Couple Cracks 6
.
.
Pesta yang meriah, dan derita untuknya
.
.
.
.
"Apa benar disini, Naruto sensei?" tanya Hinata sedikit khawatir, mereka tak juga menemukan tempat pesta yang dikatakan rekan sesama guru mereka.
"Iya, 5 meter lagi. rumah makan gadang" Jawab Naruto yakin.
"Itu-" tunjuk Hinata pada papan nama restoran Gadang.
'Sialan mereka mengerjaiku' umpat Naruto. Tempat itu bahkan tak sejauh 100 meter dari pinggir jalan, dan mereka disuruh berjalan memutar 5x lipatnya. "Ayo masuk dan akan aku beri pelajaran si Kiba sensei itu" ucap Naruto dengan wajah seram.
Hinata sedikit menjauh dari Naruto, perasaannya tidak enak kalau Naruto menampakan wajah seperti itu.
"Sudah ketemu ya?" tanya Kiba, "Bagaimana perjalanan-"
BUAG! Kiba mendapat sebuah lemparan sandal dari Naruto yang kesal karena keusilannya. "Sangat menyenangkan sampai-sampai aku ingin berbagi rasa pegal kakiku ini"
"Naruto-sensei~" ucap Kiba memelas. "Istrimu ada disini loh"
"HAH? Akan aku habisi kau!!" dia fikir, dia gengsi membuat keributan karena ada istrinya? sorry deh, daripada amarahnya jadi penyakit mending disalurkan sekalian.
"Aku akan main-main sebentar." Ucap Kiba pada sensei lainnya, kemudian segera berlari disusul Naruto.
"Hinata sensei maaf, pestanya baru bisa kita rayakan sekarang." Ucap Shino yang lain masih sibuk menertawakan kelakuan dua guru yang seperti kucing dan anjing itu.
"Jangan Hiraukan mereka." Ucap Ebisu sembari bergumam. "Mereka bikin malu saja."
"Ayo, ayo duduk" ajak Anko menarik Hinata.
"Karena Hinata-sensei sudah ada disini, ayo kita segera mulai pestanya. Selamat untuk Hinata sensei" ucap Gai mulai bersuara.
"Selamat"
"Kalian tidak menunggu kami?!" ucap Kiba dengan nada kecewa, beberapa bagian wajahnya sedikit lebam namun itu tak menganggunya sama sekali.
"Kemari lah Kiba-sensei, ayo jangan malu-malu." Ajak Anko.
"Mana mungkin aku malu-malu" ucap Kiba,
Hinata tertawa kecil, tadi dia sedikit gugup karena jarang keluar malam. Tapi ini sangat menyenangkan berkumpul bersama orang dewasa lainnya sambil makan direstoran.
"Naruto-sensei-" Hinata memanggil Naruto yang kembali sembari menggerutu, dan duduk disampingnya.
"EHHHH?!"
Naruto dan Hinata sama-sama terdiam mendengar koor eeh yang datang pada mereka. "Eh?" Naruto mewakili Hinata yang masih diam.
"Apa-apaan itu, kalian harusnya pake kata sayang sayangan donk" ucap Anko.
Yang lain ikut mengangguk membenarkan. "Masa pake sensei dibelakangnya" Kiba ikut menimpali tak kapok berurusan dengan Naruto.
"Harusnya Naruto-kun, Hinata-chan, honey, sweatheart, anata, my love. Kalian pasangan pengantin baru, masa ga ada romantis-romantisnya sih" Anko blak-blakan mengomentari pasangan yang polos ini.
"Itu, etooo, haruskah? Aku terlalu tua untuk yang seperti itu" ucap Hinata gelagapan, duduknya sudah tak tenang, sesekali diliriknya malu Naruto yang terperangah.
"Coba katakan Hinata-sensei" ucap Anko mencolek Hinata agar tenang. "Anata~"
GLEk! Hinata yang disuruh namun kenapa Naruto yang jadi panas dingin dibuatnya, digigitnya pelan bibirnya agar tak mengikuti suara Anko sensei. Haduh ini tak baik, sungguh. Sekarang, dalam kepalanya bergema anata~ anata~ anata~ anata~ anata~ AHHH ini membuat Naruto gila.
