Aaaah, saya rindu menulis fanfic setelah hiatus selama beberapa bulan. Dan tentu saja saya juga rindu pada kalian semua, pembaca setia fanfiksi Harry Potter se-Indonesia (atau mungkin sedunia. Hehe). Ini saya persembahkan untuk kalian. Selamat membaca! ^_^
Disclaimer: Seluruh karakter milik JK Rowling. Saya hanya meminjam dan menyatukan mereka dengan plot cerita yang saya buat sendiri tanpa mengharapkan keuntungan apapun.
.
.
.
Pelajaran ramuan pagi ini akhirnya membuatku sedikit melupakan tentang kejadian semalam yang melibatkanku, Malfoy dan Snape di ruangannya. Snape tidak menyinggung-nyinggung sedikit pun tentang detensi. Malfoy juga sepertinya sudah lupa, atau bahkan memang enggan mengingat detensinya bersamaku. Nyaris saja aku merasa beruntung karena tidak ada hal yang membuatku mengingat kembali peristiwa semalam, sebelum Ron mendekat ketika aku sedang mengaduk ramuan dalam kuali.
"Kau baik-baik saja, Hermione?" bisik Ron. Ini kedua kalinya ia bertanya seperti itu, setelah pada saat sarapan tadi ia mengajukan pertanyaan yang sama dan berapi-api mengutuk Snape atas keputusannya memberikan detensi ke Hutan Terlarang.
Pandanganku tetap terarah kedalam kuali, memperhatikan cairan di dalamnya yang pelan-pelan berubah warna menjadi kehijauan.
"Bukankah sudah kubilang aku baik-baik saja?" aku balik bertanya dengan nada bosan.
"Lihat dia! Seperti tak punya salah sedikitpun." Ron mencibir.
Bahkan jika Ron tidak berkata seperti itu, aku juga sudah melihatnya dari tadi. Malfoy berada di seberang bersama teman-teman Slytherin-nya. Berlagak sok sibuk dengan membuka-buka buku ramuan dan berulangkali memeriksa kualinya.
Rasanya sudah terlalu malas menanggapi perkataan Ron. Tidak bisakah orang-orang di sekelilingku membantuku untuk berhenti memikirkan Malfoy dan bukannya membuatku selalu memperhatikannya?
"Waktu merebus ramuan sudah habis," Snape berkata keras di depan mejanya, mengitarkan pandangan kepada seluruh siswa di ruangan itu untuk menghentikan aktivitas apapun yang sedang dilakukan. "Masukkan contoh ramuan kalian kedalam botol kosong, beri nama dan berikan padaku. Lalu kalian bisa segera pergi dari tempat ini," katanya kemudian.
"Oh, tidak! Lihat, ramuanku masih berwarna hitam kecoklatan, tidak hijau seperti punyamu," Ron membandingkan botolnya yang sudah terisi ramuan dengan milikku.
Huh! Salah sendiri ia tidak berkonsentrasi pada ramuannya dari tadi. Siapa suruh mengajakku mengobrol?
"Sudah, berikan saja pada Snape," aku berkomentar singkat sebelum meninggalkannya ke meja depan dan melangkah keluar kelas.
Pelajaran kedua hari ini adalah Transfigurasi. Aku harus bergegas jika ingin mendapatkan kursi paling nyaman di depan kelas. Memikirkan bertemu dengan Profesor McGonagall dan membayangkan wibawa serta kebaikan hatinya membuatku mempercepat langkah. Sekilas aku memasukkan tangan kedalam tas untuk memastikan Diary Mimpi masih ada disana. Semakin cepat pelajaran berakhir, semakin cepat juga aku bisa menuliskan mimpi semalam sebelum aku sendiri melupakannya. Pikirku tak sabar.
oOo
Sebelumnya aku tidak pernah melahap makan siang dengan terburu-buru seperti ini. Ron yang selalu bersikap seperti itu pun tak habis pikir dengan cara makanku yang lebih cepat dari biasanya.
"Kau sedang lapar atau apa?" tanya Ron keheranan, menghentikan suapan sup jamurnya.
