*HE IS MY BOYFRIEND* PART 6
Cast:
Kim jongin
Oh sehun
Kim moonkyu
Jang sora
Kim minseok
Xi luhan
.
.
.
"kyunge bisa kau bergeser"
"KYAAAAAAAA"
D.o meloncat dari tempat duduknya dan menatap horor yeoja yang menatapnya aneh.
"kau ini kenapa?"
"k..kau jongin kan? Kau bukan sadako "
"apa maksudmu tentu aku jongin, kim jongin bukan hantu aneh itu, lagi pula aku lebih cantik darinya"
"tak ada yang perduli jongin"
"aku perduli kau tau"
"aku tak tau lagi pula ada apa denganmu?"
D.o menatap penampilan jongin yang dia bilang mirip sadako. Bagaimama D.o tak mengatakan jongin mirip sadako lihatlah penampilannya sekarang rambut hitamnya terlihat berantakan dan di tambah lagi beberapa helai rambutnya menutupi wajah cantiknya, lalu dia hanya menggunakan kemeja putihnya di tambah lagi wajahnya yang terlihat pucat membuatnya semakin seperti sadako.
"kau sakit jong "
"tidak "
Jongin menjatuhkan kepalanya ke atas meja dan menutup matanya, D.o hanya cemberut dan terus menatap jongon, namum tak lama kemudian matanya menangkap sosok namja yang tak dia kenal berjalan ke arahnya, namja tersebut tersenyum pada D.o sekilas lalu berjongkok mengsejajarkan wajahnya dengan wajah jongin, tangannya terulur untuk menyingkirkan helayan rambut yang menutupi wajah jongin.
"maaf kau siapa"
Ahirnya setelah memendam rasa penasarannya dia mulai bisa bertanya.
"oh hey aku teman jongin"
D.O mengerutkan keningnya, merasa tak pernah tau jika jongin berteman dengan namja ini. Namja itu yang ternyata moonkyu menatap aneh pada jongin yang tak bereaksi sama sekali, tanganya terulur ke kening jongin dan matanya membulat sempurna, di rangkulnya bahu jongin dan menegakkan tubuh jongin lalu menggendongnya.
"katakan jika jongin sedang sakit , aku akan membawanya pulang"
D.o hanya menganggukkan kepalanya dan melihat punggung moonkyu.
"sebenarnya siapa namja itu?"
.
.
.
Jam pelajaran pun di mulai dan jam pertama ini adalah pelajaran sehun, namja pucat ini mematap sekeliling kelas dahinya mengkerut saat tak melihat sesosok yeoja yang masih sangat dan akan terus dia cintai itu.
"di mana kim jongin "
"dia sakit sem "
Ujar gadis bermata bulat, sehun hanya mengangguk nganggukkan kepalanya.
'dasar bodoh sudah tau tak tahan dingin kenapa juga harus maen air kemarin sore dasar' runtuk sehun dalam hati, jujur saja dia merasa sangat hawatir.
"sem apa anda hanya menanyakan jongin"
Sehun menoleh ke sumber suara dan menatap yijung.
" apa sem tau bukan hanya jongin yang tak ada di kelas ini? Sem anda ini kenapa? Bukankah anda sudah memiliki sora sem kenapa anda memberi harapan pada yeoja bodoh itu"
BRAKK
Sehun menatap tajam yijung yang terus berbicara tanpa jeda, dan sehun membanting bukunya ke meja hingga membuat yijung bungkam.
"apa kau pernah di ajarkan etika berbicara dengan gurumu? Dan kau sepertinya merasa lebih pintar sehingga sembarangan mengatakan seseorang itu bodoh"
'terlebih pada kekasihku' lanjutnya dalam hati. Yijung bungkam dalam seketika.
.
.
.
Sehun melirik jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukan pukul 7 malam, memang ahir ahir ini adalah hari terberat untuknya sehingga membuat dia melupakan jonginnya, di tambah lagi sekarang jongin sedang marah padanya itu membuatnya semakin pusing setengah mati,sehun segera membereskan mejanya.
" anda belum pulang hunie?"
" ah kau sora, aku baru akan pulang"
"ah begitu yah, begini"
Sora menundukan wajahnya dan terlihat sangat gugup, membuat sehun bingung arah pembicaraan ini, sehun bersumpah jika saja di hadapannya ini bukan seorang wanita mungkin sehun sudah hengkang dari tadi untuk pergi menjenguk jonginnya.
