FYI Corner : Point Guard itu adalah salah satu posisi di olahraga basket. PG itu adalah play-maker dari sebuah tim, maka dari itu rata-rata PG itu adalah pemain yang berpengalaman dan cerdas agar bisa menentukan strategi penyerangan ketika berada di lapangan dan kepada siapa harus mengoper bola.

Small Forward itu juga posisi di olahraga basket. Saya sendiri kurang tahu mendetail dari SF, tapi kebanyakan SF itu bukan pemain yang hebat-hebat amat di sebuah tim dan tidak terlalu sering mencetak angka di permainan. Pemain terlemah dalam sebuah tim kebanyakan adalah SF. Hanya di anime Kuroko no Basuke saja seorang Small Forward menjadi Ace, sepertinya sih.

Kuroko no Basuke atau Kuroko's Basketball... Yah ini anime bergenre olahraga paling ngetop akhir-akhir ini. Untuk yang suka olahraga sekalipun tidak terlalu suka anime, saya sarankan nonton ini. Terselip banyak pesan-pesan moral dan pengetahuan penting di sana, terlebih mengenai olahraga basket.


Malam ini bulan purnama bersinar terang tepat di atas kepala Seokjin. Menghela nafas, pemuda berusia dua puluh tahun itu mengadahkan kepalanya—membiarkan angin malam memburu wajahnya. Tudung kepala dari jaket warna hijau-putihnya berkibar kecil, beberapa helai rambut kecokelatannya menyembul keluar.

Ketika suara langkah kaki terdengar, Seokjin menoleh ke belakang.

"Hyung?" suara Jimin pun menyahut dari belakang. Meski begitu Seokjin tidak bisa melihat wajahnya, ia hanya melihat sesosok pemuda berdiri di ujung jalan dengan hoodie merah NBA. "Kau di sana?"

"Hm," hanya itu jawaban Seokjin. Dia kembali memandang ke depan, berusaha mengabaikan kehadiran Jimin. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Mengejarmu?"

Seringai kecil pun tercipta di bibir Seokjin. "He, aku bahkan tidak pergi jauh dari rumah," Seokjin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya lalu berdecak kecil. "Dan kita tidak sedang bermain kejar-kejaran."

"Memang tidak,"—suara Jimin terdengar lebih dekat sekarang. "Kita masih berada di dekat rumah,"—dan terdengar lebih dekat lagi. "Sudah terlalu besar bagi kita untuk bermain kejar-kejaran,"—semakin dekat. "...Bukan begitu, Jin hyung?!"

Dan saat suara Jimin terasa berdesir tepat di depan telinga Seokjin, ia merasakan sensasi benda dingin menempel di lehernya. Rasa dingin itu semakin menembus ke dalam lehernya dan lama-lama menciptakan rasa perih yang familiar.

"Aku belum selesai bicara, Jin hyung."

Permukaan sebuah belati dengan panjang lima belas senti tampak berkilau ditimpa cahaya redup rembulan. Seokjin menelan ludahnya, sadar bahwa sisi tajam belati itu ditekankan pada lehernya—tepat di mana urat nadinya berada.

Perlahan tapi pasti wangi anyir darah benar-benar merasuk ke indra penciuman Seokjin. "Aku tengah mengejarmu dan berusaha memilikimu, Jin hyung," benda basah dengan permukaan yang tidak rata menempel di leher Seokjin yang berdarah. Seokjin mengenalinya sebagai lidah Jimin. "Anggap saja luka-luka yang kubuat ini adalah tanda bahwa Jin hyung itu milikku."

Iris Seokjin melebar. "...Luka-luka?"

Lidah Jimin menari singkat di permukaan leher mulus Seokjin. "Kau menyadarinya, hyung," bibir Jimin tergerak untuk membentuk seringaian. "Masih ada beberapa luka lagi yang bisa kuciptakan di tubuhmu yang indah bak lukisan Picasso."

Rasa mual, takut dan ngeri mendadak bercampur di otak Seokjin. Perutnya mulai bergejolak, siap memuntahkan semua menu makan malamnya beberapa jam yang lalu. Dia tidak pernah ingin mati di tangan seorang pemuda yang lebih muda darinya. Atau lebih universalnya, ia tidak pernah ingin mati karena dibunuh.

Logam dari belati rasanya semakin menusuk lebih dalam, membuat lukanya semakin lebar. Seokjin memejamkan matanya, berharap kelenjar air matanya tidak memproduksi air mata atau seseorang menyadari tindakan Jimin yang bagai orang gila ini sesegera mungkin.

