MISTAKE
Author: ParkByun92
Cast: Chanyeol, Baekhyun, and OCs.
Disclaimer: All the cast exclued OCs belong it their management, fans, dan families
YAOI!
Enjoy Readers!
Sorry for Typo!
Summary: Ini kesalahanku karena tidak membuatmu lebih mencintaiku, seperti aku mencintaimu. "Mungkin benar kata LuHan Hyung, dia memang tidak mencintaiku"/"Saranghae ..."
SNSD – MISTAKE
Ini kesalahanku karena tidak membuatmu lebih mencintaiku.
Ini kesalahanku untuk mencintaimu lebih dari kamu mencintaiku.
Ini kesalahanku karena tidak membuatmu mencintaiku seperti aku menginginkanmu.
Maafkan aku karena menjadi seperti ini.
(Memaafkan seseorang) yang mencintaimu.
.
.
BaekHyun duduk termenung di taman kota seorang diri. Sejak 2 hari yang lalu BaekHyun hanya diam memikirkan perkataan Kris. Sebenarnya ia bingung akan permintaan Kris, untuk apa Kris menyuruhnya meninggalkan ChanYeol dan mengikutinya ke Amerika? Atas dasar apa Kris melakukan itu padanya?.
BaekHyun rasa ia dan Kris tidak memiliki hubungan darah, tapi kenapa Kris begitu peduli padanya?. Kenapa Kris tidak ingin BaekHyun terluka akan Park ChanYeol?. Kenapa Kris repot-repot memikirkan perasaannya?. Sebenarnya ada apa ini?.
"Eomma, Appa, apa yang harus aku lakukan?."
BaekHyun tidak bisa membohongi hatinya jika ia sudah lelah, ia sudah lelah dengan Park ChanYeol. Ia ingin berhenti mencintai Park ChanYeol, tapi tetap saja rasa itu selalu tumbuh dihati BaekHyun.
BaekHyun tidak tau, rasa cinta itu benar-benar ia miliki untuk Park ChanYeol atau karena wajah Park ChanYeol begitu mirip dengan ayahnya. Sebenarnya BaekHyun merasa bersalah pada sang ayah, dulu sang ayah berkata carilah pendamping hidup yang sangat mencintaimu, carilah pendamping hidup yang takut kehilanganmu, tapi kenyataannya tidak seperti yang diharapkan sang ayah.
Park ChanYeol tidak mencintainya. Park ChanYeol tidak peduli padanya. Dan yang paling BaekHyun benci, BaekHyun takut kehilangan Park ChanYeol.
"Mianhae Appa hiks.. Mianhae.."
Yang bisa dilakukan Byun BaekHyun hanyalah menangis karena mengecewakan sang ayah.
Didunia ini BaekHyun hanya hidup sendiri, tapi kenapa tuhan selalu memberikannya cobaan yang tak ada habisnya. Setelah kedua orang tuanya meninggal BaekHyun berusaha mencari uang sendiri untuk hidupnya dan kuliah, setelah ia berhasil mendapatkan itu, tuhan kembali mengujinya dengan mempertemukannya dengan ChanYeol. Tuhan seakan mempermainkannya, setelah ia berhasil mendapatkan yang ia inginkan, tapi setelah itu ia mendapatkan cobaan dalam hidupnya.
Rasanya BaekHyun ingin mati saja.
Tapi BaekHyun sadar. Maskipun tuhan selalu memberikannya cobaan, BaekHyun masih memiliki seseorang yang begitu peduli padanya. LuHan Hyung-nya, SeHun, JongIn, dan yang terakhir Kris. BaekHyun tersenyum saat mengingat ke-4 orang itu. BaekHyun dapat bertahan karena adanya mereka.
Omong-omong tentang LuHan, BaekHyun mengedarkan pandangannya pada sekitar taman. 30 menit yang lalu LuHan memintanya untuk datang ke taman kota, LuHan ingin membicarakan sesuatu pada BaekHyun. Entah apa itu.
BaekHyun kembali tersenyum saat melihat LuHan berlari menghampirinya, dengan cepat BaekHyun menghapus jejak air matanya.
"Maaf Baek hoshh.. aku terlambat hoshh.. hoshh.."
"Tak apa Hyung, aku juga baru sampai." –Byun BaekHyun kembali berbohong.
LuHan duduk disamping BaekHyun saat nafasnya kembali normal. Namja keturunan China itu menatap BaekHyun tanpa ekspresi, BaekHyun jadi bingung sendiri. Sebenarnya apa yang akan LuHan katakan padanya.
"Baek, aku mohon tinggalkan ChanYeol."
BaekHyun melebarkan kedua matanya saat 1 kalimat itu keluar dari mulut LuHan. Selama ini LuHan memang memintanya meninggalkan ChanYeol, tapi LuHan tidak pernah seserius ini. Tidak dengan wajah super datar dan sorot mata tajam.
"Hyung, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba kau–"
"Tinggalkan Park ChanYeol, BaekHyun!."
"Hyung.."
"Aku sudah mengetahui semuanya. Kau tidak perlu menyembunyikan apapun dariku."
BaekHyun bungkam akan sorat mata LuHan yang terluka. LuHan terluka karena BaekHyun juga terluka.
"Aku mohon Baek, kau pantas bahagia. Dan kebahagianmu bukan dengan Park ChanYeol. Apa kau tidak lelah Baek? Apa hatimu tidak lelah terus menerus disakiti oleh Park ChanYeol? Aku tau kau mencintainya, tapi ChanYeol tidak mencintaimu."
Entah kenapa hati BaekHyun begitu sakit saat LuHan berkata seperti itu. Apa ini memang akhir dari kisah cintanya? Apa ia harus meninggalkan Park ChanYeol? BaekHyun juga tidak bisa melihat tatapan memohon LuHan.
"Hyung, aku tidak tau harus melakukan apa."
"Kau tau apa yang seharusnya kau lakukan, tapi kau masih takut."
Ya, LuHan benar. BaekHyun takut kehilangan Park ChanYeol.
