Selamat tahun baru teman-teman semua! Udah tahun 2015 aja. Resolusi aku untuk kalian semoga resolusi kalian tercapai.
Maafkan ijel ya. Baru bisa update sekarang. Jel sibuk sekali mempersiapkan diri untuk sekolah dan sebagainya. Maklum deh, tahun ini mau UN. Doakan ya!
Dan terimakasih untuk teman-teman yang masih mau membaca fic ini. Kritik saran dan kesabaran kalian sangat sangat aku syukuri.
Oh iya selamat natal juga ya teman teman. Meskipun telat.
Oh iya ya, selamat ulang tahun juga buat Hinataaa! Meskipun udh belated.
.
.
.
Faq/s:
Ditunggu lanjutannya – awawa thanks! Kenapa Shion ninggalin Naruto - gatau juga. Sepertinya ada di chap ini. Masih ga ngerti kenapa bisa ada adegan gaahina? – itu sebenarnya karena Gaara dikomporin sama sasori kalau Hinata dan Naruto itu sebenarnya ga terlibat pernikahan yang sebenarnya. Jadi Gaara mikir kalo Hinata ini ga serius nikah. Bisa update kilat? – ga bisa TT Kapan Naruto baik? – gatau tuh. Masih lama. Waktu Naruto sama Shion pacaran pernah gituan? – pernah. Kurang adegan naruhinanya – wkwk iyaya? Sasori kenapa sihhh? Balas dendam? – yup! 100 buat kamu. Ke-nyesek-annya dikurangin yah? – wooh. Itu belum seberapa. *tersenyumdalamdiam*
.
.
Disclaimer : Naruto is Masashi Kishimoto's
Warning: emo, galau, nyesek, klise, idenya tiga seribu di pasar, alternateuniverse, alur acakkadul, typos as always, ooc-cold!Naru. Author tukang php janji update.
Don't like - Don't read - Don't judge.
HOOOOI OTP GUA CANONN WOIII! APA LOO? APA LO CALIAK CALIAK? APA LO? PAKE MAU NUNTUT MK LAGI. GA SENANGG HAHH? GIGIT BANTAL SANA. BUAT MANGA SENDIRI HUSH.
Kemarin ijel berantem via dumay sama seseorang yang jelas sekali Hinata hater. Maaf ya.
Jadilah pembaca yang bijaksana. Kalau tau engga suka pair, alur, penulisan, konfliknya, atau apapun, yah back saja. Jangan menghakimi saya. Muah muah.
.
.
.
Suasana begitu ramai, sayup-sayup terdengar suara klakson yang saling bersahutan di bawah kaki mereka menapak. Di bagian agak kedalam juga ada seorang pembawa acara televisi yang terabaikan karena kedua orang yang ada di ruangan itu sedang menonton hal yang lebih menarik, yakni matahari tenggelam.
"Bagaimana kalau kalian cerai saja?" Tanya Shion pelan, mengalun diantara dinginnya hembusan angin sepoi di penghujung musim dingin itu.
Mereka duduk bersantai di balkon apartemen Shion pada suatu sore ketika Naruto selesai dengan pekerjaannya. Naruto belakangan ini memang menjadi sering sekali mengunjungi Shion. Terlebih jika pekerjaannya selesai dengan cepat. Ia pasti akan langsung meluncur ke apartemen gadis itu. Hal ini menyebabkan ia menjadi lebih lama pulang ke rumahnya.
Tangannya memegang pegangan bangku, dan badannya ia biarkan rileks di sandaran kursi. Ia angkat kakinya sejajar dengan bangkunya, sekalipun ia tidak melepaskan sendal rumahnya.
Naruto hanya diam, tak mau menyetujui ataupun menyangkal sebuah pertanyaan yang diutarakan Shion tadi. Ia hanya tetap memandangi matahari yang terbenam di depan balkon apartemen Shion, sambil meneguk kopi kesukaannya.
"Dingin."
Hanya itu yang bisa ia kemukakan untuk menjawab Shion. Tentu saja karena kopinya berubah dingin dan karena ujung-ujung jari tangannya yang berubah memutih.
Tapi tetap, bahkan sambil mengeluh pun ia lebih memilih untuk menatap matahari terbenam yang tersuguh indah tepat di depan matanya.
Dan tanpa ia sadari, Shion menyeringai senang.
"Kedinginan, ya?" Tanya Shion sambil berdiri dan mendekat ke arah Naruto.
Naruto baru saja menoleh, dan sedetik kemudian ia sudah melihat Shion duduk di depan pangkuannya, menghalangi pandangannya dari matahari terbenam.
"Sini, biar aku hangatkan." Shion mengambil kedua tangan Naruto yang tenang memeluk sisi-sisi cangkir kopinya dan menggenggam erat kedua tangan itu. Cangkir itu ia singkirkan ke meja di samping kursi Naruto.
Setelah itu ia mendekatkan tangan-tangan besar itu ke arah bibirnya dan menghangatkannya dengan uap-uap panas dari mulutnya.