Menghentikan Hinata juga tak bisa Naruto lakukan, tanggung sudah digoda begitu, walau baru sebentar, Naruto juga ingin dipanggil sayang-sayangan selain oleh neneknya yang sedang teler di kamar Hinata sekarang. Walau benci drama kalau sudah tak ada tontonan dia kadang melihat-lihat, melihat lihat loh! apalagi yang emaknya galak dan menantunya lemah.
"A-a-anata" cicit Hinata pelan, sampai suaranya bisa hilang tertiup angin, kh Hinata tidak bisa melakukannya. Yang jelas sekarang dia harus tenang.
"Apa?! Kurang keras Hinata-sensei! Katakan itu sambil melirik suamimu donk, berkedip manja juga ga papa. Toh suamimu juga kan?" komentar guru yang lainnya.
"Shizune sensei benar" timpal Kiba.
AH! Sudah lama Hinata ingin mengatakannya juga! Tapi tidak didepan banyak orang juga kan? Tapi-tapi kalau tak dimulai sekarang, sampai mati Hinata akan memanggil Naruto dengan embel-embel –sensei.
Hinata melirik Naruto sensei ragu, sejak tadi Naruto sensei tidak berkomentar apapun, apa dia senang? Atau tidak senang? Wajahnya, Hinata bahkan tidak sanggup meliriknya. Sudah Hinata putuskan, dia akan melakukannya!
Naruto merasakan lengan bajunya ditarik Hinata, wanita disampingnya ini nampak putus asa. Naruto ingin dengar namun kalau Hinata sampai putus asa, Naruto mana tega membiarkannya terus begini.
"Sudah, sudah! Kalian tahukan kalau kami menikah tak lama setelah saling kenal" BOHONG! Naruto BOHONG! Astaga itu meluncur dari bibirnya begitu saja, maunya sih bilang sudahlah, kami melakukannya tidak didepan umum, takut kalian yang jones ngiri!
"Ah Naruto, ayolah" paksa Kiba. Tanpa disangka dia sudah minum banyak.
"Hinata-sensei juga sedang membiasakan diri dengan lingkungan sekolah baru, iyakan?" ucap Naruto mencari sekutu, tepat disampingnya.
"Iya," jawab Hinata, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya, memegang Naruto-sensei sepertinya tindakan yang salah, tadinya dia mau minta kekuatan, tapi kenapa dia malah bicara seperti itu? Gagal sudah.
oOo
"Hei, Aku mau dibawa kemana?" tanya Hinata, Duh dia serasa melayang tak menapak diatas bumi. Tangannya berayun-ayun, dia sudah tewas ya? Tadi dia minum banyak sekali.
Ini gara-gara Shizune-sensei dan Anko sensei sih, Hinata tidak kuat minum, tunggu sebenarnya dia belum minum setetes alkoholpun sepanjang hidupnya.
"Ini enak, Hinata sensei. Ayo- ayo" paksa Shizune.
"Tidak, aku tidak kuat minum. Nanti malah merepotkan." Tolak Hinata.
"Diakan suamimu, tak apa-apa merepotkan sesekali" Anko ikut menyodorkan segelas besar minuman.
Hinata menjerit-jerit dalam hati, kalau sedang dibutuhkan seperti ini, Naruto-sensei malah tidak ada lagi. Duo sensei itu tipe pemaksa akut lagi.
"Hinata-sensei, kau haus?" tanya Naruto tiba-tiba datang.
"I-ya" jawab Hinata spontan.
"Aku memesan ini pada pelayannya, ini kesukaanku" ucap Naruto menyodorkan segelas air berwarna orange. "Campuran Jeruk-"
Tanpa menunggu penjelasan Naruto, Hinata menyambar gelas yang disodorkan Naruto.
"Dan alkohol" beo Naruto.
"Heh? Apa? Hinata sensei, kau menolak minuman yang kami berikan tadi" komentar Anko.
Etooo, apa Naruto salah bertindak ya? "Hinata-"
"Hahahahahahahaha" untuk pertama kalinya Hinata tertawa keras. "Maaf maaf, tadi hanya basa basi, kemarikan, ayo kemarikan minumannya. Tadi hanya bercanda ko hahaha"
"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto, kok Hinata sensei aneh, bicaranya jadi kasar dan informal.
"Daijobu. Daijobu" ucap Hinata masih terkekeh sembari mengambil gelas berikutnya. "PESTANYA BARU DIMULAI" teriak Hinata
Dan itulah akhir dari kesadarannya yang biasa. "Ehehehe" Hinata tertawa aneh. "Pestanya jadi meriah."
