Disclaimer :

Naruto - [Masashi Kishimoto]

Highschool DxD - [Ichiei Ishibumi]

By : ARIES.H

Warning : AU (Alternate Univers), Action, OOC, Gore, [mungkin alur berantakan], Friendship, Typo!.

Melihat Shikamaru dan Ibiki pergi Naruto kembali menatap ke depan. Berdiri di depan puluhan pengikutnya Naruto menatap datar para pengikut Uchiha Sasuke yang berada tak jauh di depannya. Walau begitu dari kedua kubu saling berhadapan itu tak ada satu pun yang bersuara. Hanya raut datar dan raut menantang dari kedua kubu itu tunjukan.

"Sungguh mengejutkan sosok ketua Jinchuriki datang ke daerah kekuasanku."

Mata biru beku Naruto menatap datar sosok pria berambut hitam dengan warna biru di beberapa bagian yang muncul dari balik kerumunan. Dan lebih menarik perhatiannya adalah sebuah tato ular hitam di samping kanan wajahnya.

'Jadi itu murid Orochimaru.'

"Daerah kekuasanmu? Lolucon apaan itu." Naruto membuka hodenya yang memperlihatkan rambut pirang emasnya, kemudian memejamkan kedua matanya sembari mematahkan lehernya ke kanan ke kiri yang membuat rambut pirangnya bergerak.

Mendengar itu mata hitam Sasuke menajam. Apa lagi Juugo pria berbadan besar di antara pengikut Sasuke memasang raut beringas dengan kedua tangannya mengepal yang di balut oleh sebuah perban.

"Jangan membuatku tertawa, bocah. Yang aku ingat daerah ini milik kekuasan Yakuza." ucap Naruto berjalan kecil ke samping kanan untuk mengambil sebuah balok kayu yang berada di atas sebuah box besar setinggi sepinggangnya. Setelah mengambil balok kayu itu Naruto kembali menghadap ke depan.

"Dan sekarang tidak lagi." ucap Sasuke membuat ke adaan menjadi tegang.

"Dan ku harap mulutmu harus di kontrol atau ularku yang akan menjaganya untukmu. " tambah Sasuke sedikit tak terima di panggil bocah. Tak peduli kalau sosok ketua yang sudah memiliki nama di Dunia para gengstar kini di depannya.

"Menarik!" gumana Naruto dengan seringaiannya. Melihat dari tadi tak ada rasa takut sedikitpun pada mata hitam itu ke padanya.

Wuuugg...

Tak di duga oleh siapapun dengan kuat Naruto melempar balok kayu yang di peganggnya ke arah depan dimana para pengikut Sasuke terlihat terkejut.

Bugh!

Dan dengan telak balok kayu itu menghantam kepala putih Suigetsu yang berada samping kanan Sasuke.

"BRENGSEK! KAU PIRANG!" Suigetsu dengan raut marahnya tak terima atas lemparan tadi meski deyutan sakit perlahan muncul di kepalanya. Walau begitu dengan bodohnya Suigetsu berlari ke arah Naruto yang hanya berdiri dengan seringaian kecil terpasang di wajahnya.

Tap!

Dugh!

Hanya dengan dua gerakan kecil dari Naruto tubuh Suigetsu yang selangkah lagi dengan Naruto seketika tumbung ke belakang.

Bruk!

Hening...

Rahang Sasuke mengeras melihat kejadian itu. Terlihat pengikut-pengikut setia Sasuke yang sudah mengetahui sosok pria berambut pirang ini sedikit gentar melihat Suigetsu alias tangan kanan Boss mereka yang di kalahkan dengan mudahnya. Juugo yang melihat Suigetsu dengan mudahnya di kalahkan hanya mengeratkan kepalan tangannya yang di balut perban, dia tau pria berambut pirang itu adalah ketua dari sebuah kelompok yang beranggotakan sembilan orang dan dengan rata-rata ke mampuan bertarung mereka sudah di akui oleh semua orang. Apa lagi yang berada tak jauh di depannya adalah ketua kelompok itu yang artinya, pria berambut pirang ini adalah orang yang terkuat dari semua anggota kelompok.

"Langsung ke intinya. Menyerah dan bergabunglah dengan ku." ucap Naruto dengan datar.

