Tsukimori Family Production

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Presenting : HIM

Warning : OOC (dicoba untuk tidak OOC), AU, BL, abal, (sekali lagi) ada DEATH CHARA, gagu Hinata sedikit berkurang, umur Hinata 20 tahun. Don't Like, Don't read. Mary-sue.

Rated : T (semi M)

Genre : Angst/Tragedy/Romance/Drama/Fantasy/Hurt/Comfort/Mistery (segala aja diborong)

Inspirited by : Daddy Long Legs, and Ninja-edit.

A/N : ah, bikin ini pas hujan turun. Gomen kalau agak mellow.. Udah gitu dikejar waktu, jadi ngga sempet banyak bacot. Oke lah,

Happy Reading!

Mata lavender dan onyx itu menyatu, menghanyutkan. Hinata menelusuri dalam bola mata Sai. Namun dengan segera Hinata mengenyahkan pikirannya. Lalu ia pun terkekeh. "Jangan bercanda lagi. Kau sudah mengejutkan aku tadi.."

Sai menggeleng, lalu menarik nafas panjang, "Sebenarnya yang tadi juga bukan candaan."

Chapter 5 : Ambition, Time, And Preparation

"Sudahlah. Candaanmu itu benar-benar keterlaluan, Sai.." Hinata bangkit, lalu meraih tas tangannya, dan bergerak menjauhi Sai yang masih terpaku.

"Hinata! Tunggu aku!" Sai meraih beberapa lembar kertas yang tadi ia bawa, lalu mengejar gadis berambut indigo yang seenaknya pergi begitu saja, menghindar dari pembicaraan mereka.

Hinata keluar dari Konoha Burgers, sekilas matanya menangkap gambaran pirang diujung jalan, lalu ia berbalik arah kearah yang berlawanan. Hinata merasa benar-benar dipermainkan. Kebaikan Naruto dan Sai. Entah apa tujuan Naruto berbuat baik padanya, padahal Naruto mengenalnya sesudah adanya insiden yang menghancurkan generasi keluarga Hyuuga. Sai baik padanya, mungkin ingin mencuri hatinya lagi. Tapi tidak bagi Hinata. Sai sudah menjadi bagian dari masa lalunya, dan ia tak berharap masa lalunya kembali. Apalagi sakit yang ia rasakan saat Hinata mengetahui Sai memilih Ino, sahabatnya sebagai perngganti dirinya. Yah walau hubungan itu tidak bertahan lama.

SRET!

"Hinata!"

Lavender dan onyx itu saling beradu, Sai menatap mata Hinata lekat. "Aku membutuhkanmu, Hinata.."

"Terserah kau, Sai. Aku tak ingin perduli lagi padamu.." Hinata mencoba melepaskan kedua tangan Sai yang mencengkram erat lengannya, sambil mengalihkan wajahnya, berusaha tak hanyut lagi kedalam mata hitam kelam Sai.

"Kenapa?"

Getir. Itu yang Hinata tangkap dari suara yang ada menelusup masuk kedalam relung hatinya itu. Menyentuh. Hinata terdiam. Ia tak tau harus berbuat apa kalau sudah begini.

"Kamu membenciku?"

Hinata masih bersikeras tak ingin menatap wajah Sai. Ia masih menunduk, padahal ia sangat penasaran dengan bagaimana raut wajah Sai sekarang. Pemuda yang berulang kali menggelitik hatinya, menelusup masuk tanpa ijin, menghanyutkan dirinya dalam kata-kata dan perlakuan manis. Perlahan, sang gadis lavender menggeleng lemah, memberikan jawaban atas pernyataan Sai.

"Kalau begitu tatap mataku, Hinata.."

Hinata tak kuasa menolak saat jemari tangan dingin Sai menyentuh pipinya, mengangkat dagunya, membuat dirinya kini kembali menatap mata onyx milik Sai. Mata hitam kelam itu kembali menghanyutkan Hinata. dan kalau kali ini Hinata jatuh lagi kepelukan Sai, Hinata tidak yakin ia akan dapat lepas lagi.

"Aku menginginkanmu..—"

"Tapi aku 'tidak' menginginkanmu, Sai.." jawab Hinata mantap.

