Summer Breeze
Main Cast : Cha Eunwoo . Moonbin
Genre : Friendship, Romance, Family
Length : Chaptered
.
.
EM
.
.
Chapter 6
"Fireworks"
.
.
EM
.
.
Eunwoo sampai di rumahnya saat sore, setelah dari rumah sakit. Setelah aksi gilanya terjun dari jendela lantai tiga kamarnya dan berlari tanpa alas kaki sejauh tiga kilo. Tubuhnya luar biasa lelahnya, tapi ia tak menyesal sama sekali. Apapun yang ia lakukan untuk Moonbin memang tak pernah membuatnya menyesal.
Senyuman tulus Moonbin tadi seolah menjadi hadiah untuk usahanya. Mengingatnya membuat Eunwoo tersenyum sendiri seperti orang bodoh. Karena Moonbin terlihat menawan saat tersenyum seperti itu, saat pertama kali mereka bertemu satu tahun lalu.
Sebelum Eunwoo membuka pagar rumahnya, ia terhenti sejenak, teringat saat ia dan Moonbin berpisah di halte bus tadi.
.
.
"Jangan bilang siapapun soal ini, Eunwoo-ya." Ucap Moonbin saat keduanya telah keluar dari bus. Dari sini keduanya yang berbeda jalan menuju rumah masing-masing.
Eunwoo tak langsung menjawab permintaan Moonbin, karena ia sempat berpikir untuk memberi tahu soal Moonbin—yang berniat menjual organnya- pada Suah (terutama). Gadis itu harus tahu bagaimana sulitnya sang kakak mencari uang, bahkan sampai berpikir untuk melakukan hal gila. Suah harus belajar menghargai Moonbin dan memperbaiki sikap kasarnya. Dan Eunwoo hampir saja menolak mentah-mentah jika Moonbin tak kembali bicara,
"Anggap saja hari ini aku sedang mabuk berat, dan aku melakukan kesalahan yang memalukan. Jadi jangan sampai ada orang lain yang tahu." Jelasnya pada Eunwoo "Terutama pada keluargaku dan Minhyuk" tambahnya.
"…Aku tak berjanji…" gumam Eunwoo.
Pemuda berambut hitam kelam itu tak setuju dengan perkataan Moonbin. Moonbin terlalu baik, ia terlalu banyak berkorban dan harusnya ia mendapatkan sedikit perhatian dari orang-orang. Ini tidak seperti Eunwoo akan mengatakan lewat media soal masalah hari ini, ia hanya berencana untuk menjelaskan kesulitan Moonbin pada orang terdekatnya. Moonbin sudah terlalu banyak berkorban, dan ia ingin Moonbin mendapatkan banyak cinta dari orang-orang.
Apa itu terlalu sulit? Eunwoo bisa meyakinkan ia tak akan menyusahkan Moonbin apalagi membuatnya malu.
Tapi Moonbin justru tersenyum tipis, ia berdehem "… Kumohon…?" pintanya "Ibuku bisa pingsan jika mendengar masalah ini, Minhyuk bisa membuat kehebohan dan Suah… dia sudah punya banyak beban pikiran, aku tak mau mengusiknya." Jelasnya kemudian.
Eunwoo menghela napas keras. Pemuda di depannya ini… apa ia bisa lebih baik lagi dari ini? Membuat Eunwoo tak habis pikir.
"Mereka harus tahu kau memiliki beban pikiran yang sama besarnya…"
"Mereka tak perlu tahu"
"Kau tak bisa hidup seperti ini" pemuda itu mengerutkan dahinya "Kau harus mengubah sikap—terlalu-baik-mu itu, Bin-ah." Ucapnya tegas dan sedikit terbawa emosi.
Namun Moonbin justru terlihat lebih tenang dari biasanya. entah karena terlalu lelah untuk beragumen atau apa, ia mundur selangkah dari Eunwoo. Senyuman masih terpatri di bibirnya, namun terlihat sedih…
"Pulanglah dan kita bicarakan ini besok..." ucapnya "Terima kasih untuk hari ini…" lanjutnya sebelum akhirnya berbalik badan dan pergi meninggalkan Eunwoo sendiri.
.
.
Senyuman Eunwoo sudah menghilang, tergantikan raut serius sekaligus kesal. Suasana hatinya berubah begitu cepat seolah Moonbin dapat mempermainkan hatinya sesuka hati. Ia mendesah kesal sambil membuka pagar rumahnya dan berjalan dengan langkah dihentak ke dalam rumah.
Otaknya yang jenius sepertinya sudah disabotase sepenuhnya hanya dengan Moonbin… dan Moonbin, hingga ia tak sadar beberapa jam yang lalu ia habis kabur dari rumahnya. Dan begitu ia membuka pintu rumahnya dengan pikiran kosong, ia langsung menemukan ibunya berdiri di depannya.
Shit.
"Eunwoo-ya…" panggil ibunya.
Sang anak dapat melihat perubahan ekspresi ibunya dalam waktu yang singkat, awalnya ia kira ibunya akan membentaknya karena ekspresi kesalnya, namun beberapa detik kemudian, sebuah senyuman datar muncul dari bibir ibunya. Nyonya Cha kembali menjadi seorang wanita tenang. Hingga membuat Eunwoo bingung harus mengatakan apa.
"Lain kali jangan membahayakan dirimu sendiri, Eunwoo-ya… ibu khawatir." Ujar Nyonya Cha dengan suara lembut. Wanita yang umurnya diakhir tiga puluhan itu memegang kedua bahu Eunwoo "Paham?" tanyanya kemudian.
"Tidak." Jawab Eunwoo langsung.
Eunwoo mengerutkan dahinya. Moodnya sudah tak baik karena Moonbin, dan perkataan ibunya yang menuntut membuat Eunwoo semakin kesal.
Sedangkan Nyonya Cha, kaget dengan jawaban anaknya mencoba mempertahankan senyuman lembutnya "Ibu tahu kau lelah, istirahatlah dan kita bicara besok." Ucapnya kemudian seraya mengelus bahu Eunwoo dengan ibu jarinya. Namun Eunwoo menepis tangan ibunya.
Moonbin akan membicarakannya besok, Ibunya akan membicarakannya besok, besok, besok! Apa Eunwoo orang bodoh?! Ia yakin keduanya pasti tak akan benar-benar menjelaskan apapun. Mereka hanya mengelak dan menganggap Eunwoo seperti orang dungu yang akan melupakan segala masalahnya besok.
"Aku bilang, aku tak mengerti." Ucap Eunwoo "Aku tak mengerti kenapa ibu khawatir sedangkan wajahmu mengatakan sebaliknya." Ujarnya.
