Aru : Muhihihihi..
Semua : Lagi-lagi suara itu.
Giotto : Authoorr! Aye tetep mau protes tentang xxx sama si borgol otaku ituu!
Tsuna : Borgol otaku? Alaude-san?
Giotto : -muka melas no jutsu-
Iyaaaaa. Apalagi aku sama sekali gak ketemu Tsunayoshi di scene kemareenn.
Aru : -muka cuek no jutsu-
Hmmm… hari ini saatnya Tsunayoshi dkk pake baju cosplay ya? Kostumnya udah siap kan?
Semua : Lah kok tanya kitaaa? Ini sutradaranya siapa sih?
Aru : siapa ya? Belum kenalan tuh ama sutradaranya.
Semua : -udah nyiapin senjata masing-masing-
Aru : -ngalihin pembicaraan-
Ayo semua siap-siaaappp! Bentar lagi take!
KHR punya Amano Akira. Vampire beside You punya aru. Ide terinspirasi dari beberapa doujin rate 18 paling yahud! OOC yang pasti.
Tsuna : Author mesum! Pasti aku lagi yang jadi uke.
Aru : berbahagialah Tsunaa. Ada beberapa doujin dengan cerita kau jadi seme!
Tsuna : benarkah? Terus siapa ukeku? –berbinar-
Aru : Gokudera. –cuek-. Oh ya, Giotto juga ada.
Goku+Gio : -facepalm-. Gak cucooookkk!
Aru : bodo! Udah sana siap-siaaappp! –lempar lampu stage-
V v v v V
Pagi hari yang cerah, Tsuna terbangun dengan bermacam perasaan. Hari ini Halloween! Dan acara festival tinggal menghitung jam. Sesuai janji, Tsuna sudah mempersiapkan kostumnya. Saat membuatnya, Tsuna sesekali tertawa pelan membayangkan dirinya akan memakai kostum itu. Dan yang pasti tak ada satupun yang mengenalinya. Kecuali Gokudera dan Yamamoto mungkin.
"Pagi, kaa-san." Tsuna menemui ibunya yang sedang memasak sarapan di dapur.
"Oh, pagi, Tsu-kun. Ah, tolong matikan televisi di ruang tamu. Tadi Ibu lupa mematikannya." Sang Ibu tercinta tersenyum membalas salam anaknya dan kembali melanjutkan memasak.
Tsuna mengangguk mengambil roti bakar dan menggigitnya perlahan, kemudian beranjak ke ruang tamu untuk mematikan televisi. Saat jarinya akan menekan tombol off, ternyata ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Berita di televisi sedang menayangkan sesuatu yang ganjal.
"Semalam, ditemukan mayat perempuan tak dikenal yang diduga sebagai korban pembunuhan. Namun yang membingungkan kepolisian, gadis itu mati kekurangan darah karena volume darahnya sangat minim. Tak ada bekas perlawanan atau penganiayaan di tubuh korban. Kasus ini masih dalam penyelidikan."
Tsuna membelalakkan matanya. Kekurangan darah karena volume darah minim? Tsuna menelan ludahnya sekuat tenaga. Keringatnya mulai menetes dari keningnya. Jangan-jangan...
"... Giotto-nii... apakah kamu yang melakukan itu? Apa karena kemarin kamu tak datang ke tempatku dan kamu merasa sangat haus?"
Wajah Tsuna mulai pucat. Ia bimbang. Apakah orang itu yang melakukannya? Kenapa? Apakah Giotto-nii marah sampai tak ingin menemuiku?
"Tsu-kuunn. Sudah siang. Nanti kamu telat. Ayo bergegas." Suara ibunya terdengar lagi dari dapur.
Tsuna menggeleng keras. Kemudian mematikan televisi dan segera beranjak menuju sekolah. Ia ingin menepis pikirannya bahwa sosok itu adalah pelaku dari kasus itu. Namun Tsuna tak dapat memungkiri jika kemungkinan itu ada. Karena vampir di abad ini hanya dia.
"Pagi, Juudaimee. Hari yang cerah ya. Aku tak sabar menanti acara festival halloween itu." Gokudera menghampiri Tsuna yang berjalan lunglai. Tampaknya ia sangat bersemangat menyambut festival itu.
"Uhm. Uun." Tsuna hanya mengangguk dan bergumam menanggapi ucapan Gokudera.
"Juudaime? Ada apa? Apakah anda sakit?" Gokudera tampak khawatir. Tsuna menggeleng dan mencoba untuk tersenyum, meski tipis.
