[ Hoseok's POV ]
-Flashback -
Ini adalah konser kesekian kami sebagai boy grup yang benar-benar mengalami jatuh bangun. Hari ini kami mendapat penghargaan kembali, kami mendapat hasil yang memuaskan dari kerja keras kami. Saat kami berada di belakang panggung, seluruh staff beserta manajer memberikan kami pujian atas kerja keras kami dan juga semangat. Dengan adanya kemenangan ini, aku berharap jika kami dapat menjadi yang lebih baik dari yang sebelumnya. Sial, air mataku nyaris keluar.
Kedua manik mataku mulai mencari sosok yang sangat bekerja keras, yang paling menginginkan keberhasilan, seorang Park Jimin. Ah, itu dia sedang duduk di sofa dan memainkan ponsel miliknya. Aku segera menghampirinya dan duduk disampingnya.
"Jimin-ah!~" Sapaku dengan ceria dan dibalas oleh senyuman juga darinya. Ia mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Jimin adalah teman pertamaku semenjak aku diterima di BigHit. Sejak aku pertama kali melihatnya, ia begitu lugu dan terlihat seperti pembicara yang baik. Ia begitu menarik perhatianku dan aku—
—jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. Aku tak bisa melupakan hari dimana aku yang pertama kali menyapanya dengan bahasa yang formal. Jika kami mengingatnya, kami akan tertawa terbahak-bahak dan aku ingin memukul wajahnya. Kami serta Jungkook membuat video graduasi bersama dan aku merasa senang akan hal tersebut. Ia memiliki banyak talenta, ditambah lagi dengan sifat kerja kerasnya. Semakin lama aku mengenalnya, ternyata memang benar dugaanku bahwa ia begitu asyik dan ternyata ia cerewet. Hal tersebut membuat aku semakin tergila-gila kepadanya.
Beralih, aku menatap ponsel yang ia pegang dan sepertinya ia tengah membuka akun tw*tter official kami dan hendak membuat selca. Ini kesempatan bagiku untuk mengambil selca bersamanya, bukan? Kamipun selca bersama.
Selepas kami di dorm, kami beristirahat sejenak sebelum kami kembali latihan. Hari ini memang melelahkan, namun tak ada apa-apanya dibandingkan jadwal keseharian kami yang begitu padat. Aku baru saja selesai mandi dan berpakaian, namun tak sengaja melihat Yoongi-hyung masih berada di ruang tempatnya bekerja. Seperti biasanya, ia sendirian. Pintu ruangan itu terbuka sehingga aku bisa melihatnya. Aku pun segera menghampirinya dan menyuruhnya agar berhenti dulu untuk membuat lagu dan segera mandi, namun terlihat wajahnya putus asa.
"Hyung? Ada apa? Lebih baik kau mandi dulu" Tawarku yang dbalas oleh gelengan Yoongi-hyung. Yoongi-hyung memang tak begitu bisa mengekspresikan perasaannya, namun ia senang jika seseorang mencoba untuk peduli padanya.
"Bagaimana ini.. Hoseok.."
"Huh? Ada apa? Ceritakan saja padaku"
"Aku.. sangat menyukai Jimin"
Oh—
"Tidak, aku mencintainya" Lanjut Yoongi-hyung sambil mengacak-acak rambutnya.
Aku bungkam.
Aku yang biasanya dapat menyelesaikan masalah dengan caraku sendiri kini hanya bisa terdiam.
Habisnya.. ini sakit, astaga.
Saat itu juga, aku menepuk-nepuk bahu Yoongi-hyung sebagai penyemangat, walaupun hatiku sendiri cukup sakit saat mendengarnya. Aku adalah temannya, mana bisa aku tidak memberinya semangat? Namun disatu sisi aku begitu jahat karena aku iri jika ia menyukai orang yang sama denganku.
