Jeng jeng! chap 6 up nehhh
Saya kebut 3 jam ngetiknya, jadi gak sempet ngedit ato ngoreksi typonya, maaf yaa (banyak alasan, sekali males ya males) hehehe maaf maaf
untuk yang nanyak jadwal updatenya, maaf ya saya up nya gak terjadwal, pkok ceritanya selesai diketik langsung saya pos, tapi saya usahakan 3-4 hari sekali mumpung saya belum sibuk-sibuk amat
dan makasih untuk yang masih mau baca fic murah ini (saya terharu) hehehe
wess gak usah banyak ngetik lagi, langsung baca aja
New Story
Chap 6
"Haahh.. akhirnya sampai juga" ucap Naruto sambil melihat arlojinya ternyata telah pukul 8 malam dan Naruto pun langsung memegang gagang pintu
Clekk "Lohh kok gak dikunci? Apa tou-san sudah pulang ya? Tumben sekali" Naruto langsung masuk rumahnya dan memberi salam "Tadaima"
"Okaeri.." jawab seseorang dari dalam
'Kenapa suara perempuan?' batin Naruto 'Siapa ya?'. Naruto pun langsung menghampiri asal suara itu
"Kaa-san..." Naruto membulat kan mata saat melihat seseorang berambut merah sedang memasak didapurnya sambil menghadap kekompor membelakanginya. Sampai wanita tadi menoleh
"Naruto, kau sudah pulang" ucap seseorang tadi santai
"Eehhh Rias-senpai kukira kau.." Naruto kembali terkejut saat ternyata seseorang tadi adalah Rias
"Kau kira aku hantu?"
"Bukan bukan, maaf. Apa yang senpai lakukan disini?" tanya Naruto
"Tentu saja memasak, apa kau tidak bisa melihatnya?"
"maksudku apa yang kau lakukan dirumahku?"
"Kami akan menginap disini lagi" ucap seseorang ternyata itu adalah Akeno yang baru keluar dari kamar mandi
"Kenapa menginap disini lagi?"
"Apa kau melarangnya?" ucap Akeno sambil merangkul bahu Naruto, dan membuat Naruto sedikit ciut adalah senyum evil nya
"Ehh Bu..bukan maksudku melarang. Kenapa kalian tidak menginap di rumah kalian saja maksudku pulang. Bukan kah rumah kalian jauh lebih besar dan nyaman?"
"Aku lagi malas pulang" ucap Rias santai
"Lagi pula aku telah mendapat izin dari Minato-san kalau aku dan Rias akan menginap lagi disini" Balas Akeno sambil melepaskan rangkulannya
"Yahh mau gimana lagi"
"Kau sepertinya keberatan" ucap Rias
"Ehh ti..tidak kok senpai hehehe. Ya sudah kalau begitu aku mau mandi dulu" tapi sebelumNaruto pergi, Akeno memanggilnya
"Tunggu Naruto-kun"
"Ada apa senpai?"
"Tadi kami menemukan ini" ucap Akeno sambil memberikan Foto yang ia dan Rias temukan tadi sore
"Ehhh... ini.." wajah Naruto berubah jadi sendu saat melihat gambar dari foto yang ia pegang
"Apa itu_" Ucapan Akeno langsung dipotong Oleh Naruto
"Ini bukan apa-apa kok senpai, hanya foto masa lalu. Terima kasih sudah menemukannya. Sudah ya aku mandi dulu" Naruto langsung berbalik dan pergi menuju kamarnya
Tapi disaat itu juga Rias dan Akeno dapat melihat bahwa bahu pemuda pirang itu bergetar. Dan saat ia melangkat terlihat beberapa tetes air membekas dilantai yang Naruto lewati tadi.
"Apa dia tidak apa-apa? Kurasa dia menangis" Tanya Rias
"Entahlah, sepertinya memang seperti itu dan kurasa belum saatnya kita menanyakan yang sebenarnya, melihat kondisi Naruto seperti itu"
"Kau benar, lebih baik kita selesaikan masakan ini" ajak Rias
"Ayo"
.
