Disclaimer © GUNDAM SEED / DESTINY by sunrise
Warning: Typo, OOC, kalimat ambigu, kata-kata aneh, AU, AsuCaga x ShinnCaga, dan pair lainnya.
SOUL
.
.
By. PandamwuChan
chapter 6
"Baiklah, sekarang aku ingin kalian semua mulai mengerjakan−"
"Hei Yzak," bisik Dearka ditengah penjelasan Andrew-sensei. Dearka lalu menyenggol-nyenggol pelan lengan Yzak. Hal ini membuat Yzak merasa agak terganggu dengan sikap Dearka.
"Sekarang bukan waktunya untuk menggosip, Dearka. Aku tahu ada yang ingin kau bicarakan. Tapi maaf, aku tak ingin mendengarnya sekarang," ucap Yzak dengan suara yang pelan namun begitu tegas.
Dearka pun menggeleng pelan melihat tingkah Yzak yang ia anggap sedikit menyebalkan. "Ayolah, aku tidak sedang ingin menggosip. Ada yang ingin aku tanyakan."
"Mengenai keberadaan Athrun dan Cagalli?" tanya Yzak pada Dearka yang tentu saja membuat pria berkulit coklat itu merasa takjub sesaat. Wow! Tak disangka Yzak yang biasanya bersikap menyebalkan, kaku, dan pemarah, sangat memperhatikan sahabat-sahabatnya.
"Aku tak menyangka jika kau menyadari bila mereka berdua tak ada, Yzak. Biasanya kau akan bersikap acuh."
Tatapan tajam mulai menghampiri Dearka. "Kau itu bodoh atau tidak? Tentu saja aku menyadarinya," kesal Yzak sembari menunjuk pada dua bangku kosong yang berada tepat di depannya. "Bangku kita tepat di belakang mereka, bodoh!"
Dearka spontan cekikikan sendiri setelah mendengar ucapan Yzak. Benar juga! Tidak mungkin Yzak tidak menydarinya. Karena setiap harinya Yzak akan menegur Athrun yang mulai mengganggu Cagalli pada saat jam pelajaran. "Kau tahu mereka ada di mana? Ini pertama kalinya mereka membolos," ucap Dearka yang mulai menempelkan dagunya di atas meja belajarnya.
"Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu. Sudahlah, Dearka. Jangan berbicara saat guru sedang menjelaskan. Atau kau akan rugi nantinya," nasihat Yzak.
Sedangkan Dearka sudah menatap Yzak dengan pandangan yang aneh. Dihembuskannya napasnya dengan begitu lesu. "Bukankah kau sendiri juga berbicara? Berhenti menceramahiku."
"Kau..." kecam Yzak yang mulai merasa jengkel dengan Dearka. Oh tidak, jangan sampai ia kehilangan kesabarannya dan mulai mengamuk pada Dearka di dalam kelas.
"Jangan berbicara terus, Yzak. Perhatikan Andrew-sensei," ejek Dearka yang akhirnya membuat Yzak merasa semakin kesal.
"Kau!"
"Kalian berdua! Jika masih ingin berbicara. Silahkan keluar!"
Tubuh Yzak dan Dearka seketika menegang begitu mendengar teguran Andrew-sensei. Mereka berdua lalu diam sesaat, saling memandang dengan tatapan yang tak bersahabat, dan akhirnya kembali memperhatikan pelajaran yang sedang diajarkan oleh Andrew-sensei.
"Kau benar-benar sialan, Dearka!"
***(SOUL)***
"Ketua," panggil Luna pada Kira yang sedari tadi berdiri di ambang pintu ruang OSIS. Mata lavender pria tampan itu masih mengamati keadaan di luar, berharap jika seseorang yang sedari tadi ia tunggu akan datang.
Kira lalu mengalihkan pandangannya untuk menatap Luna yang sudah berdiri di sampingnya. Dilihatnya wajah Luna yang sedikit sedih. "Luna," ucapnya dengan pelan.
Luna menggeleng pelan lalu tersenyum. "Kau tidak ingin memulai rapatnya? Banyak para anggota yang sudah siap, Ketua."
Kira menghela napasnya sebelum menutup pintu ruangan dan memulai rapat. "Baiklah, kita mulai sekarang," ucapnya kepada seluruh anggota yang sudah mulai bosan menunggu selama lima belas menit itu.
Kau ke mana, Shinn?
