Because You're Mine
Pair : NaruHina
Genre : Romance/Drama
Rated : T (ajah)
#Selamat Membaca#
Hallo minna-san, maafin Sophia yah update nya lama, Sophia dah mentok nih sama fic yang satu ini, bentar lagi udah mau Sophia tamatin, tinggal beberapa chapter lagi. Tapi tenang ajah, Sophia masih punya fic yang lain kok yang gak kalah seru sama yang satu ini, and di jamin ceritanya makin bikin. . . bikin apa yah . . . tebak ajah sendiri^^
Oh yah, untuk fic yang baru kemarin Sophia tongolin itu salah satunya, dan masih ada berapa lagi yaaaaaaaaaaaah .. . . . . pokonya ada deh, yang paling terpenting, kalian pantengin ajah yah fic Sophia yang terbaru, di jamin seru^^ dan jangan lupa kasih saran dan kritik membangunnya.
########################
Chapter 6
"ini sudah sangat keterlaluan Sakura, dia benar-benar wanita tidak tahu diri!"
Hinata mengungkapkan kekesalanannya pada Sakura, dia juga ingin membuat rencana dengan bantuan Sakura, "kau tidak perlu khawatir Hinata. Sudah ku duga dari awal, dia memang wanita tidak benar. Aku akan membantu mu, kau punya rencana apa?" Hinata memberitahu Sakura rencana yang sudah ia siapkan, "aku yakin dia akan mengajak Naruto ke festival kembang api malam ini, aku tidak akan membiarkan Naruto datang sendiri!"
"baiklah, aku akan mendukung mu sepenuhnya. Cepat ajak dia, sebelm wanita itu duluan yang mengajaknya!"
"tidak Sakura, aku rasa dia sudah mengajak Naruto duluan."
"lalu kenapa kau masih santai disini, bagaimana caranya menghentikannya?"
"tenang saja, Naruto tidak akan pernah menolak ku!"
"yah, aku rasa itu benar!"
Hinata sudah tahu apa yang harus dia lakukan untuk menghentikan wanita itu. Dia akan datang bersama Naruto, dan Sara pasti akan terkejut, "sayang, kau di mana?" Hinata masuk ke apartement Naruto dengan membawa belanjaan untuk akhir bulan, dia tahu kalau Naruto tidak pernah sekali pun pergi berbelanja kalau bukan Hinata yang melakukannya, "dia di kamar mandi. Bagus, aku harus menemukan ponselnya!" Hinata memeriksa ponsel Naruto, dan sesuai dugaannya Sara mengirimkan pesan, "aku akan menunggu mu di!" teriak Hinata di tepi pantai!"
"keterlaluan!" gumam Hinata, "sayang kau sudah selesai mandi?" teriak Hinata
"sayang, kau disitu, sudah berapa lama kau datang?" teriak Naruto dari kamar mandi, "aku baru saja datang!" Hinata membalas pesan Sara, "maafkan aku Sara, aku tidak bisa datang, ada urusan penting yang tidak bisa aku tinggalkan!"
"apa yang kau lakukan sayang?"
Hinata dengan cepat menghapus pesan itu, ia membalika badan, "aku diberitahu Sakura kalau malam ini ada festival kembang api, apa kau mau datang bersama ku?"
Naruto menatap Hinata, dia juga mendapat ajakan dari Sara, seseorang yang dia kenal beberapa hari yang lalu, "aku mendapat ajakan juga dari seorang wanita!" kata Naruto. itu bagus, Naruto tidak berbohong, dia jujur dengan Hinata, "maksud mu pesan ini?" Hinata memperlihatkan pesan itu.
"iyah benar!"
"tapi kau tidak akan datang kan jika aku memintanya!"
Naruto menyentuh pipinya, "aku tidak akan datang!" kata Naruto. Hinata bernapas lega, Naruto tidak akan melakukannya, dia yakin dan dia percaya bahwa Naruto akan selalu menuruti permintaannya, "kalau begitu datanglah bersama ku, kau mau kan?"