"Aku tidak bisa Hyung.. aku begitu mencintainya."
LuHan mengeratkan genggaman tangannya. LuHan tidak habis fikir dengan jalan fikiran Byun BaekHyun, kenapa setelah berkali-kali disakiti BaekHyun belum jera juga untuk berhenti mencintai Park ChanYeol. Apa yang dilakukan ChanYeol hingga BaekHyun tetap mempertahankan cintanya pada ChanYeol.
"Aku serius Baek, kau manusia terbodoh dan keras kepala yang pernah aku temui. Kau begitu keras kepala karena tetap mempertahankan cinta bodohmu itu pada Namja brengsek seperti Park ChanYeol. Park ChanYeol tidak pantas mendapatkannya Baek, Park ChanYeol tidak pantas mendapatkanmu. Kau terlalu sempurna untuk Park ChanYeol brengsek itu. Aku sebagai sahabat dan Hyung menginginkan yang terbaik untukmu. Aku muak melihatmu terus menerus terluka dan menangis. Kau menangisi Park ChanYeol yang tak pernah menangisimu. Kau peduli dengan Park ChanYeol, tapi pernahkan Park ChanYeol peduli padamu, hah?!."
Dada LuHan kembang kempis saat mengatakan beberapa kalimat itu dengan satu tarikan nafas. BaekHyun hanya menundukkan kepalanya tak berani menatap LuHan. Apa yang dikatakan LuHan begitu menyayat hatinya. Park ChanYeol memang begitu buruk, dan sekarang BaekHyun mengerti. Park ChanYeol memang tidak pantas untuknya.
"Lebih baik kau ikut Kris ke Amerika. Disana kau tidak akan terluka lagi."
"Hyung, aku–"
"Pikirkan ucapanku, pergi dari Park ChanYeol lalu hidup bahagia atau tetap bersama Park ChanYeol tapi kau akan mati perlahan."
Dan setelah itu LuHan pergi meninggalkan BaekHyun yang menatap punggung LuHan sendu.
Setelah semua yang dilakukan ChanYeol, BaekHyun sudah mendapatkan jawabannya.
.
.
Keesokan harinya BaekHyun datang menemui ChanYeol. Setelah memikirkannya secara matang, BaekHyun tau apa yang harus ia lakukan. Yang dikatakan LuHan benar, Park ChanYeol tidak mencintainya lalu apa gunanya BaekHyun mempertahankan ChanYeol. BaekHyun selalu ingat akan perkataan LuHan. Pergi dari Park ChanYeol lalu hidup bahagia atau tetap bersama Park ChanYeol akan tetapi BaekHyun akan mati perlahan.
TOK TOK TOK
Tak peduli ChanYeol ada didalam apartment atau tidak, BaekHyun akan tetap menemui ChanYeol. Dia tidak ingin hatinya kembali memberikan ChanYeol kesempatan.
CEKLEK
BaekHyun bernafas lega saat ChanYeol membukakan pintu untuknya, dengan begini ia tidak harus mencari ChanYeol ke suatu tempat.
"Ada apa BaekHyun? Kau tau sekarang masih pagi?!."
BaekHyun hanya menatap ChanYeol datar. Ya, ini masih pukul 9 pagi. Dan BaekHyun sudah paham akan kebiasaan ChanYeol saat pagi hari. BaekHyun berdehem sebentar dan kembali menatap ChanYeol yang berdiri didepannya dengan bertelanjang dada.
"Bolehkah aku masuk?."
ChanYeol menyeringai. Pagi ini ChanYeol mendapatkan sarapannya.
"Tentu saja. Kau boleh masuk kapanpun ke apartmentku."
"Terima kasih."
Sebenarnya ChanYeol heran dengan sikap BaekHyun kepadanya. Setiap BaekHyun bertemu ChanYeol, Namja mungil itu selalu menunduk takut dengan kedua tangan bergetar, tapi untuk kali ini tidak. BaekHyun bersikap dingin padanya. ini sangat aneh.
"Jadi untuk apa kau datang kesini BaekHyun? Kau rindu dengan penisku?."
Yeah, ChanYeol terlalu frontal mengucapkan adik kecilnya.
BaekHyun yang duduk disofa apartment ChanYeol mengerutkan keningnya. Ia merasa risih saat ChanYeol begitu lancar mengucapkan kata yang menjijikan untuknya.
"Aku kemari tidak ingin bermain-main ChanYeol, aku kemari ingin mengatakan sesuatu padamu."
ChanYeol semakin dibuat heran saat BaekHyun tak takut lagi menatapnya begitu tajam. Selama ini BaekHyun selalu takut pada ChanYeol, selama ini BaekHyun selalu bertekuk lutut pada ChanYeol, dan selama ini pula BaekHyun selalu mencintai Park ChanYeol. Dengan sikap BaekHyun yang seperti ini membuat ChanYeol merasakan hal yang berbeda didalam diri BaekHyun.
"Baiklah, katakan apa yang ingin kau katakan."
BaekHyun menyiapkan mental untuk berbicara pada ChanYeol.
"Sebenarnya–"
KRING KRING KRING
Perkataan BaekHyun terputus saat ponsel ChanYeol berbunyi nyaring. ChanYeol beranjak dari ruang tengah menuju kamarnya untuk menerima telfon. Sepeninggalan ChanYeol, BaekHyun menghembuskan nafasnya kasar. BaekHyun tidak habis fikir, kenapa begitu sulit mengatakannya pada ChanYeol.
"Tuhan, bantu aku." Doa BaekHyun karena ia hampir putus asa akan semua ini.
Sedangkan itu ChanYeol menatap ponselnya dengan wajah geram. Jika yang menelfon bukan ibunya, mungkin ChanYeol akan bersikap biasa. ChanYeol tidak habis fikir, untuk apa Yeoja jalang itu menelfonnya. Jika Yeoja itu meminta bantuan, ChanYeol tidak pernah sudi untuk membantu.
