tidak jauh berbeda denganku."

"Enak saja! Jangan samakan aku denganmu!" teriak Minho tidak terima. Masa wajahnya yang tetap tampan walau begadang disamakan dengan Henry yang memang terlihat seperti zombie?

Taemin berusaha untuk menengahi dan berkata kalau sekarang bukan saat yang tepat untuk mempermasalahkan ketampanan. Masalah utama yang harus mereka pecahkan adalah menemukan Luhan!

.

.

.

.

Tiffany mengerutkan keningnya karena rasanya hari ini Luhan sangat penurut saat ia mendandani namja itu. Luhan duduk dengan manis dan begitu tenang tanpa melakukan hal yang aneh. Biasanya Luhan selalu menyempatkan diri untuk mengerjainya, seperti mengoleskan lipstick ke pipi Tiffany, pura – pura menjatuhkan bedak berbentuk serbuk di lantai padahal ia sengaja, atau membohonginya dengan mengatakan kalau rambut palsunya hilang padahal ia menyembunyikannya. Bukan cuma itu saja, Luhan bahkan pernah membuang kunci lemari pakaiannya agar tidak usah memakai pakaian yeoja lagi. Namun Tiffany hanya tersenyum manis dan mengatakan kalau ia masih punya seratus kunci cadangan lagi (bohong, ia cuma punya satu) dengan nada mengejek dan tindakan Luhan itu hanya sia – sia. Otomatis Luhan mengambek dan menjambak rambut Tiffany lalu mereka berkelahi sampai berguling - guling dilantai seperti kerbau hingga Taeyeon harus turun tangan untuk melerai dan memarahi mereka berdua.

Itu hanya secuil dari sekian banyak kisah perjuangan yang harus dilakukan Tiffany untuk merubah penampilan Luhan. Tapi hari ini memang aneh. Saat Tiffany menempelkan telapak tangannya dikening Luhan untuk mengecek apakah namja itu demam atau tidak, Luhan diam saja. Tiffany jadi bergidik ngeri saat membayangkan kalau ternyata ada roh lain yang merasuki tubuh Luhan.

"Sudah selesai, Tiffany?" Tanya Luhan. Ini lagi, biasanya Luhan selalu menambahi namanya seperti Tiffany nenek lampir, Tiffany nenek sihir, Tiffany mesum, Tiffany setan, Tiffany gendut, Tiffany jelek dan berbagai nama julukan yang baru pertama kali ia dengar. Bahkan ia pernah mendengar Luhan menyebutnya Tiffany lembu, entah kenapa ia bisa disamakan dengan binatang gemuk itu padahal ia cantik begini, Tiffany tidak pernah tahu dan ia tidak mau tahu. Memiliki teman bertengkar seperti Luhan membuat hari – harinya terasa lebih hidup daripada hanya mengurusi Sehun yang sama sekali tidak memiliki selera humor.

"Sudah selesai belum?" Tanya Luhan sekali lagi, tetap dengan nada yang lemah seperti orang yang tidak dikasih makan berhari – hari. Ah, itu dia. Tiffany menepuk jidatnya, mungkin Luhan lemas karena belum makan.

"Belum. Tunggu sebentar lagi, tinggal mengikat belt nya saja. Oh iya, ngomong – ngomong, kamu kok lemas? Apa belum makan?"

"Sudah. Kalau sudah selesai aku mau pergi."

"Kemana?"

"Ketempat Baekhyun. Aku tidak ingin membuatnya menunggu. Padahal ia sudah berbaik hati untuk memberikan perawatan gratis padaku. Aku pergi." Luhan langsung pergi meninggalkan Tiffany yang berekspresi seperti orang bego.

"Kamu kenapa?" Taeyeon merasa heran melihat Tiffany yang bengong seperti jiwanya melayang entah kemana.

"Eh … oh.. aku cuma heran eonnie. Kok bisa – bisanya Luhan menurut sekali hari ini. Aku merasa ada yang aneh."

Taeyeon tersenyum, "Jadi kamu ingin kalian berkelahi lagi?"

"Bukan berarti begitu juga sih. Sepertinya ada yang sedang ia pikirkan dan aku tidak enak untuk menanyakannya. Apa jangan – jangan karena tadi malam?"

