CHANBAEK shipper mana suaranyaaaaa?

Yuhuuuuuuuuu...!

Guys, kalian pasti udah pada nebak kalo bakalan ada penambahan karakter baru ya kan?

Nah ini dia... ;)

.

.

.


Previous chapter...

Ibu menjadi tidak sabar.

Tetapi melihat Chanyeol yang seakan acuh pada perempuan, mau tak mau membuatnya khawatir. Sampai kapan dia harus menunggu Chanyeol menemukan wanita yang dia cintai kalau selama ini Chanyeol selalu dingin pada setiap wanita? Apalagi dengan Sehun yang kini sudah memiliki kekasih dan mendesak ingin segera menikah.

Sebagai seorang ibu, tentu saja dia tidak bisa tinggal diam. Sampai kapanpun, jika dia membiarkan Chanyeol melakukan apapun sesuai keinginanya, ibu yakin anak sulungnya itu tidak akan pernah menikah. Dia terlalu dingin, sikapnya persis seperti suaminya dulu. Kalau saja dulu dirinya tidak berinisiatif untuk mengawali perkenalan mereka terlebih dahulu pada sang suami, mungkin mereka tidak akan menikah dan memiliki dua orang putra yang tampan sekarang.

Ah mungkin aku harus turun tangan demi Chanyeol, ujar ibu dalam hati.

.

.

.


IF I COULD CHOOSE...

Chapter 6

Cast :

Baekhyun, Chanyeol, Sehun, Kyungsoo EXO (pairing CHANBAEK, SEBAEK, dan CHANSOO)

Genre :

Romance, Hurt, Sad

Rate :

T/ M / Gender Switch (GS)

FF ini terinspirasi dari sebuah cerita yang pernah aku tonton dari tivi (lupa judulnya *mian*)

Cerita dan alurnya serta dialognya milikku.

Happy reading!

.

.

.


Nyonya Park melintasi lapangan taman kanak-kanak itu dengan perasaan sedikit berdebar. Mungkin karena sudah lama sekali sejak terakhir kali dia ingat pernah mengantarkan kedua anak laki-lakinya bersekolah. Juga karena alasan lain, dia akan menemui seseorang. Seseorang yang diharapkan akan menjadi masa depan untuk anak sulungnya.

Nyonya Park menghampiri satu kelas yang diketahuinya adalah kelas di mana gadis itu mengajar. Dia mengintip dari jendela dan menemukan orang yang dicarinya sedang mengajar anak-anak dengan telaten dan penuh kasih sayang. Nyonya Park tersenyum. Dia menunggu sampai bel pulang sekolah berakhir dengan berdiri di sana; memperhatikan dengan seksama.

Ketika bel pulang berdering dan anak-anak mulai berhamburan keluar dari kelas untuk kembali pada asuhan orangtua masing-masing di rumah, gadis itu adalah orang terakhir yang keluar dari kelas sambil memekik pada salah seorang anak, "Jangan berlari! Nanti kau jatuh, Hyun!"

"Kyungsoo?" nyonya Park menyapa. Senyum tak pernah surut dari bibirnya.

Gadis itu menoleh ketika seseorang melafalkan namanya. Matanya yang bulat melebar ketika mengetahui siapa sosok yang tengah berdiri tak jauh darinya itu. "N-nyonya Park?" tanyanya tak percaya.

"Apa kabar, Kyungsoo?"

"Nyonya Park! Ya Tuhan! Apa kabar? Kenapa anda bisa datang kemari? Oh Ya Tuhan! Sudah lama sekali saya tidak berjumpa dengan anda, nyonya," ujar Kyungsoo panjang lebar. Dia hanya tidak menyangka bisa dipertemukan kembali dengan wanita paruh baya itu di sini. Setelah hampir sepuluh tahun tidak berjumpa. "Saya baik, nyonya. Anda sendiri bagaimana?"

"Seperti yang kau lihat, aku juga baik, Kyungsoo.

"Saya dengar tuan Park sudah..."

"Ya. Ayah anak-anak sudah meninggal. Sekarang aku tinggal bersama Chanyeol dan Sehun saja."

"Oh maafkan saya, nyonya. Saya dan ibu tidak datang untuk memberikan penghormatan terakhir untuk suami anda..."

"Tidak apa. Aku datang kemari bukan untuk membicarakan hal menyedihkan itu," kata nyonya Park sambil tersenyum lembut.

Kyungsoo sedikit mengerutkan alisnya, antara bingung dan penasaran. "Bagaimana kalau kita bicara di ruangan saya saja, nyonya?"

"Baiklah. Ayo."

.

.

.

Do Kyungsoo bukan seorang gadis yang berasal dari keluarga terpandang. Dulu sebelum jatuh sakit, ibunya adalah seorang pembantu rumah tangga di kediaman keluarga Park. Kyungsoo kecil sering membantu ibunya memasak, atau melakukan pekerjaan lain seperti menyapu, mengepel, dan membenahi kamar tidur kedua putra keluarga Park.

Kyungsoo juga kerap membantu nyonya Park merawat bunga-bunga di halamannya. Itu mengapa nyonya Park sangat menyukai Kyungsoo. Gadis itu cantik dan sopan. Dan entah kenapa tiba-tiba saja nyonya Park teringat pada gadis itu. Sudah sepuluh tahun berlalu sejak ibu Kyungsoo berhenti bekerja di rumahnya. Dan dari kabar yang dia dengar, Kyungsoo kini sudah menjadi seorang guru taman kanak-kanak.