"Ada yang harus kukerjakan di perpustakaan," jawabku tak acuh.
"Hmm, biar kutebak, kau pasti akan mengerjakan esai tentang metamorphmagus yang ditugaskan Profesor McGonagall tadi, kan?" Harry menimpali.
"Oh, Hermione! Esai itu kan baru akan dikumpulkan minggu depan. Santai saja, tak perlu terburu-buru."
Sebenarnya bukan hal itu yang akan kukerjakan. Aku berkata dalam hati. Tapi rasanya tak mungkin jika aku menceritakan dengan jujur apa yang akan aku lakukan disana, apalagi jika kuceritakan pula pada mereka tentang Diary Mimpi yang selama ini selalu kuisi dengan kisah bersama Draco Malfoy yang sering mampir di mimpiku dalam beberapa malam.
Jadi aku hanya bisa mengangguk mengiyakan untuk menanggapi tebakan Harry dan persepsi Ron.
"Tidak ada salahnya untuk segera mengerjakan apa yang sudah menjadi tugasmu, bukan?" aku mengerling pada mereka berdua setelah menyuapkan potongan puding terakhir yang menjadi menu penutup siang itu. "Aku pergi dulu. Sampai jumpa. Dah!"
"Kau tidak lupa kalau kita masih punya kelas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam setelah makan siang ini, kan Hermione?" Harry berkata cepat ketika aku baru saja bangkit dan hendak keluar.
"Aku tahu. Aku kan tidak seperti Ron," balasku terkikik sebelum benar-benar meninggalkan meja.
Harry ikut tertawa mendengar perkataanku tadi. Masih bisa kudengar bisikan Ron yang mengeluh karena harus bertemu dengan Umbridge di pelajaran siang nanti. Tanpa melihat pun, aku bisa membayangkan ekspresinya yang penuh dengan kekesalan dan kebencian pada guru baru dari Kementerian itu.
Ingatanku kembali melayang pada mimpi yang kualami beberapa hari lalu dan tak habis pikir kenapa aku bisa memimpikan Dolores Umbridge, tentu saja setelah tanpa bosan aku terus berpikir kenapa Draco Malfoy juga datang ke mimpiku berkali-kali.
Koridor menuju perpustakaan masih sepi dari orang-orang yang biasanya berlalu lalang. Terang saja, hampir semua murid masih menghabiskan makan siangnya di Aula Besar. Well, setidaknya mereka makan siang dengan wajar tanpa perlu terburu-buru sepertiku tadi. Mereka juga tidak punya keperluan untuk menuliskan mimpi dalam sebuah buku harian karena tidak ada orang yang sama yang selalu hadir setiap kali mereka bermimpi. Ah, sudahlah!
Ekspresi dingin Madam Pince yang mengangkat wajahnya sekilas dari buku yang sedang ia baca langsung menyambutku begitu aku melewati meja depan petugas perpustakaan. Aku hanya tersenyum samar tanpa mengharapkan Madam Pince membalas senyumanku.
Langkahku terhenti sejenak ketika melewati rak yang menyimpan buku-buku tentang Transfigurasi. Sesaat aku berpikir untuk mencari buku tentang Metamorphmagus dan mengerjakan tugas menulis esai terlebih dulu, sayangnya hal itu harus tertunda saat ini. Entahlah, menulis Diary Mimpi menurutku tidak bisa dibandingkan dengan tugas-tugas sekolah, tapi lebih dari sebagian pikiranku dipenuhi dengan mimpi-mimpi itu. Kedengarannya bodoh memang, aku juga tak tahu alasannya kenapa. Satu alasan yang bisa kujelaskan mungkin karena aktor yang selalu menjadi tokoh utama dalam mimpiku adalah Draco Malfoy, putra Slytherin berdarah murni yang menjadi idola banyak murid putri di Hogwarts. Dan jika aku masih dihitung sebagai siswi Hogwarts, maka aku juga berhak memiliki perasaan yang sama seperti murid-murid lain yang menggilai Draco Malfoy, tidak peduli betapa sombongnya ia atau seberapa kadar kebenciannya pada Harry dan murid Gryffindor lain sepertiku. Nah, sekarang alasan itu menjadi sangat tidak masuk akal. Lagipula, apa anggapannya tentangku? Seorang kelahiran-muggle yang seharusnya tidak pantas ada di sekolah sihir terbaik di Inggris? Seorang darah-lumpur yang sama memalukannya seperti seorang squib yang hidup di dunia muggle? Sungguh, kedua anggapan itu sama buruknya dan sangat sulit untuk memilih anggapan mana yang lebih baik dari yang lain.