"Mungkin," Taeyeon terlihat berpikir serius. "Sepertinya Yang Mulia mengatakan sesuatu padanya. Aku juga sedikit heran kenapa acara ganti baju dipagi ini cepat selesai, ternyata karena Luhan begitu ya…"

Tiffany menghela nafas pelan dan duduk diranjang Luhan. "Aku takut eonni, sepertinya Sehun mencintai Luhan. Kenapa dulu eonni tidak melarangnya untuk mengambil manusia asing itu eoh? Padahal ia sangat patuh padamu."

"Aku sudah melarangnya. Tapi ia bilang kali ini ia minta maaf karena tidak mendengarkan nasehatku. Aku tahu kalau ia tidak akan setega itu membunuh manusia asing. Tapi belakangan ini aku berpikir kalau mungkin ini adalah takdir. Aku hanya bisa berharap tidak terjadi hal yang buruk pada Yang Mulia, itu saja."

Percakapan mereka terhenti sampai disitu karena mereka berdua tenggelam dalam pikirannya masing – masing. Benar, yang utama memang keselamatan Sehun karena tidak cuma sekali ia hampir mati dibunuh oleh mata – mata yang ada di istana ini. Jika seandainya ada yang tahu kalau Sehun jatuh cinta pada seorang yeoja, bukan tidak mungkin mereka menyanderanya lalu memaksa Sehun untuk menolongnya lalu membunuh Sehun. Semoga saja memang kejadian tadi malam tidak ada yang melihat.

.

.

.

.

.

Perjalanan dari istana ke rumah Baekhyun hanya memakan waktu sekitar lima belas menit menaiki kereta kuda yang berjalan dengan santai. Luhan merasa heran saat melihat Baekhyun yang berada didepan rumahnya dengan kening yang berkerut, tidak seperti hari biasanya yang selalu tersenyum manis menyambut kedatangan Luhan.

"Kamu kenapa Baekhyun?"

"Luhan?" Baekhyun tersenyum melihat kemunculan temannya. "Wah.. aku senang kamu begitu cepat datang hari ini. Padahal biasanya kamu selalu membiarkanku menunggu. Hehee.."

"Maaf kalau selama ini aku selalu membiarkanmu menunggu. Ngomong – ngomong, kenapa kamu berdiri diluar dengan wajah yang khawatir begitu?"

"Oh, i-itu.. tadi tanpa sengaja aku melihat kecoa. Jadi aku keluar dan menyuruh mereka untuk menemukannya. Sebenarnya udah ditemukan sih, Cuma aku takut kalau masih ada yang lain."

"Oh, begitu? Baekhyun takut kecoa?" Tanya Luhan.

Baekhyun mengangguk mantap. "Ne."

Entah kenapa tiba- tiba Luhan jadi semangat lagi setelah semalaman hingga pagi ia lemas dan selalu kepikiran perkataan dan perbuatan Sehun padanya.

"Ayo Luhan," Baekhyun mengajak Luhan masuk dan mereka melakukan kegiatan mereka seperti biasanya. Selang beberapa saat, Luhan mulai tersenyum licik dan berteriak.

"Hiyaa.. ada kecoa!"

"Kyaaa~~~" Baekhyun berteriak histeris. Ia berjalan dengan tidak karuan. "Dimana dimana…" ia meloncat – loncat untuk memastikan kecoa bohongan itu tidak masuk kedalam gaunnya. Ia juga menumpahkan berbagai macam ramuan yang ada diatas meja. Keringat dingin mulai mengucur dari keningnya dan itu membuat Luhan merasa bersalah telah mengerjai Baekhyun, apalagi pelayan mulai berdatangan untuk menenangkannya.

"Ma'af Baekhyun, tadi aku cuma bercanda…" ujar Luhan dengan wajah yang memelas. Baekhyun menatapnya dengan pandangan marah sekaligus lega.

"Luhan! Kenapa kamu mengerjaiku eoh?" baru kali ini Luhan mendengar Baekhyun bersuara keras dan Luhan hanya bisa memasang v sign sambil nyengir.