"sayang kau tidak perlu bertanya, kita akan kesana!" Naruto menghampiri lemari dan memakai kemejanya, "bagaimana kalau kau kita bertemu dengan wanita itu, apa yang akan kau katakan?" tanya Hinata. Naruto membalikan badan dan menatap Hinata, "entahlah, kau punya saran sayang?"
Hinata mendekat dan mengancingkan kemeja Naruto, "sebenarnya, aku mengenal wanita ini!" kata Hinata dengan santai, tapi Naruto terkejut, "aku mengenalnya setelah dirimu, dia adalah wanita yang membuat ku kesal selama dua hari, aku sudah cerita sebelumnya bukan?" Hinata selesai mengancingkan kemeja Naruto, dia beralih menatap wajah Naruto yang terlihat bingung.
"sayang, apa kau menaruh dendam pada Sara?"
Hinata tersenyum, "bukan dendam, hanya saja aku tidak suka kau bergaul dengan wanita itu!"
"dia terlihat baik. . ."
"yah aku tahu, dia memang terlihat baik. Ooh yah, katakan padanya kau mengantar ku ke dokter dan aku ingin melihat kembang api, jika kita bertemu dengannya!"
Naruto terkekeh, "bagaimana mungkin sayang, aku tidak bisa membohonginya. . ."
"tapi aku sudah mengirimkan pesan padanya, bahwa kau tidak bisa datang!"
"kenapa kau melakukannya sayang, jangan-jangan . . ." Hinata menelan dengan susah, "kau cemburu yah?" Hinata bernapas lega, Hinata mengira bahwa Naruto akan marah, meskipun begitu sepertinya Naruto tidak bisa marah padanya, apakah benar seperti itu? Tanya Hinata dalam hatinya.
"sayang, apakah kau akan marah jika aku melakukan sesuatu yang salah?"
"tergantung dari kesalahan yang kau buat sayang, jika memang masih bisa dimaafkan aku tidak akan pernah memarahi mu!" Naruto mencium kening Hinata, "aku cemburu, aku sangat cemburu!" gumam Hinata. Naruto tersenyum senang, dia mengangkat dagu Hinata dan mencium bibirnya singkat, "sayang, kita akan segera menikah, tidak akan terjadi apapun, mengerti?" Hinata mengangguk pelan, "sekarang masaklah sesuatu, aku sangat lapar!"
Siang itu mereka menikmati makan dengan damai, kemudian mnjelang malam Hinata sudah siap untuk pergi bersama Naruto ke festival kembang api, Sasuke dan Sakura sudah menunggu mereka disana, "kau sudah putuskan kemana kita akan berbulan madu?" tanya Hinata. Naruto bergeming, kenapa tiba-tiba Hinata menanyakan hal itu, dia tidak perlu tahu kemana mereka akan berbulan madu, karena Naruto sudah menyiapkan kejutan untuknya, "kau tenang saja sayang, semuanya sudah beres!"
"kalau begitu beritahu aku kemana kita akan berbulan madu!"
"kau tidak perlu tahu mengenai hal itu!"
"kenapa?"
"karena ini kejutan!"
Hinata terlihat senang, dia berharap pergi jauh setelah menikah agar dia dan Naruto tidak bertemu dengan wanita itu. Saat mereka sampai di tempat festival mereka bertemu dengan Sakura dan Sasuke, mereka berjalan-jalan mengelilingi beberapa stand yang menjual berbagai macam barang, ada makanan dan barang-barang lainnya, "kurasa aku haus!" gumam Hinata. "kau haus sayang, aku akan membeli minum. Sasuke, kau juga ikut?"
"baiklah, Sakura kau dan Hinata duduklah disana!"
"baik!" Sakura menatap Hinata tajam, "katakan padaku bagaimana mungkin kau bisa mengajak Naruto dan membatalkan rencana Sara membawanya kemari?"
"entahlah Sakura, kau lebih mengenal Naruto dari pada aku. Apa kau tidak tahu, Naruto akan melakukan apa saja untukku Sakura, dia sangat mencintaiku!"
"aku juga tak menyangka Hinata, dia hanya seorang pria yang acuh, tapi sejak bertemu dengan mu dia berubah dari pria yang peduli dan hangat, kau sangat . . ."
"ada apa Sakura?"