Dan pemandangan pun langsung berganti.

Nuansa merah muda datang dari semua sisi secara kabur. Semakin lama Seokjin bisa melihat sebuah lemari pakaian besar, meja belajar, rak-rak buku dan beberapa pigura foto menghiasi kamar tersebut. Dia menoleh dan menemukan laptopnya ada di sana, menayangkan sebuah anime Tokyo Ghoul yang tengah di-pause.

Jendela menunjukan siluet sempurna sore hari. Jam digital di dinding berkedip-kedip sambil menampilkan digit '16:33' berwarna kuning nyentrik. Sontak Seokjin langsung meraba lehernya. Mulus, seperti biasa.

"Yokatta...,"[1]

Entah pengaruh anime gore kesukaannya atau rasa frustasi karena Jimin—Seokjin tidak tahu apa yang membuatnya bermimpi mengerikan seperti itu.

.

Brothers Conflict

.

.

Bangtan Boys © BigHit Ent., their fams, their God.

Brothers Conflict © Mato-san a.k.a gue/?

.

Destroy, destroy

Is it enough? It's not enough. I have an insatiable impulse of destruction

Fragile, how fragile, fragile humans are.

After all, nothing more than discarded puppets

"For what purpose was I created?" please tell me the answer.

—Karakuri Burst by Kagamine Rin & Len

.

chapter vi ; aidoru

.

Tenggorokan Seokjin rasanya benar-benar kering seperti daeeah Australia Barat.

Dia melangkah menuju dapur untuk meminum beberapa gelas air mineral, dan beberapa mililiter jus atau susu jika ada. Mungkin dia harus memanggil beberapa pelayannya untuk membuatkannya salad dengan takaran mayonaise yang dilebihkan, karena alasan Seokjin suka salad itu sederhana dan bersangkutan akan mayonaise. Cuma salad yang memperbolehkan takaran mayonaise lebih dari lima sendok makan—dan asal kalian tahu, mayonaise itu enak.

"Oh, halo Seokjin hyung."

Serius, Seokjin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak cemberut ketika menemukan Taehyung tengah berdiri di mini bar dapur; meminum sebuah minuman berwarna oranye gelap yang bisa Seokjin kenali sebagai Thai Tea.

Ingatkan Seokjin untuk membeli krim wajah anti-kerut minggu depan.

.

Es di gelas Seokjin mulai mencair. "Kemana Jungkook dan Jimin?" tanya Seokjin, berusaha membuat wajahnya agar tidak terkesan peduli. "Biasanya kau bersama mereka berdua."

"Mereka ada di kamarku," jawab Taehyung, menyeruput Thai Tea-nya lalu menyeringai. "Apakah ini sebuah keberuntungan, aku bertemu dengan hyung di dapur ketika aku sedang meminum Thai Tea?"

"Sebagai pengingat. kita bertemu setiap hari."

"Tapi tidak setiap hari aku meminum Thai Tea."

Kening Seokjin mengkerut. Dia tidak bisa menemukan apa hubungan dirinya dengan minuman teh berwarna oranye pekat tersebut. "Apa sangkut pautnya?"

Taehyung nyengir. "Sebenarnya tidak ada sih."

Iman Seokjin kuat, Ya Tuhan. Dia tidak akan tergoda untuk mencekik remaja banyak salah di hadapannya hanya karena melihat cengirannya yang memuakkan. Jadi Seokjin memutuskan untuk tetap bersikap tenang dan berwibawa seperti orang dewasa dan bergumam kecil. "Oh."

"Namjoon hyung akan pulang lima menit lagi," kata Taehyung, melirik jam dinding di dapur sambil bergumam. "Dan ngomong-ngomong, Jin hyung tidak pernah bertemu Namjoon hyung sebelumnya kan?!"

Seokjin menggeleng tenang sambil meminum air yang mengisi gelasnya.

Bunyi gesekan kursi terdengar dari arah Taehyung. "Kau tidak penasaran seperti apa rupa Namjoon hyung?"

"Ngapain," dengus Seokjin acuh. "Aku bukanlah remaja yang selalu kepo pada lingkungan sekitarnya."

Taehyung terkekeh kecil. "Dinginnya."

Setelahnya hanya ada hening. Seokjin menatap isi gelasnya dengan kosong karena ia sama sekali tidak berniat memandang Taehyung sementara Taehyung sepertinya meliriknya berkali-kali. Bodo amatlah. Asal dia tidak berbuat apa-apa Seokjin rasa tidak mengapa.

