"Kau adalah orang baik yang mengajarkanku cinta dan mengorbankan segalanya untukku." (Gilme ft. Outsider – Love is War)
Usai mengalungkan hasil karyanya, Hephaestus menyusuri lekuk bahu Aphrodite, mengirim getar yang tak diduga oleh sang mantan dewi cinta. Punggung tangan Hephaestus membelai Aphrodite dengan sentuhan seringan bulu, mengingatkan yang disentuh akan masa-masa indah sekaligus penuh noda. Jemari mereka akhirnya bertaut dan dengan hati-hati, Hephaestus mendaratkan kecupan di tengkuk Aphrodite.
Tepat sebelum api itu tersulut, Aphrodite menarik diri sejauh mungkin, terengah-engah, anak matanya menghindari Hephaestus.
"Jangan."
Kalimat tersebut harusnya memiliki penjelasan, tetapi yang mengucapkannya tidak berkenan meneruskan. Gigil yang merambati Aphrodite dapat diterjemahkan macam-macam—bisa jijik, takut, benci, atau perasaan buruk tanpa nama lainnya—dan Hephaestus tidak ingin sembarangan menyimpulkan. Yang jelas, Aphrodite sedang tidak ingin disentuh, jadi dia hanya perlu menjauh.
Satu sangkaan yang sebelumnya disingkirkan Apollo muncul kembali dalam benak Hephaestus.
"Semua dewa punya kemampuan untuk merayu, tak terkecuali dirimu, Heph."
Tapi satu-satunya dewa tak sempurna di Olympus hanya Hephaestus, bukan mustahil jika dirinya tidak dilahirkan bersama anugerah itu. Andai ada pun, cukupkah untuk menaklukkan Aphrodite yang sekarang?
Hephaestus berdiri, tersenyum pahit, dan berbalik.
"Ternyata memang tidak bisa."
Kendati kata-kata Hephaestus tidak mencapai rungu Aphrodite sedikit pun, lara dari netra Hephaestus tertangkap oleh si jelita. Sepanjang malam, sembari memandang langit di mana singgasana lamanya bersembunyi, Aphrodite menyesali perbuatannya dan berharap bisa menemukan cara untuk mencinta lagi agar Hephaestus—juga seluruh pemuja cinta—tidak perlu lagi menderita.
Ketika bintang-bintang lenyap di balik tirai malam, Aphrodite merasa tak ada seorang pun mengawasi gubuknya. Ia tanggalkan kain-kain pembalut tubuhnya, mencari sisa-sisa pesona pada tubuh polosnya untuk membangkitkan cinta, tetapi sayang ia tidak menemukan apa-apa selain kenangan berdarah nan mengganggu. Peplosnya segera ia kenakan kembali sebelum pergi tidur, dalam hati bertekad menemukan jalan untuk mengambil hak atas takhta lamanya.
Aku tidak boleh mengecewakan Hephaestus terus-menerus ...
Belakangan, raga manusia Aphrodite kerap diserang gejala acak dari beragam penyakit. Kepalanya pusing, perutnya mudah mual, tak jarang pula berujung muntah, nafsu makannya berkurang, dan badannya kadang nyeri di beberapa titik secara bersamaan. Hephaestus makin sering datang menjenguk, terlepas dari fakta bahwa Aphrodite telah menjatuhkan harapannya, mencoba menyelidiki apa penyebab pokok dari seluruh keluhan istrinya.
Satu waktu, Aphrodite berhasil menemukan pusat dari segala proses tidak nyaman pada tubuhnya.
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku mengandung, Hephaestus."
Tercenung sang dewa api mendengar hal tersebut. Mengandung? Apakah ini seperti ... sebuah kehidupan baru yang tumbuh dalam rahim seorang wanita? Perihal sakral setiap perempuan yang diberkati ibunya? Tunggu, jika Aphrodite mengandung, lalu benih siapa yang—
—ah.
"Apa dia putra Ares?"
Aphrodite tidak langsung menjawab. Ia masih belum tahu darah pria mana yang mengaliri si janin, tetapi kemungkinan besar kesatria bengis yang Hephaestus sebutlah yang punya andil pada kehamilannya.