"Tadaima.." Minato pun datang setelah setengahjam kedatangan Naruto tadi
"Okaeri.." jawab Akeno
Minato langsung masuk "Akeno-sama, jadi anda benar-benar kesini"
"Tentu saja, apa Minato-san kira aku main-main. Aku juga bersama Rias"
"Selamat malam Minato-san" ucap Rias
"Ya selamat malam Rias-sama"
"Minato-san, apa ayahku belum kembali? Ini sudah 5 hari kan?" tanya Akeno
"Belum Akeno-sama, Baraqiel-sama beserta Gremory-sama belum bisa pulang untuk saat ini, mungkin 2-3 hari beliau akan tiba disini lagi" ucap Minato
"Yasudah.."
"Ngomomg-ngomong apa Naruto belum pulang?"
"Sudah Minato-san, tadi setelah datang dia langsung_"
"Ehh Minato kau sudah pulang" sapa seseorang yang baru keluar dari kamarnya
Minato yang habis melepaskan sepatunya langsung dia ambil lagi dan melemparkan kewajah sang anak dengan penuh kasih sayang
"Adaaauuww.. Sepatu kampret"
"Kau yang kampret, dimana sopan santunmu pada ku hahh?" tanya Minato kesal
"Hehehehe santai bro, woles woles"
"Woles kepala mu itu. Kau mau kukutuk jadi batu? Sudah aku mau mandi dulu" Minato pun beranjak dari tempatnya dan menuju kamarmandi, sementara Naruto hanya senyum 5 jari nya
.
"Wahh banyak sekali kau masak Naruto" Komen Minato yang baru bergabung di meja makan
"Bukan aku yang masak tou-san"
"Trus siapa?"
"Tentusaja 2 Putri didepanmu itu"
"Wah benarkah, saya tersanjung bisa memakan masakan Akeno-sama dan Rias-sama"
"Kau berlebihan Minato-san" ucap Akeno sedikit malu
"Tapi sejujurnya ini adalah kali pertama kami memasak, jadi mohon maklum kalo rasanya sedikit aneh" Ucap rias
"Tapi dari penampilannya ini sangat menggoda senpai" ucap Naruto semangat
"Selamat makan" Ucap mereka bersama
Dan saat Minato dan Nruto mengunyah makanan di suapan pertama mereka Rias Akeno hanya memperhatikan saja
'sensasi apa ini? Serasa serasa serasa...' batin Dua blonde tersebut dan..
Set set set Minato dan Naruto segera mengambil minuman mereka untuk membantu menelan makanan yang mereka kunyah. Rias dan Akeno yang melihat ekspresi Ayah dan anak itu menjadi lesu
"Jadi memang tidak enak ya.." ucap Rias lemah
Set.. Minato pun beranjak dari tempat duduknya sementara Akeno dan Rias yang melihat itu hanya semakin lesu
"Ini tidak terlalu buruk kok senpai" Hibur Naruto
"Kau jangan menghibur_" ucap Rias terpotong karena melihat Minato datang lagi ke meja makan membawa sebotol
"Mayonais? Buat apa Minato-san" tanya akeno
"Tentu saja untuk ini" Minato langsung memakan lagi masakan dimeja tidak lupa dangan sedikit tambahan Mayonais tadi "Ini tidak lah buruk, kalian boleh coba"
Naruto yang mngikuti cara tou-san nya itu langsung "Kau benar tou-san, tumben otak kecilmu itu bisa kau guakan untuk berpikir"
Ctakkk... Minato langsung memukul kepala Naruto dengan sumpit "Bodoh, otakku ini 10 kali lebih hebat dari isi kepala kuningmu itu"
Sementara Rias Akeno yang melihat pertengkaran kecil antara ayah anak ini hanya tersenyum
Tapi disatu sisi Rias dapat melihat dengan jelas raut kesedihan yang terpancar dari mata Naruto 'apa masakanku sebegitu buruknya kah sampai dia sedih, atau mengenai foto tadi?' batin Rias
.