"Yoo, Tsuna, Gokudera." Yamamoto merangkul bahu kedua sahabatnya dari belakang.
"Yakyuu-baka! Ngapain lu di sini!"
"Tentu saja berangkat ke sekolah bersama, nee?"
"Eh, jangan bilang lu ikut festival halloween nanti malam?"
"Tentu saja. Aku akan jadi mumi dan akan menghantui kalian. Hahaha!"
Gokudera bersiap melempar dinamitnya. Namun urung karena Tsuna menahannya sambil tersenyum lembut. Akhirnya hati Gokudera luluh juga dan berniat untuk melempar dinamit itu nanti saja, saat Yamamoto tak bisa bebas bergerak karena perban.
"Lalu Gokudera-kun jadi apa?" tanya Tsuna perlahan sambil terus menyunggingkan senyum tipisnya.
"Aku? Tentu saja..."
"Serigala, kan?" sela Yamamoto sambil menyeringai senang.
"Hah? Kok tau?"
"Karena itu yang paling cocok untukmu."
"Yakyuu-bakaaa!" Gokudera kembali mengeluarkan dinamitnya.
"Maa... sebentar lagi bel masuk. Cepat cepat!" Yamamoto memilih menghindar dari serangan Gokudera dengan berlari duluan menuju sekolahnya.
"Kalian dekat sekali, ya?" Tsuna nampak iri melihat keduanya seperti kucing dan tikus yang kadang bertengkar kadang bersahabat itu.
"Eh? Bu-bukan begitu, Juudaime. Tapi..." wajah Gokudera sedikit bersemu merah. Ia salah tingkah sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Nee, Gokudera-kun..."
"Ya, Juudaime?"
"Apa yang akan kamu lakukan jika tau orang yang kamu sayang ternyata adalah seorang pembunuh?"
"Haah?"
"Kufufufu."
Tsuna terkejut. Ia menatap Gokudera dengan tatapan heran namun ketakutan. Ada perasaan aneh mendengar tawa itu. "Gokudera-kun, kamu tertawa barusan?"
"Eh? Tentu saja tidak, Juudaime. Mendengar pertanyaan anda, mana mungkin aku tertawa." Gokudera menjawab dengan pandangan heran.
"Tapi barusan... ah lupakan. Ayo cepat. Sebentar lagi bel masuk atau Hibari-san akan menghajar kita berdua karena terlambat."
"Baik, Juudaime." Gokudera dan Tsuna berlari-lari kecil menuju sekolah dan masuk ke kelasnya dengan selamat.
Di dalam kelas, Tsuna tak dapat berkonsentrasi dalam pelajaran. Pikirannya sudah penuh dengan bermacam pertanyaan tentang kasus pembunuhan itu dan tawa yang tadi ia dengar. Apakah ini semua berhubungan?
"Setelah pelajaran ini, harap semua membantu mendekorasi untuk acara festival malam ini." Guru bahasanya keluar dan suasana mulai riuh membahas festival.
"Hhh. Padahal kuharap aku bisa ikut festival itu bersama Giotto-nii. Tapi tak ada tanda-tanda kalau Giotto-nii akan datang. Hhh."
"Sawadaa, ayo bantu mendekorasi." Teman-temannya memanggil. Tsuna mengangguk pelan dan berdiri dari duduknya.
"... yah, sepertinya memang tak ada waktu untukku memikirkan hal ini."
V v v v V
Sedangkan di lain tempat, di sebuah apartemen kecil yang tak terpakai lagi, terdengar suara alunan piano klasik. Suara itu tampak pilu dan menyayat hati. Siapapun yang mendengar apalagi melihat sosok orang yang memainkannya pasti mengklaim jika ia akan segera mati dengan cara bunuh diri.
"Moonlight Sonata, nee?"
Suara piano itu berhenti. Tampak orang yang sedang memainkannya itu terkejut dengan kehadiran oranglain di tempatnya tinggal. Seharusnya tak seorangpun yang berani masuk ke tempat itu karena tempat itu adalah tempat terbuang. Sama seperti dirinya.
"Siapa?"
"Kufufu... tak usah terkejut seperti itu. Kami kesini tidak dengan maksud buruk."
"Ya, kami hanya ingin meminta izin padamu."
