Mom for My Little Menma
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Family, Romance, Humor
By : Lukas "Luke"
Warn : AU, OOC, GS , Gaje, Garing, Ngaco
Typos merajalela.
Chapter 5
. .
..
" Menmaaa~"
Mengernyit. Meletakkan cangkir kopi di atas meja kerja dan menoleh pada pintu kayu berpelitur di sisi rak sepatu.
" Menma, Menma, Menma," ulang sebuah suara dari balik pintu dengan lantang dan tidak sabar.
Sasuke semakin mengerutkan kening dalam.
Berjalan sempoyongan ke arah pintu dengan rasa penasaran. Ia tahu betul siapa pemilik suara yang seksinya tidak tahu malu dan tidak tahu tempat itu, tapi untuk apa dia datang pagi buta begini? Sasuke ingat, ia tidak sedang meminta tolong gadis itu untuk membuatkannya sarapan seperti biasanya.
" O, hai, Teme, kau jelek sekali hari ini. Aku serius," sapa Naruto saat dirinya membuka pintu ruang tamunya. Gadis berambut pirang itu menarik kedua sudut bibirnya membentuk cengiran lebar.
Hell, bahkan Sasuke masih cukup percaya diri untuk meyakini jika banyak gadis dan wanita yang akan menjerit- jerit melihat penampilannya saat ini. Well, kecuali si pirang idiot ini tentu saja. Ah, untung sayang.
" Ada apa?" tanya Sasuke. Mengabaikan ejekan tentang penampilannya dari sang calon istri idaman.
" Ada Menma?" Naruto balik bertanya. Matanya melirik- lirik ke belakang punggung sang Uchiha. Berharap menemukan tuyul kecil bertampang judes yang tengah dicarinya.
" Dobe! Ini masih pagi subuh dan kau mencari anakku?"
Naruto meringis lucu.
" Aku hanya ingin mengajaknya olah raga pagi, Teme."
Sasuke mengernyit.
Olah raga? Sepagi ini?
Melirik sebentar pada sebuah jam digital di atas meja kecil yang berseberangan dengan rak sepatu.
Menghela nafas panjang.
" Kenapa tidak mencariku saja, hm? Aku juga mau 'olah raga' pagi," dengungnya.
Giliran Naruto mengernyit.
" Kau mau meninggalkan Menma untuk jalan- jalan pagi denganku?" tanya Naruto tidak percaya.
" Meninggalkan Menma? Tentu saja tidak. Kita tidak akan jalan- jalan untuk olah raga pagi. Kita bisa melakukannya di kamarku atau ruang kerjaku. Ada sofa panjang-"
" Tunggu, olah raga apa maksudmu, Teme?" Naruto bertanya dengan wajah bingung. Sepertinya ada gagal paham di sini antara otak berkarat milik si bujang lapuk dan otak seorang duda beranak satu.
Tanpa jawaban, Sasuke menarik satu sudut bibirnya membentuk seringai kecil.
" Kita bisa menamainya olah raga khusus dewasa, Adult Only. Bagaimana?" tuturnya.
Naruto mengerjap dua kali, lalu mendecih.
Sekejap wajah bingung gadis itu berubah menjadi ekspresi kesal. Memutar bola mata bosan sebelum melempar pandangan penuh hina pada tubuh jangkung Sasuke mulai dari ujung rambut kepala sampai dengan jempol kaki.
Kembali menatap pada manik kelam si Uchiha yang kini melihatnya lekat, Naruto menggeleng, diselingi helaan nafas maklum kemudian berujar kalem penuh pengertian," Sasuke, Sasuke, aku faham bagaimana menderitanya hidupmu sebagai duda kembang. Aku turut prihatin, Teme. Sungguh. Tapi, satu pesanku, kendalikan hormonmu, Nak."
Gadis itu menepuk- nepuk pelan bahu si pria sebagai tambahan.
Sasuke mendengus. Hafal betul bagaimana lincahnya lidah tak bertulang gadis pirang ini selalu berceloteh merendahkannya. Rasanya Sasuke jadi ingin menggigit-
" Minggir, Idiot!" sebuah jari telunjuk menusuk- nusuk dada kirinya brutal. Sasuke kembali melirik si gadis kuning yang kini melihatnya dengan mata melotot garang.
" Apa?"
" Kau sedang berpikir kotor," tuduhnya keji.
Sasuke tersenyum miring. " Memang. Mau tahu apa yang sedang ku pikirkan?" tanyanya.
