This Is Not Cinderella Story (Chapter 5)

"Taeyong-ah, selama ini aku hanya menganggapmu sebagai temanku. Tapi...ternyata aku memiliki perasaan lain. Maukah kau menerima perasaanku ini? Perasaan sayangku yang melebihi sayang pada seorang teman. Aku... mencintaimu..."

.

.

"Berhenti! Ya! Siapa bilang kau boleh menyatakan perasaan pada Taeyong?!" -Johnny

"Taeyong-hyung, jangan dengarkan dia! Dia hanya salah bicara!" -Jaehyun

"Yuta-hyung..." -Winwin

"Loh, kenapa kalian bisa di sini?" -Taeyong

"Tunggu! Tunggu! Kalian salah paham! Dengarkan dulu, ini tidak seperti yang kalian-hei, Winwini! Kau mau kemana?! Tunggu! Aish! Winwiniiii!" -Yuta

'Hhhh...jadi kacau 'kan, dasar baka-moto!' -Taeyong

.

.

Taeyong menyilangkan kedua tangannya di dada, sementara Jaehyun dan Johnny menatapnya dengan gugup. Saat ini alis tebal Taeyong terlihat seperti alis Angry Bird. Menyeramkan, tapi tetap imut sih.

"Sekarang katakan, apa alasan kalian ikut campur dengan urusanku?"

"Maaf, Taeyong kami-"

"Memangnya kalau Yuta benar menyatakan cinta padaku kenapa? Tidak boleh?"

"Taeyong-hyung... Aku tidak-"

"Sekarang, karena kalian muncul dan membawa Winwin juga, semua jadi kacau!"

"Maafkan kami, Taeyong-ah..."

"Minta maaflah pada Yuta dan Winwin! Aku pergi. Sampai bertemu di rumah."

Taeyong benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa Jaehyun, Johnny, dan Winwin muncul saat ia dan Yuta tengah latihan. Ya, latihan. Yuta meminta bantuannya untuk latihan menyatakan perasaan pada Winwin!

Yuta sering berpisah dari Taeyong dan Doyoung akhir-akhir ini karena ia sedang melancarkan aksi pendekatannya pada Winwin. Tadinya ia tak mau memberi tahu Taeyong atau Doyoung sama sekali sampai ia benar-benar mendapatkan balasan dari Winwin, entah itu kabar bahagia atau kabar patah hati. Yang pasti Yuta tak mau jadi korban mulut jahil Doyoung kalau sampai rencananya ketahuan. Tapi, karena Yuta yang katanya Ssang Namja itu sama sekali tak punya pengalaman 'menembak', ia akhirnya menyerah dan meminta bantuan pada Taeyong. Ia tak mau meminta bantuan pada Doyoung karena pasti akan ditolak mentah-mentah oleh yang bersangkutan. Kalaupun Doyoung mau pasti ia akan diledek habis-habisan selama latihan. Dan karena Taeyong sebelas dua belas dengan Winwin, sama-sama polos dan manis, maksudnya. Yuta merasa Taeyong lah yang paling pas untuk menjadi partner latihannya.

Sekarang Taeyong merasa bersalah pada Yuta dan Winwin. Winwin sepertinya salah paham setelah melihat kejadian yang seharusnya off the record itu. Semuanya gara-gara Jaehyun dan Johnny yang muncul tiba-tiba, dan sialnya Winwin ada bersama mereka. Tapi apa benar Taeyong pantas menyalahkan Jaehyun dan Johnny. Lagipula aneh juga mereka bisa tahu ia dan Yuta ada di situ. Harusnya tadi ia dengarkan dulu penjelasan mereka, bukannya malah ngambek dan kabur begitu saja. Haah...sekarang Taeyong ikut-ikutan merasa bersalah pada Jaehyun dan Johnny.

.

.

Taeyong kembali ke apartemen jam 9, malam harinya. Ia sengaja izin pulang lebih dulu dari café pada Taeil, lagipula malam ini bukan tugasnya untuk piket jadi ia memang bisa pulang kalau café sudah sepi. Ia hampir saja pulang ke apartemen lamanya kalau tak ingat ia sudah tinggal di tempat baru. Kadang Taeyong masih merasa itu mimpi. Apartemen yang sudah dua tahun ditinggalinya habis begitu saja dalam sehari dan nasibnya berbalik 180 derajat. Sekarang ia tinggal di salah satu apartemen termewah di Seoul!

Untung Taeyong masih ingat password pintu apartemen itu kalau tidak ia bisa gagal masuk. Begitu masuk ke apartemen, ia tak mendapati satu pun makhluk hidup di dalamnya. Mark, Taeyong rasa memang belum pulang dari sekolah. Pelajaran tambahannya memang bisa sampai semalam ini. Kalau Jaehyun atau Johnny ia tak tahu.

Baru saja ingin ke dapur untuk mencari air minum, pemandangan yang lagi-lagi membuatnya tak nyaman terpampang di hadapannya. Jaehyun yang baru saja keluar dari pintu kamar mandi tepat di sampingnya hanya dengan selembar handuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Tapi bukannya Taeyong yang terkejut, kali ini Jaehyun yang berteriak karena kagetnya. Tapi tentu saja teriakannya tidak melengking seperti Taeyong.

"Hyung! Kau sudah pulang?"

"Hm, kalau aku sudah di sini menurutmu bagaimana?"

"Sudah pulang. Tidak berangkat ke minimarket?"

"Bisa pakai bajumu dulu tidak baru bertanya padaku?"

Jaehyun melihat tubuhnya sendiri yang masih belum berbalut pakaian, mengangkat bahu sedikit, dan akhirnya melenggang memasuki kamarnya. Meninggalkan Taeyong yang sibuk mengelus-ngelus dada setelahnya. "Sepertinya aku harus terbiasa dengan kebiasaan Jaehyun dan Johnny yang malas pakai baju. Untung badan mereka bagus. Kalau aku sih..." Taeyong memandang tubuhnya sendiri yang krempeng. "...tidak enak dipandang."

Lupakan soal Jaehyun dan badan bagusnya, Taeyong kembali ke tujuan awalnya, mengambil minum. Tapi saat melewati meja makan, ia sempat mencium bau sedap masakan. Karena penasaran, Taeyong akhirnya melongok sesuatu dibalik tudung saji sumber bau sedap itu.