***(SOUL)***
Napasnya tersengal. Bibirnya terbuka. Sorot matanya menyipit. Cagalli masih terpaku dan membisu saat pria yang ada di depannya melepaskan pelukannya pada Cagalli. Ada rasa yang tak biasa saat ia dipeluk oleh pria itu. Seperti ada kerinduan yang amat mendalam. "Kau..."
Masih dengan senyuman serta air mata, Athrun menatap lekat Cagalli. Gadis pirang kesayangannya ini nampak bingung dan juga shock. "Cagalli." Nada suara Athrun terdengar sangat lembut dan itu membuat Cagalli bergetar. "Aku merindukanmu."
Cagalli yakin jika sebenarnya ia tak begitu paham dengan apa yang dikatakan oleh orang asing di hadapannya saat ini. Merindukannya? Memang apa yang sudah terjadi? Banyak hal yang berputar di kepalanya, namun ia tak bisa memberanikan diri untuk bertanya. Jangankan bertanya, mengeluarkan suara pun terasa sangat sulit.
"Cagalli, ini aku, Athrun." Pria bermanik ruby itu kembali berbicara. Berusaha meyakinkan Cagalli. Meski Cagalli tak dapat mempercayai apa yang ia katakan.
"Cagalli, kenapa kau diam saja? Kau tak senang melihatku lagi? Kau tak merindukanku? Aku, aku sangat merindukanmu. Banyak hal yang terjadi karena kecelakaan itu, Cagalli. Aku−"
"Cagalli!" pekik seseorang, sehingga membuat Cagalli melepaskan pegangan pria aneh itu di bahunya. Cagalli menyingkir dengan cepat, bergerak ke samping menjauhi pria aneh itu.
Sedangkan Athrun yang merasa ucapannya terpotong oleh seseorang, mulai mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. 'Tidak mungkin!' Batinnya mencelos kala mata ruby miliknya bertemu pandang dengan mata emerald milik seseorang yang berdiri tepat di atas anak tangga. Terlihat sang pemilik mata hijau nan indah itu juga terkejut melihatnya.
"Tubuh itu−"
"Athrun!" Cagalli berlari kecil menaiki tangga untuk menghampiri Athrun yang sudah menatapnya dengan wajah yang pucat pasi.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Athrun dengan pelan saat ia melihat gadisnya bersama dengan...
"Siapa kau? Apa yang kau lakukan dengan pacarku?!"
Mata Athrun sukses terbelalak. Pria itu, pria yang ada di sana! Yang berdiri bersama Cagalli. Berteriak menanyakan sesuatu yang membuat tubuhnya menegang sempurna. 'Apa maksud semua ini?'
"Itu..." Shinn mulai melangkah mendekati Athrun dan Cagalli. Tangannya terjulur ke depan. "Tubuh itu... kenapa bisa ada padamu?" tanya Shinn dengan suara yang sangat bergetar. Ia yakin ini lah yang ia cari. Tubuhnya, telah ia temukan!
Bruk!
Tubuh Shinn terdorong dan hampir saja terjatuh dari tangga jika ia tidak segera berpegangan. Segera ditatapnya pria berambut navy blue serta mata emerald itu. Tubuhnya mendorong dirinya sendiri?!
"Apa kau berusaha menggoda Cagalli?" tanya Athrun dengan suara yang tinggi. Di sampingnya terlihat Cagalli yang memegangi lengannya, berusaha membujuknya untuk tidak membuat keributan.
"Sudahlah, Athrun." Pinta Cagalli. Jujur, Cagalli merasa kurang nyaman dengan suasana ini. "Kita pergi saja," ucapnya lagi.
Lantas tanpa membuang waktu, dengan segera Athrun menarik Cagalli untuk pergi menjauh dari pria itu. Pria yang paling tidak ingin Athrun temui. Karena dia...
"Kembalikan!"
Jantung Shinn serasa berhenti berdetak saat ia merasakan genggaman seseorang di lengan kirinya. 'Tidak! Dia menyentuhku!' Sekejap Athrun menghempaskan genggaman Shinn pada lengannya. Lagi-lagi, pandangan mereka bertemu.
"Apa maksudmu? Kau gila?" Shinn mencoba untuk membela dirinya. Ia lalu kembali mengeratkan pengangannya pada tangan Cagalli. Ingin segera pergi meninggalkan dia yang akan membuatnya susah.
"Aku bilang kembalikan!" Sekali lagi Shinn meraih lengan Athrun. Dilepaskannya pengangan tangan Athrun pada Cagalli. Lalu digenggamnya dengan kuat kerah seragam Athrun. "Itu, tubuhku!"