Tiba-tiba saja dia berpikir untuk menjodohkan Chanyeol dengan Kyungsoo.

Ya, mengapa tidak, pikir nyonya Park.

Oleh karena itu tadi siang dia datang ke taman kanak-kanak tempat Kyungsoo bekerja. Dan kabar baiknya, ternyata sampai saat ini Kyungsoo masih lajang. Dan kesempatan ini tentu saja tidak akan disia-siakan nyonya Park.

"Kyungsoo?" Chanyeol mengerutkan dahinya, mengerahkan ingatannya untuk mengenali sosok yang bernama Kyungsoo itu. Namun setelah beberapa saat, dia menggeleng. "Aku tidak ingat, bu. Ada apa dengan si Kyungsoo ini? Kenapa ibu tiba-tiba ingin membicarakannya? Aku sedang banyak pekerjaan," kata Chanyeol sambil membolak-balikkan berkas di atas meja kerja.

Ibu menghela napas sedikit kesal. "Apa tidak bisa kau simpan dulu pekerjaanmu dan dengarkan ibumu ini? Ada hal penting yang ingin ibu bicarakan denganmu."

"Tidak bisa, bu. Berkas ini harus sudah selesai kuperiksa malam ini juga," kata Chanyeol dengan cukup sabar. "Tapi kalau ibu bersikeras, aku akan menyisihkan waktu sepuluh menit untuk mendengarkan ibu."

"Ya ampun! Kau anggap apa ibumu ini? Klien?" protes ibunya. Namun tak ayal, wanita paruh baya itu segera mengutarakan maksudnya pada Chanyeol. Dia tahu anaknya memang sibuk. Tapi menunda pembicaraan ini juga rasanya dia tidak sanggup. Dia sudah tidak sabar ingin segera menjodohkan Chanyeol dengan Kyungsoo. "Kau ingat kan dulu kita pernah mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga?"

"Bibi Do?" tebak Chanyeol. Memang hanya wanita itulah satu-satunya pembantu rumah tangga yang pernah bekerja di kediaman keluarga Park.

Ibu mengangguk antusias. "Nah, itu kau ingat. Kyungsoo adalah anak perempuan bibi Do."

Chanyeol terdiam untuk beberapa saat. "Lantas?"

"Kyungsoo sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Sekarang dia bahkan bekerja menjadi guru di taman kanak-kanak," terang ibunya.

"Bu..." Chanyeol menatap ibunya. Dia tidak paham kenapa ibunya tiba-tiba menceritakan gadis itu. "Tidak usah bertele-tele."

Mendapat tatapan seperti itu dari anak sulungnya, ibu berdehem pelan. "Maksud ibu adalah...uhm...ibu ingin mengundang Kyungsoo untuk makan malam di rumah. Nanti kalian bisa mengobrol banyak hal. Siapa tahu kalian cocok. Kalian bisa memulainya dari perteman—"

"Apa maksud ibu?" Sekarang Chanyeol menatap ibunya curiga.

Ibu menghela napas. Memang sulit sekali berbicara pada anak sulungnya ini. Responnya selalu dingin. "Ibu hanya sedang berusaha mencarikan calon istri untukmu," kata ibu pada akhirnya, membeberkan apa yang ada di kepalanya pada Chanyeol. Dengan waswas ibu menanti reaksi di wajah anak sulungnya itu.

Chanyeol menatap ibunya untuk beberapa saat tanpa berkata apa-apa. Kemudian dia kembali pada pekerjaannya, menelusuri berkas-berkas di atas meja.

"Kalau Sehun ingin segera menikah, lakukan saja. Jangan pedulikan aku. Pada akhirnya aku mungkin hanya akan menikahi tumpukan berkas ini. Lagipula hanya mereka yang selalu setia di sisiku, tidak pernah mau beranjak pergi," kata Chanyeol pahit.

"Jangan begitu, nak. Ibu ingin kau hidup bahagia. Dan ibu yakin Kyungsoo bisa membahagiakanmu. Menjadi istri yang baik bagimu kelak."

Tahu apa ibu soal kebahagiaanku, batin Chanyeol sedih. Apa dengan menjodohkanku bisa membuat hidupku bahagia? Bukankah itu hanya akan semakin menyakiti perasaanku? Merenggut kebebasanku dalam memilih wanita mana yang kuinginkan?

"Waktu sepuluh menit ibu sudah habis," kata Chanyeol sambil melirik jam dinding di ruang kerjanya. "Segeralah tidur, bu."

Ibu mendesah putus asa. "Baiklah, ibu akan pergi. Tapi setidaknya kau harus mempertimbangkan tawaran ibu barusan."

Chanyeol tidak menjawab. Dia menyaksikan ibunya menyelinap keluar dari ruang kerjanya dalam diam.

Sepeninggal ibunya, Chanyeol menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. Kepalanya pening bukan main. Selama ini dia selalu merasa kasihan pada Sehun. Adiknya itu terlahir kurang beruntung karena sejak kecil sudah sakit-sakitan dan segala bentuk aktifitasnya benar-benar dibatasi oleh orangtua mereka. Tapi rupanya dia salah. Dia lebih menyedihkan dari Sehun.