"Hyung?!"

"Hm?!"

Helaan nafas terdengar. Seokjin benar-benar malas mengalihkan pandangannya dari gelasnya. "Menurutmu aku, Jungkook dan Jimin itu seperti apa?"

Seperti orang idiot, iya. "Seperti adik," jawab Seokjin dengan sangat enggan. "Dalam konteks yang tidak baik. Serius, kalian bukanlah adik-adik manis yang seperti kuharapkan."

"Bagaimana kalau kami juga tidak menganggapmu sebagai kakak?"

"Semua orang memiliki kebebasan untuk menentukan kepada siapa mereka harus hormat pada seseorang," meski begitu dada Seokjin terasa nyeri ketika mendengar pertanyaan Taehyung. "Tetapi tetap menunjukan rasa hormat itu penting, menurutku pribadi."

Bel rumah berbunyi. Seokjin sama sekali tidak berniat membukakan pintu, dia yakin pasti ada maid yang membukakan pintu dan melayani tamu. Kemungkinannya kecil kalau tamu itu ingin menemuinya.

"Namjoon hyung sudah pulang," Taehyung melipat kedua tangannya di dada lalu berdecak-decak tidak jelas. "WOY JIMIN! JUNGKOOK! NAMJOON HYUNG SUDAH PULANG!"

"Bisa tidak sih kau tidak berteriak?!" desis Seokjin gemas. "Benar-benar polusi suara."

"Maaf." Taehyung nyengir (merasa) tidak berdosa.

.

Tanggapan pertama Seokjin saat melihat sosok Namjoon. Sepertinya pemuda itu lebih waras ketimbang tiga biri-biri mengganggu itu.

Penampilannya rapi. Kemeja abu-abu gelap dengan celana hitam dikenakannya—tak lupa senyum semu bercampur lelah terpasang beserta lesung pipitnya. Tangan kirinya memegang sebuah map biru yang tebal sementara tangan kanannya menjinjing tas ransel berwarna cokelat tua.

"Hoseok sudah pulang?"

Hanya itu yang terlontar darinya saat dia meletakkan barang-barangnya di meja makan. Jungkook dan Jimin yang sudah ikut hadir di sana hanya menggeleng.

"Padahal tadi dia izin pulang duluan," gumam Namjoon lalu melangkah ke arah pantry, mungkin hendak mengambil minum. Dia melonggarkan dasinya sementara mata Seokjin terus mengamati gerak-geriknya. "Apa mungkin dia ikut street dance lagi?!"

"Main basket," jawab Jimin dengan nada malas. "Pamer kehebatan sebagai Point Guard."

"Dia itu Small Forward, bodoh." Celetuk Taehyung.

Alis Jimin terangkat lalu ia mendengus. "Siapa peduli?! Ini street ball. Dia bisa saja bermain three-on-five. Atau jadi center dengan tinggi badan segitu."

Membicarakan olahraga basket membuat Seokjin teringat akan anime Kuroko no Basuke. Ah sudahlah.

"Ngomong-ngomong aku tidak pernah melihat Namjoon hyung bermain basket." Jungkook buka suara.

"Yang jago main basket itu Suga hyung bukan aku," gumam Namjoon lalu meneguk segelas air sekaligus. "Perasaanku saja atau memang sedari tadi ada orang lain di ruangan ini?!"

Hening. Seokjin memutar bola matanya.

"Jika yang kau maksud itu kau, aku sedari tadi duduk di sini bahkan sebelum kau datang."

Dan mendadak air yang siap meluncur melalui tenggorokan itu tersembur dari mulut Namjoon.

.

"Seriusan aku tidak menyadarimu hyung!"

"Sudah jelas."

"Bagaimana kau bisa berada di situ tanpa kuketahui?!"

"Hawa keberadaanku ini tipis."

"Mengapa kau tidak bersuara atau memperkenalkan dirimu?!"

"Kim Seokjin imnida, phantom man."

"Dan mengapa wajahmu seperti model-model yang sering kulihat di televisi?!"

Oke, arah pembicaraan ini mulai berbahaya. Jungkook sedari tadi menahan kikikannya sementara Taehyung sudah benar-benar tertawa. Jimin hanya memainkan PSP-nya, Seokjin mulai curiga bahwa anak itu adalah anak yang anti-sosial. "Itu hanya tipuan cahaya belaka," jawab Seokjin datar. Dia memang model, tapi cuma model majalah kampus. "Berjuta-juta orang Korea memiliki rambut kecokelatan sepertiku dan bibir seperti ini."