Bugh!
Tubuh Shinn terduduk dan pipinya mulai memancarkan rona merah akibat pukulan keras yang ia terima.
'Bagus, kau buat aku menyakiti tubuhku sendiri!' Batin Shinn merutuk dan mulai mencaci maki. Kesal dengan perbuatan pria bodoh dan nekat yang ada di tubuhnya saat ini. Shinn pun kembali menaiki satu anak tangga, mendekat ke arah Athrun. Ditariknya kerah seragam Athrun. Dan ditatapnya mata ruby itu dengan penuh kebencian. "Kau, tidak seharusnya berada di sini," desisnya dengan pelan sehingga hanya ia dan Athrun yang dapat mendengarnya.
"Kau, tidak dibutuhkan di sini. Kenapa kau tidak kembali saja ke dalam tidur indahmu, Athrun Zala?" ucap Shinn yang membuat Athrun membulatkan kedua matanya dan menggeretakkan giginya dengan kuat.
"Kurang ajar kau!"
"HENTIKAN!" teriak seorang guru yang kebetulan sedang melintasi koridor dan melihat pertikaian tersebut.
Sang guru −Talia Gladys− sekejap menghampiri Athrun dan Shinn yang sedang bertikai di atas tangga. Sekali hentakan, keduanya langsung saling menjauh dan berdiri. Talia mengalihkan pandangannya ke arah Cagalli yang terlihat shock dengan kejadian ini. Lalu Talia pun mengalihkan pandangannya kembali kepada dua orang murid yang biasanya berprestasi dalam pelajarannya. Tatapannya nampak sangat tajam.
"Aku ingin kalian berdua ikut denganku sekarang juga." Perintah Talia dengan nada bicara yang sungguh mengerikan.
***(SOUL)***
Sebenarnya apa yang sudah terjadi...
Cagalli terdiam dan membisu kala dirinya berdiri di depan ruang guru untuk menunggu Athrun yang masih berada di ruangan berdua saja dengan Talia-sensei. 'Sudah sepuluh menit berlalu, sejak,' batin Cagalli terdiam, saat ia melihat jam tangannya. Sejenak sorot mata Cagalli berubah sayu.
"Cagalli, ini aku. Athrun!"
Bayangan itu kembali terngiang di benaknya. Bayangan seorang pria bermanik ruby dan rambutnya yang hitam, saat pria itu memeluknya.
Memeluknya...
Raut wajah Cagalli berubah menjadi semakin bingung. Direngkuhnya tubuhnya sendiri. Mencoba menyesapi pelukan yang sempat ia rasakan. Aneh! Rasanya sungguh aneh. Entah mengapa Cagalli merasa ada yang aneh dengan pelukan itu. Memang ia merasa asing dengan tubuh yang memeluknya. Tapi, pelukan itu. Pelukan itu−
"Cagalli."
Cagalli tersadar dari lamunannya dan segera mengalihkan pandangannya. "Athrun," ucapnya saat matanya menatap Athrun. Senyuman hambar pun terpampang jelas di wajahnya. "Apa yang dikatakan Talia-sensei padamu?"
Shinn menatap Cagalli selama satu menit tanpa berkedip. Lalu ia palingkan wajahnya. Digenggamnya tangan Cagalli dengan tiba-tiba. "Hanya peringatan."
***(SOUL)***
"Sebenarnya apa yang kau lakukan, Shinn?" tanya Kira pada Shinn yang saat ini berada di ruang OSIS berdua dengannya, usai mendapat peringatan dari Talia-sensei. Sorot mata Kira menajam. "Kau sadar akan posisimu, Shinn? Sebagai wakil ketua, kau seharusnya bisa menjaga sikap. Bertengkar dengan siswa lain hanya karena perempuan?!" suara Kira terdengar sangat emosi. Kira lalu berdiri dari tempatnya dan beranjak mendekati jendela. Ditatapinya pemandangan di luar sana. "Aku harap kau akan memberikan penjelasan yang masuk akal."
Shinn terdiam untuk beberapa saat. Matanya yang sedari tadi hanya melirik ke bawah, mulai ia alihkan untuk melihat Kira yang masih memandang ke luar jendela.
"Shinn Asuka." Athrun mendesis pelan sembari menunduk dan memperhatikan tubuhnya saat ini. Jadi sesuatu yang mustahil itu benar-benar terjadi. Tubuh ini, tubuh ini...
"Shinn!"
