Disclaimer : Harry Poter Is Belong to J. K. Rowling
A/N : Hai... Apa kabar kalian semuanya? Aku kembali dengan membawa fics aneh ini. aku berharap kalian nggak bosan membaca cerita ini, dan jangan lupa untuk review. Warning Typo(s), OOC, EYD berantakan. Aku harap kalian suka dengan chapter ini;)
Chapter 6
Asap yang mengepul keatas, ternyata adalah sebuah asap pembakaran persawahan. Perjalanan dan disertai berlarian karena para cacing yang mulai berdemo telah meminta asupan makan membuat semangat mereka membara.
Namun, dibalik pepohonan tersebut hanya terlihat jerami-jerami yang sedang dibakar. Membuat, semangat yang tadinya setinggi langit sekarang hanya tidak lebih dari setinggi tanaman rumput yang berada di sisi kanan dan kiri mereka berdiri.
Draco melotot melihat apa yang terjadi di hadapannya ini, matanya seakan ingin keluar dari tempatnya berada. Tangannya yang menggenggam tangan mungil Hermione pun terlepas begitu saja tanpa perintah.
Hermione tidak kalah terkejutnya dengan Draco, Mulutnya mengganga seperti ikan di laut. Mereka berhenti begitu saja sambil melihat asap keabu-abuan itu terbang jauh bersama angin ke langit yang saat ini mulai berwarna orange.
Mata mereka terus saja menatap seorang pria yang sedang membakar jerami tersebut. Merasa diperhatikan pria tersebut menoleh kearah Draco dan Hermione. Pria tersebut menatap heran kepada Draco dan Hermione seperti orang aneh.
Bagaimana tidak, di akhir musim panas seperti ini ada orang yang berpakaian serba hitam seperti seorang yang habis dari pemakaman. Sedangkan yang satunya berpakaian seperti musim salju sudah akan datang, menggunakan mantel yang sepertinya cukup tebal.
Pria tersebut tersenyum ke arah Draco dan Hermione, "Oh, Hei!" sapa orang yang sedang membakar jerami tersebut. Draco berhenti melotot kearah asap-asap tersebut, dan Hermione berhenti membuka mulutnya yang mengganga lebar.
"Comment puis-je aider?" pria tersebut sepertinya bertanya kepada Draco dan Hermione. Draco hanya terdiam tidak tahu apa yang di ucapkan orang itu. "Can you speak english, Sir?" tanya Hermione kepada pria tersebut.
Pria tersebut kemudian tersenyum, "Ah. Rupanya kalian orang inggris. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria tersebut kembali kepada Draco dan Hermione. Hermione hanya tersenyum kepada pria tersebut, sedangkan Draco menyeringai lebar.
"Kita butuh makanan."
PLEETAK!
Hermione menjitak dahi di kepala berambut pirang tersebut. Bisa-bisanya Draco berbicara seperti itu kepada pria yang menawari bantuan tersebut. Draco hanya meringis kemudian mengelus elus dahi mahal miliknya.
"Maafkan, teman saya. Dia sedikit sensitif." ujar Hermione sambil bergurau kepada pria tersebut. Pria tersebut tersenyum dan mengangguk-angguk. "Aku yakin kalian memang butuh makanan. Kalian terlihat sangat kelaparan,"
Hermione hanya tersenyum. Kemudian pria tersebut berjalan kearah pinggir jalan dan mengambil kerajang yang terbuat dari rotan. Pria tersebut kemudian mengambil dua buah roti. "Ini untuk kalian."
Pria tersebut memberikan roti tersebut kepada Hermione dan Draco. Draco yang sudah kelaparan langsung merampas roti tersebut dari tangan pria tersebut, dan langsung memakannya, tanpa mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Sir."
"Sama-sama Nona. Makanlah." Hermione langsung memakan roti tersebut perlahan bukan seperti Draco yang langsung melahapnya seperti tidak pernah makan selama tiga hari. Pria tersebut kembali meletakkan keranjang rotan miliknya di pinggir jalan.