Walaupun tidak mendapat jawaban, Hephaestus membuat asumsinya sendiri dari diamnya si perempuan. Ia sangat terluka dan akan bodoh sekali jika Aphrodite bertanya mengapa. Dua-duanya terus mengatupkan bibir, menciptakan kesunyian mencekik yang baru pecah setelah Hephaestus, sembari mengusap perut bawah Aphrodite, menggumamkan sindirannya.
"Kau pasanganku, tetapi yang pertama kali tertanam dalam kandunganmu setelah pernikahan kita malah bukan milikku."
Memang ironis pernyataan Hephaestus ini, tetapi daripada mengucapkannya dengan kebencian, ia lebih memilih menuangkan kesedihan di sana, mendenyutkan perih yang kian menyiksa Aphrodite.
"Maaf."
Aphrodite tidak lantas merasa lebih baik karena permohonan ampun itu, sayangnya. Di lain sisi, Hephaestus menyamarkan perasaannya dalam seulas senyum dan mengungkapkan hal yang berlawanan dengan keinginannya. Seperti biasa. Ia dewa dengan banyak parut, setiap parut menyimpan kisah pahit sendiri-sendiri, dan ia tidak mau menjadi pihak yang mengukir parut serupa di hati orang lain.
"Tak mengapa. Ini akan menjadi tahap baru buatmu, Aphrodite. Cintailah dia dengan cara yang berbeda dari keturunan-keturunanmu sebelumnya; dengan begitu, mungkin Zeus berkenan menyerahkan takhta kepadamu lagi."
Benar, ini bukan kehamilan pertama Aphrodite. Sejarah cintanya yang panjang telah menghasilkan beberapa putra, di antara mereka terdapat dewa-dewi dan manusia setengah dewa. Tak satu pun dari mereka meninggalkan kenangan sebab Aphrodite lebih suka menyentuh kekasih baru ketimbang membelai anak-anaknya. Semua keturunan Aphrodite besar tanpa kasih dari ibunya, berbeda dengan keturunan-keturunan Hera.
(Kecuali Hephaestus, mungkin. Sekarang pun ia telah memperoleh pengakuan dari sang ratu Olympus.)
Ajaib bagaimana Aphrodite tidak dilengserkan biarpun dirinya telah menjauhkan bagian cinta terpenting ini dari jangkauannya.
"Hephaestus," Lirih Aphrodite memanggil, "apakah menurutmu, Yang Mulia Hera akan memberkati kehamilan ini?"
"Ia akan memberkatimu sebagaimana yang sudah-sudah, percayalah."
"Bahkan jika dia bukan putramu?"
"Maksudmu? Ibunda tidak pernah memandang siapa ayah dari si janin untuk memberkatinya."
Kembali Aphrodite termenung.
"Jangan terlalu banyak berpikir dan membuat dirimu letih. Istirahatlah. Aku akan datang setiap hari untukmu juga bayimu."
Sepotong terima kasih meluncur hampa dari bibir Aphrodite, telapaknya mulai mengelus-elus perut yang belum lagi membuncit. Hephaestus menghabiskan malam lagi di gubuknya hari itu, berbaring di sebelahnya, dan memberinya pijatan-pijatan ringan yang sangat nyaman untuk mengantarkannya terlelap.
Sisi ranjang cekung yang Hephaestus tinggalkan mulai dingin ketika Aphrodite terjaga. Demi merasakan sisa-sisa kehadiran suaminya, Aphrodite bergeser ke sana dan menghela napas dalam-dalam. Sang dewi memperoleh ketenangan yang ganjil begitu aroma tungku api dan logam cair yang berpadu dengan wangi tubuh Hephaestus terhirup olehnya. Kenikmatan ini tidak bertahan lama lantaran dorongan dari perut memaksanya muntah; dengan kepala condong keluar jendela gubuk, Aphrodite mengeluarkan seluruh isi lambungnya, menyebarkan asam-pahit di seluruh permukaan mulutnya.
Dulu rasanya aku tidak semenderita ini ... Jadi, beginikah rentannya seorang manusia ketika sedang mengandung?