"Hahh… " Baekhyun menjatuhkan tubuhnya dikursi yang ada di dekat Luhan. Ia terlihat sangat lega. "Syukurlah. Aku benar – benar sangat takut dengan kecoa. Waktu kecil aku pernah pingsan saat Sehun memberiku kecoa. Ternyata ia disuruh Chanyeol dan berkata kalau aku sangat suka kecoa. Sehun yang tidak tahu apa – apa menurut saja. Namun sejak saat itu ia tidak pernah lagi mengerjaiku."

Luhan yang merasa bersalah berkali – kali membungkuk untuk minta ma'af dan Baekhyun dengan senang hati mau memaafkannya.

.

.

.

.

.

Setelah pulang dari rumah Baekhyun, Luhan jalan – jalan didalam istana yang besar itu untuk melihat – lihat hal yang belum ia ketahui sekaligus untuk menghilangkan pikirannya dari kejadian semalam dimana Sehun menciumnya. Meski ia selalu mengatakan pada dirinya bahwa itu hanya mimpi, namun tetap saja ia kepikiran karena lehernya memang basah. Ia ingat betul semua perlakuan Sehun padanya. Luhan bisa beranggapan kalau Sehun melakukan itu karena ia mencintai Luhan. Tapi, kalau memang Sehun mencintainya, kenapa ia tetap harus dikirim menghadap namja itu? lalu, untuk apa Sehun berlaku lembut padanya kalau ternyata Luhan salah dan Sehun itu tidak mencintainya? Bukankah itu hanya akan menyakiti Luhan?

Memendamnya sendirian membuat kepala Luhan serasa mau pecah. Tapi ia juga tidak tahu mau cerita pada siapa. Oh iya, Taeyeon! Bukankah masih ada yeoja baik hati itu? Luhan pun berusaha untuk mencari Taeyeon, namun ia salah arah. Sekarang ia malah berada di dalam ruangan berbentuk persegi panjang yang sangat besar. Didindingnya terdapat berbagai macam lukisan yang indah, seperti lukisan pemandangan dan lukisan wajah – wajah yang tidak pernah dilihat oleh Luhan. Sepertinya ukiran – ukiran yang ada di jendela ruangan ini jauh lebih indah dari tempat lain. Lantainya terbuat dari jenis bebatuan yang berkilauan dan bisa memantulkan cahaya seperti cermin. Di bagian tengah lantainya dibuat sebuah lingkaran yang memiliki hiasan berbentuk sulur tanaman. Luhan tidak pernah kesini sebelumnya. Ia hanya mengira – ngira fungsi ruangan ini apa. Sepertinya digunakan untuk acara – acara besar, seperti pesta mungkin?

Luhan masih asyik melihat – lihat saat Sehun memasuki ruangan itu diikuti oleh Taeyeon dan Tiffany yang mengerdipkan matanya pada Luhan dibelakang Sehun. Ia jadi salah tingkah, belum siap untuk bertemu Sehun. Masih terlalu cepat. Cepat – cepat ia mengalihkan pandangannya dan berpura – pura melihat keluar jendela.

"Luhan… ternyata kamu sudah kembali dari rumah Baekhyun eoh?"

"Ne, aku baru saja kembali," ujar Luhan dengan lembut pada Taeyeon. Sehun diam saja karena jujur saja ia pun masih tidak sanggup untuk melihat Luhan. Bagaimana kalau seandainya Luhan sadar dan mengetahui semua kejadian semalam? Yah, walau kemungkinannya sangat kecil karena Luhan tertidur dengan pulas.

Entah karena apa, suasana jadi canggung. Tiffany menyenggol tangan Taeyeon beberapa kali namun Taeyeon pura – pura tidak melihat kearah Tiffany yang rese. Namun kebekuan diruangan besar itu mencair seketika saat Chanyeol masuk sambil berteriak.

"Luhaaannn!"

Luhan membulatkan matanya melihat Chanyeol yang mendatanginya seperti orang yang kebakaran jenggot. "Ada ada Chanyeol?"

"Ada apa katamu? Tadi kamu mengerjai Baekhyun dan bilang ada kecoa kan?"

o.O

Luhan menelan ludah dengan paksa sekarang. Sepertinya Chanyeol sangat marah. "A-Aku kan cuma bercanda."