"begini hanie bagaimana jika kita pulang bersama "
"apa pulang bersama "
"hem kau tau kan jika rumah ku jauh dari sini dan aku pun merasa sangat takut, bagai mana jika terjadi sesuatu padaku "
"ah baiklah akan ku antar kau pulang "
Sehun segera berjalan menuju parkiran, sebenarnaya sehun ingin sekali menolak namun apa daya, sehun tak pernah tega pada seorang gadis lemah.
.
.
.
Ceklek
Sehun menatap horor yeoja yang berdiri di balik pintu itu, terlihat aura membunuh yang menguar dari tubuh mungil di hadapannya ini.
"heh kau albino kau apakan jongie ku? Sepertinya kau benar benar bosan hidup rupanya "
SRETT
BRUKK
PRANG
Sehun menatap ngeri sebuah pot bunga yang hancur karna ayunan pedang kayu milik minseok, beruntung bagi sehun, mungkin karna sehun sudah tau watak dari seorang kim minseok membuatnya dengan mudah menghindari pedang kayu itu.
"YAKKK KAU OH SEHUN BERENGSEK IDIOT ALBINO CADEL KAU TAK AKAN HIDUP SETELAH INI"
Dan sehun yakin setelah ini dia akan mengalami cedera yang cukup serius, setelah beberapa kali menghindar dari pukulan minseok sehun pun harus merelakan tubuhnya di pukuli oleh yeoja mungil namun bertenaga bak monster.
GREB
Gerakan minseok terhenti oleh seorang namja yang memeluk tubuhnya dari belakang, namja itu terlihat sedang menenangkan minseok dan itu berhasil, minseok menatap sehun yang memang sudah ambruk di tanah pekarangan rumahnya.
"dengarkan aku tuan albino idiot, jangan pernah kau membuat jongieku menangis, dan jika seandainya kau hanya ingin mempermainkan perasaannya sebaiknya kau pergi dari sini dan jangan pernah tunjukan wajahmu di hadapanku "
Minseok segera melangkahkan kakinya meninggalkan 2 orang namja itu, namja yang di ketahui luhan melangkah mendekati sehun dan memgulurkan tangannya pada sehun lalu membantu sehun berdiri.
" apa kau punya waktu untuk berbicara denganku?"
Sehun menatap namja yang terlihat cantik itu lalu mengangguk, setelah mendapat persetujuan sehun, luhan mengajakn ya ke taman belakang rumah jongin, di dalam pikiran sehun sebenarnya bertanya tanya siapa namja ini sebenarnya, ahirnya mereka berdua duduk di sebuah bangku taman dan menatap bulan purnama yang bersinar terang.
"jongin sakit"
"aku tau"
"kau masih kekasihnya kan? "
Pertanyaan macam apa itu, sehun segera mengalihkan pandangannya pada namja di sampingnya yang tetap setia menatap langit.
"tentu saja "
"lalu kenapa bukan kau yang membawanya pulang tadi pagi"
"aku"
"kau tak tau jika jongin sakit, atau kau tau dia sakit tapi kau tak perduli?"
"tidak tentusaja bukan begitu, aku hanya tak tau "
"namamu sehun kan?"
"hem " sehun hanya berdehem menjawab pertanyaan luhan.
"ingin mendengar ceritaku?"
Kening sehun mengkerut, oh ayolah dia kemari bukan untuk mendengarkan cerita orang asing kan?
"kau mau mendengarnya atau tidak aku akan bercerita "
Ini namanya memaksa jadi untuk apa namja itu bertanya padanya.
"kau tau dulu aku memiliki seorang sahabat dia selalu ada untukku dimana ada dia di sana pasti ada aku,kami selalu bersama dia sangat manis , semakin lama kata sahabat itu berubah menjadi kata cinta, yah aku mencintai gadis ini, aku sangat mencintainya namun aku terlalu takut untuk memgungkapkan perasaanku dulu, yah aku terlalu pengecut hingga aku hanya dapat menyembunyikan perasaanku di balik kata sahabat sampai pada hari itu temanku mengatakan bahwa dia menyukai gadisku tadinya aku begitu tak menyukainya namun melihatnya tersenyum membuatku sadar bahwa aku bukan orang yang terbaik untuknya, maka dari itu aku pun mulai membantu mereka untuk bersatu, hingga ahirnya temanku menyatakan cintanya pada gadisku, gadisku ini menatapku penuh dengan kekecewaan aku sungguh tak tau apa sebenarnya yang terjadi padanya, dan mulai dari hari itu aku memutuskan untuk pergi darinya, aku pergi ke cina dan meneruskan sekolahku. Namun tak pernah sedikkit pun aku melupakannya, hingga suatu hari aku bertemu dengan temanku, aku tak kuasa untuk bertanya tentang gadisku ini"
luhan terlihat tersenyum miris, dan sehun tau ada luka yang tersirat di dalamnya.
