Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.

Genre: Adventure, Suspense

Warning(s): Multichapter, drabble, mungkin saja tidak -ganti POV, Chara death.


.

Gadis berseragam Yasogami melewati setapak jalan Shopping District. Rambut panjang dikuncir dua berwarna coklat kemerahan melambai-lambai pelan dibawah payung berwarna merah muda yang melindunginya dari rintik hujan yang mulai memelan. Ekspresi wajahnya terlihat capek tetapi ia tersenyum, ketika ia berhenti di depan rumahnya, sebuah toko berlabel 'Marukyu Tofu'.

"Nenek, aku pulang~" teriaknya ke dalam toko yang tengah itu tutup.

"Tunggu sebentar, Rise-chan. Nenek sedang sibuk menyusun tofu~" ucap suara lemah didalam. "Ah iya, bisa tolong kau ambilkan pesanan nenek di Tatsumi Textile? Bilang saja kalau aku yang pesan~"

"Baik, nek!" gadis bernama Rise itu menuju arah seberang.

Ia langsung tersentak ketika melihat ke arah jalannya.

Ada gadis berambut hitam dengan bando merah dan seragam yang sama dengannya—bedanya gadis itu memakai blus merah—terbaring basah dibawah hujan tepat didepan gerbang Torii milik kuil Tatsuhime.

Rise makin kebingungan karena semua orang yang melewati jalan itu tidak tampak mengasihani, bahkan tidak ada yang menyadari bahwa ada orang disana.

"H, hei, kau tidak apa-apa?" gadis itu pun menghampiri tubuh orang tersebut dan memeriksanya. Ia dapat melihat darah segar masih mengalir dari luka di perutnya, tubuh orang itu juga mendingin karena terus terkena hujan. Gadis berkuncir dua itu melihat sekilas wajah orang pingsan itu

"Tunggu," Rise terdiam sejenak. "Rasanya aku pernah melihat orang ini...tapi dimana...?"

.


A Lone Prayer

2011 (c) Kuroi-Oneesan


Malebolge, New World

Ketika Yukiko membuka matanya, ia merasa berada di sebuah tempat tidur empuk—tapi bukan di rumah sakit karena langit-langitnya terlihat dekat dan bukan berwarna putih—ia merasakan ada sesuatu yang dingin diatas dahinya, seperti sebuah kain. Ia merasakan sedikit nyeri, tetapi lukanya sudah tertutup oleh perban. Mata hitamnya melihat sekeliling, banyak sekali boneka dalam berbagai ukuran di sekitarnya—seperti kamar seorang gadis yang feminim pada umumnya.

"Ah, apa kau sudah sadar...?" suara gadis terdengar dari arah pintu sesaat pintu tersebut terbuka. Ia memakai seragam sekolah SMU Yasogami—dan Yukiko kaget melihatnya—Kujikawa Rise tengah ada dihadapannya bagai orang lain.

"Ri-Rise-chan...?" ucap Yukiko. "Bukannya kau kembali ke dunia entertainment musim semi ini...?"

Rise tidak bergeming walaupun dipanggil 'sok akrab'—bisa dimaklumi, jangan lupa walaupun sudah hiatus, embel-embel idol masih dibawanya.

"Oh, sudah biasa sih orang bisa mengenaliku, apa kau salah satu stalkerku?" mendadak ekspresi ceria Rise memudar. "Umm...ti,tidak, aku tidak berencana kembali ke dunia itu...aku sudah berhenti sejak tahun lalu."

Yukiko awalnya sweatdrop, tetapi ia ikut sedih. "Tidak, Rise-chan. Kita adalah...err, bisa dibilang...teman?"

"Teman? Tidak ada yang mau 'berteman' baik denganku karena aku seorang Idol," jelas Rise pendek. "Tampaknya kau adalah senpai-ku...yah, dari seragam Yasogami itu. Siapa namamu, senpai?"

"Amagi Yukiko," ia terdiam. "Kau...tidak ingat apa-apa tentangku, Rise-chan?"

"Tidak, tapi aku merasa pernah menemuimu di suatu tempat, dimana ya?" Rise menaruh telunjuk di pipinya, berpose berpikir. "Hrmm, sudahlah! Apa kau sudah merasa baikan, Yukiko-senpai?"

"Emm, i-iya...terima kasih kau sudah merawatku," Yukiko menunduk. "Kau sudah mau ke sekolah?"

"Hm? Iya," Rise mengambil tasnya. "Sebaiknya kau istirahat saja untuk hari ini, senpai."

Rise sudah hendak pergi dari tempatnya ketika Yukiko kembali memanggilnya, "Su, sudah berapa lama aku disini? Sekarang tanggal berapa?"

"Kurasa tiga hari?" Rise menaruh telunjuk di pipinya, matanya melirik ke arah kalender. "Ah, sekarang tanggal 24 April 2011!"