"Haaah... Haahh..." Suara dari mulut Shion terdengar nyaring, sementara Naruto hanya diam saja, memandangi Shion.
Setelah ia rasa cukup hangat, Shion meletakkan kedua tangan itu ke pipinya sendiri. Ia tersenyum, kendati Naruto tidak merespon cukup kentara. Mungkin Naruto belum merasa hangat atau bagaimana.
Shion kemudian menghangatkan tangannya sendiri. Awalnya ia menggosok-gosokkan tangannya berkali-kali dengan maksud menciptakan hangat dari gesekan yang ditimbulkan, dan kemudian menambahkan intensitas kehangatannya dengan uap-uap panas dari mulutnya. Setelah ia rasa cukup, ia menempelkan tangannya ke pipi Naruto.
"Hangat, kan?"
Setelah itu ia melakukan hal itu sekali lagi. Namun kali ini Shion menempelkan tangannya ke dada bidang Naruto. Shion bahkan bisa merasakan otot-otot Naruto bereaksi di bawah telapak tangannya.
"Kurang hangat, ya?" Tanya Shion, lalu ia merendah dan memeluk Naruto.
Ia tempelkan bibirnya di leher Naruto dan menghangatkannya. Sesekali ia juga mengecupnya, bahkan menjilat leher pemuda itu.
Namun sepertinya Naruto pandai menyembunyikan reaksinya. Ia hanya tetap tenang sambil memandangi matahari di depannya. Entah apa maksudnya dengan duduk dalam diam. Mungkin ia tidak senang, atau ia menunggu hingga Shion berbuat lebih.
Tapi kali ini alasannya sama seperti kemarin-kemarin, yakni karena Naruto tidak terlalu ingin.
.
.
Banyak hal yang membuat Naruto sedikit trauma dan turun hasrat ketika ia berduaan dengan Shion. Salah satunya adalah mengapa perempuan berambut pirang itu meninggalkan Naruto di hari pernikahannya.
Naruto dan Shion memang sangat dekat, mereka saling menyukai, namun terkadang hanya Naruto yang merasa memberikan lebih dalam hubungan itu. Ia selalu hadir ketika Shion memanggilnya, ia selalu mengiyakan ketika Shion memintanya. Sementara kadang Shion sendiri kurang peka, atau mungkin karena Naruto yang tidak mau memanggilnya dengan harapan Shion akan memulai inisiatifnya tersendiri.
Ia sadar Shion adalah seorang yang bebas, dan ia tidak begitu keberatan karena ia mempunyai prinsip yang sama dengannya. Ia tak akan menyalahkan Shion ketika perempuan itu sangat sibuk diluar dan lupa meneleponnya untuk mengucapkan selamat tidur. Ia tidak akan menuntut Shion untuk berada di sampingnya ketika ia sakit, karena ia tidak melakukan hal yang sama.
Kesibukan Naruto dan Shion makin kentara, mereka bahkan sampai 6 bulan lebih menjalani hubungan tanpa komunikasi yang berarti. Komunikasi yang dilakukan pun adalah komunikasi tak langsung, atau bisa dikatakan mereka tak bertemu sama sekali.
Hingga hal itu harus terusik karena beberapa kali teman-teman Naruto mengaku kalau mereka melihat Shion keluar masuk hotel bersama seorang pria dengan rambut pirang panjang yang poni depannya menutupi sebelah matanya.
Sekilas mereka begitu mirip, persis seperti kakak adik yang bahagia. Namun seseorang yang mengenal Shion pasti akan tau kalau Shion adalah anak tunggal yang hidup mandiri.
Pertanyaannya adalah siapa pemuda itu?
Dan beberapa pertanyaan lain setelahnya muncul. Apa hubungan pemuda itu dengan Shion? Dimana Naruto? Apakah Naruto dan Shion sudah tak berpacaran lagi?
Kecemasan demi kecemasan itu bertumbuk-tumbuk di benak teman-temannya yang gerah dengan perangai genit Shion, dan melaporkan wanita muda itu kepada Naruto.
Awalnya Naruto hanya tertawa terkekeh, tak percaya dengan rumor yang diutarakan teman temannya.
Namun ketika bukti konkret dikeluarkan, ketika Shion sedang berciuman mesra dengan pemuda itu di basement, Naruto jadi bingung sendiri.
Kalau mau jujur, hatinya tidak begitu sakit. Malah, ia merasa biasa saja. Ia bahkan berpikir kalau Shion sudah selingkuh, itu adalah satu lampu hijau untuknya untuk selingkuh juga. Mengingat mereka satu aliran, aliran metropolitan yang bebas. Terbelenggu ikatan yang harus begini dan begitu akan mengganggu mental mereka.
Okay. Pada awalnya Naruto hanya diam dan menganggap Shion hanya mencari pengalihan sementara karena begitu sibuknya ia dengan kolega barunya.