"Menyerah? Cih! Kau kira gelar yang kau sandang sekarang membuat ku takut. Jangan membual." Dan tepat setelah ucapan Sasuke tadi terlihat dari ujung gang lainnya muncul puluhan orang dari balik tembok bangunan. Dan karena itu membuat para pengikut Naruto mempersiapkan diri untuk bertarung.

"Oi! Oi...! Apa itu tak terlalu banyak!" bisik Sora yang berada di samping Konohamaru. Maklum saja dia baru kali ini mengikuti perang dengan lawan berjumlah lebih dari tiga puluh orang.

"Persiapkan saja dirimu, Sora." Konohamaru mengeratkan kepalan tangannya.

Naruto yang melihat itu tak mengubah ekspresinya dan kembali menghadap ke depan.

"Sungguh mengejutkan. Aku tak menyangka kau memiliki pengikut sebanyak ini." Dingin Naruto dengan melipatkan kedua tangannya di dada. "Tapi kalau memang begitu.. Habisi mereka. Kalau perlu bunuh mereka." ucap Naruto lagi memberikan tatapan dingin ke arah Sasuke.

Bersamaan dengan itu Sasuke mengangkat tangan kanannya ke atas dengan matanya tak kalah dingin membalas tatapan dari Naruto. "Serang mereka!"

Naruto tetap diam menatap puluhan pengikut Sasuke yang berada di depannya tengah berlari ke arahnya dengan raut beringas.

"HAAYYYAA...!" . "YAAAAA!"

Naruto masih diam berdiri bersidekap dada di tempat, menatap sebagian para pengikutnya sudah berhadapan dengan lawannya masing-masing dan sebagaian para pengikutnya yang tengah menghadapi para pengikut Sasuke yang berada di belakangnya dia hiraukan. Meski pengikutnya kalah jumlah tak ada rasa takut sekalipun di kepalanya. Bahkan dia hanya diam tak bergerak saat Sasuke dengan beringas menghajar pengikutnya.

Bugh! . Brak!

Kedua tubuh pria pengikut Sasuke itu terpelanting ke belakang saat dengan sekuat tenaga Sora menonjok dan menjejek mereka berdua.

Bugh!

Sora yang sibuk menghajar para pengikut Sasuke tiba-tiba di kagetkan oleh sebuah kepalan tinju menonjok wajahnya dari samping hingga tubuhnya sedikit hilang ke seimbangan.

"BRENGSEK!- sial!" Menoleh untuk melihat siapa pelakunya Sora mendapati tubuh besar Juugo yang akan menghajarnya kembali.

Bugh!

Tubuh Sora seketika hilang ke seimbangan dan jatuh dengan raut kesakitan saat ke dua kalinya Juugo menonjok wajahnya.

Menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menghilangkan pandanganyan yang buram Sora perlahan menegakan kembali badannya.

Bugh!

"Uchk!" pandangan seketika terfokos dengan mulut menganga tak lupa raut kesakitan Sora saat Juugo menghajar perutnya.

Seolah masih belum selesai Juugo dengan cepat menjambak rambut Sora yang masih mengerang kesakitan.

Dugh!

Dan dengan sekuat tenaga lengkap dengan seringaian kemenangan Juugo menghantamkan sikut kanannya ke wajah Sora sebelum dia kembali menghajar wajah Sora ke empat kalinya. Menghiraukan darah segar yang sudah melumuri seluruh kepala pengikut Naruto itu.

Namun tak lama tiba-tiba dari arah belakang Konohamaru entah muncul dari mana langsung menghantamkan batang besi yang dia rebut dari salah satu pengikut Sasuke ke kepala Juugo.

Bruk!

Konohamaru hanya menatap datar tubuh Juugo yang tumbang seketika dengan kepala berlumuran darah.

Batang besi hitam yang dia genggam perlahan meneteskan darah segar, entah darah siapa itu yang pasti dia sudah banyak membabat habis para pengikut Sasuke dengan batang besi tumpul ini.

"Kau telat bodoh!" Sora perlahan berdiri sambil memegangi wajahnya yang babak belur berlumuran darah karena Juugo yang masih terasa berdenyut-denyut.

Menendang-menendang kecil tubuh Juugo yang dari tadi tak bergerak sama sekali setelah batang besi menghantam kepalanya Sora mengalihkan pandangannya ke Konohamaru yang tak jauh di dekatnya tengah mengayunkan batang besi yang dia genggam ke pengikut-pengikut Sasuke yang berada di dekatnya, tak peduli mati atau tidak yang terkena hantaman batang besinya.