Ibunya sama sekali tak menunjukkan kekhawatiran. Tidak seperti dulu saat Eunwoo kecil, ibunya menangis panik karena ia terjatuh dari sepeda dan bertanya banyak hal. Sedangkan ibunya sekarang terus memasang topeng seolah Eunwoo tak melakukan kesalahan.
Pemuda itu lebih memilih dimarahi, dimaki, atau bahkan di pukul saat ini. Dari pada harus menghadapi topeng ibunya yang membuatnya muak. Oh, ibunya dan Moonbin sedikit memiliki kesamaan.
"Apa maksudmu? Ibu sangat mengkhawatirkanmu nak. Jika kondisimu seperti ini, bagaimana besok kau bisa mempersiapkan kepindahanmu ke Amerika? Semua telah siap, ibu harap kau tak membuat kekacauan lagi." Jelas ibunya. Mata wanita itu menyalang karena emosi.
Eunwoo mendesah kecewa "Apa hanya itu yang ibu pikirkan?" tanyanya.
"Kita harus fokus pada satu hal untuk mencapai tujuan, nak." Jawab Nyonya Cha "Aku tahu ini pasti berat bagimu, tapi asalkan kau mengikuti perkataan ibu…"
"Aku tak akan pergi." Potong Eunwoo, seraya mundur beberapa langkah dari ibunya "Aku tak akan mengikuti semua keinginanmu lagi…"
Nyonya Cha mencoba menggapai Eunwoo dengan tangannya, namun sang anak makin mundur "Eunwoo-ya…" panggilnya memelas "Ibu melakukan semua ini untukmu…"
Menggeleng. Ini salah besar "Semua ini untuk ibu. Aku tak merasa mendapat apapun dari olimpiade, beasiswa, dan ilmu-ilmu itu." ia menyeringai sinis, bahkan senang saat melihat perubahan ekspresi ibunya.
"Kau memang tak akan merasakannya sekarang, tapi kau akan sangat berterima kasih padaku saat dewasa, Eunwoo-ya."
"Kutebak ibu bahkan tak tahu keberadaanku selama ini adalah wujud terima kasihku?" tanyanya "Sudah ratusan kali aku berpikir untuk pergi dari sini" Eunwoo menaikkan nada bicaranya, kemudian ia menarik napas pelan sebelum akhirnya bicara dengan suara hampir berbisi.
Ia mulai sulit untuk menahan air matanya sendiri.
Eunwoo hanya berharap ibunya mengerti bahwa selama ini ia tertekan karena menjalani kehidupan yang tak ia inginkan. Dan ia sangat kecewa dengan perilaku ibunya.
.
"… dan sudah tak terhitung berapa kali aku berpikir bahwa mati mungkin lebih baik dari pada hidup seperti ini…"
.
Tanpa menunggu ibunya bicara, Eunwoo langsung berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Pemuda itu tak ingin ibunya melihat air matanya yang sudah jatuh tepat saat ia berbalik, ia juga tak ingin melihat wajah ibunya—karena ia tahu ia perkataannya tadi pasti menyakiti ibunya.
Sejak kecil ibunya adalah kelemahan bagi Eunwoo. Ia tak pernah tega membuat sedih ibunya yang merawatnya sendiri sejak kecil. Itulah kenapa ia menjadi sejauh ini. Semua yang ibunya katakan selalu Eunwoo lakukan dan ia mulai merasa ada yang salah. Eunwoo rasa ia sudah cukup dewasa untuk bisa memilih kehidupan seperti apa yang ia jalani.
Tepat saat Eunwoo menutup pintu kamarnya, tubuhnya jatuh terduduk menyandar di pintu. Ia terisak pelan, kemudian menganggukkan kepalanya dalam diam.
"Ya, kau melakukan hal yang benar Cha Eunwoo… tidak apa… tidak apa…"
.
EM
.
.
Keesokan harinya,
Moonbin dan Myungjun berjalan berdampingan menuju kelas mereka. Keduanya memang tak sengaja bertemu saat di jalan tadi, dan seperti hari-hari biasanya, sekolahan mulai ramai saat keduanya sampai. Tak banyak hal yang keduanya bicarakan selama perjalanan menuju kelas. karena kejadian kemarin, entah kenapa keduanya merasa canggung satu sama lain.
"Ah ya… Myungjun-ah, apa menurutmu Eunwoo akan masuk kelas hari ini?" tanya Moonbin akhirnya, membuka pembicaraan.
"Entahlah…" gumam Myungjun "Beberapa hari terakhir sepertinya Eunwoo sedang di 'kurung' ibunya, dan karena kejadian kemarin… Nyonya Cha pasti tak akan diam saja." jelas Myungjun.
Mendengar itu sontak membuat Moonbin makin merasa bersalah, karena dirinya Eunwoo sampai kabur dari rumah dan mungkin sekarang ia menerima hukuman lebih berat dari ibunya.
"Apa Nyonya Cha sangat galak?" tanya Moonbin kemudian "Apa aku harus ke rumahnya dan minta maaf karena membuat Eunwoo kabur?" tanyanya lagi dengan wajah merasa bersalah.
Myungjun langsung menggeleng "Tidak, tidak. Kupikir itu bukan ide bagus. Nyonya Cha itu tidak galak, dia selalu terlihat ramah." Ucapnya "Bahkan jika ia marah, ia akan tetap ramah." Tambahnya.
"Kau pernah bertemu dengannya?"
Myungjun mengangguk.
"Kapan?"
"Satu setengah tahun yang lalu. Dia menegurku karena aku berteman dengan Eunwoo." Jawab Myungjun "Nyonya Cha menyuruhku untuk menjauhi anaknya karena rangkingku tidak cukup tinggi untuk berteman dengan Eunwoo." Tambahnya. Yang sontak membuat Moonbin merinding. Ia seperti mendengar Myungjun bercerita tentang sinetron tv. namun ini nyata. Myungjun yang mengalaminya sendiri.
"Tapi kau masih berteman dengannya sampai sekarang?"
"Tentu saja!" tawa Myungjun "Kami bukan sedang berpacaran! Tentu saja bebas berteman dengan siapapun yang kami mau! Eunwoo sudah terlalu tertekan dengan hal-hal akademiknya, ia tak mau susah-susah mencari teman semenyenangkan diriku~!" Ujarnya seraya menepuk-nepuk bahu Moonbin yang terasa kaku.