Tapi untuk kali ini saja ChanYeol ingin mendengar penderitaan sang ibu. Dengan senyum miring yang ChanYeol miliki, ChanYeol mengangkat telfon dari sang ibu.
"ChanYeol-ah.."
"Ada apa?."
"Syukurlah kau menerima telfon dari Eomma. Eomma tidak tau harus meminta bantuan pada siapa. Appamu tidak mengangkat telfon dari Eomma, Eomma–"
"Cepat katakan apa maumu?! Aku tidak punya waktu untuk mendengar ocehanmu yang tidak bermutu itu!."
Ny. Park terdiam sebentar mendengar bentakan ChanYeol. Sebegitu bencikah sang anak padanya.
"Baiklah, Eomma hanya ingin meminjam uangmu. Eomma sangat membutuhkannya sekarang. Tolong bantu Eomma kali ini saja."
"Ck, kau masih membutuhkan uang disaat semua harta Appa ku kau habiskan untuk mengumbar kekayaan? Tidakkah kau punya rasa malu?!."
"ChanYeol-ah…"
"Kalau begitu ceraikan Appa ku, dengan begitu kau bisa mendapatkan uang yang kau minta. Seberapapun itu."
"PARK CHANYEOL!."
ChanYeol terdiam dengan nafas memburu. ChanYeol begitu muak dengan sang ibu, rasanya ia ingin memutar waktu dan ia berharap tidak dilahirkan olehnya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggapmu ibu! Karena kau tidak pantas untuk dipanggil ibu! Dengarkan itu EOMMA!."
PIP
ChanYeol menutup telfon itu dengan kasar, semakin ia mendengar suara sang ibu, semakin ia merasakan sesak didadanya. Sebenarnya ChanYeol bingung dengan perasaannya sendiri, disatu sisi ia ingin sang ibu berubah, tapi disaat ChanYeol melihat wajah kesakitan sang ayah rasa benci itu selalu tumbuh dan bertambah setiap harinya.
Setelah ChanYeol merasa tenang, Namja itu kembali ke ruang tengah untuk menemui BaekHyun. Tentu saja ChanYeol masih ingat jika ada BaekHyun yang menemuinya.
"Sekarang apa yang ingin kau katakan?." Ucap ChanYeol saat Namja tampan itu duduk di sofa seberang BaekHyun duduk.
BaekHyun sedikit heran dengan perubahan raut wajah ChanYeol. ChanYeol terlihat memikirkan sesuatu yang berat, tapi untuk sekarang peduli apa BaekHyun pada Park ChanYeol.
"Baiklah, aku menemuimu hanya untuk mengatakan jika aku ingin…. berakhir denganmu."
Bagaikan petir yang menakutkan, ChanYeol menatap BaekHyun terkejut.
ChanYeol tidak habis fikir, bagaimana bisa Byun BaekHyun yang selalu mencintainya mengatakan ingin mengakhiri hubungan mereka yang sudah 1 tahun lebih. Kenapa tiba-tiba sekali. Dan kenapa BaekHyun yang meminta hubungan ini berakhir? ChanYeol murka saat harga dirinya turun begitu mudahnya.
"APA BAEKHYUN?! KAU BICARA APA?."
ChanYeol berteriak dengan sangat lantang, BaekHyun yang berada didepan ChanYeol memejamkan matanya saat suara lantang ChanYeol membuat kedua telinganya berdengung. BaekHyun sudah memperkirakan jika ChanYeol akan bersikap seperti ini. ChanYeol pasti terkejut dengan permintaannya.
"Aku ingin hubungan kita berakhir ChanYeol. Aku sudah lelah denganmu."
"Brengsek! Apa yang kau katakan Byun!."
ChanYeol berjalan mendekati BaekHyun. Amarah ChanYeol berada di puncaknya, setelah mendapatkan telfon dari sang ibu ditambah pula dengan pernyataan BaekHyun meminta hubungan keduanya berakhir.
Sesampainya dihadapan BaekHyun, ChanYeol mengangkat kerah baju BaekHyun hingga Namja mungil itu bangkit dari duduknya dan berhadapan langsung dengan Park ChanYeol.
"Dengarkan aku BaekHyun! Selamanya kau tidak boleh mengakhiri hubungan ini! Kau dan aku–"
"KENAPA KAU BEGITU EGOIS CHANYEOL! Aku lelah dengan semuanya! Aku lelah dengan sikapmu!."
Untuk pertama kalinya seorang Byun BaekHyun berani membentak Park ChanYeol. Entah keberanian dari mana BaekHyun bisa membentak Park ChanYeol hingga ChanYeol menatap BaekHyun terkejut.
"Selama ini aku sudah bersabar dengan perbuatanmu padaku. Dan pada akhirnya aku tidak sanggup lagi ChanYeol, aku lelah. Aku ingin hidup bahagia dan damai, bukan seperti ini yang selalu menjadi budak sex mu."
"Katakan padaku siapa yang mengatakan jika kau budak sex ku?! Siapa yang mengatakan itu Baek?!."
"Tidak ada yang mengatakan itu padaku! Aku yang merasakan sendiri jika aku memang budak sex mu!."
ChanYeol menatap mata BaekHyun yang sudah berkaca-kaca. Entah mengapa organ tubuh di dada kiri ChanYeol terasa sesak. Apa karena BaekHyun yang terlihat menyedihkan saat ini? Atau mungkin rasa sesak ini karena amarahnya yang sudah pada puncaknya?
"Aku mohon Yeol, lepaskan aku. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan pergi darimu. Untuk selamanya."
ChanYeol menggeleng dengan tegas. Tidak ada yang boleh meninggalkan Park ChanYeol.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu BaekHyun, karena aku men–" ChanYeol tidak meneruskan perkataannya. Entah kenapa lidahnya terasa kelu saat mengucapkan kata yang akan membuat keduanya tetap bersama. ChanYeol rasa ini bukan saatnya.