Hermione kemudian duduk di tepi persawahan sambil menikmati roti pemberian pria tersebut. Draco yang masih berdiri Hermione tendang kaki milik Draco pelan, bermaksud menyuruhnya duduk. Draco yang masih asik memakan roti tersebut hanya melotot kepada Hermione.
Hermione membalas Draco dengan melotot juga. Draco tahu apa pesan dari mata hazel tersebut, Draco langsung duduk di samping Hermione, dan kembali menghabiskan roti yang di beri pria baik hati tersebut.
Pria tersebut kemudian bergabung dengan Draco dan Hermione, dengan duduk di depan mereka. Pria tersebut tertawa melihat Draco memakan roti tersebut benar-benar seperti orang yang sangat kelaparan. "Apa yang membuat kalian berada di sini?"
Hermione kemudian berhenti memakan roti dan menjawab pertanyaan pria tersebut, "Dia sedang mencari cincin keluarganya yang hilang di Colmar. Dan aku terjebak harus membantu pria pirang yang malang ini."
Nada Hermione yang sedikit mengejek Draco membuat Draco tersedak. Pria tersebut tertawa, "Kalian ini pasangan yang lucu." Hermione kali ini yang tersedak. "Kami bukan seorang pasangan yang kau maksud, Sir." ujar Draco yang sudah selesai memakan roti.
"Oh. Padahal kalian itu cocok sekali." Hermione benar-benar menggeram. Empat. Empat orang sudah yang mengatakan kalau dia kekasih dari pria pirang malang ini. Oh. Sungguh sial nasib Hermione kali ini, mungkin sebentar lagi Hermione bisa jadi gila.
"Banyak memang yang bilang seperti itu," Hermione melotot mendengar ucapan pria pirang yang ada di sampingnya ini. Draco yang melihat Hermione yang melotot kepada dirinya menyeritkan dahi heran, "Apa?"
"Oh. Tidak apa-apa." Hermione melanjutkan makan roti tersebut, dan mengacuhkan Draco yang terheran heran kepada dirinya. Namun, bagi Hermione itu sangat menjengkelkan. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria tersebut kepada Draco.
"Apakah anda benar-benar menawarkan bantuan kepada kami?" tanya Draco dengan penuh semangat. "Tentu. Apapun yang bisa saya bantu." Hermione membuka mulutnya, namun, sebelum sebuah kalimat keluar dari mulutnya, mulut Draco berbicara terlebih dahulu.
"Ah, ya. Bisakah kami tinggal di rumah anda selama semalam?"
"Malfoy!"
"Tentu saja. Dengan senang hati, Mr. Malfoy." ujar pria tersebut dengan senyuman kepada Draco. "Eh, Kami tidak perlu tinggal di rumah anda, Sir. Terima kasih." ujar Hermione tersenyum kepada pria tersebut. "Tidak apa-apa, Miss. Saya senang membantu orang."
Draco kemudian menatap Hermione merendahkan. "Baiklah. Terima kasih. Tapi bisakan kami membantu apapun yang anda lakukan. Kami bisa mencuci piring, menyapu, berkebun, atau yang lainnya." ujar Hermione satu tarikan nafas.
Draco kemudian menatap horor Hermione. Bagaimana tidak? Sudah bagus ditawari dengan gratis tanpa harus membayar, atau melakukan hal apapun. Tapi? Hermione menawarkan sebuah jasa kepada pria yang akan membantu mereka.
Pria tersebut tersenyum. Mencoba menimang-nimang tawaran dari Hermione. Hermione menatap memohon kepada pria tersebut. "Baiklah. Kalian bisa membantuku dengan memanen sayuran sore ini, dan menjualnya besok pagi."