Dirinyalah orang yang tidak beruntung itu. Menyukai musik dianggap sebagai sebuah dosa dan pekerjaan tak berguna oleh ayahnya. Padahal musik adalah satu-satunya pembangkit semangat dalam hidup Chanyeol yang terkesan begitu monoton itu. Lalu sekarang, ibu beranggapan bahwa dirinya tidak mampu mencari calon pendamping hidupnya sendiri. Dia tidak diberi kesempatan untuk memilih dan memutuskan apapun dalam hidupnya.

Chanyeol menghela napas panjang. Pikirannya menerawang.

Kyungsoo... Anak perempuan bibi Do... Batinnya berusaha mengingat-ingat. Apa mungkin yang dimaksud ibu adalah gadis yang bermata belo itu? Yang setiap kali aku berpapasan dengannya, dia selalu terkejut seperti sedang melihat hantu? Dia memang cukup cantik. Tapi siapa pun dia, kalau bukan Byun Baekhyun, aku tidak menginginkannya...

.

.

.

Mungkin orang akan beranggapan bahwa Chanyeol sudah kehilangan akalnya. Tetapi dia tidak peduli. Dia memang sudah kehilangan akalnya—mungkin. Oleh karena itu, dia tidak terkejut ketika menemukan mobilnya sudah terparkir di halaman rumah sakit tempat Baekhyun bekerja.

Chanyeol tidak langsung turun. Dia memutuskan untuk duduk sebentar di dalam mobilnya, mengawasi pintu masuk utama rumah sakit itu dengan seksama. Sebentar lagi... Ya, sebentar lagi dia akan datang pada gadis Byun itu. Dan...menyatakan perasaannya, mungkin?

Persetan dengan Sehun!

Dan, persetan dengan perjodohan yang akan diatur ibunya!

Kalau orang lain bisa bersikap egois, dia bisa sepuluh kali lipat lebih egois!

Di dunia ini, bukan hanya Sehun saja yang bisa menjadi 'pemeran utama', dirinya pun bisa mendapatkan posisi itu. Tentu dengan sedikit usaha dan beberapa trik licik. Asalkan bisa mendapatkan Baekhyun, apa pun rela dia lakukan. Termasuk menyingkirkan Sehun dari pusaran percintaan ini.

Dia harus mendapatkan Baekhyun. Harus.

Menghela napas panjang, Chanyeol turun dari mobilnya dan dengan langkah besar memasuki gedung rumah sakit. Untuk beberapa saat dia berdiri di lobi sambil mengedarkan pandangannya. Biasanya Baekhyun ada di sana, mengobrol dengan staf atau teman sesama perawatnya menjelang jam makan siang begini.

Dan sepertinya memang dewa keberuntungan sedang berpihak padanya kali ini. Byun Baekhyun ada di sana. Dengan pakaian perawat kebanggaannya. Tampak cantik dan menggoda seperti biasa. Memperdaya.

.

.

.

"Kau lagi?" Baekhyun melebarkan matanya ketika mendapati sosok Chanyeol sudah menunggunya di lobi rumah sakit pada jam makan siang.

"Sepertinya kau tidak senang melihatku," kata Chanyeol sambil menghampiri Baekhyun dengan sebuah seringai khas dan tatapan mata yang sudah kerap sekali dia berikan pada gadis itu.

"Ini jam makan siangku. Waktuku hanya satu jam. Kalau kau sakit atau ada urusan apapun, silahkan hubungi staf yang sedang bertugas."

"Justru aku datang ke sini untuk mengajakmu makan siang," kata Chanyeol.

Baekhyun menatap Chanyeol dengan terkejut. "Maaf? Barusan kau bilang apa?"

"Makan siang. Denganku. Di luar. Bagaimana?" Chanyeol memperjelas setiap kata-katanya.

Tidak percaya dengan apa yang didengarnya, Baekhyun hanya bisa tertawa hambar. "Tidak, terima kasih. Kau pasti sedang melantur. Lagipula aku akan makan siang di kantin rumah sakit saja."

Baekhyun beranjak pergi. Meladeni Chanyeol yang keras kepala dan menyebalkan hanya akan membuang waktu istirahatnya saja. Sementara pekerjaan yang melelahkan sudah menantinya hingga sore hari nanti. Dan Baekhyun butuh asupan tenaga supaya bisa menjalani sisa pekerjaannya hari ini.

Namun belum sempat dia melangkah, Chanyeol sudah menghalangi jalannya. Menatapnya dalam jarak yang cukup dekat. Baekhyun mundur dengan jengah. "Apa lagi?"

"Aku tidak suka ditolak."

"Kalau begitu jangan mengajakku. Karena untukmu, aku akan selalu berkata 'tidak'."

Chanyeol menggertakkan giginya. Gadis ini menarik. Sungguh menarik. Menarik sekaligus selalu membuatnya mendidih. "Bisa tidak kau bersikap manis sedikit saja padaku?"

"Tidak."

Astaga! Chanyeol ingin sekali menjambak rambutnya sendiri. Gadis ini benar-benar pandai membuatnya frustasi. Putus asa atas penolakan Baekhyun, dengan terpaksa Chanyeol menyeret gadis itu.