"kau tau apa yang kudengar dari mulutnya, dia berkata jika ternyata gadisku ini memiliki perasaan yang sama denganku, namun dengan bodohnya aku menyerahkan nya pada orang yang bahkan hanya memanfaatkan nya saja, aku sungguh sungguh menyesal dan saat aku kembali padanya dia benar benar menbenciku, dia tak pernah menerimaku, dia tak pernah mau melihat wajahku butuh waktu dan kesabaran hingga kini dia mulai dapat menerimaku, aku sungguh sunguh Menyesali keputusanku waktu itu"
puk
luhan merangkul pundak sehun dan menatap bola mata sehun.
"jadi lakukan lah yang terbaik untuk jongin jangan sampai kau menyesal, saat kau kehilangannya kau akan tau betapa berartinya dia dalam hidupmu, jadi pikirkanlah baik baik, apa kau mencintainya?"
"pertanyaan macam apa itu tentu aku memcintainya"
"jika kau memcintainya kenapa kau malah membuatnya bersedih dengan kedekatanmu dan sora"
sehun menatap luhan bingung
"jongin selalu membagi cerita bersamaku jadi aku jelas tau masalahmu dan jongin, jadi bisa kau jawab tentang sora?"
"dia hanya rekan kerjaku, aku sangat lemah dengan yeoja yang terlihat sangat lemah, aku tak pernah sanggup untuk menolak nya apalagi jika mereka terlihat sedang terluka."
"lalu jongin? Kau anggap jongin lemah? "
"tidak aku tak pernah mengganggapnya lemah, jongin adalah yeoja terkuat yang aku kenal "
"jadi karna itu kau lebih memilih mengantar sora di banding jongin pulang?"
sehun mengerutkan keningnya heran sebenarnya seberapa banyak yang di ketahui namja ini
"yah karna saat itu sora sedang sakit"
"lalu bagai mana dengan jongin yang basah kuyup?"
"aku"
"kau memganggap jongin bisa mengatasinya? Kau hanya tak tau jongin pun sama sakitnya dengan yeoja yang kau anggap lemah itu malah. Aku pikir sakit yang di alami jongin mungkin lebih menyakitkan, ayolah kau bukan anak kecilkan? Kau tak senaif itu kan sehun? Terkadang orang yang terlihat kuat itu sangat rapuh dan orang yang terlihat lemah terkadang begitu kuat, jadi sehun perbaikilah semua sebelum kau menyesal"
Luhan berdiri dari duduknya dan merogoh saku celananya lalu menghubungi seseorang.
"malam ini sangat indah mau kau temani aku jalan jalan "
"MATI SAJA KAU RUSA SIALAN"
Luhan terkekeh dan kembali menyimpan benda itu ke saku celananya.
"bukankah dia sangat manis "
Sehun benar benar tak habis pikir pada namja di hadapannya ini.
"tunggu apa gadismu itu yeoja bulat itu"
Luhan kenbali terkekeh dan mengagukan kepalanya, dan saat itu sehun merasakan bulu kuduknya meremang seketika.
"YAKKK RUSA CEPAT SEBELUM AKU BERUBAH PIKIRAN"
Luhan melangkah dan menepuk pundak sehun.
"jaga jongin baik baik dan perbaiki segalanya, aku akan membuat gadisku menginap di apartement ku malam ini jadi manfaatkan dengan baik "
Sehun mengerjap ngerjapkan matanya, sedangkan luhan sudah pergi entah ke mana.
.
.
.
Sehun Menatap pintu kamar jongin tangannya meraih kenop pintu itu dan membukanya secara perlahan terlihat di sebuah ranjang di kamar itu jongin yang sedang berbaring lemah, luhan benar jongin memang lemah, sehun melangkah dan duduk di samping ranjang jongin, sehun menatap wajah pucat jongin, tangannya terulur untuk mengelus pipi gempal jongin.
"kau tau aku sangat mencintaimu aku tak akan sanggup jika tanpamu"
PLAK
Tangan sehun di tampik kasar oleh jongin yang sekarang membuka matanya dan mulai mendudukkan tubuhnya.
