Di rumah Natsu...
Nafasnya mendesah gelisah, Zeref terus mondar-mandir menunggu kepulangan sang adik, di depan pintu rumah mereka. Jelas dia cemas, jam telah menunjukkan pukul lima sore, sedangkan jam usai sekolah sudah berdentang, sejak satu jam berlalu. Keresahannya membuat seluruh penghuni ikut tertular, terutama ibu yang masih mengenggam telepon pintar erat, harap-harap cemas menanti putra bungsu mengirim SMS atau melakukan panggilan masuk.
"Dimana anak itu? Zer, lebih baik kamu hampiri Natsu ke sana. Firasat ibu buruk" keluh beliau menghela nafas panjang, daripada duduk seperti orang bodoh, si sulung segera keluar hendak memacu sepedanya, sebelum telepon bergetar di dalam saku celana
Drrrttt...drrttt...drrttt...
"Halo kak Zer. Cepat datang kemari, Natsu pingsan!" seru seseorang dari sana, dengan panik langsung menutup percakapan
Kayuhan sepedanya melebihi kecepatan normal, menyalip kendaraan roda empat dan dua di tengah keramaian jalan raya. Zeref ketakutan setengah mati, perkataan Lucy terlalu rancu, untuk diterka benar 90%. Jauh dari lubuk hati ia menyesal, mengizinkan Natsu belajar delapan jam penuh. Padahal dokter Makarov melarang, buat jaga-jaga jikalau terjadi hal yang tidak diinginkan. Atensinya tau betul, adik kecil belum siap menghadapi semua itu.
"HOII MINGGIR!" bentak seorang pengendara truk menekan klakson berulang kali. Zeref yang didera lamunan tersentak kaget, berusaha menghindar walau mustahil dilakukan
TIN...TIN...!
BRAKKK!
Truk tersebut oleng menghantam tiang lampu, menyebabkan kemacetan panjang sementara polisi hendak berangkat menyelidiki TKP. Zeref selamat, meski baku hantam membuat sepeda merah beserta si pengendara, tersisih ke pinggir area pertokoan. Beberapa orang berlari, memberi pertolongan pertama terhadap kepala dan kakinya, yang mengalirkan banyak darah segar, ditambah luka memar menghiasi lengan.
"Bertahanlah, dek! Kami akan membawamu ke rumah sakit" kata bapak berkaos orange, mengulurkan tangan membantu Zeref berdiri, meskipun kesusahan menopang tubuh sendiri, dia berhasil bangkit dan memeriksa sepedanya yang masih utuh per bagian
"Ma-maaf, pak. Saya harus ke SMA Fairy Tail, adikku butuh bantuan" balas Zeref bersikukuh, kembali mengayuh pedal menggunakan tenaga yang tersisa. Menahan rasa sakit pada mata kaki bagian kanan
Kalau bukan demi Natsu, mana perlu ia sampai kecapaian melawan intaian maut. Zeref sering kali, mengalami kenyataan yang lebih pahit dari kecelakaan itu. Berpuluh bahkan ratusan ribu sang adik menentang takdir Maha Kuasa, bersama-sama mereka sukses melewatinya, dia tak mau kalah semudah kayu lapuk, perjuangan belum berakhir sampai di sini, masih panjang dan banyak cobaan yang harus dikalahkan.
TAP! TAP! TAP!
SREKKK!