Namun hubungan mereka semakin tidak jelas, dan sepertinya hubungan Shion dengan selingkuhannya sudah mencapai tahap yang mengerikan.
Karena itulah ketika musibah dimana Naruto harus menikahi seseorang, ia dengan cepat menanyakannya pada Shion, sekaligus mencari jawaban atas pertanyaannya selama ini, siapakah yang akhirnya dipilih Shion.
Hati Naruto tersenyum menang tatkala Shion dengan antusias menjawab mau dinikahi olehnya. Ia segera mencari gadis itu dan membelikannya gaun putih yang berkilauan. Cincin berbatu berlian yang indah, dan buket bunga edelweiss, sang lambing cinta abadi.
Tak ada yang dicemaskan Naruto saat itu, ia sudah memiliki segalanya. Calon istri, kekayaan, jabatan, dan apapun yang mungkin tengah diperjuangkan kebanyakan orang di dunia. Rencananya berjalan dengan sempurna, dan ia sudah memiliki gadis yang bersedia untuk menjadi partner kehidupannya setelah ini.
Dan seketika rencananya yang rapih itu harus hancur berantakan, bak menara kartu yang ditendang dari bawah. Shion kabur dari pernikahannya.
Naruto frustasi, dan menemukan Hinata. Sang penyelamat sekaligus pilhan terakhir. Tatkala menunggu calon mempelainya itu berias, ia menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki kemana dan mengapa Shion pergi darinya, merusak semua rencananya dan memaksanya menikah dengan seseorang yang kurang familiar di hidupnya.
Seluruh anak buah yang ia sewa mengatakan bahwa Shion kabur dengan riasan ala pengantin namun memakai piama hotel. Ia berlari menyetop taksi dan menuju ke kediaman seseorang.
Namanya Deidara. Sang selingkuhan.
Ketika itu Naruto marah, ia kesal, dan ia harus mengakui hatinya sakit, mengingat apa yang dilakukan Shion kepadanya setelah apa yang ia korbankan pada gadis itu. Ia lampiaskan kemarahannya pada benda apapun yang ada di hadapannya, ia melempar piring dan gelas, merusak property ini dan itu.
Ia menggeleng, bertekad akan melupakannya dan menjalani hidupnya yang baru.
Ia tidak akan mengusik kehidupan Shion lagi. Lebih baik ia bahkan tak menampakkan diri dan membuat Naruto sakit lagi.
Dalam perjalanan pulang ke rumah barunya, sehabis pernikahannya dengan Hinata, ia menerima pesan singkat dari Shion, yang bertuliskan ucapan selamat tinggal yang tidak biasa.
Naruto, hatiku memilih pergi, aku tak bisa berpura pura lagi menyukaimu. Ada tidak adanya kau di hidupku akan terasa sama. Dingin. Selamat tinggal. Shion.
Pesan itu ia baca ketika ia sudah tak lagi menjalankan mobilnya. Ia menjadi kesal dan melampiaskannya pada Hinata dan membuang cincin pernikahan mereka. Ia benci. Benci dengan keadaan itu.
Tekad yang sudah susah payah ingin ia bangun hancur sudah. Kemarahannya ia lampiaskan pada seorang gadis malang bernama Hinata Hyuuga. Dan ia harus mengakui, berpura-pura bahagia dikala hatimu tergores-gores belati adalah hal yang susah.
Ia sangat kesusahan ketika berusaha keras menerima Hinata.
Ia tidak mencintai gadis itu.
.
.
Empat bulan sudah berlalu dan Shion kembali melenggang ke kehidupannya, merusak semua kerja kerasnya untuk melupakannya, menghancurkan tekadnya untuk tidak mempedulikan wanita itu apapun dan bagaimanapun keadaannya.
Shion kembali mungkin karena kartu kredit Deidara sudah limit, atau mungkin karena ia tak bisa lagi melengkapi koleksi tas Pradanya yang mencapai puluhan juta yen.
Mungkin.
Karena menurut Naruto, selama ini yang membedakan mereka, Naruto dan Deidara adalah kemampuan finansial Naruto yang melambung diatas rata-rata, membuat wanita manapun yang ia pilih dapat dengan mudah hanya menjentikkan jari dan kemudian mendapatkan apa yang ia mau.
Tapi ia tak pernah tau, kalau Deidara memperlakukan Shion dengan cinta, dengan kasih sayang yang tulus. Tidak seperti Naruto yang memperlakukannya sebagai partner. Bukan kekasih.
Ironis memang, Naruto belum pernah merasakan cinta sejati dalam hidupnya. Bahkan dengan Shion sekalipun. Ia hanya sangat peduli kepada gadis itu. Dan mau tak mau Shion menerimanya. Menerima dirinya yang diperlakukan tak lebih dari sekadar partner. Sebuah hal yang membuatnya bertahan adalah dompet tebal Naruto.