'...Apa!'

Gadis itu terdiam, kaku tak bergerak. 'Kenapa tahunnya kembali ke 2011?' pikirnya di sel terdalam otaknya.

.

Gadis idol itu tengah melangkahkan kaki keluar rumah, dan ia kembali dihentikan oleh sosok yang ia rasa kenal tepat di depan tokonya. Rambutnya putih spike yang sedikit, dahinya besar, alisnya tidak terlihat, ada luka jahit bertengger di pelipisnya, pemuda itu juga mengenakan seragam Yasogami dengan kaos berlogo tengkorak didalam seragamnya, perawakannya memang seperti preman pada umumnya.

"Pesan apa hari ini, Kan-chan?" Nenek Rise sudah menanyai pemuda itu.

"Jangan panggil aku 'Kan-chan'!" bentaknya. "Ganmodoki seperti biasa ibu pesan,"

Rise menaikkan alisnya begitu melihat pemuda tersebut—yang berbeda dengan lelaki lain yang sengaja beli tahu untuk bertemu dengannya—bahkan dia tidak peduli sama sekali kalau gadis itu lewat. Rise pun memutuskan untuk mematung disana dan menahan tertawanya karena orang sesangar dia ternyata dipanggil dengan embel 'Kan-chan'.

"Kau tidak ke sekolah lagi, Kan-chan?" tanya nenek Rise yang tengah membungkuskan Ganmodoki.

"Aku malas, Marukyu-baachan." Kanji mengernyitkan dahinya. "Hei, gadis bodoh, jangan menahan ketawamu, kalau ketawa, ketawa saja!"

"Ha...hahahaahaha! Maafkan aku, Kan-chan! Hahaha!" tawa Rise membludak, membuat pemuda itu bingung—biasanya 'kan ia dihindari nomor satu oleh tiap orang apalagi jikalau ia sudah berteriak? Kenapa gadis ini malah tertawa lepas?

Tetapi, mereka berdua merasa ini adalah sebuah deja vu.

"Hmph!" Kanji hendak angkat kaki setelah nenek Rise selesai membungkus pesanannya.

"Tunggu, Kan-chan!" Rise menarik lengan seragam pemuda itu. "Kau siapa? Kenapa rasanya aku kenal padamu?"

"Apaan sih, kau sendiri?" balas pemuda tersebut.

"Kan-chan, bukannya sudah kuceritakan? Dia cucuku, Kujikawa Rise," senyum nenek itu, dengan sabarnya ia tidak merelai pertengkaran remaja tersebut.

"Kujikawa Rise?" pemuda itu menaikkan alisnya. "Ooh, artis yang sudah mangkir setahun lalu?"

"Apa maksudmu, Kan-chan!" ia mencengkeram kerah seragam pemuda itu. "Kau! Kau tidak tahu dunia Idol!"

"Haaah? Apa yang harus kutahu? Itu bukan urusanku!" geleng Kan-chan. "Jangan panggil aku Kan-chan terus, aku ini Tatsumi Kanji!"

"Tatsumi...Kanji? Aaah, akan kuingat namamu! Kau di SMU Yasogami juga kan!"

"Ya, tapi hari ini aku baru di D.O," ucapnya lantang. "Oleh guru literatur, King Moron, karena aku dituduh mem-bully anak kelas 1-2."

"Oh," Rise melepaskan cengkeramannya, merasa simpati. "Aku pergi dulu...dadah, Tatsumi..."

"Gh, uhuk! Ada apa sih gadis itu!" Kanji membetulkan kerah bajunya. "Apa urusannya dia denganku sih? Hrrg,"

Sementara, gadis berbando merah itu hanya mendengarkan pembicaraan mereka berdua dengan wajah shock dari jendela lantai dua...

.

To be continued.


Chapter ini lumayan banyak ya? Kebanyakan celotehan Rise sama Kanji sih~ daaan wow! sudah chapter 6 dan banyak tanggapan positif! Saya seneng banget ternyata ada yang suka~ :D

Nah, apa para pembaca bingung~? Ya, saya juga, tenang saja. *plak*

Sedikit catatan nih, waktu berjalan mundur, dan 'kenyataan yang berbeda' saya dapet dari P2:Batsu. Disini kenyataannya Rise sudah berhenti total dari dunia entertainment bahkan sebelum dia ketemu Souji pas awal setting P4, Naoto yang ogah masuk sekolah, Kanji di drop-out oleh Morooka pas April 2011 dan Yosuke, Chie serta Teddie yang belum diketahui nasibnya...hah, gimana ya ini fanfic?

Oke, terimakasih pada para pembaca dan para pe-review yang menemani cerita ini! R&R bila berkenan? See you next chapter!