MAAF lama update! ide mentok nih! percuma juga bengong di depan note book (ngeliat foto shinran) tapi tetep kagak ada inspirasi! jadi makluminya kalau ceritanya agak aneh! #bungkuk bungkuk

oh ya, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankanya.

TERIMAKASIH BUAT YANG REVIEW!

ok. gak usah lama-lama.. langsung aja yah, ke cerita.

cekkidot


Detective Conan milik bersama#plak!
-Oyama Gosho-


Chapter 6: SMILE IN MY HEART

Shinichi Pov

Dua minggu berlalu setelah peristiwa itu. semuanya tampak sibuk dengan kasus Gin yang menyerang Ran. koran koran dan juga televisi terus membahas kejadian dua minggu lalu. petugas sering terlihat datang ke SMA TEITAN. Karena pihak sekolah yang tidak meliburkan para murid dikarenakan ujian nasional. sekolah kami dijaga ketat oleh petugas . Setiap siswa yang masuk harus terlebih dahulu diperiksa. teman temanku di Teitan selalu menanyakan kejadian yang menyebabkan Ran terluka. Dan aku selalu mengatakan 'akan ku beritahu jika semuanya sudah terungkap'. Sonoko, dia seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Kerjanya hanya menangis dan mengomeliku. aku pun tidak tinggal diam. Aku meminta guruku untuk memberiku semua mata ujian yang diujikan. Agar aku bisa menyelidiki kasus itu. semula guru menolak. Tapi aku yakinkan mereka dengan kemampuanku.

Ah ya! satu lagi yang terlewatkan! Haibara , oh bukan! Shiho! Dia kembali ke Jepang. Sesuai jadwal, dia kembali ke Jepang sehari setelah penyerangan itu. Seperti yang kuduga, Shiho kembali bukan untuk berkunjung –seperti yang ia katakan di telpon- tapi, kedatanganya adalah untuk menyelidiki pergerakan BO yang sudah ia duga sebelumnya. Tak kusangka, ia bisa merahasiakan hal sebesar itu padaku! Dan sejak hari itu, kami sering bertemu untuk menyelidiki kasus BO.

Aku dan Shiho, saat ini sedang menyelidiki TKP di gudang sekolah. kami sebisa mungkin mengumpulkan data dari kepolisian yang berhubungan dengan BO. inspektur mengatakan bahwa bawahanya menemukan tubuh Vodka yang tertembak di sungai yang berdekatan dengan gedung sekolah Teitan.

"apa mungkin penyerangan Gin ada hubunganya dengan Vodka?" tanya Shiho.

"sampai saat ini,kita belum menemukan pelaku penembakan Vodka .Jadi, akupun belum bisa memastikan apakah pembunuhan Vodka berhubungan dengan penyerangan Gin atau tidak?"

"apa kau merasa kalau kedatangan mereka ke Beika terasa janggal?" tanyanya lagi. Aku menyilangkan kedua tanganku. Dan bersandar di tembok besi.

" Menurut analisisku, Gin dan Vodka datang ke Beika karena ada sesuatu yang menyangkut tentang arsip organisasi hitam itu."

Shiho terlihat kaget dengan penuturanku. Ia melepaskan sarung tangan putih elastisnya dan menaruhnya di kantung seragam putih. Sepertinya ia tertarik dengan ucapanku.

"arsip? Kudo! Apa kau mencuri arsip organisasi itu?" tanyanya.

Aku memejamkan mataku. Lalu kubuka kembali. Aku menatap Shiho yang menantikan jawabanku. Aku mendongkakan kepalaku. menatap langit langit gudang yang gelap.

"tidak. Aku tidak mencurinya. Tapi..." aku mengalihkan pandanganku lagi padanya. Tanganku yang tadi kusilangkan kulepas

"aku memilikinya" ucapku dengan jari telunjuk yang menunjuk pelipisku.

Shiho membelalakan matanya. Mulutnya terlihat ingin menggerakan sebuah kata.

"Ku'Kudo! Ja'jangan jangan.."

"yah! Kau benar! Arsip itu adalah aku sendiri"

"Ti'tidak mungkin! Apa yang telah kau ketahui tentang mereka?"

"hanya sebuah kode"

"kode?"

"kode tentang semua arsip black organization!"

"KAU GILA!"

"ya! aku memang gila. Tanpa sengaja aku menemukan email Bourbone dengan pimpinan BO. Ia menulis qazw7-!) Shadow'. Tadinya aku mengira jika simbol itu hanya sebuah tanda misi rahasia. Tapi"

Aku memotong pembicaraanku lalu mengambil sebuah buku catatan kecil dan menggerakan pena di atasnya.