Sekarang apa? Aku telah melewati buku-buku Metamorphmagus yang melambai-lambai untuk dibaca. Menuju ke tempat duduk perpustakaan yang hanya diisi oleh satu dua orang murid yang kelihatannya sudah tenggelam dalam dunia bacaan mereka masing-masing.
Aku duduk di kursi paling pojok. Kursi yang menurutku paling nyaman saat ini. Aku sudah memperhitungkan jarak pandang orang-orang yang bolak-balik dari satu rak ke rak yang lain. Mereka tidak akan bisa melihat apa yang sedang kutulis, kecuali jika mereka adalah tipe orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain.
"Malfoy! Apa yang kau lakukan disini?!"
"Hei!"
"Kau!"
"Oh, kepalaku…"
"Keluar dari kamarku!"
"Kamarmu? Lihat, Granger! Bahkan ini bukan kamarmu!"
Cuplikan mimpi semalam kembali hadir dalam benakku ketika aku mengeluarkan Diary Mimpi dan pena bulu dari dalam tas. Oh, Merlin! Mimpi semalam sepertinya memang lebih parah dari mimpi-mimpi sebelumnya. Tak bisa kubayangkan apa yang akan terjadi jika keadaan dalam mimpi itu muncul pula di dunia nyata.
Baiklah, sekarang saatnya menggali kembali memori tentang mimpi. Aku membuka halaman kosong dari buku harian itu dan mulai menulis…
14 Februari 1996, Hari Valentine
Mimpi aneh setelah detensi dengan Malfoy di Hutan Terlarang
Aku dan Malfoy tidur di tempat yang sama dengan alasan detensi setelah kami saling menyerang di Aula Besar. Sebuah alasan yang tidak logis mengingat keadaan kami dalam satu ruangan mungkin akan menimbulkan pertarungan mantra lagi yang lebih sengit dari sebelumnya. Dalam mimpi sekalipun, aku tidak terima jika harus berada dalam kamar tidur yang juga ditempati Malfoy…
Semuanya mengalir begitu saja. Semua hal yang kutulis menyadarkanku betapa aku memiliki ingatan yang sangat kuat tentang mimpi itu dan mimpi-mimpi lain yang sudah tertulis di Diary Mimpi. Semua detail kisahnya melintas dengan jelas dalam pikiranku, seolah menyaksikan kembali cuplikan sebuah film yang sudah kuhapal jalan ceritanya.
Dan ia terus tertawa dengan puas. Untuk pertama kalinya, aku merasa ingin terbang dengan sapu, pergi kemanapun juga, yang penting menjauh dari Malfoy dan tertawaannya yang lebih menyebalkan dari apapun…
Tulisanku mencapai batas akhirnya.
"Hoamm," aku menguap setelah menyimpan pena bulu didepanku begitu saja. Rasa kantuk biasanya memang akan menyergap ketika sedang serius menulis. Itu anggapanku. Mungkin karena didukung oleh suasana perpustakaan yang sepi dan faktor kursi yang tadi kupilih untuk duduk, rasa kantuk itu semakin menjadi-jadi saat ini. Aku tidak pernah mengantuk di perpustakaan sebelumnya, tidak ketika aku mengerjakan berpuluh-puluh senti esai di malam hari. Tapi kenapa rasanya sekarang… hoamm… apa kubilang, aku bahkan menguap ketika sedang berpikir. Apa yang salah dengan diriku? Apa yang terjadi hingga… hoamm… huh, buku harian dan pena bulu dihadapanku terlihat seperti bantal bulu angsa yang empuk dan nyaman…
"Apa maumu, Darah Pengkhianat Weasley? Tunggu sampai Ayahku mendengar tentang ini. Kau pikir kau bisa mengalahkanku dalam bermain quidditch, hah?"
