"Wah wah, selamat pagi nona. Selamat atas pertunangannya dengan tuan-orang-asing." Tenten langsung mengeluarkan kalimat sarkasmenya begitu aku menghampiri dia dan sahabat-sahabat wanitaku yang lain. Seperti biasa kami punya rutinitas untuk berkumpul, kali ini sang tuan rumah yang beruntung adalah Ino.
"Diamlah Tenten. Kau tidak perlu cemburu sampai segitunya dengan Saki," Ino membelaku, karena menurutnya aku lebih menuruti saran yang ia berikan terakhir kali,"jadi ceritakan pada kami bagaimana pertunanganmu? Sayang sekali yang diundang hanyalah keluarga besar kalian, padahal aku ingin menyaksikan wajah tegangmu." aku berdecak kesal, Ino tahu salah satu kelemahanku adalah demam panggung, karena aku pernah hampir pingsan sewaktu pementasan drama di sekolah menengah, meskipun saat itu peranku hanyalah sebagai tanaman yang muncul selama lima belas detik. Aku menghela napas,"tidak ada yang spesial. Layaknya pesta besar pada umumnya, kami makan, berdansa, dan selesai."
Ino mengalihkan fokus dari kuku-kuku tangannya yang masih basah setelah diolesi cat kuku berwarna merah marun,"wow-wow! Berhenti sampai di sana. Apa kau bilang tadi? Aku tidak salah dengar kan?" Ino bertanya memastikan pada Temari, gadis berambut kuning itu mengangkat bahu, kemudian membalik halaman buku bacaannya,"kalian berdansa? Maksudmu seperti ini?" ia menarik Tenten turun dari kasur mengarah ke lantai beralaskan permadani bermotif leopard dan memperagakan beberapa gerakan dansa,"hati-hati dengan kukuku Tenten." aku mengangguk sambil memasukkan sekeping chips kedalam mulutku.
"Lalu? Apakah ada kecupan di bibirmu setelah pesta dansanya usai?"
Temari menyahut dari atas kasur,"kau terlalu banyak berfantasi dengan kepalamu Ino." aku dan Tenten tertawa, terkadang Temari memang senang mengeluarkan kata-kata pedas, dan tenang saja kami sudah kebal dengan lidah tajamnya itu. Ino mendengus,"kalian tidak romantis."
"Apa yang kau harapkan dari kami? Kami terikat tanpa memiliki perasaan satu sama lain." ujarku, satu lagi kepingan chips masuk kedalam mulutku. Tenten membalas ucapanku tanpa mengalihkan kedua netranya dari gadget miliknya,"kalau begitu kenapa kau mengambil keputusan seperti ini?"
"Karena aku sudah terlanjur berbohong Tenten."
Ia menatapku prihatin,"kebohongan-kebohongan kecilmu akan menjadi kebohongan besar nantinya." ya, tanpa diberitahu aku sudah tahu. Aku sudah banyak mendengar nasihat-nasihat seperti itu dulu waktu aku kecil, ibu mengajarkanku untuk tidak berbohong. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau ibu tahu anaknya sudah membohonginya. Tiba-tiba aku merasa jahat. Tenten melanjutkan pembicaraan,"masih belum terlambat Saki, kau masih punya waktu sebelum pernikahanmu."
"Entahlah Tenten, aku..." Kalimatku menggantung, aku merasa mereka semua menatapku, menunggu kelanjutan atas apa yang aku sampaikan,"—aku tidak tahu." mendadak kami terdiam, tidak tahu lagi apa yang ingin kami ucapkan. Tiba-tiba Ino bersuara,"nah, bagaimana kalau malam ini kita mengadakan pesta bujang? Sebelum Sakura menikah dan dia tidak punya waktu lagi berkumpul bersama kita karena sebentar lagi dia akan menjadi ibu rumah tangga."
Tenten berbaring diatas kasur, menopang kepalanya dengan tangan kirinya,"malam ini? Kenapa begitu mendadak?"
"Kalian tahu? Sesuatu yang mendadak itu terkadang menyenangkan." Ino mengedikan sebelah matanya pada Tenten, membuat gadis bercepol itu jijik,"kalian bisa memakai piyamaku."
"Kalau begitu aku akan mengabari orang rumah." Temari beranjak dari duduknya dan mengambil telepon rumah setelah diberi ijin oleh pemiliknya. Malam ini akan menjadi malam yang panjang.
.
.