Kadang, perkataan Myungjun yang seperti candaan ini terasa begitu kuat dan dalam. Pacaran, eoh? Moonbin tanpa sadar memikirkan itu, namun ia langsung menggeleng dengan wajah yang sedikit bersemu.
Myungjun yang sedari tadi melihat perubahan ekspresi Moonbin pun tersenyum menggoda "Kau tak perlu gugup, Bin-ah! Kalau kau, Eunwoo pasti akan membelamu mati-matian di depan ibunya sendiri." ujarnya.
"Hah?"
"Yang penting jangan menyerah. Cinta akan indah pada waktunya."
"What?!"
Si pemuda yang lebih pendek memutar bola matanya malas, agak jengah dengan Moonbin yang mendadak tuli. Tapi ia kembali tertawa nista saat melihat wajah super kebingungan—merah Moonbin. Myungjun pun merangkul bahu Moonbin begitu mereka telah sampai di depan kelas dan segera masuk.
Namun, langkah keduanya sontak terhenti begitu sampai di depan pintu kelas. mata keduanya sama-sama tertuju pada satu arah. Bangku Eunwoo, yang beberapa hari ini kosong diduduki seseorang—yang siapa lagi kalau bukan pemiliknya. Pemandangan Eunwoo yang duduk tenang dengan pandangan menuju jendela dan tangan yang dibiarkan terkulai di luar jendela adalah pemandangan yang sangat biasa bagi keduanya. Sampai Myungjun harus mengucek matanya, apa ia baru berhalusinasi atau tidak.
Tidak. Eunwoo sadar dengan kehadiran dua temannya pun menoleh. Ia kemudian mengerutkan dahinya, tak suka melihat Myungjun yang merangkulkan tangannya di bahu Moonbin. Keduanya terlalu dekat.
Langsung mengerti, Myungjun pun melepaskan tangannya dan langsung berjalan dengan cepat mendekati Eunwoo. Sedangkan Moonbin masih berdiri di tempatnya.
"Yaaa! Akhirnya kau datang jugaa!" pekik Myungjun senang seraya duduk di bangku depan bangku Eunwoo. Ia menepuk-nepuk meja Eunwoo kegirangan, sedangkan Eunwoo hanya menatap malas sahabatnya yang ribut itu.
Eunwoo kemudian melirik ke arah Moonbin yang masih berdiri di tempatnya. Pemuda berambut cokelat itu hanya menatap Eunwoo dan Myungjun sedari tadi. Dan saat Eunwoo menatapnya, Moonbin hanya tersenyum lega.
.
.
EM
.
.
"Tidak pulang?"
Moonbin menatap Eunwoo. Tas selempang sudah berada di bahunya, dan kelas telah sepi. Hanya ada pemuda jenius nan tampan itu yang tersisa. Ia sedari tadi hanya menatap kearah jendela—seperti kebiasaannya. Moonbin baru sadar jika Eunwoo terlihat lebih diam dari biasanya hari ini. Dan pemuda bermata mirip kucing itu tak bisa untuk tidak khawatir.
Yang ditanya menoleh, ekspresinya terlihat sangat datar dan tenang, kontras dengan Moonbin yang mengerutkan dahinya "Mau sampai kapan di sini?" tanya Moonbin lagi.
Eunwoo terdiam sejenak, lalu memasukkan buku-bukunya ke dalam tas "Apa kau akan kerja part time habis ini?" tanyanya kemudian tanpa menatap Moonbin dan pemuda itu menggeleng.
"Tidak" jawabnya langsung.
"Kalau begitu temani aku." Ujar Eunwoo seraya berdiri "Aku tak ingin langsung pulang ke rumah."
"Hm."
Setelah mendengar persetujuan dari Moonbin, Eunwoo pun segera beranjak keluar dari kelas tanpa menunggu Moonbin. Pemuda berambut cokelat itu terlihat bingung dengan sikap dingin temannya itu, namun ia menurut dan mengikuti Eunwoo dari belakang.
.
"Kau marah ya?"
"…"
"Eunwoo-ya"
"…"
Moonbin menggaruk tengkuknya. Bingung. Selama perjalanan—entah-kemana, Eunwoo sama sekali tak bicara, kakinya melangkah lebar-lebar, dan ia tak menanggapi apapun yang dikatakan Moonbin. Ini sedikiit membuat pemuda yang lebih muda merasa kesal, dan ia pun menarik lengan kanan Eunwoo. Bermaksud untuk meminta Eunwoo untuk melihatnya, tapi Eunwoo meringis saat Moonbin menarik lengannya.
Sontak tubuh Moonbin membeku. Eunwoo sudah setengah berbalik ke arahnya dan mata keduanya bertemu. Mata Moonbin mengerjap, apa ia baru mendengar suara Eunwoo kesakitan? Tapi dari pada kesakitan, ekspresi pemuda tampan itu lebih terlihat seperti kaget.
"Lepaskan." Ucap Eunwoo kemudian dengan nada di buat datar. Dan Moonbin langsung melepaskan genggamannya "Oh…" gumamnya pelan dan Eunwoo kembali berbalik, berjalan meninggalkan Moonbin di belakang lagi.
Moonbin mengerucutkan bibirnya. Tak habis pikir dengan sikap Eunwoo yang seperti ini. Hampir seratus persen Moonbin yakin Eunwoo marah padanya. Mungkin karena perkataannya di halte bis kemarin.
Kalau memang soal itu, Moonbin tak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya akan berharap Eunwoo mengerti kenapa ia tak ingin orang lain mengetahui rencana bodohnya menjual organ kemarin.
Jadi, Moonbin kembali mengikuti Eunwoo dari belakang dengan tenang. Mungkin akan ada waktunya nanti Eunwoo mau bicara padanya lagi.
Beberapa saat mereka berjalan, Moonbin bisa menebak jika mereka akan pergi ke taman di pinggiran sungai Han. Ya, itu tempat yang bagus untuk menjernihkan pikiran—ucap Moonbin dalam hati sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia melirik punggung Eunwoo di depannya, mungkin di punggung yang tegap dan lebar itu, menyimpan banyak beban… ucapnya lagi dalam hati.
Hingga tiba-tiba, mata bak kucing Moonbin tertuju pada sesuatu. Lengan kanan Eunwoo. Sikut berkemeja putih itu tampak kotor, dan Moonbin bisa melihat goresan tipis berwarna merah. Matanya sontak menyipit, kemudian mendongak menatap Eunwoo lagi. Ini musim panas, kenapa Eunwoo menggunakan kemeja lengan panjang? Tanyanya dalam hati, makin curiga.