Acara makan malam mereka pun selesai dengan sedikit paksaan karena mereka juga kehabisan mayonais, jadi masakan tadi juga harus dimakan apa adanya
"Akeno-sama Rias-sama kalian bisa memakai kamar Naruto yang kemarin untuk tidur malam ini"
"apa tidak apa-apa? Terus bagaimana dengan Naruto-kun?" tanya Akeno
"Biar Naruto tidur diteras, mudah kan"
"Kampret kau tou-san, kau ingin menyiksa anakmu sendiri. Aku menolak. Kenapa mereka tidak tidur dikamarmu saja, sementara kau tidur bersama anjing Issei sana" komen Naruto sengit
"Apa kau lupa nak, Akeno-sama telah terbiasa tidur dikamar itu. Tentu saja ini adalah pilihan yang paling tepat. Sudah sudah selamat malam" Minato langsung berjalan cepat menuju kamarnya dan menutup pintu kamarnya.
"Hei tou-san. Tou-san kau curang"
"Selamat malam Naruto-kun, kami tidur dulu" ucap Akeno sambil berjalan menuju kamar Naruto itu
Cklek.. pintu kamar Minato terbuka lagi dan menampakkan sang penghuninya itu
"tou...-san apa kau benar-benar tidak kan melihat anakmu yang tampan ini tidur tidak diranjangnya?" ucap Naruto disertai ekspresi bahagia
Dann... bugg Minato melemparkan sebuah bantal dan selimut kewajah Naruto "Tidak tega apanya? Dan apa maksudmu 'tampan' kalau aku sih iya. Sudah sana kau tidur disofa saja" brak pintu tadi pun menutup kembali sedikit keras
Sementara Naruto hanya melongo "haaa... tou-san kampret, laki-laki kampret, manusia kampret, rambut kuning kampret ehh.. rambutkukan juga kuning, pkoknya dasar kamprettt..."
.
Rias pov
'Kenapa disini gerah sekali, apa Minato-san tidak ingin membeli AC ya' batinku 'haah lebih baik aku mengambil air putih saja, aku haus'
Aku pun bangkit dari ranjang dan sempat melihat jam dimeja ternyata sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Aku pun segera keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Tampaknya dapur sedikit gelap karena lampu yang tidak dinyalakan.
Hikss hiks
Aku mendengar sebuah suara, dan kurasa itu adalah suara tangisan. Aku sedikit takutkarena dengan kondisi sedikit gelap dan aku kira itu adalah hantu. Aku pun memberanikan diri untuk menghampiri asal suara itu, ternyata yang aku lihat kini adalah seseorang dengan rambut pirangnya sedang duduk dilantai dengan kepala yang menunduk, dan aku yakin dia sedang menangis.
Aku pun tanpa ragu menghampirinya "Kau kenapa?" tanya ku. Seseorang itu pun mendongakkan kepalanya, dan ternyata itu adalah Naruto. Aku kaget saat melihat wajah yang biasanya tersenyum hangat itu kini dipenuhi dengan air mata. Dia pun segera mengalihkan wajahnya dan berusaha untuk menghapus air mata yang menghiasi wajah nya itu.
"Ahh.. senpai, apa yang kau lakukan malam-malam begini?" ucapnya saat itu, aku langsung menghampirinya
"Kau kenapa?" tanyaku saat berada didepannya
"A..aku tidak apa-apa"
"Kau tidak pandai berbohong" setelah aku mengamati lagi, ternyata ada sebuah foto yang tergenggam ditelapak kanannya "Apa karena itu?" tanyaku sambil menunjuk gegnggaman telapak tangannya
"Ehh.. itu_"
"apa kau tidak mau bercerita" tanyaku lagi. Sementara dia hanya diam. Aku pun duduk disampingnya dan bersandar didinding dapur.
