Jika kau harus memilih, maka siapakah yang akan kau pilih?
Wanita yang kau sakiti…
Atau…nyawa yang tak berdosa, yang hadir karena dirimu…
…Sasuke Uchiha?
0o0o0o0
Opportunity to Return Home
…
Disclaimer : Masashi Kishimoto
…
Opportunity to Return Home © Obsinyx Virderald
…
Warning : OOC, misstypo, mature contents, etc.
…
Don't like don't read
I've warned you!
…
0o0o0o0
Tsunade menatap geram Karin, tanpa menghiraukan keadaan Karin yang terlihat shock, wanita itu menarik kasar dagunya, "Apa maksud ucapanmu itu, hah?"
Ino masih berkutat dengan dunianya sendiri, ia tidak percaya cakra itu hadir dari sang janin. Tidak, lebih tepatnya…ia tidak mau mempercayai. Pasalnya, bagaimana bisa…
Karin menepis tangan lentik namun kuat milik Tsunade dari dagunya lalu lekas berdiri. Dengan berani ia tatap langsung manik wanita yang awet muda tersebut. Sedangkan yang ditatap hanya bisa mengeraskan rahangnya kemudian mendecih kesal sambil membuang muka. Semua bukti yang ada membuat Karin yakin, bahwa Sakura memang tengah berbadan dua.
Deg!
Pandangan Karin sempat mengabur sekilas ketika rasa sakit itu seolah membekukan oksigen dalam aliran darahnya, lagi…
Sasuke-kun, dari sekian banyak gadis…kenapa kau memilihnya?
"Ano Karin-san, maaf…tapi ada sesuatu hal yang mengganjal di sini…" suara Ino menginterupsi lamunan Karin. Gadis bermata ruby itupun segera menolehkan kepalanya dan melayangkan tatapan tanya pada Ino yang ternyata juga sudah dalam posisi berdiri.
Mengerti body language yang ditunjukkan oleh Karin, Ino pun meneruskan ucapannya, "Dari pengamatanku, Sakura baru…err…mengalami 'hal ini' beberapa jam yang lalu, jadi bagaimana bisa sebuah janin terbentuk hanya dalam waktu beberapa jam saja?"
Karin mendengus remeh, "Lalu apa arti dari 'penglihatanmu'? kalau memang cakra Sasuke berasal dari spermanya,-Ino menunduk malu mendengar bahasa vulgar Karin- dan bukan dari si janin, maka semestinya cakra Sasuke bisa kau rasakan juga dari sperma keringnya yang menempel di paha Sakura."
"Tapi tetap saja, ini tak masuk akal. Bagaimana mungkin-"
"Ino, yang kita bicarakan di sini adalah keturunan Uchiha." sela Tsunade dengan raut wajah memikirkan sesuatu, rupanya ia juga mendengarkan hipotesis yang dilontarkan oleh Karin. "Mungkin saja ada sesuatu yang memang tidak kita ketahui karena bagaimanapun clan Uchiha sudah ada sejak jaman dahulu."
Hening sejenak.
"Shishou…" Tsunade mengalihkan pandangannya pada Ino.
"Kau salah…" kali ini Tsunade melihat gadis berambut ponytail itu menundukkan kepala dan mengepalkan tangannya.
"Yang kita bicarakan, adalah Sakura…" suara Ino makin terdengar lirih.
"Sahabatku, rivalku, anakmu…" sang Hokage memandang Ino dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Beritahu aku, apa yang harus kulakukan shishou… Aku…bingung… di sana, di dalam perut sahabatku, ada sebuah nyawa. Tapi Sakura sendiri-"
Pluk!
Ino mengangkat kepalanya, memandang Karin yang barusan menepuk pundaknya sambil menatap manik aquamarinenya yang masih meluncurkan air mata.
"Kau juga salah, nona.." ucap Karin sambil tersenyum dan lalu mengalihkan pandangannya pada Tsunade dengan mantap, "Bukan beritahu aku, tapi beritahu kami."
Ino mengerjapkan matanya, sedangkan Tsunade tersenyum tulus pada Karin, "Jadi Hokage-sama, apa yang harus kami lakukan?" tanya Karin.
Wanita dengan rambut berkuncir dua itu memandang Karin dan Ino secara bergantian, "Sebelum kalian berdua kuberi tugas, Karin…tolong panggilkan Suigetsu dan Juugo kemari."
Dan senyuman Karin pun luntur seketika.
"Ah…walaupun kalian membantu kami, belum tentu aku akan meringankan hukuman untuk kalian nanti." Tambah Tsunade seraya mengacungkan jari telunjuk dan tersenyum nista.
"Cih!"
0o0o0o0
"Perpustakaan?" Suigetsu membeo mendengar permintaan –atau lebih tepatnya perintah- Hokage Konoha yang kini sedang berpose bersedekap dada dan memasang wajah angkuh.
"Maaf, aku tak akan mengulang ucapanku barusan. Semakin cepat kalian dapatkan informasi yang diperlukan, maka semakin cepat pula masalah ini terselesaikan." Ucap Tsunade tegas.
"Aduh, apa tampang kami terlihat seperti kutu buku?" sahut Suigetsu sambil mengorek telinganya yang gatal dengan jari kelingking, membuat Tsunade menahan rasa kesal.
"Maaf sebelumnya, kalau apa yang kami lakukan ini hanya demi Sakura dan bukan untuk Sasuke juga, maka aku keberatan." Timpal Juugo dengan ekspresi datarnya.
Tsunade menggeram rendah, "Tapi karena Sasuke lah Sakura menjadi seperti ini."