"Izin?" mata pemuda yang bermain piano itu terbelalak melihat siapa yang datang ke tempatnya. Dua orang. Satu orang yang tampak lebih muda, ia tak mengenalinya. Namun pemuda yang lebih tua itu, sangat ia kenali. Amat sangat. Dan ia sangat membencinya.
"Kufufufu. Kami bermaksud untuk memiliki seseorang."
"Siapa?"
"Sawada Tsunayoshi."
TREEENGG!
Pemuda piano itu berdiri dari kursinya dan menggebrak tuts piano dengan keras. Ia tampak menyeramkan. Nafasnya memburu sambil menatap dua orang tamu tak diundangnya dengan penuh kemarahan. Tangannya mengepal keras, gemetar menahan keinginannya untuk memukul tamunya.
"Jangan sekalipun kalian menyentuh Tsunayoshi!"
"Oya, oya. Jika kau menolak, maka kami terpaksa meminta paksa."
"Coba saja! Langkahi dulu mayatku jika kalian ingin mengambil Tsunayoshi dariku!"
"Oya, oya.."
"Sayangnya kami sedang tak berkeinginan untuk bertarung. Tapi lihat saja nanti malam. Akan sangat menyenangkan mengambil orang yang kau sayang darimu dengan mudah. Hahahha!"
Kedua tamunya tiba-tiba menghilang dari pandangan pemuda itu. Pemuda itu terduduk kembali di kursinya sambil mengurut keningnya. Ia mulai mengalami anemia hingga pusing menyerang kepalanya. Kekesalan dan amarahnya tadi cukup menguras tenaga hingga ia tampak begitu lemah.
"Hhh.. Tsunayoshi... Aku merindukanmu. "
V v v v V
"Kufufufu.."
"Hah?"
Tsuna menoleh ke belakangnya dengan tatapan takut. Perasaan ini lagi. Sama seperti tadi pagi. Sepertinya memang ia sedang diawasi seseorang. Tsuna melirik jam dinding kelasnya dan mendapati hari sudah hampir sore. Sebentar lagi sekolahnya akan ramai dengan orang-orang berpakaian seram.
"Sawada, tolong kembalikan buku-buku ini ke perpustakaan, ya."
Tsuna mengangguk meski ia sendiri lelah. Sepertinya julukan orang yang paling tak bisa menolak permintaan itu sangat cocok dengannya. Tsuna perlahan berjalan membawa tumpukan buku yang hampir menutupi pandangannya.
Beruntung pintu perpustakaan terbuka hingga Tsuna tak kesulitan untuk membuka pintunya. "Pe-permisi. Saya ingin mengembalikan buku-buku ini."
Sunyi. Sepertinya penjaga perpustakaan sedang keluar. Dengan terpaksa Tsuna meletakkan buku-buku itu di meja dan duduk di kursi. Keringat yang menetes dari keningnya ia seka dengan punggung tangan. Ada apa ini. Tsuna merasa hawa di perpustakaan itu tak enak. Panas dan tak nyaman.
BRUK
"Siapa?"
Tsuna menoleh ke belakang tempat asal suara itu terdengar. Namun tak ada siapa-siapa di sana. Di tengah keterkejutannya, Tsuna melihat sebuah buku tergeletak di lantai. Dengan takut-takut, Tsuna mengambil buku itu dan membaca judulnya.
"Hah? Buku ini.. buku yang dulu aku baca karena terjatuh juga."
Tsuna membuka buku itu dengan ragu. Takut bercampur penasaran karena ia melihat ada halaman yang diberi pembatas. Saat tangannya bergerak untuk membuka lembaran yang diberi pembatas, ia terkejut bukan main.
"Aaaaah! Daraaahh!"
Halaman itu lengket dan bernoda. Noda itu seperti warna darah yang mengering. Meski wajahnya sudah mulai pucat, entah kekuatan apa yang memaksa Tsuna untuk membaca halaman itu. "Vampir Primo... mempunyai musuh... orang ini... senjata..."
"Kufufufu."
Suara tawa itu lagi! Dimana sebenarnya ia bersembunyi? Tsuna mencari-cari sumber suara itu dengan tatapan awas dan takut. Ia seorang diri di sana. Entah mengapa ruangan itu seperti tak ada hawa kehidupan. Padahal ia yakin jika tadi di depan perpustakaan itu masih banyak anak-anak berlalu lalang.
"Le-lebih baik aku segera bergabung dengan yang lain. Hiiyy!" Tsuna meletakkan dengan sembarang buku itu di raknya dan segera berlari keluar perpustakaan.
