WARNING!

BOYXBOY (if U don't like, better you don't read my own story)

Cerita alay/lenjeh/alur pasaran/bahasa masih acak-acakan.

Typos adalah seni.

HUNHAN

DON'T FORGET TO READ CHRYSSANS NOTE IN THE END OF THIS STORY CHINGUYA~

ENJOYY~

.

.

.

"Sehun, aku ingin kita segera bertunangan."

"Mwo?" Sehun yang tengah serius membaca buku kedokterannya menoleh cepat kearah Yeri, memastikan apa yang baru saja di dengarnya dari aktris cantik yang kini menatap matanya dengan serius.

"Aku mau kita bertunangan, secepatnya."

"Yeri-ah, kau... tidak sedang bercanda kan?" pihak sang pria membalas, melepas kacamata yang sedari tadi bertengger apik di atas hidung sempurnanya.

"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda Sehun-ah? aku benar-benar serius saat mengatakannya."

"Apa yang membuatmu berpikir untuk hal itu Yeri-ah?" Sehun bertanya, memastikan.

"Kalau di ingat-ingat, kita sudah cukup lama menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Lagipula kita sudah mempunya perkerjaan tetap masing-masing kan? Jadi tidak ada salahnya, yah, walaupun harus memulai dari pertunangan terlebih dahulu."

"Tapi-..."

"Hunna, aku hanya tidak ingin kau berpindah ke lain hati." Yeri memasang ekspresi bersedih, dan itu adalah akting! Tentu saja Sehun luluh akan hal itu.

"Oh, ya ampun. Yeri-ah, jangan memasang ekspresi seperti itu, kau tahu kan aku paling lemah terhadap wanita?" Sehun menarik tangan wanitanya, merengkuh tubuh ramping bak model itu kedalam pelukan hangat, sedikit mencium pucuk kepalanya.

"Aku tahu maksudmu baik, dan kau benar, melangsungkan sebuah pertunangan tidaklah salah. Tapi maksudku disini, kurasa komitmen yang terjalin diantara kita belum benar-benar baik." Sehun terssenyum samar, mengelus rambut sewarna buah peach milik Yeri.

Wanita itu mendongak, mata bulatnya berhadapan dengan dagu runcing milik Sehun.

"Wae? Jadi selama ini kau berpikir hubungan kita tidak menghasilkan apapun?"

"Bukan begitu, duh.." Sehun menghela nafas sejenak, "Maksudku, tidak kah lebih baik jika kita menjalin hubungan ini sedikit lebih lama? aku tidak ingin semua hal yang dimulai dengan buru-buru, biasanya yang seperti itu akan berakhir buruk nantinya." Sehun mencoba menjelaskan. Mata setajam elangnya balik menatap mata Yeri.

"Bilang saja kau nantinya tidak mau menikah denganku!" Wanita itu pura-pura mencoba merajuk seraya memukul pelan dada bidang Sehun.

"Ck, siapa yang bilang begitu huh? Kau itu adalah calon istri yang nantinya akan mendampingiku sampai aku pensiun dari pekerjaanku dan sampai aku menua, uhm, dan selamanya?" Diakhiri kekehan, Sehun menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.

"Jeongmal?"

"Geureom, you are my true love." Ucap Sehun, namun di satu titik hatinya, seperti ada ketidakrelaan menyambutnya, entah kenapa.

"Gomawo Hunni-yaa, saranghaeee~" yeri mendekap tubuh atlets Sehun dengan erat, mengecup bibir pacarnya sekilas.

"Nado," berganti Sehun yang kini mencium Yeri, melakukan ciuman yang dalam dengan waktu yang cukup lama. hingga sejenak terlintas wajah sedih salah satu pasiennya, Luhan.

Dengan keterkejutan, Sehun melepas pagutan mereka berdua.

"Waeyeo Hunnie?"

"Aniyo, hanya..."

"Hanya?"

"Ah, lupakan. Ngomong-ngomong, kupikir kau kesini hanya untuk mengantarkan makan malam? Ini sudah jam sembilan lewat, tidak baik seorang wanita berlarut-larut di dalam apartement seorang pria."

Yeri memutar bola matanya malas, "Neee, Uisa-nim yang pemaksaaa."

Sehun terkekeh pelan, kemudian bangkit untuk mengantar Yeri keluar dari apartement elitnya. Tak lupa ia tinggalkan kecupan sayang pada kening sang kekasih, kemudian melambaikan tangannya pelan. Setelah sang kekasih tak nampak dari jangankauan pandangannya, ia kembali kedalam dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Mengusap wajahnya pelan, memikirkan hal aneh yang baru saja terjadi.

