DESCLAIMER : I have'nt Naruto and chara
JUDUL : Dark Moon and Moon Light
RATE : T
AUTHOR : Aftu-kun
~o0o~
Hallo minna-san! Ketemu lagi dengan saya. Saya sedang berada di lautan tumpukan pelajaran akan melaporkan 'tugas' fanfiction.
Di tengah tengah maraknya ujian sekolah yang sedang berlangsung, saya curi-curi waktu buat nulis nih fic .hadehhh pusing saya. Tapi, saya pusing bukan karena ada ujian tapi karena 'kenapa fic saya selalu dan selalu mempunyai words minim?' sudahlah lupkan masalah tadi. Itu beban author bukan beban readers.
Saya akan bahas sedikit tentang cerita ini. Baik intrinsic maupun ekstrensik.
Cerita ini menceritakan tentang kekuatan sebuah otak individu.
Setting latar tempat pada cerita menggunakan sekolah sebagai latar tempat utama.
Author tidak akan menjamin kalau Cerita update kilat maupun teratur/rutin.
Kadang-kadang terdapat typo –seperti chapter kemarin- yang dapat terjadi lagi dikarenakan saya mengetik dengan dua software yang berbeda yaitu Microsoft Word dan KingSoft.
Disini Naruto di jadikan sebagai tokoh sempurna(muingkin?).
~o0o~
Bulan pada mala mini membulat sempurna. Tiada awan yang menghalangi. Cahaya rembulan masuk melalui jendela dengan mudahnya.
Terlihat didalam ruangan seorang berumur sedang membaca buku di sdudt ruangan. Sambil sesekali menyesap rokoknya orang tua itu membalikkan buku dengan tebal lebih dari 5 cm. kakek itu menghembuskan asap putih dari mulutnya. Sesekali melihat kea rah jam beker yang tertata rapi di atas meja kecil bermotif daun di sampibg ranjangnya.
Dialah Danzo. Direktur utama sebuah pabrik terkenal dengan produk kerajinan kayu yang mendunia. Dialah yang membuat bentuk pola ukiran untuk di tempelkan di atas kayu kayu berkualitas.
Produknya yang mendunia menyebabkan mahalnya hargabarang yang di jual oleh pabriknya. Bahan berkualitas dan di olah pengerajin yang tak sembarang orang dapat mengukir pola sang direktur utama.
Tapi, tak banyak orang yang mengetahui bahwa di dalam ia berbisnis. Sudah ia campurkan kelicikan di setiap perkemabangan produk agar tak ada yang bisa menyainginya.
Danzo selalu menyuruh seorang untuk mengancam saingannya terlebih dahulu. Dan kalau saingannya ternyata keras kepala. Maka tamat 'lah riwayat hidupnya.
Danzo menganggap bisnis ialah prioritas utama. Dengan ia berbisnis iakan mendapat uang. Dengan uang dia bisa membeli apa yang ia mau mobil, rumah, pesawat pribadi, bahkan wanita sudah ia dapatkan.
Sekarang ia sedang ada di kamar tidur di apartemen pribadinya. Membaca buku sejarah ukiran mendunia dan melegenda. Mencoba untuk membuat motif untuk fi tempelkan di prabotan rumah tangga.
Angin malam yang dingin masuk karena jendela yang belum tertutup. Hanya lampu baca yang menyinari ruangan apartemen itu. Gelap di setiap sudutnya.
Tiba-tiba saja lampu mati tanpa sebab. Membuat ruangan hanya berisi kegelapan. Danzo hanya menghela nafas. Mencoba mencari telfon genggam yang ia taruh di samping buku tebal.
Wajahnya terlihat siratan sebal. Keriput yang ada di wajahnya semakin banyak ketika mengetahui tidak adanya sinyal tertangkap di telfon bermerek nokia.
'Srek' Danzo mencoba siaga dengan suara dari jendela yang terbuka. Hatinya berdebar dengan cepat. Ia harus wapada dengan makhluk yang mungkin sedang mengincarnya.
Tangan berisi tulang dan otot menempel ke arah belakang lehernya. Hawa dingin semakin menusuk setiap sendinya. Matanya hanya dapat melihat hamparan bayangan hitam.
