Seireitei Gakuen

Bleach © Tite Kubo

Seireitei Gakuen © Chibi Dan

Genre: Romance/Humor

Rating: M (for lemon and 'sweet' words)

Pairing: GrimmIchi and other pairings

Warning: OOC (sangat), maybe typo, bahasa campur aduk, dan masih banyak kekurangan lainnya…


Chapter 5: Aizen's Betrayal

.

.


After School…

Ciuman di pipi. "Kau tahu, Ichigo?"

Ciuman di leher. "Aku sangat menginginkanmu…"

Ciuman di bibir. "Sebentar lagi kau akan menjadi mlilikku."

Ichigo membelalakkan matanya, sadar akan situasi yang sedang dihadapinya. Ia segera meronta. "Lepaskan!"

Ivan tertawa kecil sembari menjilat telinga Ichigo. "Kenapa aku harus melepaskan barang berharga sepertimu, hm?"

"Fuck off, damn it!" Ichigo masih meronta di bawah cengkeraman Ivan. Badannya gemetar ketika Ivan menelusupkan tangannya ke dalam seragam sekolah Ichigo. Ia menutup matanya, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Matanya kembali membulat ketika merasakan beban di atas tubuhnya menghlang. Perlahan Ichigo membuka matanya, melihat sedikit warna biru yang familiar. "Grimm…jow?"

Ichigo menoleh ke arah Ivan yang kini tersungkur di lantai keramik. Ia perlahan bangkit seraya memegang pipinya yang sepertinya baru saja dipukul oleh Grimmjow. "Grimmjow…Damn…"

"Jangan pernah kau pegang Ichi! Sekali lagi kau melakukannya, kau…akan kubunuh!" geram Grimmjow sambil melingkarkan tangannya di pinggang Ichigo.

"…Benarkah? Kau tidak akan bisa membunuhku…Dan kau tahu? Sebentar lagi, sekolah ini akan hancur."

"E-Eh?" Ichigo menatap nanar ke arah lantai.

Grimmjow menggertakkan giginya. 'Sudah kuduga. Dia bekerja sama dengan Aizen, entahlah…Aku tidak tahu urusan macam apa yang mereka punya, tapi yang terpenting adalah…menjauhkan Ichi darinya! I have a bad feeling about this…'

"Stop blabbering, fucktard! Ayo, Ichi! Aku sudah lelah berurusan dengan pria ini!" Grimmjow menarik tangan Ichigo yang masih gemetar karena tatapan mengerikan Grimmjow.

.

Grimmjow berlari dengan Ichigo ke arah sebuah gedung yang tidak terpakai. Fuck, fuck, fuck! Bisa-bisanya ia lengah sampai-sampai si brengsek itu menyentuh Ichigo. Ia benci tatapannya. Ia benci cara bicaranya. Ia benci kesombongannya. Ia benci semua tentang Ivan! Fuck this, ia paling benci dengan orang yang selalu merebut miliknya. Tentu saja yang menjadi milik Grimmjow itu bukan hanya Ichigo, tapi juga benda-benda, rumah, jabatan, dan apapun yang dapat ia miliki. Benar, bukan?

Ichigo semakin kesulitan bernafas, namun melihat Grimmjow yang sepertinya masih baik-baik saja, ia memutuskan untuk berhenti dan memutuskan pegangannya pada tangan Grimmjow. "Hah…hahh…Grimm! A-aku…Hah…Lelah…"

Grimmjow menghentikan langkahnya seraya melirik Ichigo dari sudut matanya. Ia membalikkan badannya, berjalan mendekati Ichigo yang masih terengah-engah. Merasakan aroma mint milik Grimmjow menusuk hidungnya, Ichigo mendongak, mendapati sepasang mata safir menatapnya dengan pandangan memangsa. Ia perlahan melangkah ke belakang. Bahu Ichigo mengedik merasakan punggungnya bersentuhan dengan tembok, sementara Grimmjow masih berjalan mendekatinya. Kini, badannya terhimpit di antara tembok dan badan Grimmjow. Tanpa berbicara sepatah kata pun, Grimmjow melumat bibir Ichigo. Ichigo hanya bisa mempersilahkan Grimmjow dengan membuka mulutnya, menyambut Grimmjow dengan lidahnya. Ia menekan belakang kepala Grimmjow untuk memperdalam ciuman mereka. Ichigo mendesah saat Grimmjow menghisap lidahnya. 'A-Apa ini? Di-Dia menghisap lidahku…I-It feels so good!'

Merasa kehabisan nafas, Ichigo mendorong Grimmjow dengan paksa. "Co-Cotto matte, Grimm…Biarkan aku bernafas…"

"Yang mana, Ichi?"