Shinn mendadak tersadar dari semua pikirannya. Ditatapnya Kira yang mulai memandangnya dengan raut wajah yang bingung.
"Ma-maaf. Aku−"
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Shinn?" Kira mendekat ke arah Shinn dan memegangi bahu Shinn dengan erat. "Ada apa denganmu setelah kecelakaan itu?" tanya Kira sekali lagi. Ada nada suara yang begitu khawatir darinya. Dan ini membuat Athrun sadar.
Hidupmu terasa sangat sempurna, Shinn... tidak seperti hidupku yang hampa kasih sayang.
Senyuman kesedihan mulai muncul. Athrun tak menyangka jika ia akan terdampar di dalam tubuh seseorang yang dikelilingi oleh kasih sayang. Tak seharusnya ia berada di tubuh ini!
"Maafkan aku, Kira." Athrun kembali menunduk untuk beberapa detik sebelum kembali menatap Kira. "Aku tahu aku salah." Mata Kira spontan terbelalak usai mendengar ucapan Shinn.
"Maaf, Kira. Aku tahu aku salah."
Rahang Kira mengeras saat secara tak sengaja ingatan masa lalu menembus otaknya. Dieratkannya pegangannya pada bahu Shinn. "Katakan padaku, Shinn. Apa yang membuatmu menyakiti semua yang ada di sekitarmu?"
Pertanyaan yang terlontar dari bibir Kira sempat membuat Athrun bingung sesaat. "Menyakiti?"
"Kau tahu, tingkahmu selama ini sudah menyakiti semua yang ada di dekatmu. Stellar sudah menceritakan semuanya padaku. Kau, kau mengaku sebagai Athrun Zala. Ada apa denganmu?" Suara Kira terdengar bergetar saat menyebut nama Athrun.
"Kira," panggil Athrun. Mata ruby itu terlihat begitu sayu. "Jika aku berkata bahwa aku adalah Athrun, bukan Shinn. Akankah kau mempercayaiku?" tanya Athrun yang membuat mereka berdua tenggelam dalam keheningan.
***(SOUL)***
Prok...prok...prok...
Suara tepuk tangan langsung terdengar saat Athrun dan Cagalli memasuki ruang kelas. Kedua sejoli ini lalu melihat Dearka yang berdiri dan berjalan menghampiri mereka sembari bertepuk tangan. "Kau luar biasa, Athrun." Suara Dearka terdengar penuh penekanan. "Pergi membolos dan berkelahi dengan siswa lain. Apa kau ingin menjadi berandalan?"
Shinn hanya bisa diam mendengarkan Dearka yang sepertinya ingin sekali menceramahinya. Berandalan?! Jangan bercanda.
"Aku tak keberatan jika harus dicap sebagai anak berandalan."
Dearka membulatkan matanya. "Oh, ayolah, Athrun. Jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda." Shinn menatap datar Dearka, tangannya yang menggenggam tangan Cagalli mulai mengerat. "Dari awal, aku bukan orang yang baik, seperti yang kalian kenal."
"Jangan bercanda!" Teriak Dearka. Hal ini membuat orang-orang yang ada di kelas langsung fokus pada mereka berdua. Bahkan Yzak yang diam-diam mengamati, akhirnya memilih untuk ikut andil dalam perdebatan itu.
"Sudahlah, Dearka. Kau tahu kan Athrun baru-baru ini kecelakaan? Mungkin," mata Yzak melirik tajam Athrun. "Ada yang salah dengan otak bodohnya itu."
***(SOUL)***
"Luna." Stellar memanggil Luna yang sedari tadi berdiri tepat di depan pintu ruang OSIS. "Di mana Shinn? Tanya Stellar dengan napas yang terengah-engah.
Luna diam dan menggelengkan kepalanya secara perlahan. Raut wajahnya shock luar biasa. "Ini gila!" pekiknya dengan pelan. Bahkan tangannya sampai bergetar.
"Luna, sebenarnya ada apa?" Stellar berusaha bertanya pada Luna yang mungkin saja kehilangan fokusnya karena pikirannya yang melayang entah ke mana. "Lu−"
"Kau gila! Dan aku tak akan pernah mempercayai hal ini, Shinn!"
Stellar terperanjat kaget begitu mendengar suara teriakan Kira dari dalam ruang OSIS. Sepertinya Kira sedang bertengkar dengan Shinn.
"Berhenti mengaku sebagai Athrun Zala! Kau bukan dirinya, Shinn!"