Pagi hari yang cerah, tapi sinar matahari tidak dapat menyamarkan kantung mataku. Semalam kami benar-benar menggila, kami bermain beberapa permainan yang salah satunya merupakan truth or dare, dan kami menggunakan arak cina—yang pernah dititipkan oleh gadis berambut cokelat diantara kami—sebagai hukuman bagi yang kalah. Sialnya lagi yang paling sering kalah adalah aku dan Tenten, kami menghabiskan satu botol arak keras dengan rasa aneh itu, dan pagi hari ketika aku bangun, aku langsung mencari toilet karena perutku sangat mual. Sekarang aku memejamkan mata tidak berdaya di jok mobil Naruto. Bagaimana bisa aku berada di sini? Tadi ketika aku bangun, aku menelepon ibu untuk minta dijemput karena mobil Ino sedang dipakai kakaknya dan yang lain dijemput oleh saudaranya masing-masing, Tenten juga Temari menawarkanku tumpangan tapi aku menolak dan memilih tidur karena kepalaku rasanya mau pecah. Akhirnya aku ditinggal pulang karena Tenten dan Temari harus bekerja, aku ragu bagaimana Tenten bisa kerja dalam kondisi kepalanya berputar-putar? Ketika aku meminta ibu menjemputku, ibu malah menyuruh Naruto yang menjemputku. Awalnya aku menolak, lebih baik aku menunggu Deidara pulang membawa mobil Ino, karena tidak mau merepotkan Naruto. Sambil berbaring meredakan sakit kepalaku, Ino muncul dari balik pintu kamarnya.
"Tebak siapa yang datang menjemputmu?" wajah Ino terlihat berseri-seri. Aku ingat dia menampakkan raut wajah sumringah begitu ketika kami bertemu pria-pria seksi di pantai musim panas kemarin.
"Ibu?" Dahiku berkerut, bukannya ibu bilang tidak mau menjemputku? Menjemput anaknya yang malang ini. Oh, kepalaku terlalu pusing untuk dapat berpikir. Aku mengintip Ino yang mengayunkan jari telunjuknya dari balik lenganku,"tck, tck. Salah." Ia berjalan mendekat padaku, aku menggeram. Moodku tidak bagus untuk bermain tebak-siapa-dia?
"Ayah?" jawabku asal, aku tahu ayah sedang pergi bekerja dan baru pulang malam nanti. Ino menarik tubuhku hingga terduduk, aku merajuk, kenikmatan tempat tidurnya langsung lenyap. Gadis bermata biru laut ini berbisik padaku,"calon suamimu menunggu di bawah."
Dan ta-da! Disinilah aku berbaring di jok mobil, beradaptasi dengan guncangan yang membuatku makin pusing. Aku meringkuk, menyelimuti tubuhku menggunakan kain yang dipinjamkan Ino. Hari ini Naruto tidak pergi bekerja, ia hanya mengenakan kaus berwarna hijau gelap; duduk di balik kemudi.
"Bisa lebih pelan lagi?" Naruto menoleh padaku, aku merasa laju kendaraan beroda empat ini makin pelan. Ia memindahkan persneling,"maaf, apa kepalamu masih pusing?" aku mengangguk pelan, kepalaku tidak boleh menerima guncangan berlebihan. Mobil Naruto berjalan makin pelan hingga berhenti di suatu tempat, aku tidak tahu dimana.
"Tunggu di sini." lelaki bekulit agak kecoklatan itu keluar dari mobil, pergi entah kemana. Baru sebentar kupejamkan mata, bunyi pintu tertutup menyadarkanku lagi. Kulihat Naruto menyodorkanku sebutir obat yang sudah ia buka dan sebotol air mineral. Aku menatapnya penuh tanya. Ia tersenyum,"ini aspirin, minumlah, mungkin bisa membuatmu merasa lebih baik. Ternyata Naruto singgah di apotik, aku dengan patuh mengambil aspirin dari Naruto dan meminumnya, lalu kembali berbaring sementara Naruto menyalakan mesin mobil dan menjalankannya kembali. Sebelum mataku benar-benar terpejam aku memandangi Naruto dan berkata,"terima kasih Naruto." kemudian aku jatuh tertidur.
.
.
.
.
.