Tanpa meneruskan perkataannya, ChanYeol menyambar bibir BaekHyun dan melumatnya begitu kasar. Tentu saja BaekHyun berontak, BaekHyun tidak ingin kembali masuk ke dalam pesona Park ChanYeol.
Tapi tetap saja, tenaga seorang Byun BaekHyun selalu kalah dengan Park ChanYeol.
Dan pada malam itu keduanya melakukan sex hebat.
.
.
2 hari kemudian.
Siang hari ini KyungSoo mendatangi apartment ChanYeol dengan wajah angkuhnya. Dengan senyum miring yang ia miliki, KyungSoo terlihat begitu special siapapun yang melihatnya. Senyum yang ia miliki menutupi semua kelakuan buruknya. Yeah, itulah kelebihan KyungSoo.
Hari ini KyungSoo ingin mendapatkan ChanYeol kembali. KyungSoo tidak akan pernah rela ChanYeol lebih memilih BaekHyun. Meskipun kenyataannya KyungSoo sudah memiliki Kai, KyungSoo tetap akan memperjuangkan ChanYeol.
TING
Pintu lift terbuka dengan sempurna. KyungSoo melangkahkan kakinya begitu mantap, kali ini KyungSoo yakin jika ChanYeol akan jatuh pada pesonanya. KyungSoo tak habis fikir, bagaimana akal sehat ChanYeol saat lebih memilih BaekHyun daripada dirinya yang sudah terlihat jelas lebih dari BaekHyun.
KyungSoo tersenyum saat sudah berdiri didepan pintu apartment ChanYeol. Tanpa menunggu waktu lagi KyungSoo menekan bel karena ia tidak sabar untuk bertemu ChanYeol.
CEKLEK
KyungSoo tersenyum sumringah saat melihat ChanYeol dihadapannya, berbeda jauh dengan ChanYeol yang menatap KyungSoo tidak suka.
"Untuk apa kau kemari KyungSoo? Bukankah sudah aku bilang jika kita–"
CHUP
1 kecupan dari KyungSoo untuk ChanYeol.
"Aku merindukanmu Yeol."
ChanYeol menatap KyungSoo dengan malas, untuk apa KyungSoo menemuinya dan tiba-tiba mengecup bibirnya. Apa KyungSoo mabuk? Tidak tidak, dilihat dari cara berpakaian dan cara bicara KyungSoo, Namja itu baik-baik saja. Lalu untuk apa Namja itu datang dan mengejutkan ChanYeol akan sikap baru KyungSoo?
"Katakan apa mau mu lalu kau bisa pergi dari sini?!."
Senyum KyungSoo luntur seketika. Sial! ChanYeol sudah berani mengusirnya.
"Kau tidak menyuruhku masuk ChanYeol-ah?."
"Tidak! Sekarang cepat apa yang kau mau?!."
"Aku… aku ingin kembali membantumu untuk menjauhkan BaekHyun darimu."
Kedua alis ChanYeol menukik tajam. Dulu memang ChanYeol akan senang jika KyungSoo membantunya, tapi sekarang tidak lagi. Entah mengapa ChanYeol merasa muak dengan semuanya. ChanYeol ingin berhenti tanpa tau alasan sesungguhnya.
"Kau mau apa? Menjauhkan BaekHyun dariku? Ck, lupakan semua itu Do KyungSoo. Lagipula perjanjian kita telah berakhir. Jadi aku minta padamu jangan menganggu hidupku lagi."
Perjanjian?
Kalian pasti bertanya-tanya perjanjian apa antara ChanYeol dan KyungSoo. Dulu, saat BaekHyun dengan beraninya mengatakan suka pada ChanYeol dan ingin ChanYeol jadi kekasihnya, ChanYeol meminta KyungSoo untuk menjadi Namja simpanan diantara ChanYeol dan BaekHyun. KyungSoo yang dasarnya memang menyukai ChanYeol setuju akan perjanjian itu. Selama itu berada disamping ChanYeol, KyungSoo akan melakukannya.
Dan alasan ChanYeol melakukan itu adalah untuk membuat BaekHyun menyesal karena mencintai Park ChanYeol dan meminta Park ChanYeol untuk menjadi kekasihnya. Tapi ChanYeol tak habis fikir, hubungan mereka lebih dari 1 tahun tapi BaekHyun masih saja mempertahankan hubungan ini. Dan 2 hari yang lalu adalah puncaknya.
"A–Apa Yeol? Melupakan semuanya? Perjanjian kita berakhir? B–Bagaimana bisa?!."
ChanYeol menghembuskan nafasnya kasar.
"Cara yang kita lakukan tidak memberi efek apapun pada BaekHyun, Soo. Jadi lupakan semuanya dan kau kembalilah pada tunanganmu."
"Tidak ChanYeol! Kau tidak boleh membatalkan perjanjian itu! Dan bagaimana bisa kau menyuruhku melupakan semuanya?! Tidak taukah kau jika apa yang selama ini kita lakukan sangat berarti untukku!."
Air mata KyungSoo menetes begitu cepat. ChanYeol sudah memprediksi ini semua akan terjadi. ChanYeol tidak buta disaat KyungSoo yang menatapnya penuh cinta, KyungSoo yang selalu tersenyum manis padanya, dan KyungSoo yang selalu memujinya meskipun KyungSoo tau jika Park ChanYeol Namja yang brengsek.
"Kyung, sadarlah! Kita harus menyudahi ini semua! Bahagialah bersama Kai dan aku akan menjalani kehidupan seperti biasanya."
"Bohong! Aku tau alasan kau mengakhiri perjanjian itu! Kau MENCINTAI BaekHyun! Benarkan?! KAU MENCINTAI BYUN BAEKHYUN KAN?!."
"KYUNGSOO!."
ChanYeol menarik lengan KyungSoo untuk masuk kedalam apartment nya. ChanYeol tidak ingin seseorang mendengar pertengkaran mereka, itu sangat memalukan.