"Apa masa lalu mu begitu buruk sampai kau seperti ini?" tanya ku lagi. Dan lagi dia hanya diam. Sampai beberapa saat kemudian dia mulai buka suara.
"Foto yang kalian temukan tadi, itu adalah foto keluarga ku" ucap nya datar " entahlah aku tidak yakin akan menceritakannya padamu senpai"
"Kau tidak perlu memaksakan diri, tapi jika kau ingin, aku mau menjadi teman curhatmu malam ini" ucapku padanya. Sementara ia bergerak memperlihat kan foto tadi.
"Lihat, disini kami tampak begitu bahagia bukan?" ucapnya dengan tatapan nanar "Tapi tidak semua yang nampak dalam foto ini benar, ini hanya topeng" jawabnya ambigu
"Maksudmu?" tanyaku bingung
"yahh, aku tersenyum bukan untuk keluargaku tapi hanya untuk ayahku" ucapnya menoleh padaku " Kau lihat wanita berambut merah ini?" tunjuknya pada foto itu
"iya, dia cantik" aku memuji wanita yang berada dalam foto itu, memang kenyataannya dia begitu cantik dengan rambut merahnya
"Kau benar, dia cantik, bak bidadari bukan meski aku tidak percaya adanya bidadari tapi dia begitu tampak seperti bidadari bagiku" ucapnya" Tapi seperti yang kukatakan tadi, ini hanya topeng" ucapnya dengan wajah yang sedikit mengeras
"Ehh?" aku semakin bingung dibuatnya
"Wajah nya seperti bidadari tapi sifat dan perilakunya seperti iblis" ucapnya dengan serius dan tampak ekspresi marah diwajahnya
"apa dia itu_"
"Ya, dia ibuku sendiri" aku kaget mendengar penuturannya
"Kenapa kau bicara seperti itu" tanya ku
"Aku_" dia sempat berhenti dan kulihat dia meneteskan air mata lagi "Aku menyesal telah dilahirkan olehnya" ucapnya sambil meneteskan air mata. Aku lagi-lagi kaget oleh ucapannya.
"Kenapa?"
"Hiks.. hikss.. Aku tidak mau, aku tidak mau mengingatnya hiks lagi hiks" ucap nya lagi dengan tangis yang lebih dari tadi. Aku tidak tega melihatnya seperti itu, aku pun menariknya dalam dekapanku " Tapi tetap saja, hiks semua ingatan itu hiks terus muncul, dia sering muncul dalam mimpiku. apalagi setelah hiks aku melihat foto ini" aku merasakan tubuhnya memang bergetar hebat
"Sebegitu besarkah perbuatan nya?" Dia hanya menganggukkan kepala
"Aku tidak keberatan saat dia melakukannya hiks kepadaku, tapi tou-san hiks aku tidak bisa jika tou-san yang mengalaminya"
"Memang apa yang_"
"Dia hampi membunuh tou-san" ucapan ku dipotong olehnya. Dan aku kaget dengan ucapannya itu "Dia hampir hiks membunuh tou-san, karena tou-san melindungiku. Setelah dia hiks menghancurkan semua kehidupan tou-san, dia masih tega untuk membunuhnya hiks. Aku ragu jika dia manusia" aku tertegun mendengar semua penjelasannya
'sebegitu beratkah hidupnya dulu?' batinku, aku pun mempererat pelukanku dan mengelus punggungnya "Keluarkan lah semuanya. Aku tau kau tidak bisa menceritakan semua padaku, tapi kau bisa mecurahkannya melalui air mata, Tumpahkan disini tidak akan ada orang yang melihat kok" ucapku menenangkan
Aku tidak tau berapa lama dia menangis, tapi tubuhku sudah merasa kram terus memeluknya
Akhirnya ia melepas pelukannya, kemudian dia membersihkan wajahnya dan memandangku "Terima kasih senpai, ini sangat berarti" ucapnya sambil tersenyum
"Iya sama-sama, apa kau merasa lebih baik?" tanyaku dan diapun hanya mengangguk
Aku pun merangkul bahunya "Eh Naruto, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu" ucapku
"Apa itu senpai?"