" No, Thanks," Naruto menarik kedua sudut bibirnya membentuk garis lurus. Pandangannya kembali bergulir ke belakang punggung Sasuke. Di mana seorang bocah berjalan sempoyongan dan berhenti tepat di ambang pintu kamarnya.
" Menyingkir dari jalan kehidupan, Teme. Aku sedang ingin menculik anak- anak," ujarnya kemudian mendorong bahu sang Uchiha dengan tangan kiri. Kakinya melangkah masuk, meninggalkan Sasuke yang kini menutup pintunya pelan.
Gadis dengan kaos hitam pendek bertuliskan TAKEN dan celana cargo selutut itu lantas melongo mendapati penampilan si bocah menggemaskan yang berdiri dengan wajah kusut di hadapannya.
" Kalian berisik sekali. Lihat, aku jadi pipis di celana," mendelik kesal pada dua manusia besar di hadapannya. Sesekali melirik takut- takut pada si daddy karena ia baru saja membuat kasurnya basah dengan air seni yang dipastikan akan menyebarkan bau pesing sebentar lagi.
Naruto tergelak sementara Sasuke menggeram kesal. Pekerjaannya bertambah.
..
..
" Sereal? Bagaimana dengan sereal?" Menma mendongak. Menatap Naruto penuh harap. Kali ini bocah itu sudah rapi dengan seragam sekolahnya juga tas kecil yang berisi pensil warna dan beberapa penghapus berbentuk boneka kecil kesukaannya.
Naruto menggeleng pelan. " Tidak," ujarnya kemudian mengambil sendok dan meletakkan di atas piring dengan tumpukan pancake yang disiram madu di hadapan Menma.
" Kenapa?" dengus Menma kesal. Alisnya bertaut.
" Karena kita belum membelinya."
" Kenapa kau tidak sekalian beli waktu datang ke sini?" gerutu si kecil dibalas dengusan pelan oleh Naruto, " Kau pikir rumahku di perempatan sana? Kita ini tinggalnya tetanggaan, satu gedung satu atap. Mana mungkin melewati supermarket?"
" Biasa saja jawabnya. Kenapa jadi marah- marah?"
" Siapa bilang aku marah? Aku hanya menjawab pertanyaanmu dengan kalimat yang lebih panjang."
" Kau menyebalkan," desisnya kesal.
" Aku dengar itu. Sekarang, makan sarapanmu," balas Naruto cepat kemudian menoleh saat mendengar suara langkah dari arah pintu kamar. Sasuke keluar dengan seragam kantor dan jas hitam yang tersampir di bahu kanannya.
" Aku mencium bau manis. Apa aku baru saja buang angin?" celetuknya dibalas tendangan ringan di tulang keringnya.
" Sakit, Naruto," desisnya melotot pada si gadis yang kini menatap malas padanya.
Naruto tak berniat membalas, gadis itu berdecak pelan sebelum menarik kasar dasi Sasuke yang tak terikat dengan rapi, " Pakai dasi saja tidak becus. Direktur multitalenta dari mana? Orang- orang pasti buta," dengusnya kemudian memperbaiki ikatannya.
Sasuke membulatkan mata, nyaris tidak percaya dengan penglihatannya. Mata tajamnya melihat jemari lentik Naruto yang bergerak cekatan di dekat tulang selangkanya. Sasuke menarik sudut bibirnya tersenyum kecil.
" Mengikat dasi itu memang pekerjaan istri," pria itu berujar.
Naruto memutar bola mata bosan. " Jangan membual. Lalu bagaimana nasibnya para bujang dan duda lapuk di luaran sana yang tidak punya istri. Oh, tidak perlu jauh- jauh, di depanku ini seorang duda," dengusnya.
" Makanya aku butuh cepat- cepat melamarmu."
" Hanya untuk mengikat dasimu?" kernyit Naruto.
" Oh, lebih dari itu. Bagaimana?"
" Bagaimana? Bagaimana kalau aku menolak, maksudmu?"
" Tch."
" Sudah. Kemarikan jasmu lalu sarapan," ujar Naruto menarik tubuhnya menjauh. Sasuke medudukkan diri di hadapan Menma yang tengah menyuapkan sesendok penuh pancake ke dalam mulut kecilnya.
" Jangan sisakan kalau masih ingin melihat Menma pulang ke rumah ini," ancam Naruto.
Sasuke menggumam kemudian memulai sarapannya.
" Enak," bisiknya pelan.
" Suke, biar aku yang menjemput Menma siang nanti."
Pria Uchiha itu menoleh, " Kau tidak sibuk?" tanyanya.