Tanpa menunggu lama, Moonbin pun menggenggam lengan Eunwoo lagi. Tapi kali ini lebih pelan dan hati-hati. Eunwoo kembali menoleh kaget dan Moonbin dengan cepat menyingkap lengan kemeja pemuda tampan itu sampai ke sikut.
Oh.
Moonbin menatap sikut dan wajah Eunwoo bergantian. Seolah meminta penjelasan atas luka lebam dan lecet yang baru ia lihat sekarang.
"Dimana kau mendapatkannya?" tanya Moonbin langsung. Tapi Eunwoo tak menjawab, wajahnya terlihat bingung. Makin membuat Moonbin menyipitkan matanya "Jangan bilang kau loncat lagi dari jendela kamarmu hanya untuk sekolah?" tebak Moonbin, langsung ke kemungkinan terburuk—ia tak yakin Eunwoo senekat itu untuk loncat dari lantai tiga dua kali berturut-turut.
Tapi jawaban yang ia dapatkan membuatnya menganga.
.
.
EM
.
.
Pemuda berambut cokelat itu menutup pintu minimarket dengan punggungnya. Kedua tangannya sudah penuh membawa dua gelas es kopi dan bungkusan snack, lalu mulutnya ia gunakan untuk membawa plester untuk luka lebam. Dengan gerakan terburu, Moonbin berjalan menuju kursi-kursi yang berada di depan mini market dan mendekati salah satunya, dimana ada Eunwoo di sana. Menatap gerak geriknya sambil menahan senyum.
"Haumahihbihatehenyum?" ucap Moonbin kesal masih dengan mulut yang mengigit plester. Ia menaruh dua gelas kopinya di meja dan mulai duduk.
Keduanya saling menatap satu sama lain dan terdiam beberapa saat hingga Moonbin bertanya "Sudah tak marah lagi?" tanyanya, karena tadi melihat Eunwoo yang tersenyum.
"Siapa bilang aku marah?" tanya Eunwoo balik.
"Cih." Decih Moonbin "Siapa yang dari tadi mengacuhkanku?" gumamnya kesal seraya menarik tangan kanan Eunwoo dan menyingkap lengan kemejanya. Kemudian ia fokus pada plester yang sulit di buka sambil bergumam kesal lagi.
Eunwoo tak bisa menahan senyumannya. Moonbin itu terlalu menggemaskan. Pemuda jenius itu bahkan tak habis pikir, Moonbin seolah tak bisa membiarkannya untuk mengacuhkannya. Lihat saja sekarang, rencana Eunwoo untuk 'bersikap marah' pada Moonbin telah hancur. Ia tak tahan untuk melihat setiap gerak-gerik Moonbin yang selalu menarik untuk diperhatikan.
"Apa aku mahluk kebun binatang? Jangan menatapku seperti itu." ujar Moonbin setelah ia berhasil membuka plesternya.
Eunwoo kembali tersenyum. Moonbin got the point, pikirnya.
"Apa selamanya kau akan keluar rumah lewat jendela?" tanya Moonbin kemudian. Ia telah selesai mengobati lengan Eunwoo dan beralih meminum es kopi buatannya. Kembali menatap Eunwoo dengan tatapan menuntut jawaban.
"Jika itu terjadi, hanya butuh tiga hari untuk membuatku mati karena pendarahan dalam." Ujar Eunwoo. Maksudnya bercanda, tapi ekspresi wajah Moonbin langsung berubah—sangat-tidak-bercanda. Eunwoo langsung menggeleng "Bercanda. Aku tak serius." Tambahnya.
Moonbin hanya tersenyum tipis setelah ia selesai menempelkan plester di lengan Eunwoo. Ia mendongak "Kau tak terluka di tempat lain?" tanyanya, dan Eunwoo menggeleng.
"Syukurlah…" gumam pemuda yang lebih muda pelan, ia pun meraih gelas kopinya dan menyesapnya.
Seperti déjà vu.
Eunwoo ingat pemandangan ini. Saat dimana jantungnya berdetak dengan sangat cepat untuk pertama kalinya…
Adalah saat Moonbin meminum kopinya, matanya terpejam menikmati minumannya, wajahnya terlihat tenang, bibirnya tersenyum tipis di balik gelas, dan angin musim panas yang berhembus memainkan poninya yang kini berwarna kecokelatan. Pemandangan ini tak asing bagi Eunwoo. Ia ingat napasnya tersentak singkat mengagumi Moonbin yang terlihat menawan.
Entah tampan, entah cantik. Moonbin memiliki kharismanya sendiri yang membuat Eunwoo tertarik. Dan pemuda itu masih memilikinya sampai sekarang.
"Kau ingat pertemuan pertama kita, Bin-ah?" tanya Eunwoo tiba-tiba.
Moonbin mengangguk "Aku juga baru memikirkannya barusan, kita bertemu saat kita menyelamatkan Sanha, lalu kita duduk di depan supermarket… kau mengobatiku dan aku membuatkanmu es kopi." Ujar pemuda itu "Rasanya seperti deja vu" tambahnya.
Ternyata tak hanya Eunwoo yang berpikir seperti itu "Lalu kenapa kau tak datang besoknya? Kau sendiri yang menentukan waktunya." Ujar pemuda yang lebih tinggi itu kemudian.
Tak langsung menjawab, Moonbin terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya membuka mulutnya "Apa aku pernah cerita… ayahku meninggal pada hari itu…" ujarnya "Jadi besoknya aku sibuk di tempat pemakaman." Tambahnya seraya menunjukkan senyuman sedih.
Eunwoo yang mendengarnya pun menatap tak percaya. Dalam hatinya, ia merutuk pada dirinya sendiri. bagaimana bisa ia berpikir buruk tentang Moonbin disaat pemuda itu berada di saat-saat berat? Pemuda itu sungguh berharap ia berada di sana, berada di samping Moonbin.
Kemudian keduanya terdiam untuk beberapa saat. Tak lama, karena Moonbin setelahnya menghela napas, tak suka dengan keheningan yang terjadi. Ia melirik Eunwoo yang terdiam dengan wajah bersalah "Tidak apa-apa." Ucap remaja bermarga Moon itu pelan, lalu ia mengalihkan pembicaraan,
"Kata Myungjun, ibumu menyuruhmu pindah ke Amerika dalam waktu dekat ini…" ujarnya "Beberapa hari ini juga Guru Kim tak pernah mengabsen namamu. Apa kau akan pergi?" tanyanya kemudian.
"Tidak."
"Tidak?"
"Kau ingin mendengar aku menjawab itu kan?" Eunwoo menyeringai menggoda, yang lagi-lagi tak lucu bagi Moonbin.