Sial—
"Hoseok, berjanjilah untuk tidak berkata apapun tentang hal ini. Aku mohon" Aku tak pernah melihat wajah Yoongi-hyung yang memelas dan meminta lebih padaku. Biasanya ia merupakan sosok yang tegas namun lihatlah sekarang, betapa lemahnya dirinya.
"Hm, rahasiamu aman padaku. Sekarang bersihkan dirimu dan semangat!" Ucapku dengan cengiran tipis yang kupaksakan.
—rasanya aku ingin menangis.
Ralat,
Hatiku sudah menangis.
-End of Flashback-
[ End of Hoseok's POV ]
.
.
da kkeutnan georaneunde nan
meomchul suga eobtne
ttamininji nunmurinji na deoneun bunan
mothae oh
nae balgabeoseun sarangdo geochin
taepung baramdo
nareul deo ttwigemam hae nae simjanggwa
hamkke
.
.
everybody say it is over but i can't
stop this
i can't tell whether it is sweat or tears
my bare-love and tough typhoon and wind
can only make me run more with my heart
.
.
Fanservice? Fanservice!
K+ - T
Bangtanboys dibawah naungan BigHit Entertainment, membernya lahir dari emak-babenya. Saya sebagai author cuma minjem nama.
Cast oleh semua member BTS
VKook and YoonMin Fanfic
( V and Yoongi as a seme; Kookie and ChimChim as an uke )
BL/YAOI/BoyXBoy/Friendship/Romance & humor (gagal)
Don't like don't read!
[ Fanfic ini merupakan fanfic pertama saya dalam fandom ini. Merupakan hasil jerih payah pemikiran saya sendiri. Mohon maaf jika banyak istilah yang salah karena saya masih baru dalam mengenal bahasa korea. Berkaryalah dengan imajinasimu sendiri dan jangan menjiplak milik orang lain. Trims ]
Enjoy
.
.
[ V's POV ]
Aku.
Bingung.
Mengapa aku perhatikan bahwa kookie manisku menjauh dariku? Lihat saja, sedari tadi ia lebih memilih dirinya bersama Namjoon-hyung. Bahkan dimobil juga ia yang biasanya duduk disebelahku malah memilih untuk duduk disamping kursi sopir. Melihat hal itu, aku merasa geram. Mengapa aku merasa geram? Seharusnya bisa saja aku langsung duduk disampingnya dan menyapanya, bukan? Jin-hyung menghentikanku dan berbisik padaku.
"Taehyungie, kini kau merasakan apa, hm?" Bisik sang member yang paling tua dari kami, aku pun berpikir sejenak sebelum benar-benar menjawab pertanyaan aneh tersebut.
"Err.. Bagaimana ya.."
Jin-hyung facepalm.
"Kau masih tidak mengerti, Kim Taehyung?!" Oh, ia memanggil nama lengkapku. Bukan sebuah pertanda yang baik.
"Uh-huh"
Sementara kami berdebat, kami menyadari bahwa Namjoon-hyung telah pergi meninggalkan Jungkook. Mungkin ia ingin ke kamar mandi atau bagaimana. Inilah kesempatanku untuk menyimpulkan perasaanku! Kakiku melangkah mendekati namja bermata bulat tersebut dan terduduk di sebelahnya.
"Halo, Kook—"
"—A-aku rasa aku juga harus ke kamar mandi! Permisi, hyung!" Ucapnya gelagapan dan langsung kabur dari hadapanku. Apa-apaan itu... aneh! Aku geram! Tapi aku tak ingin memukulnya, aku ingin memeluknya. Jin-hyung pun mendekatiku dan duduk disebelahku. Aku mengacak rambut coklatku dengan cepat seraya menyandarkan punggungku ke kepala kursi.
"Nah, sekarang sudah jelas?" Tanyanya lagi, apa maksudnya? Aku hanya bisa menggeleng pelan. Lagi-lagi Jin-hyung facepalm. Aku berdoa semoga wajahnya tak rata setelah melakukan hal tersebut berulang-ulang.