Waktu berjalan amat lambat dalam kesunyian tempat tinggal Aphrodite, tetapi dalam aliran yang nyaris stagnan tersebut, Aphrodite justru sanggup meresapi makna entitas baru yang tumbuh di dalamnya. Pesan Hephaestus untuk merawat bayi itu dengan penuh kasih membekas dalam benak si wanita; dalam kelemahan serta kesepiannya, ia menyadari bahwa hanya sang anak yang setia mendampingi. Ia mulai belajar menyembuhkan laranya sendiri jika Hephaestus tiada, sehingga rintihan-rintihannya yang tak tertangkap rungu sang dewa api kini teredam sendiri ketika ia mengusap perut, berbicara dengan calon putranya tentang apa saja, terlebih ketika si bayi mulai besar dalam rahim. Aphrodite makin bersemangat sebab kandungannya yang berusia lewat enam bulan kadang menendang sebagai tanggapan atas kata-katanya.
Apakah pertumbuhan putranya ini adalah bukti bahwa cinta Aphrodite memulih seiring waktu?
"Lihat, bintangnya terang sekali malam ini, Sayangku. Apa kamu menyukainya sebesar Ibunda?"
"Ada kawanan kelelawar yang menggantungi pepohonan itu. Ingatkan Ibunda untuk tidak mendekat ke sana, Sayang."
"Nah, Sayangku, ini namanya buah persik. Kalau kamu suka, Ibunda akan meminta Ayahanda membawakan lagi yang banyak."
Ayahanda?
Jemari Aphrodite menggantung di awang-awang, sejenak urung mengambil potongan buah di piring perak yang telah Hephaestus siapkan tadi sore.
Memang siapa ayahmu, Sayangku?
Karena walau berasal dari benih Ares, si kecil yang dikandung Aphrodite sesungguhnya tengah berada dalam perawatan Hephaestus. Jika ditanya siapa yang menjaganya hingga kehamilannya setua ini, Aphrodite tidak akan ragu menyebut nama si pengrajin. Masalahnya, Hephaestus sendiri tidak pernah menyatakan dirinya sebagai ayah si bayi dan selalu mengatakan bahwa dirinya adalah 'Tuan Tungku pengawal ibumu' di depan perut gembung Aphrodite. Masuk akal; barangkali Hephaestus—di luar sifat penyayangnya—tidak pernah menerima bayi Aphrodite sebagai anaknya.
"Tidak jadi mengambil persikmu?"
Suara lembut Hephaestus terdengar bersama pintu gubuk yang dibuka; senyumnya tampak gembira. Aphrodite terpengaruh cahaya hangat itu dan ikut tersenyum pula, jemarinya bergerak menjepit potongan buah.
"Jadi, kok. Aku hanya terpikirkan sesuatu."
"Mengenai apa?"
Pipi Aphrodite bersemu merah; apa gara-gara bayangan Hephaestus yang bersedia menjadi ayah bagi anak-anaknya? Buru-buru ia melenyapkan khayalan gila itu dengan mengunyah persik, dalam batin menertawakan diri sendiri.
Mustahil Hephaestus menjadi—
"... Ayahanda akan memberikannya untukmu lagi besok."
Eh?
"Barusan kamu ... mengajak bicara dia?"
"Ya." Hephaestus mendadak salah tingkah. "Aku ... hanya meminjam istilahmu ... Sepertinya tidak cocok, ya. Apa 'Ayahanda' itu merujuk pada orang lain?"
"Sama sekali tidak," sahut Aphrodite. "Aku tadi tak sengaja menggunakannya untuk menyebut dirimu yang selalu membawakan buah-buahan."
Hephaestus sejenak merenung.
"Jadi, pikiran itukah yang tadi mencegahmu mengambil buah?"
Tertunduklah Aphrodite kemudian, malu menjawab. Apa yang ia ucapkan setelah itu pun tidak memuat sebuah ketegasan.
"Kukira, untuk selamanya, kau tidak mungkin berkenan menjadi ayah dari anak-anakku."
"Sebaliknya. Aku justru merasa tak berpeluang mendekatimu, tetapi mengetahuimu dengan mudahnya memanggilku begitu ... aku jadi merasa punya kesempatan langka untuk benar-benar masuk dalam hidupmu."