Mulut Draco mengganga lebar. Seorang Malfoy, memanen sayuran, dan menjualnya? Apa yang akan dilakukan Abraxas Malfoy, jika tahu cucu bangsawan-nya ini menjadi tukang sayur? Mungkin dia akan menangis dan menertawai dirinya sendiri.
"APA?!" Draco berteriak atas ketidak setujuan-nya. Hermione kemudian menatap Draco meremehkan, Merasa bahwa dirinyalah yang menjadi pemenangnya. Pria tersebut hanya tertawa menatap kedua insan yang mengingatkan masa mudanya.
Pria tersebut kemudian berdiri sambil membawa tas rotan miliknya. Kemudian pandangan matanya ia arahkan kepada sang mentari yang sebentar lagi akan berganti oleh sinar bulan. Draco dan Hermione mengikuti pria tersebut berdiri.
"Aku Mr. Harold." pria yang telah diketahui namanya tersebut memperkenalkan diri masih dengan senyuman-nya. "Aku Hermione Granger."
"Malfoy. Draco Malfoy."
"Senang bertemu dengan kalian Mr. Malfoy, dan Ms. Granger."
Hermione tersenyum kepada Mr. Harold, Seorang Pria yang mau membantunya. "Baiklah. Ayo kita kerumah saya. Kalian harus memetik sayuran yang akan dijual besok pagi."
Perjalanan dari persawahan menuju rumah milik Mr. Harold sangatlah jauh. Pedesaan kecil itu belum terlihat, padahal mereka telah berjalan kurang lebih lima belas menit. Draco sedari tadi hanya mengoceh tidak jelas sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal.
Saat Mr. Harold bertanya kepada Draco 'kenapa kamu menghentak-hentakkan kakinya?' Draco selalu menjawab dengan suara dinginya, 'senang,' Padahal terlihat jelas dari raut muka Draco bahwa dirinya sedang sangat kesal karena Hermione.
Hermione sendiri hanya berjalan santai sambil mengobrol ringan dengan Mr. Harold. Membicarakan tentang kehidupan Mr. Harold sekeluarga. Mr. Harold bercerita tentang istri dan kedua anaknya yang sangat ia sayangi itu.
Hermione juga bercerita bagaimana tentang kehidupannya waktu kecil hingga ia dewasa ini, namun Hermione tidak mengatakan jika ia penyihir. Tentu saja, apa nanti yang akan dikatakan Mr. Harold jika mengetahui Hermione dan Draco adalah seorang penyihir.
Jadi, Hermione hanya bercerita tentang bahwa dia di terima di sebuah sekolah dengan asrama, dan ia juga menceritakan bahwa dia sebenarnya bermusuhan dengan Draco. Namun, karena Draco kehilangan tasnya ia harus membantu mencarinya.
Perjalanan yang panjang pun seperti tidak terasa, Mereka telah sampai di sebuah pedesaan kecil yang begitu indah dan juga bersih. Desa yang menjadi rumah oleh Mr. Harold dan keluarganya. Juga sebuah penginapan bagi Draco dan Hermione.
"Selamat datang, nona dan tuan," ucap Mr. Harold kepada Draco dan Hermione. Hermione hanya terkekeh, sedangkan Draco hanya mengdengus kesal kepada Hermione dan Mr. Harold.
Mereka berjalan melewati desa yang jalannya yang disusun oleh bebatuan yang sangat rapi, membuat semua pejalan kaki nyaman berjalan di jalanan tersebut. Mr. Harold berjalan sambil menyapa para tetangganya yang berada di luar rumah mereka.
Rumah mereka terlihat sederhana dan klasik. Orang orang di desa tersebut juga ramah ramah. Terkadang beberapa orang ada yang menyapa Hermione dan Draco dengan terenyum kepada mereka. Dan para gadis gadis di desa tersebut pun menyapa lebih kepada Draco.
Mereka tersenyum dengan menawan kearah Draco, membuat Hermione mendegus. Malfoy ini sepertinya tidak pernah berhenti membuat seorang gadis tertarik kepadanya. Ya, kecuali satu, dan itu adalah Hermione Jean Granger sendiri.