"Benarkah?!" Namjoon memajukan wajahnya dengan bersemangat. "Banyak orang yang melakukan operasi plastik dan memiliki wajah seperti itu."

Penghinaan fisik rupanya. "Jadi kau bilang aku ini operasi plastik?!"

"Ya mungkin."

Frontal sekali. Tapi Seokjin malas untuk menanggapinya dengan semburan kemurkaannya jadi dia hanya berdecak kesal. "Pemikiranmu itu dangkal sekali."

Mata Namjoon melebar penuh antusias. "Wah, Jin hyung sangat frontal!"

Mengapa bocah itu memiliki pemikiran yang hampir sama dengan Jin?! Apa dia ini pembaca pikiran?! Seokjin jadi cemas sendiri.

"Errr... Kau juga," Seokjin nyengir kuda. "Senang bisa berkenalan dengan orang frontal sepertimu."

Seokjin bisa mendengar Taehyung dan Jimin mendengus karena geli.

"Oh ya hyung," Namjoon meneguk airnya lagi lalu menatap Seokjin dengan serius. "Kau kenal siapa aku?"

"Kim Namjoon?!"

"Lebih detail."

"Siapa kau?"

Jungkook menepuk bahu Namjoon lalu tersenyum. "Hidup Jin hyung hanya berotasi pada karya sastra dan sesuatu yang berbau Jepang. Jadi jangan menanyakan hal-hal seperti itu."

"Oh begitu," gumam Namjoon lalu dia tersenyum cerah sekali. "Aku Kim Namjoon, salah satu member dari duo Rap'Broyang debut lima bulan lalu. Member lainnya adalah Suga hyung hehe, cukup menyenangkan memiliki saudara yang bisa diajak duet."

Sedetik.

Dua detik.

Tiga detik. Seokjin baru mengerjapkan matanya. "Rap'Bro? Itu produk makanan baru dari Lotte?"

Bunyi retakan suatu benda pun terdengar.

.

Setelah lantunan rap lembut yang diiringi musik gitar akustik itu berhenti, Seokjin baru melepas headphone biru metalik milik Jungkook lalu mengangguk-ngangguk paham. "Jadi kau ini orang yang membuat Chanyeol berambisi sekali untuk membuat grup duo dengan Myungsoo?!"

"Apa?!"

"Aku punya seorang teman di kampus yang menggilai single debutmu itu, 'Fight or Flight'," terang Seokjin dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti. "Dia ngotot mengajak temanku yang lainnya untuk ikutan membuat duo. Kuakui mereka berdua keren sekali saat bermain gitar dan mampu membuat lagu yang bagus."

"Benarkah?!" tanya Namjoon cerah lalu mematikan laptopnya. "Bisakah mereka memberikan salah satu lagu mereka padaku?! Kreditnya tetap akan menjadi milik mereka, tenang saja."

Seokjin tersenyum pahit. "Aku tetap mendukung mereka berdua untuk menjadi entertainer seperti yang mereka impikan. Jadi jawabannya tidak," jawab Seokjin lalu terkekeh paksa. "Tapi kuakui lagu 'Fight or Flight' yang kau buat itu keren sekali. Maksudku, benar-benar menggambarkan jelas perasaan laki-laki."

Perasaan laki-laki yang pengecut, iya. Masa mau mengatakan rasa suka kepada pujaan hatinya harus bimbang empat musim dulu.

"Aku rasa lagu 'Fight or Flight' tidak mewakili banyak perasaan laki-laki," balas Namjoon lalu mengusap tengkuknya. "Ini hanya berdasarkan pengalaman pribadiku."

Oh, dia pernah labil mau mengatakan perasaannya pada seorang gadis selama empat musim?!

"Pengalaman pribadiku mengamati Hoseok yang galau. Referensi yang buruk, tapi cukup bagus."

Seokjin bingung harus berkomentar apa. "Kalau itu referensi yang buruk, mengapa kau menganggapnya bagus dan memilih untuk mengubah kejadian itu menjadi sebuah lirik lagu?"

Namjoon menyeringai. "Karena Jungkook dan Jimin tidak bisa diandalkan?!"

"Mengapa kau malah terdengar ragu?!"

"Aku benar-benar tidak tahu soal lirik lagu cinta-cinta," gumam Namjoon. "Kebanyakan adalah agensiku yang membuatkan liriknya. Dan Suga hyung sangat pandai dalam membuat nada-nada lagu tanpa lirik, jadi kami menggunakan lirik tersebut untuk mengisi lagu instrumen Suga hyung. Komposer yang mengagumkan. Kurang lebih begitulah."

