Sekarang aku menghadapi masalah yang lebih ribet. Nee-chan memintaku untuk mengajak Seicchi merayakan natal bersama. Haduh! Kemarin baru seperti itu masa' aku minta bantuan Seicchi? Kalau menolak permintaan nee-chan juga tidak bisa. Apa aku bilang saja kalau kami sudah putus. Hah~ gara-gara terlalu sibuk memikirkan itu aku tidak mendengarkan sama sekali pelajaran hari ini. Aku berjalan keluar kelas dan menemukan Seicchi menungguku di depan kelas. Sebenarnya aku memang ingin, merayakan natal bersamanya.

"Ayo pulang."

"I-iya." Ujarku mensejajarkan langkahku dengannya. Aku berjalan sambil memperhatikannya.

"Kenapa? Ada yang salah?" tanyanya menyadari aku memperhatikannya.

"Eh? Tidak kok." Aku… harus mengajaknya. "Oh iya, sebentar lagi natal 'kan?"

"Iya." Jawab Seicchi dingin. Eh? Kok jawabannya dingin?

"Seicchi, nggak suka natal ya?"

"Nggak. Natal itu menyebalkan." Jawabnya membuatku terkejut. Kalau dia tidak suka begini mana mungkin aku mengajaknya 'kan? "Memangnya ada apa dengan natal?" tanya Seicchi sambil tersenyum.

"A-Apa-apaan? Setelah menjawab dengan ekspresi mengerikan begitu sekarang kau tersenyum?" tanyaku dengan wajah WTF.

"Permisi, apakah kalian sedang mencarikan hadiah untuk pacar kalian?" tiba-tiba seorang pelayan toko menawarkan sebuah cincin berlian.

"Tidak, aku sudah mencarikan yang lebih baik." Jawab Seicchi dengan pedasnya.

"Kalau begitu pemuda yang berambut pirang? Ini banyak disukai gadis jaman sekarang lho." tawar pelayan toko itu lagi.

"Ano—aku…" ujarku memikirkan alasan untuk menolaknya.

"Dia tidak suka yang biasa sudah umum itu." Jawab Seicchi sambil menarikku. Aku dapat melihat dahi perempuan itu berkerut kesal meski ia masih memaksakan senyum aku hanya bisa bungkuk-bungkuk minta maaf sambil digeret Seicchi.

"Mou, Seicchi apa itu tidak terlalu kejam?" tanyaku.

"Kalau tidak dibegitukan dia akan menawari terus. Selain itu, kenapa kita harus memberi hadiah saat natal? Hal seperti itu untuk ulang tahun saja 'kan?"

"Tidak apa 'kan? Selama menyenangkan untuk apa ada alasan?"

"Oh? Kalau begitu aku akan membelikanmu sesuatu juga." Eh? Aku tidak salah dengar 'kan? Hadiah dari Seicchi? Senangnya~

"Benarkah? Apa yang akan kau belikan untukku?"

"Apa ya? Mungkin kalung?" gumam Seicchi. Kalung… maksudnya kalung anjing? "Aku juga akan membelikan talinya dan mengajakmu jalan-jalan setiap pagi. Bagaimana?"

"Aku mau!" jawabku membuat Seicchi sedikit terkejut. Seringai yang sempat ia pasang di wajahnya memudar digantikan wajah datarnya. "Beneran mau dibeliin? Aku mau! Kita bisa jalan-jalan tiap pagi!" ujarku semangat dengan senyum satu juta dollarku. Aku yakin jika ini anime aku sudah memiliki telinga dan ekor anjing imajiner yang berkibas-kibas sekarang.

"Cuma bercanda. Kenapa serius begitu?" tanya Seicchi mulai berjalan lagi.

"Eh? Cuma bercanda?" ujarku mematung sejenak.

"Kau ini bodoh ya? Untuk apa menggunakan hal seperti itu?"

"Iya sih… tapi…"

"Kalau kau mau melangkah ke dunia seperti itu lebih jauh lakukan saja sendiri."

