Bertahanlah, Soul. Hanya tinggal dua jam lagi, lalu semua akan selesai.

.
.
.

"Maka, boleh aku ikut kau belanja menggantikan Soul hari ini?" Kid bertanya sambil menopang dagu setelah Maka menyelesaikan makan siangnya.

"Hm? Boleh saja sih kalau kau mau. Apa ada sesuatu yang ingin kau beli?" Maka merapikan barang-barangnya setelah makan.

"Yah, kurasa." Jawaban yang membuat Maka terkikik. "Haha kok gitu sih, lah terus kenapa kau mau ikut aku belanja kalau kau tak mau membeli sesuatu?" Maka memiringkan kepalanya sambil memperhatikan Kid yang sudah sejak tadi selesai makan.

"Apa aku tak boleh masuk ke supermarket walau aku tak berbelanja?" Kid membalas sambil tersenyum, membuat Maka tertawa. "Baik, baik Kid, kau yang menang. Kau boleh ikut, tapi aku takkan membelikanmu barang meski kau merengek. Hihi."

"Heh. Harusnya aku yang bilang begitu, haha. Hei sudah lewat jam makan siang, nih. Ayo segera pergi." Kid beranjak dan berjalan ke arah Master untuk membayar bill. Maka mengikuti sambil mengeluarkan dompetnya, tapi ditahan oleh Kid. "Biar aku yang bayar, anggap saja ini karena telah menculikmu." Kid tersenyum.

"Dasar modus." Maka terkikik. "Kalau begitu aku ke toilet dulu, tunggu aku di luar yah." Kid mengangguk dan membiarkan Maka berjalan ke arah toilet kafe. Setelah membayar, ia berterima kasih dan berjalan ke luar kafe sambil menunggu Maka. Memperhatikan langit.

Hm. Cuacanya mulai gelap. Semoga nanti sore tidak ada hujan. Kid lalu bersandar dekat tembok pintu masuk, kemudian merapikan poni rambutnya supaya simetris. Hujan di musim gugur pasti dingin sekali.

Tak lama, Maka keluar dari kafe dan membuat Kid berdiri tegap. Ia memperhatikan gadis itu tersenyum lebar. "Maaf lama, Kid. Sekarang ayo kita jalan-jalan." Kid lalu berjalan mengiringi gadis itu. Memperhatikan wajahnya yang terlihat lebih hidup dengan rona warna nude di pipi, dan polesan pink tipis di lagi tatanan rambutnya yang lebih rapih dan simetris daripada tadi.

Shinigami itu sedikit merona ketika mereka berjalan beriringan, ia memalingkan wajahnya beberapa saat dan berusaha tidak memperhatikannya. Mereka berjalan di jalanan yang dipenuhi toko dan penjual di jalan. Maka melihat papan diskon di toko buku, lalu ia menoleh pada Kid.

"Kid, aku ingin ke toko buku ini sebentar. Tidak apa, kan?" Suara itu sedikit mengejutkannya. "Hm, tak apa kok. Kau mau beli buku baru lagi?" Kid bertanya sambil menggosok kedua tangannya. Hmm mulai dingin. Harusnya tadi kita bawa baju hangat. Tak kusangka, masih jam 1 siang tapi sudah mulai berangin.

"Ah, ya aku hanya mau membeli buku resep. Aku ingin membuat sesuatu.." Maka membuka pintu toko buku begitu mereka sampai. "Lagipula kebetulan sekali ada diskon untuk buku masakan, heheh.."

Mereka berdua masuk dan merasa lebih nyaman karena di dalam lebih hangat. Maka langsung berjalan ke arah rak penuh diskon buku, meninggalkan Kid di dekat pintu masuk. Gadis itu melihat tumpukan buku dan mengamatinya satu per satu. Ia memasukkan beberapa ke dalam keranjang yang tadi diambilnya ketika sampai.

Kid hanya menunggunya di dekat rak buku yang dekat pintu masuk. Ia menatap keluar jendela toko dan memperhatikan angin mulai berhembus lebih kencang, menebarkan dedaunan dari ranting pohon dan membuatnya berserakan di jalanan.

Hmmmhh. Aku ingin waktu berjalan lebih lambat. Kid mulai memikirkan banyak hal. Kepalanya terasa penuh, tapi ia diam saja.