"Itu untukmu hyung." Suara Jaehyun yang muncul tiba-tiba mengagetkan Taeyong. Rasanya seperti baru ketahuan mau menyolong makanan.

"Apa?"

"Masakan itu kubuat khusus untukmu. Kau belum makan 'kan?" Jaehyun lebih dulu duduk di kursi meja makan. "Kau suka galbijjim? Resep ini kudapat dari ibuku, rasanya pasti enak, cobalah hyung..." Jaehyun memberi gestur menyuruh Taeyong duduk.

Dengan ragu-ragu Taeyong duduk. Ia bohong kalau bilang tidak menyukai masakan itu, tapi ia tak ingat kapan terakhir kali memakannya. Daging sapi adalah makanan yang sangat mewah baginya. Daripada membeli daging yang mahal, ia lebih memilih membeli makanan lain yang murah tapi mengenyangkan. 'Ah, Minhyung harus merasakan ini juga,' batin Taeyong.

"Tunggu apa lagi, ayo dimakan, hyung..." Jaehyun tak sabar melihat reaksi Taeyong atas masakannya.

"Ng, aku cuci tangan dulu..."

Ah, benar juga, menurut penuturan Mark, Taeyong adalah orang yang cinta kebersihan. Ia pasti akan mencuci tangannya sebelum menyentuh makanan, apalagi setelah pergi dari luar.

Taeyong kembali setelah mencuci tangannya dan siap memegang sumpit saat dilihatnya Jaehyun tak melakukan hal yang sama. "Kau tidak makan juga?"

"Aku mau lihat hyung makan dulu." Jaehyun malah menggunakan tangannya untuk menopang dagu.

Taeyong jadi ragu. Jangan bilang Jaehyun menjadikan Taeyong sebagai tumbal masakannya.

"Kenapa lagi, hyung? Ayo makan, tidak apa-apa kok..." Jaehyun gemas sendiri Taeyong tak kunjung makan padahal jelas sekali terlihat ia sedang kelaparan. Jaehyun tahu dari mana? Tentu saja dari nalurinya sebagai seorang food fighter.

Taeyong akhirnya mengambil sepotong besar galbijjim, tak ada pilihan lain sebenarnya, karena potongan dagingnya besar semua. Setelah berhasil memasukkan potongan besar itu ke dalam mulutnya, Taeyong mulai mengunyah perlahan. Jaehyun senang sekali memperhatikan Taeyong mengunyah. Sangat lucu menurutnya saat pipi tirus itu menggembung karena mulutnya penuh dengan makanan.

Taeyong yang merasa diperhatikan menunduk canggung tak berani memperhatikan balik wajah Jaehyun. "Ini enak." pelan Taeyong setelah menelan seluruh daging di mulutnya.

"Benarkah? Kau suka, hyung? Makanlah yang banyak!" Pujian sederhana dari Taeyong membuat Jaehyun kelewat bersemangat, sampai mendorong mangkuk galbijjim itu semakin dekat pada Taeyong. Pujian orang-orang atas masakannya sudah sering ia dengar, tapi kalau dari Taeyong, apapun terasa spesial.

Taeyong tak ragu-ragu lagi memakan masakan Jaehyun karena demi apapun memang enak. Dan ia memang lapar karena tadi siang ia keburu ditarik oleh Yuta sebelum sempat makan siang. Apa lagi yang bisa membuat mood seseorang membaik selain makanan enak di saat lapar.

"Kau harus membuka restoran suatu hari nanti Jaehyun-ah!" Taeyong tak segan-segan memuji Jaehyun kali ini. Ia bahkan berinisiatif menyodorkan sepotong galbijjim dengan sumpitnya pada Jaehyun. Taeyong menyuapi Jaehyun!

Jaehyun sempat kaget, tapi segera bereaksi pada suapan Taeyong dengan menerimanya. Dengan amat- senang hati-sekali.

"Mmm... Ini bahkan lebih enak karena kau yang menyuapinya, hyung." Taeyong tersipu mendengar itu, ia hanya menyuapi bukan yang memasak, tapi senangnya seperti dipuji atas masakannya. Dua orang ini tidak sadar kalau sudah ada seorang lagi yang datang memperhatikan keakraban keduanya di meja makan.

'DUG'

Sosok itu tak sengaja menendang kaki meja didekatnya. "Aww..."

Dua orang di meja makan menoleh. Sadar dirinya malah menarik perhatian, sosok itu menggaruk kepalanya canggung.

"Er, hyung..."

"Minhyung! Ya ampun, aku tak mendengarmu masuk."

"Iya hyung, aku ke kamar saja ya..." Mark berbalik badan, tak jadi menyambangi dapur.

"Tunggu, kau sudah makan?"

"Sudah hyung, sama Donghyuk tadi."

"Oh ya sudah, bersih-bersih dulu, lalu tidur kalau sudah tak ada pr lagi."

"Iya, hyung..."

'Huft, seharusnya aku langsung masuk ke kamar tadi, sepertinya Jae-hyung tak suka diganggu...' Mark melongok sekali lagi pada Jaehyun dan Taeyong yang masih asyik di meja makan sebelum benar-benar masuk ke kamarnya. Entah Mark harus merasa senang atau khawatir karena Taeyong tampaknya senang sekali bersama Jaehyun. 'Jangan jatuh terlalu dalam hyung… '

"Hyung, sudah kenyang?" tanya Jaehyun yang melihat Taeyong sudah berhenti makan.

Taeyong mengangguk, lidahnya menjulur sedikit untuk menjilat sisa bumbu di bibirnya. Jaehyun tidak bisa tidak memperhatikan itu. 'Aigoo, kenapa Taeyong yang begitu terlihat imut sekali... _' batin Jaehyun fanboying. Menepuk pipinya sendiri, Jaehyun berusaha keluar dari mode fanboyingnya.

"Berarti… aku dimaafkan 'kan?"

"Dimaafkan untuk apa?" Taeyong tak mengerti.

"Yang tadi siang..."

Ah, Taeyong baru paham. Ia memang sempat ngambek dan meninggalkan Jaehyun dan Johnny begitu saja tadi siang. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, ia tidak jadi marah karena Yuta bilang ia akhirnya sukses menyatakan perasaan pada Winwin, walaupun belum mendapat jawabannya. Lagipula bukan salah Jaehyun dan Johnny kalau mereka muncul tiba-tiba dan salah paham dengan situasi di antaranya dan Yuta. Tapi... Kenapa juga Jaehyun dan Johnny sepertinya tak ingin Yuta menyatakan perasaan padanya?