"Natsu kau dimana? Natsu!" tidak ada sahutan, Zeref hanya berbicara kepada udara dingin di senja, yang mendengkur keras menghembuskan nafas sedih. Lagi-lagi hand phone-nya bergetar, menandakan panggilan masuk yang bersenandung minta diangkat
"Lucy, sekarang Natsu dimana?!" tanya Zeref setengah berteriak, gagal menyembunyikan kekhawatirannya yang meledak-ledak
"Rumah sakit terdekat. Aku menyuruh kak Zer ke sana lewat pesan singkat, kenapa tidak dijawab?" giliran Lucy yang merasa cemas. Pasti dia kewalahan hingga irama pernafasannya berantakan
"Tunggulah"
Berakhir pada menit mempedulikan sepeda di area parkir, Zeref berlari menuju tempat yang dimaksud. Langkahnya tertatih-tatih setiba di rumah sakit, bertanya nomor kamar lokasi Natsu dirawat ke bagian administrasi. Benar saja, tubuh ringkih si salam terbaring lesu, dokter Makarov baru selesai memeriksa pasien menggunakan stetoskop. Lucy berada di situ, dengan seorang lelaki beraurai raven yang tidak dikenal.
"Terima kasih atas bantuannya. Bagaimana keadaan Natsu?"
"Dokter mengatakan luka di pipi Natsu tidak parah, dan kondisi fisik membuatnya koma cukup lama" jelas sang pemuda santai, menghiraukan senyum Zeref yang mendadak mengembang lebar
"Teman baru Natsu? Ternyata dia banyak kemajuan" fakta itu menyenangkan hatinya yang sempat mendung, meski terlalu cepat untuk berpesta sekarang. Zeref harus mengetahui, dalang dibalik insiden tersebut
"Ceritakanlah. Kenapa orang tak bertanggung jawab itu melukai Natsu"
"Sting yang melakukannya. Tiba-tiba Natsu muncul guna melindungi Gray, dan dia tertinju sampai tersungkur ke lantai" cerita Lucy menenangkan diri sendiri, kesal mengingat tindakan si pirang pucat mentang-mentang ia kaya raya, lalu sok berkuasa mengatur seseorang
"Model majalah Sting Eucliffe? Dasar keji, dia harus diberi pelajaran sepadan. Tenang Natsu, kakak pasti membawa keadilan!" tekadnya membara, menyuruh Gray dan Lucy pulang ke rumah sebelum matahari terbenam. Tak lama kemudian, ibu bersama ayah datang membawa sekeranjang buah
Dewi malam menerangi bumi dengan sinar rembulan. Zeref yang gelisah enggan meninggalkan Natsu, walau dokter Makarov memaksa pulang untuk mengistirahatkan luka di sekujur badan. Lagi pula tidak ada jaminan, dia segera bangun dan diperbolehkan pulang. Selain menjalani pemeriksaan luka, mereka pun melaksanakan scanner di tulang kakinya, mengcek apakah sel kanker kambuh mengerogoti, dan ini hasil yang didapatkan,
Keluarga Drganeel mesti bersiap-siap, karena Natsu akan menjalani kemoterapi setelah pulih.
Keesokan harinya...
Fajar menyingsing di ufuk timur, membangunkan Zeref dari mimpi buruknya yang mengerikan. Sulit dijelaskan menggunakan kata-kata, tetapi yang pasti itu menimbulkan trauma psikis. Natsu masih tinggal di rumah sakit atas permintaan dokter. Ibu pulang larut malam, kini memaksakan diri memasak sarapan di dapur. Pukul 6 pagi, ayah asyik menonton acara berita di televisi, tentang truk menabrak tiang lampu, sore kemarin jam 17.00.
"Dikabarkan tidak ada korban jiwa, satu luka berat dan kabur entah kemana. Beralih ke..."
BIP!
"Mengerikan sekali. Untung pengemudi dan korban selamat. Semoga anak muda itu baik-baik saja" ayah mematikan televisi, usai mencium sepiring nasi goreng panas telah tersedia di meja makan. Zeref tak kuasa memberitai mereka, mengatakan bahwa ialah orang yang dilaporkan menghilang itu
"Makanya, berhati-hatilah saat berkendara, jangan melamun! Masa kamu terantuk batu sampai luka parah begini, perhatikan jalan di depan mata, mengerti?"