"tapi aku sudah tak mencintaimu sem "
"jongie"
"berhenti memanggilku seperti itu, siapa ku "
"apa maksudmu "
"pergilah sem "
"jongie "
"aku bilang pergi hiks"
Bukannya pergi sehun malah menarik tubuh jongin ke dalam pelukannya, jongin memberontak di pelukan sehun namun sehun semakin mengencangkan pelukannya, dan saat itu tangis jongin pecah, dia menangis di pelukan sehun.
Setelah lama jongin menangis ahirnya tangisnyan reda namun pelukan sehun tak mengendor sedikitpun, dan itu membuat jongin nyaman.
"kenapa malam itu kau menghindariku sehunah?"
"kenapa karna aku tak suka, kau terlihat seperti wanita jalang "
Buk
"aww"
Jongin memukul keras perut sehun.
"itu benar kau tau aku tak suka kau memperlihatkan bentuk tubuhmu pada semua orang karna yang boleh melihatnya hanya aku"
BRUKK
Sekarang sebuah bantal yang mendarat di wajah sehun
"dasar kau manusia mesum"
"kau tau sayang saat itu aku begitu marah padamu yang tiba tiba berubah menjadi seagresif itu, aku mencintai kau apa adanya, aku mencintai jongin bukan orang lain malam itu aku melihat kau bukan lah jonginku"
"itu karna aku marah karna kau terus menempel pada nenek sihir itu"
"sora maksudmu"
BRUKK
Sekali lagi sehun mendapat pukulan di wajahnya.
"bahkan sekarang kau mempermasalahkan namanya "
"maaf sayang bukan itu maksudmu"
"yah bukankah kau sekarang terlalu sibuk dengannya kan "
"tidak kau harus mendengar penjelasanku, aku memberitahu kepala sekolah jika aku memiliki kekasih dan itu muridku, mendengar itu kepala sekolah mengamuk padaku namun pada ahirnya dia memberiku ijin asal aku bisa menyelesaikan pekerjaanku yang di tambah menjadi 3x lipat juga memperlihatkan kinerjabaikku dan jika itu bisa ku lewati aku bebas akan menjalin hubungan dengan siapapun, dan jika soal sora aku tak memiliki hubungan apapun dengan sora, hanya rasa tanggung jawab dan menghormati wanita kau taukan aku orangnya seperti apa? Jadi percayalah padaku jongin"
Jongin menundukan kepalanya dia m
erasa menyesal sekarang dia tak tau jika sehunpun sedang berjuang kenapa bisa dia seegois ini. Sehun menaiki ranjang jongin dan menangkup wajah jongin, sehun menatap mata jongin dan memberinya kepercayaan, sedangkan jongin hanya diam dan tak bereaksi apapun, hingga ahirnya jongin memeluk sehun erat, sehun hanya terkekeh dan mengelus rambut jongin.
"ayo tidur kau harus istirahat sayang "
Jongin hanya menganggukkan kepalanya.
Sehun terus memandang wajah manis di depannya tangan kanannya di jadikan sebagai bantal bagi jongin dan tangan kirinya melingkar di pinggang ramping jongin, sedangkan jongin terus menyentuh rahang tegas sehun, senyum terulas di bibirnya.
"hun ah, aku tak suka nenek sihir itu memanggil namamu dengan manja "
"kau bisa menutup telingamu dan pura pura tak mendengarnya "
"apa itu kau seperti meminta ijinku untuk berselingkuh "
"aku tak akan mungkin melakukannya dan jika aku melakukannya kau bisa membunuhku saat itu juga "
"aku tak mungkin bisa "
"jadi bisakah kau percaya padaku apapun yang terjadi?"
"tentu saja lagi pula jika kau macam macam aku masih memiliki moonkyu "
"jangan dekat dekat dengan bocah itu "
"tapi mmptt"
Kata kata jongin terputus oleh ciuman hangat sehun, dan malam itu mereka melepaskan rasa rindu yang mereka rasakan.
.
.
.
Matahari sudah bersinar dan sinar matahari itu mengganggu tidur nyenyak seorang kim jongin, jongin membuka matanya dan mendapati seorang namja tampan di hadapannya, jongin terus menatap wajah tampan namja yang masih memeluknya ini.