Hermione memang tidak pernah tertarik dengan Malfoy yang satu ini. Mungkin, karena mereka sejak dulu adalah seorang musuh bebuyutan yang bisa membunuh satu sama lain. Namun, seorang musuh bisa saja tertarik dengan musuh bebuyutan-nya.
Tapi, Kenapa Hermione tidak? Mungkin itu bukan takdirnya. Ya, mungkin bukan takdir Hermione untuk berteman dengan Malfoy pirang menyebalkan itu. Tapi, siapa tahu mungkin suatu saat merek berteman atas dasar takdir yang membawa mereka.
Perjalanan menuju rumah Mr. Harold akhirnya sampai. Mereka berdiri di sebuah rumah bergaya klasik victorian dengan halaman depannya dipenuhi oleh pepohonan yang cukup rindang serta tanaman bunga warna warni yang mempercantik pemandangan rumah itu.
Di depan rumah tersebut juga terdapat sebuah mobil pick up tua yang sepertinya digunakan Mr. Harold untuk membawa sayuran dan dijualnya di pasar. Matahari yang beberapa jam lagi tenggelam itu juga membuat pemandangan rumah ini semakin cantik.
Hermione dari luar dapat mencium bau harum masakan dari dalam rumah ini, sepertinya istri dari Mr. Harold telah membuatkan masakan untuk makan malam hari ini, dan cacing - cacing diperut Hermione sepertinya sudah mulai berdemo kembali.
Mr. Harold kemudian membuka pintu rumahnya dan mempersilakan Draco dan Hermione masuk ke dalam rumah miliknya. "Joanne, aku pulang. Aku juga membawa tamu." seorang wanita anggun keluar dari dalam ruangan tersebut.
Joanne, istri Mr. Harold tersenyum saat melihat Draco dan Hermione. "Siapa ini, Durbage?" tanya Joanne Harold kepada suaminya itu. "mereka itu seorang petualang, biarkan mereka menginap di rumah kita. Mereka juga akan membantu kita berjualan sayur."
Joanne tersenyum ramah, "Ayo, kulihat kalian sangat lelah. Di dalam banyak sekali makanan menunggu kalian." ujar Joanne Harold kepada Draco dan Hermione yang langsung di sambut wajah bahagia oleh mereka. "Tentu saja, Mrs. Harold. Terima kasih banyak."
Joanne Harold menuntun jalan mereka di depan. Rumah keluarga Harold ini begitu bersih dan rapi. Sepertinya Hermione akan sangat senang tinggal disini. Namun, Hermione mulai merasakan bahwa dia merindukan rumahnya di inggris.
Merindukan kedua orang tuanya. Merindukan para sahabat-nya, kecuali untuk Ron. Tentu saja. Hermione juga merindukan buku-buku di rumahnya. Merindukan pekerjaan yang selama ini menjadi sumber keuangan dirinya.
Joanne Harold kemudian mengarahkan mereka kelam sebuah ruangan yang di dalamnya berisi berbagai macam makanan yang tersaji di atas sebuah meja yang sudah di susun rapi. Harum masakan tersebut menambah rasa lapar Draco dan Hermione.
"Ms. Grangger, Mr. Malfoy, Apakah kalian tidak membawa baju ganti?" tanya Mr. Harold kepada Draco dan Hermione dengan heran, pasalnya penampilan mereka begitu aneh dan terlihat gila. Di pertengahan oktober seperti saat ini ada orang yang berpergian dari inggris sampai di perancis hanya menggunakan jas.
Tidak heran jika mereka adalah orang kantoran, tentu wajar penampilan mereka seperti itu. Namun, Draco pergi menggunakan jas karena akan mencari tasnya yang hilang di perancis. Mengerikan bukan?