Dan akhirnya ia tak kuat, ia melarikan diri untuk menghindari hal tersebut, menghindari ia dan Naruto yang terjebak dalam hubungan dengan perasaan yang dangkal.
Kadang Shion bertanya sendiri, apa maunya dengan kembali ke kehidupan Naruto? Ia sendiri sudah cukup independen untuk membiayai hidupnya, bahkan sudah cukup untuk mengangkat Deidara dalam kehidupannya.
Apa?
Mengapa?
Mungkin Shion benar-benar ingin mendatangkan cinta sejati pada Naruto. Mungkin ia ingin Naruto merasakannya dengan perempuan bernama Shion.
Namun yang terlewatkan oleh Shion adalah Hinata. Hinata yang begitu tulus berbuat segalanya demi pemuda itu. Perempuan biasa yang rela berkorban hidup demi Naruto.
Di mata Shion, Hinata hanya perempuan sewaan Naruto untuk menikah dengannya di hari ia kabur.
Ia tak tahu sekali perasaan Hinata pada Naruto.
Sebuah perasaan yang melebihi cinta sejati.
Cinta mati.
.
.
.
"Ummmhhh" Naruto mengerang. Bukan karena menikmati, namun karena siku tajam Shion yang menimpa tulang rusuknya. "Shion. Cukup." Ujarnya.
Shion diam saja, merasa sudah memenangkan Naruto akibat erangan pemuda itu. Ia menaikkan wajahnya dan memagut dagu Naruto. Namun sikutnya malah membuat dada Naruto semakin sakit, sehingga ia memaksa Shion menjauh dengan sedikit hentakan.
"Sakit." Keluhnya sambil mengelus elus dadanya.
"Tapi sudah lebih hangat kan?" Tanya Shion lagi sambil membantu mengelus-elus dada Naruto.
Naruto menggeleng, "Sedikit."
"Kau mau yang lebih hangat dari ini, Naruto?" Tanya Shion seduktif.
Naruto terdiam sebentar lalu menggeleng, "Tidak. Tidak hari ini, Shion." Ujarnya lagi. Setelah itu ia bangkit berdiri dan pamit pulang.
.
.
.
"Halo? Iya. Baik, kaa-san."
Naruto mendapat telepon dari ibunya ketika ia baru saja mendaratkan pantatnya pada jok mobilnya yang empuk.
Sambil memutar lagu kesukaannya dan menghidupkan mobilnya, Naruto bertanya tanya dalam hati mengapa suara ibunya tidak sehangat yang biasanya.
"Tumben sekali kaa-san meminta bertemu tapi tidak mengajak Hinata. Biasanya ia paling semangat ketika melihat menantunya itu." Ujarnya pada diri sendiri.
Naruto kemudian teringat pada Hinata. Ia melihat jam tangannya. Baru jam 6.15. Masih ada beberapa waktu sebelum makan malamnya. Tiba tiba ia sangat ingin masakan rumahan.
Naruto mengambil handphonenya yang tadi sudah ia banting ke jok samping.
"Hinata? Pulang kerja aku mau ke rumah tou-san. Aku akan pulang untuk makan malam." Katanya.
Naruto belum mematikan telepon. Telinganya masih rapat bersentuhan dengan speaker handphonenya. Tak lama, terdengar suara Hinata berteriak keras dari seberang, membuat Naruto sedikit tersenyum.
Setelah itu ia baru mematikan handphonenya. Ia yakin Hinata pasti akan memasak sebuah makanan istimewa dan yang pastinya sangat enak.
.
.
.
"Tadaima! Okaa-san? Otou-san?" Seru Naruto ketika ia membuka pintu. Ia membuka jasnya dan melampirkannya di sofa ruang tamu dan masuk ke dalam.
Disana, ia melihat punggung Minato yang sedang membelakanginya, berbicara serius dengan Kushina.
"Tou-san! Aku bawakan pi-"
Buagh. Sebuah tonjokan mendarat manis di pipi kiri Naruto, membuat ia dan sekotak pizzanya terjatuh. Naruto bahkan tidak menyadari ayahnya yang tadi berbalik dan meninjunya dengan cepat.
"Minato, tahan dirimu." Ujar Kushina menenangkan. Minato yang sedari tadi memandang Naruto marah, memalingkan muka dan berjalan ke arah lain. Ia mendengus keras. Membuat Naruto menyerngitkan dahi heran. Ia bangkit untuk protes.
"Apa salahku? Memangnya aku masih anak kecil?" Serunya nyaring, membuat Minato berbalik dan hendak memukulnya lagi.
Plak.
Sebelum Minato bisa memukulnya, Kushina sudah menamparnya duluan, persis di tempat dimana Minato memukulnya tadi, membuat nyeri di pipi itu semakin menjadi-jadi.
Namun Naruto hanya terdiam, karena kalau ibunya memukulnya, berarti yang sudah ia lakukan adalah kesalahan besar.
"Duduk, Naruto." Panggil ayahnya yang sudah duduk di meja makan.