Keduanya berada diruang tamu saat ini. ChanYeol yang menatap KyungSoo begitu tajam, begitu sebaliknya. Sedari tadi air mata KyungSoo menetes deras, KyungSoo memang tidak berusaha menghentikan tangisnya karena KyungSoo ingin ChanYeol kasihan padanya dan kembali berpihak padanya.
"Aku mohon Kyung! Sadarlah! Kita hentikan semua ini okey?." Ucap ChanYeol sambil mengusap kedua pipi KyungSoo dengan kedua tangannya. ChanYeol hanya ingin KyungSoo tenang, ChanYeol tidak bermaksud membuat hati KyungSoo berharap lagi.
KyungSoo memejamkan matanya sebentar lalu kembali menatap mata ChanYeol dengan sendu.
"Baiklah, aku akan merelakan kau dengan BaekHyun. Asalkan–
"–kau mau tidur –sex denganku untuk pertama dan terakhir kalinya."
.
BaekHyun menatap kantung plastik yang berisikan kue kering di kedua tangannya. Hari ini BaekHyun ingin menemui LuHan untuk meminta maaf, lalu setelah itu pergi ke apartment ChanYeol. BaekHyun harap ChanYeol suka dengan kuenya. Kue ini khusus BaekHyun buat sendiri untuk orang yang special untuk hidupnya.
BaekHyun telah sampai didepan rumah LuHan. BaekHyun kembali menghembuskan nafasnya gugup. Sesudah pertengkaran mereka beberapa hari yang lalu, BaekHyun tidak pernah bertemu dengan LuHan. Doa kan saja LuHan masih mau menerima BaekHyun.
TOK TOK TOK
CEKLEK
BaekHyun sedikit terkejut saat pintu utama terbuka. Didepannya terdapat –ibu LuHan yang tersenyum padanya.
"Eoh, BaekHyun.. ingin mencari LuHan ya?."
BaekHyun menganggup gugup. Masih mau kah LuHan bertemu dengannya?
"Sayang sekali Chagi, LuHan baru saja keluar dengan SeHun. Dan mereka bilang akan pulang malam."
Pundak BaekHyun melorot seketika. Mungkin belum saatnya ia bertemu dengan LuHan. BaekHyun yakin LuHan tidak akan tega membencinya, karena BaekHyun tau jika LuHan begitu menyayanginya.
"Oh begitu ya Ahjumma. Baiklah, BaekHyun titip ini saja. Tolong berikan ke LuHan Hyung ya Ahjumma.." Ujar BaekHyun lalu memberikan kue kering kesukaan LuHan.
"Tentu saja, LuHan pasti senang menerimanya."
BaekHyun tersenyum manis. Ya, semoga saja.
"Kalau begitu BaekHyun pergi dulu."
"Eh, tidak mau mampir?."
"Lain kali saja Ahjumma, BaekHyun masih ada urusan. Permisi Ahjumma."
BaekHyun melangkah keluar dari rumah LuHan. Senyum BaekHyun terlihat begitu manis. Akhirnya BaekHyun bisa tersenyum lepas setelah 1 tahun menerima kesakitan dihatinya.
"Semoga saja ChanYeol suka."
Dengan langkah riang BaekHyun berjalan menuju apartment ChanYeol.
.
TING
Pintu lift terbuka dan memperlihatkan BaekHyun berdiri dengan senyumannya. BaekHyun tidak sabar melihat ChanYeol memakan kue buatannya. ChanYeol pasti suka. BaekHyun jadi ingat saat kemarin memasakkan ChanYeol makan malam dan ChanYeol begitu lahap memakannya. BaekHyun rasa, ChanYeol berusaha membuka hari untuk BaekHyun.
Ya semoga saja itu benar. BaekHyun berdoa untuk itu.
BaekHyun meraba dadanya yang bergemuruh. Entah kenapa ia menjadi sangat gugup bertemu dengan ChanYeol. Mungkin karena ChanYeol sedikit berubah sikapnya terakhir kali bertemu BaekHyun. ChanYeol menjadi sedikit pendiam kali ini.
Okey. BaekHyun siap bertemu Park ChanYeol.
TOK TOK TOK
Butuh waktu 1 menit untuk BaekHyun menunggu pintu apartment ChanYeol terbuka. BaekHyun sudah menyiapkan senyum termanisnya, tapi disaat pintu itu dibuka senyum manis BaekHyun hilang seketika.
BaekHyun terkejut.
BaekHyun tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
KyungSoo.
Namja itu yang membuka pintu apartment ChanYeol dan hanya memakai bathrobe.
Keduanya saling menatap. KyungSoo yang bermuka datar menunggu respon BaekHyun, sedangkan BaekHyun terdiam melihat keadaan KyungSoo yang penuh dengan kissmark ungu. Apakah KyungSoo dan ChanYeol…
"Siapa yang datang Soo–"
ChanYeol terdiam beberapa centi didepan BaekHyun. Namja tinggi itu juga terkejut melihat BaekHyun telah berdiri didepan pintu apartmentnya.
"BaekHyun?."
BaekHyun tersadar dari lamunannya. BaekHyun menatap ChanYeol yang hanya memakai handuk yang melilit pinggangnya. BaekHyun juga melihat tanda merah disekitar pundak dan dada ChanYeol. Jadi benar jika keduanya telah melakukan sex?
Cukup sudah. BaekHyun sudah lelah dengan sakit hati ini. BaekHyun akan mengakhiri ini semua sekarang.
"Annyeong haseyo. Maaf menganggu kalian berdua. Aku.. aku tadi.. aku tadi tidak sengaja lewat sini dan ingin mampir, tapi sepertinya aku mengganggu. Maafkan aku. Kalau begitu aku akan pergi sekarang. Annyeong haseyo."
BaekHyun segera menundukkan badannya untuk pamit, dan dengan langkah tergesa-gesa BaekHyun berjalan menuju lift. BaekHyun menggenggam kantung plastik yang ia bawa dengan sangat erat. Setelah masuk kedalam lift, air mata BaekHyun tak bisa ia tahan lagi. Rasa sakit ini sudah pada puncaknya. ChanYeol benar-benar mengkhianatinya.