"Hahahaha... Cih! Bahakan aku lupa kalau membunuh sudah tak tabu lagi di kehidupanku." tawa kecil Sora melihat teman sohibnya dengan beringas menghajar para pengikut Sasuke.

Tak jauh dari kedua kubu yang saling bertarung itu, tepatnya di balik sebuah tembok bangunan seorang gadis memakai seragam Sekolah berambut merah tengah memeluk lututnya. Tak hanya itu kedua tangan mungilnya bergetar hebat dengan keringat dingin membasahi wajah ayunya yang di hiasi oleh sebuah kaca mata hitam terkesan feminim. Bahkan dari tadi gadis itu terus memejamkan kedua matanya dengan erat seolah mencoba mengendalikan ketakutannya. Bahkan dari lubuk hatinya dia selalu berdoa untuk kaka tercintanya agar tak terjadi apa yang tak dia inginkan. Niatnya setelah pulang Sekolah dia ingin mengulangi kegiatan sehari-harinya yakni menjenguk kakanya. Namun baru akan memasuki gang terakhir dimana tempat kakanya berada dia di kejutkan oleh perkelahian besar antara pengikut kakaknya dengan kelompok asing.

"Nii-chan.." lirihnya.

©ARIES.H©

Beberapa menit kemudian.

Naruto hanya diam berdiri tanpa rasa gentar kepada para pengikut Sasuke yang tinggal tak lebih dari tiga puluh kini tengah mengepungnya. Bahkan Naruto hanya menatap datar para pengikutnya yang sudah tergeletak dengan mengerang kesakitan atau mungkin di antaranya sudah mati akibat kalah jumlah.

'Cih! Tatapannya sungguh memuakan!' batin Sasuke yang masih berdiri meski dengan nafas tersendat-sendat. Namun tak lama tatapannya dia endarkan, alisnya tertekuk tajam menyadari sesuatu.

'Dimana dia? Atau...' Sasuke tak menyadari keberadaan Juugo pengikut paling setianya. Namun mata langsung tertuju kepada Naruto yang bergerak.

'Apa dia dari tadi hanya diam saja?'

Tiba-tiba mata Sasuke menajam dengan menyiapkan diri untuk bersiaga saat melihat dengan cepat sosok Naruto berlari ke arahnya dengan pandangan datar. Terlihat juga para pengikut Sasuke yang mengepung Naruto seketika berlari ke arah Naruto seolah tau Boss mereka tengah di incar.

Bugh! . Dugh! . Brak!

Masih dengan raut datar Naruto menghajar pengikut-pengikut Sasuke yang menghadangnya.

Bugh! . Brak!

Raut Naruto masih datar meski kini dia dalam keadaan di kepung dan terus menghajar para pengikut Sasuke dengan mudahnya. Gerakan cepat dan tepat membuat pengikut-pengikut Sasuke tumbang seketika. Dan tak butuh lama semua sisa pengikut Sasuke Naruto kalahkan dengan mudah.

Krkak!

Sebuah suara kecil saat Naruto mematahkan lehernya ke kanan ke kiri. Kemudian menatap datar Sasuke tak jauh di depannya. Terlihat di sekitarnya berdiri sisa para pengikut Sasuke yang tadi melawannya sudah tergeletak semua. Sekarang hanya Sasuke dan Naruto yang berdiri saling berhadapan di antara puluhan tubuh orang yang tergeletak tak berdaya.

"Untuk seukuran brandalan kau sungguh hebat mempunyai pengikut sebanyak itu dalam waktu singkat." ucap Naruto sembari membetulkan kerah jaketnya yang sedikit kotor. "Namun mengingat kau adalah murid didikan Orochimaru, membuatku tak heran."

"Jadi mau berubah pikiran. Bergabung denganku?" Naruto kembali bersuara.

"He! Kau pasti sudah tau jawabanku.." Sasuke mengeratkan kedua kepalan tangannya.

"Jadi begitu. Baiklah sekalian aku ingin melihat sekuat apa orang yang ingin membalaskan dendam keluarganya kepada kake tua gila itu." Naruto menyeringai.

Deg!

Mata Sasuke seketika menajam mendengar itu.