Sai tercekat. Mendadak kerongkongannya terasa gatal, seperti sesuatu tersangkut disana. Hinata dengan lembut melepaskan tangan Sai yang memegangi dagunya. "Kau terlalu banyak menyimpan rahasia dariku.."

"Apa maksudmu?" Sai terbelalak kaget.

"Entah mengapa, dulu setiap melihat matamu, aku selalu merasa tenang, merasa tak ada 'sekat' disana, sehingga tak ada satu ruang pun yang dapat menutupi sesuatu disana.." Hinata menghela nafas, "tapi sekarang, aku rasa ada begitu banyak tumbuh sekat disana. Banyak sekali yang kau tutupi, yang kau sembunyikan.."

Sai terdiam. Ia tahu Hinata terkadang dapat menjadi orang yang sangat peka. Tapi Sai tak pernah mengira kalau pertahanannya dapat dirobohkan begitu saja oleh seorang Hinata Hyuuga, gadis polos yang biasanya hanya bergaul dengan buku-buku tua tebal yang selalu diletakkan disudut perpustakaan. "Ya, aku menyembunyikan banyak hal darimu, sekarang.."

"Aku yakin kau tidak akan menceritakan semuanya padaku secara gamblang.." Hinata tersenyum.

"Aku mau saja cerita..—"

Hinata menunggu kelanjutan kalimat itu.

"—tapi aku tidak bisa karena ada banyak 'peraturan' yang mengikatku sekarang.." Sai tersenyum, kembali mengelus pipi Hinata dengan tangan dinginnya yang sedingin udara malam suhunya.

"Hanya diriku yang akan mengetahuinya Sai, kau tau aku menyimpan banyak rahasiamu, dan tak ada satupun yang tersebar kan?" Hinata merujuk.

"Tidak bisa. Ini menyangkut 'bangsa'ku.."

Telinga Hinata tergelitik. Ada begitu banyak kata-kata Sai yang membuat dirinya ingin sekali menaikkan alisnya. "Bangsamu? Apa aku bukan bagian dari bangsamu—jenismu?"

"Bukan."

Dan Hinata bungkam. Tak bisa menyerang, atau bertahan. Ia tahu banyak hal tidak masuk akal terjadi disekelilingnya. Dan Hinata rasa, Sai adalah salah satunya.

"Aku tau aku bisa mempercayaimu, Hinata. Tapi kali ini, tidak. Ini menyangkut banyak hal—banyak orang.."

'Sudah cukup Sai..'

"Aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa membocorkannya begitu saja.. Ini juga menyangkut janjiku pada Hyuuga-san.. Ayahmu, untuk tidak melibatkanmu dalam kondisiku.."

'Hentikan Sai.. Hentikan..'

"Walau pada akhirnya aku tau kau tidak ditakdirkan untukku, tetap saja aku mencintaimu.."

'Jangan menyiksaku, Sai.. Kau tau benar aku belum bisa melupakanmu..'

"Hanya kali ini, Hinata. Aku harap kau mengerti.. Dan perlu kau tau, dengan siapa nantinya kau bersanding, atau dengan siapa nantinya aku bersanding, aku akan tetap mencintaimu.."

'Hentikan..'

Tangisan gadis berambut indigo itu pecah. Sekuat apa pun gadis ini menahannya, tetap saja ia tak dapat membohongi perasaannya. Sai memeluk Hinata, membiarkan gadis itu menangis, meluapkan perasaannya, baik rindu atau apa pun. Sai semakin erat memeluk Hinata, begitu juga dengannya.

"Sai kau tau benar aku tidak bisa melupakanmu.."

"Ya aku tau.." Sai tersenyum. Sorot matanya teduh.

"Lalu kenapa kau lakukan ini padaku?"

"Karena aku ingin kau kembali padaku.."

Hinata terkikik geli. "Beda Sai.."

"Beda apanya?"

Sai melepaskan pelukannya pada Hinata. Hinata tersenyum. "Ucapanmu itu, berbeda dengan yang dulu.."

"Apanya yang berbeda?" Sai mengulanginya.

"Kau hanya gengsi kan?" alis Hinata terangkat sebelah.