"Kiba? Kaukah itu?" Sakura berdiri saat Kiba mendekat, "hey, apa yang kau lakukan disini?"
"Sakura, Hinata, kalian ada disini? Aku kesini bersama Akamaru!"
Hinata menyapa Kiba, mereka duduk di bangku itu dan mengobrol ria. Sementara itu Naruto dan Sasuke sudah kembali dari membeli minuman, mereka bertemu Sara, dia terkejut karena melihat Naruto, "kau bilang kau tidak datang, aku mendapat pesan mu!"
Hinata? Pikiran pertamanya tertuju pada Hinata, dia tertawa dalam hati, "uuumm . . Sara, aku memang ada urusan penting, tapi itu sudah selesai!"
"urusan apa?"
"dengar woman, ini bukan urusan mu, ini urusan pribadinya!" sahut Sasuke, dia juga sedikit kesal dengan Sara.
"baiklah, apa kau datang bersama dia!" tunjukanya pada Sasuke.
"sebenarnya kami datang berempat, kau mau bergabung?"
Tak punya pilihan, Sara mengikuti Naruto, saat mereka sampai di tempat semula. Mereka berdua terkejut dengan kehadira Kiba, mereka berpelukan saling melepas rindu. Lalu Kiba bertanya siapa wanita itu. Hinata dan Sakura juga melihatnya, Sara.
"dia teman ku, namanya Sara!"
"hello Sara. Apa kau juga akan datang ke pernikahan Naruto dan Hinata, aku sengaja pulang dari luar negeri untuk menghadiri pernikahan mereka, aku berbahagia untuk kalian berdua kawan!" kata Kiba sambil melirik ke arah Hinata yang tersenyum dengan kemenangan, "aku tidak tahu, aku belum menerima undangan!" kata Sara
"kau tenang saja Sara, Naruto dan Hinata pasti akan mengundang mu!"
"sayang, ini minuman untukmu, kau haus kan?" kata Naruto lalu menghampiri Hinata, "aku memang haus dari tadi, sayang ayo kita ke tepi pantai, disana pasti banyak orang yang melihat kembang api!" kata Hinata sambil menarik tangan Naruto. sakura, Sasuke dan Kiba melihat mereka berdua yang menjauh terlebih dahulu, mereka tersenyum dan melihat Sara yang terdiam, "ayo Sara!" ajak Kiba. Sepertinya Hinata sudah memberitahu Kiba mengenai Sara, dia tadi memanas-manasinya dan itu berhasil. Ketika sampai di pantai mereka semua menatap langit yang kini sudah ramai dengan ribuan kembang api, "kau kedinginan. Ayo pakai ini!" Naruto memakaikan jaktenya pada Hinata, dan Sara memperhatikan mereka, dia sangat marah, "sial, dia benar-benar melawan ku!" batin Sara
Saat semua sudah berakhir mereka bergegas pulang, pertama Kiba, lalu Sakura dan Sasuke, tapi Hinata masih ingin berada di tepi pantai, "sayang, belikan aku teh, pelase!"
"tunggu disini yah?"
Hinata mengangguk, saat Naruto pergi, Sara pun datang. "kau hebat, kalian semua hebat, memans-manasi ku, cukup untuk membuatku marah. Tapi aku tidak akan meyerah Hinata, sebelum kalian menikah, aku akan menghentikannya!" Hinata terhuyung, pertahanannya goyah, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghentikan Sara. "kau tahu, selama aku hidup aku belum pernah sekali pun jatuh cinta, aku baru menyadarinya kemarin setelah melihat Naruto, aku bertanya-tanya apakah memikirkannya setiap hari adalah cinta, apakah debaran jatung saat mendengar dan memanggil namanya adalah cinta, aku bertanya, dan semuanya terjawab, bahwa memang itu adalah cinta, aku jatuh cinta pada Naruto. . ."
"tapi dia tidak mencintai mu!" bentak Hinata.
"aku akan berusaha membuatnya jatuh cinta padaku!"
"kau tidak akan bisa, kami saling mencintai, aku . . . aku mengandung anaknya!"