Tapi, itu bukan kesempatan langka. Dari upacara pernikahan, sebenarnya Hephaestus telah meninggalkan banyak jejak bermakna dalam kisah Aphrodite; sang dewi saja yang kurang peka untuk menyadari—atau ia semata dibutakan oleh keberadaan Ares. Apalagi setelah semua kejadian ini, di mana tidak ada lagi yang menyinggahi ruang nurani Aphrodite selain bayinya dan Hephaestus, presensi Hephaestus menjadi kian kuat. Bagaimana bisa Hephaestus masih merendah, padahal ia jelas-jelas Aphrodite tempatkan di pusat pusaran hidupnya? Justru Aphroditelah yang tak layak mendapatkan kemurahan hati Hephaestus, mengingat dialah lakon utama drama panjang perselingkuhan dengan Ares.
"Aphrodite."
Telapak mengapal Hephaestus menggenggam milik Aphrodite yang lebih mungil, membuat si empunya mendongak.
"Kau ... tidak lagi jijik dengan raga ini?"
Ya. Anehnya, ya. Aphrodite tidak pernah benar-benar bergidik menyaksikan Hephaestus, tetapi kecacatannya betul-betul mengganggu pemandangan dan Aphrodite tak kuat memandanginya lama-lama—dulu. Sekarang, malah pada manik kejinggaan Hephaestus itulah, Aphrodite dapati suaka untuk rehat, dari rengkuhan tangan itu Aphrodite temukan pula kenyamanan. Sejak kapan cara pandangnya pada Hephaestus berubah sangat jauh begini?
Gawat. Hephaestus telah menjelma menjadi sosok yang Aphrodite inginkan, impikan, butuhkan, dan Aphrodite tidak yakin dirinya masih berhak atas penguasa Olympus yang satu ini.
"Bukankah mestinya aku yang menanyakan itu padamu?" Lirih, Aphrodite akhirnya membalikkan pertanyaan. "Kau selalu melihatku sebagai wanita yang kotor. Aku ... adalah perempuan yang 'terperciki mani Ares', seperti yang kau bilang dulu, dan harusnya itu bisa kaujadikan alasan untuk meninggalkanku."
Raut Hephaestus berubah penuh sesal, teringat ucapannya di Olympus sebelum gelar Aphrodite dilucuti.
"Tolong maafkan aku."
"Mengapa kau meminta maaf pada orang yang menyakitimu?"
Pada titik ini, air mata Aphrodite mulai menggenang.
"Aphrodite ..."
"Mengapa kau masih kembali padaku? Mengapa terus menyakiti dirimu sendiri? Kau tidak layak mendapatkan kepedihan terus-menerus, seperti aku tidak pantas ... mendapatkanmu."
Senyum getir Aphrodite terkembang. Ia tidak lagi tertunduk karena sebagai antagonis dalam kisah pengkhianatan ini, ia ingin menghadapi konsekuensi dosanya dengan berani alih-alih bersembunyi di balik tangis pun kepala yang tertelungkup. Ingin ia menyuruh Hephaestus pergi, tetapi di satu sudut hatinya, ia masih berdoa agar Hephaestus mengharapkannya.
Tanpa diduga, punggung tangan Aphrodite dikecup oleh Hephaestus—dan getar yang tak lazim itu muncul lagi dalam hati sang dewi, tentunya bukan karena benci atau jijik.
"Apa kau bersedia untuk menyisihkan masa silam yang pahit itu dan memulai dari awal lagi—bersamaku?"
Tawaran itu menggiurkan, tetapi kecerobohannya yang lampau membuat Aphrodite jadi kelewat banyak menimbang. Ia menarik telapaknya dari genggaman Hephaestus dan membiarkan setetes air mata lolos.
"Aku tidak tahu kapan aku siap untuk itu."
"Kau akan siap setelah kau berhenti menyalahkan diri atas dosa yang tak kauperbuat," jawab Hephaestus tegas, "dan perlu kau ingat, kau akan mengawali langkah tidak hanya bersamaku, melainkan seluruh Olympus."
Aphrodite mengerjap bingung.
"Seluruh Olympus?"
Hephaestus mengangguk segera, mengungkap sebuah berita besar yang tertunda disampaikan. Saking membahagiakannya kabar itu, Aphrodite sampai berlutut dan terisak haru, tidak menyangka keajaiban akan datang padanya lagi setelah sekian lama.