BRUK
"Aduuh. Sakiitt.." Tsuna mengelus hidungnya yang terbentur badan orang yang ia tabrak.
"Wao, apa yang terjadi, Sawada Tsunayoshi?"
"Hi-Hibari-san?"
Hibari sedikit membungkuk agar tinggi mereka menjadi sejajar. Sepertinya Hibari sedang patroli. "Ada apa? Wajahmu pucat?"
"I.. itu..." wajah Tsuna sedikit memerah sambil terus mengelus hidungnya yang sakit. Ia sedikit salah tingkah melihat sosok Hibari di depan matanya. Apalagi pertemuannya sangat konyol.
"Sakit?" Hibari mengelus hidung Tsuna dengan tatapan yang sulit digambarkan oleh Tsuna. Mengapa Hibari masih saja care meski telah ia tolak?
"Se-sedikit. Ehe. Hibari-san sedang apa?"
"Patroli. Aku tak mau jika ada yang menimbulkan keributan atau merusak sekolah ini."
Dasar sekolah otaku. Hehe. Tsuna tersenyum geli mendengar jawaban Hibari. Hibari yang menyadari jika Tsuna seperti menertawakannya, langsung berdiri tegak dan mencubit pipi Tsuna.
"I-Iyaah! Sakit, Hibari-saann."
"Jangan pasang wajah itu atau kamikorosu, Sawada Tsunayoshi."
"Eeehh? Apa salahku?" Tsuna sedikit manyun sambil mengelus hidungnya. Sakit tau.
"Salahmu adalah menolakku."
"Hah? Apa Hibari-san?"
"... lupakan. Ayo cepat ganti kostummu atau kamikorosu."
"I.. Iyaaaa." Tsuna segera berlari meninggalkan Hibari yang tersenyum simpul melihat orang yang ia sayangi tampak sehat. Ia memandang keluar jendela. Sore telah tiba dan sebentar lagi malam menjelang.
"Moonlight Sonata. Hmm."
V v v v V
Pukul lima sore, suasana sekolah Namimori-chuu tampak ramai oleh murid-murid yang memakai kostum. Halaman sekolah dan lapangan disulap menjadi tempat bersemayam para monster dan setan. Stand-stand berjejer dari ujung ke ujung, menjajakan dagangannya. Dan setiap kelas telah dihias sedemikian rupa agar terlihat menyeramkan karena ada lomba kelas mana yang dekorasinya paling bagus, dapat hadiah.
Tsuna celingukan, melihat sekelilingnya dari stall toilet. Ia sedang bersembunyi di kamar mandi yang memang ramai oleh anak-anak yang sedang berganti kostum atau dandan. Keringatnya menetes. Jujur boleh jujur, ia sebenarnya takut juga melihat monster dan setan berkeliaran dimana-mana.
"A-apa aku di sini saja ya sampai acara selesai?"
"Juudaimeeee... Anda di sinikaahh?"
"Ah. Gokudera-kun?"
Gokudera masuk ke dalam toilet dengan kostumnya. Tsuna menelan ludah, Gokudera sedikit menyeramkan. Berbeda dengan dirinya. Pasti jika ia keluar, semua orang akan menertawakannya. Gokudera berdiri tepat di depan stall Tsuna.
"Ayo, Juudaime. Acaranya seru, lho. Banyak stand yang menjual makanan enak."
Gokudera menarik tangan Tsuna perlahan. Tsuna keluar stall dengan ragu-ragu. Sesuai dugaan, semua orang yang ada di toilet itu menoleh ke arahnya.
"Oh, jadi itu Sawada ya?"
"Aneh sekali."
"Hahaha, lucu, lho."
Tsuna menunduk. Benar, kan. Pasti diejek. Tsuna menatap bayangannya di cermin. Ia hanya memakai seragam sekolah biasa dengan jack o-latern besar di kepalanya. Memang jika tidak dilihat baik-baik, tak ada yang tau jika itu Tsuna.
"Temee! Apa yang kalian katakan pada Juudaime! Ayo minta maaf sebelum aku bom kalian dengan dinamit!"
"E-eeehh? Gokudera-kun. Sudah sudah. Memang kenyataan, kan? Lebih baik kita keluar. Aku lapar." Tsuna menarik lengan Gokudera yang siap melempar dinamitnya. Gokudera hanya menghela nafas dan menuruti saja permintaan Tsuna.