"Hyung! Jangan melamun. Aku dimaafkan tidak?"

"E-eh, iya, maksudku tidak, maksudku... Aku tidak marah, jadi tak ada yang perlu dimaafkan."

"Huft...syukurlah. Kami, aku dan Johnny maksudku, sudah khawatir saja kalau hyung benar-benar marah. Aku minta maaf karena kami ikut campur urusanmu."

"Tidak apa-apa, Jaehyun-ah, aku tidak marah, sungguh. Ng, aku cuci piringnya dulu, ya?" Taeyong sudah mengangkat seluruh peralatan makan bekasnya dan Jaehyun, tapi Jaehyun mencegahnya.

"Tidak usah, hyung. Besok aku akan memanggil petugas untuk bersih-bersih seperti biasa. Apartemen ini juga sudah lama tak dibersihkan."

"Sekarang ini menjadi tugasku Jaehyun-ah."

"Tugasmu? Tunggu, maksudnya kau..."

"Ya, aku terima pekerjaan darimu, ng, jadi asisten rumah tangga. Masih berlaku 'kan tawarannya?"

"Masih, hyung! Masih!" Jaehyun terdengar kelewat antusias, tapi Taeyong lega mendengarnya karena ia tak kehilangan kesempatan bagus itu.

"Jadi hyung sudah berhenti bekerja di minimarket?"

"Ya, begitulah. Sepertinya aku tak kuat kalau harus begadang setiap malam. Aku juga jadi kehilangan waktuku untuk mengawasi Minhyung. Kalau kerja di sini 'kan aku bisa sekalian mengawasinya belajar. Anak itu, sebentar lagi akan ikut ujian. Harusnya aku menemaninya belajar dan memberinya semangat. Tapi aku malah terlalu sibuk mencari uang. Menyedihkan, ya?"

Jaehyun tersenyum seraya meraih puncak kepala Taeyong dan memberinya tepukan-tepukan ringan. "Kau melakukannya dengan baik, hyung..."

Tiba-tiba Taeyong merasakan perasaan yang tak asing, Rasanya yang seperti pernah… "Apa kau pernah melakukan ini padaku sebelumnya?"

"Apa?" Jaehyun tampak tak mengerti.

"Ah, tidak aku hanya asal bicara tadi. Auh, sepertinya aku mengantuk. Setelah cuci piring, boleh aku tidur duluan?"

Jaehyun terkekeh mendengar pertanyaan Taeyong. "Tak perlu minta izinku, hyung..."

Taeyong mengangguk, lalu mulai menyibukkan dirinya dengan cucian peralatan masak dan peralatan makan. Jaehyun memutuskan untuk tidak menggangu Taeyong lagi agar ia bisa cepat selesai dengan pekerjaanya dan cepat beristirahat.

.

.

Taeyong terbangun pukul lima keesokan harinya. Saat ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, ia mendapati seseorang sudah sibuk di dapur. Rambut coklat dan tubuh tinggi itu, pasti Johnny. Maka Taeyong pun tak segan untuk menyapanya, mereka seumuran jadi seharusnya lebih mudah bagi Taeyong untuk akrab dengan Johnny.

"Hai, Johnny..."

"Oh, Taeyong, sudah bangun saja..." Johnny menoleh sedikit sebelum kembali sibuk dengan sesuatu yang sedang diaduknya.

"Ya, kau juga."

"Aku memang selalu bangun pagi. Yah, siang kadang-kadang, kalau malamnya telat tidur."

"Ng, aku mandi dulu ya..." Taeyong pamit untuk mandi. Sementara dalam hati Johnny, "kenapa juga mau mandi saja bilang-bilang padaku? Mau ngajak mandi bersama, eoh?"

'PLAK' Johnny menampar pipinya sendiri karena sudah berpikir macam-macam.

Taeyong keluar dari kamar mandi sepuluh menit kemudian, tampak lebih segar dan tentunya lebih indah dipandang mata Johnny.

"Duduk sini sebentar." Ajak Johnny begitu Taeyong sudah berada tak jauh darinya. Taeyong menurut dan mengambil tempat duduk di sebrang Johnny di meja makan.

"Kau suka kopi?" tanya Johnny tiba-tiba.

"Ng, tidak, maksudku aku jarang minum kopi, biasanya aku minum susu, kau tahu aku 'kan pengantar susu..."

"Hm, minum susu ya, tapi kok kau tak tinggi, hm?" Johnny tersenyum jahil. Taeyong mendengus, Johnny selalu menemukan bahan ledekan untuknya.

"Hei, aku hanya bercanda, jangan tersinggung. Kau tahu, tinggimu yang sekarang ini sudah pas. Sangat imut." 'Aku suka...'

Taeyong memutar matanya malas. "Jadi, kau mau apa Johnny? Kalau hanya ingin meledekku, sebaiknya aku kerjakan yang lain saja." Taeyong bangun dari duduknya, tapi buru-buru Johnny menahannya.

"Jangan kemana-kemana dulu. Duduk sebentar lagi. Setidaknya temani aku ngobrol sampai dua gelas kopi ini habis. Tadinya aku membuatkan ini untukmu, tapi karena kau bilang kau tak suka kopi, jadi aku..." Johnny memandang Taeyong dengan tatapan termemelasnya. Taeyong yang pada dasarnya memang tak tegaan akhirnya berkata. "Aku akan minum kopinya, tapi setelah itu jangan tahan aku lagi, aku mau mulai bersih-bersih." Taeyong pun duduk kembali. Diam-diam Johnny menyeringai, taktik memelasnya berhasil, Taeyong kena.

"Jadi, kau sudah berhenti bekerja di minimarket?"

"Hm."

"Sayang sekali, padahal aku baru mau mulai rajin belanja di sana."

"Jangan membeli makanan instan terus."

"'Terus'? Memangnya kau tahu aku suka beli apa saja?" pancing Johnny. Sebenarnya dia ingin sesekali Taeyong menunjukkan perhatian padanya. Tapi sepertinya orang ini kelewat tidak peka. Susah sekali kalau tidak dipancing.