Dan secara cepat dan tak kasat mata sebuah pisau melesat cepat dari arah sudut ruang dekat jendela. Menusuk tepat di tengah rusuk sebelah kiri. Darah keluar pelan tapi pasti mengalir membasahi baju coklata bermerk.
Sosok dari sudut ruangan keluar dari persembunyiannya. Berdiri tepat di bawah siraman sinar rembulan. Senyuman sinis tercipta disudut bibirnya. Kekehan kecil tercipta. Rambut jabrik sang sosok berkibar. Sinar rembulan menyinari sosok berambut pirang itu.
"Itulah balsan yang pantas bagimu. Oh..oh.. tidak, ini masih kurang dari kata cukup" ucap sosok jabrik dengan berjalan santai ke arah Danzo yang masih menahan sakit.
Danzo langsung membulatkan matanya ketika tangan dingin menjambak rambutnya. Mengangkat kepalanya dan sedikit demi sedikit menampakkan wajah kaget. Dia sekarang barharap agar tak meregang nyawanya malam ini."kau akan kehilangan nyawamu malam ini. Mungkin, balasan yang ku berikan padamu tak sepadan dengan apa yang kau lakukan. Menganggap nyawa sseorang seperti mainan."
Sosok jabrik itu dengan tangkas mengambil pisau kecil dari kantong kecil celananya. Mengangkatnya pelan. Pisau kecil itu tampak berkilau di bawah siraman cahaya rembulan. Seperti cahaya kehidupan menerangi kubangan kegelapan.
Tapi tidak untuk sekarang. Benda kecil itu dapat menghentikan seseorang untuk bernafas. Menghentikan jalur taksir yang seharusnya berjalan layaknya air mengalir. Tapi jika jalan air itu tertutup, maka air menjadi tersumbat. Apakah jalan takdir akan berubah? Membuat jalan takdir yang baru? Itu semua rahasia kami-sama. Dan tak akan pernah ada yang tau akan alur takdir.
Sambil terus merasakan dinginnya lantai Danzo juga harus menahan rasa sakit di dadanya. Darah mrah kental terus menetes lantai. Mengotori ubin-ubin putih dengan corak bunga.
"Uhuk.." tangan lemasnya mengatup darah segar dari mulutnya. Sosok jabrik itu hanya sumringah akan kondisi korbannya.
'JLEB'
Tusukan pisau dengan kencangnya menembus setiap lapisan kulit. Melewati rongga dada mengoyak gumpalan darah yang terus melemah. Pasokan darah dari jantung juga mulai berkurang. Matanya berkunang-kunang. Ingin rasanya Danzo menghirup udara segar. Duduk tenag di tepi pantai. Ditemani segelas kelapa muda. Tetapi keadaan tubuhnya menyadarkannya dari angan belaka.
'JLEB'
Tusukan pisau kembali terdengar. Bau anyir mulai menyeruak dari apartemen kamar Danzo. Darah terciprat ke dinding apartemen. Menghiasinya agar lebih berwarna akan sebuah seni dari seorang jabrik.
Sosok jabrik itu berdiri. Membiarkan pisau kecil bersarang ditubuh korbannya. Senyumnya mengembang. Memperlihatkan rasa puas akan ssebuah pembalasan dendam. Diinjak dada korbannya, mendorong sebilah bilati agar dapat lebih masuk ke dalam tubuh objeknya.
'tok tok tok'
Sosok jabrik itu menoleh ke arah pintu. Mencoba berpikir apa yang akan ia lakukan pada Danzo yang sudah berupa mayat. Sesudah mengambil keputusan, mulailah ia berkarya…
~o0o~
" Ditemukan mayat seorang pebisnis terkenal, Danzo. Mati mengenaskan di apartemen pribadinya. Juga ditemukan beberapa barang bukti beberapa pisau di tempat kejadian. Menurut saksi (seorang pelayan) saat dia membuka pintu apartemen dia melehatsekelebat bayangan dengan rambut jabrik keluar melalui jendela…"
Terlihat dua wanita sedang duduk di sofa dengan botol di tangan mereka. Kedua wanita itu mempunyai rambut dengan corak berbeda. Yang tengah meneguk botol minumnya berambut soft pink dan wanita yang tengah asyik memainkan gasdgetnya berambut pirang pucat dan juga terlihat lebuh dewasa.