ChanYeol tidak akan pernah mencintai BaekHyun.
BaekHyun berjalan dengan lesu ke halte bis. Air mata yang selalu ia tahan tidak bisa berhenti mengalir, sekekali BaekHyun menyeka air matanya tapi tetap saja air mata itu tidak mau berhenti. Air mata itu seakan tau sakit hati BaekHyun begitu dalam.
Pada akhirnya BaekHyun memutuskan masa depannya.
"Kris Hyung, aku akan ikut denganmu ke Amerika." Ujar BaekHyun melalu sambungan telfon.
Sedangkan itu KyungSoo dan ChanYeol masih berdiam diri ditempat masing-masing. KyungSoo menolehkan wajahnya pada ChanYeol. KyungSoo tau ChanYeol bingung ingin melakukan apa? terlihat sekali pada kedua matanya yang menatap kosong pintu apartment.
"Kau tidak mau mengejarnya?."
ChanYeol tersadar. Namja tinggi itu menatap KyungSoo meminta penjelasan.
"BaekHyun. BaekHyun kembali kau sakiti Yeol, tidakkah kau merasakan itu?."
ChanYeol hanya diam. KyungSoo menghembuskan nafasnya kasar. ChanYeol memang masih ragu pada hatinya. Padahal KyungSoo sudah melihat jelas jika ChanYeol mulai tertarik pada BaekHyun.
"Aku akan pulang sekarang. Terima kasih atas semuanya."
KyungSoo kembali ke kamar ChanYeol untuk memakai baju lalu keluar dari apartment ChanYeol. Meninggalkan ChanYeol yang masih termenung ditempatnya.
.
.
BaekHyun menatap lantai marmer bandara Incheon. Malam ini, BaekHyun akan meninggalkan semuanya. Meninggalkan masa kelamnya. Ya, BaekHyun memutuskan akan ikut Kris ke Amerika, sudah cukup ia menderita di Negara asalnya. Dengan begini BaekHyun bisa hidup tenang.
"Kau yakin ingin ikut denganku Baek?."
BaekHyun sedikit terkejut dengan suara Kris yang berada disampingnya.
"Ya Hyung, aku sangat yakin. Aku harus pergi dari sini. Aku ingin hidup bahagia. Aku tidak ingin disakiti lagi."
Kris menghembuskan nafasnya lega. Apapun keputusan BaekHyun, Kris akan mendukungnya, karena ini memang yang terbaik untuknya.
"Kau tidak ingin memberitahu LuHan atau siapapun? Mereka pasti terkejut mengetahui kau hilang begitu saja."
"Aku akan memberitahu mereka, tapi tidak sekarang. Mereka tantangan terberat untukku. Aku pastinya tidak akan tega meninggalkan mereka."
Kris tersenyum sambil mengacak surai BaekHyun.
"Baiklah Wu Baixian, pesawat kita sudah datang. Ucapkan selamat tinggal untuk Seoul dan kenangan pahitmu."
BaekHyun tersenyum lalu menatap penjuru bandara Incheon untuk terakhir kalinya.
Selamat tinggal Seoul. Selamat tinggal semuanya. Selamat tinggal Park ChanYeol.
.
.
Seminggu berlalu.
Kedatangan Park ChanYeol ke fakultas tempat BaekHyun kuliah sangat menghebohkan. Namja tampan dan tinggi itu berjalan dengan tenang. Kacamata hitam yang ia pakai membuatnya semakin berkilau. Lihatlah, disetiap ChanYeol melangkah beberapa orang disekitarnya menatapnya takjub. Park ChanYeol adalah Namja yang sempurna.
ChanYeol meneliti setiap ruangan dan beberapa orang yang berpapasan dengannya. Jangan tanyakan ChanYeol mencari siapa, karena sudah seminggu ini ChanYeol tidak pernah melihat BaekHyun. ChanYeol selalu menyangkal jika Namja itu merindukan BaekHyun, ChanYeol selalu meyakinkan hatinya jika ia ada beberapa urusan dengan BaekHyun. Meskipun ChanYeol tidak taua urusan apa itu.
Sudah 20 menit ChanYeol berkeliling tapi ia belum juga menemukan BaekHyun. Bahkan ChanYeol sudah mencarinya di toilet, taman belakang, gudang dan yang terakhir balkon atap, tapi tetap saja BaekHyun tidak ada disana. Dan ChanYeol ingat jika ada 1 tempat yang belum ia periksa. Kantin.
Sesampainya di kantin, ChanYeol meneliti setiap meja. BaekHyun tidak ada, yang ia lihat hanyalah teman-teman BaekHyun. LuHan, SeHun, Kai.
Dengan gaya nya yang angkuh ChanYeol menghampiri meja LuHan.
"Ekkhhemm.."
Ketiga orang dimeja itu mendongak menatap ChanYeol yang menatap lurus taman belakang. Ketiganya heran melihat ChanYeol berada di fakultas yang seharusnya ChanYeol tidak berada disini.
"Untuk apa kau kemari?." Ketus LuHan.
"Kau temannya BaekHyun kan? Kau pasti tau BaekHyun dimana."
Alis LuHan menukik tajam. Untuk apa Namja brengsek ini mencari BaekHyun?
"Untuk apa kau mencari BaekHyun? Kau ingin menyakitinya lagi?."
ChanYeol melepaskan kacamatanya lalu menatap LuHan tajam. Begitu pula LuHan. SeHun dan Kai merasakan aura yang menakutkan dari keduanya.
"Aku ada sedikit urusan dengannya, jadi katakan cepat dimana BaekHyun?!."
"Ck, kenapa kau bertanya keberadaan BaekHyun padaku?!."
"Karena kau temannya!."
"TAPI KAU KEKASIHNYA!."
Hening.
ChanYeol skak mat.
Atmosfer didalam kantin juga menakutkan. Semua yang berada dikantin melihat pertengkaran LuHan dan ChanYeol dengan serius. Karena menurut ChanYeol berbicara dengan LuHan tidak ada gunya, Namja itu pergi dari kantin menuju mobilnya. ChanYeol akan mencari BaekHyun sendiri.