"Huh?"

"Yang mana yang lebih baik, aku atau fucker itu?" desis Grimmjow di telinga Ichigo. Ichigo mengerang saat Grimmjow menghisap lehernya dengan kuat.

"Ahhn…"

"Yang mana? Jawab aku, Ichi!" Gimmjow melepaskan celana panjang beserta boxer yang dikenakan Ichigo, kemudian melingkarkan kedua kaki Ichigo di pinggangnya. Dengan cepat, Grimmjow melepaskan sabuk pada celana jeans-nya, lalu membuka resleting untuk membebaskan miliknya yang sudah mengeras.

Ichigo mengeratkan pelukannya pada leher Grimmjow ketika merasakan sesuatu memasuki rectum-nya. Dengan sekali gerakan, Grimmjow sudah sepenuhnya berada di dalam Ichigo. "Mmhn…A-Ahn…Mo-Move!"

Grimmjow menyeringai. Ia mulai menggerakkan miliknya di dalam Ichigo. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Ichi…"

"Ahh...haa…Kau…Griiiimmh…Kau yang…ngh…terbaik…Da-Damn it! Faster, Grimm~!"

"As you wish…Princess Berry…" goda Grimmjow yang sukses membuat wajah Ichigo memerah.

"Damn…Grimm…Ahh…Uh…A-aku buk…aaan…putriii…Sialan…Umng…" Tanpa disentuh sama sekali, Ichigo akhirnya mengeluarkan hasratnya. Grimmjow kembali menyeringai melihatnya. "Cepat sekali keluarnya…"

"U-Urusai…Haa…Uhn…" omel Ichigo disela desahannya. Merasa dinding rectum Ichigo mulai menyempit, Grimmjow lebih mempercepat temponya. Ia menggigit bahu Ichigo sesaat sebelum ia mengeluarkan cariannya di dalam Ichigo.

Grimmjow segera mengeluarkan miliknya dari Ichigo. Mendecih, ia menaikkan resleting celana dan memakaikan kembali sabuknya. "Cepat pakai celanamu, Ichi. Tenang saja, kau akan kugendong…Atau, kau ingin ronde kedua di sini?"

"Shut the hell up!" gerutu Ichigo sembari memakai pakaiannya.

"Kalau kali ini di gedung tua, lain kali di mana? Di tolet, bioskop, atau…" omongan Grimmjow tercekat melihat Ichigo yang memberikan deathglare padanya, namun pada akhirnya ia tertawa terbahak-bahak. "Pfft…Fu-Fuck…Mukamu…Snrrk…Ahaah…A-Aneh…Hmmp…Haha…"

"Apanya yang lucu, dumbass!" amuk Ichigo sambli mengerucutkan bibirnya.

"Snrk…Haha…"

.

Malam itu, Ichigo membaringkan tubuhnya di atas kasurnya. Ia merasa sangat bosan. Grimmjow sedang berpatroli seperti biasa. Ia diperbolehkan berpatroli 1 minggu kemudian. Ichigo mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Buku berserakan di mana-mana. Piring dan gelas diletakkan begitu saja. Selimut berada di dekat dapur. Ichigo mendengus. Merasa risih dengan sekelilingnya, Ichigo mulai bangun dan berjalan menuju buku-buku milik Grimmjow yang berserakan. Sembari mengomel tentang kejorokan Grimmjow, Ichigo memungut salah satu buku Grimmjow. Saat ia mengangkatnya, terdapat selembar kertas yang sepertinya masih baru, belum tersentuh sama sekali.

Dengan perasaan was-was, Ichigo perlahan memungut kertas bertuliskan tinta merah tersebut. Ia membaca tulisan merah itu.

Grimmjow, datanglah ke ruang guru. Aku punya hadiah yang sangat bagus. Jika kau tak datang, maka Ichigo akan menjadi milikku. -Ivan

What the…? Sejak kapan Ivan menyelipkan kertas ini ke dalam buku ini? Tangan Ichigo meremas kertas tersebut lalu membuangnya ke lantai begitu saja. 'Hadiah bagus? Aku tidak ingin hal-hal buruk terjadi pada Grimm…Sudah berkali-kali ia melindungiku. Sekarang giliranku untuk melindungimu, Grimmjow…!'

.