Kushina bangkit mendahului Naruto, membuat Naruto heran. Bahkan ibunya tak mau membantunya berdiri?
Ia berdiri sendiri dan menghampiri kursi meja makan, dan duduk di sana.
"Katakan kalau apa yang kami dengar itu salah." Ujar ayahnya pelan.
"Apa maksud Tou-san? Apanya yang salah?" Tanya Naruto bingung dengan argumen ayahnya yang berputar putar.
"Naruto, sebenarnya siapa Hinata?" Tanya ibunya lagi. "Salah. Siapa yang sebenarnya yang harus kau nikahi pada awalnya?"
Naruto terdiam. Pernikahan yang baru seumur jagung itu sudah terguncang ombak sebesar itu. Ia khawatir dengan Hinata nantinya. Ia berpikir mungkin nanti ayah dan ibunya akan menendang Hinata keluar ke jalan raya, atau bahkan memasukkannya ke penjara.
"Tou-san dan Kaa-san sudah tau sampai sejauh mana?" Jawab Naruto balik dengan pertanyaan.
"Semuanya. Bahkan kami sudah menyelidiki seorang wanita yang bernama Shion."
Naruto terdiam. Berarti hal yang diketahui oleh ayah dan ibunya itu sudah sangat mendetail. Mereka bahkan sampai menyelidiki Shion. Ia tidak bisa main-main. Ia tidak bisa mengelak apa-apa lagi mulai hari itu. Ia pasrah. Apapun yang terjadi, terjadilah.
Sambil memegangi pipinya yang membiru, ia bercerita panjang lebar tentang dirinya, Hinata, Shion, dan Rei.
Di akhir ceritanya ia mengatakan bahwa Shion kembali ke kehidupannya, dan mereka terjebak dalam hubungan yang tidak jelas.
"Apa Rei tau tentang ini?"
Minato menggeleng. Rei sudah pensiun dan menikmati liburan di masa tuanya. Lagipula tak ada yang bisa ia lakukan. Sekarang perusahaannya dipegang oleh Gaara, dan Gaara adalah musuh Naruto sekarang.
Lagipula apabila Gaara mengetahui rahasia pernikahannya, hal itu tak akan berpengaruh apa-apa karena kontrak kerja sudah dibuat dan masih berakhir beberapa tahun lagi.
"Kau menyimpan semua ini sendirian tanpa memberitahu kami sedikit pun? Kau anggap apa kami ini?" Tanya ibunya.
"Saat awal, Tou-san sudah terkena serangan jantung. Apa yang akan terjadi kalau aku gagal menikah, gagal mempertahankan perusahaan, lalu kita semua malu karena mempelaiku kabur? Menurut Kaa-san apa yang akan Kaa-san lakukan?" Tanya Naruto balik. Bagaimanapun ia harus membela diri.
"Tapi bagaimana bisa kau menarik seseorang yang tidak kau kenal untuk kau nikahi?" Tanya ayahnya lagi.
"Hinata itu temanku. Dan sepertinya ia menyukaiku. Buktinya ia tidak meminta cerai padaku sampai sekarang." Ujarnya percaya diri.
"Lalu bagaimana dengan perasaanmu?"
Naruto terdiam. Sejak kapan ada yang peduli dengan perasaannya? Bukannya pada awalnya ayah dan ibunya mendesaknya untuk menikah?
Naruto mendengus. Ia menggeleng pelan.
Kushina dan suaminya terdiam. Mereka tentu bisa membaca perasaan anak semata wayangnya berdasarkan ceritanya.
"Lalu bagaimana dengan Shion?"
"Tidak. Dia tidak mencintaiku. Dia hanya menyukaiku. Kalau memang iya kenapa dia kabur?" Ujar Naruto menyimpulkan.
"Apa rencanamu?"
Naruto terdiam. Ia tidak punya rencana apa apa. "Aku... tidak tau."
Suasana berubah sunyi, hening mendominasi. Sudah jam setengah sembilan, dan Naruto sudah menceritakan apa yang terjadi padanya selama ini. Semuanya, kecuali tentang Gaara yang menyerang Hinata.
"Kalau Tou-san jadi kau, dan terjebak dalam situasi seperti ini, Tou-san akan memilih Hinata."
Naruto kaget dengan argumen ayahnya, ia kira ayahnya akan menyuruh ia bercerai. Ia kira ayahnya akan marah dengan Hinata.
"Tou-san tidak marah dengan Hinata?"
"Ayah tidak akan menyalahkan siapa-siapa. Tapi ayah hanya kecewa dengan caramu memperlakukan Hinata setelah apa yang ia lakukan untukmu."
"Hinata itu anak yang baik, Naruto. Kaa-san tau itu. Kaa-san malah merasa beruntung kau menikah dengannya." Ibu Naruto menambahkan.
Naruto diam-diam menyetujui hal itu. Ia bahkan tidak pernah berterimakasih pada Hinata.