"Kau tak perlu repot-repot memikirkan apa yang kuinginkan. Ini masalah kau ingin, atau tidak." Ujar Moonbin akhirnya. Ekspresinya tetap serius.
Jawabannya tetap saja sama bagi Eunwoo "Tidak. Aku tak ingin pergi." Jawab pemuda yang lebih tua. Ia menatap Moonbin tepat di mata, dengan tatapan lembut yang seolah mampu membuat tubuh Moonbin merinding.
"Lalu apa yang harus kau lakukan?" tanya Moonbin lagi
"Entahlah…"
"Kemana otak jeniusmu itu kau gunakan? Apa kau tak bisa memikirkan hal yang lebih baik selain kabur lewat jendela?"
Eunwoo menaikkan satu alisnya "Kau baru saja menantang otak jeniusku?" ia balik bertanya. Wajahnya dibuat kesal, yang justru membuat Moonbin menahan senyuman.
"Kau tentu yang paling tahu apa hal terbaik yang harus kau lakukan…" ujar Moonbin kemudian "Karena kau yang paling mengenal ibumu sendiri." tambahnya.
.
Benar.
.
Remaja bermarga Cha itu hanya tersenyum.
Ia senang bahwa Moonbin cukup tahu kalau ia disebut jenius bukan karena apa-apa. Eunwoo memang punya sebuah rencana. Dan itu sudah setengah berjalan.
.
"Bin-ah."
Panggil Eunwoo, ditengah keterdiaman mereka sambil menikmati suasana di pinggiran sungai Han. Dan Moonbin hanya berdehem, lalu menoleh.
"Apa?"
"Aku harus pergi sekarang."
"Kemana?" tanya Moonbin. Remaja yang lebih mudah itu mengerutkan dahinya. Tapi Eunwoo hanya tersenyum, lalu menoleh ke belakang, seperti menyuruh Moonbin untuk ikut melihat ke belakang.
Di jalanan belakang mereka, ada mobil hitam yang berhenti. Kaca di kursi belakangnya terbuka setengah memperlihatkan seorang wanita berkacamata hitam sedang menatap mereka berdua.
Moonbin sontak bergidik, seolah dibalik kacamata hitam itu ada tatapan tajam yang menatapnya. Ia berbisik "Itu ibumu?" tebaknya. Dan Eunwoo kembali tersenyum dan mengangguk. Terhibur dengan ekspresi gugup Moonbin.
"Ternyata dia datang lebih cepat dari yang kurencanakan." Bisik Eunwoo dekat dengan telinga Moonbin. Dekat sekali, hingga membuat Moonbin menahan napasnya.
Antara gugup dan tak percaya "Kau merencanakannya?" tanyanya dan Eunwoo kembali terkekeh. Sok misterius.
"Aku pergi dulu, ya." Ucap Eunwoo kemudian, seraya bergegas berdiri dan mengambil tasnya.
Moonbin yang melihat itu hanya bisa menatap sendu remaja itu. entah kenapa dadanya terasa sesak saat melihat Eunwoo bergegas pergi. Oleh karena itu ia bertanya,
"Pergi untuk selamanya?" tanyanya pelan. Penuh harap.
Senyuman lagi "Kuharap tidak." Eunwoo mengacak rambut Moonbin sebentar "Doakan aku, Bin-ah… kupikir setelah ini aku akan berperang, dan melakukan negosiasi sangat panjang dengan ibuku." Ucapnya sebelum akhirnya benar-benar beranjak dan berjalan menuju mobil hitam ibunya yang sudah menunggu.
.
.
Saat itu angin musim panas berhembus. Seperti ingin membuat kepergian Eunwoo itu terlihat heroik—dan seperti mencoba menyentuh hati Moonbin lebih dalam.
Melihat punggung Eunwoo yang semakin menjauh entah kenapa sebagai isyarat,
Ini hanya firasat, tapi Moonbin rasa ia akan ditinggalkan teman baiknya…
.
.
EM
.
.
"Kim Myungjun."
.
"Hadir!"
.
"Ch… ah, Moonbin."
.
"Hadir…"
.
.
Dan firasat Moonbin memang benar. Eunwoo tak hadir lagi sejak hari itu. namanya masih tertulis di buku absen, tapi wali kelasnya tak pernah menyebut nama itu. Seperti seorang Cha Eunwoo sudah menghilang di telan bumi.
Moonbin sedih, namun ia tak bisa melakukan apa-apa. Begitu pula Myungjun, yang sama-sama buntu. Usaha mereka satu-satunya adalah mendatangi rumah Eunwoo, yang hasilnya tak ada orang dirumah. Makin menguatkan bahwa Eunwoo telah dibawa pergi oleh ibunya di negeri dengan perkembangan ilmu yan maju.
.
Apa berarti Eunwoo kalah peperangan?
.
Mungkin… iya atau tidak.
.
.
Satu bulan berlalu,
Dua,
Empat,
Enam…
.
Sampai di hari kelulusan. Eunwoo tetap tidak kembali.
.
.
"Bin-ah! Apa yang kau lakukan diatas? Ayo turun. acara puncak sudah mau dimulai!"
Moonbin menghela napasnya "Aku disini saja. Malas." Jawabnya di sambungan telepon.
"Dasar introvert!"
"Terserah. Nikmati saja acaranya. Aku akan turun nanti-nanti." Ujarnya, sebelum memutus sambungan teleponnya dengan Myungjun.
Ngomong-ngomong, malam ini adalah malam kelulusan mereka. Jika paginya adalah penerimaan surat kelulusan bersama orangtua, malamnya semua angkatan yang lulus menggelar acara di sekolah. Ada api unggun, makanan, musik, dannanti akan ada kembang api.
Seperti yang Myungjun bilang tadi, Moonbin itu introvert, walau tidak dalam sebenar-benarnya arti. Ia tak separah itu hingga benci keramaian dan tak suka berkumpul bersama teman-temannya. Tapi malam ini, entah kenapa Moonbin hanya ingin sendirian di atap sekolah yang sepi. Seperti biasa, ia punya banyak hal yang perlu di pikirkan.
Contohnya,
Ia sekarang sudah lulus, apa yang harus ia lakukan?
Apa ia bekerja saja atau kuliah?
Adiknya semakin jarang pulang karena mempersiapkan debut.
Kesehatan ibunya belum membaik.
Apa cara mengumpulkan uang lebih banyak setelah ini dan,
.
Apa kabar Eunwoo?