"Aku hanya menebak. Waktu itu kau beli banyak sekali ramyeon dan snack. Kurasa setiap kali belanja, pasti itu yang kau beli. Seharusnya kalian lebih sering memasak, toh masakan Jaehyun juga sangat enak."

Johnny segera menyambar. "Tidak sempat. Kami sebenarnya jarang di apartemen, lebih sering di luar, kecuali kalau hari libur."

"Hmm..."

Ugh, tanggapan Taeyong yang kelewat datar itu membuat Johnny gemas. Bilang apa kek begitu, misalnya "jangan makan makanan instan terus, nanti kau sakit..." yah seperti itu.

"Mulai sekarang aku akan memasak untuk kalian."

"Uhuk, apa?" Johnny tersedak kopinya sendiri.

"Karena aku sudah mengurangi pekerjaanku, aku punya waktu untuk memasak. Kau dan Jaehyun tinggal bilang saja mau makan apa, aku akan memasakkannya."

"Kau bisa masak?"

"Tentu saja, kau pikir apa pekerjaanku di café? Aku adalah asisten koki."

"Whoa, cool! Aku ingin makan mmm...masakan rumahan malam ini."

"Baiklah, aku akan belanja sebelum ke kampus." Taeyong mengulurkan tangannya pada Johnny. Johnny masih belum paham maksud Taeyong.

"Uangnya. Untuk belanja bahan makanan. Tidak ada apapun di kulkas kalian. Dan Aku tak punya uang."

"Oh benar." Johnny masuk ke kamarnya lalu kembali dengan sekeping kartu di tangannya. "Gunakan kartu ini saja. Gunakan untuk apapun keperluanmu."

"Keperluan rumah tangga." Koreksi Taeyong.

"Tidak aku serius. Gunakan untuk membeli apapun keperluan pribadimu dan Minhyung."

"Kau meminjamkannya padaku? Tidak terima kasih, aku tak mau berhutang lagi."

Johnny menjambak rambutnya sendiri. Kenapa susah sekali bagi Taeyong menerima pemberiannya.

"Anggap saja itu gajimu, aku bayar di muka. Tinggal kau hitung terpisah mana yang untuk keperluan rumah tangga dan mana yang untuk keperluanmu sendiri. Mudah 'kan?"

"Berapa gajiku? Biar aku tidak menggunakannya melewati batas."

"Itu kita diskusikan nanti. Bukannya kau bilang mau bersih-bersih tadi?"

"Ah, iya benar. Letakkan saja gelas kotornya di wastafel, aku akan mencucinya nanti." Taeyong meninggalkan Johnny untuk mulai kegiatan bersih-bersihnya.

"Huft...susah sekali berurusan dengan anak ini."

.

.

Jaehyun terbangun karena ketukan di pintu kamar, disertai suara halus yang memanggil namanya.

"Jaehyun, bangun… sarapan sudah siap..."

Jaehyun membuka pintunya dengan malas, tapi matanya langsung terbuka lebar saat membuka pintu dan mendapati pemandangan menyenangkan. Taeyong tampak cantik(?) dengan apron pink yang entah ia dapat dari mana. Mata besarnya, hidung mancungnya, bibir tipisnya yang berwarna pink alami dan garis wajahnya yang sempurna. Secara keseluruhan Jaehyun merasa seperti melihat morning angel, menciptakan sebuah senyum bodoh di wajahnya. Indah sekali ciptaan Tuhan, apalagi bibir itu...

"Jaehyun?"

"Ya, hyung?"

"Wajahmu terlalu dekat."

Jaehyun mengerjapkan matanya. Mata besar Taeyong kini berjarak tak lebih dari sejengkal dari matanya.

"Ya ampun! Maaf hyung!" Jaehyun segera menjauhkan wajahnya dari Taeyong dan menutup pintu kamarnya lagi. Memang tak sopan, tapi ia terlalu malu untuk melihat Taeyong saat ini. Sepertinya otak mesumnya sempat berpikir untuk mencium bibir Taeyong tadi. Mencium? Yang benar saja, Taeyong bisa langsung angkat kaki dari sini kalau ia sampai melakukannya.

"Hhh...ada apa denganku?" Jaehyun memegangi dadanya yang sedang sibuk menyesuaikan diri dengan debaran di dalam sana.

Sementara di luar pintu kamar Jaehyun, Taeyong masih berdiri dengan wajah polos tak mengerti. "Dia kenapa sih? Duh, kenapa wajahku rasanya panas sekali, ya?" Taeyong mengipas-ngipasi wajahnya sendiri dengan tangan, sambil berbalik kembali menuju dapur. Tak sadar kalau itu adalah pengaruh hormonnya yang aktif karena seseorang bernama Jung Jaehyun.

.

.

Taeyong sampai di kelasnya untuk kuliah hari ini. Doyoung dan Yuta juga sudah ada di kelas. Tapi ada yang berbeda hari ini.

"Kenapa Doyoung dan Yuta duduk berjauhan?" gumam Taeyong.

Taeyong menghampiri Yuta lebih dulu karena ia yang posisi duduknya lebih dekat dengan pintu masuk. "Hai, Yuta. Bagaimana kemarin?"

Yuta yang sedang memainkan handphone mengangkat wajah dan tersenyum pada Taeyong. "Seperti yang kubilang padamu di sms, semuanya berjalan lancar, semuanya berkat latihan kita. Arigato ne... Heum, tapi Winwin masih pikir-pikir dulu katanya. Menurutmu apa dia akan menerimaku?"

"Tentu saja, kau baik dan tampan. Siapa pun pasti akan sangat senang ditembak olehmu. Hihihi..."

"Taeyong-ah… jangan membuatku malu begitu!"

"Aku serius. Hei, ayo pindah ke sana, ke dekat Doyoung." Taeyong mengajak Yuta, tapi seketika muka Yuta berubah masam.

"Tidak usah ke sana. Paling kau juga diusir."

"Eh? Kenapa?"

"Kalau kau penasaran coba saja. Kelinci itu sedang gila."

"Hus, kalau bicara jangan sembarangan." Taeyong akhirnya meninggalkan Yuta karena Yuta tampaknya benar-benar tak mau pindah. Ada apa ini? Kenapa perasaannya tak enak?