"Tapi kami tidak akan memaksamu. Kau sudah cukup besar untuk menentukan pasangan hidupmu. Tou-san dan Kaa-san hanya ingin kau untuk jujur pada kami."
.
.
.
Sudah jam 9. Perkataan dan nasihat ayah ibunya terngiang di kepala Naruto.
"Tapi kami tidak akan memaksamu. Kau sudah cukup besar untuk menentukan pasangan hidupmu. Tou-san dan Kaa-san hanya ingin kau untuk jujur pada kami."
Itu sama saja dengan menyetujui jikalau memang Naruto ingin bercerai.
Tapi entah kenapa ia tidak ingin menikah dengan Shion setelah ia bercerai pun. Ia bahkan tidak tahu arah perasaannya sekarang.
"Awww," Naruto mengeluh kesakitan, ia menghidupkan lampu dan mengecek keadaan pipinya yang berubah warna di spion. Parah sekali. "Sakitttttt..."
Setelah itu ia mengerang seperti anak kecil dan merengek rengek kesakitan.
Hinata sedang menunggu cemas di sofa ruang tamu ketika Naruto masuk ke rumah dan menggantung jasnya di gantungan jaket. Hinata menghampirinya dan terkejut pipi Naruto yang memar dan membiru.
"Astaga, Naruto-kun! Apa yang terjadi?" Serunya kaget.
Naruto hendak menjawab, namun bengkak di pipinya membuat ia sulit bicara. Ia hanya meringis pedih.
"Jangan bicara dulu. Ayo kita sembuhkan lukanya, Naruto-kun."
.
.
.
Naruto diam saja menunggu Hinata mengambilkan obat dari kotak pertolongan pertama yang ada di dapur. Ia duduk di meja makan dan melihat hidangan sedap yang tersaji di sana. Ia lapar sekali.
Hinata mengambil kapas dan menuangkan alkohol, karena ia melihat beberapa luka kecil yang terdapat di atas memar Naruto. Mungkin luka itu timbul karena tergesek oleh cincin tebal Minato.
Setelah itu, ia mengompres memarnya dengan kompres dingin agar bengkaknya berkurang.
"Kenapa bisa begini, Naruto-kun?" Terdengar suara lembut Hinata yang sedikit gemetar. "Apa kau diserang seseorang?" Tanyanya lagi.
"Ah, tidak. Tidak. Ini hanya perkelahian ayah dan anak." Jawab Naruto jujur. Pipinya menjadi lebih rileks dan ia sudah bisa menggerakkan pipinya yang berkumis tiga itu.
"Ja-jadi? Tou-san yang membuatmu seperti ini?" Tanyanya lagi. Hinata kaget, ternyata Minato bisa menjadi galak seperti itu.
Naruto mengangguk beberapa kali. "Jangan horror begitu. Ini sudah biasa." Ujarnya.
Hinata mengambil kompres dan mengganti es batu di dalamnya, ia menyuruh Naruto menempelkannya lagi.
"Andai aku tahu rasanya, Naruto-kun. Aku tidak pernah ingat rasanya bertengkar dengan orang tua."
Naruto terdiam. Baru kali ini ia bisa melihat ekspresi Hinata dengan jelas. Bahu gadis itu. Bahu gadis itu terlihat sangat berat dan kesepian. Ia seperti sedang memikul beban yang besar seorang diri.
Hinata memasukkan air hangat ke dalam kompres kedua. Ia lalu mengambil kompres es Naruto dan menggantinya dengan kompres hangat.
"Kalau bisa, aku ingin sekali bertengkar dan tahu rasanya bagaimana membela diri dengan melawan orang tua. Seperti Naruto-kun hari ini. Hihihi." Hinata tertawa di akhir kalimatnya. Namun perasaan iri dan cemburunya terlihat sangat kentara di mata Naruto.
Kruyukk~
Suara perut Naruto memecah keheningan di antara keduanya. Hinata langsung melihat ke arah perut Naruto lalu bertanya. "Naruto-kun lapar?"
Setelah melihat anggukan Naruto, Hinata dengan cekatan membuatkan makan malam untuk Naruto. Ia menyendokkan nasi di piring dan mengambilkan lauknya sekalian. Setelah itu ia memberikannya kepada Naruto.
Hinata duduk di seberang Naruto dan menatapnya makan dengan lahap. Ia merasa Naruto benar-benar kelaparan sekarang. Namun ia lebih banyak tersenyum senyum sendiri karena melihat Naruto yang susah payah mengunyah makanannya karena pipinya yang masih bengkak. Lucu sekali.
.
.
Durasi Naruto makan menjadi lima kali belih lambat dari bagaimana ia menikmati makan malamnya yang biasa. Ia bahkan harus minum dengan sedotan karena pipinya sangat sakit digerakkan terlalu cepat. Untungnya Hinata sudah mengantisipasinya dari awal, sehingga ukuran sendok, sedotan, dan lain lain sudah ia sesuaikan dengan keadaan Naruto sekarang. Ia bahkan sudah memotong motong ayam gorengnya menjadi lebih kecil agat Naruto tidak susah untuk mengigitnya.