"Kalau begitu tanyakan saja langsung pada si Sas-uke itu! Daripada menghabiskan waktu mencari di buku!" gerutu Suigetsu.
Tsunade menghela napas, "Aku yakin seratus persen bahwa ia tak mengetahui apapun tentang ini. Karena selama aku hidup, aku belum pernah mendengar kasus seperti ini terjadi di clan Uchiha."
"Hokage-sama, maaf mengganggu. Ada informasi penting yang harus aku sampaikan segera." Ucap Shizune dengan kepala tersembul dari balik daun pintu.
"Ada apa? Masuklah Shizune." Titah Tsunade.
"Ano, ternyata karena kebakaran yang terjadi waktu peperangan telah mengakibatkan perpustakaan terbakar tanpa bekas." Jelas Shizune takut-takut.
"Apa?" Tsunade melotot, membuat Shizune menelan salivanya dengan susah payah.
"Bagaimana dengan orang-orang yang pernah bekerja di perpustakaan?" lanjut Tsunade.
Shizune menggeleng pelan, membuat sang Hokage mengerang pelan sambil menjatuhkan punggungnya ke senderan kursi. Tsunade memijit pelipisnya, rasanya ia akan segera berkeriput kalau begini keadaannya.
"Jadi, bagaimana sekarang?" tanya Suigetsu was-was.
Tsunade menggigit bibir bawahnya, bimbang apakah keputusan yang diambilnya ini memang tepat. Tapi, semakin lama mengulur waktu, maka semakin kecil kemungkinan Sakura bisa diselamatkan…
"Shizune, tolong panggilkan Karin dan Ino sekarang. Dan kalian berdua…" tunjuk Tsunade ke arah Juugo dan Suigetsu dengan dagunya, "berdoalah semoga ketua kalian memilih opsi terbaik."
Juugo mengernyitkan dahinya sementara Suigetsu meniup kotoran telinga yang tadi didapatnya entah ke mana, "Eh, begitu saja? Ya sudah kalau begitu. Ayo Juugo." Ucap Suigetsu acuh.
"Hokage-sama," panggil Juugo. Tsunade hanya balas melirik.
"Tolong selamatkan Sakura-san. Sasuke, ketua kami yang baka itu, hanya belum menyadari perasaannya saja. Harap maklum, sedari kecil ia-"
"Tanpa kau jelaskan pun aku mengerti," potong Tsunade dengan seulas senyum.
"Tapi, ini bukan ranah kita untuk bicara. Semua keputusan ada di tangannya." Lanjut Tsunade.
"Hey, sebenarnya apa yang terjadi kepada si pink itu sih? Kenapa untuk menyelamatkan nyawanya saja harus dengan keputusan Sasuke?" sela Suigetsu.
"Maaf, aku belum bisa memberitahukan soal itu kepada kalian." Jawab Tsunade sekedarnya.
"Ah~ pasti ada hubungannya dengan malam itu kan Juugo?" tanya Suigetsu sambil menyenggol Juugo dengan wajah menyebalkan, membuat Juugo mendengus kesal.
"Malam itu?" Tsunade memicingkan mata.
"Iya, gadis itu memakai baju seperti pasien rumah sakit dan cara berjalannya aneh. Lalu dia berbicara dengan Karin. Hmm, sepertinya soal menitipkan sesuatu yang pen- aww! Sakit bodoh!" umpatnya pada Juugo.
Juugo hanya memberikannya tatapan tajam seolah mangatakan jangan-beritahu-dia-dasar-tidak-bisa-jaga-mulut. Lelaki bergigi tajam itu pun hanya bisa mendecil kecil seraya mengelus bekas sikutan Juugo di perutnya.
Tsunade berusaha mengolah informasi barusan di otaknya. Ekspresinya terlihat sedang berpikir keras.
"Kalian berdua, silakan keluar dari ruanganku." Ucap Tsunade akhirnya.
0o0o0o0
Duk!
"Kami-sama, Karin! Sudah ku bilang kan jangan melamun saat berjalan!" omel Ino pada Karin yang masih mengelus kepalanya yang memerah akibat menabrak sebuah tiang, entah yang keberapa kalinya.
"Apa sih yang Shishou katakan padamu sampai-sampai kau begini?" tanya Ino, masih dengan nada mengomel.
"Tak ada." Sahut Karin sambil mulai berjalan kembali, meninggalkan Ino yang mendengus kesal. Beberapa saat kemudian ia menghela napas, mengingat kembali percakapannya tadi dengan sang Hokage.
Flashback
"Kalian berdua, aku tugaskan kalian menemui Uchiha Sasuke sekarang juga!" perintah Tsunade dengan tegas.
"Eh? Untuk apa Shishou?" tanya Ino penasaran.
"Karena perpustakaan Konoha sudah terbakar dan orang-orang yang pernah bekerja di sana juga sudah gugur di medan perang, maka aku tak bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Sakura saat ini." Jelas Tsunade.
"Semakin lama kita mengulur waktu, maka kondisi Sakura akan semakin mengkhawatirkan. Maka dari itu, aku pikir inilah jalan terakhir yang akan menentukan semuanya." Lanjut Tsunade.
"Sebentar Shishou," sela Ino, "Kalau soal buku, kenapa kita tak coba cari dulu di komplek Uchiha atau bahkan di rumah Sasuke sendiri?" usul Ino.
"Aku juga tadi sempat berpikir seperti itu Ino," jawab Tsunade, "Namun terakhir kali ku cek, cakra Sakura semakin menipis. Kita harus segera mengambil tindakan."
"Maaf Hokage-sama, kalau begitu kenapa bukan anda sendiri yang berbicara pada Sasuke?" potong Karin.
