Best Partner!

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

WARN: Jika ada kemiripan cerita dan alur. Itu hanyalah unsur ketidak sengajaan. Karena fict ini pure karya saya.

TYPO/GAJE/OOC/EYDancur.

.

.

.

.

Begitulah takdir. Apa yang terjadi, tidak selamanya sesuai dengan keinginan kita. Aku hanya tidak mengerti, kenapa semakin banyak kejadian abnormal disekitarku. Bahkan seorang dewa kematian saja tidak cukup untuk membuat hidupku semakin rumit.

.

.

.

.

.

.

"Siapa kau sebenarnya?" ucap pemuda itu semakin mengeratkan cengkramannya. Membuatku meringis kesakitan. Apa si maksudnya? Apakah dia benar-benar sudah mengingat kejadian itu? Sebisa mungkin aku menahan rasa sakit akibat cengkraman tangannya. 'Begitupun, menahan agar aku tidak keceplosan dengan apa yang sudah terjadi. Sial, tatapan matanya benar-benar membuatku ketakutan.

"Jangan mempermainkanku! Bagaimana mungkin, kau masih hidup!?" bentaknya sembari mengguncangkan tubuhku dengan sangat kasar. Ckh.

Apa!? Hidup? Bagaimana aku masih hidup? Kenapa? Kenapa pemuda itu mengatakan hal aneh disiang hari. Ia tidak sedang melantur 'kan? Atau pemuda itu sangat membenciku, hingga merutukiku untuk mati? Kenapa dia berlebihan sekali? Baiklah. Jika dia bersikap kejam, maka aku juga harus bersikap sama. Kenapa tidak? Bukankah aku juga merasa dirugikan. Meskipun itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Dengan berani kutatap matanya yang seolah sudah menyalurkan listrik itu. Menatapnya sama tajamnya. Dasar laki-laki gila, bagaimana ia bisa mengatakan kata-kata sekasar itu pada seorang gadis. Yeah, bahkan melihat tatapan matanya yang angkuh itu membuatku tak lagi bisa menahan amarah. Dengan sekali gerakkan aku berhasil menendang kaki pemuda itu hingga tersungkur kesakitan. Itu bahkan masih belum cukup untuk mengganti apa yang sudah dikatakan olehnya. Dengan puas, aku menarik bibirku keatas lebar-lebar.

"Aakh!"

"Siapa bilang kau boleh menyentuhku? Hidup? bagaimana bisa aku masih hidup? Tentu saja aku masih hidup, karena aku belum mati. Dasar orang aneh!" teriak ku kesal. Aku berkacak pinggang sembari menatap pemuda itu yang tengah meringis kesakitan. Menatapku juga dengan tatapan kesal. Salah siapa memperlakukan wanita begitu? Dan ingatkan, aku tidak akan pernah melupakan kata-kata gilanya itu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku segera berjalan menjauh. Meninggalkan pria itu yang berteriak meminta ku berhenti. Untuk apa? Jika aku benar-benar berhenti, bisa-bisa dia akan mengataiku seenak jidatnya. Aku menghela napasku lega. Kali ini tidak ada lagi acara kucing-kucingan jika bertemu pemuda itu. Yeah, itu lebih baik memang.

.

.

.

.

.

.

"Duduklah Neji. Ada yang ingin kusampaikan padamu. Mungkin, ini bisa membantu menyelesaikan masalahmu," ucap Guy, menyuruh Neji yang baru saja tiba itu untuk duduk. Sementara Neji hanya mengangguk, sembari duduk menghadap Guy. Memperhatikan pria paruh baya yang kini tengah menghela napasnya panjang.

"Kau tau, apa alasanmu menjadi seorang Shinigami?" ucap Guy, tak henti-hentinya membersihkan buku-buku usang miliknya. Yeah, sebenarnya, Neji juga ingin sejak dulu bertanya tentang alasannya menjadi Shinigami. Tapi, ingatkan jika Guy sendirilah yang menolak memberitahu bahkan sepatah katapun.