Bagaimana bisa dia sempat memikirkan Luhan saat dirinya jelas-jelas sedang bercumbu dengan sang kekasih? Sehun rasa dirinya butuh detergen untuk mencuci otaknya.

"Sialan!"

.

.

.

"Lukamu sudah mengering dengan baik Luhan, jadi kupikir kau sudah tidak perlu mengenakan perban lagi. Setelah ini kau akan kembali menjalani latihan berjalanmu. Kau sudah cukup lama absen dari latihan."

Luhan hanya diam, menatap kearah Sehun yang duduk di hadapannya, tengah membuka perban yang melilit pergelangan tangannya.

"Uisa.."

"..."

"Sehun-ah.."

"..."

"Apa karena kejadian waktu itu?" Lagi, Luhan membuka suara setelah beberapa kali panggilannya diabaikan oleh sang dokter tampan di hadapannya. Pria itu masih berpura-pura serius mengecek pergelangan tangan Luhan.

Sehun kini mendongak, tatapannya seketika langsung bersibobrok dengan tatapan sendu dari mata indah milik Luhan.

"Apa yang kau bicarakan, Luhan?"

"Kau terlihat berbeda dari biasanya."

"Aku tidak."

"Kau iya. Kau terlihat dingin padaku." Bisik Luhan pelan, ia menarik tangannya dari tangan Sehun.

"Aku merasa aku bersikap sewajarnya, mungkin hanya peraaanmu saja." Balas Sehun dingin.

"Sehun, aku..."

"Kurasa sebaiknya kau istirahat, jam satu siang nanti kita akan melatih otot kakimu."

Dengan segera Sehun bangkit dan keluar dari kamar rawat milik Luhan. tak ada kata-kata manis yang biasanya akan Sehun ucapkan untuk Luhan. sang pria mungil hanya dapat memandang punggung kokoh dokternya dengan mata berkaca-kaca.

"Sehun-ah..."

.

.

.

.

Sehun tidak benar-benar bersikap dingin dan menjauhi Luhan, dia hanya tidak tahu harus bersikap bagaimana setelah semua kejadian yang baru-baru ini terjadi. Pelecehan terhadap Luhan, masalah Yeri yang menuntut pertunangan, pekerjaannya yang selalu menguras waktu dan masih banyak lagi membuat kepalanya terasa penuh. Untunglah dirinya bukan sosok termpramen, jika iya, bisa saja orang-orang di sekitarnya jadi korban amukan mendadak dari Oh Sehun. sebenarnya dirinya merasa 'sakit' saat melihat tatapan sedih Luhan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Setidaknya, Sehun harus menghindari Luhan untuk sementara, agar dirinya bisa berpikir jernih karena pada dasarnya, pusat segala kekacauan yang ada di pikirannya dimulai dari Luhan.

"Engh, aku... tidak kuat.." Bisikan Luhan menghempaskan raga Sehun kembali ke dunia nyatanya. Sehun masih setia menopang tubuh Luhan, menjalankan terapi penyembuhan yang di janjikannya tadi pagi.

"Baiklah, kita break sejenak." Dengan sigap Sehun mengangkat tubuh mungil Luhan dalam gendongan ala bridal, membuat sang empunya memekik dengan suara manis.

Sehun mendudukkan Luhan kembali ke kursi roda, ia berjongkok di hadapan Luhan, menatap wajah cantik di depannya yang kini tengah memerah bak buah cherry.

"Apa rasa sakitnya benar-benar parah?"

"Eh.. tidak, ta-tapi rasanya masih agak ngilu. Dan terkadang, kakiku terasa kebas saat aku mencoba berdiri." Ungkap Luhan, mata rusanya tidak berani berhadapan dengan sang dokter. Demi apapun, dia sangat canggung.

"Itu wajar. Kau cukup lama tidak melakukan latihan. Kuharap kedepannya kondisi tubuhmu baik, jadi kita bisa sering melakukan latihan untuk penyembuhan kakimu, Luhan." meski dengan nada dingin, Sehun tak lupa tersenyum tipis kearah Luhan.

"N..ne. "

Hening. Tak ada lagi yag ingin melanjutkan percakapan. Mungkin keduanya masih merasa canggung sejak insiden 'berciuman' ang terjadi beberapa waktu lalu. Sehun memilih berdiri, mengulurkan kedua tangannya di depan wajah Luhan.

"Mau melanjutkan?" Sehun menawari.