"Maksudku, anda adalah Hokage, mungkin…Sasuke akan lebih menurut jika anda yang berbicara." Tambahnya.
Tsunade tersenyum, "Ino, bisakah kau membantu Shizune sebentar? Ia ada di ruangan Sakura sekarang." Pintanya.
Ino mengerti bahwa sebenarnya Shishou-nya ingin bicara empat mata dengan Karin, maka dari itu, dengan sebuah anggukan, ia pun segera keluar dari ruangan Tsunade.
"Kenapa bukan aku…" kata Tsunade memulai pembicaraan empat matanya dengan Karin.
"Karena, bukan aku lah yang Sakura percaya…" Karin jelas bingung dengan jawaban sang Hokage.
"Tadinya, aku ingin memberikan kalian tugas untuk mengecek buku yang kita perlukan di komplek Uchiha. Tapi, berkat ucapan Suigetsu, aku menyadari sesuatu." Mendengar ucapan Tsunade, Karin pun segera mengutuk Suigetsu dalam hati.
"Maksud anda?" tanya Karin memberanikan diri.
"Bahkan orang terakhir yang Sakura temui adalah dirimu, benar kan Karin?" gadis berambut merah itu pun tersentak.
"Bukan aku, Ino, Kakashi, Naruto, ataupun temannya yang lain. Tapi kau. Kalau Sakura saja bisa percaya padamu, kenapa aku tidak?" Karin membenarkan dalam hati. Ya, kenapa gadis menyebalkan itu malah menemuinya?
"Dan tadi kau bilang, Sasuke akan lebih menurut padaku? Kalau benar begitu, seharusnya sebelum ia hilang kesadaran ia menghampiriku dan menitipkan Sasuke padaku, bukan padamu." Manik ruby Karin membulat mendengar ucapan Tsunade.
"Benarkan dugaan ku? Ia menitipkan Sasuke padamu?" tanya Tsunade memastikan.
Karin menahan air matanya untuk meluncur, sadar ia tak bisa berkata apapun saat ini, maka ia hanya mengangguk.
Tsunade menghampirinya dan segera memeluknya, membuat Karin akhirnya menumpahkan air mata yang tadi membelenggu manik indahnya.
"Dasar…hiks…gadis bodoh! Hiks…bagaimana bisa…ia menitipkan Sasuke padaku…hiks. Padahal, Sasuke sendiri… Sasuke sendiri… aaaaaaa~"
Tsunade mengelus punggung dan kepala Karin, mencoba menenangkan.
"Karin, walaupun aku tak tahu apa yang Sakura katakan malam itu padamu, aku…percaya…kau bisa mengambil tindakan yang benar. Seperti Sakura yang yakin kau lebih mengerti Sasuke daripada yang lain, pengecualian untuk Naruto dan Kakashi tentunya-"
"Suigetsu dan Juugo juga pengecualian…" ralat Karin.
"Baiklah, maaf. Intinya, sebagai seorang gadis, di antara semua yang mengerti Sasuke hanya ada kau dan Sakura saat ini. Karena itulah, mungkin akhirnya Sakura mempercayakan Sasuke padamu." Ujar Tsunade lembut.
"Jadi, bisakah aku mempercayakan tugas ini padamu dan Ino?" tanya Tsunade.
Karin menghela napas lega, lalu tersenyum, "Baiklah, percayakan pada kami. Tapi, apa yang harus kami lakukan?"
Tsunade terlihat sedikit takut, Karin dapat melihat itu dalam pancaran matanya.
"Suruh ia untuk memilih, Sakura yang diselamatkan…atau bayi mereka yang diselamatkan?"
Hening pun tercipta.
Sakura, apa yang harus kulakukan sekarang? Batin Karin berbicara.
0o0o0o0
Setelah beradu mulut cukup lama di ruangan Hokage-ralat-sebenarnya hanya Ino dan Tsunade yang beradu mulut, akhirnya Ino menyerah dan setuju dengan ucapan Tsunade. Walaupun ia terlihat setengah hati menjalankan tugasnya, tapi, kalau ini bisa membuat penderitaan sahabatnya berakhir, maka ia rela melakukan yang diperintahkan sang Hokage.
Tapi, bagaimana jika Sasuke malah memilih bayi mereka?
Itulah pertanyaan yang sedari tadi melintas di otak Ino. Ayolah, cepat atau lambat Sasuke pasti akan membutuhkan penerus untuk clan Uchiha. Dan kali ini, viola~ ia mendapatkannya tanpa perlu susah payah. Tidak susah payah kok, hanya perlu mengorbankan nyawa sahabatnya. Dan pemikiran terakhir Ino sukses membuat bibirnya melengkungkan senyuman miris.
Sebentar, bagaimana jika bayi mereka perempuan? Atau Sakura mewarisinya secara fisik? Sasuke pasti segera membuangnya!
Ino menggeleng keras membayangkannya. Kalau itu sungguh terjadi, ia bersumpah akan membunuh keturunan Uchiha terakhir itu dengan tangannya sendiri.
"Apa yang akan kau katakan pada Sasuke?" Karin tersentak mendengar pertanyaan Ino.
"Entahlah, yah…kau tahu lah Sasuke itu bagaimana…" jujur, Karin sendiri bingung harus berkata apa nanti.
"Apa…kau bisa membuatnya memilih Sakura?" lirih Ino.
Karin menghela napas pelan, "Maaf Ino, kita hanya ditugaskan untuk memintanya memilih, bukan memaksanya."
"Tapi-"
"Kalau kita memaksanya memilih Sakura, dan ia mengiyakannya. Apakah kau pikir Sakura akan bahagia?" sela Karin.