"Setidaknya aku lebih baik darimu. Aku tidak pernah masuk dalam tim karena menyogok anggota lain."
"Oh, jangan bermimpi! Lagipula, orangtuamu tidak akan sanggup membelikan Nimbus 2000 untukmu, apalagi untuk orang lain."
"Cukup!" aku berteriak mendengar pertengkaran Draco dan Ron di lapangan quidditch. Kami bertiga ada disana, dan aku sedang mencoba melerai pertengkaran yang terjadi antara mereka setelah pertandingan quidditch Gryffindor lawan Slytherin selesai beberapa menit lalu.
"Kita akan buktikan siapa yang lebih baik. Kita akan bertanding menjadi Keeper. Siapa yang paling banyak kebobolan Quaffle, dia yang pecundang," Ron menantang Draco. Ia berbalik, menuju ke arah gawang untuk mengambil posisi dengan raut wajah marah yang mulai menyamai warna merah rambutnya.
"Oh, kau bercanda rupanya. Aku Seeker, bukan Keeper pecundang sepertimu."
"Terima atau kau mengakui bahwa dirimu adalah pecundang."
"Ya, terima saja, Malfoy! Apa susahnya? Oh, mungkin sogokanmu pada tim Slytherin hanya berlaku untuk menjadi Seeker saja, eh? Jadi kau takut menjadi Keeper?"
"Diam, Granger!" bentak Malfoy.
"Hermione akan menilai siapa yang memang benar-benar hebat di antara kita," Ron berkata tegas.
"Apa?! Ron, aku tidak tahu…" aku mulai kebingungan.
"Lakukan saja, kau hanya perlu menghitung jumlah Quaffle yang masuk ke gawang kami nanti. Aku tahu kau bisa," kata Ron lagi.
"Bagus sekali. Seorang gadis yang tak tahu apa-apa tentang quidditch akan menjadi penilai," cibir Malfoy.
"Hei!" aku cemberut mendengar komentar Malfoy yang merendahkanku, "Hanya menghitung Quaffle yang masuk ke gawang sih mudah."
"Kita lihat nanti." Sekali lagi, Malfoy mencibir sebelum menjejakkan kaki ke tanah untuk terbang menuju gawang.
Pertandingan satu lawan satu antara Draco Malfoy dan Ron pun dimulai. Draco mendapat giliran pertama menjaga gawang. Dengan tangkas, ia bergerak menghalangi setiap lemparan Quaffle yang diarahkan Ron. Kalau hitunganku tidak salah, ia hanya kebobolan dua Quaffle saja.
Berbeda dengan giliran Ron. Ia sepertinya bersusah payah menjaga Quaffle yang dilemparkan Malfoy. Lima kali Quaffle melesat tepat melewati gawang yang dijaga oleh Ron. Ternyata Malfoy tidak hanya gesit dan cekatan mengejar Snitch, tapi juga memiliki kekuatan yang bisa membuat Ron jungkir balik di udara beberapa kali.
"Nah, kau lihat sendiri kalau aku lebih hebat, bukan?" tanya Malfoy angkuh setelah ia mendarat dan mendekat kearahku.
"Dengarkan saja apa keputusan Hermione," Ron terengah-engah.
"Well, sepertinya kau harus mengaku sebagai pecundang, Malfoy. Terima saja jika Ron lebih baik darimu di depan gawang tadi," kini giliranku yang mencibir kepadanya.
"Tidak adil. Aku tahu kalau dia kebobolan Quaffle lebih banyak dariku," tukas Malfoy mulai geram. "Apa tadi kau tidak lihat kalau dia jungkir balik kewalahan menahan serangan Quaffle yang aku lemparkan?"
"Menurutku itu malah menjadi nilai tambah, gerakan jungkir balik Ron tadi seperti pertunjukan akrobatik dan aku menyukainya," ujarku. "Dan keputusan penilai tidak dapat diganggu gugat," aku menegaskan.