"Bercanda katamu? Ck, kamu ini memang,…."

"Ada apa sih?" Tiffany yang kepo mulai muncul.

"Masa Luhan mengerjai Baekhyun dan bilang kalau ada kecoa di dekat Baekhyun, bukankah Baekhyun sangat takut pada binatang itu?"

"Benarkah Luhan?" Tanya Taeyeon.

Luhan mengangguk pelan. "Tapi aku sangat menyesal, sungguh!"

Chanyeol masih ingin memarahi Luhan, namun ia melihat Taeyeon menggelengkan kepalanya tanda ia tidak boleh lagi melanjutkannya. Ia pun hanya bisa memelototi Luhan, tapi ia juga sedikit merasa lucu melihat Luhan yang ketakutan.

Luhan tidak tahu kenapa ia jadi penakut begini, mungkin karena ada Sehun dan karena ia sedang bersedih. Apalagi dari tadi Sehun memandanginya dengan tatapannya yang setajam silet.

"Maaf kalau aku memarahimu, Luhan. Aku ingin memberikan ini padamu."Chanyeol pun mengambil sesuatu dari kantong celananya. Jujur saja Luhan merasa heran Chanyeol yang tadinya marah – marah malah memberinya sesuatu, tapi tidak mungkin Chanyeol mengerjainya di depan Sehun kan?

Perkiraan Luhan ternyata meleset jauh. Dengan senyumannya yang tampak seperti orang bodoh, Chanyeol membuka bungkusan daun yang ada ditangannya. Seketika itu Luhan terperanjat, begitu juga dengan Sehun yang melihatnya karena ia sudah mendekat. Luhan merasa seluruh tubuhnya bergetar hebat, ia ingat betul makhluk seperti ini yang ingin memakannya sesaat setelah ia sampai di dunia ini, ulat bulu yang begitu montok.

Kepala Luhan jadi dipenuhi oleh ingatannya saat dulunya ulat bulu raksasa yang hampir menerkamnya setelah sebelumnya menghujaninya dengan air liur mereka yang menjijikkan dan kental. Rasanya ulat mungil ditangan Chanyeol semakin membesar dan mulutnya menganga di depan Luhan. Chanyeol yang kaget langsung melepaskan ulat itu karena besarnya sekarang sudah sama dengan tinggi badannya. Taeyeon dan Tiffany melangkah mundur karena mereka takut melihat makhluk yang mengerikan itu.

Luhan pasti terjatuh seketika karena tubuhnya lemas jika Sehun tidak menahan badannya dengan sigap. Ulat itu bergerak – gerak dan mulai mendekati Luhan. Seharusnya ulat itu hanyalah ulat bulu biasa, namun karena Luhan membayangkan yang aneh – aneh, tanpa sadar ia telah menggunakan kekuatan telekinesisnya hingga ulat itu membesar seperti apa yang ada dalam bayangannya.

"KYAAAAAAA!" Luhan berteriak kencang sesaat sebelum ia pingsan. Sedangkan ulat raksasa itu langsung mati dan terbelah dua karena Chanyeol menebas tubuhnya sesaat setelah keheranannya menghilang. Taeyeon dan Tiffany menutup mulut mereka dan memekik tertahan.

"A-apa itu tadi Chanyeol?" Tanya Taeyeon.

Chanyeol menggeleng dan wajahnya terlihat penuh kebingungan. "Sungguh, tadi itu hanya ulat biasa yang kutemukan didaun yang ada di dekat rumah Baekhyun. Aku hanya ingin mengerjai Luhan dan sama sekali tidak menyangka kalau ulat itu bisa membesar. A-aku minta maaf, Yang Mulia, karena sudah menimbulkan kerusuhan disini."

Sehun tidak menjawab, ia hanya memelototi Chanyeol dan menghentikan kegiatannya sejenak yang tadinya menepuk – nepuk pipi Luhan untuk membangunkannya. Mereka semua yang ada diruangan itu mau bersaksi jika itu pertama kalinya Sehun memarahi Chanyeol dengan sangat murka sampai urat dilehernya menegang dan terlihat seperti hampir membunuh Chanyeol.

.

.

.

.