"Err, " Hermione akan berbicara sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Draco menatap Hermione yang seperti kebingungan akan mengucap kata apa untuk bilang bahwa mereka sebenarnya membawa pakaian.
Namun, tidak mungkin jika Hermione mengatakan bahwa pakaian mereka diletakkan di dalam tas manik-manik milik Hermione. Apa yang akan di katakan Mr. Harold dan Mrs. Harold jika melihat itu semua.
Mungkin mereka langsung akan mengusir Draco dan Hermione tanpa memberikan mereka kesempatan berbicara terlebih dahulu kepada Draco dan Hermione. Atau lebih parahnya mereka berteriak bahwa ada orang gila di rumahnya.
"Kami tidak membawa pakaian." untung kata tersebut segera keluar dari mulut Hermione. Hermione kemudian tersenyum sambil meringis di hadapan Mr. Harold dan istrinya. "Baiklah kami bisa pinjamkan pakaian anak kami untuk kalian, seperti ukuran tubuh kalian sama dengan anak kami."
Ucapan Joanne Harold membuat Draco serasa ingin muntah. Draco mengunakan pakaian Muggle? Apa yang akan di lakukan Lucius Malfoy jika melihat anaknya berpakaian Muggle? Mungkin ia tidak akan menghapus nama Draco dari hak sah ahli waris.
Draco tertawa dalam hati. Hermione kemudian membuka mulutnya, "Terima kasih Mrs. Harold. Kami berhutang banyak kepada kalian." ujar Hermione berbaik hati kepada Mr. Dan Mrs. Harold yang mau membantu dirinya dan Malfoy.
"Joanne, di mana Clayton dan Cathy?" tanya Mr. Harold kepada istrinya itu. Mr. Harold sepertinya telah mencari seseorang. Hermione yakin orang yang disebut Mr. Harold, Clayton dan Cathy adalah anak dari Mr. Harold.
"Clay dan Cat ada di kebun, Durbage. Mereka sedang memetik sayuran." perasaan Draco mulai tidak enak. Draco merasa sebentar lagi pekerjaan gila itu akan dimulai. "Wah kebetulan sekali, Joanne. Mr. Malfoy dan Ms. Granger akan membantu mereka."
Draco mendesis mendengar ucapan Mr. Harold. Hermione kemudian tersenyum kepada Mrs. Harold, "Mungkin itu cara kami membalas budi keluarga anda Mrs. Harold." ujar Hermione kepada Joanne Harold.
Joanne kemudian tersenyum kepada Draco dan Hermione, "Terima kasih banyak, Ms. Granger, Mr. Malfoy."
Durbage Harold kemudian mengantar Draco dan Hermione ke kebun miliknya yang berada di belakang rumah mereka. Kebun itu begitu luas dengan banyak sekali sayuran yang tumbuh subur di kebun yang dirawat dengan baik itu.
Draco telah melepas sepatu mahal-nya. Ia juga melepas jas hitam miliknya dan di letakkan di meja dapur di samping tas manik-manik milik Hermione. Jadi sekarang Draco berpenampilan masih menggunakan celana hitamnya, namun ia melepas jasnya.
Tampan. Pikir Hermione saat dia pertama kali melihat Draco tanpa jas hitam kebanggannya itu. Lengan kemeja hitam milik Draco ia gulung hingga sikut miliknya. Membuat penampilannya semakin keren pikir Hermione.
Saat Hermione terus terusan menatap Draco dengan mulut terbuka, membuat Draco merasa bahwa dia itu mempesona. Namun saat Draco bertanya kepada Hermione, 'Terpesona Granger?' Hermione menjawab dengan terkikik, 'kau semakin aneh, Malfoy.'
Padahal jelas sekali di wajah Hermione bahwa dia merona melihat Draco. Namun Hermione berusaha menyangkal itu. Ia takut jika itu benar terjadi dan perjalannya ini semakin membuatnya jatuh ke dalam pesona musang itu.