"Bodoh! Dasar darah lumpur kotor! Aku membencimu! Jangan pernah bicara padaku lagi!" Malfoy membentak tepat di depanku. Ia melemparkan sapunya ke tanah dan berlalu dengan raut wajah penuh kebencian.
Apa yang ia katakan tadi? Jangan pernah bicara dengannya lagi? Aku tak tahu kenapa hatiku terasa sakit ketika mendengar perkataannya saat itu. Malfoy benar-benar marah padaku.
"Terima kasih sudah membelaku, Hermione. Kau memang sahabat, yang baik," Ron mengelus pundakku.
Tak ada reaksi apapun. Aku masih melongo memandangi kepergian Draco Malfoy dan tiba-tiba merasa sangat sedih. Mataku terpejam, menitikkan bulir-bulir air yang sedikit demi sedikit membasahi pipi…
"Hermione," Ron memanggilku
"Hermione, kau baik-baik saja?"
Aku bisa mendengar suaranya, tapi rasanya terlampau lemah dan kaget untuk merespon dengan jawaban atau gerakan apapun.
"Hermione!"
"Hermione!"
.
.
"Hermione!"
"Hermione!"
Terkejut. Aku segera terjaga ketika mendengar seseorang memanggil-manggil namaku dan merasakan guncangan lembut di bahuku. Oh, Merlin! Apa yang baru saja terjadi?
"Kau ketiduran."
Ginny berada di sampingku, menatapku dengan pandang penuh keheranan.
"Oh, Ginny…" aku mencoba mengumpulkan kesadaranku, "Ada apa?"
"Kau ketiduran," Ginny mengulangi perkataannya, "Kau pasti kelelahan karena detensi dengan Malfoy semalam."
Ah, betapa malasnya aku mendengar kejadian itu.
"Oh, kau sudah tahu."
"Ron yang memberitahu," Ginny berkata dengan nada menyesal, seolah ia baru saja mendengar berita buruk, "Hei, apa itu buku harian yang tahun lalu kuberikan?" tiba-tiba matanya terbelalak melihat buku yang terletak di atas meja.
Spontan aku menutup buku itu dan menariknya lebih dekat kearahku. "Ya, ini…"
"Dulu kau pernah bilang kalau aku boleh membacanya. Aku jadi penasaran dengan apa yang kau tuliskan disitu," kata Ginny kemudian.
"Hanya… kau tahu, er, semacam jurnal harian," ujarku gugup, "Ya, kapan-kapan akan kupinjamkan."
"Aku tak sabar untuk itu," Ginny tersenyum, "Well, harus pergi sekarang. Aku kesini hanya ingin meminjam buku, lalu tiba-tiba melihatmu tertidur, jadi kubangunkan."
Aku balas tersenyum, "Ya, terima kasih. Kalau kau tidak membangunkanku, mungkin aku masih akan tidur disini dan melewatkan kelas Umbridge."
Raut wajah Ginny seketika berubah ketika mendengar nama wanita Kementerian itu disebut.
"Percayalah, melewatkan kelasnya tidak akan membuatmu rugi," kata Ginny, "Aku duluan kalau begitu, bye!"
Dan Ginny pergi meninggalkanku. Kini aku sudah sepenuhnya sadar. Mencoba mengingat kembali apa yang baru saja terjadi. Mimpi lagi, di siang hari begini, ketika aku hanya ketiduran di kursi perpustakaan. Oh, apa yang salah dengan sensor mimpi dalam otakku?
Mimpi tadi tidak hanya menghadirkan Malfoy saja. Ada Ron juga. Dan aku membela Ron dalam pertandingan quidditch satu lawan satu. Dan Draco Malfoy berkata kalau dia sangat membenciku. Dan aku hampir gila dengan semua mimpi ini. Ah, seandainya masih banyak waktu tersisa sebelum kelas Umbridge dimulai untuk menuliskan kembali mimpi yang baru saja kualami kedalam Diary Mimpi. Tapi rasanya tidak mungkin. Bahkan untuk sampai di kelas tepat waktu, aku mungkin harus bergegas sekarang juga.
Aku menyambar buku harian itu dan segera pergi meninggalkan perpustakaan. Melanjutkan langkah dengan berlari-lari kecil serta sesekali berjalan cepat di sepanjang koridor menuju kelas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam.