"…"
"Aku tahu aku bukanlah sahabat Sakura sepertimu. Tapi percayalah, apapun yang Sasuke pilih nanti, karena memang itulah pilihannya, pasti Sakura akan bahagia."
"Bagaimana…kalau Sasuke memilih bayi mereka? Aku hanya…belum siap Karin…"
"Seperti katamu, itu adalah bayi mereka. Bayi Sasuke dan Sakura. Maka, Sakura pasti akan hidup di dalamnya. Dan Sasuke, aku tahu ia lelaki berengsek. Tapi, jika ia memilih bayi itu, pasti ia sudah siap merawatnya."
Tiba-tiba, Ino memandang Karin sinis, "Jangan bilang kau berminat menjadi istri Sasuke setelah itu?"
Karin menghentikan langkahnya, memejamkan matanya dan berusaha menghilangkan rasa sakit akibat ucapan Ino barusan, "Aku tidak sepicik itu nona Yamanaka."
"Tapi kau mencintai Sasuke kan?" gertak Ino tak mau kalah.
"Dan apa gunanya kalau yang dicintai Sasuke itu adalah sahabatmu? Balas Karin telak.
"…apa?"
"Mereka berdua itu bodoh! Yang satu gengsi setinggi langit dan tidak peka, sedangkan yang satunya lagi berpikiran pendek dan keras kepala! Kau pikir bagaimana mereka mau sadar kalau sebenarnya mereka berdua memiliki rasa yang sama jika mereka sendiri tak mau mengesampingkan ego mereka masing-masing?"
"…Karin…"
"hiks…"
"Maaf…"
Dan semua orang yang berada di lorong rumah sakit Konoha pun dibuat bingung dengan adegan drama yang dilakoni Ino dan Karin yang berpelukan sambil menangis. Sampai-sampai, mereka tak sadar bahwa Suigetsu dan Juugo tengah memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Ternyata, Karin itu dewasa juga ya. Padahal sehari-hari kerjanya hanya bertengkar denganmu." Ujar Juugo memuji-atau menyindir Karin?
"Itu baru gadisku." Ungkap Suigetsu bangga.
"Cih! Kalau sudah dipuji saja, baru mau mengaku!" protes Juugo.
0o0o0o0
"Mau apa kalian?"
"Heh! Di mana-mana kalau ada yang menjenguk itu harusnya kau senang!" ucap Ino kesal.
Di sinilah mereka sekarang, di ruang rawat Sasuke Uchiha. Dengan posisi Ino dan Karin yang baru saja membuka pintu dan langsung dapat sambutan 'manis' dari sang pasien. Sementara Sasuke masih duduk di pinggiran ranjangnya, menghadap ke jendela. Otomatis ia membelakangi Ino dan Karin.
"Wow Sasuke, cakramu sudah lancar sekarang." Komentar Karin. Sebenarnya, kalau Sasuke dan Ino peka, mereka dapat menangkap maksud lain dari ucapan Karin barusan.
"Hn."
Ino melangkahkan kakinya mendekati Sasuke, "Nah, mari Sasuke, aku periksa kau dulu."
"Mana Sakura?"
Langkah Ino pun terhenti, "Sakura?"
"Hn, ia belum terlihat seharian ini."
Karin dan Ino saling berpandangan, bingung dengan sikap Sasuke. Namun Sasuke tentu tidak bodoh, begitu ia menyebut nama Sakura, reaksi aneh terasa dari cakra mereka.
"Sebenarnya, apa tujuan kalian datang kemari?" tanya Sasuke dingin. Ia masih enggan membalikkan badannya.
Karin menghela napas, ia yakin Sasuke dapat merasakan kejanggalan yang timbul dari dirinya dan Ino, "Kami kemari karena perintah Hokage-sama."
Ino mendelik ke arah Karin, "Heh! Shishou bilang kita harus mengecek kondisinya dulu!" bisik Ino.
"Tak perlu Ino. Kau juga merasakannya kan? Ia sudah sangat sehat sekarang." Jawab Karin dengan suara sengaja dikeraskan.
Memang benar, Ino sedikit banyak merasakan aliran cakra Sasuke yang sangat berbeda dari kemarin-kemarin. Tapi, justru itulah yang membuatnya penasaran. Apa yang dilakukan Sakura sampai Sasuke bisa sehat seperti ini hanya dalam waktu singkat? Dan bagaimana, mereka bisa berakhir melakukan hubungan suami-istri malam itu?
"Apa yang Hokage itu inginkan dariku?" tanya Sasuke acuh.
Ino menatap Karin dengan pandangan menohon. Ya, Karin mengerti bahwa Ino ingin ia saja yang bicara. Maka dengan satu tarikan napas, Karin harus mempersiapkan dirinya untuk beradu argument dengan pria yang dicintainya itu.
Cinta, eh?
"Kemarin malam, Sakura menemuiku."
Deg!
Aha! Got it! Batin Karin senang.
"Lalu? Sahut Sasuke (seolah) tak peduli.
Sementara itu, Ino sebenarnya ikut tercengang mendengar pengakuan Karin. Tapi ia harus tenang dan sabar kali ini, jangan melewatkan sedikit tanda kecilpun yang dikeluarkan oleh Sasuke.
"Pertama, aku bingung. Kenapa ia datang padaku dengan pakaian pasien rumah sakit, terlebih terlihat jelas ukuran pakaian itu adalah pakaian untuk lelaki."
"…"
Karin menunggu respon Sasuke, tapi karena Sasuke tak mengeluarkan sepatah katapun, maka ia melanjutkan ucapannya, "Sakura, minta aku untuk menjagamu…"
Sret!
Kali ini Ino memicingkan matanya, menangkap aliran cakra Sasuke sedikit berubah.