"Bukankah Guy-sama sendiri yang menolak memberitahuku alasan dibalik itu semua?"

Guy terkekeh. Semuanya tidak tanpa alasan. Ia hanya takut, jika Neji mengubah pola pikirnya jika mendengar alasan sebenarnya. Dan, siapa yang ingin mengatakan hal yang bahkan tidak pantas untuk dikatakan? Pemuda paruh baya itu hanya memandang Neji datar, sebelum kembali berargumen.

"Kau benar, aku menolak untuk memberitahu bahkan sampai kapanpun. Karena alasan mengapa kau menjadi Shinigami, tidaklah sama dengan orang lain, Aku tau ini bukan keputusan terbaik, atau juga bukan sebuah dukungan dariku. Tapi, aku tetap tidak bisa melihatmu kesusahan disaat kupikir inilah satu-satunya solusi yang kupunya," ujar Guy, semakin membuat mata Neji menyipit tajam.

"Bahkan meskipun itu bukan keputusan, atau dukungan terbaik. Guy-sama tetap akan memberitahukannya bukan?" harap Neji tak sadar ketika ia sedikit memajukan badannya kearah Guy. Pria itu mengangguk tenang, tapi raut wajahnya seolah ragu, takut jika kata-katanya akan melukai perasaan Neji.

"Haah. Balas dendam. Alasan mengapa kau menjadi seorang Shinigami adalah sebuah balas dendam." Neji termangu mendengar perkataan Guy yang sukar diterima telinganya. Balas dendam? Ia bahkan tidak ingat bahwa ia memiliki musuh. Bahkan meskipun ada, Neji pikir itu bukanlah orang yang mampu mengubahnya menjadi seorang Shinigami.

"Apa maksudmu?" ujar Neji, masih tidak mengerti.

"Orang itu. Dialah yang meminta untuk menjadikanmu sebagai seorang Shinigami. Lebih tepatnya, yang memberikanmu sebuah kutukan," Mata Neji membulat. Kutukan? Kenapa? Siapa orang yang berani mengutukknya, padahal dia hanyalah manusia biasa yang tidak pernah melakukan kejahatan yang merugikan seseorang.

"Siapa... orang itu..."

.

.

.

.

.

.

.

.

Tenten berjalan pulang sore itu. Kerutan didahinya telah terukir semenjak siang tadi. Bukan, bukan pemuda itu penyebabnya. Tapi, tentang firasat jika ada yang mengikutinya semenjak tadi. Anehnya, orang yang mengikutinya tidak melakukan apapun. Hanya diam, dan terus mengikutinya. Dengan sekali hentak, Tenten menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya, menatap kearah sosok berjubah hitam yang tengah berdiri tegap tepat didepannya. Entahlah, mungkin karena terlalu sering diikuti membuat Tenten tidak lagi ketakutan. Yang ada justru dia merasa kesal.

"Apa maumu? kenapa mengikutiku terus?" ujar Tenten, membuat sosok berjubah itu melepaskan Hoodie yang sempat menutupi sebagian wajahnya. Tenten membulatkan matanya ketika sosok berjubah itu menatap Tenten dengan mata tajamnya.

"Aku Uchiha Itachi. Shinigami divisi pertama." ujarnya sembari melepaskan jubah hitamnya. Pemuda itu menatap kearah Tenten yang masih diam karena terkejut. Apa pemuda itu baru saja menyebut jika dirinya seorang Shinigami tadi? Tenten menggelengkan kepalanya cepat. Gadis itu justru berkacak pinggang sembari memperlebar matanya tajam.

"Kau pikir aku peduli? Aku sudah muak. Ketakutan dan melarikan diri darimu. Jika apa yang kau lakukan untuk bola kekuatan maka itu sia-sia saja. Jadi berhentilah mengejarku!" ketusnya sembari memaju-majukan telunjuknya kearah Itachi. Sementara Itachi hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Tenten.