Mataku terasa berat, aku berusaha membuka mata dan melirik jam berbentuk abstrak di dinding. Ugh, sudah jam dua siang, ternyata aku tidur selama ini. Perlahan aku menggeliat di tempat tidur, membenamkan wajahku di atas bantal; mulai menghirup aromanya—kebiasaanku sejak kecil, aku tidak pernah ileran, jadi jangan khawatir dengan kebiasaanku. Aku beranjak dari tempat tidur dan turun ke bawah mencari ibu. Hm? Aneh, jam segini ibu tidak ada di dapur. Tunggu, tidak biasanya ibu lupa membangunkanku?
"Bu?" aku memanggil ibu sambil berkeliling mencarinya di seluruh pelosok rumah. Langkahku berhenti begitu mendengar bunyi televisi di ruang tamu. Aku menelan ludah, jangan-jangan maling? Pelan-pelan aku berjinjit mendekati ruang tamu, tak lupa mengambil salah satu stik golf ayah, maaf yah, aku tahu stik yang berada di tanganku ini harganya mahal, maaf kalau nantinya harus bengkok karena memukul maling, setidaknya aku sudah menyelamatkan rumah. Aku mengendap-ngendap, menyender di dinding sampai di tepi aku menarik dan menghembuskan napas. Aku siap. Baru saja aku hendak menerjangnya, ayunan stik terhenti di udara. Helaian kuning itu, itu Naruto, sedang duduk tegang sambil menonton acara bola. Ia terlihat begitu serius, aku langsung menurunkan tangan.
"Kau sudah bangun?" tanyanya saat mendapatiku berhenti di ambang pintu. Aku tidak langsung menjawab, mataku tertuju pada cup ramen di atas meja,"sudah berapa lama kau di sini Naruto? Dimana ibu?"
"Oh, ibumu sudah pergi begitu kita sampai. Kupikir aku akan menunggumu bangun setelahnya aku akan pulang."
"Kau sudah makan?" tanyaku, masih berdiri di ambang pintu. Ia menunjuk cup ramen melalui endikan kepalanya,"seperti yang kau lihat." ia menutup kalimat dengan tawa kecil.
"Tunggu di sini, aku akan membuat makan siang." aku berbalik meninggalkan ruang tamu menuju dapur, suara teriakan Naruto kuabaikan begitu saja,"aku tidak mau merepotkanmu Sakura, aku bisa makan di luar." yang benar saja, apa dia pikir makan diluar setiap hari bagus untuk kesehatan? Tentu saja aku cemas, aku orang yang peduli sesama. Naruto menyusulku di dapur,"aku benar-benar tidak ingin merepotkanmu Sakura."
"Diamlah. Toh, setelah menikah ini akan menjadi tanggung jawabku." apa aku terkesan galak? Aku masih merasa kesal padanya. Naruto tak lagi bersuara, aku bisa merasakan ia mendekatiku,"ada yang bisa kubantu?"
Aku menengok ke arahnya sebentar,"tidak perlu, duduklah di meja makan." ku kira ia akan menuruti kata-kataku,"kalau begitu aku akan menyiapkan peralatan makan. Dimana letaknya Sakura?" hahh, ternyata dia keras kepala juga,"di lemari kayu sebelah kulkas."
Aku meletakkan piring terakhir di meja makan, kemudian menyusul Naruto yang terlebih dulu sudah duduk manis menyaksikan hidangan di depannya. Ia terlihat ragu-ragu untuk mengambil makan, aku langsung menyendokkan salad bayam ke atas piringnya, ia mengarahkan pandangannya padaku.
"Cobalah sup kacang merah dan daging asapnya." ia mengangguk. Suapan pertama Naruto mengunyahnya perlahan, ia mungkin tak suka bayam. Suapan kedua ia mencoba daging asap,"ini enak Sakura!" detik berikutnya ia makan dengan lahap. Aku mendengus terkekeh, tuan Uzumaki ini benar-benar meremehkanku.
"Naruto,"
Ia menggumam,"hm?"
"Terima kasih."
"Kau sudah mengucapkannya dua kali Sakura." ia tertawa pelan, suara tawanya selalu terdengar menyenangkan.
"Oh ya? Kapan? Aku tidak ingat."
"Tadi sewaktu di mobil." benarkah? Aku tidak ingat apa-apa lagi setelah minum obat karena aku terserang kantuk.
"Lupakan. Aku ingin mengucapkan terima kasih lagi. Terima kasih untuk semuanya."
Ia tersenyum membalas ucapan terima kasihku, dan sore itu kami menghabiskan waktu di depan televisi menonton acara sepak bola sambil menunggu ibu pulang.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc.