"Haha, kau tahu? Aku merasa dibodohi!" Ino menatap Karin iba. Walaupun barusan Karin tertawa, tapi ia yakin bahwa sebenarnya di sini, Karin pun ikut terluka.
"Aku tak bisa tidur semalaman karena memikirkan gadismu itu, dia-"
"Tolong jaga ucapanmu. Sejak kapan dia menjadi gadisku." Sela Sasuke.
Ino menahan emosinya yang membuncah mendengar ucapan Sasuke, 'Dasar berengsek, sudah menghamili Sakura tapi masih juga berkata seperti itu!' batin Ino tak terima.
"Huft, sepertinya kau tak bisa diajak berbasa-basi ya?" tanya Karin kesal.
"Aku tak butuh pengakuanmu karena apapun yang kau ucapkan setelah ini tak akan mempengaruhi apapun." Timpal Karin.
Sasuke mengernyit bingung, sebenarnya ada apa ini?
"Sasuke, kau…sudah menghamili Sakura…" Manik onyx Uchiha terakhir itu pun membelalak kaget.
Karin dan Ino gugup, menanti reaksi Sasuke. Mereka tentu berharap semuanya akan lancar, tapi…
"Hhh..haha…hahahaha…" pundak Sasuke bergetar karena tertawa.
Karin dan Ino tak percaya ini. Yah…meskipun mereka sudah memprediksikan, tapi tetap saja, bagaimana bisa Sasuke tertawa setelah mendengar hal ini?
"Lelucon macam apa ini?" geram Sasuke pelan.
"Sasuke, ini bukan lelucon. Mana mungkin aku membuat lelucon separah ini tentang sahabatku sendiri!" ucap Ino.
"Ah~ jadi ini alasan ia datang padamu kemarin malam? Untuk melaporkanku karena aku sudah menghamilinya, dan sekarang kalian semua meminta pertanggungjawabanku?"
Sungguh, Karin muak! Ia tidak menyangka Sasuke bisa bicara seperti itu.
"Aku memang tak pernah berhubungan dengan wanita, Karin. Tapi, aku tidaklah sebodoh itu. Mana mungkin ia bisa hamil dalam waktu semalam."
"Jadi, kau memang mengakui bahwa kau yang melakukannya?" tanya Karin tanpa segan.
"Ya, lalu kenapa?" tantang Sasuke.
Ino sungguh emosi kali ini, "Kami-sama! Kau! Benar-benar!"
"Kenapa kau melakukannya?"
"Ia membuatku kesal."
"Karin…" panggil Ino geram.
Karin menggeleng, meminta Ino menahan emosinya, "Kenapa?" tanyanya kemudian pada Sasuke.
"Bukan urusanmu."
BUGH!
Ino tak tahan lagi, dosa apa Sakura sampai-sampai bisa tetap mencintai lelaki macam Uchiha Sasuke?
Sasuke tak bereaksi apapun, hanya menunduk sambil memegang pipinya yang baru saja kena pukul Ino. Sedangkan Karin menghadang Ino agar tak berbuat lebih pada Sasuke.
Karin merasa ada sesuatu yang mengganjal di sini, sejujur-jujurnya Sasuke, apakah mungkin ia langsung mengaku begitu saja? Ke mana sikap gengsi-nya? Pasti ada sesuatu, sesuatu yang membuat Sasuke memilih untuk langsung jujur seperti ini. Tapi apa? Apa yang sebenarnya terjadi semalam?
Sementara itu, Sasuke juga tak tahu kenapa ia bisa berbicara seperti itu. Tapi ia tak bohong, ia memang terlanjur kesal pada Sakura dan si-mata-panda menyebalkan itu. Bukankah lebih baik ia mengakuinya? Dengan begini lelaki itu tak akan mau dekat dengan Sakura lagi kan? Jadi…perasaan Sakura akan terus tertuju hanya untuknya. Ya…memang sudah seharusnya begitu. Sakura Haruno, hanya boleh mencintai Sasuke Uchiha. Hell, memikirkannya saja sudah bisa membuatnya menyeringai penuh arti.
Ino sungguh ingin cepat pergi dari ruangan ini, ia geram dengan penuturan Sasuke. "Dengar ya Sasuke, aku tak peduli kau percaya atau tidak. Yang jelas Sakura, sahabatku, sedang sekarat saat ini dan itu jelas karena ulahmu entah apapun itu semalam, dan-"
"Sekarat? Cih! Karanganmu berlebihan Yamanaka."
"Kau!"
Kalau saja Karin tak menahan Ino, gadis berambut pirang itu sudah pasti akan memukul Sasuke lagi. Karena Ino emosi tinggi, Karin yakin ia tak merasakan cakra Sasuke sedikit bergejolak sewaktu Ino menyebutkan kata sekarat. Karin sendiri sebenarnya bingung harus berkata apa agar Sasuke bisa percaya dan cepat-cepat mengambil keputusan. Tapi seperti Sakura dan Tsunade yang bisa mempercayainya, maka ia harus percaya pada dirinya sendiri.
"Kau bisa lihat sendiri, ah maksudku, kau bisa merasakan sendiri kalau Sakura sungguh-sungguh sekarat sekarang." Ucap Karin.
"Hei, Shishou melarang itu!" protes Ino.
Karin tersenyum meyakinkan bahwa ini tak apa-apa, lalu kembali melanjutkan ucapannya, "Tapi maaf, kami tak bisa menunggu lebih lama termasuk menunggumu meli-ah, merasakan kondisi Sakura. Karena Hokage-sama menugaskan kami berdua kemari hanya untuk menanyakan satu hal."