"lihat!" aku menunjukan buku saku itu kepada Shiho. Ia membelalak sempurna.

"i'ini.."

"ya! ini adalah sandi inisial milik Bourbone! Jika huruf 'q' dari 'qazw7-!)', dibalik maka akan menjadi huruf 'p'. 'a' tetap menjadi 'a'. Huruf 'z' dibalik akan menjadi 's'. 'w' tetap menjadi 'w'. Angka '7' dengan tanda panah menunjukan angka itu dibalik. Jika angka '7' dibalik, maka akan menjadi huruf 'r'. Lalu tanda seru dan tanda tutup kurung itu jika digabung, akan menjadi huruf 'D'. Jadi, jika di gabungkan akan menjadi 'pasword' "

"ta'tapi..dari mana kau tahu kalau itu adalah sebuah kode untuk.."

"Bourbone yang memberitahuku!"

"APA?"

"ya! dia yang memberitahuku saat dia meninggalkan rumah.."

Flashback (normal POV)

"itu kodeku untuk masuk ke data BO." ucap Subaru atau yang lebih dikenal dengan Bourbone di ambang pintu kamarnya saat melihat Conan sedang memandang layar handphonenya yang berisikan pesan untuk atasanya.

Conan dengan refleks berbalik dan menatap tajam pemilik handphone yang di genggamnya.

"kau sengaja memperlihatkanya?" tanya Conan.

"menurutmu?"

"untuk apa kau memberitahuku bahwa pesan ini adalah 'password 'mu?"

"hanya ingin mengetes kau bisa menghancurkan organisasi itu dengan data yang telah ku siapkan?"

"hanya itu ? aku yakin kau punya alasan lainya!"

"ya! aku memang punya alasan lainya! aku memberikan pasword itu sebagai ucapan terimakasihku karena telah memberikan tempat tinggal." Conan tersenyum meledek.

"ucapan terimakasih katamu? Jangan membuatku geli!" ucap Conan. Subaru hanya membalasnya dengan senyuman.

Flashback off

"jika memang benar begitu, apa mungkin Bourbone sengaja memberitahumu agar Gin menyerang Ran karena kau telah mengetahui kode itu dan ia tahu jika Ran sangat penting bagimu?"

aku menghela napas. Aku mengambil ponsel dari saku celana. Kulihat wallpaper yang ku-set beberapa waktu lalu. Foto Ran yang tersenyum manis mengundangku untuk tidak tersenyum. Kumasukan kembali ponsel kedalam saku celana.

Aku kembali memandang Shiho yang mulai menatap sendu padaku.

"entahlah..aku tidak tahu"

Semuanya tetap tidak ada satu kesimpulan apapun yang mengarahkan motif penyerangan Gin. Semuanya buntu. Hanya satu harapan yang bisa mengungkapkan ini semua.

Ran..

kunci dari semua ini adalah Ran. tapi sayang, dua minggu telah berlalu Ran belum juga sadar dari koma. Aku tidak tahu pasti perkembanganya. Karena paman Kogoro melarangku menemui Ran sampai dia siuman. Hukuman yang sangat kejam , membiarkanku terus tersiksa dengan tidak menemuinya. tapi, aku rasa itu juga adil bagiku

Normal Pov

"Shinichi!" Panggil inspektur megure . membuatnya terbangun dari lamunan.

"inspektur?"

"Shinichi! Ra'ran.."

"ada apa dengan Ran?" tanya Shinichi cemas.

"Ran ..."

***
Rumah sakit pusat Beika

"Ran..hisk hisk" tangis Kogoro memecahkan kesunyian yang tercipta beberapa detik lalu. Memancing semua orang yang berada di dalamnya menitikan air mata. Eri mengusap perlahan pipinya yang basah.

Shinichi keluar dari mobil kepolisian dan berlari ke dalam Rumah Sakit. Pori porinya mengalirkan keringat dingin yang tercipta dari keteganganya. Kakinya terus melangkah. Melewati lorong lorong rumah sakit yang panjang dan sunyi. Menggemakan suara langkahnya. Pasien yang sedaritadi duduk diam mengalihkan perhatianya pada Shinichi yang terlihat tergesa gesa.

Setibanya di depan pintu bernomor 248, Shinichi memegang gagang pintu. Dengan gemetar, ia membuka pintu itu. menimbulkan bunyi pada engselnya. Semua orang yang berada dalam ruangan itu menolehkan perhatianya pada Shinichi. rambut yang berantakan karena berlari tadi, dan dasi yang sudah tidak teratur bentuknya sempat menjadi perhatian orang orang di ruangan itu. tapi paras tampan Shinichi yang pucat lebih menjadi perhatian mereka.