"Yak!" pekik Baekhyun. Otomatis teriakannya menarik perhatian orang-orang di sana. "Lepaskan tanganku!" kali ini Baekhyun memelankan suaranya, tapi nada jengkel masih tetap berada di puncak suaranya.

"Tidak," sahut Chanyeol singkat sambil menyeret Baekhyun keluar dari rumah sakit.

Percuma saja meronta. Tenaga pria ini begitu kuat. Dan pada akhirnya Baekhyun hanya bisa pasrah mengikuti ke mana pun Chanyeol membawanya. Pria itu membawa Baekhyun masuk ke dalam mobilnya dan memasangkan seatbelt layaknya seorang gentleman.

Kemudian dia berjalan cepat ke sisi lain mobilnya dan duduk di kursi kemudi. Setelah memasangkan seatbelt untuk dirinya sendiri, Chanyeol mulai melajukan mobilnya.

"Kau ingin makan siang di mana? Punya rekomendasi restoran yang bagus?" tanya Chanyeol setelah hampir lima menit mereka tidak bicara.

Baekhyun hanya mampu mendelik sebal. Wow, pria ini pandai sekali berakting. Dia bersikap seolah Baekhyun dengan senang hati pergi bersamanya. Bicaranya santai sekali.

"Kenapa kau selalu mengganggu hidupku?" tanya Baekhyun.

"Bagaimana kalau di restoran jepang? Kau suka sushi?" tanya Chanyeol, mengacuhkan pertanyaan Baekhyun. "Oh, atau kau mau makan pasta?"

"Kau tahu apa yang kuinginkan sekarang?" tanya Baekhyun balik.

"Apa itu?"

"Aku ingin mencekikmu sampai kau mati! Puas?" geramnya jengkel. "Sekarang, kembalikan aku ke rumah sakit!"

"Tapi aku lapar," protes Chanyeol sambil mengerucutkan bibirnya. Oh tidak, dari mana dia belajar merengek seperti itu?

"Aku tidak peduli."

"Kau juga lapar kan?"

Baekhyun menghela napas. Membuang pandangannya ke luar jendela mobil.

"Ayolah kali ini saja kau tidak usah jual mahal," kata Chanyeol. Dan kalimatnya itu sukses membuat emosi Baekhyun meledak.

"Jual mahal?!" Baekhyun terbelalak. "Aku bukan jual mahal! Kau tahu? Aku hanya tidak suka berada di sekitar pria brengsek sepertimu!"

Raut wajah Chanyeol seketika berubah serius. "Jaga mulutmu, Byun Baekhyun!"

"Kenapa? Kau tidak suka aku berbicara kasar?" tantang Baekhyun. Mendapat tatapan geram dari Chanyeol pun dia sama sekali tidak gentar. "Brengsek! Brengsek! Brengsek!"

Dengan perasaan teramat jengkel, Chanyeol menghentikan mobilnya. Dia menatap tajam pada Baekhyun. Tatapannya seolah hendak melubangi bola mata gadis itu. "Coba katakan sekali lagi," kata Chanyeol dengan suara rendah.

"Be-reng-sek!"

Dalam satu kejapan mata, Chanyeol menyumpalkan bibirnya pada bibir Baekhyun. Gadis itu terbelalak dengan terkejut. Otaknya belum bisa memahami apa yang sedang terjadi. Namun lumatan lembut Chanyeol di bibirnya membuatnya tersadar. Chanyeol menciumnya lagi! Untuk kedua kalinya!

Tapi kali ini ciuman itu tidak berlangsung lama. Chanyeol menjauhkan wajahnya namun masih terpaut jarak yang cukup dekat dari gadis itu. Dia menatap Baekhyun dalam, membuat gadis itu merasa sekujur tubuhnya lumpuh. Jantungnya menggila. "Aku selalu berpikir kalau gadis kasar sepertimu itu lebih menarik. Kau membuatku merasa tertantang. Tertantang untuk menaklukanmu."

Baekhyun tidak mampu membuka mulutnya lagi. Sepanjang jalan, dia hanya bisa membisu. Pikirannya kacau. Dan dia tidak berupaya lagi menahan Chanyeol untuk membawanya pergi.

.

.

.

Baekhyun merasa heran pada dirinya. Sekaligus jengkel. Bagaimana mungkin dia tidak berbuat apa-apa pada pria yang sudah jelas sudah bertindak kurang ajar padanya. Sudah melecehkannya. Bukan hanya sekali. Tapi dua kali. Tetapi apa yang dia lakukan, bukannya memberi pria kurang ajar itu sebuah pelajaran lagi, dia malah menghabiskan jam makan siangnya bersama pria itu.

"Makan yang banyak. Menurutku kau terlalu kurus," ujar Chanyeol yang sedari tadi memperhatikan Baekhyun yang tidak menyentuh makanannya.

"Aku muak," gumam Baekhyun.

"Makanannya tidak enak? Kalau begitu aku akan memesankan makanan yang lain."

"Aku muak padamu. Pada semua tingkahmu, Park Chanyeol. Kenapa kau melakukan ini?"

"Aku hanya ingin mengajakmu makan siang bersama. Apa itu salah?"