"Kenapa kau tertawa? Baiklah, katakan apa yang sebenarnya kau inginkan ha?" getak Tenten tak lantas menurunkan nada bicaranya.

"Kau!" jawab Itachi santai.

"Apa?"

"Aku ingin kau melakukan sebuah tugas," lanjutnya membuat Tenten menutupi kedua mulutnya erat. Seolah menertawai Itachi, yang tiba-tiba muncul, dan memberinya sebuah tugas. Hey dia bukan Gurunya 'kan?

"Ppftt!"

"Jangan tertawa. Karena ini tidak lucu," ucap Itachi, segera dihadiahi oleh tatapan tajam Tenten. Gadis itu berdehem, sebelum kembali kesikap seriusnya.

"Kenapa harus aku? Aku bahkan tidak merasa jika aku mengenal... siapa namamu tadi?"

"Terserah kau mau melakukan hal apapun. Intinya kau harus bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah kau perbuat. Hyuuga Neji. Apa kau tau alasan mrngapa bola kekuatan miliknya pecah?" tanya Itachi sembari melipat kedua tangannya didepan dada. Memperhatikan Tenten yang tampak kebingungan itu dengan tatapan datar. Urat dipelipis matanya terlihat menengang. Yeah, Tenten hanya heran, bagaimana pria yang menyebut dirinya Shinigami itu bisa tau tentang Neji Hyuga. Begitupun dengan bola kekuatan yang hancur itu. Tenten menelan ludahnya kasar. Berusaha menjelaskan apa yang ia ketahui.

"Guy sama mengatakan jika suatu larangan dilanggar. Atau bola itu pecah ketika kami tidak sengaja bertabrakan." jawab Tenten, mulai cemas. Uchiha Itachi. Sebenarnya siapa pria itu.

"Kau pikir siapa itu Guy, hingga bisa kau percayai? Dia, tidak lebih dari pada seorang pembangkang."

"Apa?"

"Bola kekuatan itu adalah seutuhnya kesalahan mu. Kau yang menghancurkan bola kekuatan milik Neji," ujar Itachi santai. Sontak membuat kerutan didahi Tenten muncul dengan jelas. Gadis itu merubah posisi berdirinya seolah tidak terima dengan penuturan sang Shinigami itu.

"Berhenti berbicara omong kosong. Kau pikir kau siapa? Menghina Guy-sama dan menyalahkanku atas kejadian yang tidak pernah kulakukan?"

"Aku tidak berbicara omong kosong. Kau pikir siapa aku, hingga ingin berbas-basi dengan manusia seperti mu? Aku menunjukkan kesalahanmu, dan berusaha membantumu. Tapi hanya jika kau mau mendengarkanku!" potong Itachi cepat. Pemuda itu mendekatkan wajahnya kearah Tenten yang sudah kalap. Gadis itu menyeka keringat dingin yang membasahi keningnya.

"Apa maumu? Kenapa kau terus menggangguku?"

"Bola itu pecah karena ulahmu. Tubrukan itu tidak menghancurkam bolanya, hanya membuatnya berpindah. Penyebab bola itu pecah adalah kau. Kau berciuman dengan laki-laki disebuah gang tua itu." Tukas Itachi, segera dibalas oleh tatapan Tenten yang sudah membulat sempurna.

"Apa?" Lidahnya kelu. Juga getaran yang tiba-tiba saja menyerang dadanya ketika kejadian itu kembali terulang dibenaknya. Sebenarnya siapa pemuda ini hingga tau semua hal tentang dirinya. Tenten mengeratkan genggaman pada tangannya sendiri. Tubuhnya bergetar hebat. Ia ketakutan. Bagaimana tidak? Kedatangan dan penjelasan Itachi cukup membuat bulu kuduk Tenten berdiri tegap.