Dengan perlahan, Shinichi melangkan ke ranjang tempat Ran dibaringkan. di sebelah sisi kiri ranjang,terdapat Kogoro yang menggenggam erat tangan kanan putrinya. Kogoro melirik Shinihi yang berdiri di sisi kanan ranjang.

Tangan Shinichi yang lembab karena keringat menggenggam tangan kiri Ran yang dipasang infus. Shinichi mengecup tangan Ran sembari memejamkan matanya. Tangan kananya beralih pada panggkal rambut Ran. ia mengelus rambut coklat kekasihnya. air mata yang mengalir jatuh pada genggaman yang masih ia kecup mengundang senyuman seseorang di dalam hatinya.

"Welcome back" ucap Shinichi sambil mengecup kening Ran yang di perban.

Ran mengulas senyum kecil dibalik alat bantu pernapasan. Keduanya saling menatap. Saling mengumbar senyum hangat yang sudah di nantikan. Kerinduan yang dibayar oleh sebuah senyuman hangat yang membuat haru semua orang yang menyaksikanya.

"apa ada bagian tubuhmu yang sakit?" tanya Shinichi membuka pembicaraan. Orang-orang yang tadi berada di dalam ruangan, mempersilahkan diri untuk segara meninggalkan ruangan karena tidak ingin mengganggu pertemuan antara sejoli yang lama tak bertemu ini.

Ran menjawabnya dengan menggelengkan kepala lemah. Sinichi tersenyum senang. Masih digenggamnya pergelangan tangan Ran.

"kau benar benar bodoh!"

Garis kerutan muncul di kening Ran, saat mendengar perkataan kekasihnya. Jika saja saat ini ia diperbolehkan melepas alat bantu pernapasan dan mempunyai tenaga untuk berbicara, pasti ia akan mengomeli Shinichi karena mengatainya bodoh.

"jangan seenaknya melawan Gin tanpa tahu kemampuanya! Jangan karena kau adalah juara karate, kamu menganggap enteng dia! Dari dulu tidak pernah berubah! Tetap bodoh!"

Ran semakin kesal dengan ucapan Shinichi. ia melepas genggaman Shinichi lalu memalingkan wajahnya ke sisi kiri.
Tetapi, Shinichi menarik tangan Ran dan menggenggamnya kembali. Genggaman yang cukup kuat agar Ran tidak bisa melepasnya. Muncul rona merah dikedua pipinya.

"dengarkan dulu!" Ran tidak bergeming.

"keras kepala!" ucap Shinichi.

Ran yang mendengar penuturan Shinichi (lagi), menarik selimut yang menutupi sebagian tubuhnya lebih atas lalu menutup matanya. Berusaha tidur atau bisa dibilang berpura pura tidur.

"iya! Iya! Aku mengerti!" katanya dengan nada yang ditinggikan.

Shinichi merasa kesal dengan sikap Ran yang bisa dibilang kekanak kanakan. –hei! Siapa yang tidak kesal jika pacarmu mengataimu 'bodoh' setelah sekian lama tidak bertemu dan disaat kau dalam keadaan terbaring di rumah sakit?-.

"kau tahu? Kau telah membuatku takut karena kebodohanmu itu! saat aku melihatmu terkapar, aku merasa seperti kehilangan jiwaku. Lalu, aku menggendongmu. Entah mengapa, aku merasa kehidupanku akan berakhir.."
Ran menatap Shinichi. ia merasa haru sekaligus senang. karena rasa haru itu, Ran sampai menitikan air mata. Seorang yang dicintainya, seorang yang ia tunggu kehadiranya yang lebih mementingkan kasus dibanding dirinya, bisa mengatakan hal yang membuatnya menitikan air mata!

"hei hei! Kenapa menangis? apa aku mengatakan hal yang salah?" tanya Shinichi panik karena melihat cairan bening yang mengalir di pipi Ran.

Ran menggeleng. Ia mengeratkan genggaman Shinichi.

"a' ari..ga..to" ucap ran terbata dengan suara yang sangat lemah.

Shinichi membalas dengan senyuman hangat.

***
"Lama sekali bocah itu!" Gerutu Kogoro di luar kamar rawat Ran sambil melihat arloji silvernya.

"kau seperti tidak pernah mengalami masa muda saja!"ucap Eri menimpali.