"Tidak, bukan itu maksudku!" seruku mengejar Seicchi. "Mendapatkan hadiah dari orang yang kau suka itu rasanya sepesial ssu yo! Apa pun yang kau berikan akan kujaga baik-baik. Oh iya omong-omong hadiah..." aku merogoh tasku mencari hadiah yang sudah kusiapkan untuk Seicchi. "Ini untuk Seicchi. Hari ini Seicchi ulang tahun 'kan? Otjantoubi omedetou." Ucapku sambil mengulurkan hadiah untuk Seicchi. Seicchi hanya menatapku lalu menatap kado itu kemudian berjalan meninggalkanku. He? Kok begitu? Hadiahku ditolak? "Seicchi! Kau—"

"Bawakan hadiahku. Itu besar sekali, merepotkan."

"Jadi nggak ditolak ssu? Yey!" seruku senang. "Akan kubawakan, tenang saja."

Kami pun melanjutkan perjalanan pulang kami. Saat kami melewati pusat kota kami berhenti karena ada sebuah pohon natal besar di tengah kota.

"Apa-apaan menaruh pohon natal di tengah kota begini? Norak."

"Eh? Kenapa ssu? 'kan cantik! Ayo foto bersama!"

"Tidak." Ujar Seicchi mau melanjutkan jalan.

"Kumohon ssu yo!" ujarku dengan wajah memelas.

"Kau pikir itu akan mempan padaku?" tanya Seicchi dingin. Aku tidak berhenti menatapnya dengan tatapan memohon ditambahi sedikit rengekan lalu akhirnya Seicchi pun mau berfoto bersama. Masalahnya… Seicchi 'kan pendek, kalau selfie nanti nggak masuk.

"Seicchi mau kuangkat?" tanyaku dengan senyum polos yang dijawab dengan lemparan gunting di kepalaku yang berhasil kuhindari karena aku menunduk.

"Senyum."

"Eh?"

"Cepat!"

"Ha-ha'i" aku pun tersenyum manis dan Seicchi menekan tombol foto. Hasilnya aku nampak seolah lebih pendek dari Seicchi dan berkat aktingku yang bagus aku nampak tersenyum manis dan ikhlas padahal sebenarnya masih dalam keadaan syok karena guntingnya hampir kena kepalaku.

"Hei Ryouta, dingin. Ayo masuk ke suatu tempat." Eh? Seicchi bisa kedinginan juga? Ah… dia tidak memakai syal? Pantas saja dingin.

"Ha'i ssu!" aku pun mengekorinya masuk ke sebuah toko.

Kami masuk ke sebuah toko, Seicchi memesan teh hijau panas dan aku memesan kopi. Aku meletakkan kado Seicchi di atas meja kemudian mulai meminum kopiku.

"Eum… Seicchi, aku tahu kamu nggak suka natal tapi… nee-chan memintaku mengajakmu pergi bersama saat natal."

"Baiklah."

"Sungguh? Yey! Seicchi baik!" seruku hendak memeluknya tapi dia medorongku dengan segera.

"Perjanjiannya memang aku berpura-pura jadi pacarmu di depan kakakmu. Jadi tentu saja aku tidak bisa menolak."

"Seicchi tsundere ya ternyata? Seperti Midorimacchi." Ujarku yang diberi hadiah gunting oleh Seicchi.

"Katakan sekali lagi." Ujarnya dingin.

"I-ie..." ujarku gugup. Aku meminum kopiku untuk menutupi rasa gugupku. "Itte!" Panas sekali, aku lupa meniupnya.

"Hati-hati. Kau tidak apa-apa?" tanya Seicchi. "Permisi, bisa minta air es?" Apa-apaan pertanyaan sok perhatian begitu setelah melempar gunting padaku dua kali? "Ini, minumlah." Ujarnya menyodorkan segelas air putih padaku. Aku pun menerimanya kemudian meminumnya.

"Terima kasih. Em… Seicchi…"

"Hn?"

"Sebenarnya… bagi Seicchi aku ini apa? Apa aku hanya mainan untuk menghiburmu saat kau bosan? Apa aku hanya anjing pemuas keinginan Seicchi? Sebatas itu? Apa tidak ada sedikit perasaan special?"