"Kau bangun?" tanya Naruto, wajahnya pucat, Nafas Hinata sungguh membuatnya tak nyaman. Dia juga minum, tapi Naruto mendapat gen Kakeknya yang kuat minum.
"Aku terbang, Naruto-sensei?"
"Kau sedang ku gendong." Ucap Naruto, sepertinya Hinata belum sadar sepenuhnya.
"Aku terbang!" tolak Hinata, kemudian meronta-ronta tak terima.
"Eh Eh iya kau terbang." Ucap Naruto berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang terseok-seok.
"Nyaman." Bisik Hinata. "Ayah sudah lama tidak menggendongku seperti ini"
'Dia ngelantur lagi' batin Naruto.
"Ayah, apa tidak apa-apa aku menikah dan meninggalkan kalian? Aku takut Hanabi akan terbangun ditengah malam dan mencariku, aku takut ayah lupa minum teh herbal racikan ibu.. hiks!"
"Kau tidak senang meninggalkan rumahmu, Hinata sensei" Ucap Naruto, apa Naruto harus sedih? Hah kok malah jadi bingung begini.
'Tapi aku senang ayah, Suamiku sejauh ini tidak menyeramkan dan tidak menuntut banyak hal padaku' batin Hinata.
"Oh, tuan. Sebaiknya kau mampir ke hotelku, agar cepat selesai" ucap seorang pria.
"Heh?" tanya Naruto.
"Ada K* dan obat K* semalaman sudah termasuk biaya check in" tambahnya sembari berkedip manja.
Hiy! Amit-amit nenek, Naruto masih normal, kalau tidak sedang menggendong Hinata, Naruto pasti sudah menonjoknya.
"Ditempatku saja tuan, suasananya paling oke!"
Buset dah! Naruto sampai clingukan, etooo Hotel Uh~ Hotel Ah~ Hotel Oh. WTF Naruto saking tidak fokusnya berjalan kepusat xxx Konoha. Sekarang dia jadi target empuk!
"Maaf aku salah jalan" ucap Naruto mulai mundur. Kemudian kabur dengan langkah seribu. Ah, Kalau sampai ada muridnya yang melihat dia keluar dari-
"Sensei"
"UGH," Naruto tidak sanggup melihat wajah muridnya ini, baru mau bilang selamat.
"Ehee... habis ehem ya?" tanyanya dengan seringai mesum.
"Siapa bilang?!" teriak Naruto melihat muridnya ini, Ah ternyata Suigetsu.
"Tunggu!" ucap Suigetsu. Tangannya meraba kantong, menemukan ponsel dan tanpa perlawananan Naruto dipotret tepat didepan pintu pusat xxx Konoha. "Bukti sudah didapat." Ucap Suigetsu senang.
"Sui!" teriak Naruto murka! "Dan kau ini sudah lewat jam malam untuk anak sekolah berkeliaran. Alamatmu : distrik lama dan nomor ayahmu : 08-"
"UAAH sensei! Tidak mempan, aku sudah SMA, No kekang, No jam malam" balas Suigetsu dengan seringai lagi.
"Oh, kalau kubilang dia bersama orang-orang tidak jelas dan sepertinya mereka tidak terlihat baik, apa mereka masih akan mengijinkanmu?"
Suigetsu tercekat, "Tidak jelas dari mananya? Mereka sama sepertiku kok?!" tolak Suigetsu, lihat anak-anak teladan dipinggir jalan itu, mereka baru saja menonton Konoha Girl, girl band yang sedang hits karena personelnya kawai-kawai. Boro-boro serem, yang ada tampang puas abis melototin paha and betis para idol yang lincah loncat-loncat pake heels di panggung. "Tidak berdasar!"
"Ohoho benarkah? Aku sensei kedisiplinan loh!"
"Ish!" decih Suigetsu.
"Kemarikan ponselmu" untung murid yang satu ini ga punya pikiran panjang, Naruto bisa bisa kena SP alias surat peringatan penyalahgunaan wewenang kalau Suigetsu sampai melapor.