Sara terkejut, "bohong, kau pasti berbohong, aku tidak percaya itu, kau berbohong, kau . . "
"ada apa ini?" Naruto datang dan langsung menghampiri Hinata yang sekali lagi terhuyung, itu adalah sandiwaranya, "Naruto katakan padanya kalau kau adalah milikku, katakan padanya!"
"apa yang terjadi sayang, ada apa ini, jelaskan padaku!"
"dia menyukai mu Naruto, aku sudah bilang padanya bahwa kau hanya mencintaiku, katakan padanya!"
"Sara, apa maksud semua ini?"
"Naruto, kau tahu saat pertama kali melihat mu, aku mulai menyukai mu, dan sepertinya aku jatuh cinta pada mu saat ini, dia bilang dia mengandung anak mu, apa itu benar?"
Naruto sangat terkejut, ia melihat Hinata yang menunduk dan tak mau melihatnya, Naruto mengerti betul kenapa Hinata melakukan ini, dia takut kehilangan dirinya dan berpaling, tapi Naruto tahu betul bahwa tidak akan ada satu orang pun yang akan memisahkan mereka, dia hanya milik Hinata dan hanya Hinata hanya miliknya. "dengarkan aku baik-baik Sara, aku sudah mau menikah, dan aku tidak mau terjadi apapun sebelum pernikahan kami berlangsung, kau harus tahu Sara, aku sangat mencintai Hinata, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang akan menggantikan Hinata!"
Sara mundur kebelakang, dan dia terlihat sedih, "tapi aku juga mencintai mu Naruto!"
"jangan lakukan itu Sara, kau bisa mencari pria yang lebih baik dari pada aku, aku sudah mencintai orang lain. Aku sudah memilih Hinata dari pertama aku melihatnya, aku tidak akan berpaling darinya, aku mohon jangan ganggu kami!"
"baik, baiklah, aku akan menyerah, sampai nanti!"
Betapa berat Sara mengatakan hal itu, dia tidak sanggup lagi berlari, tapi dia tidak bisa berhenti. Sara jatuh cinta, dan cintanya tidak akan pernah sampai.
"sayang, kau tidak apa-apa?"
"aku hanya lelah, aku ingin pulang!"
"iyah sayang, ayo!"
Setelah beberapa minggu persiapan pernikahan telah selesai, Hinata seperti baru kemarin mengatakan telah siap untuk menikah, sekarang dia sangat gugup, "aku gugup ayah." Gumam Hinata sambil menggandeng tangan ayahnya, "tenangkan dirimu, rileks saja!" Hinata mencoba rileks, dan dia mulai menghiraukan semua orang, dia hanya melihat Naruto, hanya dia. Mereka berdua, dari kejauhan saling menatap satu sama lain tanpa ada yang mengganggu. Hinata semakin dekat dengan Naruto, dekat, dekat, dekat, dan akhirnya tangan halus Hinata menyentuh tangan Naruto.
Hiashi menyerahkan Hinata pada Naruto, dan sekarang mereka siap dinikahkan. Pertemuan pertama itu adalah simbol, pertemuan pertama itu adalah tanda, dan pertemuan pertama itu adalah takdir. Takdir agar mereka disatukan dalam ikatan pernikahan yang suci, setelah kata 'bersedia' terucap, cincin terpasang, maka mereka kini menjadi suami dan istri yang sah. Sorak sorai dan tepuk tangan bergema, terdengar di telinga mereka berdua, namun setelah itu ketika mereka saling menatap tak ada pun satu suara yang terdengar, hanya kesunyian dan kedamaian.
Tak ada waktu untuk hanya saling menatap, mereka harus kembali pada dunia yang nyata, bukan hanya terjebak dalam dunia cinta mereka. Naruto dan Hinata kini bergabung dengan semua orang, dengan keluarganya dan temannya-temannya, "selamat sayang, ibu bahagia, sangat!" ujar Kushina pada Naruto dan Hinata. Kini Hinata tidak lagi memanggilnya bibi, tapi juga ibu, sama seperti Naruto. semua orang memberi selamat pada mereka berdua, tak ketinggalan dua sahabat mereka, Sasuke dan Sakura. "bulan madu, sepertinya sudah didepan mata." Kata Sakura.