"Entahlah." Jawab Seicchi.

"Jangan menjawab begitu ssu yo!" seruku sambil berdiri.

"Aku menyukaimu Ryouta." Ujar Seicchi menggenggam tanganku. "Apa kau tidak menyadarinya? Mau dia seberguna atau sesempurna apa pun aku tidak akan mau bersama dengan orang yang tidak kucintai. Mainan pun begitu. Kalau tidak suka akan bosan lalu dibuang. Seperti itulah." Jelas Seicchi melepaskan genggaman tangannya. "Selama ini aku malu mengatakannya."

"Benarkah?"

Seicchi tersenyum manis tapi kemudian sudut bibirnya terangkat sebelah.

"Sampai kapan kau mau aku berakting seperti ini? Kau ini benar-benar bodoh. Mudah sekali percaya dengan orang lain. Sudah berteman selama ini kau masih belum mengerti diriku sama sekali. Mana mungkin aku mengucapkan kalimat semanis itu? Belajarlah sedikit. Mau sampai kapan kau hidup seperti itu? Suatu hari nanti, kau pasti akan ditipu oleh orang—" perkataan Seicchi kupotong dengan menyiramkan air ke kepalanya. Berani? Biar saja, aku sudah sangat kesal. Aku muak.

Aku meninggalkan Seicchi tanpa berkata apa-apa. Tidak mengacuhkan kado untuk Seicchi yang ikut basah terkena air dan berjalan pulang. Aku benci Seicchi. Aku sudah mengerti sekarang. Seicchi sama sekali tidak peduli padaku. Karena itulah dia tidak peduli, berbohong sekejam itu padaku. Sudah cukup, aku lelah. Hiks… Aku pun menangis di kamarku seharian. Nee-chan menayakan ada apa tapi aku hanya memasang senyum palsuku dan berkata bahwa aku tidak apa-apa.

Tanpa terasa tanggal 24 datang, nee-chan menanyakan padaku dimana Seicchi, aku hanya menggeleng lalu tersenyum.

"Seicchi sedang sibuk, nee-chan duluan saja. Aku mau di rumah saja." Ujarku sambil mendorong nee-chan.

"Tapi—"

"Sudahlah, tidak apa-apa. Sana." Ujarku masih mendorongnya.

"O-oke kalau kau bersikeras. Nee-chan pergi dulu ya." Pamitnya. Aku hanya mengangguk lalu tersenyum. Setelah nee-chan tidak nampak lagi senyumku memudar kemudian aku menutup pintu, berjalan gontai ke kamar dan meringkuk di sisi tempat tidur.

Natal tanpa orang yang disukai, itu sama saja dengan hari biasanya. Aku melihat ponselku yang terus berbunyi, ucapan selamat natal dari teman-teman. Aku membalasnya sekadarnya kemudian aku melihat wallpaper ponselku. Fotoku bersama Seicchi. Kami nampak bahagia sekali di sini. Cih. Kenapa aku masih memasang foto ini sebagai wallpaperku? Aku pun segera mengganti wallpaperku kemudian mematikan dering ponselku. Aku menyerah. Aku tidak akan melanjutkan lagi bersama Seicchi.

Kilasan kenangan perlakuan buruk Seicchi muncul di otakku. Saat ia menyuruhku berputar dan menggonggong tiga kali, saat dia mengingatkan bahwa dia tuannya dan aku hanya anjingnya. Semua. Dia benar-benar jahat. Kenapa aku bisa menyukainya? Setelah berpikir begitu kilasan perlakuan baiknya padaku muncul, seolah menjawab pertanyaanku kenapa.

'kau ini pacarku, jadi diam saja saat aku melindungimu.'

'dia milikku. Aku akan marah jika kau menyakitinya.'

Seicchi baka. Kenapa bersikap setengah baik seperti itu kepadaku? Kau membuatku terlalu berharap, Seicchi. Aku tidak bisa melupakanmu begitu saja.

"Ryouta, boleh nee-chan masuk?" tanya nee-chan dari luar kamar mengagetkanku.