Sasuke masih menundukkan wajahnya, tak bereaksi atas ucapan Karin.
"Kau harus memilih Sasuke, selamatkan nyawa bayi kalian, atau selamatkan nyawa Sakura."
Deg!
Sasuke tak tahu perasaan apa yang kini melandanya. Sesak, sakit, tapi ia tak mengerti kenapa.
"Kalian serius?" akhirnya, hanya deretan kata itulah yang terucap dari bibir Sasuke.
"Cih! Masih tak mau percaya juga!" umpat Ino sambil bersedekap dada.
"Kenapa Hokage mengirimkan kalian berdua kemari kalau untuk menanyakan hal itu?"
"Pertama, Hokage-sama harus terus mengontrol kondisi Sakura dan janinnya sehinnga beliau tak mungkin kemari. Kedua, kalau hanya aku yang kemari beliau tentu ada rasa sanksi atas jawabanmu yang nantinya akan kusampaikan padanya. Biar bagaimanapun aku satu komplotan denganmu bodoh. Ketiga, kalau hanya Ino yang kemari, kau bisa lihat sendiri. Ia belum bisa mengontrol emosinya saat berhadapan denganmu."
"Hei!" sela Ino tak terima.
"Keempat, karena…kemarin malam, Sakura datang padaku dan…ia mempercayakanku untuk menjagamu…"
Deg!
"Karena Hokage-sama bahkan Sakura bisa mempercayaiku, maka sudah seharusnya aku bisa menjaga rasa kepercayaan itu."
"Cih! Kepercayaan? Kau sendiri tak sadar bahwa kau sudah mengkhianati kepercayaan tim mu sendiri?"
"Jawab saja Sasuke, jangan mengalihkan pembicaraan!"
Sialan, bagaimana bisa Karin tahu bahwa ia sedang mengalihkan pembicaraan?
"Pilih sekarang. Sakura…atau bayi kalian?"
Ino mengeratkan genggaman tangannya. Sungguh, ia takut akan pilihan yang terlontar dari mulut Sasuke. Saat-saat kebersamaannya dengan Sakura dari kecil hingga dewasa berkelebat di pikirannya. Kalau bisa, ia ingin sekali memohon agar Sakura yang diselamatkan. Tapi, janin itu juga tak berdosa. Ia tak bisa seenaknya menghilangkan nyawa seseorang meskipun itu masih berupa janin. Apalagi, itu adalah calon anak sahabatnya.
Keheningan itu sungguh menyiksa. Karin berkali-kali menelan salivanya, gugup menunggu jawaban Sasuke. Sementara ia lihat Sasuke masih menundukkan kepalanya, entah apa yang dipikirkannya daritadi.
Perlahan, Sasuke mengangkat wajahnya. Tanpa ragu onyx kelamnya menatap ruby di hadapannya, "Aku ingin melihat Sakura. Sekarang."
Ino bingung, tentu. Kalau memang Sasuke tak peduli pada Sakura, untuk apa repot-repot ingin melihat. Tinggal pilih saja siapa yang ingin diselamatkannya. Apa ia sungguh tak percaya apa yang dikatakannya dan Karin sampai butuh pembuktian dulu?
Karin tersentak. Bukan, bukan karena jawaban Sasuke. Tapi karena tatapan tajam onyx itu. Ia tahu Sasuke pasti bisa merasakan di mana posisinya berdiri melalui cakranya. Tapi untuk langsung melihat tepat pada mata lawan bicaranya, apa iya Sasuke bisa setepat itu memprediksikan berapa sudut yang harus ia ambil agar bisa menatap matanya? Jangan-jangan…
"Sasuke, penglihatanmu sudah kembali?"
Ino terkejut. Bahkan saking terkejutnya ia tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Sasuke, bisa melihat? Pantas saja cakranya sudah lancar dan ia terlihat sehat. 'Kami-sama, Sakura…sebenarnya apa saja yang sudah kau korbankan semalam?' Batin Ino.
"Hn."
Karin ingin menangis rasanya, "Kami-sama, Sakura sungguh-sungguh menepati janjinya…"
Sasuke tersentak. Ya, ia baru ingat kalau Sakura pernah mengatakan ia akan merawat dirinya hingga sembuh. Dan kini, ia benar-benar sembuh. Perasaan takut mulai menyelimutinya. Mungkinkah Sakura benar-benar sekarat saat ini? Dan benarkan…ia hamil? Anaknya? Calon penerus Uchiha?
Sasuke-kun…
Jika aku mati, apakah kau akan bahagia?
Deg!
Ingatlah Sasuke, hukum karma itu berlaku…
0o0o0o0
TBC
0o0o0o0
Err…ada yang pengen membunuh saya kah?
Kalian pasti capek denger kata maaf dari saya, tapi cuma itu yang bisa saya ucapkan…
Gomen minna-san…
Saya masih sibuk skripsi, revisi sana sini, capek, bikin ide cerita saya buyar.
Tapi satu hal yang bisa saya janjiin, chap depan udah mulai banyak sasusakunya..^^
Yah, meskipun sakunya belum sadar.. :p
Dan…OOC pasti mulai bermunculan di chap depan…
Jadi, sebelum ada yg protes di chap depan soal sasu yg OOC, kalau emang gak suka, mending jgn baca ya…
Saya gak mau ada forum debat lagi, ok?
By the way, ada sedikit cerita. Tentang chap 1 yg saya yakin kebanyakan dari kalian udah tau saya di protes krn karena katanya chap 1 OTRH ngejiplak karya org dari pairing naruto-sakura. Saya pun udah mengklarifikasi hal tsb, tapi y…tetep aja yg protes gak mau denger.