"Apa—"

"Pacaran denganku mungkin akan membuat dirimu berpikir kalau aku setara dengan pamormu..—"

"Bukan!—"

"Hentikan kebohonganmu Sai. Sedari tadi aku menyadari kalau nada bicaramu tidak tulus.. Mengucapkan hal-hal manis seperti tadi itu seakan hanya makanan sehari-hari bagimu.." sela Hinata.

"Hinata—" Sai hendak membela diri, namun Hinata dengan cepat memotong lagi, tak membiarkan Sai sedikitpun membela dirinya.

"Kau sudah menyimpan seseorang yang lain dihatimu, Sai.." Hinata menatap Sai dengan wajah yang amat kacau. Air matanya seakan ingin mengalir lagi.

"Tidak Hinata.." Sai menggeleng, mencoba meyakinkan Hinata.

"Tidak ada yang salah. Begitu kan Sai? Semua ucapanku benar.." Hinata tersenyum, tulus. "Aku memang belum sepenuhnya melupakanmu Sai. Tapi kau sendiri tau itu hanya tinggal menunggu waktu.."

"Gomen.." Sai menunduk.

Hinata memutar bola matanya. "Untuk apa?"

"Aku memanfaatkan perasaanmu. Gomen.." Sai menunduk. Kedua pipinya bersemu kemerahan. Malu.

"Tidak apa-apa.."

"Bohong."

Hinata menatap lurus-lurus kedalam bola mata hitam Sai. Sai menegaskan kata-katanya lagi. "Kau bohong. Aku tau itu sakit."

"Ya mau bagaimana lagi? Sudahlah.." Hinata tersenyum, sementara kedua alisnya bertaut, matanya memanas, merasakan sesuatu akann mengaliri pipi meronanya. "Tak berguna juga kalau diteruskan. Lebih baik kita lupakan saja ya, anggap tidak ada saja ya?"

Sai mengangguk. Diukirnya senyum diwajahnya, mencoba membalas senyuman Hinata yang begitu menenangkan hatinya. "Ku beritahu satu hal.."

"Apa?" Hinata mendongak, menatap Sai.

Sai mendekatkan bibirnya ke cuping telinga Hinata, hembusan nafasnya menyapu kulit putih Hinata, menggelitiknya. "Aku bukan manusia..—"

"Aku tau..—"

"—tapi aku seorang vampire."

Mata putih keabuan Hinata membulat besar. Tak percaya akan apa yang didengarnya barusan. Ditiliknya benar-benar pemuda dihadapannya. Tak ada yang ganjil dalam diri Sai. Lalu dirasanya benda dingin yang menempel dipipinya. Tangan Sai. Tangan itu seakan mati, tak terasa denyut nadi mau pun hawa panas darinya. Perlahan Hinata menyentuh tangan kanan Sai, menggenggamnya. "Kau.."

"Mayat hidup." Sai tersenyum. Menorehkan sedikit kekecewaan dalam hati Hinata. Entah mengapa, Hinata merasa sangat sedih mengetahui kenyataan ini. Air matanya pun kembali menganak sungai.

"Jadi vampire tidak buruk kok.." Sai mencoba menenangkan gadis dihadapannya.

"Tapi ini artinya.."

"Hn?"

"Artinya kau bisa mati dibawah sinar matahari.." Hinata merenggut, bertingakah seperti anak kecil.

"Bukan terbakar.." Sai menghela nafas, menahan tawanya, "hanya terlihat berbeda. Lihat. Apa aku sekarang terbakar dibawah sinar matahari?"

Hinata menggeleng. Yang ia lihat justru hanya kulit putih susu Sai yang berkilauan diterpa sinar matahari. Sai tersenyum lagi. "Terlihat bersinar kan? Nah itu yang membedakan kami.. Tapi beberapa pengarang abal malah membuat cerita tak benar tentang bangsaku.."

"Oh.." Hinata speechless. Otaknya terlalu lelah untuk digunakan berpikir.

"Dan sekarang rahasiaku jadi hanya ada satu lagi.." ucap Sai, tersenyum.