Baekhyun berdecih tak percaya. Dia tahu betul, ada motif lain di balik ajakan makan siang pria ini. Dan demi Tuhan, dia tidak tahu apa yang ada di dalam otak pria brengsek itu saat ini. Namun satu hal yang pasti, sesuatu yang buruk pasti sudah direncanakan Chanyeol untuknya. Untuk menyingkirkan Baekhyun dari kehidupan Sehun. "Apa pun yang kaulakukan. Apa pun usahamu. Aku akan tetap menjadi adik iparmu."

Chanyeol membuang napasnya sedikit gusar. "Bisakah kita tidak membicarakan itu sekarang? Aku hanya ingin makan."

"Selera makanku sudah hilang. Kembalikan aku ke rumah sakit sekarang!"

Chanyeol melirik jam di tangannya. "Masih ada tiga puluh menit waktu tersisa."

"Kalau begitu, cepat katakan apa pun maksudmu datang menemuiku hari ini."

"Sudah kubilang aku hanya ingin mengajakmu makan siang. Itu saja, Baek."

Baekhyun sudah hampir menyerah memaksa Chanyeol untuk mengaku. Pria itu bergeming. Menyantap makanan di depan matanya dengan begitu lahap. Wajahnya yang selalu memancarkan aura mengesalkan dan dingin, kini hanya menampilkan sesosok pria sederhana yang sedang kelaparan.

Baru kali ini Baekhyun mendapat kesempatan untuk memperhatikan wajah Chanyeol dengan seksama. Kalau dilihat seperti ini, sebenarnya Chanyeol tidaklah buruk. Malah Baekhyun sempat berpikir kalau Chanyeol lebih tampan dari Sehun. Pria ini sedikit lebih tinggi dari adiknya. Tubuhnya tegap. Matanya juga tidak seperti orang Korea kebanyakan, juga tidak seperti matanya yang seperti bulan sabit.

Sebenarnya, Chanyeol cukup menarik.

Tetapi sikap dingin dan bossy-nya, ya Tuhan...! Tidak akan ada orang yang tahan tinggal berlama-lama di dekatnya. Auranya benar-benar membuat orang ingin berlari menjauh.

Dan ketika Baekhyun masih asyik mengawasi pria itu, dengan tidak diduga, Chanyeol mengangkat wajahnya. Baekhyun harus menahan malu karena tertangkap basah sedang memperhatikan Chanyeol. Dengan cepat dia membuang mukanya ke samping.

"Mau pesan makanan lain tidak?" tanya Chanyeol yang tidak menyadari kalau sejak tadi diperhatikan Baekhyun.

"T-tidak," sahutnya gugup. Dan setelah mengusir rona merah di wajahnya, barulah Baekhyun berani menatap Chanyeol lagi. "Bagaimana kabar Sehun?"

Rasanya Baekhyun ingin menampar dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia mengajukan pertanyaan bodoh seperti itu untuk mengalihkan rasa malunya?

"Kau kan kekasihnya. Kenapa tanya padaku?" Chanyeol menatapnya tidak suka.

"Tapi kau orang yang tinggal satu atap dengannya!"

"Aku sibuk. Tidak ada waktu untuk mengurus bayi besar sepertinya terus menerus."

Baekhyun mendelik. "Sehun bukan bayi besar!"

"Kalau bukan, lantas aku harus menyebutnya apa? Kenyataannya dia memang manja seperti bayi."

"Dia adikmu, Park Chanyeol."

"Justru karena dia adikku, aku tahu dengan betul seperti apa dia."

"Aku tidak ingin berdebat. Tapi kau salah menilai Sehun. Sehun tidak semanja yang kau pikirkan," ujar Baekhyun. Merasa memiliki keharusan untuk membela kekasihnya, bahkan di depan sang kakak sekali pun. "Dia cukup dewasa. Dan...romantis."

Chanyeol mendengus. "Aku juga bisa bersikap romantis."

"Aku tidak peduli."

"Kau harus peduli."

"Kenapa?"

"Karena..." Dan sebelum melanjutkan kalimatnya, ponsel Chanyeol berbunyi nyaring. Pria itu berdecak kesal dan semakin kesal ketika melihat nomor yang tertera di layar ponsel-nya. "Sudah kubilang aku sedang ada urusan di luar! Kenapa kau tidak mengerti juga?!" ujarnya jengkel pada siapa pun yang sedang tersambung dengannya di seberang telepon.

Baekhyun hanya mampu menggelengkan kepala. Tuh kan, tabiat aslinya muncul juga!

"Aku tidak peduli! Aku sedang tidak ingin diganggu! Sudah berapa lama kau menjadi sekretarisku, kenapa kau tidak pernah paham?!" amuknya. Dan dengan itu, dia memutus sambungan telepon secara sepihak. Ponsel-nya dia banting ke meja.

"Ck! Kau benar-benar orang bertempramental buruk!" gumam Baekhyun.

Chanyeol tidak menjawab. Diam-diam dalam hatinya pun dia mengakui bahwa dirinya bukan tipe pria penyabar dan penuh toleransi. Dia pria menyeramkan yang setiap hari membuat sang sekretaris selalu ingin mengirimkan surat pengunduran dirinya. Namun entah kenapa sekretaris malang itu sampai saat ini masih bertahan. Mungkin karena dia benar-benar membutuhkan pekerjaan itu.

"Aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit sekarang," kata Chanyeol setelah beberapa saat diam.

"Itu yang kutunggu sejak tadi," sahut Baekhyun sambil mengedikkan bahu. Dia menyeka mulutnya dengan napkin kemudian segera berdiri.