Ichigo berjalan perlahan menuju ruang guru. Hatinya berdebar-debar. Jujur saja, ia agak takut dengan hal-hal buruk yang kemungkinan besar akan terjadi padanya. Ichigo kembali menggelengkan kepalanya. 'Tidak boleh takut! Ivan pernah berkata kalau sebentar lagi sekolah ini akan hancur. Kalau begitu…nasib sekolah ini sekarang bergantung kepadaku? Benar…Jika aku secara diam-diam mendengar pembicaraan mereka, lalu aku melaporkannya pada Yama-jii semuanya akan beres…Aku tidak akan mengecewakan kalian!'

"Wah, wah…Ada tamu tak diundang…"

Dengan tubuh gemetar, perlahan Ichigo menoleh kebelakang. "A-Aizen-sensei, Ichimaru-sensei, Tousen-sensei…dan Ivan? What the hell are you doing here!"

"Reaksi yang manis seperti biasa, Ichigo…" jawab Ivan. Ichigo berjalan mundur melihat pedang yang dibawa Ivan bersinar terkena cahaya bulan.

"Kau perlu belajar banyak untuk menjadi stalker, Ichi…Keberadaanmu masih sangat jelas terasa…" tukas Gin dengan senyuman rubahnya.

"Sebenarnya…apa yang kalian inginkan! Kehancuran sekolah ini! To hell with that! Sekolah ini tidak mungkin hancur dengan mudahnya!" Ichigo terengah-engah, masih berusaha mengumpulkan nafasnya yang terbuang karena berteriak.

"Tepat sekali. Tujuan kami adalah untuk menghancurkan sekolah ini…Selangkah lagi dan kami akan menjadi penguasa…Lalu kami akan membuat peraturan yang jauh lebih baik dari peraturan yang ditetapkan oleh Yamamoto Genryuusai…" tutur Aizen. Ia membalikkan badannya, mambuat Ichigo kembali berteriak, "Kau mau lari dari hadapanku! Kau pengecut! Kalian semua pengecut! Buktikan kalau kalian lawan yang tangguh! Lawan aku, Aizen!"

Aizen kembali tersenyum. "Iie. Aku tidak perlu menghadapimu. Ivan, tolong urusi Kurosaki. Siksa Kurosaki sesukamu, jangan biarkan ia hidup. Ayo kita pergi, Gin…Tousen…"

"Understood…" jawab Ivan seraya membungkukkan badannya. Setelah Aizen dan para pengawalnya pergi, ia menghadap ke arah Ichigo dengan seringai lebarnya. "Saa, ayo kita bermain-main…Kurosaki…"

"…" Ichigo menatap nanar pedang yang dikeluarkan Ivan sebelum ia merasakan darah mengucur deras dari dadanya.

.

"…The fuck is this shit!" Grimmjow menggeram melihat kertas bertuliskan tinta merah yang barusa ia pungut dari lantai. "Ivan! Damn it! Ichi, tunggu aku di sana!"

.

"Uhuk…" Ichigo mengeluarkan darah dari mulutnya akibat tusukan pada perut yang barusan diterimanya. Ia menatap Ivan penuh amarah. "…I…van…"

"Tatapan yang bagus. Membuatku menjadi semakin ingin membunuhmu, Kurosaki…" Dengan tebasan terakhir di bagian dada Ichigo, Ivan tertawa terbahak-bahak melihat sosok yang berdarah-darah di hadapannya. "Take that, little berry! Nikmatilah masa-masa sekaratmu…hingga kau mati kehabisan darah. Sayonara, Kurosaki Ichigo…!"

Ivan membalikkan badannya, tersenyum lebar melihat hasil 'karya'nya. "Misi selesai, Aizen-sama…"

Ichigo menatap bayangan Ivan yang semakin menjauh dari hadapannya. "Ku…Ku-Kuso…" Ia mengulurkan tangannya yang penuh darah ke depan, lalu menuliskan pesan singkat –dengan darahnya sendiri pada lantai di hadapannya, tentang kondisinya sekarang dan pegkhianatan Aizen. Ia tersenyum lemah sebelum kesadarannya menghilang. "Sayonara, minna…Gomen…"

.

Grimmjow berlari menelusuri koridor sekolah. Hanya satu tempat yang ditujunya. Ruang guru. Damn it! Sudah tahu kalau ia punya bad feeling, kenapa ia tidak tinggal di kamar bersama Ichigo?

Dengan langkah tergesa-gesa, Grimmjow berjalan menaiki tangga menuju ruang guru. Ditepisnya segala pikiran negatif tentang Ichigo. "Shit…Aku harap dia baik-baik saja! Hang in there, Ichi!"

Nasib berkata lain. Mata Grimmjow membelalak melihat sosok yang disayanginya terbaring lemah penuh darah. Ia memukul tembok di depannya, berharap semoga ini hanya mimpi. Semoga tadi ia tertidur pada saat patroli, atau apa saja penyebabnya asal ini semua hanyalah mimpi!