"Taehyungie"
"Hm?"
"Kau itu cemburu" Ucap Jin-hyung diakhiri tawa pelan dan menepuk-nepuk pundakku. Cemburu? Benarkah? Ini yang dinamakan 'cemburu'? Perasaan dimana kau geram melihat 'dia' bersama orang lain? Tapi Kookie bukan sepenuhnya milikku—
Tanpa disadari wajahku memanas. Untuk menghindari rasa malu, aku mengusap-usap wajahku seperti gerakan membasuh wajah. Jika dipikir-pikir, memalukan juga jika pada usiaku yang sudah bisa diartikan dapat mengerti hal seperti ini malah menjadi sebaliknya; tak mengerti. Namun sedikit demi sedikit rasanya aku dapat memahami perasaan ini.
"Ini menyenangkan, Jin-hyung"
"Sudah kubilang, itu namanya cin—"
"SSSTTTT. Jangan cepat-cepat menyimpulkan begitu, Jin-hyung. Aku tak boleh mengambil kesimpulan dengan cepat karena aku... buruk jika sudah menjalani sebuah hubungan" Jelasku pada akhirnya yang membuat Jin-hyung terdiam. Aku hanya takut jika nantinya aku memilih Kookie, malah aku yang kembali dan berlari. Aku takut jika aku akan mengecewakan dirinya kelak.
"Mengapa kau harus takut jika kau sudah yakin pada hatimu sendiri, Taehyungie? Kuperhatikan kalian memiliki perasaan yang sama. Jika memang pada waktu itu Jungkook ingin menyerah untuk menyukaimu, sampai saat ini ia seharusnya tak menatap matamu atau berbicara denganmu. Ia nampak memaksakan diri untuk hal ini" Penjelasan Jin-hyung membuat aku merenungkan segala hal yang kulalui bersama Jungkook.
Kami memang selalu bersama, melakukan segalanya bersama, dan saling berbagi cerita juga solusi untuk permasalahan kehidupan masing-masing. Tapi...
"Jika Jungkook adalah orang lain, apakah kau yakin dapat melakukan segalanya bersama dengan hati yang senang?" Jin-hyung bertanya seolah-olah ia mengetahui isi pikiranku dan juga hati kecilku yang tengah berbicara.
Benar juga, misalkan saja Kookie digantikan oleh Jimin. Mungkin jadinya akan seru, namun apakah dapat se-menyenangkan sama seperti Jungkook? Apakah ia dapat memeluk orang lain sama seperti Jungkook? Jika orang lain tersebut menyatakan perasaannya didepanku sama seperti Jungkook, apakah aku akan menangis juga saat tahu bahwa dirinya akan bangkit dari perasaannya yang tak terbalas?
"Belum tentu, Jin-hyung. Aku sudah mulai mengerti"
"Bagus, kukira kau berasal dari planet lain sehingga tak mengerti bahasa korea"
"Kau jahat sekali, Jin-hyung" Aku tertawa setelahnya.
[ End of V's POV ]
( BTS )
[ Jimin's POV ]
"Sebenarnya... aku..."
'Sebenarnya aku'? Apa yang ingin Hoseok-hyung katakan ke padaku? Telinganya memerah. Astaga, apakah ia ingin menangis? Aku tak tega jika melihatnya menangis. Berhentilah terlihat lemah seperti itu, hyung. Kau ini seperti nenek-nenek, kau tahu?
"Hoseok-hyu—"
"Ah- lupakan" Aku dapat mendengar tawa lepas dari bibir tipis Hoseok-hyung. Terdengar sedikit dipaksakan. Bukannya aku bisa membaca pikiran orang, tetapi didepanku ini.. apakah benar dia Hoseok-hyung? Aku dapat melihat ia mendekatiku dan langsung menggenggam kedua bahuku dengan erat. Tinggi badan kami yang berbeda 2 cm membuatku mataku sedikit melirik ke atas. Tentu saja aku menatapnya dengan pandangan heran.