Yang pertama kali dilihat Luhan saat ia membuka mata adalah langit – langit kamar berukiran indah yang disediakan untuknya. Ia mengerdipkan matanya berkali – kali mencoba untuk mengingat apa yang terjadi. Ia pingsan karena ketakutan saat itu teringat lagi saat ulat bulu itu membesar. Seketika itu Luhan tersadar, pasti ulat itu berubah karena pengaruh pikirannya. Ia pun mencaba menoleh kesebelah kanannya karena merasa ada yang melihatnya. Ternyata itu Sehun, orang yang belakangan ini mengacaukan pikirannya dengan segala tindakannya yang diluar dugaan. Sebuah senyuman yang tergolong sangat tipis atau bisa juga disebut pelit terpampang diwajahnya.

"Kau sudah sadar?"

Sudah lihat masih bertanya! Batin Luhan. Namun ia hanya mengangguk saja karena rasanya tubuhnya lemah sekali. Masa karena kelamaan memakai pakain yeoja ia jadi selemah yeoja juga? Ga banget deh!

"Tadi dokter yang memeriksamu mengatakan kalau kamu pingsan karena ketakutan dan juga lemas karena belum makan."

Diperiksa dokter? Seketika itu Luhan takut, kalau dokter memeriksanya, sudah pasti ia akan ketahuan seorang namja. "I-identitasku?"

"Dokternya adalah Tiffany jadi identitasmu aman."

Ti-Tiffany dokter? Yeoja beringas bin ganas yang senang mengganggunya itu adalah dokter? Kenapa ada begitu banyak hal yang tak terduga didunia ini?

"Aku memang masih belum tahu kenapa ulat itu bisa membesar. Tapi kamu tidak usah takut karena Chanyeol sudah membunuhnya. Aku tahu kamu takut karena terbayang yang waktu itu. Aku harap kamu tidak menceritakannya pada siapapun."

Lagi – lagi Luhan cuma mengangguk. Rasanya perkataan Sehun barusan terdengar seperti perintah yang harus dipatuhi.

"Tenang saja. Kalaupun kamu sakit, aku yakin kamu akan sembuh saat nanti akan menghadiri pesta ulang tahun Yang Mulia. Masih ada waktu yang cukup untuk istirahat."

Luhan membulatkan matanya. Bisa – bisanya Sehun membahas hal itu sekarang padahal tadi malam ia diminta untuk diam saja. "Apa.. aku memang harus pergi?" Luhan bertanya dengan suara yang sangat pelan.

"Ne!" jawab Sehun dengan pasti.

Luhan memalingkan wajahnya dan ia berkata kalau ia berterima kasih atas semua kebaikan Sehun padanya. Sehun mengangguk, namun saat ia ingin melangkah keluar, tiba – tiba saja ujung mantel yang ia pakai ditarik oleh Luhan. Luhan sendiri sebenarnya tidak tahu mengapa ia melakukan itu, kalau memang bisa, tanyakan saja pada tangannya kenapa ia bisa bergerak sendiri.

"Ada apa lagi, Luhan?" Sehun berusaha sekuat yang ia bisa untuk menahan keinginannya memeluk Luhan yang melihatnya dengan tatapan yang begitu manis.

Tangan Luhan langsung ia lepaskan begitu saja karena merasa hal yang ia lakukan itu memalukan sekali. "Ma'af Yang Mulia.."

Sehun pun kembali duduk dikursi yang terletak disamping tempat tidur Luhan. Mereka saling bertatapan dan bicara lewat pandangan mata untuk beberapa saat sebelum Taeyeon masuk membawa nampan ditangannya.

"Wah~ kamu sudah sadar Luhan? Tiffany bilang kamu pingsan karena kamu melewatkan makan siang ya? Apa kamu terlalu asyik bermain dirumah Baekhyun?"

Hanya sebuah senyuman yang Luhan berikan untuk menjawab semua pertanyaan Taeyeon. Namun perkataan eonnie-nya itu membuatnya yakin kalau Tiffany memang dokter.

Taeyeon meletakkan nampannya yang berisi sebuah gelas dan sebuah mangkuk. Luhan berharap agar mangkuk itu memang berisi makanan karena sekarang ia merasa lapar.