Moonbin menemukan namanya di papan pengumuman kelulusan. Eunwoo telah melakukan ujian akhir tanpa seorangpun tahu dan dimana ia mengerjakannya. Jadi secara tak langsung ia dan Eunwoo lulus bersama dan memiliki ijazah yang sama.
Tapi kenapa tidak ke sini?
Moonbin merindukannya setengah mati.
Padahal musim telah berganti. Dari musim panas, kini musim semi sudah dipenghujung dan Moonbin bisa merasakan angin musim gugur yang sejuk menyapa dirinya.
Moonbin merindukan Eunwoo.
Ia padahal ingin bilang, selama ini ia hidup dengan sangat baik. Sibuk. Tapi sangat baik. Moonbin mewanti-wanti dirinya untuk tidak melakukan hal-hal aneh pada dirinya sendiri, takut jika Eunwoo tiba-tiba datang dan ia terlihat kacau seperti sebelum-sebelumnya.
Moonbin juga lebih banyak tersenyum sekarang. Terima kasih karena Myungjun selalu di dekatnya, dan ia ingin belajar memiliki senyuman yang indah. Jadi ketika Eunwoo datang tiba-tiba, yang bisa dilihat remaja itu hanya senyuman Moonbin.
Oh, Moonbin sangat… sangat merindukan Eunwoo.
Tanpa terasa Moonbin menarik napasnya dengan hidung. Hidungnya berair dan mulai memerah begitu pula pipinya. Entah karena kedinginan atau karena ia mulai terbawa suasana dan dilanda kesedihan lagi.
Satu detik kemudian, acara puncak dimulai. Kembang api pun mulai menghiasi langit yang gelap. Moonbin hanya memperhatikannya dalam diam. Tidak terlihat begitu terkesan—dia memang bukan tipe yang bisa menikmati keindahan, dan pikirannya masih melayang kemana-mana.
Hingga tiba-tiba bahunya disentuh seseorang. Moonbin langsung menoleh.
.
.
Moonbin hanya berharap ia sedang tidak berhalusinasi, atau seseorang yang kini berada di sampingnya adalah hantu gentayangan sekolah. Tapi ini benar-benar Eunwoo. Berdiri di sebelahnya, sama-sama bersandar di pagar pembatas atap sekolah dan menatap keatas. Menikmati pemandangan kembang api, yang sedangkan Moonbin sudah tak peduli dengan itu. ia hanya menatap Eunwoo dari samping.
Lalu bergumam lagi dengan suara pelan,
Aku merindukanmu…
.
.
Sedangkan Eunwoo—sebenar-benarnya-Cha-Eunwoo, menoleh, memandang Moonbin dengan tatapan yang lembut dan hangat. Lalu ia tersenyum sekilas, sebelum akhirnya memeluk Moonbin dengan erat. Kepalanya ia sandarkan di bahu sang sahabat dengan sangat nyaman.
"Aku sangat merindukanmu, bodoh."
Itu yang dikatakan Eunwoo. Biasanya Moonbin akan protes. Dasar sombong, seluruh dunia mungkin tahu Eunwoo itu lebih pintar dari Moonbin, tapi siswa yang diujian akhirnya meraih peringkat dua belas di seluruh angkatan itu tak sudi disebut bodoh. Ia sudah belajar mati-matian untuk ujian ini, Eunwoo harus tahu soal ini.
"… Jangan sebut aku bodoh…" keluh Moonbin pelan "Apa kau sudah melihat peringkatku? Dalam satu tahun aku bisa mengejarmu dari jarak peringkat seratus lima puluh menjadi dua belas. Tunggu satu tahun lagi, aku akan lebih pintar darimu…" omelnya.
Moonbin sebenarnya tidak benar-benar kesal, atau merasa perlu membanggakan peringkat ujiannya. Ini hanya karena ia terlalu kaget. Eunwoo baru saja menghilang dari peredaran dunia selama berbulan-bulan, tanpa kabar, dan kini ia muncul tiba-tiba seperti tak terjadi sesuatu. Moonbin agak canggung, apalagi saat pelukan mereka merenggang dan Eunwoo kembali menatap Moonbin dengan tatapan tepat dimata. Membuatnya salting.
"Lalu kenapa kau baru muncul sekarang? Harusnya memberi kabar! Kau tahu, aku dan Myungjun bahkan pernah membuat sebuah pesta peringat kepergianmu. Berpikir kau mungkin sebenarnya sudah meninggal." Ujar Moonbin kembali, berusaha menutupi rasa gugupnya atas pandangan Eunwoo "Tapi kau masih hidup, eoh? Kau bahkan masih bisa mempertahankan peringkat pertama walaupun tidak belajar di sekolah lagi. Hebat.."
"Bin-ah, jangan menangis…" itu kata kedua yang diucapkan Eunwoo.
"Aku tidak menangis" sanggahnya cepat sambil mengusap matanya dengan tangan. Benar, ia belum menangis. hanya nyaris berkaca-kaca. Tidak tahu kenapa tiba-tiba merasa emosional.
Sedangkan Eunwoo, sialnya masih terlihat tenang. Membuat Moonbin merasa tak adil. Apa perasaan rindu Eunwoo memang tak sedalam yang dirasakan Moonbin? Pemuda bermarga Moon itu seperti sudah gila, ia terus merapalkan bahwa ini bukan mimpi, sedangkan Eunwoo masih diam. Tersenyum. Menatapnya. Dan tak melepaskan tangannya dari pinggang Moonbin.
"Bagaimana kabarmu?" kata ketiga dari Eunwoo.
Moonbin mendecih agak kesal "Kau harus menjelaskan tentang dirimu dulu baru bertanya." Jawabnya seraya mundur, melepaskan dirinya dari Eunwoo dan berkacak pinggang.
Eunwoo terkekeh "Aku baik." Ucapnya kemudian. Ekspresinya kini tak seserius tadi, dimana Moonbin merindukan pula kekehan Eunwoo yang polos seperti orang bodoh.
"Terus?"
"Beberapa bulan ini aku pergi ke Amerika, Moonbin. Mengurus beberapa hal yang diperlukan untuk pendidikanku selanjutnya." Jawab Eunwoo "Lalu seharusnya aku bisa mengikuti ujian di sekolah, tapi ada beberapa masalah jadi aku mengetjakannya di Amerika dan baru bisa pulang sekarang. Itu semua ibu yang mengurusnya." Jelasnya kemudian.
Pemuda dengan panggilan jenius itu kemudian berjalan mendekati pagar pembatas atas, menyandar di sana lalu menatap Moonbin lagi yang kini dahinya bekerut "Begitu saja. lalu bagaimana denganmu?" tanyanya.