"Atas usul Ibunda, Yang Mulia Zeus bersedia memulihkan gelarmu sebagai Yang Menguasai Cinta, Aphrodite."
Pagi itu berbadai, beruntung rumah kecil yang Hephaestus bangun amat kokoh. Para nymph dan Pleiades melawan angin, sesuai perintah Hera—dewinya kaum wanita—dan Artemis—sang pelindung persalinan—mendatangi gubuk di mana sesosok perempuan terbaring lemah dalam dera nyeri.
"Uh ... A-apa ... ngh ... masih belum saatnya ... ah ... Hah ... Aku tidak kuat ... "
"Belum saatnya Anda mengejan, Yang Mulia Aphrodite. Tariklah napas dalam sekali lagi. Jangan khawatir, Anda bisa melakukannya."
Rahim Aphrodite serasa terkoyak oleh rematan-rematan ritmis dari ototnya sendiri. Dewi-dewi minor yang ditugaskan membantunya melarangnya mengejan terlalu dini karena bayinya bisa terluka dan dirinya pun akan cepat lelah, tetapi dorongan itu sungguh sulit dilawan. Bersalin sebagai seorang manusia menjadikan prosesnya berkali lipat lebih menyakitkan, tak heran Hades memenuhi keinginan Hera untuk menganugerahkan Elysium pada perempuan-perempuan yang meninggal saat melahirkan. Napas Aphrodite kian cepat, tubuhnya yang hanya berlapis selimut basah oleh peluh. Perut buncit Aphrodite naik-turun menyesuaikan napasnya, dari luar tampak menegang sesekali.
Di saat yang rentan ini, cuma ada satu nama yang menguasai pikiran Aphrodite.
Hephaestus ...
"Baik. Setelah ini, Anda harus mengejan sesuai aba-aba kami, Yang Mulia." Maia, pemimpin para Pleiades, memberi perintah. Aphrodite mengiyakan dan tak lama kemudian, ia mendorong untuk pertama kalinya. Sesuatu yang seakan terlalu besar untuk jalan lahirnya menyesak di antara kedua kaki. Ketika napas panjangnya habis, Aphrodite menitikkan air mata, merasakan betul perih pada robekan di bawah sana—tak pernah ia merasakan itu semasa menjadi dewi.
Sekilas, Aphrodite mendengar soal 'bayi besar' dari para nymph di belakang Maia. Apakah mungkin itu akan mempersulit kelahiran si bayi nanti?
Tapi aku tidak boleh menyerah ...
Membuka kakinya sedikit lagi, Aphrodite memeluk kedua lutut dan melanjutkan upayanya dengan aba-aba Maia. Kening sang penguasa cinta berkerut, titik-titik peluh menyatu bagai sungai-sungai kecil di setiap lekuk tubuhnya, sedangkan pangkal pahanya ternoda lendir bercampur darah. Tubuhnya bersemu di beberapa bagian, pertanda aliran darah yang demikian deras, dan jantungnya berdegup kencang sekali.
"Hah ... Aah ..."
"Napas Anda tidak boleh putus lagi untuk berikutnya, Yang Mulia."
Rasanya Aphrodite hampir putus asa. Pinggangnya ngilu, seluruh raganya seperti terbakar, dan ia kehabisan napas, tetapi bayinya tak juga lahir. Warna merah yang luas menenggelamkan alas tidurnya, bagian bawah selimut Aphrodite pun berubah terendam darah.
Anyir.
Aphrodite ingat lagi tentang penciptaannya. Tentang darah Uranus. Tentang Ares dan bau medan perangnya yang pekat.
Tidak boleh. Menangis akan menyusahkannya mengejan.
Hephaestus, aku bisa melakukan ini, kan ...
Sekali lagi, Aphrodite mendorong. Robekan jalan lahirnya semakin besar, tetapi ia tidak boleh menjeda napasnya sekadar untuk memekik nyeri. Tarik napas. Dorong. Tarik napas. Dorong lagi. Kontras dengan tubuh telanjangnya yang dibanjiri keringat, bibir Aphrodite berangsur kering, namun semangatnya tak padam.