Tak sadar, tiba-tiba ia merasa sudah berdiri di sana cukup lama. Ia langsung menengok arlojinya dan terkejut karena sudah ada dalam toko selama dua puluh menit. Ia menoleh untuk mencari Maka, dan mendapati gadis itu sudah ada di depan kasir dan membayar. Ia tersenyum ketika Maka kembali ke arahnya membawa satu kantung penuh berisi buku.

"Maafkan aku, Kid-kun. Aku perlu banyak referensi. Hehe." Maka haya tertawa kecil dan berjalan ke luar toko sambil memeluk kantung bukunya. Kid mengikutinya dan menawarkan diri. "Biar kubawakan."

"Ah..makasih. Tapi sebentar lagi kita akan sampai di swalayan. Akan kuitipkan bawaanku, jadi, tak perlu membantu.

Kid tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Ia sudah menganggap Maka seperti adiknya sendiri, dan ia menyukai Maka apa adanya. Begitu pula sebaliknya.

"Nah sudah sampai, akan kutitipkan dulu barangku." Maka pergi meninggalkan Kid dan menunju ke tempat penitipan barang. Kid masuk mengambil troli dan bergerak dari rak pertama. Ia mengamati barng-barang sambil menunggu Maka kembali. "Ah. Makasih sudah menunggu, Kid-kun. Nah sekarang mari lihat daftar..apa saja yg harus kubeli..."

Hari ini akan jadi hari panjang yang terasa singkat. Kid tertawa dalam hati.

"Ugh." Soul mengeluh di pertengahan jam terakhir. Sudah pukul dua siang dan belum juga ada kabar dari Maka. Soul berusaha keras untuk tidak segera keluar dari ruangan. Bertahanlah, Soul. Hanya tinggal dua jam lagi, lalu semua akan selesai.

Ia mulai sebal karena ketidakhadiran Maka. Ia mulai merasa lebih enak kalau ada Maka di sampingnya. Ia bisa tidur di kelas seperti biasanya kalau ada Maka. Tapi kali ini Soul harus repot-repot memperhatikan pelajaran karena Maka tidak hadir dan kini ia harus mencatat supaya tidak mendapatkan teguran -Maka Chop- dari partnernya saat ia di rumah mereka nanti.

'Rumah mereka'. Mendadak Soul jadi blushing dan ia jadi memerah karena dua kata itu. Kenapa ia jadi sesensitif ini? Padahal biasanya ia tak bereaksi apapun mengenai hal kecil tentang kepemilikannya dan Maka. Mungkin malah lebih banyak bertengkar.

Sial. Apaan pemikiran barusan. Soul lebih banyak mengumpat hari ini. Selain itu, ia jadi ingat mengenai hal yang mengganggunya sejak tadi. Mengenai Kid dan Maka. Mengenai hubungan rahasia mere- ugh. Stop, stop. Ia harus konsentrasi dengan pelajaran, supaya saat pulang ia bisa menyenangkan hati Maka dengan catatannya hari ini.

Ia kembali fokus ke papan tulis. Menyebalkan sekali hari senin ini dibuat membosankan dengan tak ada pelajaran outdoor. Ia mengecek kolong mejanya dan lega karena bungkusan itu masih ada, dan ia terus fokus menulis sambil mendengarkan. Tsubaki yang duduk di sampingnya daritadi hanya tersenyum melihat temannya itu.

Berjuanglah, Soul-kun. Hihi.

Lalu tanpa ia sadari, waktu berlalu begitu cepat hingga jam sudah menunjukkan pukul empat kurang dua puluh. Saatnya untuk segera pulang. Ia bergegas merapikan barang bawaannya dan tak sabar segera pergi mengantar meisternya berbelanja.

Oh, tapi di mana Maka?

Ia menyalakan ponselnya yang sedari tadi dimatikan. Ia merasa bodoh karena tidak adanya kabar dari Maka adalah salahnya sendiri. Soul mendesah lalu membuka ponselnya dan melihat. Ada pesan masuk. Dari Maka.

'Soul, tak perlu mengantarku belanja, aku sudah perjalanan pulang dari supermarket bersama Kid. Usai sekolah kau langsung pulang saja.'

From: Maka, Mon14:48PM

Ugh sudah sejam yang lalu.