"Loh, nee-chan tidak jadi keluar?" tanyaku membukakan pintu tapi yang kutemukan berdiri di depan pintu adalah Seicchi.

"Nee-chan bertemu dengan Akashi-san lalu dia menanyakanmu maka dari itu nee-chan mengajaknya ke rumah." Kata nee-chan dari belakang Seicchi. "Bersenang-senanglah." Ucap nee-chan meninggalkanku berdua dengan Seicchi.

"Kenapa? Kenapa kau kemari?"

"Aku datang untuk mendisiplinkanmu. Aku sudah lama menunggu tapi kau tidak minta maaf juga. Kau mulai berani ya?" ucap Seicchi sambil memasuk ke dalam kamar.

"Minta maaf? Untuk apa aku minta maaf?" tanyaku balik sambil duduk di pinggir tempat tidur tanpa menatapnya.

"Apa kau sudah lupa? Kau menyiram wajah tuanmu dengan air, kau pikir itu diperbolehkan?"

"Seicchi pantas mendapatkannya." Gerutuku sambil berbaring di tempat tidur dan menutup mataku.

"Diam. Akan kubuat kau mengingatnya lagi kalau kau adalah anjingku." Ujar Seicchi mendekatiku. Refleks aku membuka mataku mendapati Seicchi di atasku. Tangan kirinya menopang tubuhnya dan tangan kanannya diselipkan di belakang rambutku.

"A-apa yang—" tanyaku gugup menyadari posisi kami.

"Aku memakaikannya. Kalungmu." Ujar Seicchi menjauh dari tubuhku. Aku pun segera duduk dan melihat sebuah kalung dari rantai dengan liontin berbentuk salib. "Itu adalah bukti kalau kau milikku, jadi jangan sampai lupa."

Aku menatap Seicchi yang berdiri di depanku kemudian aku mulai menangis.

"Te-terima kasih. Aku senang sekali. Kau curang, Seicchi. Kau membuatku tidak bisa meninggalkanmu lagi. Mau sampai berapa kali lagi kau menipuku sebelum kau puas? Hiks… aku… aku akan menjaganya."

"Ck. Berhentilah menangis. Dasar cengeng. Kau ini laki-laki."

"Ha-habis aku senang sekali. Huee~" tangisku semakin deras, aku dapat melihat bahwa Seicchi hanya menghembuskan nafas berat kemudian tersenyum tipis.

A/N: Wah chapter yang ini pendek sekali ya? Gomenasai~ *bungkuk bungkuk* oh iya kalung Ryouta berbentuk salib bukan karena apa-apa hanya saja kebanyakan laki-laki mengenakan kalung dengan liontin salib/cincin. Berhubung Kagami dan Himuro sudah pakai kalung cincin jadi Ryou-chan dikasih yang lain sama Sei. Oh ya rantainya bukan rantai anjing loh ya, tapi yang seperti punya Kagami. Maaf jika itu membuat reader-tachi tidak nyaman, habis kalau cincin juga nanti terlalu mirip dengan kalung Kagami dan Himuro dan menurutku bandul salib itu feminin tapi juga manly jadi cocok buat Ryou-chan. Sekali lagi maaf reader-tachi.


Ket:

Otjantoubi Omedetou (semoga nggak salah spelling): happy birthday


undeuxtroisWaltz: hahaha pdhl ReoKise itu menurutku aneh karena uke semua wkwkwk. Iya soalnya kalo lama-lama ntar malah kena writer block hehe. Iya terima kasih kembali~

kise cin: iya kah? Tapi kalo yg ini jauh lebih pendek T.T maaf. Oke. Iya nih jarang.

hyena lee: iya nih, Sei mah gitu orangnya. Iya juga sih.

yuu: wkwk iya Ryou-chan, sama aku aja *dirajam Sei* iya semacam itu wkwkwk.

Qq: iya hehe… oke. Bener tuh.

Akaverd20: iya wkwkwk. Tonton lagi aja, bayangin itu Sei, satunya Ryou-chan wkwkwk. Aku update kurang lebih tiap seminggu sekali hehe…


Last, makasih reviewnya minna~