"Yah, ciuman itu adalah penyebabnya. Pada dasarnya bola kekuatan adalah hal yang paling suci bagi Shinigami. Dan, tentu ketika kesucian itu ternodai oleh hal memalukan seperti itu. Kau pikir apa yang mungkin terjadi? Tentu saja,bola itu hancur berkeping-keping," sambung Itachi menyelesaikan perkataannya. Ia menatap kearah Tenten yang tengah menundukkan wajahnya ketakutan. Perlahan tangannya terulur menyentuh dagu kecil Tenten. Berusaha mengangkat wajah Tenten yang tampak menengang itu.

"Uchiha Sasuke. Dia adalah pemuda yang secara tidak sengaja berciuman denganmu. Aku ingin kau membantunya. Hanya dengan begitu aku bisa membantumu." ucap Itachi pelan. Sungguh, apa yang harus dilakukan oleh Tenten sekarang. Gadis itu menatap Itachi dalam, sebelum tangannya ia gunakan untuk menepis jarinya yang masih menyentuh dagunya.

"Kau pikir, aku percaya perkataanmu? Aku tidak tau siapa kau. Bisa saja kau hanyalah orang suruhan yang ingin membuatku kesusahan iya kan?"

"Lalu, siapa orang suruhan itu, hingga tau semua hal tentang Shinigami, bola kekuatan dan Hyuuga Neji? Aah, dan sehebat apa orang itu hingga bisa mengambil buku yang berada didalam tas mu ini?" kekeh Itachi, menunjukkan sebuah buku usang tebal yang sudah berada digenggamannya.

"Kau? Bagaimana bisa..."

"Aku akan menyita ini. ambil jika kau benar-benar menginginkannya." Ucap Itachi memasukkan buku Shinigami yang diambilnya dari Tenten kedalam jubah hitamnya. Pemuda itu menjauhi Tenten, dan membalikkan badannya untuk pergi. Meninggalkan Tenten yang masih mencerna kejadian yang baru saja terjadi padanya. Tenten tidak tau, baik atau buruk untuk berhubungan dengan pria itu. Tapi, ingatkan jika pemuda tadi bisa membantunya. Selain itu, jika hancurnya bola itu adalah murni kesalahan Tenten. Maka ia akan membutuhkan pemuda itu untuk menjelaskannya pada Neji. Iya 'kan?

"Tunggu!" pekik Tenten, membuat pemuda itu menoleh cepat.

"Apa yang bisa ku dapatkan. Dan apa yg bisa kau bantu untukku."

"Aku tidak yakin. Tapi, mungkin aku bisa memberitahumu lembar kematian milik Neji yang hilang karena seekor anjing. Bukankah itu perjanjian yang adil?" tawar Itachi, tak memajukan satu langkah kakinya pun kembali.

"Lalu?" ujar Tenten menatap Itachi tajam. Oke, Itachi cukup pandai untuk menyadari arti dari tatapan Tenten. Dan Tentu saja pemuda itu mengangguk, sembari tersenyum licik.

"Aku akan kembalikan semua yg kuambil darimu. Bagaimana?"

Tenten menelan ludahnya kasar. Ia tidak tau, hal seperti apa yang akan terjadi dalam hidupnya. Seolah satu Shinigami saja masih belum cukup untuk membuat pikirannya menjadi rumit. Dan sekarang lagi? Apapun itu, Tenten hanya melakukan apa yang menurutnya benar. Karena benar, mungkin ini satu-satunya cara mendapatkan jawaban atas lembar kematian milik Neji. Dan dengan itu semua, maka ia bisa membantu Neji menyelesaikan tujuannya. Tenten menghela napasnya panjang. Menatap Itachi yang menaikan sebelah alisnya, seolah menunggu jawaban dari Tenten.

"Haah, baiklah. Apa yang bisa kubantu?"

.

.

.

.

.

.

"Sasuke kehilangan ingatannya karena sebuah kecelakaan yang terjadi 3 tahun yang lalu. Ia melupakan semua orang, begitupun dengan tunangannya. Ia mengusir semua orang disekitarnya begitu terbangun dari koma. Hal yang membuat tunangannya melarikan diri dan membatalkan pernikahan mereka. Jadi tugasmu adalah, membantunya untuk mendapatkan kembali ingatannya. Aku tau sisa waktu Neji tidak lagi banyak. Jadi kuharap, kau bisa menyelesaikan tugasmu secepat mungkin agar aku juga bisa membantu Neji."