Nihil. Rasa sakit yang dirasakan pada tangan Grimmjow, membuktikan bahwa ini semua kenyataan. Ichigo yang terluka parah adalah kenyataan. Ichigo. Terluka. Parah.

Dengan perasaan khawatir berkecamuk dalam hatinya, Grimmjow berjongkok mendekati sosok Ichigo yang penuh darah. Tangannya menelusuri leher Ichigo, berusaha mengecek denyut nadi Ichigo. Grimmjow merasakan harapan baru begitu merasakan denyut nadi Ichigo berdenyut lemah. Dengan cepat, ia meraih HP-nya dan memanggil seseorang.

"Halo?"

"Szayel! Get your fucking ass here! Jangan banyak bicara, Ichigo terluka parah. Akan kujelaskan nanti, yang terpenting cepatlah datang ke ruang guru! Cepat, aku sangat membutuhkan bantuanmu!"

Grimmjow mematikan ponselnya. Ia segera melepas bajunya dan melilitkannya pada bagian tubuh atas Ichigo, berharap hal tersebut dapat menghentikan pendarahan parahnya. Matanya terpaku melihat tulisan dari darah di dekat tangan Ichigo. "Na-Nani…kore? Apa Ichi yang menulisnya?"

Aizen, Gin, Tousen dan Ivan mengkhianati Seireitei Gakuen. Mereka berinisiatif untuk menghancurkan sekolah ini dan membuat peraturan yang baru. Aku telah disiksa oleh Ivan. Entahlah aku dapat selamat atau tidak, yang terpenting sekolah ini tidak hancur. -Ichigo

Grimmjow kembali mengambil HP-nya, memotret pesan tersebut sebagai supaya ia dapat menyelidikinya. Ia menoleh ke arah langkah kaki yang semakin dekat ke arahnya. "Grimmjow!"

"Szayel! Aku butuh bantuanmu!"

"A-Apa yang—"

"Hell if I know! Yang penting sekarang kau obati dia! Ichigo masih hidup!" Grimmjow menggendong tubuh Ichigo yang terkulai lemas.

"Baiklah, ikut aku ke rumah sakit! Kalau kau ingin dia selamat, larilah secepat mungkin!" komando Szayel setelah memeriksa denyut nadi Ichigo.

"Ia masih bisa selamat?" tanya Grimmjow dengan tatapan penuh harap.

"Jika ia cepat mendapatkan perawatan di rumah sakit! Sekarang siapa yang terlalu lama? Jangan bengong, Grimm!"

Di dalam hati, Grimmjow ingin menendang dirinya sendiri. Tanpa banyak bicara, ia berlari keluar sekolah.

.

"Bagaimana?"

Szayel menghela nafas. Ia kemudian menutup mulutnya. Bukan karena ia akan berduka cita, tapi karena…muka Grimmjow yang terlihat melas bagi Szayel.

"Szayel, apa dia selamat?" tanya Grimmjow lagi. Kali ini tatapannya benar-benar membuat Szayel terkikik. "Pfft…Mmmffrt…Snrk…Grimm…Grimmjow…Mukamu…So…Pathetic! Snnrk…Pfft…"

"Bukan waktunya tertawa, baka!" omel Grimmjow. Urat kekesalan terlihat dengan jelas di dahinya.

"Maaf, maaf…Soal Kurosaki…Well, dia mendapat tebasan dan tusukan yang cukup banyak dan dalam. Aku tidak yakin dapat menyelamatkannya, tapi aku akan berusaha. Don't worry." Ujar Szayel.

"…I see. Boleh aku mengujunginya?" Grimmjow memasukkan tangannya ke dalam saku jeans-nya.

Untuk kali ini, Szayel merasa simpati kepada Grimmjow. Dengan helaan nafas ia menjawab, "Silahkan…"

.

Grimmjow mengusap pelan dahi Ichigo yang masih tertidur. "Kau tahu, Ichi? Kau adalah…penyelamat kita." Bisiknya.

Perlahan Grimmjow mendekatkan bibirnya kearah bibir Ichigo. Ia tahu, hal ini terkesan bodoh untuk dilakukannya. Ini bukanlah cerita dongeng anak tentang sang putri yang terbebas kutukannya karena mendapat ciuman dari pangeran. Grimmjow mendengus pelan. Biar saja, lagipula ia mencium Ichigo bukan karena ia mempercayai dongeng tersebut. Ia tahu, ini adalah kenyataan.