"Doyoung-ah..." Taeyong berjongkok tepat di depan wajah Doyoung yang sedang berkutat dengan bukunya. Doyoung hanya melirik sekilas, tidak balas menyapa Taeyong atau mengatakan apapun.

"Kau marah karena aku meninggalkanmu kemarin, ya?" Taeyong mencoba bertanya karena tampaknya Doyoung tak berniat mengatakan apapun kalau tidak ditanya.

"Tidak."

"Tapi kenapa diam saja? Kenapa duduk berjauhan dengan Yuta? Yuta bilang kau-"

"Bisa tidak jangan ganggu aku dulu." Doyoung memotong Taeyong tajam. Mata kelincinya yang biasanya terlihat ramah kini terlihat tak bersahabat.

"D-doyoung-ah..."

Doyoung bangkit dari duduknya, menutup buku dan membawa tasnya, pindah ke kursi paling belakang.

"Kau kenapa Doyoung-ah? Apa yang terjadi sebenarnya?" gumam Taeyong. Ia menatap sedih sahabat baiknya itu.

Tidak pernah 'pertengkaran dengan sahabat' ada dalam kamus Taeyong sebelumnya. Ia bukan tipe orang yang suka memancing pertengkaran, karena ia adalah tipe pengalah. Yah, kecuali dengan Mark.

Jadi, saat seperti ini ia mendapati dua sahabatnya duduk saling berjauhan dengan suasana tak mengenakkan, ia tak tau harus berbuat apa. Apakah ia harus duduk dekat Yuta? Dekat Doyoung? Atau ikut-ikutan duduk sendirian? Taeyong mengacak rambutnya frustasi.

"Duduk di sini saja Taeyong-ah." ajak salah seorang teman sekelas Taeyong, salah satu dari si kembar Youngmin dan Kwangmin.

"Kwang...min?" tebak Taeyong pada yang bicara. Sebenarnya ia masih sulit membedakan keduanya, walaupun sudah hampir tiga tahun sekelas.

"Yap. Duduk di sini saja. Kau pasti bingung memilih di antara Yuta dan Doyoung 'kan?"

"Yah begitulah..." Taeyong mulai mengambil tempat duduk di sebelah Kwangmin. "Kalian tahu kenapa Doyoung dan Yuta-"

"Kau tidak tahu sih, apa yang terjadi sebelum kau datang." Sambar Youngmin tiba-tiba membuat Taeyong penasaran.

"Ada apa memangnya?"

"Hm, kami juga tak tahu sih apa yang mereka bicarakan karena mereka bicara berdua saja di belakang. Tapi melihat ekspresi keduanya, sepertinya tidak bagus. Kurasa mereka bertengkar." Jelas Youngmin.

Taeyong menghela napas panjang. Apa ini masih berhubungan dengan masalah kemarin? Ia kira masalah kemarin tidak akan berbuntut panjang. Ada apa sebenarnya dengan Doyoung dan Yuta?

.

.

"Kalian mau makan apa? Aku yang pesan, ya?" Taeyong berbaik hati menawarkan pada Doyoung dan Yuta. Dengan susah payah tadi akhirnya ia berhasil membawa keduanya duduk bersama di kantin. Doyoung tampak enggan memandang Yuta sama sekali, sementara Yuta terlihat tak terlalu peduli.

"Aku tidak makan. Kau saja." Doyoung menolak tawaran Taeyong. Taeyong beralih pada Yuta yang belum memberi jawaban. "Aku tak usah. Nanti aku akan makan dengan Winwin." jawab Yuta santai. Doyoung mendengus mendengarnya.

"Apa masalahmu?" Yuta tak terima karena jelas sekali Doyoung mendengus untuknya.

"Apa? Memangnya aku punya masalah?" Balas Doyoung tak kalah sengit.

"E-eh, kalian jangan-"

"Tentu saja kau punya masalah Kim Doyoung! Kau ini sahabatku atau bukan? Seharusnya kau ikut senang kalau aku senang!"

"Senang? Ya! Pergi saja sana temui Winwinmu! Tak usah berteman dengan 'orang yang tidak senang kalau temannya senang' lagi." Doyoung berdiri, bersiap pergi, tapi Taeyong menahannya. "Doyoung-ah, kita bicarakan dulu baik-baik. Kita selesaikan sebelum-"

"Lepaskan tanganku, Lee Taeyong." Lagi-lagi Doyoung memotong tajam. "Kau sama saja dengan orang itu." Doyoung memandang Yuta sinis.

"Apa-"

"Ya! Jangan salahkan Taeyong untuk keegoisanmu, Kim Doyoung!" Yuta ikut berdiri, balas memandang sengit Doyoung. Tangannya sudah mengepal, siap melayang kapan saja.

"Yuta, hentikan. Doyoung-ah!" Ketika Taeyong beralih pada Yuta sesaat, Doyoung pergi meninggalkan mereka. Langkahnya yang sengaja dibuat buru-buru jelas sekali mengisyaratkan ia tak ingin diikuti.

Yuta menendang kaki meja, menimbulkan suara keras dan getaran pada benda-benda di atas meja. Taeyong sampai melonjak kaget dibuatnya. Beberapa pasang mata di kantin sempat melihat mereka, tapi segera kembali sibuk pada kegiatan masing-masing.

"Yuta jangan pergi juga. Katakan sesuatu padaku..." Taeyong meminta putus asa.

"Maaf, Taeyong-ah. Haaah... Mood ku sedang jelek. Aku akan cerita, tapi nanti. Sampai jumpa, aku akan menemui Winwin untuk memperbaiki mood-ku." Sama seperti Doyoung, Yuta pun meninggalkan Taeyong.

"Yuta-ya..."

"Eoh?" Yuta menoleh karena Taeyong memanggilnya dengan suara super memelas.

"Jangan biarkan ini berlarut-larut. Aku tak mau persahabatan kita hancur hanya karena hal sepele."

"Tenang saja, semua akan baik-baik saja." Yuta memberikan senyumnya. Seperti julukan orang-orang terhadapnya. Senyum itu adalah healing smile, senyum yang menyembuhkan, yang membuat siapapun yang melihatnya merasa lebih baik. Tapi Taeyong tahu si pemilik senyum itu tidak sedang baik-baik saja.

"Kuharap begitu..."

.

.

"Eoh, Taeyong? Kau sudah pulang?" Pertanyaan yang tak perlu dijawab sebenarnya karena si penanya sudah menemukan sendiri jawabannya dengan melihat yang ditanyai itu tengah sibuk di dapur.