Saya gak tau dia bakal baca ini atau gak, tapi saya pgn nyampein sesuatu. Thx bgt buat flame nya, really. Thx utk semuanya, tapi yg paling utama adl berkat flame anda, saya jd bisa berteman dengan author yg kata anda ceritanya saya copas utk chap 1 fic ini. Berawal dari saya yg berniat mengkonfirmasi dan meminta pendapatnya, saya jd banyak ngobrol sama dia, dan banyak dikasih masukan sebagai sesama author. Sungguh, wow…saya merasa beruntung sekali. Dan atas saran author itu pula, saya mengedit adegan di mana tadinya sakura mentransfer jiwanya kepada sasuke melalui kissing menjadi tidak. Maaf, saya tidak dapat mengubah keseluruhan cerita karena yang ada bakalan merubah seluruh jalan cerita chap-chap berikutnya. Lagipula author yg bersangkutan blg dia gak mempermasalahkan kok, Cuma dia menyarankan lebih baik saya mengedit adegan itu. Jadi untuk seterusnya tidak akan ada insiden seperti ini lagi.
Dan untuk para reviewer ku tercinta *cipokin satu2, thx juga utk dukungannya selama ini. Dan saya harap kotak review saya untuk chap ini dan seterusnya bersih dari perbincangan soal flame. Maksud saya, saya harap perbincangan saya di atas tidak kalian jadikan bahan mengisi kotak review saya untuk sekarang dan seterusnya. Lebih baik komentari yg lain, spt apakah kemampuan menulis saya menurun? Atau ceritanya membosankan? Sinetron abis? Atau malah bikin makin penasaran (evil smirk)?
Sekali lagi, saya ingin berterima kasih untuk siapapun anda yang memberikan saya flame waktu itu. Dan tentunya, untuk sang author senior yang menurut saya hebat dan sudah memberikan saya banyak masukan berarti, M Night Seiran.
Terakhir, maaf sebelumnya, sebenarnya saya pengen bgt balesin review kalian satu2. Tapi berhubung hal yang kalian tanyain intinya sama semua, jadi saya jawab langsung aja ya :
Q : Apakah fic ini akan berakhir sad ending?
A : Tidak. Saya sendiri benci cerita yang sad ending. Tapi, sebuah cerita terlihat happy ending atau sad ending kan tergantung dari sudut pandang orang yang membaca. :D
Q : Kok dalam beberapa jam Sakura udah bisa hamil?
A : Itu sih akal-akalan saya aja *iklan Qtela.. XD gak sebenarnya gini, Saku kan sekarat, sedangkan ada janin di perutnya. Otomatis si janin nyedot terus cakra Sakura buat bertahan hidup. Kalo saya bikin beberapa minggu kemudian saku baru ketahuan hamil, pakabar dunia cuy? Yang ada saku nya juga uda dikebumikan karena badannya udah keras.. xp lagipula emang saya pengen itu jadi rahasia aja. Emang dari awal biarlah itu menjadi rahasia keluarga Uchiha kelak..
Q : Apakah Sakura akan meninggal?
A : Hmm, kemarin2 saya bisa jawab dengan pasti kalau Sakura gak akan meninggal. Tapi untuk sekarang, we will see later aja deh. Bakal bocorin rahasia untuk chap berikutnya dong kalau saya ngomong sekarang. Chap depan akan terjawab sudah, Sakura yang meninggal, atau bayi mereka yang meninggal, atau malah dua-duanya meninggal? *menghilang bersama asap sebelum dirajam
=0o0o0o0=
Terima kasih (reviewer) :
Kaguya hitsugaya, poetrie-chan, beby-chan, noname, felsonspitfire, karasu uchiha, chiwa, kikyo fujikazu, hasni kazuyakamenashi stareels, incubus, deire cen, leesica, tabita pinkybunny, me, miyu, yume mashiro, choco momo, just ana, sherry, anastasya regiana, shena blitzryuseiran, celubba, ichi yukaiyun, tsukiyomi aori hotori, emiria tsubaki-san, bintang, lemon lovers, fire knight 17, cin-chan, uchiha hime is poetry celemoet, chikwang, Naomi azurania belle, the adev22, rey desrosiers, angin musim semi, mella-chan, blackcurrent626, saranghae thundersiwonoppa, chezahana-chan, sibum lovers, sasusaku kim, yue-chan, sasoyuki, mysticious, animea lover ya-ha, lily kensei, maya, soramaria, sunny, rara byun, natsuttebayo, el' amell, gummy smile hyukie, niendazaoldyeck, dorobbong-ikanmokpo, NN, resharukiruu, B2UTY, doremi saku-chan, vnilvsasusaku, mr. very very stupid, SS SK, naanno, sasusakuFTW, sakura3uchiwa, ritsuki, kanami gakura, medusa, ndyyceulceul, mauree-azure, andy's aysakura, kim keyna, bebCWIB uchiharuno, eet gitu, demetria rhadamanthus, mrs. Cho kyuhyun lophe, hikari hyun arisawa, aozu misora, Andromeda no rei, karasuke uchiharuno, blueharuchi uchiha, shimimichan, leezuyen. Vexsos, ELFbeauty4ever, rin, trancy