"Selama ini setelah sekian banya hal yang kulakukan padamu apa kau membenciku?"
"Itu.. kurasa tidak"
"Kenapa? Padahal aku telah melakukan banyak hal buruk kepadamu, kau bisa saja kan balas dendam"
"Entahlah alasan apa yang membuatku tidak membencimu, mungkin karena awalnya juga ini adalah salahku bukan? Apa kau lupa kejadian dikantin itu?" tanyanya kepadaku. Aku yang mengingat itu hanya malu karena perbuatannya "Aku tau salah yang kubuat waktu itu cukup besar, dan wajar jika bagimu untuk membalasku. Aku benar-benar minta maaf untuk kejadian itu. Dan soal balas dendam aku tidak akan pernah melakukannya, karena dengan balas dendam akan menumbuhkan dendam baru, dan tou-san sudah banyak mengajarkan tentang hal itu"
"Tapi setidaknya kau bisa sedikit melawan bukan, aku juga pernah melihat saat kau dipukul anak kelas 3 karena kau menghalangi jalanya, dan aku tau itu bukan salahmu, tapi kau diam saja" aku tidak habis pikir dengan jalan pikirin pemuda ini
"Aku memiliki alasan untuk itu"
"Apakah itu?" tanyaku sedikit paksaan
"Haahh.. kau mungkin tidak akan mengerti karena kau bukan diposisiku."
"Maksudmu?"
"Aku bukannya diam saja, tapi memang aku tidak bisa bahkan hanya untuk membalas. Alasannya karena aku tidak mau memperbesar masalah sepele. Misalnya saat senpai kelas tiga itu memukulku aku tidak akan melawan kalau itu tidak membahayakan nyawaku, dan hasilnya sampai saat ini aku aman-aman saja bukan, lain halnya jika aku melawan. Maka kami akan saling bertarung hingga guru datang melerai kami, setelah itu pasti kami akan dipanggil ke ruang BP, dan mendapatkan hukuman bukan. Aku tidak memiliki waktu yang cukup untuk menjalani hukuman itu mengingat aktivitasku sehari-hari yang sibuk"
"Apa hanya karena itu?"
"Tidak. Aku pernah mengalaminya. Saat itu aku kelas 1 smp, seperti perumpamaan yang kuceritakan tadi, aku berkelahi dengan seseorang disekolah karena hal sepele. Dan akhirnya aku mendapat hukuman dari guruku, meskipun aku tidak salah, tapi aku tidak memiliki kekuasaan karena saat itu aku berkelahi dengan putra dari kepala sekolah. Semua fakta terbalik dan menghancurkanku, aku mendapatkan surat Drop Out dari sekolahku" Dia terus bercerita sambil mata birunya yang baru kusadari sangat indah itu menerawang jauh entah kemana "Tapi bagian buruknya bukan itu, saat aku memberitahukan kejadian ini kepada tou-san saat itu lah hal yang paling buruk terjadi. Tou-san sangat marah kepadaku bahkan untuk pertama kali dalam seumur hidupku dia menamparku bukan memukul seperti yang biasa ia lakukan. Ia memarahiku habis-habisan. Ia sangat kecewa kepadaku"
"Bukankah kau bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya"
"Aku sudah melakukannya. Tapi tetap tidak bisa. Akhirnya esok hari tou-san kesekolahku dan meminta maaf kepada kepala sekolahku, bahkan dia rela sujud didepannya untuk mencabut hukuman dariku."