Ini adalah hukuman ...
"Hnn!"
... karena sudah mengecewakan Hephaestus ...
"Nggh ..."
... juga meninggalkan pengikutku ...
"Nggh ..."
... dan membiarkan kekuatan Ares merajai dunia manusia.
"Hnn—AH!"
Dorongan sepenuh tenaga yang terakhir berhasil mengantarkan bayi Aphrodite ke dunia. Tangis kuat si bayi merekahkan senyum Aphrodite—bayinya terdengar sangat sehat. Tubuh Aphrodite lantas terkulai letih ke alas tidurnya, sesekali mendesis karena rahimnya masih terasa diremat-remat. Berbeda dengan saat menjadi dewi dulu, alih-alih ambrosia, ia kini terselubungi bau asam keringat, amis darah, dan pengar ketuban. Rambut panjangnya yang tergerai melingkar-lingkar tak beraturan, sedangkan selimutnya tersingkap, menampakkan kulit mengkilap dan lajur-lajur merah 'di bawah sana'.
Ada untungnya juga Hephaestus tidak datang hari ini. Ia harus membersihkan diri habis-habisan sebelum sang penguasa api tiba.
Tunggu. Sesuatu terasa ganjil.
"Ada apa? Mengapa kalian muram?" Aphrodite mengerjap cemas. "Apakah bayiku tidak baik-baik saja?"
"Maafkan kami, Yang Mulia," jawab Maia takut-takut, menimang bayi yang baru saja ia bersihkan, "bukan putra Anda tidak baik-baik, tetapi ..."
Maia bertukar tatap dengan adik-adiknya dan para nymph, ragu untuk mengungkap sesuatu tentang si bayi.
"Anakku ... Izinkan aku memeluk dia ..." Lemah telapak Aphrodite meraih-raih, senyumnya terkembang begitu tulus dan indah hingga para pembantu persalinannya tak tega. Pelan-pelan, Maia menurunkan bayi yang tubuh bawahnya terbungkus kain tersebut ke dada Aphrodite, membiarkan sang anak mengisap puting ibunya.
Anak yang manis, pipinya penuh sekali, Aphrodite mendekap putranya penuh kasih, gemas akan betapa tampannya keturunannya. Anak itu matanya bulat lucu, meskipun irisnya sewarna milik Ares. Hidungnya mancung, menggelitik dada Aphrodite ketika menyusu, dan bibirnya mungil merah mirip Aphrodite.
Namun, tak sengaja, Aphrodite menggeser selimut kecil yang menutup bagian bawah badan anaknya—dan tersentaklah ia. Inikah yang para nymph dan Pleiades coba sembunyikan sebelumnya?
"Ekor ular? Ma-mana kakinya?"
Mengapa Hephaestus tidak datang ketika Aphrodite bersalin, itu karena dirinya secara tiba-tiba diminta menghadap Hera. Sang dewa api berdebar lantaran Hermes bilang Hera hendak membicarakan Aphrodite. Apakah Hera akan mencabut kata-katanya soal pemulihan gelar penguasa cinta?
Ternyata tidak.
"Putra Aphrodite itu, menurut ramalan para Nereid, akan terlahir sebagai manusia yang cacat, sekalipun ia tumbuh dari benih satu dewa."
Hera tidak membuka percakapan dengan menyenangkan.
"Anak itu ditanam bersama ancaman Ares dalam kandungan Aphrodite. Setelah mengandung, Aphrodite bermasalah denganmu dan seluruh ritusnya; perasaannya sangat kacau. Suasana hatinya baru baik beberapa bulan sebelum melahirkan, bukan? Segala rupa emosi buruk ia pendam selama hamil, sehingga anaknya nanti akan bernasib hampir sama denganmu, Hephaestus." Hera menarik napas. "Akibat kedengkianku, kau terlahir dengan banyak kekurangan jasmani. Aku khawatir Aphrodite akan kecewa dan menyakiti putranya itu, jadi—"
"Ibunda, mengapa memberitahuku, padahal Ares-lah ayah bayi itu?" tukas Hephaestus, namun ia teringat bagaimana Aphrodite memanggilnya 'Ayahanda' waktu berbincang dengan si bayi dan menjadi bimbang lagi. Hera mengulas senyum dan menangkup telapak Hephaestus.