"Bagaiman sekarang perasaanmu, Sakura?" Tanya Tsunade sambil memiringkan tubhnya agar lebih nyaman berbicara dengan muridnya. Matanya tak beralih dari gadget yang ia bawa. Bajunya juga sudah basah karena keringat.
Sakura juga membalikkan badannya sambil terus mengusap keringat di pelipisnya. "Yah, ini lebih enakan dari pada dulu saat belum anda latih Tsunade-sama" katanya dengan senyum manisnya.
Bulan ini memang bulan sangat menyibukkan bagi Tsunade. Dia harus member latihan pengontrolan emosi pada salah satu muridnya. Di karenakan muridnya yang gampang tersulut amarah. Dan dialah yang harus turun tangan. Membimbing muridnya sekaligus anggota dari organisasi yang ia pimpin dengan suaminya, Jiraya.
Perkembangan Sakura dari hari ke hari semakain meningkat. Dulu ia sangat menakutkan ika ia marah, dan sekarang ia lebih bisa mengontrolnya. Auranya juga sudah berubah drastis sekarang ia lebih terlihat anggun dan tenang.
Tsubade menatap bangga pada muridnya. "Aku bangga padamu" ujar Tsunade. Tsunade kini berjalan ke arah Bar mini dengan meja dan kursi minimalis. "Tsunade-sama sebaiknya anda tidak meminum itu. Itu tidak baik untuk keshatan anda Tsunade-sama" Sakura kemudian berdiri dan mengikuti arah tujuan sang guru.
"Saya ber-hak untuk melarang anda Tsunade-sama. Jika anda meminumnya sekarang jadwal harian untuk hari ini akan kacau. Sebaiknya anda tunda dulu nanti malam" Sekarang Sakura memang lebih dekat dengan gurunya. Seperti ibu dan anak. Saling mengingatkan.
Tsunade tak percaya sekarang muridnya berani melarangnya meminum sake, minuman favoritnya. Ia hanya cemberut menelan kekecewaan karena tak dapat menikmati 'air kebahagiaan' milknya. Tapi Tsunade juga meklum atas kekhawatiran sang murid, karena dulu juga pernah ia ketagihan minum pada siang hari. Dan beberapa jam kemudian ia sudah tertidur di sofa. Membuat suaminya harus menggantikan semua jadwal kegiatan hariannya. Dan beruntungnya pada saat itu Jiraya sedang tidak ada pekerjaan alias nganggur.
Sakura dan Tsunade kin duduk berhadapan di bangku mini bar. Raut muka Tsunade berubah seketika menjadai serius. Mungkin ia akn membicarakan hal penting.
Tsunade menepuk pundaka anak didiknya. "Sakura" panggilnya. Sakura menatap mata Tsunade dengan intens. "Menurutku peristiwa yang lalu itu memang bukan salah Naruto. Tak mungkin ia berbuat seperti itu pada mu. Itu sangat di luar pikiran kita tentang Naruto" lanjutnya. Sakura juga mulai sadar jika orang misterius berambut jabrik itu bukan Naruto.
"Saya juga mempunya pendapat yang sama dengan anda. Pada saat kutanya dia menjawab tidak tau" Ungkapnya.
"Dan kau lihat tayangan tadi. Itu membuktukan bahwa bukan NArutolah pelakunya. Tadi malam kita berlatih di sini. Tak mungkin ia sempat meningglakan markas ini dan membunuh seseorang." Tsunade yakin bahwa Naruto bukan pelakunya.
Tadi malam ia melihat NAruto berlatih dengan suaminya, Jiraya. Ia juga mendengar percakapan bahwa NAruto akan menginap malam ini. Suungguh ia tak habis pikir siapakah pelakunya.
~o0o~
Oke, terima kasih reader-san telah mebaca update-an pendek saya. Maaf chap yang saya buat selalu sedikit wordsnya. Karena keterbatasan alat untukmengetik. Sekarang juga sedang hari-hari ujian jadi saya harus mengoptimalkaan pada belajarnya *padahal malah buat puisi*.
Dan untuk informasi lagi. Saya tekankan bahwa saya tetap akan melanjutkan ceritanya.
Sebelumnya terima kasih
Aftu-kun
out