"Hmm..." Karena Taeyong sedang fokus pada masakannya, ia pun hanya menjawab sekenanya pertanyaan Johnny.

"Sudah lama?" tanya Johnny mengambil tempat duduk di salah satu kursi meja makan.

"Tidak, baru sampai setengah jam yang lalu."

"Sudah tak ada kuliah memangnya?"

"Ya, dosenku tidak masuk."

"Ada apa?"

"Apanya yang ada apa?"

"Tidak. Hanya perasaanku saja atau kau memang kau sedang gusar?"

"Ap-aku...tidak- yah... kurasa kau benar."

"Benar apa?"

"Johnny..."

"Oke, oke hanya bercanda. Keberatan cerita padaku?"

Taeyong menceritakan soal Yuta dan Doyoung yang masih membuatnya galau sampai saat ini. Bagaimana tidak? Mereka berdua - atau mungkin bertiga termasuk dirinya, tengah terlibat perang dingin yang sangat tidak nyaman. Dan itu semua harus terpotong oleh akhir pekan yang membuat mereka bertiga tidak bisa bertemu sampai tiga hari lagi, di hari Senin nanti. Mungkin Taeyong sebaiknya mengajak kumpul Doyoung dan Yuta, tapi kalau dipikir-pikir mereka dipaksa datang pun sepertinya tak akan berhasil. Taeyong akan memberikan waktu pada Doyoung dan Yuta dulu untuk mendinginkan kepala dan menyadari bahwa seharusnya mereka tidak bertengkar.

"Apa ini masih ada hubungannya dengan kejadian kau hampir 'ditembak' Yuta itu?" Nada pertanyaannya memang bercanda, tapi Taeyong merasakan aura tak mengenakan dari kalimat Johnny.

"Jangan sebut begitu. Kami hanya latihan. Dan lagi, aku tak tahu, mungkin ada, mungkin juga tidak. Aku tidak mengerti Doyoung tiba-tiba memusuhi Yuta dan akhirnya memusuhiku juga."

"I don't know wether I should tell you about this or not, but... Doyoung yang memberi tahu soal kau dan Yuta padaku. Maksudku, Doyoung yang mengirim fotomu dan Yuta yang sedang berpegangan tangan padaku." 'Dan lalu kami geger, yah kami, aku dan Jaehyun maksudnya.' lanjut batin Johnny. "Take a look!" Johnny menunjukkan handphonenya.

Mata Taeyong yang sudah besar makin membesar. "Kau serius? Doyoung yang melakukannya? Kenapa kau baru mengatakan ini padaku?"

"Kupikir kalau aku mengatakannya sebagai pembelaan diriku, kau akan semakin membenciku karena... mengadu domba kau dan temanmu?"

"Tapi tetap saja, seharusnya aku harus tahu. Aku tak petunjuk apapun soal masalah ini dan info darimu cukup membantu. Terima kasih sudah mengatakannya Johnny… Tapi, kenapa Doyoung melakukan ini, ya?" Taeyong masih memandang fotonya dan Yuta di handphone Johnny. Siapapun yang melihatnya pasti akan salah paham. Apa Winwin juga melihat foto ini? Kasihan anak itu, pasti dia berpikir yang tidak-tidak tentang Yuta. Tunggu, apa Yuta juga tahu soal ini? Kalau Yuta tahu, mungkinkah ini sebabnya ia bertengkar dengan Do-

"Hei, sudah jangan dilihat terus! Tadinya mau langsung kuhapus saja foto siala- ehm! foto ini." Johnny merebut kembali handphonenya, sekaligus menyadarkan Taeyong dari lamunannya.

"Lalu kenapa tidak dihapus?" tanya Taeyong dengan wajah polos-minta-diterkamnya itu.

"Tentu saja..." 'karena kau manis sekali di foto ini, tinggal crop Yuta, beres.' "untuk barang bukti!" Johnny berusaha mati-matian menutupi isi hati yang sebenarnya.

Taeyong tertawa, selain karena wajah Johnny sangat lucu saat mengatakannya. Taeyong juga merasa Johnny sedang menyindirnya yang seorang mahasiswa hukum. "Memang aku tak akan percaya kalau tak ada barang bukti. Kau bisa saja..."

'Apanya yang lucu?' batin Johnny, tapi ia ikut tertawa juga pada akhirnya. Karena suara tawa Taeyong telah menjadi candu baginya. Ia ingin mendengar suara itu terus-menerus.

"Tapi...aku masih tak mengerti kenapa Doyoung marah pada Yuta? Kalau Yuta yang marah pada Doyoung, itu mungkin saja, karena hampir saja rencana Yuta untuk Winwin gagal karena foto itu. Tapi pada akhirnya 'kan Yuta berhasil dan mereka sudah hampir jadian. Lalu, kalau Doyoung memang merasa bersalah karena hampir menggagalkan rencana Yuta, dia tinggal minta maaf 'kan? Doyoung pasti tak berniat jahat pada awalnya dan dia bukan tipe orang yang sulit untuk meminta maaf." Taeyong berceloteh panjang lebar, tampak sangat penasaran, seperti anak kecil.

"Itu mudah saja. Dia cemburu."

"Apa? Cemburu?"

"Ya... Cemburu."

"Cemburu pada siapa?"

Duh, ingin sekali Johnny menjedotkan kepalanya ke tembok. Masa begitu saja Taeyong tidak mengerti?

"Tanya saja pada Doyoung, oke?" Johnny menyentil dahi Taeyong. Si pemilik dahi protes sambil cemberut imut.

Johnny memilih mengalihkan topik sebelum kembali jatuh dalam pesona imut Lee Taeyong. "Oh ya, bisa kau bungkuskan masakanmu untukku? Aku ada siaran radio malam ini, jadi aku akan makan malam di sana." Johnny bersiap memasuki kamar mandi. "Kotak makannya ada di kitchen set. Tolong ya, Taeyongi. Aku mandi dulu~" Johnny memberikan kedipannya sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar mandi. Apa yang kau harapkan dengan berkedip, Seo Johnny? Taeyong menyusulmu ke dalam begitu?

.

.