"Iya ayah. Maaf" memang salahnya juga termakan emosi. Syukurlah supir truk berbaik hati tidak minta ganti rugi, jika iya habislah dia diceramahi empat jam non stop. Selesai makan ayah pergi ke kantor menaiki mobil, begitupun Zeref yang berkeinginan menyeret keadilan
"Mau kemana? Lukamu belum sembuh total, kalau menyerahkan naskah cerita biar ibu yang antar"
"Jangan, biar aku sendiri yang menghadap editor. Ibu jagalah Natsu di rumah sakit" pinta kakak sulung menaiki tangga, terpaksa membohongi beliau yang sekadar menurut, tanpa rasa curiga sedikitpun
"Maafkan aku, ibu"
Rahasia penyebab asli luka Natsu juga disembunyikan. Bahaya jika terbongkar habis, serangan jantung ibu bisa kambuh, dan masalah akan bertambah banyak. Zeref melangkah masuk ke dalam gedung sekolah, mencari ruang guru sekaligus wali kelas adiknya, yakni Gildarts-sensei. Tentu kedatangan orang asing membuat heboh sesaat, meskipun disangka 'palingan mewakili menyerahkan surat izin'.
"Selamat pagi. Apa kamu ingin memberitau kabar Natsu?" Gildarts-sensei mempersilahkan duduk, menuangkan segelas teh hangat menemani sesi obrolan singkat. Zeref tidak menyentuhnya, langsung berbicara empat mata di ruangan kotak berbentuk persegi itu
"Saya ingin, agar Sting Eucliffe-san dihukum atas perbuatannya. Gara-gara dia Natsu terluka"
"Bicaralah pada kepala sekolah. Meski saya ingin berbuat sesuatu, sayangnya guru tidak memiliki hak tersebut" jawab beliau penuh penyesalan, dikalahkan ketidak berdayaannya melawan kenyataan
Satu-satunya harapan terakhir yang tersisa. Zeref mengetuk pintu ruangan tersebut, permisi menganggu dan mengatakan tujuannya datang kemari. Kepala sekolah nampak sibuk membaca berkas data, tanpa mengalihkan pandangannya ke objek di depan mata menyuruh duduk di sofa tamu.
"Ehem! Kau bisa mulai, Dragneel-san" titah kepala sekolah berdeham keras, yang bersangkutan pun mengajukan keberatannya, terhadap tingkah Sting terhadap Natsu
"Karena perbuatan Sting, adik saya Natsu terpaksa dirawat lagi di rumah sakit" penjelasan yang singkat, padat dan jelas, begitu mudahnya diindahkan total seakan berkata 'bukan urusan saya maupun pihak sekolah'
"Lalu kenapa? Saya tau masalah itu, jangan bertele-tele"
"Tolong hukum Sting seberat-beratnya! Tindakan dia tidak dapat dimaafkan" emosi Zeref nyaris hilang kendali, jika dia lupa lawan bicara adalah pak kepala sekolah, orang terhormat yang mengizinkan Natsu diterima berdasarkan pengecualian
"Oh ya ampun! Anda memhuang-buang waktu saya, hanya untuk membicarakan masalah sepele ini? Lucu sekali, hahaha..." dia sadar diremehkan habis-habisan. Tawa pak kepsek terus menggema dalam kedua telinganya, sedangkan Zeref menggertak gigi kesal
"Memangnya penting apa? Lagi pula Sting tidak sengaja, merupakan kesalahanmu sehingga Natsu masuk rumah sakit"
"Selain itu Sting mengancam adikku. Apa kesalahannya kurang banyak?!" bentak Zeref kelepasan, menaikkan volume suara satu oktaf lebih tinggi, menggebrak meja guna melampiaskan kemarahan
"Siapa peduli? Itu di luar tanggung jawab saya. Dragneel-san, seharusnya kamu berterima kasih, berkat bantuanku adikmu bisa bersekolah di sini. Jangan mencemarkan nama baik SMA Fairy Tail, keberadaannya saja merupakan aib terburuk, kecuali...kamu mampu memberi lebih banyak. Mungkin akan saya pertimbangkan"
Uang maksudnya? Zeref meringis mendengar syarat itu, keluar ruangan sambil membanting pintu keras. Keadilan sejati tidak didapat dengan cara curang, ia melanggar janji tersebut, karena pada akhirnya gagal membuahkan hasil manis. Natsu tetap dipandang sebelah mata, bahkan sengaja memeras kaum miskin demi kepentingan pribadi. Mereka yang mempunyai kekayaan memonopoli sesuka hati, rakyat melarat dan diperlakukan semena-semena, mirip situasi yang dihadapinya sekarang.