"Kamu lapar?" Tanya Taeyeon dan Luhan mengangguk mantap. Sehun berdiri dari tempat duduknya lalu berdiri didekat jendela dan memandang keluar, pose favoritnya menurut Luhan. Setelah Sehun berdiri, Taeyeonlah yang menggantikannya duduk di kursi berukir itu.

"Ayo makan Luhan. Ini eonnie yang masak loh~"

"Benarkah?" mata Luhan berbinar cerah.

"Ne." Taeyeon langsung mengambil mangkuk diatas nampan dan membawanya kedepan Luhan yang sudah duduk dengan bersusah payah. Luhan merasa kalau makanan didepannya terlihat menggiurkan, apalagi untuk orang lapar. Semangkuk bubur kentang yang diberi bumbu dengan taburan irisan daging diatasnya.

"Mau disuapi?" Luhan mengangguk dengan senang hati dan Taeyeon juga menyuapinya dengan senang hati tanpa mempedulikan Sehun yang melihatnya dengan tatapan aneh. Tidak butuh waktu lama untuk Luhan menghabiskan makanan itu. Ia pun mengelap mulut Luhan begitu selesai makan namun Luhan menahannya. "Aku saja."

Taeyeon membereskan peralatan makan Luhan dan pergi keluar, sesaat kemudian Tiffany masuk.

"Terima kasih, dokter. Anda sudah mengobatiku," suara Luhan terdengar ga enak.

Tiffany hanya terkikik. Luhan yang tadinya lemas terlihat bersemangat saat melihatnya. Sepertinya Luhan memang memiliki energy cadangan untuk berantem dengannya. "Tentu saja. Mungkin kamu baru rahu kalau aku ini dokter yang hebat. Tapi aku berterima kasih padamu Luhan. Karena kamu pingsan, aku jadi memeriksa persediaan obat – obatan di istana dan akupun sadar kalau banyak yang habis jadi aku memesannya lagi."

Luhan mengerucutkan bibirnya karena lagi – lagi ia kalah. Dengan gaya centilnya yang memuakkan, Tiffany mendekati Luhan dan berbisik ditelinganya. "Aku sudah memeriksa seluruh tubuhmu, Luhan. Ternyata semua yang ada didalam tubuhmu memang 'cute' abis."

"APAAA?!" Luhan berteriak sampai Sehun terpaksa ikutan menutup telinganya. Sebenarnya sudah dari tadi ia ingin keluar. Tapi Taeyeon menyarankan padanya untuk menyaksikan pertengkaran Tiffany vs Luhan yang mirip seperti kucing dan tikus.

"Kamu..melihat semuanya?" Tiffany mengangguk.

Luhan jadi merinding. Berarti ia sudah tidak perjaka lagi dong kalau Tiffany udah melihat miliknya yang sangat private, sedangkan Kiela ajah belum pernah lihat. Bagaimana ini?

Tiffany menepuk jidat Luhan dengan keras tanpa rasa kasihan. Ia tahu kalau kali ini Luhan tidak bisa membalasnya."Jangan membayangkan yang aneh – aneh, Luhan. Aku hanya tertarik pada pria berotot dan perkasa seperti Siwon, Jenderal yang menjadi tangan kanan Yang Mulia Kai. Kalau namja seperti kamu mah, gue ga selera, sorry ye.."

Luhan menghela nafas lega dan daripada bertengkar dengan Tiffany, Luhan memilih untuk memalingkan wajahnya.

"Aku tahu kok, Luhan. Kalau millikmu itu hanya boleh dilihat oleh Sehun." Tiffany berkata dengan suara yang amat sangat pelan hingga Sehun pasti tidak akan mendengarnya.

"Tentu saja!" ujar Luhan cepat. Namun saat itu ia langsung sadar kalau ia melakukan kesalahan fatal saat melihat wajah ceria Tiffany brengsek itu.

"Tidak usah malu Luhan, wajahmu yang memerah itu sudah merupakan isyarat alam looooh~"

"Jangan mengganggunya lagi, Tiffany. Kamu harus menyelesaikan tugasmu melengkapi semua persediaan obat – obatan," ujar Sehun yang sudah tidak tahan lagi melihat Tiffany yang begitu tega mengganggu Luhan yang masih terbaring lemah.