" Tidak."
Sasuke mengangguk kecil, " Oke."
..
..
" Aku mau yang paling besar."
" Jangan cerewet. Ini sudah yang paling besar," jawab Naruto cepat sembari memasukkan sekotak besar sereal rasa cokelat.
" Benarkah? Kau tidak bohong 'kan?"
Naruto mendelik pada bocah lima tahun yang duduk di atas troli belanja. " Tidak," jawabnya malas.
" Bagus," Menma mengangguk bak seorang bos besar yang baru saja menyetujui kerja sama dua perusahaan.
Si pirang mendengus. Kembali mendorong troli belanja dengan bocah gempal yang masih setia duduk di atasnya. Sebentar kemudian tangannya lagi- lagi terulur meraih sekotak tepung terigu, sebotol selai cokelat, keripik kentang, dan beberapa cup ramen instan.
Sementara Menma hanya mengamati. Sesekali melirik malas ke beberapa pembeli yang berpapasan dan menyapa sopan pada mereka atau tidak sama sekali.
" Tomat sudah, telur, sereal, ramen . . . lalu apa lagi?" gumam Naruto seraya mengedarkan pandangannya.
" Candy?" celetuk suara Menma kembali terdengar.
Naruto menoleh. Mengerutkan kening, berpikir bagaimana makanan kelewat manis itu akan membuat gigi si kecil keropos dalam waktu dekat.
" Tidak boleh," jawabnya.
" Bagaimana kalau dua saja?" tawar Menma.
" Tidak."
" Kalau empat?" Menma mengacungkan tiga jari kanannya. Naruto menghela nafas, meraih tangan mungil itu dan membantu si kecil membuka kelingkingnya yang terlipat.
" Ini baru benar," desahnya.
Menma mengernyit, menatap tangan kanannya beberapa saat dan bertanya, " Ini tiga?"
" Haiss, dasar. Kau bilang tadi empat," gerutu Naruto.
" Ok. Bagaimana kalau empat Candy?" tanya Menma lagi.
" Tetap tidak."
" Kau pelit," bibir Menma mengerucut kesal.
" Hemat, bukan pelit," kilah Naruto beralasan. " Lagipula permen tidak bagus untuk gigimu," lanjut gadis itu lalu mendorong troli- nya menuju rak buah- buahan.
" Banana~" seru bocah Uchiha itu tiba- tiba.
" Banana? Maksudmu Banana yang ini? Pisang?" tanya Naruto sambil mengangkat sekotak buah pisang di tangannya dan menunjukkannya pada mini Uchiha.
" Tentu saja. Memangnya yang mana lagi?"
" Kau yakin tidak mau yang lainnya saja? Yang lebih keren. Orange, mungkin? Apel? Mango? Durian? Atau menambah tomat di keranjang belanja kita?"
" Bodoh! Tomato ada di bagian sayur- sayuran," Menma membalas cepat.
" Bocah tidak sopan. Katakan itu sekali lagi dan aku akan menggigitmu keras- keras."
" Banana," ulang Menma tidak peduli.
" Oke, oke. Banana," Naruto memilih untuk mengalah. Luar biasa heran bagaimana bisa bocah Uchiha ini menyukai pisang sementara sang daddy nyaris tiap hari mencekokinya dengan berbagai menu kelebihan garam yang selalu melibatkan buah tomat.
" Lalu apa lagi yang kau butuhkan?" tanya si pirang.
" Banana milk bagaimana? Aku juga mau susu kotak rasa cokelat, jeruk, dan stroberi. Bagaimana dengan sekotak besar cokelat batang, marsmallow, dan lollipop super besar? Lalu, aku juga mau punya sandal rumah baru, yang ada boneka rubahnya-"
" Kau mau menguras isi dompetku!?"
.. .. .. ..
Menma memekik girang. Naruto baru saja mengulurkan satu lolipop besar padanya dengan wajah kusut.
" Lain kali aku tidak mau lagi mengajakmu belanja," geramnya.
" Buka. Buka," Menma kembali mengangkat lolipop di tangan mungilnya, memberikannya pada naruto. Meminta gadis itu untuk segera membukanya.
Naruto menoleh pada pria muda yang berdiri di sisi rak berisi puluhan jenis permen, " Apa boleh kami membukanya di sini?" tanyanya.
Si pemuda terkekeh ringan, " Tentu saja. Silahkan, tidak apa- apa. Katakan saja pada bagian kasir kalau Anda sudah membukanya di sini atas persetujuanku," jawabnya.