Bibir Grimmjow akhirnya bertemu dengan bibir Ichigo. Dingin, pikir Grimmjow. Dengan cepat ia melepas ciumannya, lalu melemparkan pandangannya ke sudut ruangan. "Bibirmu dingin sekali sih…Meskipun masih berasa strawberry…"

"Ba…ka…" Suara Ichigo.

Untuk kali ini, Grimmjow beranjak dari kursinya untuk memeriksakan telinganya yang tidak beres. Namun langkahnya kembali terhenti mendengar rintihan pelan Ichigo. "Grimm…"

Grimmjow segera membalikkan badannya. Mata safirnya bertemu dengan mata cokelat Ichigo. "I-Ichi?" Ia kembali duduk pada kursi di dekat kasur yang ditiduri Ichigo.

"…Aku masih hidup? Ini bukan mimpi, kan? Ukh…" Ichigo meringis ketika merasakan rasa perih luar biasa pada dada dan perutnya.

"See? Kau kesakitan. Ini bukan mimpi, Ichi. Ini kenyataan…" kata Grimmjow dengan seringainya. Ia tidak menyangka, ternyata cerita dongeng yang selalu dianggapnya sampah dapat mengabulkan harapannya. "Aku akan memanggil Szayel. Jangan banyak bergerak…"

.

"Hmm…Paling tidak, seharusnya Kurosaki dapat bangun seminggu lagi. Dan barusan kau bilang, setelah Kurosaki kau cium…ia sadar. Benar-benar sebuah keajaiban…" gumam Szayel. "Meski begitu, lukamu sangat parah. Istirahatlah yang cukup. Tenang saja, aku akan menyuruh Grimmjow pulang. Jangan khawatir…" lanjutnya.

Ichigo mengangguk lemah, namun seulas senyum masih mengembang di bibirnya. "Grimm, kau juga istirahat yang cukup. Besok kau masuk sekolah, kan?"

"Aa. Serahkan saja Aizen kepada 'The Espada' dan para guru!" ujar Grimmjow yang terlihat mempunyai semangat baru.

"A-Aku kan anggota 'The Espada' juga! So mean!" gerutu Ichigo. Grimmjow mengacak-acak rambut Ichigo. Ia selalu gemas ketika melihat wajah Ichigo yang sebal dengan bibir mengerucut.

"Okay, sekarang biarkan dia istirahat. Pulanglah, Grimmjow…" kata Szayel, tak lupa menaikkan kacamatanya.

"Iya, iya. 'Night, Ichi…" Grimmjow tersenyum lebar sembari melambaikan tangan kepada Ichigo.

"Aa…" jawab Ichigo. Ia kemudian tertawa pelan melihat tingkah Grimmjow. 'Seperti anak kecil yang tidak jadi dibelikan es krim, tapi malah dibelikan Playstation,' pikir Ichigo.

TBC

Note: Chapter terpanjang yg pernah aku tulis…^^ Gmn minna? Humor-nya gk kerasa? Dan pikir, klo cerita dgn Genre Romance/Humor malah ber-angst ria, jadinya gimana gitu…Makanya aku selingi humor gk jelas. Nanti soal Aizen dkk. akan aku pikirkan cara utk menghukum mereka. Yg penting chapter depan seneng2! :)

Oh ya, soal pikiran Ichigo yg 'Seperti anak kecil yang tidak jadi dibelikan es krim, tapi malah dibelikan Playstation' pada mudeng artinya? Jadi gini, sebenarnya Grimm berharap Ichi bisa sadar meskipun berminggu-minggu kemudian, tapi Ichi malah bangun saat itu juga~! ^0^

Dan: Ada lemon gk jlas di tengah2…

Grimm: So…?

Ichi: …Kenapa…KENAPA AKU HARUS DIBACOK-BACOK! SAKIT TAU!

Dan: Lagian di Bleach kamu sering dibacok-bacok, kan?

Grimm: Yep…:D

Dan: Next chapter, khusus UlquiHime…Namun tidak menutup kemungkinan bahwa GrimmIchi nongol sedikit…^^

Ichi: Review? *puppy eyes*

Grimm: Nah, ini baru puppy eyes…Klo Nnoitra tuh muka 'gue-mau-pup'…

Nnoi: Jangan bawa2 nama gue!

Dan: Kyaaa~! *lagi jerit2 gk jelas*

Grimm: Nape lu?

Dan: Jadi begini rasanya…jatuh cinta…? *mendrama*

Ichi: Tinggalin dia ndiri yuk…

Grimm: Oke deh…Bye, Author gendeng!

Dan: Jatuh cinta itu susah juga ya…Mau ngapa-ngapain selalu inget 'dia'…Ah~! *gk denger omongan Grimm*

Ichi: Jangan lupa review!