Disaat ChanYeol berjalan menjauh ke parkiran, ChanYeol tidak sengaja mendengar percakapan dua mahasiswi yang baru keluar dari ruang dosen.
"Aku merasa ada yang aneh, kau tau Byun BaekHyun? Kekasih Park Chanyeol."
"Tentu saja aku tau! Dia Namja beruntung yang mendapatkan malaikat seperti Park ChanYeol."
"Saat aku mengecek absen tadi, nama Byun BaekHyun tidak ada. Disaat aku mencari di computer Mr. Han, nama Byun BaekHyun juga tidak ada. Apa mungkin BaekHyun keluar dari kuliahnya?."
"MWO?! Benarkah? Tapi sejak kapan? Kenapa tiba-tiba sekali?."
ChanYeol yang mendengar percakapan itu heran. Apa benar BaekHyun keluar dari kuliahnya? Tapi kenapa?. ChanYeol berlari menuju parkiran mobilnya. Ia harus ke apartment BaekHyun. ChanYeol ingin memastikan sendiri jika BaekHyun tidak berhenti kuliah.
20 menit kemudian.
ChanYeol segera turun dari mobilnya dan berlari menuju apartment BaekHyun. Bahkan ChanYeol rela menaiki tangga darurat karena terlalu lama menunggu lift. Rasa sesak itu datang lagi, tapi kali ini lebih sesak hingga membuat ChanYeol kesulitan bernafas.
Sesampainya didepan pintu apartment milik BaekHyun, ChanYeol mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum mengetuk pintu dengan brutal. Rasa sesak dan rasa takut yang di rasakan ChanYeol begitu menyiksa. Disini ada yang janggal.
"Permisi anak muda."
ChanYeol segera membalikkan tubuhnya saat ada seorang kakek tua menghampirinya. Kakek tua itu menilai dirinya dari atas hingga bawah. ChanYeol dibuat heran dengan sikap kakek tua ini.
"Kau tinggi, kau juga tampan, matamu juga bulat, telingamu lebar. Ah! Apa kau Park ChanYeol?!."
Garis didahi ChanYeol menyatu. Siapa kakek tua ini? Kenapa kakek tua ini tau namanya?
"Ya, aku Park ChanYeol."
"Ya tuhan akhirnya! Aku sudah seminggu menunggumu, dan akhirnya kau datang juga. Ah, perkenalkan dulu aku kakek Jung. Tetangga Baekkie."
"Baekkie?."
Kakek Jung tertawa kecil. "Iya Baekkie. Byun BaekHyun. Aku suka sekali memanggilnya Baekkie, nama itu begitu cocok dengan BaekHyun yang menggemaskan."
ChanYeol hanya mengangguk. Lalu 1 pertanyaan yang ada dikepalanya. Untuk apa kakek tua ini menunggu kedatangannya? Jika BaekHyun ada keperluan dengan ChanYeol, seharusnya BaekHyun datang langsung ke hadapan ChanYeol.
"Ah, aku sampai lupa. Tunggu sebentar."
Kakek Jung masuk kedalam apartmentnya meninggalkan ChanYeol yang kebingungan. ChanYeol tak peduli dengan kakek tua itu, Namja itu kembali mengetuk pintu apartment BaekHyun dengan brutal.
"YAK! Jangan kau ketuk keras begitu! Percuma saja kau mengetuknya karena BaekHyun sudah tidak tinggal disitu lagi."
Dan lagi, ChanYeol tak paham akan perkataan kakek Jung.
"Igeo!."
Kakek Jung memberikan ChanYeol sebuah surat beramplop biru.
"Surat itu dari BaekHyun untukmu. BaekHyun bilang jangan tanyakan apapun, cukup kau baca surat itu lalu hiduplah bahagia. Kalau begitu aku pergi dulu. Dan satu pesanku, jangan jadi gila karena surat itu."
Baiklah, sekarang ChanYeol seperti orang bodoh yang hanya diam didepan pintu apartment BaekHyun.
ChanYeol segera membuka surat itu. Karena semua ini membingungkan untuknya. BaekHyun sudah tidak kuliah. Lalu BaekHyun juga sudah tidak tinggal di apartmennya. Lalu untuk apa BaekHyun memberikannya surat. Ini sangat membingungkan untuk ChanYeol.
ChanYeol membaca surat itu dengan mata memerah. Tak lama kemudian ChanYeol berlari menuju mobilnya, ia harus bertemu LuHan.
Sesampainya dirumah LuHan, ChanYeol segera turun dari mobilnya dan berjalan dengan langkah lebar. ChanYeol mengetuk pintu rumah LuHan dengan brutal. Tak lama kemudian muncullah LuHan dengan wajah kesalnya.
"Ada apa lagi Park ChanYeol?! Sudah ku bilang, aku–"
"Katakan dimana Byun BaekHyun?!."
LuHan memutar bola matanya kesal. "Aku tidak tau dimana BaekHyun! Berhenti bertanya dimana BaekHyun, karena aku memang tidak tau dimana BaekHyun!."
"Tidak LuHan! Kau pasti tau dimana BaekHyun! Katakan dimana BaekHyun!."
"AKU TIDAK TAHU!."
"Aku mohon LuHan katakan dimana BaekHyun tinggal sekarang. Aku–"
"Pergi dari rumahku sekarang Park ChanYeol! Aku tidak tau dimana BaekHyun dan jangan datang ke rumahku lagi!."
BRAK!
LuHan menutup pintu dengan keras dan meninggalkan ChanYeol yang menyesali semua perbuatannya selama ini. Dengan langkah lesu ChanYeol kembali ke mobilnya dan mengendarainya pulang.
Sesampainya di apartment, ChanYeol hanya diam memandang surat yang diberikan BaekHyun. Namja tinggi itu meremat surat yang ia bawa hingga tak berbentuk.