Sementara Luhan hanya mengangguk samar. Pias merah jambu yag belum hilang dari wajah putihnya benar-benar menambah kecantikan Xi Luhan berkali-kali lipat, yakinlah Oh Sehun tidak bisa menyangkal hal itu.

Kedua tangan Luhan menggenggam tangan milik Sehun, perlahan-lahan mencoba berdiri. Hingga kakinya bisa menapak dengan sempurna di lantai, ia bisa merasakan salah satu tangan Sehun melingkar di pinggang rampingnya. Sebenarnya Sehun sendiri yang menawari Luhan agar dirinya bisa 'terlibat langsung' dalam setiap latihan yang Luhan lakukan. Jadi pria manis itu tak perlu lagi mengunakan alat bantu jalan atau topangan, karena akan sangat jarang sekali seorang dokter mau melakukan skinship dengan pasiennya sendiri sebegitu dekatnya. Hitung-hitung berbaik hati pada Yifan, begitu kata Sehun saat ditanyai. Dan Luhan tentu saja tidak bisa menolak. Bagaimana kau akan menolak saat dia adalah orang yang kau kagumi? Jika kau melakukannya, maka itu sama saja dengan membuang salah satu kebahagiaanmu.

Kaki rampingnya melangkah pelan meski agak tertatih, sesekali Luhan meremas lengan jas dokter milik Sehun agar tubuhnya tidak merosot ke lantai.

"Ngilu sekali.." Luhan mengeluh, menghentikan langkahnya. Daerah bagian lutut sampai ke telapak kakinya terasa berdenyut sakit.

"Lakukan dengan perlahan Luhan. jika sesekali kau tidak memaksakannya, maka tidak akan ada kemajuan."

"Tapi sakit, Sehun..." mata Luhan sudah berkaca-kaca, tak ambil pusing jika Sehun nantinya akan mengecapnya cengeng.

Dengan gerakan teramat lembut, Sehun membalikkan tubuh Luhan, seratus persen merengkuh punggang Luhan agar pria manis dalam dekapannya bisa berdiri dengan baik. Ia mendekatkan wajahnya kearah wajah Luhan. hingga kedua hidung dan bibir keduanya hampir beradu, Sehun berbisik..

"Mau kuhilangkan rasa sakitnya untuk sesaat?" nafas Sehun memberat, hormon kelelakkiannya tak sanggup menahan pheromon milik lelaki lemah yang kini tengah di rengkuhnya. Kalau boleh jujur, Sehun tidak pernah mengalami rasa menggebu-gebu seperti ini saat bersama kekasih wanitanya.

"Ya, rasanya begitu menyiksa.. hiks.." kini air matanya benar-benar tumpah, menghancurkan benteng es kokoh yang coba Sehun bangun. Benteng yang hancur karena kelalaiannya sendiri.

"Tutup matamu, sayang.." Sehun selalu merasakan letupan-letupan menyenangkan dalam dadanya saat ia menyebut Luhan dengan panggilan manis.

Luhan menurut, menutup kedua kelopak cantiknya, meski dengan bibir bergetar menahan tangisan.

Dengan perlahan Sehun meraup belah cherry milik Luhan, memagutnya lembut, seolah itu adalah obat mujarab yang di janjikannya. Bibir itu selalu terasa manis, lembut bagaikan permen kapas di indra pencecapnya. Terlalu sayang untuk di abaikan. Lidahnya ikut bermain andil, mulai mengeksplor rongga mulut Luhan.

Sang pria manis pasrah diabawah kendali, hanya bisa melenguh nikmat karena itu benar adanya, seolah rasa sakitnya mendadak hilang saat Sehun mulai memanjakannya.

"Engg~" terbawa suasana, Sehun mengangkat kedua kaki Luhan dan melingkarkannya ke pinggangnya, ala Koala. Ia menabrakkan punggung sempit Luhan kearah tembok, membuatnya leluasa mengobrak abrik isi mulut si pria manis.

Luhan yang sama-sama terbuai, hanya bisa pasrah, meremas rambut belakang Sehun sebagai pelampiasan. Terlalu nikmat untuk dapat di deskripsikan. Sehun mengecup bibir bengkak itu sekilas, kemudian berpindah ke kedua kelopak mata Luhan, lalu turun menyusuri garis rahang dan berhenti di perpotongan leher. Bau Luhan benar-benar memabukkan, bahkan lebih harum dari aroma bedak bayi. Dengan semangat ia menggigit area tersebut, menciptakan desahan lembut yang mampu menaikkan gairah seorang Oh Sehun.