"'Lupakan' bagaimana? Kau bahkan tak berbicara sepatah katapun, hyung. Sekarang ceritakan padaku apa masalahmu?"
"...haeyo.. Jimin"
"Huh?" Dapat kulihat Hoseok menunduk dan meletakkan kepalanya di atas salah satu bahu milikku. Aku benar-benar tak bisa mendengar apa yang ia katakan. Tunggu, apakah dia sedih jika nanti terjadi sesuatu pada Yoongi-hyung? Aku mengusap-ngusap punggungnya dengan penuh sayang.
"Jangan khawatir, Yoongi-hyung tak akan apa-apa—"
"Berbahagialah dengannya"
Kalimat itu—
Apa maksudnya? Aku sungguh tak mengerti—
"O-oh, aku ingin ke toilet dulu! Sile hamnida!" Dapat kulihat sosok hyung yang berlari dan tanpa sengaja menabrak manajer-hyung setelah mengucapkan kata permisi. Aku melihatnya dari kejauhan, namun terlihat manajer-hyung mencoba mencegat Hoseok-hyung dan ia masih bisa terlepas. Bahkan, ia tak mendengarkan perkataan manajer-hyung.
"Dia... siapa?"
Aku bergumam tanpa sadar.
[ End of Jimin's POV ]
Operasi Suga berlangsung dengan lancar. Mendengar hal tersebut seluruh member mengucapkan syukur. Awalnya manajer memberitahukan bahwa Suga mengalami peradangan, mereka khawatir jika hal tersebut membuat sulit proses pengangkatan usus buntunya, namun nyatanya dokter dapat menangani hal tersebut. Walaupun begitu, para member yang lain belum diperbolehkan untuk menengok Suga dulu karena ia harus melakukan pemulihan dalam pengawasan sang dokter. Jika daya tahan tubuh pasien kuat, maka Suga diharapkan dapat pulang setelah 2-3 hari setelah masa pemulihan. Para member pun memutuskan untuk pulang kembali ke dorm.
Hoseok sudah kembali dari kamar mandi begitu juga dengan Namjoon dan Jungkook. Jimin mendekati V dan juga Jin; tepatnya ia berada di sebelah V yang tengah asyik memerhatikan gerak-gerik dari 'mangsa'nya. Apa ini, Jimin mengganggu saja.
"Psst, Taehyung" Bisik Jimin pada V. V menunjukkan wajah tak suka a la alien miliknya. Ini memang salah Jimin, sih. Namun bukannya berarti ia membenci jika diganggu, setidaknya berikan peringatan atau bagaimana begitu. Oh well, ia semakin kacau sekarang. Mengapa ia begitu sensitif hari ini? Menyebalkan.
"Hm? Ada apa?" Balasnya lalu disambut dengan lirikan Jimin pada punggung Hoseok.
"Apakah kau melihat ada sesuatu yang aneh pada Hoseok-hyung?" Ucapnya pelan dan langsung saja dibalas dengan gelengan kepala dari V. Oh, Jimin. Sepertinya kau bertanya pada orang yang salah. Jimin hanya bisa mendengus karena kesal.
V mengherdikkan bahu saat melihat Jimin nampaknya tak puas akan jawaban darinya. Memangnya ia harus menjawab apalagi? V memang tak begitu memperhatikan, tapi sepertinya Hoseok biasa-biasa saja. Ia rasa dirinya juga tak begitu bodoh untuk mengerti ekspresi dari seseorang, yah, kecuali dengan satu orang.
"Jin-hyung" Bisik V pada Jin yang hendak mengetik sesuatu pada ponselnya. Jin menyempatkan diri untuk mendengarkan keluhan dari sang dongsaeng.
"Hm?"
"Aku sudah mengerti akan hal ini. Bisakah kau bantu aku?"