"aku tau aku tampan"
Jongin tersenyum dan mencobabangun dari tidurnya namun sebelum jongin bangkit sehun sudah menariknya kembali kedalam pelulannya, sehun menenggelamkan wajahnya di leher jongin dan mencium wangi tubuh jongin, jongin yang merasa tak nyama segera menjauhkan tubuh sehun darinya namun tak ber efek sama sekali hingga ahirnya jongin menarik rambut sehun hingga membuat sang empunya mengerang kesakitan. Jongin segera beranjak dari tidurnya dan menatap sengit sehun,
"cepatlah madi badanmu itu bau hunah"
Sehun hanya tersenyum menatap punggung jongin yang sekarang sudah menghilang di balik pintu kamar jongin, jonginnya telah kembali itulah yang ada di pikiran sehun saat ini.
Jongin telah menyiapkan sarapan untuk sehun di dapurnya namun kegiatannya terhenti saat mendengar bunyi bel rumahnya, jongin segera berlari dan membuka pintu rumahnya dan saat jongin tau siapa yang bertamu pagi pagi seperti ini matanya membulat sempurna.
"siapa sayang "
Jongin menatap tajam sehun yang sekarang sudah ada di belakangnya, wajah dingin sehun berubah semakin dingin saat melihat siapa tamu tak di undangnya.
"selamat pagi jongin, oh sem. Bagai mana keadaanmu sepertinya kau sudah sembuh"
"emm yah begitulah ayo masuk moonkyu dan soal oh sem dia-"
"aku tau dia kekasihmukan?"
Jongin mengerjap ngerjapkan matanya lucu, sedangkan sehun malah memeluk jongin dari belakang dan menyimpan dagunya di pundak jongin.
"jika kau tau jongin sudah memiliki kekasih kenapa kau masih saja mendekatinya"
"kau hanya kekasihnya kan sem bukan suaminya jadi itu tak ada masalah"
Sehun menatap tajam moonkyu begitupun sebaliknya sedangkan jongin memutar bola matanya bosan.
.
.
.
Setelah hari itu hubungan sehun dan jongin semakin membaik sehun sungguh sungguh berterima kasih pada luhan yang memberinya waktu bersama jongin, jika hari itu luhan tak membantunya mungkin hubungam mereka akan benar benar berahir.
Mereka akan berpegangan tangan saat tak ada siapapun di sekolah mereka akan berbagi cerita tersenyum, tertawa dan saling mengejek sudah menjadi rutinitas mereka berdua, bukankah sangat indah?
Hari ini sehun berencana akan pergi ke pasar malam bersama dengan jongin jadi tadi sehun benar benar ngebut menyelesaikan tugasnya hingga kini dia bisa pulang bersama dengan jongin.
"hunie apa kau mau pulang?"
sehun menatap yeoja cantik itu dan tersenyum ke arahnya.
"yah begitulah"
"bisakah kau mengantarkanku?"
"maaf sora aku tak bisa aku sudah memiliki janji "
"janji dengan siapa? Kekasihmu?"
"yah begitulah "
Sora menatap sehun tajam, dan saat sehun akan pergi sora mencekal tangan sehun, sehun menoleh dan menatap sora.
"aku mencintaimu hunie"
Sehun menatap sora tak percaya.
"kau jangan bercanda "
"aku tak bercanda hunie aku mencintaimu bukankah kau pun mencintaiku"
Sehun melepaskan genggaman tangan sora dengan lembut dan menatap mata sora yang berkaca kaca, sehun benci melihat seorang gadis menangis
"maafkan aku sora aku mencintai orang lain dan sepertinya di luar sana ada yang lebih baik dariku "
"tidak sehun kau yang terbaik bagiku "
"maaf sora tapi kau bukan yang terbaik untukku "
"jadi siapa gadis itu "
"maafkan aku suatu saat kau akan tau siapa gadis itu"
Sehun membalikkan badannya namun sora kembali berlari dan berdiri di hadapan sehun dan tak di sangka sora menempelkan bibirnya di bibir sehun, sehun yang kaget hanya diam mematung dan saat sehun tersadar sehun melihat jongin sedang menutup mulutnya dan berlari dari hadapan mereka, sehun menarik tubuh sora dan menghempaskannya kasar ke lantai, sehun sudah tak perduli lagi pada gadis lain yang sekarang ada di pikirannya hanya jongin dan hanya untuk jongin.
.
.
.
~
TBC
Hahaha maaf lama terusannya hehe dan aku gaktau ini bagus atau engga hsehehe maaf kalo ceritanya makin aneh dan semeraut