Hinata memutar bola matanya, tak mengerti maksud ucapan Sai. Sai nyangir, lalu nampak seperti teringat sesuatu, kemudian si pemuda bermata onyx ini berbisik pelan, nyaris tak terdengar. "Jangan sia-siakan cinta tulus Lordiss padamu, Hinata.."

"Kau mengucapkan sesuatu?" Hinata menatap kearah bibir Sai yang ia rasa bergerak, sebelumnya.

"Tidak."

Hinata tersenyum, namun ia lebih menarik garis bibirnya, lebih seperti menyeringai. Sai melirik kearah jam tangannya, "Aku harus pergi.."

"Pergilah.." ucap Hinata, namun Sai menangkapnya dengan artian berbeda.

'Ambigu..'

Sai tahu kalau kata-kata itu bermakna dua. Namun Sai menggap ini adalah permulaan yang bagus untuk kisah baru Hinata. Tak mungkin selamanya Hinata hidup dalam baying-bayang Sai. Sudah sepatutnya gadis ini tegas akan semua pilihannya, dan konsisten. Sai tersenyum. "Sampai jumpa, Hinata.."

Hinata mengangkat tangannya sebatas dada, melambaikannya pelan, dan pemuda bermata onyx itu pun membalik badannya, dan bergerak menjauhi Hinata. "Sampai jumpa, cinta pertamaku.."

Hinata yakin benar Sai tak mendengarnya. Namun pemuda itu menoleh sedikit, tersenyum manis, lalu kembali menatap lurus jalanan. Sai mengangkat tangan kanannya, menyampaikan 'yo!' pada Hinata.

Dan pundak Hinata serasa menjadi lebih ringan, dirasanya kini nafasnya menjadi sangat lega. Hinata lalu berbalik, memilih berjalan-jalan sejenak. Mata Hinata menyapu setiap banner toko yang ia lewati. Dalam diam ia melafalkan nama-namanya.

"Sukaku.. Tamaki Coffe Shop.. Entrusted Goods.. Deposit Book.." Hinata terhenti didepan dua toko yang namanya terakhir Hinata ucapkan. Otaknya mulai bekerja lagi. Dua nama toko tersebut memiliki arti yang sama. 'Titipan'. Suatu kebetulan yang menyinggung hati Hinata. Gadis berabut indigo ini mulai kembali memikirkan 'dia' yang sudah menitipkan dirinya ke keluarga Uchiha.

Bisa jadi orang yang membayari kuliahnya adalah orang yang sama dengan orang yang menitipkan dirinya pada keluarga Uchiha.

Kini otak Hinata terpaku pada Konoha University. Lalu dengan cepat ia melangkahkan kakinya menuju universitas itu kembali. Konoha Universiti letaknya tak jauh dari Konoha Burgers, hanya kurang lebih lima puluh meter. Hinata mempercepat langkahnya, sepatu sneakersnya membantu langkahnya lebih mudah.

Hinata memasuki halaman luas Konoha University, dengan cepat menncapai koridor terdekat, lalu bergerak cepat mencari ruang tata usaha. Hinata tak ambil pusing, segera saja gadis itu menghampiri loket terdekat. "Bisa minta data orang yang telah membayari uang kuliah saya?"

"Ah maaf, tidak bisa.." sahut penjaga loket yang berambut abu-abu itu. Kaca mata bulat yang bertengger di wajahnya itu membuat dirinya terlihat sangat cocok dapat pekerjaan seperti ini.

"Bantulah aku Kabuto-san.." ucap Hinata dengan mata memelas.

"Kalau Tsunade-sama bilang boleh, ya aku sih—hey! Tunggu Hyuuga-san!" Kabuto hendak menjelaskan tapi gadis berambut indigo itu malah pergi, merasa membuang-buang waktunya.

Hinata menyusuri koridor panjang. Sol sepatunya beradu dengan lantai porselen, menimbulkan bunyi decitan nyaring yang membuat ribut suasana tenang disini. Dengan cepat Hinata menjangkau pintu terbesar di koridor itu, lalu tangannya terulur, mengetuk pintunya.

"Masuk!" suara feminim nan tegas itu bergaung didalam, terdengar hingga keluar. Hinata menyentuh kenop pintu tua yang terbuat dari kayu jati itu, mendorongnya pelan.