Seringaian Naruto semakin mengembang melihat reaksi Sasuke. "Sungguh ironi, hanya masalah kecil sebuah keluarga besar seketika jatuh bagai gelas yang pecah."

Rahang Sasuke semakin mengeras.

"Ya... Aku mengetahuinya. Tentu saja dari mulut orang yang sudah membantai keluarganya sendiri."

"KAAU!" Dengan emosi membeludak Sasuke berlari ke arah Naruto.

Naruto yang melihat itu hanya menyeringai senang. Kemudian memiringkan kepalanya ke samping untuk menghindari pukulan Sasuke.

Bugh!

Mata Sasuke membulat akibat tinjuan cepat Naruto.

"Lambat." ucap Naruto dan dengan gerakan cepat menendang tulang kering Sasuke untuk membuat kehilangan keseimbangannya sebelum dengan gerakan berputar menjejek Sasuke hingga terpental satu meter.

"Sungguh mengecewakan. Kau pikir dengan dirimu saat ini dapat membalaskan dendammu." Naruto kembali menghindari pukulan tendangan yang di lancarkan Sasuke setelah bangkit dari terjatuhnya tadi.

Tap!

Menangkap kelapan tinju itu, "Mengecewakan!" Naruto dengan cepat menghantamkan sikut kanannya ke wajah Sasuke.

Mengerjapkan kedua matanya yang berkunang-kunang Sasuke berusaha memfokuskan pandangannya ke arah Naruto.

"Hanya segini?"

Bugh!

Naruto kembali menonjok wajah Sasuke yang masih tak fokus. "Kalau begini kau hanya memalukan gurumu apa lagi dendammu itu, buang lah jauh-jauh tujuan itu." Naruto kembali menghajar kepala murid didikan Orochimaru itu.

"BERISIK! Tau apa kau tentang ku! HA!" Sasuke memfokuskan pada gerakan cepatnya untuk menyerang Naruto menghiraukan darah segar mengalir dari kedua lubang hidungnya.

Bugh! . Bugh! . Bugh! . Bugh!

Tanpa ampun dengan tenaga penuh Sasuke mencoba memukul Naruto dan sesekali menendangnya. Namun dengan mudahnya oleh Naruto hindari atau menangkisnya. Tentu saja orang yang sedang di kendalikan emosi sangat mudah di baca pikirannya.

Bugh!

Kepala Naruto terpelanting ke samping akibat pukulan Sasuke mengenainya. Namun hal itu tak membuat konsentrasinya hilang, dengan cepat Naruto menangkap tangan Sasuke yang mencoba memukulnya.

Tap!

'Menarik, memanfaatkan emosinya untuk bahan bakar tenaga.' batin Naruto. Kemudian dengan cepat memukul wajah Sasuke yang tengah lengah akibat tenaganya terkuras habis. Melihat Sasuke yang sedikit terpelanting ke belakang, Naruto dengan dua langkah cepat ke depan menjejek perut Sasuke sebelum dengan cepat saat badan murid didikan Orochimaru itu membungkuk kembali memukul wajah Sasuke. Darah segar Sasuke melumuri kedua tangannya Naruto tak pudulikan, dengan cepat mencengkram rambut ketua Geng HEBI itu sebelum dia benturkan kepala Sasuke ke lutut kanannya dua kali sebelum dia hempaskan belekang hingga terlentang tak berdaya.

Mematahkan lehernya ke kanan ke kiri karena merasakan di bagian lehernya kaku, Naruto kemudian melangkah pelan mendekati Sasuke yang tengah terlentang dengan berlumuran darah di beberapa bagian yang mengotori bajunya.

Naruto meletakan kaki kanannya di perpotongan leher Sasuke setelah tiba di samping kiri tubuhnya.

"Menyedihkan." dingin Naruto dengan pandangan datar ke arah Sasuke, kaki kanannya dia angkat untuk mengeksekusi murid didikan Orochimaru ini.

Dugh!

Walau pandangannya sedikit buram dan tak fokus akibat rasa sakit yang mendera di bagian kepalanya Sasuke yakin dia melihat sebuah batu bata dengan tiba-tiba entah dari mana asalnya menghantam kepala pria berambut pirang itu.

Namun tiba-tiba Sasuke menyadari sesuatu, 'Kuharap bukan dia!'. Namun sayang apa lagi suara feminim terdengar keras di dekatnya membuat dugaannya benar.