Naruto mengangguk. Membuka plastik bungkus lolipop dan memberikan makanan manis itu pada Menma.
Kembali melirik si pemuda, " Siapa namamu?"
" Saya? Sa-"
" Bersikap biasa saja, sepertinya kita seumuran," potong Naruto cepat. Mengulurkan tangan untuk bersalaman, " Naruto. Aku baru beberapa minggu tinggal di apartemen dekat sini."
" Aku Toneri. Toneri Otsusuki. Kau bisa sebut namaku pada petugas kasir nanti, aku pemilik toko ini," pemuda itu tersenyum manis.
" Paman, kau pemilik toko ini?" suara Menma terdengar takjub.
Toneri mengangguk. Masih dengan senyum ramah menawannya.
" kalau aku datang lain kali apa Paman akan memberiku banyak Candy?"
Naruto memutar bola mata bosan. ' Mana mungkin,' batinnya.
" Candy? Kau suka permen?" tanya Toneri. Pemuda itu membungkukkan badannya menyamai tinggi Menma yang tengah duduk di atas troli belanja.
" Tentu saja."
" Kalau begitu sering- seringlah datang ke sini, dan ajak kakakmu yang manis ini bersamamu," goda pemuda itu dan menunjuk Naruto dengan telunjuk kanannya.
Menma mengerjap.
Naruto mengernyit.
" Dia bukan kakakku," protes si bocah tidak terima.
" Eh? Kupikir dia kakakmu."
" Dia tetangga cerewet yang selalu menumpang makan di rumahku- aduh aduhh! Dobe- mommy, berhenti mencubiti pipi, aku cuma bercanda~"
..
..
Sudah nyaris malam dan Sasuke masih berkutat dengan pekerjaan kantor yang seolah tidak ada habisnya. Kepalanya sedikit pening dan matanya mulai panas karena sejak pagi terus menatap pada layar komputer di depannya. Meski ia telah menggunakan waktu istirahat 45 menitnya untuk tidur sejenak siang tadi tapi tetap saja pusing tak beranjak dari kepalanya.
" Sasuke- kun, ini kopinya," suara seorang wanita membuatnya menoleh.
" Hn." Balas Sasuke pendek.
" Kau akan lembur?" si wanita bertanya.
" Tidak."
Wanita itu mendesis pelan.
" Apa kau capek. Biar ku pijat bahumu?"
Sasuke melirik tajam pada si wanita, sekertarisnya itu selalu berusaha mencampuri urusannya.
" Keluar, Karin."
" Aku hanya ingin-"
" Karin, Sasuke- kun memintamu untuk keluar," suara lain terdengar dari pintu ruangan Sasuke.
" Hinata, kau sudah akan pulang?" Sasuke bertanya, mengabaikan gerutuan pelan dari Karin yang berjalan keluar ruangan dengan kaki dihentakkan beberapa kali.
Wanita yang dipanggil Hinata menghampiri Sasuke, " Kau masih lama? Aku ingin bertemu dengan Menma- chan. Bolehkah aku berkunjung?"
" Tentu," mana mungkin Sasuke menolak permintaan gadis manis ini.
..
..
" Obito- nii~ "
" Hai, Bos Kecil. Dari mana?" Obito tampak terkejut melihat Menma dan Naruto di luar, tidak biasanya si kecil cerewet itu berkeliaran di jam malam seperti ini. Pemuda itu lantas berjalan cepat menghampiri keponakannya.
" Dari merampok isi dompetku," adu Naruto disertai lirikan kesal pada bocah lima tahun di sebelahnya. Menma mendelik, menggerutu pelan sebelum kembali meminum susu kotak- nya. Dobe- mommy- nya baru saja mengajaknya jalan- jalan setelah makan malam, ngomong- ngomong.
" Kau baru pulang, Obito? Selarut ini?" tanya gadis itu kemudian saat menyadari jika sepupu Sasuke masihlah menggunakan seragam sekolahnya.
" Tugas kelompok di rumah temanku," balas Obito dengan wajah kusut.
" Ah, itu menyebalkan. Aku tahu bagaimana rasanya," timpal Naruto malas.
" Kau benar, Naruto- san."
" Obito- nii- chan tidak mampir?" tanya Menma. Menarik- narik pelan ujung telunjuk pemuda itu.
" Tidak bisa, Menma. Aku masih harus mengerjakan PR- ku," jawabnya dibalas anggukan penuh pengertian dari si kecil Menma.
" Kau sudah pulang malam dan masih harus mengerjakan PR?" Naruto mengernyit.