"Anghh, H-hun.. Sehun, kumo-ehh~... hon.." untuk berbicara pun rasanya begitu sulit. dirinya pasrah saat satu tangan Sehun membuka kancing piyama rumah sakitnya, saat pria itu mengulum nipple pinkis Luhan, desahanan pria manis itu menjadi tak terkendali. Sangat wajar karena Luhan tidak pernah merasakan hal-hal seperti ini. Pengecualian untuk insiden sang pria bermasker.

"Se...hun... angh~ cukup, ugh..."

"Tidak sekarang Lu, aku benar-benar menginginanmu.." Suara Sehun memberat, terhilat jelas kalau sang dokter muda itu tengah dikuasai oleh nafsu.

"Tidak.. anghh.. Sehun, Ye...ri... Noona.. itu.. aku.. angh...~" Luhan tdak benar-benar bisa menyelesaikan ucapannya karena Sehun gencar membombardir titik sensitifnya. Seenarnya pria tampan bak model itu mendengarkan, tapi ia pura-pura tak tahu. Untuk sekarang persetan dengn kekasihnya, karena dihadapannya ada Luhan yang tengah menampilkan ekspresi yang luar biasa sexy di mata Oh Sehun.

Tapi... kemudian ia tersadar dan berhenti, mencoba berfikir. Apakah yang ia lakukan pada Luhan hanya berdasar nafsu semata? Seketika Sehun merasa dirinya begitu bejat, melakukan tindakan tidak senonoh pada seorang pria polos yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya. Ya, sebuah hubungan..

Sehun berhenti, ia menatap penampilan Luhan yang begitu berantakan. Mata beraca-kaca dengan tatapan sayu dikuasai oleh nafsu dengan kepala yang mendongak, menampilkan leher jenjang putih mulusnya, piyama rumah sakit yang sudah terbuka, juga keringat tipis yang mulai menyelumiti tubuh Luhan. sehun serasa tertohok. Kenapa dia bisa melakukan hal diluar batas kontrol dirinya?

"Luhan.. oh Tuhan.. apa yang sudah kulakukan..." Bisik Sehun seraya menutup mata sejenak. Dengan sigap ia mengancingkan piyama Luhan, ia mengelus wajah Luhan dengan satu tangannya.

"Sayang, maaf, apa aku menyakitimu hm?"

Dan Luhan merasa tersentuh, perlakuan Sehun padanya begitu lembut. Ia memperlakukan Luhan seola-olah Luhan adalah barang paling langka di muka bumi. Luhan tidak marah, karena dirinya juga menikmati hal yang baru saja mereka lakukan. Namun melihat Sehun, ia mengerti apa yang dokter itu sedang pikirkan. Dan Luhan paham, jikalau pria itu tengah di landa dilema. Mencoba mengambil sikap, Luhan mendekap Sehun, mengalungkan kedua lengannya keleher jenjang pria itu. Ia mengandarkan kepalanya ke bahu Sehun, menghirup aroma maskulin yang sangat di sukainya.

"Tidak, Uisa~. Terimakasih, sudah menghilangkan rasa sakitku dengan caramu.."

"Ya Tuhan, Luhan..." Sehun tak lagi mampu berkata-kata

"Tapi, Uisa.. setelah ini...-"

Sehun mulai merasakan perasaan tak enak.

"Cobalah untuk menghentikan semuanya.."

Dan Sehun benar...

.

.

.

TBC

.

Cuap-cuap:

YOHOOO~ SENGAJA DIBIKIN PENDEK BIAR PEMBACA PADA PENASARAN EAA~ /PADAHAL MALES NGETIK NJEERR/ :V

Oya, FF ini tetep bakal lanjut ya, tapi abis liburan selesai okeh, ini saya ceritanya minta izin hiatus(bentaran doang). Soalnya tanggal 18 Des. Ini Chrys udah mulai libur sampai tanggal 2 Jan. 2k17. Wohooo~... soalnya di tempat emak Chrys gada sinyal internet, gabisa aplod /nangis bombay/. Jadi Chrys mohon kesediaan readers untuk menunggu dengan sabar kelanjutannya. Eaaa... insyaallah FF ini akan tetap saya lanjutkan, meski terkadang WB suka dateng ga kenal waktu *LOL okelahh, sekian curhatan gueh. Enjoy your holiday chinguyakkk~ saranghaee 3.

DON'T FORGET TO RnR IF U WANT THIS FANFICTION KEEP GOING^^ HUNHAN JJANG!

.

Chryssans289

16/12/2016