Setelah Naruto selesai makan, ia baru menyadari Hinata sudah tertidur di depannya beralaskan siku kanannya. Ia sama sekali tidak melihat istrinya itu sudah tertidur. Terakhir yang ia lihat adalah Hinata yang duduk dengan kepala menangguk-angguk karena mengantuk.
Tanpa pikir panjang, Naruto meletakkan piring dan gelasnya di wastafel cuci dan menggendong Hinata menuju kamarnya.
Tapi sesampainya pemuda itu di depan pintu kamar gadis itu, ia hanya berhenti dan tidak membuka pintu kamarnya. Ia malah teringat kata kata ayahnya.
"Kalau Tou-san jadi kau, dan terjebak dalam situasi seperti ini, Tou-san akan memilih Hinata."
Naruto mundur beberapa langkah dan meneruskan jalannya menuju kamarnya sendiri. Kemudian ia membaringkan gadis itu disisi sebelah kiri tempat tidurnya.
Ia lalu membuka sendal rumahnya dan menaikkan selimut Hinata. Tapi ia berhenti ketika melihat kemeja renda Hinata yang masih ia pakai. Kemeja itu terlihat menyesakkan dan tidak nyaman.
Ia lalu berjalan ke kamar Hinata, berniat mengambil baju tidurnya agar gadis itu bisa tidur dengan sedikit lebih nyaman.
Membuka lemari Hinata, ia melihat banyak sekali baju di sana. Namun tidak ada satupun baju tidur atau kaos-kaos santai, yang hanya adalah gaun-gaun dan atasan-atasan formal. Selain itu di bagian atas ada beberapa pasang sepatu.
Ia mencari ke seluruh rak lemari besar itu dan tidak mendapatkan apa-apa. Yang ada hanya baju-baju yang sama tidak nyamannya dengan baju Hinata sekarang. Ia melihat ke sekeliling dan tidak menemukan lemari lain. Ia menjadi frustasi sendiri dan keluar dari kamar Hinata.
Yang ia tak tahu bahwa semua baju-baju rumah Hinata ada di lemari di dalam kamar mandi Hinata.
Naruto kembali ke kamarnya dan mengganti bajunya menjadi piyama hijau daun. Ia memakai topi tidurnya dan duduk di atas tempat tidur.
Ia melihat Hinata menggaruk leher bawahnya karena renda yang ada di kemejanya membuat lehernya gatal. Sialnya, leher yang ia garuk menimbulkan warna kemerahan yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
Beberapa detik Naruto habiskan karena terpaku dengan pemandangan itu.
Ini tidak boleh terjadi. Batinnya. Ia segera berjalan ke lemarinya dan mengambil kaosnya yang berukuran paling kecil dan ia rasa sempit. Ia lalu membuka kemeja Hinata dan memakaikannya baju kaosnya.
"Begini lebih baik."
Ia berjalan ke arah kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka, sekaligus mengalihkan pikirannya dari bayangan Hinata yang tadi sempat ia lihat saat mengganti bajunya.
Hinata dengan baju dalam.
.
.
.
Sekembalinya ia dari kamar mandi, ia melihat Hinata tertidur pulas dengan ekspresi lebih nyaman di tempat tidur besarnya. Ia ikut berbaring di sebelah Hinata dan menarik selimut besarnya dan menutupi tubuh mereka berdua.
Naruto menatap gadis itu. Dan kembali terngiang dengan kata-kata orangtuanya tadi.
"Kalau Tou-san jadi kau, dan terjebak dalam situasi seperti ini, Tou-san akan memilih Hinata."
Kenapa?
Dia. Apakah benar ia sebatang kara selama ini? Kalau dipikir-pikir ia tidak pernah membicarakan sedikitpun tentang keluarga dan masa lalunya.
Mungkin kapan kapam aku harus menanyakannya. Pikir Naruto.
Ia kembali melihat Hinata. Sempat terpikir sedikit olehnya bagaimana cara gadis itu bertahan selama ini. Lagipula, ia berkuliah di tempat yang sama dengan Naruto. Tempat itu merupakan universitas ternama di kotanya. Dan tak bisa dipungkiri, harganya lumayan mahal.
Disaat ia sibuk dengan pikirannya, kaki dan tangan Hinata bergerak memeluknya. Melingkarkan sebelah kaki dan tangan itu di sekeliling tubuh Naruto.
Mata Naruto seketika membesar. Ia kemudian segera menoleh dengan lambat. Dan benar saja, wajah Hinata begitu dekat dengan wajahnya.
Oh tidak. Keluh Naruto.
Mau tidak mau ia harus menahan dirinya untuk tidak membangunkan Hinata dari tidurnya.
.
.
Hinata terbangun lumayan terlambat hari ini. Ia menggaruk kepalanya dan menyingkirkan rambut panjangnya yang kusut. Ia merenggangkan badannya dan membuka jendela.