Sedikit lagi, pikirku ketika melihat kelokan terakhir menuju ruang kelas. Aku mempercepat langkahku. Hanya satu kelokan lagi sebelum…
"Aduh!"
"Hei! Kau sedang lomba lari di dalam sekolah?!"
"Maafkan aku," aku mencoba bangun dari posisi jatuh setelah menubruk seseorang-entah-siapa yang tadi berjalan di depanku, "Aku tidak se—" Malfoy! Merlin's Beard!
Beberapa saat aku terkesiap melihat siapa yang tadi tak sengaja kutabrak. Tak ada kata-kata yang terpikir dalam benakku ketika Malfoy bangkit dan menepuk-nepuk jubahnya.
"Maaf," kataku akhirnya. Aku segera pergi meninggalkannya, mencoba tidak bersirobok pandang dengannya lagi.
Oh, apa yang terjadi? Kenapa disaat seperti ini aku harus bertemu dengan aktor utama dalam mimpiku? Kenapa Malfoy tak pernah bisa menghilang dari pikiranku? Aku semakin mempercepat langkah.
"Hei!" kudengar Malfoy berteriak. Ah, mungkin bukan padaku.
"Hei, Granger!" ia berteriak lagi. Sekarang sepertinya ia lebih dekat kearahku.
Aku berusaha untuk bersikap setenang mungkin sebelum berbalik, "Aku sudah meminta maaf, kan?"
"Kau menjatuhkan bukumu."
Diary mimpiku! Demi Celana Merlin!
Dengan cepat aku merebut buku harian yang disodorkan Malfoy, mendekapnya erat, dan segera berlalu mendahuluinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Degup jantungku bertambah kencang dengan darah yang terpompa lebih cepat dari biasanya. Debarnya yang keras dapat terlihat dari buku dalam dekapanku yang juga ikut naik turun. Hampir saja. Nyaris. Apa dia sempat membukanya barusan? Bagaimana jika iya? Apa reaksinya jika tadi ia menemukan namanya tertulis lebih dari puluhan kali dalam diary itu?
Malfoy melangkah santai di belakangku. Sangat kontras dengan langkah kakiku yang gemetar dan semakin melaju cepat menuju kelas, hingga sampai di depan pintunya yang segera kubuka.
"Miss Granger, kau terlambat. Sebuah kejutan," serta merta kudengar suara menyebalkan Umbridge sebagai ucapan selamat datang, "Kau bisa duduk di kursi belakang," lanjutnya.
Aku menuruti perkataannya. Masih tak bisa menyembunyikan rasa keterkejutanku atas apa yang baru saja terjadi. Aku sedang mencoba menenangkan diri ketika Umbridge mengucapkan 'ungkapan selamat datang' lagi.
"Ah, Mr. Malfoy. Kau terlambat juga," Umbridge menggeleng-geleng, "Kau bisa duduk di sebelah Miss Granger kalau begitu."
Nah, sekarang bersikaplah seperti biasa, Hermione! Bersikaplah seakan peristiwa tadi tidak pernah terjadi. Aku menenangkan diri sendiri. Mulai berpura-pura memperhatikan wanita berwajah kodok yang memakai jas beludru merah muda di depan kelas saat Malfoy duduk di sebelahku. Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain berharap dengan sangat agar Draco Malfoy tidak memperhatikan degup jantungku yang semakin berdebar tak beraturan.
"Hei, Granger!" katanya tiba-tiba, bahkan ketika jantungku belum kembali berdegup seperti semula "Aku tahu apa isi bukumu tadi."
.
.
TBC
a/n:
Maaf jika fanfic ini tertunda selama beberapa bulan. Mudah-mudahan readers tidak marah dan semoga chapter selanjutnya bisa saya lanjutkan secepat mungkin.
Jadi, bagaimana pendapat kamu tentang chapter keenam ini? Ayo, tumpahkan semua uneg-uneg, komentar, kritik dan saran yang membangun di kotak review yaa…
Again, thanks for reading and see you on the next chapter! ^_^