"tentu saja, kita akan berbulan madu ditempat yang sangat indah." Kata Naruto
"dimana?" tanya Hinata.
"semuanya sudah disiapkan sayang, itu semua berkat dua ayah ku dan ibu, mereka sudah menyiapkan semuanya. Dan kau tidak perlu tahu dimana tempatnya."
Hinata benar-benar penasaran dan Naruto tidak sama sekali memberitahu tempatnya sampai pesta pun usai. Setelah menyiapkan semua yang harus mereka bawa saat bulan madu, Naruto dan Hinata tinggal istirahat saja, karena yang menyiapkan semuanya bukan mereka, tapi Kushina. "aku sama sekali tidak dijinkan membantu ibu menyiapkan barang-barang kita, aku merasa tidak enak pada ibu."
"biarkan saja, apapun yang ibu suruh kau harus menurut, kalau tidak dia akan kecewa, walaupun kita merasa tidak enak, tapi sebenarnya ibu sayang pada kita." Ujar Naruto sambil menghampiri Hinata, membantunya melepaskan pakaian. Hinata merasakan jantungnya berdebar kencang, padahal ini bukan yang pertama kalinya Naruto begitu dekat seperti ini, tapi dia tetap saja berdebar, "aku punya hadiah untuk mu!" kata Naruto, lalu dia mengalungkan sebuah kalung berlian dileher Hinata, dan Hinata terkejut, melihat dirinya di cermin, dengan kalung yang cantik dari suaminya.
"ini hadiah pernikahan ku untuk mu, dan masih ada lagi, tapi nanti!"
"ini cantik sekali, bagiku ini sudah cukup. Aku tidak punya hadiah untuk mu."
"kau sudah memberikan hadiah terindah saat itu sayang, itu adalah hadiah terindah yang aku dapat dari mu."
Hinata mengingat saat dirinya dan Naruto menginap di hotel sebelum pernikahan. Bukankah itu sebuah kewajiban bagi seorang istri, tapi saat itu dia dan Naruto belum menikah, dia melakukannya karena dia juga menginginkan hal itu, "apakah itu benar-benar hadiah terindah mu?" Naruto meraih tubuh Hinata dan membalikan badanya menghadap kearahnya, "sangat indah... aku mencintai mu." Kata Naruto. Apakah Naruto akan sesering ini mengatakan cinta pada Hinata, bagi Hinata kata-kata cinta itulah hadiah terindahnya. "hadiah terindahku, adalah ketika kau mengatakan hal itu." Ujar Hinata.
"aku akan selalu mengatakannya, sepanjang sisa hidupku. Sekarang, ijinkan aku membawa pengantinku ke tempat tidur, lihat, kau sudah terbebas dari gaun mu. Jadi..."
"apa yang... aahh, Naruto!" Hinata terkejut karena Naruto tiba-tiba mengangkatnya dan membawanya ke tempat tidur, saat itu lampu sudah di matikan dan gelap sudah ruangan, apa yang terjadi, entahlah!
Keesokan harinya Naruto dan Hinata sudah siap berangkat, mereka terlihat bahagia dan itu juga membuat kedua orang tua mereka senang. semua sudah siap dan mereka sudah berpamitan, berpelukan bahkan menangis, "kalian harus bersenang-senang disana, dan juga. . . beri kabar pada kami mengenai. . .yaaaa, kalian tahu kan. . , mhh, seperti. . ."
"aku mengerti ibu." Kata Hinata. Mereka berdua memang mengerti, tapi yang lain tidak.
"hati-hati dijalan yah sayang. . ." teriak Kushina saat mobil mereka mulai berjalan menjauh.
Dalam perjalanan Hinata bertanya-tanya, hatinya memang senang dan bahagia karena mereka akan berbulan madu, tapi sayang, dia tidak tahu kemana tempat yang akan mereka tuju. Hinata memandang ke sekeliling jalan, apakah mereka akan pergi ke pantai, menginap di hotel atau. . . ingin sekali Hinata bertanya, tapi dia akan mendapatkan kejutannya sebentar lagi. "kau pasti penasaran kemana kita akan pergi." Kata Naruto. Hinata mengangguk pelan, "kemana kita akan pergi?"