Setelah membayar tagihan makanan, Chanyeol dan Baekhyun segera meninggalkan restoran. Pada jam makan siang seperti ini memang hampir setiap restoran di penuhi pengunjung. Dan situasi seperti ini benar-benar menjadi tidak menyenangkan ketika ada pengunjung tak sabar yang secara tidak sengaja menubruk tubuh Baekhyun hingga gadis itu terhuyung ke samping. Untung saja Chanyeol dengan sigap merengkuh tubuh Baekhyun agar tidak jatuh.

"Yak! Bisa tidak kau lebih berhati-hati?!" ujar Chanyeol berang pada orang yang menubruk Baekhyun barusan.

"Maafkan aku," kata orang itu.

"Maaf? Kau bisa melukainya!" Chanyeol melayangkan protes lagi namun Baekhyun segera mencengkram lengan kemejanya, meminta pria itu untuk tidak memperpanjang masalah yang sebenarnya sepele ini.

"Sudahlah. Aku baik-baik saja," kata Baekhyun pelan. Dia masih dalam posisi yang teramat canggung; berada di pelukan Chanyeol. Dia ingin melepaskan diri namun Chanyeol malah semakin erat menariknya ke dalam pelukannya.

Aneh. Tanpa bisa dikendalikan jantungnya berdebar kencang. Dan Baekhyun harus merutuki dirinya sendiri karena sudah berpikir kalau pelukan Chanyeol begitu hangat. Dada bidangnya cukup nyaman untuk bersandar. Dia merasa...terlindungi. Dan nyaman.

Astaga!

Chanyeol menepikan mobilnya kembali di parkiran rumah sakit. Dan tanpa menunggu pria itu membukakan pintu untuknya, Baekhyun segera keluar. Dan ketika dirinya baru beberapa saat mengambil langkah, Chanyeol memanggil namanya. Baekhyun pun menoleh.

"Aku harap masih ada lain kali untuk kau dan aku makan siang bersama," kata Chanyeol yang kelihatan cukup tulus di mata Baekhyun.

Namun gadis itu hanya memutar bola matanya. "Terus saja berharap, tuan Park..." katanya sambil berlalu.

.

.

.

"Woooooo teganya kau pada sahabatmu ini..." Ketika Baekhyun kembali ke rumah sakit, dia menemukan Soohyun sedang merajuk. Wajahnya ditekuk masam dan Baekhyun segera menyadari kesalahannya.

"Astaga, Soohyun! Aku lupa memberitahumu kalau aku makan siang di luar. Maafkan aku karena ini sedikit mendadak dan tak terduga..." kata Baekhyun menyesal.

"Tidak apa~ Tumben sekali Sehun menjemputmu untuk makan siang bersama... Aku jadi teringat awal-awal hubungan kalian... Betapa gigihnya Sehun mengejarmu saat itu..." ujar Soohyun yang dengan cepat segera melupakan kekesalannya pada Baekhyun. Dasar gadis ini...

"Tapi bukan dengan Sehun," potong Baekhyun sambil menggigit bibir bawahnya.

"Lantas?"

"Park Chanyeol..." sahutnya pelan. Seolah ada penyesalan dalam ucapannya barusan. Dan hal itu bisa ditangkap oleh sahabatnya.

Soohyun menatap Baekhyun dengan dahi berkerut dalam. "Park Chan... astaga! Baekhyun! Bukankah dia kakak Sehun?"

"Aku...kami hanya makan siang bersama saja. Sebagai kakak dan calon adik ipar."

Soohyun memicingkan matanya, tentu saja dia tidak bisa begitu saja menerima penjelasan Baekhyun yang terdengar tidak meyakinkan. Tidak, apabila kondisi sang kakak ipar begitu tampan dan mempesona. Hal ini benar-benar mengusik kecurigaan Soohyun. Tapi apa mungkin Baekhyun...

"Kami tidak seperti itu." Baekhyun menghela napas jengah. Dia tahu ke mana arah pemikiran sahabatnya itu.

"Hati-hati saja. Bagaimana pun dia kakak dari kekasihmu. Dekat sih boleh, tapi jangan berlebihan," kata Soohyun memberi nasihat dengan bijak. Benar-benar hal yang cukup langka dari sahabatnya itu.

Baekhyun hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar. Bagaimana jika Soohyun tahu kalau Chanyeol sudah menciumnya dua kali...?

Tidak, kalau pun Soohyun tahu, itu tidak akan menjadi masalah besar. Yang menjadi momok menyeramkan bukanlah Soohyun. Tetapi Sehun. Bagaimana jika Sehun tahu kalau kakaknya sendiri sudah pernah mencium Baekhyun bukan hanya sekali tapi bahkan dua kali?

.

.

.

Baekhyun berdiri di depan cermin kamar mandinya sejak tiga puluh menit yang lalu. Entah apa yang membuatnya mematung selama itu di sana. Hanya berdiam menatap pantulan dirinya tanpa bosan. Matanya tertuju lurus pada satu titik. Tangannya bertengger di bibirnya yang berwarna merah muda.

Bibir ini...