Kali ini mata Stellar yang membulat. Segera ia menatap Luna yang terlihat semakin shock dengan semua ini. Ya Tuhan, Stellar tahu benar bila Luna belum mengetahui jika Shinn mengaku sebagai Athrun Zala. Karena dari semua yang ada di dekat Shinn, hanya Stellar saja yang tahu. Ini pun karena secara tidak sengaja ia mendengar Shinn yang menyebut nama seorang gadis yang ia kenali, saat berada di Rumah Sakit.
"Cagalli, aku ingin bertemu denganmu."
Ingatan itu kembali muncul. Stellar ingat saat ia mendengar suara tangisan Shinn di malam hari saat masih dalam perawatan.
"Kenapa aku berada di tubuh ini? Siapa aku sebenarnya?"
Air mata Stellar menetes kala teringat kebimbangan Shinn. Haumea, sebenarnya ada apa dengan semua ini? Stellar lalu menyentuh tangan Luna yang bergetar, membuat Luna memandang ke arahnya. Terlihat Stellar yang tersenyum tulus. "Stellar akan menceritakan semuanya pada Luna."
***(SOUL)***
Kira terlihat memijit batang hidungnya untuk kesekian kalinya. Ekspresi wajahnya menunjukkan sebuah rasa lelah. Lelah menghadapi salah satu sahabatnya. Kira ingat dengan perkataan Stellar, yang berkata bahwa semua sudah menyerah untuk meyakinkan Shinn pada jati dirinya sendiri. Tapi, apa yang membuat Shinn begitu keras mengakui bahwa ia adalah Athrun Zala. Pasti ada sesuatu yang membuatnya seperti ini. Kira lalu kembali menatap Shinn yang hanya diam memandang lurus ke depan. Sejenak ia ingat dengan apa yang pernah Shinn katakan padanya.
"Kira, aku rasa aku sudah gila." Shinn terlihat tersenyum sedih. "Kenapa aku bisa menyukai gadis yang sudah memiliki pacar?"
Jadi, gadis yang Shinn maksud adalah...
"Shinn." Suara Kira memecah keheningan yang tercipta di antara mereka. "Katakan padaku. Apa sebegitu sukanya kau pada dia?"
Shinn masih diam, tak merespon ucapan Kira.
"Apa kau, sangat mencintainya? Aku, aku tahu kau mencintainya. Kau, mencintainya kan?! Kau mencintai Cagalli Yula Athha!"
Seakan pendengarannya menuli seketika, Athrun terlihat membulatkan kedua matanya. Benarkah semua ini? Benarkah jika Shinn mencintai kekasihnya?! Jadi pertukaran ini bukan suatu kebetulan? Ataukah ini merupakan−
"Aku ingat! Kau selalu memperhatikan gadis pirang itu melalui jendela ruang OSIS. Kau juga, pernah berkata padaku jika kau menyukai gadis yang sudah memiliki pacar. Apa cintamu sangat besar padanya? Bahkan sekarang kau mengaku sebagai kekasihnya? Kau terlalu gila, Shinn. Jangan terlalu berharap padanya!" Teriak Kira pada Shinn yang terlihat semakin tenggelam dalam alam pikirnya.
−harapan dari Shinn Asuka itu sendiri.
***(SOUL)***
Jari tangannya mulai bergetar. Bibirnya yang terbuka perlahan. Serta sorot matanya. Luna yakin, bila saat ini wajahnya menunjukkan ekspresi yang begitu horor. Tak butuh cermin untuk membuktikannya, karena ia bisa melihat dari ratapan Stellar saat memandangnya.
"Aku rasa Shinn sudah tidak waras." Kata-kata itu terlontar begitu saja dari bibir mungil Luna. Tatapannya masih menunjukkan rasa tak percaya. "Aku rasa dia sudah gila, Stellar." Luna mulai menggeleng pelan.
"Luna," panggil Stellar. Suaranya terdengar serak. "Jangan berkata seperti itu. Shinn tidak gila, Luna. Dia hanya−"
"Hanya kurang waras?! Hilang akal?" Luna menatap nanar pada Stellar. Dipalingkannya segera wajahnya saat ia lihat raut wajah Stellar yang takut. Air mata mulai menumpuk di sekitar pelupuk matanya. Sial! Ada apa sebenarnya dengan Shinn!
"Aku harus bicara dengan Shinn."
***(SOUL)***
"Cagalli."