"Kenapa kau begitu peduli pada Sasuke? Apa kau yang menabraknya?"

"Itu tidak benar! Lakukan saja tugasmu. Dan ini! Ini adalah catatan harian Sasuke. serta biodata mengenai Sasuke. Aku ingin, kau bersungguh-sungguh dengan tugasmu ini Tenten."

Tenten berdiri diberanda rumahnya malam itu. Ia menghela napasnya panjang. Tatapannya tertuju pada sebuah buku yang berada digenggamannya. Bukan buku Shinigami yang seperti biasanya ia pelajari. Yang ini lain. Orang yang lain pula. Bagaimana mungkin, ia harus membantu orang yang tidak sengaja diciumnya itu? Dan juga, jangan lupakan kejadian tempo hari yang membuat Tenten dengan sengaja menendang pemuda itu kasar. Tenten mendongakkan kepalanya kearah langit yang tampak gelap. Pikirannya rumit. Tentang Sasuke, dan juga Neji. Ia tidak tau harus darimana ia menjelaskannya. Ia takut, dengan kemungkinan besar Neji yang akan membencinya jika tau alasan sebenarnya. Tapi Tenten tidak punya alasan untuk menyembunyikannya. Baik atau tidak. Ia wajib menyelesaikannya dengan Neji.

"Haah, tidak apa-apa. Aku harus memberitahukannya," gumam Tenten berusaha memantapkan hatinya.

Tenten menarik tatapannya dari atas langit. Hari sudah sangat larut, mungkin beristirahat adalah solusi terbaik saat ini. Segera Tenten membalikkan badannya. Meraih knop pintu rumahnya untuk masuk, sebelum sebuah bayangan mengurungkan niatnya. Tenten menoleh perlahan, menemukan Neji yang tengah berdiri lunglai tak jauh dari tempatnya.

"Ne-Neji?" Tenten berjalan mendekati Neji. Bahkan ia bisa merasakan aura hitam yang mengelilingi Neji. Tenten menepuk pundak Neji perlahan. Pasalnya, Neji tidak juga mengangkat wajahnya ketika dirinya memanggilnya berulang kali.

"Neji? Kau baik-baik saja?" tanya Tenten perlahan.

"Aku menemukannya... cara lain untuk membawanya kembali. Aku hanya tidak mengerti. Bagaimana bisa aku harus meminta bantuan kepada seseorang yang sudah mengutukku?" pekik Neji mendongakkan wajahnya perlahan. Tatapan matanya benar-benar sendu.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Alasan mengapa aku menjadi Shinigami adalah balas dendam. Dan kau tau apa? Jika aku menginginkannya kembali, aku harus meminta bantuan kepada orang yang mengutukku. Bahkan jika itu sampai maut menjemputku, aku tidak pernah menginginkan ini terjadi," ujar Neji tanpa sadar membuat cairan bening menetes begitu saja. Tenten membulatkan matanya. Tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya didepan matanya. Dan entah kenapa, dadanya ikut melinu melihat raut wajah Neji yang begitu menyedihkan.

"Neji," desis Tenten tatkala Neji berjalan pelan kearahnya. Perlahan menjatuhkan kepalanya tepat ke pundak Tenten.

'Bagiamana ini? Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku mengatakan nya sekarang? Alasan mengapa bola kekuatannya pecah? Lalu apa yang akan Neji lakukan nanti?'

"Sakit. Aku terlalu merindukannya hingga itu semua membuatku kesakitan." pekik Neji, membuat Tenten semakin ketakutan. Mungkin, mengatakan sekarang bukanlah waktu yang tepat. Tapi jika menundanya, itu hanya akan membuat Neji semakin berlarut-larut nantinya. Suka atau tidak. Baik atau buruk. Tenten tetap tidak punya pilihan selain mengatakannya jika saja...