Chanyeol sudah menciumnya dua kali. Dan yang kedua, Baekhyun membiarkannya saja. Dia tidak marah atau pun menampar Chanyeol seperti yang pertama. Dia seperti lumpuh. Dan yang lebih membuatnya heran, jantungnya berpacu begitu cepat dan antusias.

Dia mulai mengingat-ingat semua ciuman-ciumannya dengan Sehun. Membandingkan satu ciuman dengan ciuman lain. Dan dia hanya bisa menyimpulkan bahwa ciuman Chanyeol selalu berbeda. Ada sesuatu dalam dirinya yang seolah membuncah dan meletup-letup ketika bibir pria itu bersatu dengannya. Sementara dengan Sehun, perasaan yang timbul tidak pernah seekstrim itu.

Aneh sekali.

Ingin rasanya Baekhyun membenci Chanyeol dan tidak ingin mengenal pria itu lagi seumur hidupnya. Tapi dia tidak mungkin melakukannya karena bagaimana pun Chanyeol adalah calon kakak iparnya. Dia adalah kakak Sehun. Tapi... wajarkah perlakuan Chanyeol padanya itu? Masih bisa dimaafkankah perlakuan kurang ajarnya? Bagaimana jika Sehun tahu?

Memikirkan semua itu sudah membuat kepala Baekhyun berputar. Dia harus melupakan semua ini. Kalau dia masih menginginkan hubungannya dengan Sehun tetap berjalan dengan baik, dia harus menganggap semua kekurang ajaran Chanyeol tidak pernah terjadi. Dan...dia harus berhenti meladeni apa pun yang Chanyeol lakukan padanya.

Lupakan. Lupakan.

Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan kencang kemudian sekali lagi membasuh wajahnya dengan air dingin. Air becucuran di wajahnya ketika sekali lagi dia menatap pantulan dirinya di cermin.

Apa mungkin Chanyeol menyukaiku, batin Baekhyun sampai pada kesimpulan itu. Atau mungkin... yang Chanyeol lalukan padaku adalah murni karena dia ingin memisahkan aku dari Sehun? Menghancurkan hubungan kami?

Namun, Baekhyun tidak pernah tahu bahwa kedua dugaannya itu tidak meleset. Chanyeol menyukainya dan dia ingin Baekhyun berpisah dengan Sehun. Kemudian di akhir cerita, Chanyeol ingin Baekhyun berakhir dengannya. Hanya dengannya.

.

.

.

Memang tidak mungkin Chanyeol bisa menghindar dari Sehun selamanya. Bagaimana pun mereka tinggal di bawah atap yang sama. Sekali pun Chanyeol berusaha mati-matian agar dirinya dan Sehun tidak saling bersinggungan. Pada akhirnya, ada satu waktu mereka bertemu juga.

Dia sudah menyibukkan diri dengan mengambil lembur setiap hari di kantor. Atau ketika dia pulang lebih awal, dia segera mengubur diri di ruang kerjanya. Asalkan dia tidak harus bertemu dengan Sehun. Bukan apa-apa. Dia hanya merasa tidak nyaman. Setelah kejadian malam itu, dia seperti kehilangan muka di hadapan Sehun.

Dan sebenarnya Chanyeol pun tidak memungkiri ada sebersit perasaan marah pada adiknya itu. Mungkin juga rasa iri. Yang jelas, Chanyeol belum siap bertatap muka dengan adiknya itu. Karena malam itu adalah pertama kalinya dia benar-benar marah pada Sehun.

Rasanya memang tindakannya waktu itu agak berlebihan. Tapi apa boleh buat? Chanyeol tidak bisa lagi mengendalikan emosinya. Alhasil, malam itu dia meledak bagaikan granat. Mungkin saat ini Sehun masih tidak mempercayai bahwa kakak yang selalu menyayanginya bisa begitu murka padanya.

"Hyung," panggil Sehun ketika tanpa direncakanan dirinya bertemu dengan sang adik di ujung tangga.

Dengan enggan Chanyeol menoleh. Sekilas matanya bertemu dengan mata Sehun yang tampak sendu. "Ada apa?" tanyanya dingin.

"Aku ingin minta maaf soal tempo hari, hyung. Malam itu aku..."

"Sudahlah, lupakan saja," potong Chanyeol cepat. Dia benar-benar tidak ingin membahas kejadian itu lagi. "Aku sudah memaafkanmu."

"Tapi kenapa hyung seolah menghindariku?"

"Aku tidak menghindarimu. Aku hanya sibuk. Pekerjaanku sedang banyak."

Sehun menatap kakaknya, berusaha untuk membuat kontak mata dengan Chanyeol. Tapi sang kakak terus menghindar. "Baiklah. Aku percaya, hyung. Tapi aku benar-benar minta maaf padamu. Aku pikir aku sudah keterlaluan karena sudah membuatmu marah dan tersinggung."

"Ya." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Chanyeol. Begitu kaku dan dingin.

Sehun mengangguk pelan. Entah kenapa dia merasa jauh di lubuk hati Chanyeol, kakaknya itu belum bisa memaafkannya. Dia ingin mengobrol banyak dengan sang kakak tapi melihat Chanyeol yang tampak sekali sedang tidak ingin diganggu, membuatnya mengurungkan niat awalnya.

Dengan perasaan tak menentu, Sehun kembali masuk ke dalam kamarnya.

.

.

.

"Chanyeol, akhirnya kau pulang juga!"