"Lalu kau baik-baik saja?" tanya Moonbin lagi. Wajahnya kentara dengan kekhawatiran.
Apa ini artinya Eunwoo kalah dari ibunya dan mengikuti semua keinginan beliau? Terakhir kali saat mereka bertemu Eunwoo mengatakan ia akan beperang dengan ibunya. Jadi itu semua berakhir gagal? Apa artinya Eunwoo kembali melakukan sesuatu yang tak ia sukai? Lagi?
Eunwoo tersenyum lemah "Aku sudah bilang kalau kabarku baik-baik saja. semuanya baik, kecuali tidak bertemu denganmu dalam waktu lama. Cuma itu yang membuatku sakit." Jawabnya lagi dengan sabar. Berharap dengan itu Moonbin akan percaya dan menghilang raut khawatir yang tak Eunwoo sukai itu.
Melihat itu, Moonbin pun mendekati kearah Eunwoo, hingga keduanya kini berdiri bersampingan. Sama-sama menyandar di pagar pembatas, melihat pemandangan dari atas dengan tatapan menerawang.
"Apa kau kalah peperangan?" tanya Moonbin kemudian, memecahkan keheningan singkat yang sempat terjadi.
Terkekeh, Eunwoo mengangguk "Iya, tapi tidak juga…" ucapnya ambigu, membuat Moonbin menatapnya bingung. seolah butuh penjelasan sejelas-jelasnya. Eunwoo tentu saja mengerti, jadi ia menghela napas sebelum menjelaskan panjang lebar lagi.
"Kau pasti mengerti, aku muak dengan sikap ibuku yang memaksa. Tapi dia tak sepenuhnya salah, aku sedikit mengerti kenapa ia bersikap seperti itu" karena Eunwoo dan Nyonya Cha hanya memiliki satu sama lain. Hampir mirip dengan Moonbin "Dia hanya takut aku tak bisa hidup dengan nyaman di masa depan nanti." Tambahnya sambil tersenyum "Jadi aku hanya menjelaskan bahwa ada banyak cara untukku bisa hidup nyaman di masa depan, tanpa menjadi ilmuan seperti yang ibuku inginkan. Kau pasti tahu, aku sama sekali tak punya hasrat jika bergelut dengan cairan kimia dan senyawa-senyawa…"
Moonbin mengangguk. Ia mengerti, walau rasanya menyebalkan. Bahkan pada hal yang tak ia sukai pun, Eunwoo tetap jenius di bidang itu "Lalu?" tanyanya, ingin Eunwoo melanjutkan ceritanya.
"Lalu… aku bilang pada ibuku, aku sudah punya rencana lain, yang mana tetap akan membuatku hidup nyaman di masa depan?"
"Apa?"
"Menjadi seorang pengacara…"
Ketika Eunwoo mengatakan itu, wajahnya terlihat sangat percaya diri—sangat khas seorang Cha Eunwoo. Matanya berkilat, yang Moonbin pikir, mungkin ini yang disebut dengan 'hasrat'. Pemuda itu terlihat sangat yakin dengan pilihannya. Yang membuat Moonbin menjadi bengong "Tiba-tiba…?" tanyanya. Masih bingung dan kaget, karena Eunwoo bahkan tak pernah membahas ini sebelumnya.
Pemuda tampan itu kembali tertawa karena melihat ekspresi Moonbin "Iya! Aku ingin menjadi seorang pengacara, yang sangat handal dan terkenal di dunia." Jawabnya lagi dengan sangat percaya diri.
"Kenapa bisa?"
"Hanya…" gumamnya "Setelah pertemuan terakhir kita, aku kembali dikurung ibu. Karena bosan aku menontoni drama misteri seharian. Dan saat itu kupikir menjadi pengacara akan menjadi sangat menyenangkan. Sebenarnya polisi juga keren, tapi aku tak begitu terbiasa dengan hal-hal kasar, hehe" Eunwoo kembali terkekeh geli.
Sedangkan Moonbin, ia menghela napas panjang, suara tawa Eunwoo membuatnya senang, tapi ia mengeluh "Ya… Bagaimana bisa kau memilih semudah itu? masa depan adalah sesuatu yang harus dipikirkan matang-matang." Tanyanya lemah. Tak habis pikir dengan pikiran sang teman seumuran.
"Aku sudah memikirkanya, bin-ah. Aku ingin bisa membela seseorang, menyelamatkannya dari kejahatan. Aku ingin menjadi pahlawan dengan caraku sendiri" jawab Eunwoo. Binar matanya masih sama dan rasanya sangat jarang melihat Eunwoo sesemangat ini.
"…"
Tapi ada sesuatu yang mengusik Moonbin hingga ia tak mengatakan apapun lagi setelahnya. Pahlawan, ya? Kata itu sangat tak asing. Moonbin ingat dulu ia dan ayahnya sering menyebut kata-kata ini. Moonbin teringat dengan cita-citanya yang ingin menjadi pahlawan kebenaran.
Tapi kenapa Eunwoo?
Apa ini ledekan? Tapi Moonbin tidak merasa marah. Justru hatinya hangat dan tergelitik. Ia tak benar-benar tahu bagaimana harus menanggapi Eunwoo lagi. Pemuda jenius itu terlalu sulit. Sulit untuk dimengerti—bahkan Moonbin tak mengerti akan dirinya sendiri.
Selama ini ia terlalu sibuk mencari uang, terlalu sibuk belajar, hingga ia melupakan semua tentang pekerjaan masa depan, cita-cita, dan hal semacam itu. kalian tahu, sampai sekarang Moonbin bahkan belum menentukan jalan selanjutnya setelah lulus.
Eunwoo seperti memberikan sebuah petunjuk. Tapi tidak jelas. Moonbin jadi benar-benar bingung dengan rasa apa yang ia rasakan sekarang…
.
"Kalau kau, apa yang kau lakukan setelah ini?"
Pertanyaan Eunwoo kemudian memecah lamunan Moonbin, dan karena masih sibuk dengan pikirannya yang absurd, pemuda itu menjawab singkat "Masih belum tahu" ucapnya.
Lalu Eunwoo meletakkan telapak tangannya di kepala Moonbin "Jangan memaksakan diri. Kau akan selalu keren menjadi apapun kau." Pemuda Cha ini mungkin terlalu jenius, melebihi peramal pembaca pikiran.
"Kau bicara seolah tahu apa yang kupikirkan…" ucap Moonbin seraya memasang senyuman aneh.
"Tak butuh waktu lebih dari dua tahun untukku mempelajari semua tentang Moon Bin…" jawab Eunwoo santai.
"Cih."