"Sebegitu kah?" tanyaku heran
"iya, dan akhirnya aku sadar, bahwa aku tidak bisa memaksa semua berjalan sesuai keinginanku. Ada kalanya aku harus pasrah menerima keadaan meski itu menyakitkan setidaknya jika aku menerima maka efek yang ditimbulkan tidak akan separah jika aku melawan. Saat itu aku tau, keadaan kami sudah cukup buruk, kehidupan kami sedang terpuruk, tapi yang kuperbuat saat itu malah memperburuk keadaan dengan menambah beban tou-san ku. Jika saat itu aku dikeluarkan aku tidak tau harus sekolah dimana lagi, mengingat saat itu aku sekolah mengandalkan beasiswa yang kuterima"
"Tapi kau kan tidak salah" ucapku sedikit menaikan nada
"Aku memang tidak salah, tapi kekuasaan bisa membuat kebenaran, karena orang yang berkuasa selalu benar, sementara orang sepertiku hanya bisa menerima"
"Tapi tetap saja, kau seharusnya melawan, terlebih kepadaku hiks aku sudah keterlaluan kepadamu" ucapku sambil menagis setelah mengingat semua perbuatanku kepadanya, aku tidak tau jika dia telah melalui banyak sekali penderitaan dan aku malah menambah penderitaannya "Aku tidak mudah dimaafkan bukan"
Kali ini dia menarikku intuk memelukku. Aku merasakan sangat nyaman saat menyandarkan kepalaku didadanya, sangat hangat, nyaman, dan menenangkan. "Tapi aku memaafkanmu"
"Kenapa?"
"Aku mengerti rasa kesepian yang kau rasakan, kau hanya melampiaskan rasa itu"
"Hiks hiks aku menyesal"
"Tenanglah, kau tidak perlu menangis hanya karena ini. Selain itu kau tau hal lain yang membuatku tidak bisa membalasmu?"
"Apa?"
"Kau sama sepertinya, seperti ibuku" aku kaget saat dia mengatakan itu "Jujur aku awalnya tidak terlalu suka padamu, bukan karena sifat mu atau apa, tapi karena ini" ucapnya sambil mengelus kepalaku "Rambut merahmu mengingatkanku padanya, tapi tetap saja aku tidak bisa melampiaskan perasaan benciku kepada orang yang berbeda bukan. Saat kau terlihat marah, aku melihat rambutmu sedikit berkibar, saat itu lah aku teringat kejadian-kejadian dulu saat ibuku marah, tubuhku terasa kaku dan tidak bisa digerakkan, itu lah salah satu alasan aku tidak bisa walau hanya untuk sekedar menahan amukanmu" ucap nya
"Apa kau benar-benar membenciku?" tanyaku lagi
"Sudah kukatakan tadi kan, bahwa aku tidak membencimu"
"Terima kasih" Ucapku sambil tersenyum
"Iya" balasnya
Malam itu pun aku lewati dengan tidur diposisi seperti itu, dengan Naruto yang memeluk tubuhku, aku tidak tau apa yang kurasakan, tapi pelukannya mengingatkanku pada pelukan ibuku dulu. Aku pun tertidur dengan senyuman yang selama ini tidak pernah kumunculkan saat tidur 'senyum bahagia'
Rias pov end
Keesokan paginya
"Hooaammm.. sudah pagi rupanya" Minato yang baru keluar dari kamarnya segera menuju ke dapur
Minato pun berjalan pelaha sampi dia tersandung sesuatu hingga hampir jatuh. Dan saat dia melihat
"WAAAAAA..." Minato berteriak setelah melihat sesuatu didepannya
Terlihat Naruto sedang tidur dilantai dapur sambil bersandar didinding tapi bukan itu yang membuat minato berteriak tetapi posisi anaknya yang sedang tertidur sambil memeluk putri dari pemilik perusahaan Gremory itu yang membuatnya shok
"Errhh.. apa sih pagi-pagi kok teriak-teri_ Addaaawww.." Naruto yang baru sadar dari tidurnya langsung berteriak kesakitan saat sang tou-san menjambak rambutnya dengan sadis
"Naruto kampret, apa yang kau lakukan disini hah, dan apa-apaan kau ini, tidur didapur dan yang lebih parah kau.." Minato pun menoleh kearah Sang gadis Gremory itu
"Enngghh.. kenapa Minato-san teriak-teriak?" ucap Rias lemah
"Rias-sama kenapa anda tidur disini terlebih lagi anda tidur dengan anak ini?" tanya minato menuntut sambil menunjuk Naruto
"Itu.. aku kemarin malam kehausan Minato-san aku pun mencari minum, tapi aku menemukan Naruto juga didapur, kami pun sedikit mengobrol samapai tak terasa malam terlalu larut aku pun ketiduran"
"Tapi kenapa anda malah dipeluknya?"