anafeloz, , miyank, BY, blacklily, fivani-chan, otaku-chan, bunga salju, reader, riestiyani aurora, ibetha haruna, anka-chan, guest 1, guest 2, guest 3, guest 4, uchihana rin, guest 5, faridaanggara, fylin-chan, deauliaas, sasusaku, mikyo, diaam, el-yumiichann, kim haehae, quinza'tomatocherry, cherrysasusaku, berlian cahyadi, always sasusaku, karikazuka, lynch tojo, zetta hikaru, tsurugi de lelouch, jung hana cassie, guest 6, sasusaku 4ever, luci kuroshiro, ucucubi, guest 7, hannyhere, nina317elf, blackcherry, ayuzawa merin, teehee4869, jojo chan, sasa-hime, fhyyelf06, cherryeowook, pah, shelastraruki, miss devil a, mythaputri, inai chan, zzzz, garlic, cn bluetory, ichikawa soma, ichi uchiha, rikaintikakkekyo, s-savers, black boy, yoruichi shihounin kuchiki, snow's flower, scy momo cherry, kelinci kecil, sasusakuUN, haruno yuna, ayako hiranata uchiha, sparksomniA0321, lovys, mey hanazaki, guest 8, nanonano, na kashiwagi, kagoyama hanasaki, isakuraharuno, sasu, khaylila paradis, Cecilia khael haruno, lil'cute bear, silent, hikariWII, kim na na princess aegyo, gdtop, misty, , guest 9, ichi, Milan arizawa, ulq4schiffer, , guest 10, san xerardo, , hime mayura, sindi 'kucing pink, ryuten, guest 11, chintya hatake-chan, mimichu achita, kithara blue, sakurabelongtosasuke, .77, maesa syfa aja, chioque, guest 12, wong jowo, yoshikuni M, Rachel uchiharuno, syeir, azakayana yume, leedachi ardian lau, kimiko, yui toshiro, seihinamori, the mysterious hidden, haruno rhi uchiha, sasusaku lover, nagi sa mikazuki ananda, sami haruchi, melted cheese, luchia hiruma, 4everay, cruderabelica, loving sasusaku, fira sasusaku, nabila, nia-chan lavender girl, akira ichi, guest 13, retno uchiharuno, sparyeulhye, mewchan, moe, madge undersee, sasusaku kira, mimia, fizii.
=0o0o0o0=
Terima kasih (fav) :
Akina Takahashi, Andromeda no Rei, Animea Lover Ya-ha, Anka-chan, Aya-Chan Dattebane, Ayako Hiranata Uchiha, Azakayana Yume, BlueHaruchi Uchiha, Brian123, Bunga Sakura, CN Bluetory, Cecilia Khael Haruno, CherRyeowook, CherryPhia, Deauliaas, Doremi saku-chan, Dorobbong-ikanmokpo, EazyBill K, Emira Tsubaki-san, Fire Knight17, Formigaroyo, Fujimoto Yumi, Fuyu no MiyuHana, Haruno Sakura Cherry Blossoms, Haruno Yuna, Kaguya Hitsugaya, Karasu Uchiha, Khaylila Paradis, Kim Na Na Princess Aegyo, KimRyeona19, Kithara Blue, LeEdacHi aRdian Lau, Lee Min Ah, Luchia Hiruma, Luci Kuroshiro, Lyana Boci-Moci, Miss Devil A, Morena L, Na'cchan Tsuki No Me, Nagi Sa Mikazuki Ananda, NiendaZaoldyeck, Nyimi-chan, Phouthrye Mitarashi15, Quinza'TomatoCherry, Retno UchiHaruno, Ria Kismimoto, RikaIntikaKkekyo, Riku Aida, Sami haruchi, Sami haruchi 2, Sara BluePink27, Scy Momo Cherry, Sindi 'Kucing Pink, Snow's Flower, Trancy Anafeloz, Tsurugi De Lelouch, Uchiha Hime is Poetry CeLemoet, Wonder Women Numpak Rajawali, Yoruichi Shihounin Kuchiki, akasuna no ei-chan, anastasya regiana, bebCWIB uchiHAruno, celubba, cherrysasusaku, chezahana-chan, chioque, choKYUlate' is'MINe, dhindi-chan, dwinak wonjiyong, faridaanggara, hanistareels, hesti hyuga chan, ichi yukaiyun, , jung hana cassie, , mella-chan, natsuttebayo, , saito ayumu Uchiha, uchiha rin, uniquegals.
=0o0o0o0=
Terima kasih (followers)
Aika Yuuki Uchiha, Andromeda no Rei, Azakayana Yume, Brian123, CN Bluetory, Cecilia Khael Haruno, Deauliaas, Doremi saku-chan, FhYyELF06, Haruno Yuna, Himeka Kenta, Ichikawa Soma, Kaguya Hitsugaya, KarooMinnie, Kim Keyna, Kim Na Na Princess Aegyo, KimRyeona19, Kithara Blue, Kagoyama Hanasaki, Lee Min Ah, Lil'cute Bear, Madge Undersee, Miss Devil A, Morena L, Nagi Sa Mikazuki Ananda, Phouthrye Mitarashi15, Quinza'TomatoCherry, Retno UchiHaruno, Ria Kishimoto, RikaIntikaKkekyo, Riku Aida, Ryunkzhi, Ryuten, Sabaku no Uzumaki, SeiHinamori, Shena BlitzRyuseiran, Sherry Kurobara, Snow's Flower, Tezuka Yuki, The Mysterious Hidden, Tsurugi De Lelouch, Uchiha Vnie-vhan, ayy1090, bebCWIB uchiHAruno, beby-chan, blackcurrent626, cherry's emerald, dwinak wonjiyong, , gdtop, hasnistareels, ichi yukaiyun, l00.00l, miiarumyun chan, miki ite, natsuttebayo, nia-chan lavender girl, saito ayumu Uchiha, sasa-hime, sasusaku ShiRan, senayuki-chan, thestarcatcher, uchihana rin, uchiharuno nuha
=0o0o0o0=
Maaf jika ada kesalahan pengetikan nama
February 4, 2013