( BTS )
Sesampainya di dorm, Jimin menghempaskan tubuhnya disofa dan tumben sekali Jimin juga duduk disebelahnya. V sudah masuk terlebih dahulu sebelum mereka duduk. Sepertinya V sedang pergi ke kamar mandi. Para member yang lain juga beristirahat terlebih dahulu atau sekedar mengambil cemilan dari kulkas.
"Jungkookie!~~" Sapa Jimin dengan riang seraya memeluk Jungkook dengan gemas. Tampang Jungkook yang biasanya diisi dengan 'evil smirk' jika mendapat perlakuan seperti ini dari Jimin, kini memasang wajah berpikir keras.
'Dia memang memelukku, namun aku tak merasakan apapun di hatiku' Batin Jungkook. Dengan segera, ia membalikkan badannya ke arah Jimin yang membuat Jimin tersentak akan perlakuan tiba-tiba tersebut.
"Jimin-hyung"
"Yes?~"
"Bisakah kau katakan 'Saranghaeyo, Jungkookie' padaku dengan wajah serius?" Namja gembil yang berada di depan Jungkook langsung saja mengangguk senang akan hal ini.
"Tentu!"
Jimin pun mulai memasang wajah serius dan sexy -menurutnya- untuk melakukan peran layaknya ia menyatakan cinta pada Jungkook. Ia menggenggam kedua tangan Jungkook, sementara ekspresi Jungkook masih saja layaknya orang yang sedang berpikir keras. Jimin malah tertawa melihatnya.
"Mengapa wajahmu begitu, Jeon Jungkook?!" Ucapnya terbahak.
"Jangan khawatirkan wajahku! Sekarang cepat katakan, pendek!" Yah, sifat evil maknae milik Jungkook mulai keluar, hal tersebut membuat Jimin mencibir dan langsung saja mencubit punggung tangan Jungkook. Jungkook meringis dan keadaan menjadi serius seperti semula.
"Saranghaeyo... Jungkookie— Ah! V! kau mengganggu momen manisku!"
Jungkook langsung saja menoleh ke belakang dan kedua bola matanya membulat. Ia dapat melihat wajah V yang pucat. Mengapa ia begitu pucat? Biasanya V akan tertawa dan mengolok-olok mereka namun sekarang ia malah— Bukannya membalas, V malah berlari keluar dorm. Jungkook segera menyusul V yang sudah berlari. Mengapa... hal ini semakin rumit saja?
"V-hyung!"
Berhentilah mengejarku, Kookie
"V-hyung! Hah.. hah.. dengarkan aku!"
Jangan pedulikan aku, Kookie!
"V-hyung! Berhenti!"
Naneun dangsineul neomu saranghaeyo, Jeon Jungkook.
( TBC )
Ah apa ini?
APA INI?!
MAAFKAN SAYA, HOBI. MAAFKAN SAYA /slap
Oke, semakin jauh saya membuat fanfic ini semakin saya merasakan kalau isi fanfic ini ga ada nyambung nyambungnya sama judul. Maafkan saya /bows/ alurnya juga jadi maju mundur cantik, agak pusing mikirinnya :'v /slap
Untuk Guest: HOHOHO, sudah terjawab disini, hobi bukannya suka sama taehyung. Padahal udah ketebak banget menurut saya wkwk. Terima kasih reviewnya! Jangan ragu untuk kasih krisan yak.
Nah, bagi para reviewers yang sudah mereview, silent readers, atau yang sudah fav&follow terima kasih banyak! ^^ /bows/ tanpa adanya kalian saya tak bisa melanjutkan ff ini dengan serius karena terkadang saya bikin mereka pake bahasa lo-gue, trus diapus lagi wkwk #gapenting
Bagaimana dengan chapter kali ini? Maafkan saya , sebenarnya saya juga suka hobi, saya ga maksud menistakan dia disini, maaf bagi para fansnya hobi/bows deeply/
Yak, saya malah nyerocos gaje.
Sekian dan terima kasih sudah membaca!