"heh! Apa kau bilang? Aku tahu! Seharusnya sejak awal aku tidak mengijinkan putriku berpacaran dengan bocah tidak berguna seperti dia!" ucap Kogoro dengan sedikit membentak. Eri menatap tajam mantan suaminya itu.

"apa kau lupa? Kalau Ran juga putriku. jadi kau tidak bisa melarangnya berpacaran dengan orang yang dia cintai. Apa kau tidak ingin melihat Ran bahagia?"

"Hah! Bahagia apanya! Lihat Ran! karena rasa cintanya itu, Ran hampir saja mati!"

"Apa kau tidak melihat senyuman Ran yang tulus itu saat Shinichi datang tadi?" Eri mulai emosi dengan perlakuan suaminya itu.

"AHH! Sudahlah! Tidak ada gunanya berbicara denganmu!" Kogoro menghentakan kakinya lalu berjalan ke arah lift.

"huftt! Harusnya aku yang mengatakan itu!" ucap Eri setelah dilihatnya Kogoro memasuki lift

-kembali ke ruangan tempat Shinici dan Ran berada-

"heh! Mereka kira aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan?" gerutu Shinichi.

Tritt triitt

"halo?" ucap Shinichi seraya mengangkat ponselnya.

"ya? benarkah?" sahut Shinichi dengan penjelasan orang yang menjadi lawan bicaranya.

"baik! Aku akan segera kesana!" Shinichi menutup ponselnya. Ia kembali menatap Ran yang terlihat cemas.

"aku harus pergi. Ada informasi baru mengenai organisasi hitam"

Shinichi melepas genggamanya. ia hendak berdiri. Tapi sesuatu menahan gerakanya.
-Ran memegang lengan kemeja Shinichi.-

"Ran?"

Ran terlihat ketakutan. Dengan gemetar, ia tetap memegang lengan kemeja Shinichi. membuat yang empunya kebingungan.

"ada apa?" Shinichi kembali duduk. Ia memegang pangkal rambut Ran.

"j..jang..an.."

"jangan?" Shinichi mengulang ucapan Ran.

"p..pe..per..gi"

Ran Pov

Aku sangat takut. Saat dirinya bilang 'harus pergi' aku takut! Aku takut dia tidak akan kembali! Sama seperti waktu itu. saat hari terakhirku bertemu denganya, sebelum semuanya berubah. Aku tidak ingin menunggu lagi! Cukup! Tidak kah kau tahu saat aku terbaring, aku selalu mengalami mimpi buruk? Mimipi dimana kau akan menghilang untuk selamanya. Di mimpi itu, kau mengatakan kepadaku bahwa kau harus pergi. Saat itu, kau meninggalkanku yang tidak bisa berkata apa-apa. Dan saat aku menunggu, yang datang padaku adalah sesosok mayat yang ku kenal. Mayat itu adalah kau, Shinichi! aku tidak mau semua itu menjadi kenyataan! Tidak!

"Ran..aku mengerti perasaanmu" ucapnya seolah mengerti apa yang kurasakan.

Tidak! Kau tidak tau perasaanku! Kau tidak mengerti ketakutanku! Kau hanya mementingkan kenyataan bahwa kau adalah seorang detektif! Kau tidak memperdulikan dirimu dan perasaanku.

"tapi aku harus pergi! Mereka harus dimusnahkan. Aku berjanji aku akan segera kembali!"

"shi.."

"tenanglah..aku pasti kembali" ia menatapku dengan lembut.

. aku terdiam. Tidak tau apa yang ingin aku bicarakan lagi. Atau lebih tepatnya,tidak ada hal yang bisa aku bicarakan lagi. Percuma menghalangi Shinichi. aku tidak boleh egois! Aku harus percaya denganya. Aku yakin dia akan kembali padaku. Dengan senyuman yang ditunjukan padaku. Aku harus percaya! Yah.. aku harus percaya!

NORMAL POV

Dengan perlahan, Ran melepas genggamanya. ia sudah bertekad untuk percaya pada Shinichi.

"Terimakasih Ran" Shinichi berlari meninggalakan Ran yang menatap sendu. Ia membuka pintu kamar VIP tersebut. Terdengar suara Shinichi yang berbicara kepada Eri. Setelah itu,samar terdengar langkahnya yang semakin menjauh. Pintu itu kembali terbuka. Kali ini, Eri yang bertugas menjaga putrinya.

" kau baik baik saja?" tanya Eri melihat putrinya yang terlihat gelisah.

Rang mengangguk mengiyakan .

"tenanglah Ran. kepercayaan adalah suatu poin penting dalam hubungan kalian"

TBC


gimana gimana? jelek yah?

maaf ya..

jangan lupa review!