Dengan ogah-ogahan Suigetsu menyerahkan ponselnya. Ah dasar, harusnya dia langsung kabur tadi. KUSO! "Beres, sana pulang!" usir Naruto, elah pinggangnya sakit lagi kelamaan berdiri menggendong Hinata.
oOo
Naruto menurunkan Hinata disalah satu bangku yang tersedia di tepi jalan, kalau tahu begini dia bawa mobil saja tadi, ini diluar dugaannya kalau Hinata bisa mabuk separah ini.
"Aduh," Keluh Naruto memegang pinggangnya yang panas dan pegal.
"Naruto-sensei. Kemarilah. Ayo duduk" ucap Hinata bangun.
"Sudah sadar? Aku belikan minum dulu deh" jawab Naruto, melihat Hinata masih sibuk menggelengkan kepalanya.
"Duduk" perintah Hinata.
Mau bagaimana lagi? Naruto nurut begitu saja, takutnya Hinata tipe seperti neneknya kalau mabuk dan jangan lupakan kejadian tempo hari saat dengan ganasnya dia menghajar Sasuke sensei. Naruto akan hati-hati.
"Nah aku sudah duduk sekarang apa- Ah astaga kenapa jadi begini" keluh Naruto, Hinata dengan tanpa ragu menjadikan pahanya bantal dan tidur disana.
Sekarang apa? Naruto malah jadi bingung, pinggangnya juga masih sakit. Biarkan saja dulu deh. Wait, ini kok kaya di drama drama tv sih, suasana dan romansanya tepat. Diliriknya langit malam hari ini memastikan kalau itu langit cerah,
CTARRRR! DUAR! DUAR! CTAAAR! (kilat)
"Author kampret"
CTARRR! Salah satu kilat menyambar suigetsu "Gyaaaaa! Kenapa aku?!!"
Lupakan langitnya, ramalan hari ini 100% ga bakal hujan, kemudian suasana romantis lainnya ; bunga sakura berguguran tertiup angin. Pohon Sakura dibelakang Naruto berderit aneh kemudian mengeluarkan aura suram. Layu~ Mati~ aku tak becus jadi latar~ aaaaa~
"Mau main – main denganku hah author?!"
Author yang akhirnya bicara : itu~ dilarang pacaran apalagi romantis-romantisan! Author ga terima! Pokoknya ga terima! (guling guling kemudian koprol) YADA~!
"Ah dasar" keluh Naruto.
Hinata mengigil karena angin malam berhembus menerpa kulitnya, mau tidak mau sebagai cowok gentle! Naruto tekankan, SEBAGAI COWOK GENTLE! Naruto harus membuka jaketnya dan memberikannya pada Hinata, namun reaksi orang mabuk memang susah diprediksi "Ga mau!" ucap Hinata membuang jaket Naruto sembarangan.
'Peka dikit napa, mau aku romantis-romantisin kaya difilm-film tahu, Hinata-Sensei!' batin Naruto kesal sembari mendengus. Bodo ah.
Walau dibilang bodo amat, Naruto tetap menatap Hinata yang tidur menyamping. Wajahnya ga kelihatan, omong-omong soal tadi pagi apa itu efek silau saja ya? Lah Naruto jadi penasaran ya?
Sedikit clingukan kekanan dan kekiri takutnya ada yang ikutan lihat wajah Hinata yang bersinar-sinar seperti lampu taman, apalagi ini sudah malam. Ragu tapi didorong rasa ingin tahu, Naruto menggerakkan tangannya menyingkirkan sedikit demi sedikit rambut yang menutupi wajah Hinata.
Duh jantung Naruto udah dagdigdug kaya lagi nunggu lotre tahun baru.
WIU WIU WIU! Sirine jones eh mobil polisi lewat dijalan, mengejar mobil yang melesat kencang melewati Naruto. "Dilarang romantis-romantisan, ralat dilarang mengebut dikawasan dalam kota, mobil dengan no sekian!"
Naruto lelah dengan semua ini, abang lelah neng! Karena Hinata-sensei dan karena authornya juga. Baiklah biarkan semua berjalan menurut author, Naruto tersenyum kemudian mengelus kepala Hinata, sudah lama tak ada yang tidur di pahanya seperti ini.
Keponakannya tercinta, Sakura sudah berhenti melakukannya saat umurnya 10 tahun. Padahal dia senang, dan suka dengan sikap manja Sakura yang membangkitkan jiwa pedo-EHEM! Jiwa kakak dalam dirinya. Yatim piatu dan tak bersaudara, mau gimana lagi mama Kushina membawa calon adiknya juga ke alam lain.