"Hinata Hyuuga eh?"

Hinata tercekat, menatap wanita yang kira-kira berumur 40 tahunan itu kaku. "Ya, Tsunade-sama?"

"Ada perlu apa? Tumben sekali.. Jarang-jarang ada seorang Hyuuga datang ke kantorku.." Tsunade duduk di kursinya, dengan kedua tangannya bertaut diatas meja. Tatapan matanya tajam menatap kearah Hinata. Sementara yang dipandangi hanya diam, seakan Tsunade tak menatapnya begitu.

"Saya mau bertanya, perihal orang yang sudah membayari uang kuliah saya.." ucap Hinata, mendehem pelan.

"Oh ya, silahkan duduk.." Tsunade tersenyum.

Hinata duduk di kursi kecil dihadapan Tsunade, lalu kembali mengutarakan maksudnya. "Bisakah Tsunade-sama memberitahuku siapa yang telah memberikanku keringanan seperti itu?"

"Ah yare-yare.." Tsunade memijat-mijat keningnya. "Masalah itu rupanya.."

"Jadi, siapa?" Hinata nampak tak acuh dengan pernyataan Tsunade barusan.

"Ah kau tidak boleh tau.." Tsunade menarik seulas senyum diwajahnya.

"Ke-kenapa?" si gadis berambut indigo kini menatap kepala yayasan ini aneh.

"Soalnya 'dia' yang bilang begitu.." Tsunade memejamkan matanya, sedikit merasakan hasil pijatan kecil dirinya tadi.

"Dia siapa?"

"Kau tidak boleh tau, nona muda.." Tsunade menaikan alisnya, masih dengan senyum yang sama.

"Tinggal beritahu namanya saja.." Hinata cemberut, dialihkannya pandangannya keluar jendela.

"Ah aku sudah berjanji. Jadi maaf, aku tak bisa bilang atau membocorkan apapun padamu.." ujar Tsunade.

"Err.." Hinata hanya terdiam. Kedua tangannya saling bertaut. "Apa 'dia' orang yang sama dengan yang menolong saya ketika kejadian na'as itu terjadi?"

"Iya. Dia orang yang sama.." ucap Tsunade, membuat Hinata tersenyum merekah. Kini tujuan Hinata jelas, mencari siapa identitas 'dia'.

"Sudah kan? Lebih baik kau belajar dengan baik, buat lah si pendonor keuanganmu ini senang dengan prestasimu dan kehidupanmu. Oke?" Tsunade tersenyum. Mirip Sai.

Hinata hanya menatap Tsunade. Sedikitpun ia tak bergeming. Tsunade menghela nafas. "Cepat pergi. Aku masih ada urusan!"

Hinata serentak berdiri, lalu membungkuk sedikit tanda hormat, kemudian balik badan dan segera keluar dari ruangan itu.

Sementara Tsunade berdiri, berjalan menuju jendela yang tadi ditatap Hinata. Sorot matanya melebar, menatap pemuda berambut hitam dan pirang yang kini berdiri ditengah lapangan. "Ah ya tuhan.. Padahal kalau kau beritahu kaulah yang membantunya selama ini, pastinya gadis itu akan dengan mudah jatuh kepelukanmu.."

"Tsunade-sama."

Tsunade tersenyum. Tanpa menooleh pun ia tahu siapa yang muncul di pojok ruangannya, tanpa bersuara. "Ada apa, Kurenai?"

"Jiraiya-sama membutuhkan anda. Beliau bilang ada sesuatu yang mesti disampaikan." Gadis berambut hitam itu menunduk.

"Tentang 'titipan' itu kah?" Tsunade melirik kearah Kurenai.

"Saya kurang tau pasti. Anda dipersilahkan datang ke kediaman beliau sesegera mungkin." Kurenai pun menghilang, menyisakan sedikit keraguan dihati Tsunade. Namun Tsunade segera mengepalkan tangannya, dan menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun. Hal mustahil yang dilakukan manusia biasa.

Rupanya seseorang menguping pembicaraan Kurenai dan Tsunade. Rambut indigonya melambai, mata lavendernya membulat besar. "Jiraiya? Dan Kurenai-sensei?"