"Mereka buta. Juudaime tampak imut memakai itu." Senyum tulus Gokudera membuat wajah Tsuna sedikit merona. Untung saja wajahnya tak terlihat. Jadi Gokudera tak akan tau jika wajahnya merah.
"Yoo, Tsuna, Gokudera."
"Hiiiyy! Mumiiii!"
Tsuna memeluk erat lengan Gokudera sambil berteriak ketakutan. Yamamoto hanya tertawa tanpa dosa melihat tingkah Tsuna dan melirik orang di sebelah Tsuna. "Maa.. Cocok sekali kostummu, Gokudera."
"Temeee! Berani-beraninya lu nakut-nakutin Juudaime, Yakyuu-bakaa."
Gokudera mencak-mencak. Meski usahanya sebenarnya adalah menutupi rasa malu dan senangnya dipuji Yamamoto. Deuh. Tsuna tertawa dan menarik tangan kedua sahabatnya menuju lapangan. "Ayo Gokudera-kun, Yamamoto. Kita senang-senang."
"Iyaa!"
Di lapangan, mereka sibuk mencari makanan apa yang akan dibeli. Tsuna memilih takoyaki dan es jeruk. Namun yang ia bingungkan, bagaimana cara ia makan dengan benda bulat besar itu ada di kepalanya? Haruskah dibuka dulu?
"Gokudera-kun, Yamamoto, aku tunggu di sana ya." Tsuna menunjuk tempat yang disediakan untuk makan. Gokudera dan Yamamoto mengangguk dan kembali sibuk mencari makanan.
Tsuna berjalan perlahan menuju salah satu meja. Ia duduk dan menatap takoyakinya. Bukan, ia bukan sedang memikirkan bagaimana ia makan. Tapi lebih ke seseorang yang sedang ada dalam pikirannya. Tak dapat dipungkiri, Tsuna merindukan orang itu. Tapi Tsuna tak mengerti. Apa maksud di balik semua kasus itu.
"Kufufufu... Trick or treat, Sawada Tsunayoshi."
"Eh?"
Tsuna menoleh dan ia terkejut mendapati seseorang berdiri di belakangnya dengan wujud tengkorak. Tsuna menelan ludah, seluruh tubuhnya gemetar karena takut. Di matanya, sosok itu benar-benar seperti tengkorak. Entah bagaimana caranya, tapi di wajah orang itu sebagian manusia sebagian lagi tengkorak. Seperti mayat yang hidup kembali.
"A-aku.. tak punya permen." Tsuna susah payah berbicara.
"Kufufufu. Aku tak butuh permen. Justru aku ingin membagi-bagi permen kepada orang-orang. Ini untukmu." Orang itu menggenggam tangan Tsuna dan memberinya sesuatu, kemudian ia pergi meninggalkan Tsuna yang masih dipenuhi tanda tanya.
"Apa ini? Cokelat? Apa dia anggota penyelenggara acara ini?" Tsuna memiringkan kepalanya bingung. Ia menimang-nimang cokelat di tangannya. Sepertinya enak.
Tsuna membuka bungkus cokelat perlahan. Wangi khas cokelat mahal tercium di hidung Tsuna, mengundang siapa saja untuk segera memakannya. Tsuna menelan ludah. Makan, tidak. Makan, tidak.
"Kumakan saja, deh. Sepertinya enak." Tsuna memakan cokelat itu dengan sekali gigit. Cokelat itu segera lumer di mulutnya dan rasanya sangat enak. Orang itu memberi Tsuna dua buah cokelat. Pelit sekali, pikir Tsuna. Sambil menunggu kedua sahabatnya yang lama sekali kembali, Tsuna memakan cokelatnya yang kedua.
Tapi setelah menelan cokelat yang kedua, Tsuna merasa aneh pada tubuhnya. Ia merasa haus. Kerongkongannya seolah kering. Seluruh tubuhnya panas. Karena merasa panas di dalam tubuhnya, nafasnya menjadi berat dan memburu. Keringatnya mengucur dari kening dan mulai membasahi seragamnya.
"A-aku kenapa, ya... ah.." Tsuna berlari meninggalkan tempat itu. Ada yang aneh. Sangat aneh. Seperti ada sesuatu yang mendesak dari dalam tubuhnya.
BRAK
Tanpa sadar Tsuna sudah berada di atap sekolah. Salah satu tempat paling sepi karena tak seorangpun yang mengadakan acara di sana. Tsuna terduduk menyender pintu. Nafasnya masih memburu. "A-ah.. sebenarnya... apa yang terjadi... dengan tubuhku..."