"Siap yang Mulia." Tiffany menghormat ala prajurit dan tidak lupa kerlingan gatal nya lalu melenggang pergi meninggalkan Luhan dan Sehun yang kembali canggung.

"Sepertinya kamu sudah sehat. Kamu istirahat saja," ujar Sehun sambil berlalu. Dan Luhan cuma mengangguk pelan sebelum ia kembali terbaring karena sangat mengantuk.

.

.

.

.

.

Te Be Ce

.

.

.

Sory for typo(s)

.

.

.

MAKASIH BANGET SEMUA READERS YANG UDAH MERIVIEW FF KIELA YANG GA SEBERAPA INI. *BIGHUG *CIUM ATU ATU.. :*

.

Cemana chapter ne? ga ada leluconnya ya? (u_u)

Tapi… pada suka sama HunHan moment nya ga?

Apa terkesan seperti dipaksa?

Reader : Kebanyakan pertanyaan!

.

.

Heheh.. ^_^ Kiela ini adalah PEMBENCI ulat bulu. Makanya Kiela buat Luhan juga takut sama binatang brrr…. Pas ngetiknya ajah Kiela merinding!

.

Oh iya, Kiela cepet apdet karena Kiela mau balek ke rumah setelah semua 'urusan' selesai. Jadi next chapter bakalan lama. Dan nantinya kalo pake modem buat upload, bakalan lama karena leletnya ngajak berantem. Selama ini kan Kiela aplod dari tempat kosan yang jaringan wifi nya cetarr banget.

.

Pertanyaan #KepoAKUT : Bias reader di EXO siapa?

.

.

Kalo Kiela biasnya pertamanya Luhan, sedangkan BIAS keduanya adalah semua member EXO yang lain. Jujur ajah, memilih diantara yang sebelas sisanya tuh rasanya lebih sulit daripada menjawab pertanyaan dosen saat ujian akhir kemaren.

.

.

Balasan review~~~~

SHBaekbias.. ne dilanjuuuuuut. Baca bannerHunHan. Makasih udah review n jawab pertanyaan kepoakut nya. Thx udah revieeew

rinie hun, beneran kok, Neh udah Kie kasi HunHan moment. Thx udah revieeew

HaFa NiAl,, mkasiiiiiiiiiiiiih dah bilang Daebakk sampe berkali – kali. ne dah dilanjuuut.

Miina708,, makasih atas repiu panjang kamu sampe pake poin segala. Senengnyaaa :D fb aku Kiela Yue. Add ajah. sayangnya chap ne gak banyak lagi leluconnya. Udah mau masuk (?) masalahnya neeh. Tapi berikutnya pasti ada lagi koook. Thx udah revieeew

Guest, terima kasih buat komentar kamu yang unik banget. tebakan kamu sepertinya tepat. Jangan – jangan sodaranya dukun ya? *digilas Thx udah revieeew

Shizuluhan.. Kiela seneng kalo kamu sampe terhibur, beneran loooh. Makasih banget atas pujian kamu, jujur aja ya.. Kiela terharu membacanya sampe bang Luhan yang kebetulan disamping Kiela bingung kenapa Kiela yang biasanya ceria di depan leptop malah menangis. Untuk bang KAI masih next chap. Tenang ajah. Cintanya sama Lulu ntar manis banget~~ Thx udah revieeew

park min ra,, kyaaaaaa makasih udah bilang keren. Ne dilanjut. Ikutan *demoangkatbenderaHUNHAN Thx udah revieeew

Jenn2797,, campur – campur macam pecel ya? Hehehe.. ni udah dilanjut saaay Thx udah revieeew

.

.

Buat yang punya akun, Kiela bales di PM yoooh..

.

BIG THANK'S TO

0312luLuEXOticS, ohristi95, Kazuma B'tomat, lisnana1, Rivecca Wu, Oh Hyunsung, dianhaniehunie, MyJonggie, Azura Lynn Gee, MeeChan Hikaru, Lkireii0521, KaiItemDekilCintaSooBabySeksey, Deer Panda, Yobaek Keunree, Oncean FOX, , Lian Park, chyshinji0204

.

.

.

Review again?

.

.

Tebar flying kiss