Sang gadis lalu beranjak pergi dari koridor itu, sebelum ada seseorang yang memergokinya sebagai tukang nguping.

d^^b

Siang terik setelah seharian kemarin ia berada disekeliling Konoha University, Hinata pun pergi ke perpustakaan, mencari buku-buku yang ia rasa akan berguna untuk pelajarannya.

Hinata melangkah cepat, nafasnya memburu. Bisa dibilang dia sangat terburu-buru. Tumpukan kertas dan buku tua yang dia peluk begitu erat, nampak membuat langkahnya melambat. Tas punggung merah maroon kecilnya ikut terantuk-antuk dengan punggung Hinata, mengikuti gerak badan gadis berambut indigo itu. Polo shirt putihnya sedikit basah oleh keringat. Celana hitam pendeknya membuat kakinya lebih leluasa melangkah, dan sepatu sneakersnya selalu membuat pijakannya menjadi lebih aman.

Hinata masuk kedalam sebuah apartemen besar, lalu masuk kedalam lift. Hinata terdiam. 'Ia harus cepat, harus cepat..' gadis ini bersua dalam hatinya, menyemangati dirinya sendiri.

Hinata menuju lantai lima belas, sementara ia baru mencapai lantai lima. "Ayolah.."

TING!

Liftnya berhenti tepat di lantai delapan. Pintu lift terbuka secara otomatis. Seseorang berambut pirang agak panjang berdiri didepan lift. Hinata menatapnya tak berkedip. "Naruto?"

"Eh?" pemuda itu menaikkan alisnya. "Eto.. Kau salah mengenali orang.."

"Hah?" Hinata menatap pemuda itu dari atas ke bawah, tak ada yang salah. Mata ocean blue, kulit terbakar sinar matahari, dan rambut pirang. Benar-benar Naruto.

"Aku Uzumaki Minato. Dan sepertinya Naruto yang kau maksud itu, adalah Uzumaki Naruto.." pemuda itu tersenyum.

"Ah, iya.." Hinata menunduk malu.

Minato masuk kedalam lift, lalu berdiri disamping Hinata. "Naruto itu anakku.."

"Eh!" Hinata menoleh menatap Minato, memperhatikan pria itu sekali lagi. Ya, rambut Minato lebih panjang dari Naruto yang cepak.

"Hm?" Minato tersenyum menggoda.

"Tidak.. Gomen.." ucap Hinata, kembali menunduk.

"Kau mengenal anakku?" tanya Minato, lalu memencet tombol nomor dua puluh satu.

"Iya.." Hinata speechless. Ia gugup.

"Namamu siapa, nona?" tanya Minato lagi.

"Aku Hinata Hyuuga.." ucap Hinata pelan.

Seketika mata blue ocean Minato terbelalak, perlahan diliriknya gadis disampingnya itu. Menatapnya dari bawah keatas. "Hinata?"

"Iya.." sahut Hinata, menoleh menatap Minato lagi. Menikmati raut aneh diwajah Minato.

"Jadi kau—" ucapan Minato terputus, tat kala suara 'ting' kembali berbunyi, angka 15 pun tertera pada layarnya.

Pintu lift kembali terbuka, Hinata hendak beranjak keluar, namun urung saat tangan Minato mencegatnya dengan menarik lengannya, membuat perhatian Hinata sukses teralih dan tertumpu padanya. "Jauhi anakku."

Hinata sontak menarik lengannya, menatap Minato dengan tatapan tak percaya. "Saya gadis baik-baik.."

"Bukan itu yang jadi masalah, Hinata-san—"

"Baik. Saya akan menjauhi putra bapak," Hinata menyela. Tatapannya tajam, merasa direndahkan oleh Minato. Pantangan bagi seorang Hyuuga direndahkan derajatnya oleh orang lain.

Minato terkejut mendapati tatapan tajam dari Hinata, matanya masih menatap gadis itu walau badannya sudah bergerak menjauhinya.

"Senang berjumpa dengan anda, Uzumaki-sama.." ucap Hinata, tegas.