Sial...sekolah macam apa itu?!
Drrttt...drrttt...
From : ibu
Datanglah ke rumah sakit. Natsu ingin menemuimu.
Setelah dipermalukan dan gagal menyeret keadilan, Zeref dipaksa oleh ibu membesuk Natsu yang baru siuman satu jam lalu. Mau tidak mau dia menurut, menghindar terus pun bukan pilihan terbaik. Sekitar lima menit mengayuh sepeda, barulah tiba di tempat tujuan. Menaiki lift menuju lantai tiga di kamar 258. Mereka berdua tengah berbincang, melihat kehadiran kakaknya membuat iris onyx itu memancarkan kesedihan berarti.
"Kakak baik-baik saja? Kata ibu saat ke sekolah terantuk batu dan jatuh"
"Lihatlah kakak. Kalau kabarnya buruk mana bisa mengunjungimu" ucap Zeref iseng, mengacak-acak surai salam yang berminyak itu. Zeref gembira si bungsu bangun dari koma, namun rasa bersalahnya belum benar-benar menghilang
"Huftt...harus dirapikan lagi, deh. Kakak tidak lapar?"
"Tadi sudah makan, kok" ya, 'makan' celotehan pak kepsek di sekolah. Perutnya dikenyangkan oleh amarah, tetapi apalah daya, kebenaran tetap tersembunyi dibalik bayang kejahatan. Zeref harus bersabar walaupun mencapai batas makaimal
"Air muka kakak agak buruk. Ada apa?"
"Semalam kurang tidur. Dokter Makarov berpesan besok kamu boleh pulang, tapi belum boleh masuk sekolah" mendengar larangan kakaknya membuat Natsu mengerucutkan bibir sebal. Kira-kira, bagaimana keadaan Lucy dan Gray semenjak kejadian dua hari lalu? Semoga Sting tidak berbuat macam-macam
"Ayolah biarkan aku masuk. Ya, ya, ya?" rengek Natau meminta persetujuan ibu. Kepala beliau sebatas mengangguk pelan, tentu dia senang berhasil mematahkan keputusan kakanya
"Dasar kamu ini. Ingat perjanjiannya, Natsu"
Usai mengucapkan hal tersebut, Zeref keluar kamar dengan alasan 'ingin mencari udara segar', meski nafasnya sesak sekadar menghirup oksigen pun. Ia tak tega, menyaksikan kepolosan Natsu yang menganggap 'semua pasti baik-baik saja'. Itu baginya seorang, tetapi kakak tertua mana sanggup, menontoni adik satu-satunya menderita, akibat keegoisan pihak yang acuh tak acuh. Sekarang Zeref kehabisan pilihan, Tuhan mempermainkan mereka di atas sana.
"Maafkan kakak, Natsu...kamu belum bisa hidup bahagia. Aku gagal, sangat gagal..."
Keesokan harinya...
Semangat pagi Natsu berkobar bak si jago merah, segera melaksanakan rutinitas harian semacam mandi, gosok gigi, berganti pakaian dan sarapan. Segelas susu hangat diteguk sampai tetes terakhir, barulah mengigit sepotong roti panggang rasa gosong. Arghh...kenapa begini? Gumamnya berhenti mengunyah, mengundang tawa mereka sekeluarga, yang beekumpul di ruang makan.