"tempat yang jauh dan tidak ada seorang pun yang akan mengganggu kita." Dan dimanakah tempat itu?
Hinata menatap jalan yang sepi, hamparan air laut sudah terlihat jelas, mereka sudah sampai di pelabuhan. Dan untuk apa Naruto mengajaknya ke sini, "aku sudah mengaturnya. . .tidak, hanya untuk beberapa minggu, yah setelah itu terserah. . . itu ide yang bagus." Naruto sedang berbicara dengan seseorang di telpon, dengan siapa dia bicara, disaat bulan madunya Naruto masih mempermasalahkan binis, itu membua Hinata sediki kesal. "baiklah, sampai jumpa nanti." Naruto menutup telponya, dia menghampiri Hinata, raut wajahnya tidak membuat Naruto tersenyum, dia bertanya-tanya, "ada apa, kenapa wajah seperti itu, kita akan berbulan madu dan kenapa kau tidak terlihat bahagia, sayang. . . jika kau seperti ini. . ."
"maka kau jangan membicarakan bisnis atau pekerjaan kantor disaat bulan madu kita, aku tidak ingin kau melakukannya!"
Naruto tersenyum, dan Hinata memalingkan wajahnya menjauh dari Naruto. Naruto mengikuti Hinata, dia melingkarkan lengannya disekeliling Hinata, memeluknya erat, mencium aroma tubuh Hinata. Bukankah dia sudah menjadi suami Hinata? Tapi kenapa Hinata selalu saja merasa gugup, dia menelan dengan susah. Mencoba untuk rileks, dan itu berhasil, tapi ketika bibir Naruto dekat sekali dengan telinganya dia kembali merasakan sesuatu, Hinata mendamba moment ini. Dan mana mungkin mereka akan melakukannya, ditempat umum? Tidak.
Tapi Naruto mencium pipi Hinata dengan lembut. Hinata tersenyum dalam hati, dia menikmati moment indah ini, "hentikan itu, ini tempat umum!" kata Hinata.
"biarkan saja, biarkan orang-orang melihat kita. Kau tahu? Aku bukan membicarakan bisnis, aku membicarakan tentang tempat dimana kita akan menghabiskan waktu bulan madu kita, kau pasti akan senang melihatnya."
Oooohh, jadi itu yang Naruto bicarakan. Tempat bulan madu mereka, tapi kenapa di pelabuhan? "kau masih kesal?" tanya Naruto. dengan diamnya Hinata itu berarti dia masih kesal, "sayang, lihat disana, kita akan menaiki kapal itu!" Hinata melihat arah yang dituju Naruto. sebuah kapal pesiar, yang mewah, tidak terlalu besar, elegan dan itu terlihat sempurna. Hinata terlihat bahagia, dia benar-benar senang, dan akan begitu hingga seterusnya.
~~~###~~~
Naruto memeluk Hinata dari belakang, ketika mereka benar-benar berada diambang kebahagiaan, seakan dunia miliki mereka berdua. Melihat pemandangan indahnya hamparan air laut yang berwarna biru. "kita akan berapa lama disana?" tanya Hinata. Naruto tersenyum senang, "terserah dirimu sayang, berapa lama pun yang kau mau, selama membuat mu senang dan bahagia, kita bisa tinggal selamanya!" selamanya? Mungkin tidak selamanya, karena Hinata tidak mau meninggalkan keluarganya, ayah dan ibunya, kini mdia mempunyai seorang ibu. Ibu mertua, yang baik hati dan menyayanginya.
"kau pasti memikirkan kalau kau tidak ingin meninggalkan keluarga kita bukan?"
Hinata mengangguk pelan. Tak terasa kapal yang mereka tumpangi kini sudah sampai di pulau, Naruto beranjak dari dari kapal sambil menggandeng tangan. Dia memperlihatkan dunia yang indah, suasana yang jarang ia lihat, "disini biasanya diadakan festival, mungkin lima hari kedepan, kita beruntung datang kesini."
"benarkah? Apa festival itu meriah?"