"Hinata-chan" ucap Naruto. "Eh Eheh?" bibirnya berucap apa tadi? Kok menggelitik gelitik kaya digigit semut merah. Panas dan gatal. Anko sensei itu- sial bikin ketagihan tapi mana bisa dia memanggil Hinata seperti itu!
Mumpung sedang mabuk, Naruto memberanikan diri memanggil Hinata lagi, sedikit berdecap, "Hinata-chan~ Hinata-chan~" astaga Naruto malah jadi ketagihan.
"Iyan~ (Tidak~) Hana-chan, jangan!" ucap Hinata bangun dan langsung terjaga dengan kepala nyut-nyutan, otaknya sedang konser dengan aliran band Rock. Mimpinya mengerikan. Hanabi berubah menjadi om-om mesum dan dengan santai dan wajah menjijikan memanggilnya Hinata-chan!
"Hinata-sensei?" tanya Naruto, bikin kaget saja.
"Ah~ kepalaku sakit" keluh Hinata, dia tidak akan minum lagi! tidak akan pernah!
'Tentu saja sakit' batin Naruto, minumnya saja banyak.
"U-U-" Gawat, Hinata ingin muntah. Tapi masa disini? Kemana dia harus memuntahkan isi perutnya? Kemana?
"U?" Naruto bingung. Dari gelagatnya sih.. pantatnya segera bergeser menjauh.
"Uh. Uhuk" bukannya muntah Hinata malah batuk.
"Bikin takut saja" keluh Naruto mendekat lagi, sembari memberikan sapu tangannya.
HOEK! Kali ini Hinata muntah, mengeluarkan isi lambung yang 90%nya adalah air. Hinata meringis, bukan karena dia jijik muntahannya, tapi dia menyebur muntahannya pada Naruto.
"A!" jeritan Naruto tercekat ditenggorokan. Mana bisa dia teriak seperti perempuan disaat seperti ini!
oOo
"Tadaima~" ucap Naruto sembari memencet bell pintu. "Nenek, buka pintunya!" teriak Naruto.
Tidak ada yang menyahut, mana kunci rumahnya ada di kantong Hinata, dengan tangan yang sibuk menggendong Hinata, bagaimana caranya mengambilnya?. Mana Hinata, belum sepenuhnya sadar.
"Hufth" Naruto menggeser Hinata agar lebih tinggi dan mana bisa! Hinata menyimpannya di kantong celana depan.
"Nenek! Nenek!" teriak Naruto sembari menendang pintu rumahnya, seingatnya tadi pagi agak rusak ditendang Tsunade.
Pintu itu karena ditendang dengan penuh kasih sayang, tidak terbuka sedikitpun, Naruto mana tega, mengeluarkan uang lebih untuk perbaikan pintu apartemennya.
Sekali lagi, Naruto memencet bell. "Nenek sayang? Aku didepan pintu nih. Buka donk" ucap Naruto sembari mencoba mengintip. Kalo dirumah nenek biasanya langsung manjat pohon dan masuk dari jendela lantai 2.
JDUK! "Aduh!" Hinata merasakan kepalanya berdenyut-denyut, konser diotaknya menjadi semakin ricuh dengan tambahan band Hard Rock.
"Maaf Hinata-sensei" ucap Naruto, memang harus diturunkan dulu. "Hinata-sensei, aku perlu kunci apartemennnya"
"Hm? Dimana?" tanya Hinata. Kenapa konser dikepalanya belum juga selesai.
"Disakumu"
"Tidak ada!"
"Ada, aku lihat kau memasukkannya tadi saat pergi"
"Tidak ada!"
Naruto ingin mengantamkan kepalanya ke dinding, bicara dengan orang mabuk itu memang sulit. Bagaimana ini? memang harus Naruto ambil sendiri.
Naruto menurunkan Hinata, dan menjaganya agar tetap berdiri bersender pada pintu. Hinata tak berdaya, pasrah mau diapakan juga.
'Sial kenapa harus dikantong depan' keluh Naruto sembari melihat paha-salah fokus. Kantongnya Naruto! kuncinya ada di Kantong! "Permisi" ini seperti Naruto mau melakukan-
"Mau apa kau?" tanya Hinata sembari menghentikan tangan Naruto.