"Teliti sebelum mengambil, Natsu" nasehat Zeref menyodorkan setengah gelas air putih. Natsu meminumnya dan melahap habis potongan yang tersisa, lalu pamit berangkat ke sekolah diantar Zeref
"Ingin cepat-cepat bertemu Lucy, ya?"
"A-apaan sih kakak ini. Aku hanya ingin mengcek kabar, tidak lebih" bantahnya menyembunyikan rona merah di kedua pipi. Berpura-pura melihat pepohonan di sepanjang jalan. Zeref tidak banyak bicara, justru mesam-mesem melihat adiknya kembali sehat
"Langitnya cerah, ini pertanda baik" Natsu menyerukan sambil menunjuk lukisan, bertinta biru muda tersebut. Dia bahagia bisa memandangnya lagi secara langsung, bukan lewat jendela atau dongeng sang kakak
"Sudah besar masih suka main ramalan. Kekanak-kanakan sekali"
"Terserah jika tidak percaya. Aku berani bertaruh"
"Hnnn...baiklah. Kalau kamu kalah, turuti satu permintaan kakak, bagaimana?"
"Oke. Jika kakak yang kalah, belikan aku action figure kuroko no basket" namanya laki-laki harus berani, mau kalah atau menang sekalipun ini janji yang wajib ditepati. Natsu turun melambaikan tangan, menghampiri Lucy yang telah menunggu di samping pohon
Gerbang sekolah Zeref ratapi sendu, berat hati melepas kepergian adiknya yang berlangsung singkat. Jujur, ia enggan melepas tangan Natsu, jika di sana dia hanya mendapat kesengsaraan. Mereka berjalan beriringan memasuki kelas. Puluhan pasang mata menatapinya dengan pandangan benci, membuat bulu kuduk cowok bermarga Dragneel itu merinding sesaat. Ini menyeramkan, tetapi kenapa harus dia yang dijadikan objek penindasan?
"Karena dia Gray diskors tiga hari. Masih berani masuk tanpa merasa malu, menjijikan sekali!"
"Ada yang lebih parah dari itu. Dia melapor dan kakaknya menemui kepala sekolah kemarin! Dasar tidak tau malu, padahal sudah berbaik hati dimasukkan ke sini"
Gosip Lisanna dan kawan-kawan menimbulkan teka-teki baru bagi Natsu. Apa benar, kakaknya menuntut sesuatu kepada pak kepsek? Gray diskors tiga hari akibat membela dia? Sting menyeringai melihat ekspresi putus asa sang musuh. Semua ini baru dimulai sekarang.
Mungkinkah, keberadaanku membawa malapetaka untuk orang lain?
Apa setelah ini, Lucy akan menjauhiku?
Andaikata itu pilihan terbaik,
demi semua orang aku rela berkorban.
Terima kasih, kakak, Gray, Lucy...
Bersambung...
Balasan review : (ahh berkurang, lu pade gak seru nih. Salah sendiri juga ya update satu bulan kemudian)
BlackHage-chan : Oke thx udah review. Karena Gray punya mental melindungi yang lemah, makanya dia rela wkwkw. Kalo soal ancaman itu mungkin belum disadari, kalau gak gimana gitu jadinya. Baguslah klo gk ada typo, karena update telat aku udah enggak cek-cek lagi.
Fic of Delusion : Hmm berarti Delu sibuk dong hohoho...sama bentar lagi juga aku bakalan sibuk try out /curhatgaje. Ya gpp kok, aku selalu nunggu review dari kamu sih sejujurnya, hehehe. Thx udah review maaf kelamaan update.
Kaoru Dragneel : Kasihan memang Natsu. Ok thx udah review, maaf kelamaan update.