"Ugh! Kenapa tinggi sekali sih?" Taeyong berjinjit untuk mencapai kotak makan yang ditaruh di rak paling atas kitchen set. "Siapa yang meletakannya di atas sini. Huft..." Taeyong berhenti berjinjit untuk mengistirahatkan tangan dan kakinya yang ia paksa memanjang seketika. "Jaehyun atau Johnny pasti bisa mencapainya karena mereka tinggi. Benar-benar tak punya belas kasihan pada orang-orang sepertiku... Ayo, sedikit lagi, Taeyong-ah..." Taeyong kembali memanjangkan tangannya, tapi sebelum ia sempat mencapai kotak makan itu, ada tangan lain yang lebih cepat mengambilnya.

"Mau mengambil ini hyung?" Taeyong menoleh dan mendapati Jaehyun tepat di belakangnya, jarak tubuh mereka yang terlalu dekat membuat Taeyong berdebar. "Jae-jaehyun... Iya, terima kasih."

Tunggu, sejak kapan Jaehyun ada di belakangnya? Apa Jaehyun juga mendengar keluhannya soal...ah, betapa malunya Taeyong sekarang.

"Buat kau apakan kotak makan itu, hyung? Kami menaruhnya di atas karena hampir tak pernah kami gunakan." Jaehyun mengklarifikasi soal keluhan Taeyong tadi. Taeyong jadi tak enak hati.

"Er...itu Johnny minta dibawakan bekal. Dia nanti ada siaran radio 'kan, jadi makan malamnya minta dibungkus saja katanya."

"Ck, manja sekali. Biasanya juga dia makan di restoran fast food di sebelah gedung siaran!"

.

.

"Taeyong-hyung, kau benar tidak mau ikut?"

"Iya."

"Yakin?"

"Iya."

"Kami mau main ski loh."

"Lalu?"

"Ayolah hyung...ikut..."

Jaehyun sudah merengek pada Taeyong sejak sejam yang lalu. Ia dan Johnny memang sudah berencana sejak jauh-jauh hari untuk pergi main ski akhir pekan ini. Jaehyun, yang tak ingin terjebak berdua saja dengan Johnny yang pasti akan flirting dengan gadis-gadis nanti, memaksa Taeyong untuk ikut.

"Sudah kubilang Jaehyun, aku di rumah saja. Aku tak bisa main ski dan aku-"

"Tak mau bersenang-senang tanpa Minhyung, yeah, kau sudah katakan itu tadi."

"Kalau sudah tahu kenapa masih memaksaku."

"Akan lebih menyenangkan kalau ada kau, hyung. Lagipula sudah kubilang, kalau anak itu tidak sekolah pasti sudah kuajak. Setelah ujian aku janji akan mengajak Minhyung jalan-jalan ke suatu tempat yang bagus. Bagaimana?"

"Tetap tidak, Jaehyun. Dengar ya, sebenarnya aku punya masalah serius soal...mabuk kendaraan." Ragu-ragu Taeyong mengakuinya.

"Eoh? Kau, mabuk kendaraan?"

"Ya, kalau hanya naik mobil sebentar sih tak masalah, tapi kalau jauh-jauh aku bisa... mengotori mobilmu."

"Pffft...hahahhahaha..."

"Ya! Kenapa malah tertawa?"

"Maaf, hyung, maaf... Ya ampun, kau hidup di Seoul hyung, tapi mabuk kendaraan? Kalau kau hidup di gunung baru aku percaya."

"Biar saja! Sudah sana berangkat! Jangan ganggu pekerjaanku! Masih banyak yang harus kukerjakan. Mencuci, membersihkan lantai, membersihkan kamar mandi, membereskan kamar. Kalau kalian tak ada, aku lebih leluasa melakukannya."

"Aye, aye, hyung. Kau terdengar seperti ibu rumah tangga sungguhan sekarang. Aku jadi ingin menikahimu suatu hari nanti." Jaehyun hanya bercanda dan asal bicara, tapi efeknya ternyata berbeda bagi Taeyong. Menikah dengan Jaehyun? Ya ampun...hati Taeyong harap tenang, Jaehyun hanya bercanda… atau tidak?

.

.

"Jay, angkat teleponmu itu. Berisik sekali dari tadi."

"Ah, paling juga bocah galak itu. Akhir-akhir ini dia mulai sering menggangguku."

"Siapa? Yerim?"

"Hu-uh..."

"Tapi kurasa tulisan di handphonemu itu 'Eomma' bukan 'Yerim'."

"Eh? Serius?" Jaehyun yang tadinya mengabaikan handphonenya di dasbor mobil, langsung buru-buru mengambilnya. Benar saja, termasuk yang sekarang ini, sudah ada tiga panggilan masuk dari ibunya.

"Gawat, gawat, gawat! Yoboseyo, Eom-"

"Ya! Kemana saja kau anak malas? Jangan bilang kau baru bangun!"

"Ti-tidak eomma... Aku sedang di jalan, bersama Johnny. Kami mau ke-"

"Eomma sudah di lobby apartemenmu."

"Apartemen?!"

"Ya, mau ke mana pun sekarang kau dan Johnny, cepatlah pulang. Eomma akan menunggu di dalam apartemen saja."

"Ta-tapi eomma-"

"Beri tahu passwordnya sekarang!"

...

"Aish, sial! Cepat putar balik! Gawat sekali!"

"Ada apa?"

"Eomma datang ke apartemen kita."

"Lalu?"

"Taeyong hyung!"

"Kau belum cerita pada eommamu?"

"Kau tahu sendiri eommaku seperti apa!"

"Shit!" Mendekati putaran balik, Johnny memutar setir dengan cepat sehingga Jeepnya langsung berbalik arah, tak ia pedulikan klaksonan mobil-mobil di belakangnya.

"Cool!" Masih sempat-sempatnya Jaehyun memuji skill menyetir Johnny.

"Cepat telepon Taeyong, peringatkan dia."

Jaehyun menelepon Taeyong beberapa kali, tapi tak ada jawaban. "Aish! Kurasa kita harus belikan handphone baru untuknya. Dia hampir tak pernah menjawab teleponku."

.

.

Taeyong sedang membersihkan ruang tamu saat suara pintu depan dibuka mengagetkannya. 'Siapa? Masa Minhyung sudah pulang sih? Atau Jaehyun dan Johnny balik lagi?'