Meski Seokjin bertanya-tanya siapa itu Suga, dia memilih untuk tidak bertanya. "Tapi kalian cukup bagus kok," puji Seokjin, tidak benar-benar memuji sebenarnya. "Tapi aku tidak pernah melihat nama kalian masuk dalam Oricon Charts."

Namjoon memandang Seokjin tanpa kedip.

"Ini musik Korea, hyung. K-Pop," kata Namjoon lambat-lambat. "Kurasa Oricon Charts itu tangga musik untuk lagu-lagu berbahasa Jepang atau J-Pop bukan?!"

Wajah Seokjin terasa panas. Sungguh.

.

"Aku tidak pernah tahu rasanya memiliki hyung yang bisa membuatkan lirik bagus itu menyenangkan," komentar Namjoon sambil memegang lembaran partitur di tangan kirinya. Seokjin hanya tersenyum sambil mengambil Stabilo Pen 68 dan menuliskan beberapa patah kata di selembar sticky notes kosong warna merah muda. "Suga hyung tidak buruk sebenarnya. Tapi saat aku sedang bekerja sama dengannya, yang kuketahui adalah sepanjang waktu aku hanya mendengar banyak irama tanpa lirik yang terkadang sangatlah abnormal."

"Senang bisa membantu," tanggap Seokjin, tidak tahu harus menjawab apa lagi. "Kebetulan aku ini penulis. Jadi aku memiliki banyak inspiransi," Seokjin kembali tersenyum. "Tidak buruk juga kan, menjadikan sebuah puisi menjadi lirik lagu?!"

Namjoon bergumam sebelum kembali melihat beberapa lembar kertas yang sudah tertulis beberapa lirik lagu di permukaannya dengan berbagai macam warna tinta untuk mempermudah membacanya. "Aku harus menunjukkan ini ke agensiku."

"Lakukanlah," kekeh Seokjin sambil melirik arlojinya. Pukul tujuh malam. Sudah waktunya makan malam. "Mari kita makan malam."

Seokjin pun berdiri sambil merenggangkan otot-otonya yang terasa kaku. Dia hendak melangkah ketika tangannya ditahan. Seokjin menoleh seketika.

Hangat.

"Terima kasih hyung!" hidung Seokjin sempat bertabrakan dengan bahu Namjoon meski tidak terlalu sakit. "Aku senang sekali memiliki hyung sepertimu! Bolehkah aku menjadikanmu idola?!"

"Y-Yeah...,"

Seokjin tidak akan menjawab seperti itu jika saja kedua tangan Namjoon tidak terkalung pada lehernya dan mengacak-ngacak rambutnya dengan kekeh terpasang di wajahnya.

Tidak tega?! Bukan, bukan. Dia hanya kasihan melihat seorang penyanyi yang bahkan tidak tahu cara membuat lagu yang bagus. Rapper masih termasuk penyanyi kan?!

Dan kalau boleh jujur, dekapan Namjoon terasa hangat dan bersahabat.

"NAMJOON HYUNG JANGAN PELUK-PELUK JIN HYUNG!"

Oh, Seokjin hampir lupa pada fakta bahwa dia masih punya beberapa adik lagi yang benar-benar pencemburu, merepotkan sekaligus paranoia.

Ketika Jungkook merangkulnya dan mengambil alih dirinya dari pelukan Seokjin, yang bisa Seokjin lakukan hanya tertawa kecil (dan memelas) lalu membiarkan dirinya diseret menuju ruang makan untuk melaksanakan makan malam bersama.

"Ittai...," [2]

Seokjin ragu ada seorang pun yang mendengar ringisan infrasoniknya itu.

.

.

[1] : "Syukurlah." (Japanese)

[2] : "Sakit..." (Japanese)

.

.

End of chapter vi ; aidoru

Next chapter spoilers!

.

"Aku berubah persepsi!"

.

"Jika selama ini kau konstanta, aku siap menjadi variabel sehingga kita bisa menjadi satu suku yang bernilai."

.

Next chapter! Here Comes Chaos!


A/N : Apaan tuh judulnya Aidoru?! /dihajar. Btw, aidoru itu artinya idol dalam aksen Jepang. Yah semacam bahasa Inggris yang ditulis dalam alphabet Jepang, saya lupa itu disebut apa /nggak.

Dan terima kasih atas PM dari shin hy 39 yang ngingetin saya soal update. PM kamu benar-benar membakar semangat saya lho! :D

Mind to Review? :9