"Neji," panggil Tenten meraih kedua pundak Neji. Membuat Neji mengangkat wajahnya perlahan.

"Aku minta maaf. Aku minta maaf. Sebenarnya, akulah alasan mengapa bola kekuatan milikmu itu pecah. Aku melanggar peraturan! Aku, Aku melanggarnya tanpa kau ketahui. Aku minta maaf, aku melakukan hal yang membuat bola itu hancur. Aku, aku..." tukas Tenten cepat. Ia menghentikkan kata-kata nya ketika melihat Neji yang justru menatapnya dengan tatapan super datar. ayolah Neji, setidaknya tunjukkan ekspresi kesalmu!

"Aku, aku berciuman dengan seseorang," desis Tenten pelan. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam. Siap menerima apapun yang akan Neji lakukan. Bahkan Tenten terlalu siap jika seandainya saja Neji akan menampar atau memukulnya.

"Kau serius?" tanya Neji entah kenapa terdengar bergetar. Tenten mengangkat wajahnya yang memerah. Gadis itu mengangguk pelan sembari meneteskan air mata yang tiba-tiba saja membasahi pipinya.

"Gomen... gomen... gomen... gomen..." rengeknya sembari menutupi kedua wajahnya yang masih menangis.

"Tenten,"

"Gomen Neji, aku sadar jika itu salahku! Gomen..."

"Tenten!"

"Kau bisa membenciku! Aku tau aku tidak berhak dimaafkan!" ucap Tenten semakin menjadi-jadi. Gadis itu menangis bahkan membuat dirinya sulit melihat apapun saat ini.

"Tenten!" panggil Neji semakin meninggikan suaranya. Tentu saja, karena Tenten selalu saja memotong pembicaraannya.

"Yaa! Kau bisa memukul atau menamparku sekarang! Aku..." Tenten membulatkan matanya lebar-lebar. Bersamaan dengan Neji yang berhasil membuat mulut Tenten berhenti berbicara. Cairan kembali menetes dari sudut matanya. Tatapannya melembut ketika melihat wajah Neji yang sangat dekat dengannya dengan mata tertutup. Sulit untuk menjelaskan dalam posisi seperti ini. Tapi kesimpulannya cukup jelas. Yeah, Neji membungkam bibir Tenten dengan bibirnya.

Alhasil Tenten benar-benar diam sekarang. Bahkan hingga Neji menjauhkan wajahnya dari wajah Tenten. Rona merah menjalar cepat kewajah Tenten. Berbeda dengan Neji yang masih setia dengan wajah datarnya.

"Kau tidak perlu meminta maaf. Karena aku sudah memutuskan hubunganku denganmu..." ucap Neji dingin. Singkat dan jelas, tapi entah kenapa itu terdengar seperti suara gledek yang berhasil membuat telinga Tenten berdengung sakit. Lidahnya kelu, bahkan ia tidak sanggup untuk meminta Neji untuk jangan meninggalkannya.

Tenten mematung, ia memegangi dadanya yang serasa sakit. Kenapa, tubuh Neji yang berjalan menjauh itu membuat Tenten ingin mengejarnya? Ada apa dengannya?

'Benci aku Neji. Kau berhak memarahiku. Tapi kumohon jangan pergi tanpa kata seperti ini! Itu lebih menyakitkan dari pada sebuah tamparan,'

.

.

.

.

.

.

To Be Continue...

.

.

.

.

.

Hai minna,,, Akhirnya chap 6 udah author publish..!

Udah lma gk ada wktu buat lanjut, akhirnya ada waktu juga...

Itupun karna Author kek nya bakalan Hiatus lama...:'(

Meskipun iya, author ttep bkal seneng klo klian masih mao nungguin nih fanfict gaje...

Okedeh,, Selamat berkomentar pada kolom komentar ya...

See you next time..

Ja minnaa...!:-*