Tidak seperti biasanya, ibu menyambutnya dengan begitu riang sore itu. Chanyeol harus memicingkan matanya untuk memastikan apakah wanita paruh baya yang sedang berjalan menghampirinya itu adalah betul-betul ibunya atau bukan.

"Ya, aku pulang, bu." Chanyeol mengecup pipi ibunya, masih merasa sedikit heran.

"Ibu sudah menyiapkan makan malam," kata ibunya dengan senyum yang tak lepas di bibirnya.

"Kalau begitu, aku akan mandi dan turun dalam lima belas menit."

"Baiklah. Jangan lebih dari lima belas menit! Kau tidak mau membuat Kyungsoo menunggu lama kan? Dia sudah membantu ibu menyiapkan makan malam yang lezat untuk kita!"

Dahi Chanyeol berkerut dalam.

Kyung...soo?

Ah, gadis itu...

"Ibu mengundangnya makan malam?" tanya Chanyeol.

"Tentu saja," sahut ibunya ceria.

Chanyeol ingin sekali marah dan pergi meninggalkan rumah. Tapi melihat keceriaan di wajah ibunya, dia urung melakukannya. Kemarin dia sempat mengatakan 'persetan' pada perjodohan ini, tapi sekarang, berkata 'tidak' saja dia tidak sanggup. Dia tidak punya hati untuk menolak kemauan ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu.

Sebenarnya kalau boleh berkata jujur, Chanyeol merasa sakit hati. Kenapa dirinya harus dijodohkan?

Tidak bolehkah dia menentukan takdirnya sendiri?

Tidak bolehkah dia memilih Baekhyun saja?

Jawabannya mungkin tidak.

Betapa menyedihkannya pria ini. Pada akhirnya, memang perjodohanlah yang sudah menantinya. Seorang gadis yang bahkan tidak dikenalnya dengan baik, yang bahkan sedikit pun dia tidak menaruh hati, suatu saat nanti akan menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.

Apakah tidak ada secercah kebahagiaan untuknya?

Ibunya memang tidak bisa dicegah lagi. Dan gadis bermarga Do itu sudah duduk dengan manis di meja ruang makan ketika Chanyeol masuk. Seperti biasa, wajah angkuh tidak pernah lepas darinya. Tanpa banyak bicara dia duduk dan menikmati apa pun makanan di depan matanya. Dia bahkan tidak menyadari bahwa Sehun ada di sana, bergabung untuk makan malam bersama mereka.

"Chanyeol-ah, ini Kyungsoo. Kau masih ingat kan?" tanya ibunya membuka jalan percakapan untuk mereka.

Hanya untuk menghargai ibunya, Chanyeol mengangkat wajahnya dan melirik gadis itu sekilas. Do Kyungsoo memang cukup cantik. Rambut panjangnya yang hitam kelam tergerai indah jatuh di bahunya yang sempit. Dia melemparkan senyum sopan yang begitu manis pada Chanyeol. Tetapi semua itu percuma saja karena di hati Chanyeol, tidak ada yang bisa mengalahkan pesona Baekhyun.

"Apa kabar?" sapa Kyungsoo ramah.

"Selalu baik," jawab Chanyeol sarkastis, tapi tidak ada yang menangkap nada bicaranya itu. Kemudian dia melirik ke samping kirinya dan menemukan Sehun sedang menyantap makan malamnya dalam diam. Lalu, dia kembali menyeret tatapannya pada gadis Do itu. "Kau?"

"Aku juga baik."

"Kalau begitu, bagus."

Selesai. Bagi Chanyeol, percakapan itu sudah lebih dari cukup. Dia tidak akan menghamburkan kata-kata tidak penting untuk gadis yang sama sekali tidak membuat hatinya tertarik. Untuk apa?

Namun ibu yang tampak tidak senang dengan respon Chanyeol yang dingin, hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan geram. "Chanyeol memang irit sekali bicara, Kyungsoo-ya. Semakin dewasa dia memang menjadi semakin pendiam."

"Tidak apa-apa, nyonya. Bukan masalah. Saya juga bukan tipe orang yang banyak bicara."

"Tapi sebenarnya Chanyeol tidak sedingin itu. Dia—"

"Bu!" Chanyeol sedikit menaikkan nada bicaranya. Ibu dan Kyungsoo menoleh seketika dengan terkejut. Tidak terkecuali juga Sehun. "Aku sudah selesai."

Dengan begitu, Chanyeol meninggalkan meja makan dan tidak menampakkan dirinya lagi sampai keesokan harinya.

.

.

.


TBC


Yeorobun jeongmal mianhae untuk update yang super duper telat ini...!

Tapi setidaknya aku udah update ya meskipun aku merasa chapter ini failed banget. Tapi aku usahain chapter depan akan lebih baik lagi...heuheuheu...

Buat readers yang sudah meluangkan sedikit waktunya untuk membaca dan mereview FF ini, kamsahamnida~ Review kalian itu penyemangat buatku...

Buat siders, silahkan tinggalkan review yaa... aku cuman pengen baca pendapat kalian dan saran-saran kalian untuk FF ini. Nggak usah sungkan meninggalkan jejak ya. *wink*

Dan tidak lupa buat para follower dan fave! Gomawoyongggg!

Udah ah, aku gak bakal banyak cuap-cuap... REVIEW juseyooooooo!