"Yang penting hidup dengan benar, jangan aneh-aneh. Bertahan, dan tunggu aku kembali. Setelah itu kau tak perlu melakukan apa-apa lagi. Bergantung padaku saja…"
Selama tadi, baru ini Eunwoo menatapnya serius. Senyum mengejek Moonbin tadi pun memudar dan sedetik setelah ucapan Eunwoo selesai, angin malam berhembus. Rasanya sangat sejuk, tidak seperti angin musim panas yang biasa menemani mereka. Well, ini musim gugur—dan bukan itu masalahnya.
.
Masalah ada pada jantung Moonbin yang berdebar lebih cepat dari normalnya.
.
"… Terdengar seperti ajakan menikah…" gumam Moonbin pelan, yang kemudian tawanya pecah. Terdengar renyah, tapi ia hanya ingin menutupi rasa gugupnya lagi.
Eunwoo yang melihatnya jadi ikut tertawa. Padahal memang benar, pikirnya dalam hati. Tapi memilih mengikuti alur suasana yang Moonbin buat, Ia tertawa dan membiarkan pertemuan mereka yang Eunwoo inginkan 'romantis' itu menjadi seperti reuni teman lama yang akrab.
Tapi itu bukan masalah. Tak apa. Selama ada Moonbin, itu sudah cukup membuatnya senang.
.
"Lalu, apa kau sudah diterima di universitas yang kau inginkan?"
Topik kemudian berganti.
Eunwoo mengangguk sebagai jawaban "Yap. Di universitas Yale, Amerika." jawabnya sambil memeletkan lidah.
Moonbin bengong lagi. Ia tak tahu Universitas Yale itu seperti apa, tapi terdengar keren. Di Amerika lagi. Tapi ekspresi yang dikeluarkan pemuda Moon itu selanjutnya hanya mendesah "Dasar sombong" ucapnya. Walau dalam hati ia bersorak, ikut senang.
"Kurasa kali ini aku boleh sombong. Aku belajar sama kerasnya denganmu saat ujian masuk." Ujarnya "Bedanya, kau mempelajari pelajaran yang sudah kukuasai enam bulan lalu, sedangkan aku mempelajari ilmu baru. Jadi aku ini sudah selangkah lebih dewasa darimu, Bin~"
"Tuh kan, sombong lagi." ujar Moonbin dengan nada dibuat kesal. Ia menyikut lengan Eunwoo. Tentu saja, Cha Eunwoo. Kau keren sekali, Moonbin menahan senyum bangganya.
Pemuda Moon itu jadi berpikir, bagaimana ia bisa mendapatkan orang sehebat Eunwoo sebagai temannya. Padahal Moonbin itu bukan apa-apa. Hanya serpihan debu, tapi Eunwoo memperlakukannya sangat berharga, padahal yang sangat berharga itu Eunwoo. Hubungan mereka harusnya terbalik, tapi malah berakhir seperti ini.
Moonbin si serpihan debu, malah mulai merasa tak ingin di tinggal si anak berharga—Cha Eunwoo. Dia memang egois. Tapi ia mulai sedih.
.
"Berarti kau ke sini hanya untuk mengucapkan salam perpisahan… ya?" tanya Moonbin pelan.
Eunwoo mengangguk.
Moonbin menelan ludahnya susah payah.
"Hm… baiklah." Ucapnya, Moonbin mencoba tersenyum "Apa kita akhiri di sini saja? sudah terlalu malam…" tambahnya.
Pemuda itu pun mengangkat tangannya, ia menepuk-nepuk bahu Eunwoo yang lebar "Kalau begitu, Semoga beruntung dengan pendidikanmu, Cha Eunwoo!" ujarnya menyemangati.
Moonbin kali ini tak berani melihat mata Eunwoo, karena takut ia malah menangis. perpisahan memang selalu menyakitkan. Ia bahkan tak tahu kalau tatapan Eunwoo padanya kini telah berubah. pemuda bermarga Cha itu menatapnya serius, dan dengan gerakan tiba-tiba menggerakkan kepalanya. Menyentuh bibir Moonbin dengan miliknya.
Sentuhan itu cepat dan pelan. Seperti nyaris tersentuh, tapi itu cukup untuk membuat Moonbin menatapnya kaget. Super kaget. Bahkan hingga wajahnya memerah sempurna. Sedangkan Eunwoo masih menatapnya serius dan tenang.
.
Kedua.
.
Eunwoo menyentuhkan bibirnya lagi pada Moonbin. Kali ini ia lebih berani. Pelan, ia menyentuh rahang ke pipi Moonbin dengan telapak tangannya. Menghantarkan keduanya pada sebuah sentuhan yang pelan, dalam, dan penuh emosi. Eunwoo yang memimpin, sedangkan tangan Moonbin yang berada di bahu Eunwoo tadi sudah turun ke dada orang yang sama. Merasakan detak jantung pemuda Cha yang segila dirinya.
Keduanya seperti itu, untuk beberapa menit kemudian…
.
.
"Apa arti hal ini?" tanya Moonbin.
"Hal apa?" Eunwoo menatapnya agak bingung.
Moonbin menyentuh bibirnya sendiri. Wajahnya kembali merah "Ciuman…" ujarnya pelan.
.
"Aku hanya melakukannya karena aku memang ingin. Sejak lama. Bagaimana denganmu?"
.
"alasan yang sama…"
.
"Lalu?"
.
"Saat kita bertemu lagi, ayo lakukan jika kita memang menginginkannya. "
.
.
Moonbin hanya mengangguk pada akhirnya. Matanya menatap Eunwoo lekat-lekat, berharap ia tak akan melupakan wajah ini. wajah pahlawan yang menyelamatkannya dari hidup mengerikannya.
.
Semoga ia masih bisa bertemu dengan Eunwoo.
.
.
Bersambung
This is Bisory as always ^^
saya telat lagi, iya. chapter ini panjang banget, iya juga. Selamat bagi readernim yang sudah selesai membaca chapter 6k words ini hehehe. Semoga chapter ini cukup memuaskan, atau tidak? hehe, let me know what do u think guys~ saya nggak tahu mau bicara apa lagi yang jelas di chapter ini binwoo first kiss wkwkwk, dan cerita masih belum selesaii~ silahkan nantikan chapter terakhirnya ^^
lalu tak lupa saya ucapkan terima kasih untuk readersnim yang sudah membaca cerita ini, dari awal atau yang baru nemu,, terima kasih untuk fav dan foll nya, terima kasih pula yang sudah menyempatkan review, dan untuk my honourable silent riders, let's meet in review box sometimes~