"JANGAN SAKITI NII-Chan!"

Menurunkan kaki kanannya Naruto menyentuh pusat denyutan di kepalanya, dia melihat darah segar melumuri telapak tangan kirinya. Kemudian menoleh menatap ke arah gadis berambut merah memakai kaca mata dengan pakaian mengenakan seragam Sekolah.

Karin nama gadis itu sedikit takut melihat reaksi pria berambut pirang yang mau menyakiti kakanya hanya diam tak menunjukan rasa sakit apapun. Padahal dia yakin batu bata yang dia pungut di salah satu bangunan tembok rusak di dekat persembunyiannya tadi itu asli dan keras. Apa lagi dia melemparkannya ke kepala. Kedua kakinya melangkah mundur saat pria pirang itu berjalan mendekatinya dengan pandangan datar apa lagi tangan kanannya memegang batu bata yang dia lempar tadi, di tambah darah segar mengalir di sebagian wajahnya menambah kesan hororr untuk dirinya. Namun baru tiga langkah dia tersandung oleh tubuh salah satu pengikut Sasuke yang tergeletak, entah mati atau tidak.

"Nii-chan?" guman Naruto menatap datar gadis di bawahnya ini yang tengah tersimpuh sambil merintih kesakitan memegangi pergelangan tangan kanannya akibat saat tersandung beban tubuhnya langsung di tumpu pada tangan kanannya.

Mata Karin di balik kaca mata itu membulat saat sebuah tangan berbau anyir mengangkat dagunya untuk mendongak dan tepat saat mendongak wajah Naruto lah di depan wajahnya. Entah sangat ketakutan kepada sosok Naruto, Mata Karin berkaca-kaca dengan raut seakan mau menangis.

"JANGAN SENTUH DIA BERENGSEK!"

Menghiraukan terikan berisik Sasuke, Naruto berucap kepada Karin. "Aku tidak tau siapa kau, tapi apa kau tau di lempar benda keras itu menyakitkan atau tidak."

Karin tetap diam dengan mata di balik kaca matanya semakin berkaca-kaca.

"JANGAN DIAM SAJA BODOH! LARI!" teriak Sasuke berusaha merangkak untuk mendekati keduanya.

"Kau tidak tau?" ucap Naruto kepada Karin menghiraukan teriakan Sasuke. Genggaman pada batu bata dia eratkan. "Baiklah kalau kau tidak tau kau yang akan membuktikannya."

"BAIKLAH AKU AKAN BERGABUNG DENGANMU! TAPI KAU JANGAN MENYENTUH ADIKKU! PUASS! HAA!"

Bersamaan dengan itu tangan Naruto berhenti, menyeringai kecil. Dan menatap gadis berambut merah ini tengah memejamkan kedua matanya erat-erat dengan jejak air mata mengalir di kedua pipi putihnya. Melepaskan dagu gadis ini Naruto menegakkan badannya dan melemparkan batu bata yang di genggamnya ke sembarang arah. Si gadis hanya membuka kedua kelopak matanya.

"Siapa namamu?" ucap Naruto.

"K-karin N-namikaze." Karin terbata.

Setelah mendengar itu Naruto membalikan badannya dan berjalan pelan dengan memasukan kedua tangannya ke saku celana.

Menghentikan langkahnya tepat saat di samping tubuh Sasuke yang menatapnya tajam.

"Tepati ucapanmu, kalau tidak... Adik manismu akan ku ambil." tempat setelah mengatakan itu Naruto melanjutkan jalannya. Namun baru empat langkah Naruto berhenti dan merogoh saku celananya untuk mengambil Hand Phone nya yang berbunyi.

"Bagus, bawa dia ke Club. Dan jangan lupa bereskan masalah yang ada di sini. Yang mati tinggalkan saja." Naruto memutuskan sambungan dengan sepihak kemudian melanjutkan berjalannya.

To. Be. Continued~

Next Chapter 7!

A/N : Pertarungan antara Naruto dan Sasuke sudah berakhir dengan kemenangan telak Naruto. Dan perlahan semua konflik akan bermunculan. Harga diri, kekuasaan, dendam, penghianatan akan menunjukan betapa kerasnya kehidupan Dunia yang di selimuti kedamaian palsu ini.

Out~