Minato tau kalau Hinata salah menangkap ucapannya. Pintu lift tertutup, memisahkan Minato dan Hinata. Minato memejamkan kedua matanya, lalu menarik nafas panjang. "Maaf, Naruto.."

Hinata mencengkram buku-buku tua dan kertas di pelukannya keras dan erat, hatinya terasa panas saat Minato menyuruh dirinya agar menjauhi Naruto. Apa dikiranya seorang Hyuuga tidak pantas berteman dengan klan Uzumaki?

Hinata mengeluarkan kunci kamar dari dalam saku celananya, sementara dagunya membantu tangan kirinya mempertahankan keseimbangan barang bawaannya. Hinata berhenti didepan sebuah pintu kamar, lalu memasukan kuncinya, memutarnya, lalu memutar kenop pintunya, mendorongnya. Kemudian Hinata masuk sembari mencabut kuncinya, dan menutup pintu. Kemudian ia menyelot rantai pada pintu kamarnya. Dan mengunci pintunya.

Hinata berjalan masuk, lalu meletakkan buku, kertas-kertas dan tasnya di atas meja didepan televise flatnya. Hinata lalu berjalan ke dapur, berhenti didepan kulkas, dan membuka pintu kulkas perlahan. Udara dingin segera menyapu lembut kulit Hinata. Hinata mengambil sekaleng minuman soda disana, lalu menutup pintu kulkas.

BLAM!

Mata Hinata terbelalak tatkala mendapati bayangan seseorang terpantul sangat jelas di pintu kulkas yang sedikit mengkilat. Bayangan hitam yang lebih tinggi darinya itu hanya terdiam, sementara mata merahnya memandang kearah tengkuk Hinata. Hinata balik badan, namun badannya segera disergap, didorong kebelakang hingga punggungnya terbentur keras menabrak kulkas.

Hinata mengerang pelan, kedua matanya perlahan terbuka untuk melihat sosok yang menyerangnya. Mata merah menyala dengan tiga titik yang saling berhubungan. Gigi taringnya memanjang, sementara nafasnya memburu. Rambut hitamnya yang sangat familiar bagi Hinata. "I-itachi-nii.."

"Hinata.." desahnya pelan.

Hinata tau kalau Itachi dihadapannya ini tidak seperti biasanya. Atau malah, seperti orang mabuk. Pipi Itachi bersemu kemerahan, sementara nafasnya seperti kepulan asap halus. Hinata gemetaran. Ia merasa asing pada sosok dihadapannya.

"Aku menginginkanmu.." suara Itachi terdengar sangat rendah, sementara hembusan nafasnya menyapu kulit pipi Hinata.

Pipi Hinata merona kemerahan. Degup jantungnya serasa dipompa dua kali lebih cepat, sementara tubuhnya gemetaran ketakutan. Ia tahu kalau Itachi bukanlah manusia biasa.

Tangan dingin Itachi menyentuh pipi Hinata, turun ke leher jenjang sang gadis lavender, menyapunya dengan lembut.

"Aku ingin.."

Itachi mendekatkan mulutnya kearah leher Hinata. Segera saja Hinata mendorong Itachi degan sekuat tenaga. Dengan cepat Hinata berlari melewati Itachi, menuju koridor menuju pintu keluarnya. Hinata menyentuh kenop pintunya, memutarnya paksa, namun nihil. Pintu itu tak kunjung terbuka. Hinata membuka selot pintunya, lalu kembali memutar kenopnya, menggedor-gedor. Dirasanya ada yang hilang.

"Mencari ini?"

Hinata tercekat. Perlahan menoleh, menatap sosok Itachi yang berdiri diujung koridor, memegang beberapa buah kunci.

SRET! BRAK!

Itachi mendorong kembali Hinata, kearah pintu, mengunci gadis itu agar tak bebas bergerak lagi dengan cara memegangi kedua tangan Hinata. "Lepaskan, Itachi-nii!"

"Aku menginginkanmu Hinata.." ucap Itachi, seperti mabuk.

Sekuat tenaga Hinata menendang Itachi dengan kakinya, membuat pria itu terjatuh lagi. Sementara sang gadis menggunakan kesempatan ini untuk berlari menjauh dari Itachi. Hinata meloncati tangan Itachi, namun disaat yang sama, tangan dingin itu menangkap kaki Hinata, membuat Hinata tersangkut dan terjatuh dengan suara berdebum keras.