"ARRGGGGGGGGHHHHHHH!." ChanYeol berteriak sangat kencang lalu mendorong meja didepannya hingga meja itu berbalik.
"SIALAN KAU BYUN BAEKHYUN! KENAPA KAU PERGI SEPERTI PENGECUT!."
Amarah ChanYeol tak terkendali. ChanYeol menjatuhkan apapun barang yang berada disekitarnya. Tak peduli seberapa mahal barang itu.
"BRENGSEK! KENAPA KAU MALAH MENINGGALKANKU! KEMBALI KAU BYUN BAEKHYUN!."
"KENAPA KAU MENINGGALKANKU BAEK!."
"KENAPA KAU MENINGGALKANKU! HIKS.."
"Kau meninggalkanku disaat aku sudah mencintaimu."
Yeah, penyesalan memang selalu datang diakhir. Jadi, jangan sia-siakan seseorang yang begitu mencintaimu.
Dear ChanYeollie
Annyeong! Hehehe
Aku tau disaat ChanYeollie membaca surat ini aku sudah pergi jauh. Maafkan aku karena tidak pamit secara langsung, aku akui Byun BaekHyun adalah Namja yang pengecut. Maafkan Namja pengecut yang sudah berani mencintai seorang Park ChanYeol.
Di surat ini aku hanya ingin mengatakan jika aku mencintaimu Park ChanYeol. Aku tidak berharap kau membalasnya tapi bisakah kau mengingat cinta ini meskipun hanya sedikit?. Hah! Kau tau Park –bodoh ChanYeol, aku merasakan sesak selama 1 tahun akhir ini. Entah mengapa rasa sesak itu semakin hari semakin membuatku tercekik. Tak bisakah kau merasakannya?
Aku mencintaimu tapi bukan berarti aku egois menyuruhmu mencintaiku. Tapi ini memang kesalahanku. Ini kesalahanku karena tidak membuatmu lebih mencintaiku. Ini kesalahanku untuk mencintaimu lebih dari kau mencintaiku . Ini kesalahanku karena tidak membuatmu mencintaiku seperti aku menginginkanmu. Meskipun hatiku sakit. Ini kesalahanku karena tidak membiarkanmu pergi. Itu semua memang kesalahanku. Maafkan aku Park ChanYeol. Dan aku berharap dengan tidak adanya diriku hidupnya menjadi lebih baik. Berbahagialah. Karena aku telah pergi dari hidupmu
Sekali lagi maaf aku.
Maafkan aku karena menjadi seperti ini.
(Memaafkan seseorang) yang selalu mencintaimu.
Byun BaekHyun
END
EPILOG
HOEK HOEK
"Baixian, kau tak apa? Kau sakit?."
BaekHyun menggeleng lemah. BaekHyun duduk di closet karena lelah sedari tadi mondar mandir ke kamar mandi. Entahlah, hari ini BaekHyun merasakan mual yang sangat menganggu. Untung saja ada Tao, Namja tinggi bermata panda yang menemaninya setiap saat.
"Sebaiknya kau ke dokter, kau sudah 3 hari ini mual-mual."
"Hah.. mungkin hanya masuk angin Tao-ya. Jangan khawatir."
"Bagaimana aku tidak khawatir! Kemarin kau pingsan di dapur."
BaekHyun hanya tersenyum. Ia tidak bisa mengelak lagi, karena apa yang dikatakan Tao benar. Kemarin kepalanya begitu pusing hingga ia pingsan didapur ketika ingin mengambil minum.
"Pokoknya kita ke dokter sekarang!."
.
Selama perjalanan pulang dari rumah sakit, BaekHyun terdiam melihat jalanan yang begitu ramai pekerja kantoran. Disampingnya ada Tao yang juga terdiam. Tao tidak tau harus berbuat apa untuk menghibur BaekHyun.
"Baixian, kau ingin kue beras? Bukankah kau tadi–"
"Aku ingin pulang saja."
"Oh baiklah."
Dan keduanya kembali terdiam. 15 menit kemudian, Tao tidak tahan dengan atmosfir yang terjadi diantara mereka. Pada dasarnya Tao memang cerewet, jadi ia akan berusaha menghibur BaekHyun.
"Bukannya aku menyudutkanmu, tapi kau harus menerima semua ini Baek. Itu semua anugerah. Kau harus menerimanya. "
"Anak itu.. meskipun tidak tau siapa ayahnya, tapi anak itu tau jika ia masih mempunyai ibu."
Air mata BaekHyun menetes begitu saja.
"Tao-ya."
"Aku dan Kris Gege akan membantumu merawat si kecil. Jadi jangan khawatir tentang apapun."
BaekHyun tersenyum sambil mengelus perutnya.
Saat di rumah sakit tadi, dokter mengatakan jika BaekHyun Namja yang istimewa. Karena BaekHyun..
POSITIF HAMIL
.
"Yak! Chagi, jangan digigit mainannya. Itu kotor."
"Ma.. Ma.. Ma.."
"Aigo.. ada apa Chagi-ah? Mau minum susu?."
Balita 5 bulan itu tertawa lucu.
"Baiklah. Kajja.. Mama akan buatkan susunya."
EPILOG END
Hallo aku kembali dengan cerita yang super panjang. Maaf telat update 3 bulan:( tugas numpuk, ujian praktek barusan selesai, dan sekarang disibukkan dengan tryout-_-
Author makasih banget buat kalian yang sudah mengikuti FF ini dari pertama hingga END. Maaf mengecewakan:( Chap.6 belum diedit sama sekali, jadi maaf kalau ada typo. Maaf juga kalau ceritanya semakin lama semakin gak nyambung. Maaf juga kalau kurang feel:(. Bikin Chp.6 ini udah kayak kerja rodi haha
Okey cukup sekian cuap cuap dari Author.
MAKASIH BANYAK BUAT KALIAN YANG UDAH BACA FF INI + COMENT. TANPA KALIAN AKU TIDAK PUNYA SEMANGAT UNTUK MELANJUTKAN HAHA
Sequel? 5 :p