"Kuncinya ada disaku celanamu, Hinata-sensei" jawab Naruto. Kan?
"Kubilangkan tidak ada, dasar pembohong" kekeuh Hinata menjauhkan tangan Naruto.
Naruto mana mungkin berbohong, jelas-jelas kuncinya ada di saku depan celana Hinata, bahkan bentuknya tercetak jelas di pahanya. Dengan sangat jelas.
"Kalau begitu, kau ambil sendiri. Aku ingin segera mandi" pinta Naruto, bau muntahan Hinata membuatnya ingin menangis.
"Tidak ada~"
"Kalau begitu aku yang akan ambilkan!" ucap Naruto nekad.
PLAK! Hinata memukul tangan Naruto. Tidak bisa dipercaya, laki-laki dihadapannya mencoba melecehkannya.
"Ittai" rengek Naruto, pukulan Hinata memang menyakitkan.
"Jangan sentuh aku. Siapa kau?" tanya Hinata sembari mencoba berdiri sendiri dengan menepis tangan Naruto yang menahannya berdiri tadi. Hinata memang berdiri sendiri, namun segera melayang jatuh.
"Aku suamimu, Hinata-sensei" ucap Naruto sembari menegakkan kembali tubuh Hinata.
"Jangan sentuh aku, kau pasti. Pasti mau melecehkan aku karena aku sedang mabuk, iyakan? Iyakan?" Hinata semakin meracau.
"Me-melecehkan?" Naruto sungguh syok. Dia melecehkan istrinya sendiri, apa ada orang sejahat itu?! Dia hanya ingin masuk dan mandi kemudian tidur. "Hinata-sensei, aku hanya ingin masuk, mandi, kemudian istirahat didalam. Aku Naruto-sensei, suamimu, yang tinggal denganmu loh"
"Hiks, jangan lecehkan aku. Aku, aku punya suami! Aku mohon." Pinta Hinata mulai menangis.
"Kenapa kau tak mendengarkan aku?!!" Naruto stress berat, sungguh. Benaran. Kenapa ini terjadi padanya, Kamisama?
GREP! Hinata dengan cepat menarik kerah baju Naruto dan mendekatkan wajahnya yang berubah kesal. "Tidak akan aku biarkan kau melecehkan aku."
"Aku tidak berniat melecehkanmu sedikitpun. Kenapa kau tidak mendengarkan aku!! aku bisa gila kalau begini, harusnya kita menginap di hotel saja tadi" lagipula, Hinata berdiri dengan benar saja tak bisa, bisa apa orang mabuk seperti dia. Naruto melepaskan cengkraman tangan Hinata yang tak sebanding dengan kekuatannya.
"Daripada kau lecehkan, aku akan loncat?!" ucap Hinata sudah ada ditembok pembatas.
Tersangka pembunuhan istrinya sendiri, Uzumaki Naruto. umur sekian. Profesi sebagai guru. Alasan bunuh diri : keributan karena mabuk. Lama hukuman : seumur hidup!
"Tidak! Bukan begitu!" teriak Naruto segera menarik Hinata,
"Tidak mau, lebih baik aku mati" ucap Hinata sembari memeluk tembok pembatas.
"Jangan! Hinata-sensei. Kau tidak akan mati kalau lompat dari sini."
"Masa? Kau bohong!"
"Iya! Kan dibawah ada kolam ikan."
"Kolam ikan?" jawab Hinata sembari mengintip kebawah."Ehehe iya... etooo lepas!" tambahnya sembari melepas pegangannya pada tembok pembatas
"Eh? Jang-"
Tuhan, jika saja Naruto tidak memberi Hinata minuman itu, jika saja dia mampir ke hotel. Kenapa dia merasa menyesal sekarang...
Naruto meringis, punggung dan kepalanya menghantam dinding dengan telak. "Sakit huhuhu" Naruto tak tahan lagi. Dia akan tidur dimobil saja deh.
"Maaf" cicit Hinata. Entah sejak kapan dia duduk sopan dihadapan Naruto. Dia sendiri bingung apa yang membuatnya menyesal dan minta maaf? "Pokoknya aku minta maaf."
"Kalau kau menyerahkan kuncinya segera, kita tidak akan terlibat hal beginian"
"Kunci apa?"
"Kunci apartemen kita, Hinata-sensei!?" ini mah Naruto yang lebih baik loncat kebawah!