"tentu saja. Lihat disana, pohon-pohon itu akan dihiasi lampu-lampu yang cantik, dan ditepi pantai akan ada kembang api, kita bisa melihatnya lebih dekat jika kau mau!"
"tentu aku mau. Dan sekarang. . ." Hinata menghentikan kata-katanya.
"Apa?" kata Naruto.
"aku mengantuk."
Naruto tersenyum dan kini menggendong Hinata menuju villa mereka yang tak jauh dari tempat festival itu. Naruto sampai di kamar mereka, dan menidurkan Hinata. Mungkin ini belum waktunya mereka bersenang-senang, akan ada hari yang lain, dia hanya tinggal menunggu saja. Setelah hari itu, sudah terhitung lima hari mereka berbulan madu di pulau, dan sampailah puncak dimana hari festival akan dimulai. "mereka semua menggunakan bahasa yang aneh." Kata Hinata. Naruto tertawa kecil, "sayang, itu bahasa Italia," kata Naruto. Hinata mengangguk sambil ber oh ria. "aku tidak bisa bahasa Italia."
"aku juga tidak bisa sayang, hanya sedikit. Tapi tidak terlalu mahir. Kau tenang saja, mereka juga bisa berbicara dengan bahasa yang kita gunakan."
"aah, syukurlah kalau begitu. Aku haus!"
"baiklah, kau duduk disini dan aku akan mengambil wis. . ."
"aaah, tidak, tidak, tidak, aku tidak minum, dan kau juga jangan minum. Berhenti minum, mengerti?"
"sayang, apakah kau. . ."
"aku mau kesana dulu!" kata Hinata lalu meninggalkan Naruto. dia hanya menggeleng.
Hinata duduk di kursi sambil memperhatikan sekitar. Festival ini meriah, banyak bermacam-macam kegiatan yang belum pernah Hinata lihat, terutama akrobatik seorang bartender yang tengah mengotak atik botol minuman. "kau sendirian?" tiba-tiba seseorang bertanya pada Hinata, dan dia duduk disamping Hinata. Seorang wanita muda kira-kira seumuran dengannya. "aku tidak sendiri, aku bersama suamiku, dia ada disana!" Hinata menunjuk ke arah Naruto yang tengah mengobrol dengan seseorang.
"oowh begitu, sudah berapa tahun pernikahan kalian?"
Hinata terkikik, "aku dan Naruto sedang berbulan madu saat ini, kami baru saja menikah."
"ooh, jadi kalian pengantin baru?" Hinata mengangguk, "selamat kalau begitu, semoga bulan madu kalian menyenangkan, kalian juga beruntung datang kesini di waktu yang tepat, saat festival di gelar, aku baru kali ini melihat kau dan Naruto mu itu," kata wanita itu sambil berkata dengan nada menggoda, "kalian sebagai pengantin baru, jarang aku melihatnya. Apa aku berlebihan?"
"tidak. Kau menyanjungku seakan aku dan Naruto yang pertama yang kau lihat."
"itu memang benar. Dan kalau boleh aku sarankan, agar malam-malam kalian terasa indah, kau bisa menanyakan sesuatu mengenai cinta padanya, tapi disaat dia dalam keadaan 'In vino veritas'."
"apa artinya itu?"
"didalam anggur ada kebenaran, bisa dibilang, orang bicara jujur ketika dirinya mabuk. Tanyakan padanya apakah dia mencintai mu atau sangat sangat mencintai mu, dan seberapa besar cintanya untuk mu, kau pasti akan terkejut dengan jawabannya atau mungkin kau akan sangat bahagia."
"tapi aku menyuruhnya untuk berhenti minum."
"sepertinya tidak. Lihat suami mu!"
"ooh ya ampun. Dia sudah berjanji padaku."
"buktikan saja ucapan ku!"
Wanita itu pergi meninggalkan Hinata, dan Hinata mendekati Naruto, "aku bilang kau jangan minum." Teriak Hinata pada Naruto. suara musik itu terlalu keras hingga Hinata berteriak, tapi tiba-tiba musik berhenti karena kembang api kini sudah dinyalakan. Naruto berdiri dan membawa Hinata ke tempat yang lebih dekat dengan pantai, disana kembang api trlihat jelas. Hinata tersenyum senang, dan Naruto menatapnya. Apakah dia jatuh cinta lagi dengan Hinata? Tentu saja seperti itu, tapi dia harus sering-sering mengungkapkannya, agar terlihat lebih romantis.