" Ya," Obito mengangguk, " Memangnya kenapa? Itu sudah tugas pelajar," lanjutnya.
Si pirang mendengus. Meraih bahu Obito dengan lengan kanannya. Merangkulnya erat dan berbisik, " Hei, Bocah. Kau tahu, ada alasan kenapa murid SMA selalu berangkat pagi- pagi."
Menma menahan nafas. Menelan ludah gugup. Naruto- san manis ini terlalu dekat dengannya.
" Yang pertama, karena ingin segera bertemu gebetan, pacar pertama, pacar ke dua, mantan, maupun selingkuhan. Kedua . . . "
GLUP.
' Bangkeeeee, Naruto- san dekat sekalii!' pekik Obito dalam hati.
" . . . karena ingin menyontek PR teman."
Eh?
Obito melongo.
" Itulah fungsi berangkat pagi- pagi," lanjut Naruto.
" Ah, kau mengajariku menyontek, Naruto- san?"
" Tidak. Aku hanya cerita padamu tentang masa SMA- ku, anggap saja begitu. Sasuke tidak pernah menolak saat aku menyontek pekerjaan rumahnya."
" Itu karena kalian adalah sepasang kekasih, " decih Obito kesal. " Aku harus menyontek siapa? Yang ada mereka menyalin PR ku begitu sampai di sekolah, " keluhnya.
Naruto terkekeh.
' Haiss, kenapa Naruto- san manis sekali, sih. Ditikung boleh tidak, ya?' Obito membatin.
" Kalau begitu kerjakan PR- mu. Selamat berjuang."
Obito tersenyum kecil. " tentu, terimakasih, Naruto-san."
" Obito- nii- chan mau pulang sekarang?" tanya Menma. Tangan kecilnya meraih dan menggenggam susah payah jemari Naruto. Badannya beringsut mendekati gadis pirang itu, sedikit menghalau dinginnya udara malam.
Obito mengangguk. " Ah, maaf, Naruto- san. Jadi merepotkanmu, biasanya Menma bersamaku."
" Tidak masalah. Aku dan Menma sudah setuju untuk sering- sering main bersama dan tidak banyak merepotkan pelajar sepertimu," Naruto tersenyum kecil.
" Menma, jangan banyak merengek, jangan nakal. Cepat tidur. Jangan lihat sinetron sampai larut karena menunggu daddy- mu pulang, oke?" pesannya pada Menma.
" Okay," balas si kecil semangat seraya mengacungkan jempol kanannya.
" Not okay, kau harus menggosok gigimu dulu sebelum tidur, Menma," Naruto mengingatkan.
" Tch, Dobe- mommy menyebalkan."
Obito terkekeh geli.
.. .. .. .. ..
" Aku ingin dengar cerita tentang gadis bertudung merah dan anjing," seru Menma menatap Naruto. Bibir mungilnya menyunggingkan cengiran kecil.
" Anjing? Serigala, bukan anjing."
" Kubilang Anjing," seru Menma lagi. Tak peduli jika saat ini mereka tengah berada di dalam lift bersama beberapa pria dan wanita.
" Serigala, Menma."
Lift berhenti, Naruto menarik lembut tangan kecil Menma dalam genggamannya dan melangkah keluar.
" Tapi Chima- chan bilang anjing," dengus si kecil.
Naruto memutar bola mata bosan.
" Chk, terserah. Anjing boleh serigala juga boleh. Tapi bukannya aku sudah bilang padamu kalau aku tidak bisa mendongeng?"
Menma mengerucutkan bibir. Keningnya berkerut dalam.
Pria kecil itu tak membalas apapun, namun kemudian langkahnya terhenti saat menyadari Dobe- mommy- nya juga berhenti berjalan.
Menma mendongak. Menatap seorang pria dengan gadis manis berambut panjang yang terlihat mencium pipi si laki- laki di depan pintu apartemennya.
" Daddy?"
..
Chap 5 _ Tbc
Yang baper? Yang baper?
Terima kasih sudah menunggu fic jamuran ini.. maaf karena terlalu lama. Laptop saya rusak, hadehh.. mo update jg susah karena signal gak mendukung.
Intinya saya bener- bener mohon maaf krna klamaan gak update..
Selamat menunggu chap selanjutnya lagi~
Kekekekee..
Terima kasih utk review2 kalian, terima kasih bnyk, kawan- kawan..
Semoga terhibur dn maaf bila sekiranya ada kata2 yg kurang enak dibaca..hehe
Salam,
Lukas