Merasa panas, Tsuna membuka jas sekolahnya dan membuka beberapa kancing bajunya namun ia tetap membiarkan jack o-latern nya terpasang di kepalanya. Yang ia heran, mengapa setiap tangannya menyentuh tubuhnya sendiri, ia merasa aneh. Seperti... menagih.
"Hhh... panas..." tanpa sadar tangan Tsuna bergerak mengelus tubuhnya sendiri. Dari dada, terus turun menuju celananya. "Ja-jangan bilang efek dari cokelat itu adalah... ah..."
Mati-matian Tsuna menahan suaranya agar tidak keluar. Bisa gawat jika ada yang mendengarnya dan membuka pintu. Namun konsekuensi itu seolah mengabur karena dengan tangan gemetar, Tsuna mulai membuka resleting celana sekolahnya dan menyusupkan tangannya di miliknya.
"A-ah... tak mungkin.. sejak kapan.."
Meski heran, tangan Tsuna tetap bergerak menurunkan celana panjang serta celana dalamnya hingga paha. Dinginnya lantai atap tak ia hiraukan. "Hhh.. kenapa... jadi aneh.. begini.. ah.." tangannya dengan gemetar mengelus dan memainkan kejantanannya. Hal yang paling jarang bahkan tak pernah ia lakukan. Sedangkan satu tangannya mengelus dadanya dan memilin putingnya pelan. Sepertinya memang ada yang aneh di tubuhnya. Cairan pre-cumnya sudah mulai membasahi kejantanannya dalam waktu beberapa detik sejak ia memainkannya.
"Oya oyaa.."
Tsuna terkejut. Buru-buru ia membenarkan celananya lagi dan menatap awas sekelilingnya. Suara darimana itu? Suara itu begitu familiar di telinganya. Dan tiba-tiba saja Tsuna merasa sangat takut. Padahal tadi ia tak merasakan apa-apa di sana.
"Si-siapa? Di mana?"
"Di atasmu, Sawada Tsunayoshi."
Tsuna menoleh ke atas dan mendapati sesosok laki-laki berdiri di atas tangki air besar. Mata Tsuna kurang dapat jelas melihat sosok itu karena gelap. Tapi ia yakin, sosok itu pernah ia temui sebelumnya. Ya, dialah yang memberinya cokelat aneh itu.
"Ka-kau..."
"Kufufufu... ayo bermain, Tsunayoshi-kun." Laki-laki itu melompat dari atas tangki dan mendarat tepat di depan Tsuna yang gemetar ketakutan.
"Siapa kamu? Mengapa memberiku cokelat aneh itu?"
"Oyaa. Sepertinya mulai bekerja ya. Cokelat itu adalah Potion Cholat."
"Aku tak tanya namanya! Apa yang harus kulakukan agar rasa aneh dalam tubuhku ini hilang?"
"Tentu saja..." laki-laki itu memojokkan Tsuna di dinding. "... dengan sesso..."
"A-apa? Eh? Ja-jangaaannn!"
V v v v V
Aru : Muhihihihihihihihiiii
Tsuna : e-etoo... aru-san.. ini... script apaan sih. Kenapa.. err... aku jadi begini? –pucet-
Aru : memang nasibmu selalu sial, Tsuna. Hahahahaha.
Tsuna : kejaaammmm TT_TT
Giotto : gue gak relaa. Gak relaaaaaa!
Tsuna : emangnya kau pikir aku rela kau dirape Alaude-san? Hwaaaaaa.. –kabur sambil nangis-
Giotto : dikira gue rela apa dia dirape banyak seme. Huhuhu.
Aru : lhaa? Tsunaaa. Jangan pergi kaooo... masih banyak scene dimana kau coretdirapecoret harus tampiiilll. Wooiii
Mukuro : oyaa. Gue masuk juga di cerita ini? Lumayan bisa ngerasain tubuh Tsunayoshi. Kufufufu..
Aru : mesum lu. Ok, mohon reviewnya, minna. :D
Tsuna : -nongol lagi-
aru-saannn.. aku gak mau lagi main ini film! Huhhu
Aru : kalo gitu gue bikin Giotto xxx sama banyak orang. Nyaho lu.
Giotto : he? Kalo enak sih gapapa deh.
Tsuna : Giottooooo! –ngamuk-
Aru : mampus gue. Pergi ah. Jha minnaa... oh ya, cari sendiri ya apa itu arti sesso. Hahaha. #dibakar massa