'Eh? Jendela siapa ini?'
Hinata bingung karena ini bukan jendela kamarnya. Ia kemudian melihat ke sekeliling dan baru sadar kalau ini bukan kamarnya, melainkan kamar Naruto.
'Kenapa aku bisa ada disini?'
Hinata bingung, lalu mencari-cari keberadaan Naruto. Ia mengedarkan seluruh pandangan ke ruangan Naruto dan terkejut melihat cermin. Di cermin ia melihat dirinya. Dirinya yang memakai baju Naruto.
"ASTAGA!" Ia berputar beberapa kali untuk memastikan bahwa itu bukan bajunya dan memang adalah benar baju Naruto. Ia melihat dirinya sendiri. Baju itu terlalu panjang, dan terlalu turun ke bawah, menampakkan sedikit belahan dadanya.
Ia menarik baju itu, dan ia bisa mencium wangi Naruto dari serat-serat kainnya. Ia kemudian berteriak bahagia tanpa suara, lalu berlari ke dapur untuk memasak.
.
.
"Hinata!"
Seru Naruto dari arah ruang tamu. Hinata yang sedang memasak segera mematikan kompornya dan setengah berlari untuk menyambut Naruto yang ada di depan.
Sesampainya di sana, ia tertegun dengan sendok masak yang ada di tangan kanannya, baju Naruto yang masih ia pakai, rambut kusut dan wajah khas baru bangun tidur.
'She is hot.'
Terbangun dari lamunannya, Naruto berdehem dan mengangguk sedikit.
"Hinata, kau kenal dengan dia, kan?" Tanyanya sambil menunjuk seseorang dengan sebuah koper ungu di tangannya.
"Shion."
Hinata mengangguk.
"Sementara ini dia akan tinggal di rumah kita."
.
.
.
.
TbC (tuberculosis)
Apresiasi tinggi untuk masashi kishimoto karena berhasil menyelesaikan Naruto. Awalnya aku sih terima terima aja kalo Naruto mau digimanain, hinata mau dijadikan sama siapa. Tapi bonusnya, dia malah kepincut sama Hinata. Tentu saja aku berteriak-teriak. Ga sabar nunggu the last tayang di teather indo, atau mungkin keluar yang officialnya di internet nanti ntah juni atau juli. Cuma bisa nunggu. Ada banyak event, fanart, fanfic, doujinshi yang melimpah limpah dan selalu jadi moodbuster aku setiap hari. Aku sangat. Sangat. Sangat. Mensyukuri hal itu. Dan untuk temen temen yang mungkin otpnya ga canon ya, mau gimana. Keputusan kan ga ada di tangan kita. Kita hanya pembaca dan penikmat. Bukan hakim.
Alangkah baiknya kita semua mengapresiasi tinggi keputusan dan kerja keras masashi-sensei.
Kalau gamau ya, yaudah. Emang ada yang maksa? Engga toh?
Untuk hater hater di sana yang tak henti hentinya meramaikan fb dan grup naruhina dengan beribu-ribu tulisan dan gambar ngebash, tolonglah. -_- mau kalian buat Hinata botak gendut pake baju baju lusuh dan tinggal di kandang ayam, pikirlah. Buat apa? Toh ga bakal ngubah apa apa. Kalo emang iya bias berubah aku udah buat gituan dari dulu supaya otp aku di manga lain jadi canon.
Tapi yasudahlah. Terserah. Walaupun sebagian orang bilang ini hanya karakter imajinasi, yahh, emangsih. Tapi naruhina itu hidup kok. Hidup di kokoro ijel …. #plak.
Udahan ya curhatnya. Udah haus.
Semoga chapter ini bisa menjawab semua pertanyaan dan rasa penasaran minna. Wkkwkw. Semoga tidak mengecewakan. Dan perlu minna tau ini masih bakal banyak hurtnya.
Terimakasih untuk para reader, reviewer, yang jadi alarm untuk update setiap bulannya, dan semua yang sudah menambahkan Chrizzle dan ficnya yang abal-abal kedalam alert maupun ke favoritnya. Itu apresiasi terbesar yang pernah aku dapat sebagai seorang author.
Aku akan senang, kalau kalian mau berbagi komentar di review. Hehehe.
See you at 7th!
Krizel
.
.
Maaf mungkin chapter ini aku belum bisa bales review kalian. Tapi aku tetap baca kok! Dan aku sangat terharuuuu. Ada beberapa yang review beberapa kali untuk mengingatkan update. Makasihhhhhhhhhhh sekaliiii! :'(
Aku sangat sibuk.
Tapi chapter depan aku bakal usahakan sempat balas deh. Disini dan di pm.
Karena itu, review, yah!
MAKASIH BUAT YANG REVIEW DI CHAPTER LALU. AKU SANGAT MENYAYANGI KALIAN. #PELUK #PELUK #PELUK