Cagalli menghempaskan tangan Athrun yang berusaha untuk meraih tangannya. Ia lalu menatap kekasihnya ini dengan pandangan yang tak suka. Lantas ini membuat Athrun bungkam. "Dari awal aku merasa ada yang salah dengan semua sikapmu."
"..."
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kau bertingkah seperti orang lain. Kau bukan Athrun yang kukenal. Kau bukan Athrun!"
Bagai tersambar petir di siang bolong, Shinn terpaku dan membisu, menatap Cagalli yang sekarang merasa begitu kesal padanya. Hh, senyuman miris tersungging di wajah Shinn. Jadi ini alasan Cagalli mengacuhkannya sepanjang hari. Hanya karena ia bertingkah layaknya orang lain?! "Kau bicara apa, Cagalli? Tentu saja aku Athrun." Shinn menatap Cagalli dengan tajam. "Aku curiga, apa kau tertular kebodohan pria yang memelukmu tadi pagi?" kesal Shinn.
Dan ini membuat Cagalli semakin tak suka dengannya. Cagalli menatap Athrun dengan sinis. "Cih, menjauh dariku." Ucap Cagalli sembari meninggalkan Athrun sendirian di lorong sekolah.
'Hh, bagus! Sekarang semuanya membenciku. Yzak, Dearka, lalu..' Shinn mengepalkan tangannya secara kuat saat pikirannya membayangkan wajah orang-orang yang sangat dekat padanya kini mulai menjauhinya. Tunggu dulu! Seringai muncul dengan tiba-tiba dan menghiasi wajah tampannya.
'Bodoh! Kenapa tak terpikirkan olehku. Bukan aku yang mereka benci. Bukan aku, tapi−'
Sreet
Shinn mengalihkan pandangannya secara mendadak saat ia merasa ada seseorang yang datang menghampirinya. Hh, senyum licik kembali tersungging saat ia lihat bahwa yang berdiri di depannya adalah seorang Athrun Zala yang sesungguhnya.
"Ada apa? Kau terlihat begitu serius." Ejek Shinn.
Sedang Athrun hanya menatap datar seseorang yang berdiri di depannya kini. Tanpa menghiraukan ejekan yang diberikan padanya. "Aku ingin berbicara padamu, Athrun Zala." Ucap Athrun dengan penuh penekanan saat menyebut sebuah nama.
Seringaian semakin melebar saat Shinn mendengar ucapan pria berambut hitam tersebut. "Tentu saja. Karena aku juga ingin berbicara padamu, Shinn Asuka!"
***(SOUL)***
Kira terdiam dan merenung seorang diri di dalam ruang OSIS. Tangannya yang berada di atas meja sedikit mengepal. Hh, kenapa akhir-akhir ini masalah selalu menghampirinya. Dimulai dari pertengkarannya dengan Lacus, lalu kegilaan sahabatnya sendiri. Berbicara mengenai Lacus, entah sudah berapa hari ia tak melihat gadis pujaannya itu. Lacus seakan hilang ditelan bumi.
Apa ini karena kejadian itu?
Spontan Kira menggelengkan kepalanya. Haumea, sebenarnya ini hanya kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dan Lacus.
"Aku membencimu, Kira."
Sial! Kejadian tempo hari kembali teringat di benaknya, membuatnya tak bisa berpikir. Kira lalu berdiri dan mulai beranjak dari tempatnya. Sepertinya ia butuh udara segar.
Trek!
Tubuh pria tampan itu sedikit terlonjak saat ia membuka pintu. Tepat di hadapannya Lacus berdiri dengan wajah shock luar biasa.
TBC
Gomenasaaaai, telaaat updet yaaa. Maklum udah memasuki masa kuliah, jadinya tugas datang silih beranti, membuat panda semakin sibuk. Orz, baru semester 1 kok udah kayak gini.
Hh, no prob. Yang penting tetep semangaat!
Aa, ini lanjutan soul. Maaf kalau terkesan luar binasa gaje-nya. Panda ngga bisa mikir lagi nih. Semua udah montok(?) ke sini.
Dan, terima kasih kepada semua yang sudah baca dan review. Makasih dukungannya :'D
Jangan lupa review lagi yaaa (jika berkenan)
Special thanks to: Nemui-Neko-chan(lovely beibh), RenCaggie (my bamou), Cyaaz(puppy no jutsu *plaak), FTS-Peace, Asuka-Mayu, popcaga, mili, cloudxlightning, lezala.
p,s: bales reviewnya telat gpp yaaa... soalnya, inet lagi... orz banget lah