Hinata mencoba membalikan tubuhnya saat dirasa sesuatu berada diatasnya. Itachi kembali mengunci Hinata dengan memegang kedua tangannya, dan menghimpit kaki Hinata dengan kakinya. Hinata merasa matanya memanas. Bukan apa-apa yang ia pikirkan, melainkan ia tau kalau sebenarnya Itachi bukan manusia biasa sejak kejadian yang menjadi alasan baginya untuk keluar dari kediaman Uchiha. "Itachi-nii, lepaskan.."

"ITACHI UCHIHA!"

SREET! BRUAK!

Sesuatu melesat cepat, lalu menubruk Itachi dengan keras, membawanya jauh terpelanting kebelakang menjauhi Hinata. Kedua bola mata Hinata terbelalak saat melihat monster yang sama dengan yang menghancurkan keluarganya, ia lalu menjerit histeris, seakan kembali pada keadaan yang sama pada malam berdarah itu. Ketakutannya yang sama kembali, memaksanya untuk kembali mengingat memory kelam dihari itu. Memory yang ingin sekali Hinata buang, atau bahkan dilenyapkan.

GREB!

Hinata merasa seseorang memeluknya lembut, menenangkannya. Namun Hinata berontak sejadi-jadinya. Hinata mendongak untuk melihatnya. Sai. Pemuda itu memeluknya, kemudian menuntun Hinata untuk berdiri, membawanya jauh dari Itachi dan mahluk yang menyerangnya. Hinata mencengkram kemeja Sai erat. "Sai.. Mahluk apa itu?"

"Werewolf.." ucap Sai pelan, memeluk Hinata erat, menyembunyikan gambaran yang terjadi pada Itachi.

"Mahluk yang sama dengan yang menyerang keluargaku?" tanya Hinata, melirik kearah bola mata onyx Sai.

Sai mengangguk. "Iya. Sama."

"Kenapa kamu tau Sai?" Hinata menunduk.

Sai mengerutkan dahinya. "Maksudnya?"

Hinata mendongak lagi. Onyx dan Lavender itu kembali beradu. Sai semakin serius menatap gadis dihadapannya, yang seakan memiliki sejuta alasan, sejuta pertanyaan, dan sejuta jawaban itu. Hinata menatap lurus-lurus kedalam bola mata onyx Sai. "Bukankah malam itu kamu tidak bersamaku? Bagaimana kau bisa tau rupa mahluk itu?"

Dan Sai terdiam, meneguk air liurnya sendiri. Hinata masih menatapnya lekat, menunggu jawaban dari mulutnya. "Err.."

"Apa itu artinya kau ada ditempat yang sama denganku, Sai?" tanya Hinata cepat, seakan menemukan titik terang akan siapa 'dia', orang yang menolongnya selama ini.

"Dan apa mungkin kau yang menolongku malam itu?"

Dan Sai pun terdiam. Menenggak sisa kegugupannya.

** To Be Continued **

Minnaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Saya sudah update XD

Gomen kelamaan ;D

Gyaaaah gomen kalau ada yang merasa jika chapter ini kependekan. Gomeeeen soalnya scene nya banyak yang dilanjut, ngga diskip. Skip juga Cuma skip hari XD

gomen ngga bisa balas review satu satu seperti biasa. Dikejar waktuuuuuuu

Okeee, saya ucapkan beribu terima kasih pada : Seichi, Witte Lelie Lautner, Miyuki Izumi, Natsumi Kohinata, Chido daidai-iro, Cha2-chan, Naoki Bhrezhnev, Ryu Kirei no Joozu, Ninja-edit, Faatin-hime, Amethyst Is Aphrodite, Mitsuhiko Zahra, Chieko Kuroia, dan semua reader, saya ucapkan bertumpuk tumpuk (?) terima kasih.

Okeeeeeeee deeeeeeeeeeh XD

Dari pada kebanyakan bacot, mendingan review aja *Plak!*

Mina, minta review, yang BANYAAAAAAAAAAAAAKKK!