"Kunci... apartemen? Ah" Hinata segera mendekati Naruto dan meraba pot bunga yang berada di sampingnya. "Ini Kuncinya?"
'APA?!?!!?! Sejak kapan itu ada disana? Lalu kunci apa yang dimasukkan ke dalam saku celana Hinata?' batin Naruto. "Lalu kunci yang disakumu?"
"Heh? Etoo apa ya?" Hinata malah bingung, kalau lagi konser kacau begini mana bisa dia berfikir, ah ketemu. "Kunci apartemen. Hehe bodoh ya?"
"Hiks" Naruto akan loncat sekarang!
Suara kunci terdengar dan dari dalam keluar Tsunade dengan wajah terganggu, "Kalian berisik sekali, huh mengganggu tetangga tahu" omel Tsunade melihat beberapa pintu apartemen terbuka dengan tatapan marah mengintip.
"Maaf! Aku minta maaf!" ucap Naruto segera meminta maaf dan membantu menutup beberapa pintu. Kenapa dia harus bernasib seperti ini?! sebaiknya cepat masuk, mandi dan tidur.
"Oyasumi nasai" ucap Hinata menyambut Naruto dikamarnya,
"Kenapa?!" tanya Naruto, bukan karena Hinata ada dikamarnya tapi kenapa Hinata menggelar kasur diatas lantai?
"Nenek bilang untuk tidur bersamamu malam ini" jawab Hinata.
"Bukan! Kenapa kau tidur dibawah."
"Ranjangnya sempit. Kita tidak bisa tidur berdua disana" tunjuk Hinata pada kasur single bed milik Naruto "Dan aku tidak bisa tidur dikasur orang lain." Cicit Hinata hampir tak terdengar.
"Kalau begitu biarkan aku yang tidur dilantai?"ucap Naruto menarik selimut yang menutupi Hinata.
"YADA!" Hinata berusaha mempertahankan selimutnya.
"Hinata-sensei, naik ke atas ranjang atau aku memaksamu tidur disana!"
"YADA! Aku bukan anak SMA lagi!"
"Oke terserah kau saja" ucap Naruto pasrah melepas tarikan selimutnya, membuat Hinata berguling-guling dalam selimutnya dan tergulung. Kalau memaksa lagi, bisa-bisa kejadiannya seperti tadi.
Beberapa menit mandi, Naruto menarik selimutnya dan tidur, "Aku lelah... Oyasumi nasai"
Cit cit cit (dikarenakan tidak ada ayam jago yang berkokok dan memang tidak ada ayam disekitar apartemen Naruto) sinar matahari menembus tirai jendela. "Aku baru saja tidur!" omel Naruto menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Pagi, cucu-cucuku!" ucap Tsunade membuka pintu kamar Naruto tanpa permisi. Ah dia tahu, cucu perjakanya mana mungkin berbuat mesum selagi dia ada disini.
"Hinata-chan, kenapa kau tidur dilantai?" tanya Tsunade heboh, apa-apaan ini?! diliriknya Naruto yang nyaman tidur diatas kasur.
"Naruto-sensei aku ingin..." gumam Hinata, Tsunade tahu, cucunya itu telah memaksa Hinata tidur dilantai! Tidak dapat dimaafkan!
"NA-RU-TO!!!!!!!!!" Murka Tsunade
GUBRAK! BRUK! Demi kenyamanan bersama adegan ini hanya ditampilkan dengan gambar apartemen Naruto. Bentuk penayangan kekerasan telah dilarang oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan adegan ini tidak lulus sensor.
"AH NENEK! BI-BISA AKU JELASKAN!" Teriak Naruto, dia setengah sadar mendengar percakapan neneknya, saat Hinata bergumam, Naruto tidak bisa berkutik untuk lari dari tempat tidurnya.
"KAU MENYURUH ISTRIMU TIDUR DILANTAI?! TIDAK USAH DIJELASKAN! HINATA SUDAH MENGATAKANNYA!"
BUK! BUK!
"AH JANGAN! NENEK!!!!"
Satu jurus pamungkas dihadiahkan oleh Tsunade pada Naruto. lompatan gajah ngamuk!
Konser dikepala Hinata belum juga berakhir. Berdentum dentum semakin keras. "Naruto-sensei aku ingin air~" cicit Hinata dengan suara serak hampir tak terdengar.
.
.
.
TBC...