"aku mencintai mu." Kata Naruto.
Hinata menoleh ke arah Naruto, dan menatap tak percaya, dia kemudian tersenyum sambil memegang pipi Naruto, "kau mabuk yah. Benar kata wanita itu, jika kau mabuk pasti omongan mu. . ."
"aku tidak mabuk, aku sadar."
Hinata terkikik geli, "justru aku senang jika kau mabuk, perkataan mu tidak akan bohong."
"ya Tuhan, Hinata, mabuk atau tidaknya aku akan tetap mencintai mu." Kata Naruto. Hinata terkesiap karena Naruto tiba-tiba kini menariknya lebih dekat, "aku mencintai mu." Bisik Naruto di telinga Hinata. Sungguh bahagia Hinata, sampai ingin mati rasanya. "aku tidak suka dengan bau mu, bau alkohol!"
"baiklah, mulai saat ini aku tidak akan minum lagi, aku janji!"
Naruto hendak menciumnya, tapi Hinata mencegahnya dengan menutup mulut Naruto, "kau harus menggosok gigi mu terlebih dahulu, kau bau sekali."
"baiklah, ayo kita pulang!"
"apa? Cepat sekali, aku. . . aaaah, Naruto turunkan aku!"
"tidak akan!"
Mereka sudah sampai ke villa, Hinata tengah berbaring menyamping di tempat tidur, menunggu suaminya selesai mandi. Ketika suara air berhenti mengalir, Hinata mulai terpaku ditempat tidur, apa yang harus dia lakukan sekarang? Apa ada yang harus dia persiapkan untuk malam ini, oh tidak Hinata hilang akal. Naruto sudah keluar terlebih dahulu dari kamar mandi, dan melihat Hinata tengah memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambut Naruto.
Naruto menunjuk tempat tidur, Hinata tidak mengerti, lalu dia juga menunjuk handuk yang dipegang Hinata. Dan Hinata mengerti sekarang, bahwa Naruto ingin duduk ditempat tidur. Sambil memperhatikan Hinata yang tengah mengeringkan rambutnya, Naruto juga memperhatikan reaksi Hinata jika sedang tidak tersenyum, tetap saja cantik, batin Naruto, dan sangat serius. "sudah selesai, sekarang waktunya. . ."
"tidur." Sambung Naruto.
"benar, tidur."
Hinata menaruh handuknya dan kini dia merangsek ke tempat tidur dan tertidur menyamping membelakangi Naruto. Naruto menggelengkan kepalanya, "sayang!" panggil Naruto, "iyah." Sahut Hinata.
"apakah kau tahu apa yang ingin aku lakukan sekarang?"
"sepertinya tidak." Kata Hinata acuh.
Naruto berada dibelakang Hinata dan memeluknya, "aku ingin malam ini jadi malam terindah bagiku, kau mengerti kan?"
"apa kau masih mabuk?"
"tidak!" Kata Naruto
Lalu Hinata membalikan badannya dan mencium aroma minuman dari mulut Naruto, sudah tidak berbau lagi. Naruto tersenyum dan semakin mengeratkan peluknnya pada Hinata, membawa Hinata diatasnya dan Hinata memekik terkejut kala Naruto menggelitiknya, "hentikan itu. . . ahh, Naruto!"
"baiklah, aku akan berhenti. Dan kau berhentilah memberontak!"
"apa aku tidak berat?" kata Hinata.
"kau berat sekali."
"kalau begitu turunkan aku!"
Dan keadaan jadi terbalik Naruto menggulingkan Hinata dan kini sudah berada dibawahnya. "nah, ini lebih baik, sekarang kau tidak akan bisa lari!"
"aku tidak akan lari, karena aku tidak takut pada mu!"
"benarkah." Naruto melakukan sesuatu pada Hinata malam itu, dan hanya Hinata, Tuhan, dan Naruto lah yang tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan malam itu.
^^Bersambung. . .^^