"Seorang ayah tidak harus pria yang menanam benihnya dalam diri wanita, melainkan juga pria yang merawat anak itu sejak sebelum melihat dunia. Kau memenuhi kriteria yang kedua. Aphrodite pun jauh lebih nyaman bersamamu, maka dampingilah dia selagi ada kesempatan. Aku akan mengurus soal pemulihan gelarnya dan saat segalanya siap, aku akan mengabarimu."
Hati Hephaestus mencelus. Hubungannya dengan putra Ares itu menjadi rancu. Padahal si bayi bukan darah dagingnya, namun Hephaestus merasa justru dialah ayah bayi itu, sehingga saat dikabarkan bayi itu akan terlahir cacat, ia jadi berduka pula. Belum lagi, dia harus memikirkan cara menyampaikan hal ini pada Aphrodite yang pasti akan sangat terpukul. Aphrodite kan hanya menyukai yang indah; dia bisa saja memperlakukan bayi itu seperti orang asing setelah melihatnya cacat.
"Nah, Sayangku, ini namanya buah persik. Kalau kamu suka, Ibunda akan meminta Ayahanda membawakan lagi yang banyak."
Hephaestus mengusap wajahnya bingung.
Tapi Aphrodite sangat menyayangi anak itu dan menganggapnya obat selama ini. Pandangan itu ... akankah berubah setelah ia mengetahui betapa buruk keadaan anaknya?
Ataukah ia akan menerima anak itu sebagaimana dia akhirnya menerimaku?
Masalahnya, berasumsi tidak akan menuntaskan kecemasan. Satu-satunya jalan adalah menghadapi kenyataan. Hephaestus bangkit dengan tekad yang utuh untuk berada di sisi Aphrodite, setidaknya untuk mendengarkan keluh kesahnya nanti. Andaikata Aphrodite menolak kehadiran putranya, maka ia akan menjadi naungan sementara bagi si bayi hingga Aphrodite dapat berkompromi dengan realita.
"Putraku Hephaestus," panggil Hera sebelum Hephaestus meninggalkan istana, "ada satu hal lagi yang kutitipkan untuk Aphrodite."
"Apa itu, Ibunda?"
"Anak itu bukan dewa karena Aphrodite mengandungnya saat menjadi manusia. Ia hanya akan menjadi manusia setengah dewa—yang berarti, dia tak bisa ikut naik ke Olympus jika ibunya pulang."
Kendati dada Hephaestus sesak oleh beban tak kasatmata, ia hanya mengangguk pelan dan mohon izin menemui Aphrodite, lantas melangkah gontai, kaki palsunya berkeriut menggesek ubin. Pikirannya yang biasa tertata kini berantakan—dan semakin berantakan begitu menemukan istrinya tengah menyusui dengan raut lelah dalam gubuk tengah hutan.
"Hephaestus, kamu melewatkan saat-saat paling berharga."
Di balik peplos Aphrodite yang longgar dan tipis, bayi berekor ular yang gembil itu tengah minum dengan lahap, tampak tenang dalam timangan ibunya.
"Hei, menurutmu," –Meski dilanda kantuk, Aphrodite masih terdengar ceria— "apa nama yang bagus untuknya, ya? Aku tidak bisa menemukan nama yang keren."
Sekian lama bersama, Aphrodite tidak lagi bisa menipu Hephaestus, maka ekspresi yang ia tunjukkan sekarang ini pun bukan rekayasa. Ia masih menyayangi bayinya, terlepas dari sisik ular yang melukai dada dan perutnya ketika menggendong si bayi, dan Hephaestus tidak yakin harus sedih atau senang karenanya. Setengah sadar, Hephaestus menyentuh pipi pucat Aphrodite, membuat perempuan itu mendongak, sorot matanya memuat tanya.
"Akan kupastikan anak kita mengguncang dunia dengan kehebatannya kelak," ujar Hephaestus, 'kita' dalam kalimatnya mengharukan bagi Aphrodite, "Karena itu, dari hari ini, kita bisa mulai memanggilnya Erichthonius—sang 'penggerak bumi'."