Mr. Harold kemudian memanggil kedua anak yang menjadi kebanggannya itu. Ya, Kedua anak Mr. Harold ternyata kembar. Menakjubkan bukan? Itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Mr. Harold dan Mrs. Harold. setelah itu Mr. Harold memperkenalkan mereka kepada Draco dan Hermione.
Senyum menawan kembali terpancarkan di wajah Cathy Harold. Clayton hanya tersenyum kemudian mendengus melihat kembarannya seperti orang yang sedang jatuh cinta. Ya. Clayton tahu bahwa kembarannya itu suka dengan pria pirang dihadapannya ini.
"Baiklah, ayo kita memetik sayurnya," ucap Clayton Harold yang kemudian berjalan memimpin mereka di depan. Hermione kemudian mengikuti Clayton dibelakangnya. Sedangkan Draco berjalan di belakang Hermione dengan Cathy yang berada disampingnya.
"Jadi kalian akan menginap di rumahku?" tanya Cathy kepada Draco. Draco hanya tersenyum, "Tentu. Tapi hanya semalam. Jadi kalian tidak perlu terlalu repot-repot karena ada kami." ujar Draco sopan. Cathy hanya tersenyum kepada Draco.
"Dia siapa-mu?" bisik Cathy kepada Draco sambil menunjuk wanita yang berjalan dihadapan mereka. "Oh, Granger?" Cathy mengangguk. "Dia kekasihmu?" tanya Cathy kembali. Pertanyaan Cathy sebenarnya di dengar oleh Hermione.
Hermione yang sedari tadi mendegarkan percakapan Draco dan Cathy hanya mengdengus. Hermione tahu jika Cathy menyukai Draco sejak tadi mereka bertemu. Beberapa menit saja sudah bisa membuat seorang gadis tertarik kepada seorang Malfoy?.
Sedangkan yang lebih mengenal Draco lebih dari sembilan tahun tidak menyukai seorang Draco Malfoy? Apa yang membuat Hermione Jean Granger tidak menyukai pangeran Slytherin yang tampan itu? Mungkin karena Hermione tahu kelakuan musang itu.
Namun, pertemuannya yang kurang dari dua hari ini juga membuat Hermione mulai merasakan perasaan itu. Perasaan yang sama yang dirasakan oleh Cathy Harold. Tapi, Hermione tidak ingin jatuh lebih dalam. Ia takut terluka.
"Dia hanya seseorang saja." jawab Draco enteng. Cathy mengendus. "Bukan itu yang aku maksudkan, Draco. Maaf, bolehkan aku memanggilmu Draco?" tanya Cathy sambil mengigit bibir bawahnya. Draco kemudian menatap Cathy.
"Tentu. Kau boleh memanggilku dengan nama kecilku." Cathy tersenyum mendengarnya. Tapi dia masih penasaran dengan wanita yang bersama Draco. "Jadi dia siapa-mu?" tanya Cathy kembali. Ia ingin sekali mengetahui siapa Hermione bagi Draco.
Harapan Cathy semoga Hermione bukannya kekasih Draco, Pria yang di sukainya beberapa menit yang lalu. Hermione yang masih mendengarkan percakapan mereka lama kelamaan menjadi ingin tahu juga apa yang akan diucapkan oleh Draco.
"Menurutmu?" tanya Draco, mencoba menggoda Cathy. Cathy hanya tersenyum, "Apa dia teman-mu?. Draco kemudian tersenyum menatap Cathy, "Jika dia kekasihku, apa yang akan kau katakan?"
To Be Continued
A/N : Hai, Apa kabar kalian semua? Maaf ya aku baru bisa lanjut chapter enamnya hari ini. Terima kasih buat yang kemarin udah Review; ChintyaRosita, aquadewi, yellowers, GrangerBrOwN, Follow, Favs. jangan lupa review Chapter enamnya ya! Terima kasih.
All of my love,
Periewinkle