"Itu aku tidak tau, mungkin Naruto ingin mencari kesempatan kepadaku" ucap Rias santai sambil beranjak dan duduk di depan meja makan
"NA-MI-KA-ZE NARUTO KAMPREETT.. apa kau tidak punya otak melakukan itu. Bagaimana jika Gremory-sama tau akan hal ini, kau akan segera digantungnya mengingat kau tidur dengan putrinya" marah Minato sambil terus menjambak rambut anaknya
"Addaauuww.. sakit sakit tou-san. Lepaskan dulu baru aku jelaskan"
"Jelaskan"
"Senpai, apa kau ingin aku terbunuh oleh ayahku sendiri" ucap Naruto yang kini menghampiri rias dan menggoyang-goyangkan tubuh Rias "Ayolah tolong katakan sesuatu yang membuat ayahku tenang"
Rias pun bingung mau menjawab apa "Anakmu sedang bergairah Minato-san"
Ciut ciut muncul perempatan dikepala Minato
"Gyyaaa... Baka senpai, kau benar-benar ingin aku mati" ucap Naruto yang kini sedang berlari dikerjar-kejar ayahnya mengelilingi dapur
Rias yang melihat itu hanya tersenyum, 'sepertinya suasana sudah normal kembali, Naruto mungkin merasa lebih baik' batin Rias "Tenang lah Minato-san Aku tidak akan bilang ke Tou-sama kok, dan kami semalam juga tidak melakukan apa-apa" jelas Rias kepada Minato yang kini sedang duduk diatas perut anaknya dan mencekik leher anak malang itu
"Tapi Rias-sama.."
"Aku tidak apa-apa kok"
"Haaahh kau selamat kali ini Naruto" ucap Minato
"Uhukuhuk, tou-san kau benar-benar akan membunuhku tadi" protes Naruto
"Selamat pagi" ucap seseorang yang baru datang yakni Akeno
"Pagi" balas mereka semua
Setelah itu Naruto pun memasan dengan dibantu oleh Rias Akeno, yahh mungkin mereka meminta diajari masak oleh Naruto
Sarapan pagi pun berjalan dengan nikmat. Dean ketiga anak muda ini pun bersiap untuk berangkat ke sekolah
"Minato-san mungkin nati kami tidak akan kesini lagi, kami akan pulang" ucap Akeno
"kenapa tiba-tiba, anda bisa lebih lama disini jika anda mau"
"sebenarnya aku ingin Minato-san, tapi ayah sudah pulang, dan kemarin malam dia menelponku"
"Benarkah? Mungkin Disana berakhir lebih cepat dari yang dijadwalkan. Ya sudah kalau begitu, tapi jika anda atau Rias-sama ingin mampir lagi, anda tidak perlu sungkan-sungkan"
"Terima kasih Minato-san kami menghargainya, baiklah kami berang kat dulu"
Chap 6 end
Hehehehe typo nya banyak ya? (Banyak goblok) hehehehe maaf maaf
maaf juga ya kalau angst nya kurang, tapi memang chap ini saya buat angstnya tidak terlalu wahhh..
Tapi untuk chap depan saya akan coba buwat Minato membeberkan Masa lalunya, saya coba buat angst yang wahh disitu
okkee
see yaa next chap