Taeyong menghentikan kegiatannya mengelap meja. Sambil masih membawa lap mejanya, ia pun mendekati pintu depan. "Ada apa? Kenapa kalian kembali... lagi?"

"Kau siapa?"

Seorang wanita yang masih tampak cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi berdiri di pintu masuk. Dilihat dari penampilannya, jelas sekali ia seorang sosialita. Dari ujung kepala sampai ujung kaki tubuhnya dipenuhi barang-barang branded.

"Sa-saya..." Tiba-tiba saja Taeyong merasa gugup, merasa terintimidasi dengan kharisma dan aura wanita di depannya ini. Wajah cantik yang anggun, kulit seputih salju, dan tatapan tajam yang entah kenapa terasa familiar bagi Taeyong.

"Ini apartemen anakku, apa yang kau lakukan di sini?"

Ah, jadi wanita ini adalah ibu Jaehyun. Ya, penampilan wanita ini terasa familiar karena ia mirip dengan Jaehyun.

"Saya..." Taeyong mencari jawaban yang sekiranya tidak akan membuatnya diusir dari apartemen ini. "...Lee Taeyong, asisten rumah tangga di sini. Saya sedang bersih-bersih."

Ibu Jaehyun mengamati Taeyong dari atas sampai bawah. Taeyong dibuat semakin gugup karena pandangan yang seolah menelanjanginya itu.

'Tampaknya bukan orang jahat yang perlu dicurigai,' menurut ibu Jaehyun. Ia pun memilih percaya saja pada Taeyong. "Oh, begitu... Lanjutkan bersih-bersihnya kalau begitu. Jangan sampai ada debu yang tertinggal. Aku alergi debu. Aku akan kembali setelah kau selesai. Kuberi waktu 10 menit."

"Y-ya, nyonya." Taeyong membungkuk dalam sampai ibu Jaehyun hilang dari pandangannya. Refleks Taeyong menghembuskan napas lega setelahnya.

"Harus cepat-cepat selesaikan ini dan jangan buat kesalahan Lee Taeyong atau kau akan kembali tak punya tempat tinggal. Semangat!" Taeyong menyemangati dirinya sendiri.

.

.

"Kenapa pakai macet sih? Tadi waktu berangkat tidak."

"Jalurnya berbeda, bodoh!" Johnny kadang heran, Jaehyun yang jenius itu bisa jadi bodoh kalau sudah menyangkut Taeyong. Ya, Johnny paham sekali Jaehyun pasti cemas karena Taeyong. Lalu bagaimana dengan dirinya? Tentu saja ia juga cemas. Tapi ia lebih cemas karena Jaehyun mencemaskan Taeyong. Bingung? Johnny juga. Jadi, ia lebih memilih mengosongkan pikirannya sejenak.

.

.

"Sejak kapan kau bekerja di sini?" tanya Nyonya Song, ibu Jaehyun, sambil menyesap tehnya yang sudah dibuat Taeyong dengan susah payah. Banyak sekali syaratnya. Harus diseduh dengan suhu air antara 70 sampai 80, takaran tehnya pun harus tepat satu sendok teh, dengan jenis teh khusus yang untungnya tersedia di lemari penyimpanan, disajikannya harus dengan cangkir ukuran tertentu dan tanpa gula.

"Saya baru mulai bekerja di sini dua hari yang lalu, Nyonya." Taeyong tidak bohong, ia memang baru menerima pekerjaan asisten rumah tangga ini malam dua hari yang lalu.

"Jadi, kau baru di sini? Hmm, kerjamu lumayan. Aku tak pernah mendapati ruangan ini lebih harum sebelumnya."

"Terima kasih, nyonya..."

"Tapi ingat, walaupun kau bilang Jaehyun sendiri yang memperkerjakanmu. Aku tak segan untuk memecatmu kalau kerjamu tidak bagus."

"I-iya nyonya..."

"Oh ya, sebentar lagi tunangan Jaehyun juga akan datang kemari. Kau harus siapkan- blablabla..."

Taeyong tak terlalu mendengarkan apa yang dikatakan ibu Jaehyun selanjutnya karena ia malah melamunkan kata-kata 'tunangan Jaehyun'. Sejak kapan Jaehyun punya tunangan? Kenapa Jaehyun tak pernah membicarakannya? Tapi siapa dirinya sampai Jaehyun harus memberi tahukan itu padanya? Kenapa juga Taeyong merasa kecewa? Demi apapun Taeyong bingung kenapa tiba-tiba saja ia merasa sedih.

'Jaehyun punya tunangan?'

TBC

Semakin aneh dan semakin sinetron. Ampuni hamba… Ini udah yang tercepat yg bisa diupdate, meskipun gaje dan yah… gitu deh. Ke depannya bener-bener gabisa janji banget bakal update tiap minggu. Huhuhu… this story seems to be very long. Long way to go for both Jaeyong an Johnyong!

Daaaaan, ganyangka bakal banyak yang "ketipu" sama aksi penembakan Yuta ke TY. Padahal ku kira hint nya udah cukup jelas loh. Inget ini:

"Sudahlah Johnny, nanti Taeyong juga kembali. Doyoung bilang Taeyong dibawa pergi Yuta, padahal Yuta menyuruh Winwin datang ke sini. Berarti nanti ia akan kembali ke sini 'kan?" Jaehyun berusaha melerai sebelum terjadi perkelahian sungguhan.

Di situ kan Jae bilang Yuta nyuruh Winwin buat ke kantin. Jadi sebenernya Yuta ada rencananya adalah buat Winwin, bukan TY. Yuwin for the win!

Entah harus merasa senang atau ngga karena pada "ketipu". Buat yang mengharapkan ada Yutae mianhae, ga akan ada Yutae in a romantic relationship here, cukup friendship aja ya. Mungkin di ff lain nanti bakal dibikin Yutae atau Tae with everyone lah, pokoknya tae!uke wkwk.

Thanks for reviewing: 6194, ExileZee, Jaeyong Twins, KSYJaeyong, Park RinHyun-Uchiha, , Yongyongieee, suki-chan07, namminra 6v6, ReffaJaeshn, kiddongim, livanna shin, mbafujo, Cheon Yi, BootyPeachy, JLuna Yoolie99, Jaeyong Princess 2.

I never bored to tell how grateful I am for your review. Seneng banget setiap ada pemberitahuan review yg masuk. But Luv u all readers!